Model Pembelajaran: Perbedaannya dengan Pendekatan, Strategi & Metode

24 min read

Model Pembelajaran: Perbedaannya dengan Pendekatan, Strategi & Metode

HermanAnis.com. Model Pembelajaran, perbedaannya dengan pendekatan, strategi, metode dan teknik. Pembelajaran adalah proses kompleks yang di lakukan oleh pendidik dan peserta didik pada suatu lingkungan belajar.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Dalam pembelajaran kita mengenal berbagai istilah seperti model, pendekatan, strategi metode juga teknik daplam pembelajaran. Kesemuanya itu saling berhungan dan terikat, sebelum memahami lebih jauh kelima istilah tersebut kita akan mendevinisikan kelima istilah tersebut.

Model Pembelajaran: Perbedaannya dengan Pendekatan, Strategi & Metode

Pendekatan Pembelajaran

Menurut Khatib Thaha sebagaimana di kutip oleh Ramayulis, mendefinisikan bahwa pendekatan adalah cara pemprosesan subjek atas objek untuk mencapai tujuan. Pendekatan juga bisa berarti cara pandang terhadap sebuah objek persoalan, di mana cara pandang itu adalah cara pandang dalam konteks yang lebih luas.

Pendekatan pembelajaran dapat di artikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.

Selain itu, pendekatan pembelajaran tentu tidak kaku harus mennggunakan pendekatan tertentu, tetapi sifatnya lugas dan terencana. Artinya memilih pendekatan di sesuaikan dengan kebutuhan materi ajar yang di tuangkan dalam perencanaan pembelajaran.

Di lihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan yaitu, Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa dan pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru. Kurikulum 2013 jelas menerapkan pendekatan Ilmiah (Scientific Approach) sebagai cirinya.

Esensi Pendekatan Ilmiah

Pembelajaran merupakan proses ilmiah. Karena itu Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. Pendekatan ilmiah di yakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik.

Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuwan lebih mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning) ketimbang penalaran deduktif (deductive reasoning). Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik.

Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Sejatinya, penalaran induktif menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas.

Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum. Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya.

Perbedaan Pendekatan, Strategi, Metode, dan Model Pembelajaran
Gambar 1. Pendekatan Induktif dan Pendekatan Deduktif

Untuk dapat di sebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat di observasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Karena itu, metode ilmiah umumnya memuat serial aktivitas pengoleksian data melalui observasi dan ekperimen, kemudian memformulasi dan menguji hipotesis.

Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Ilmiah

Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk jenjang SMP dan SMA atau yang sederajat di laksanakan menggunakan pendekatan ilmiah. Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa.”

Baca Juga: Contoh Penilaian Sikap – Sosial dan Spritual

Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa.”

Hasil akhirnya adalahpeningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik(soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

Perbedaan Pendekatan, Strategi, Metode, dan Model Pembelajaran
Gambar 2. Tiga Ranah dalam Pembelajaran

Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana di maksud meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran.

Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat di aplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. Pendekatan ilmiah pembelajaran di sajikan berikut ini.

Perbedaan Pendekatan, Strategi, Metode, dan Model Pembelajaran
Gambar 3. Karakteristik 5M Pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran

Baca Juga: Self-Directed Learning adalah?

Mengamati

Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya.

Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran. Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi.

Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang di analisis dengan materi pembelajaran yang di gunakan oleh guru. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran di lakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut ini.

  1. Menentukan objek apa yang akan di observasi
  2. Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan di observasi
  3. Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu di observasi, baik primer maupun sekunder
  4. Menetapkan di mana tempat objek yang akan di observasi
  5. Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan di lakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar
  6. Memutuskan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi , seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan alat-alat tulis lainnya

Kegiatan observasi dalam proses pembelajaran meniscayakan keterlibatan peserta didik secara langsung. Dalam kaitan ini, guru harus memahami bentuk keterlibatan peserta didik dalam observasi tersebut.

Observasi biasa (common observation).

Pada observasi biasa untuk kepentingan pembelajaran, peserta didik merupakan subjek yang sepenuhnya melakukan observasi (complete observer). Di sini peserta didik sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku, objek, atau situasi yang di amati.

Observasi terkendali (controlled observation).

Seperti halnya observasi biasa, padaobservasi terkendali untuk kepentingan pembelajaran, peserta didik sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku, objek, atau situasi yang di amati. Mereka juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan pelaku, objek, atau situasi yang di amati.

Namun demikian, berbeda dengan observasi biasa, pada observasi terkendalipelaku atau objek yang diamati di tempatkan pada ruang atau situasi yang di khususkan. Karena itu, pada pembelajaran dengan observasi terkendali termuat nilai-nilai percobaan atau eksperimen atas diri pelaku atau objek yang di observasi.

Observasi partisipatif (participant observation).

Pada observasi partisipatif, peserta didik melibatkan diri secara langsung dengan pelaku atau objek yang di amati. Sejatinya, observasi semacam ini paling lazim dilakukan dalam penelitian antropologi khususnya etnografi.

Observasi semacam ini mengharuskan peserta didik melibatkan diri pada pelaku, komunitas, atau objek yang di amati. Di bidang pengajaran bahasa, misalnya, dengan menggunakan pendekatan ini berarti peserta didik hadir dan “bermukim” langsung di tempat subjek atau komunitas tertentu dan pada waktu tertentu pula untuk mempelajari bahasa atau di alek setempat, termasuk melibakan diri secara langsung dalam situasi kehidupan mereka.

Selama proses pembelajaran, peserta didik dapat melakukan observasi dengan dua cara pelibatan diri. Kedua cara pelibatan di maksud yaitu observasi berstruktur dan observasi tidak berstruktur, seperti di jelaskan berikut ini.

Observasi berstruktur.

Pada observasi berstruktur dalam rangka proses pembelajaran, fenomena subjek, objek, atau situasi apa yang ingin di observasi oleh peserta didik telah di rencanakan oleh secara sistematis di bawah bimbingan guru.

Observasi tidak berstruktur.

Pada observasi yang tidak berstruktur dalam rangka proses pembelajaran, tidak di tentukan secara baku atau rijid mengenai apa yang harus di observasi oleh peserta didik. Dalam kerangka ini, peserta didik membuat catatan, rekaman, atau mengingat dalam memori secara spontan atas subjek, objektif, atau situasi yang di observasi.

Praktik observasi dalam pembelajaran hanya akan efektif jika peserta didik dan guru melengkapi diri dengan dengan alat-alat pencatatan dan alat-alat lain, seperti: (1) tape recorder, untuk merekam pembicaraan; (2) kamera, untuk merekam objek atau kegiatan secara visual; (3) film atau video, untuk merekam kegiatan objek atau secara audio-visual; dan (4) alat-alat lain sesuai dengan keperluan.

Secara lebih luas, alat atau instrumen yang di gunakan dalam melakukan observasi, dapat berupa daftar cek (checklist), skala rentang (rating scale), catatan anekdotal (anecdotal record), catatan berkala, dan alat mekanikal (mechanical device). Daftar cek dapat berupa suatu daftar yang berisikan nama-nama subjek, objek, atau faktor- faktor yang akan diobservasi. Skala rentang berupa alat untuk mencatat gejala atau fenomena menurut tingkatannya.

Catatan anekdot berupa catatan yang dibuat oleh peserta didik dan guru mengenai kelakuan-kelakuan luar biasa yang di tampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi. Alat mekanikalberupa alat mekanik yang dapat di pakai untuk memotret atau merekam peristiwa-peristiwa tertentu yang di tampilkan oleh subjek atau objek yang di observasi.

Prinsip-prinsip Observasi

Prinsip-prinsip yang harus di perhatikan oleh guru dan peserta didik selama observasi pembelajaran di sajikan berikut ini.

  • Cermat, objektif, dan jujur serta terfokus pada objek yang di observasi untuk kepentingan pembelajaran.
  • Banyak atau sedikit serta homogenitas atau hiterogenitas subjek, objek, atau situasi yang di observasi. Makin banyak dan hiterogensubjek, objek, atau situasi yang diobservasi, makin sulit kegiatan obervasi itu di lakukan.
    Sebelum obsevasi di laksanakan, guru dan peserta didik sebaiknya menentukan dan menyepakati cara dan prosedur pengamatan.
  • Guru dan peserta didik perlu memahami apa yang hendak di catat, di rekam, dan sejenisnya, serta bagaimana membuat catatan atas perolehan observasi.

Menanya

Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik.

Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik. Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyata, pertanyaan di maksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal.

Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”, melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal. Bentuk pertanyaan, misalnya: “Mengapa Planet Jupiter yang memiliki ukuran lebih besar memiliki kala rotasi lebih cepat di bandingkan dengan Planet Bumi yang ukurannnya lebih kecil?”

Adapun contoh bentuk pernyataan, misalnya: “Sepertinya ukuran suatu planet tidak mempengaruhi kala rotasinya, namun saya tidak begitu yakin dengan hal tersebut”.

Kedua contoh pertanyaan proses menanya tersebut merupakan ungkapan ketidakyakinan peserta didik terhadap suatu fenomena faktual yang merupakan bentuk metakognisi baru bagi dirinya sehingga mendorong rasa ingin tahunya lebih jauh.

Pertanyaan tersebut tidaklah mungkin muncul jika mereka telah memiliki metakognisi yang ajeg terhadap pengetahuan faktual yang di sajikan dalam pembelajaran. Dengan demikian, kunci untuk dapat memancing rasa ingin tahu pada proses menanya ini di perlukan suatu fenomena faktual yang memiliki tingkatan metakognitif yang lebih tinggi dari metakognitif peserta didik yang mengikuti pembelajaran.

Sebagai contoh, kedua pertanyaan yang di perkirakan akan muncul tersebut berasal dari fenomena faktual yang guru sajikan dalam proses pembelajaran berupa fakta Planet Jupiter yang memiliki ukuran lebih besar dari pada Bumi memiliki kala rotasi 9,8 jam, sedangkan Bumi yang memiliki ukuran lebih kecil memiliki kala rotasi 24 jam.

Aktifitas bertanya

Materi Tata surya ini merupakan materi pelajaran IPA kelas VII semester 2, pada tingkatan ini, peserta didik di asumsikan telah memiliki pengetahuan metakognitif ukuran planet Jupiter lebih besar dari pada Bumi serta jika suatu benda berukuran besar, maka waktu yang di butuhkan untuk melakukan rotasi akan lebih lama.

Pengetahuan tersebut telah terbangun pada kognitif peserta didik saat mereka mempelajari IPA dan Planet-planet Tata Surya di tingkatan Sekolah Dasar. Sehingga, saat di sajikan fenomena faktual ini, tingkatan metakognisi mereka belum ajeg memahaminya.

Dengan demikian, saat akan menyusun aktivitas proses menanya dalam pembelajaran, perlu kiranya kita menelaah terlebih dahulu pada tingkatan metakognisi peserta didik saat akan mempelajari materi pembelajaran yang akan disajikan pada pertemuan tertentu.

Hal tersebut dapat di lakukan dengan cara mengkaji bagaimana jejak konsep esensial materi pembelajaran yang akan di sajikan pada pertemuan tertentu tersebut telah peserta didik alami pada tahapan Pendidikan atau tahapan pembelajaran yang telah meraka lewati sebelumnya.

Proses bertanya memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah:

  1. Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian peserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran.
  2. Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri.
  3. Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya.
  4. Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap, keterampilan, dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang di berikan.
  5. Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
  6. Mendorong partisipasi peserta didik dalam berdiskusi, berargumen, mengembangkan kemampuan berpikir, dan menarik simpulan.
  7. Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata, serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok.
  8. Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat, serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul.
  9. Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain

Mencoba

Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Pada mata pelajaran IPA, misalnya,peserta didik harus memahami konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang di hadapinya sehari-hari. Aplikasi metode eksperimen atau mencoba di maksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah:

  1. menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum;
  2. mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus di sediakan;
  3. mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya;
  4. melakukan dan mengamati percobaan;
  5. mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data;
  6. menarik simpulan atas hasil percobaan; dan
  7. membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan.

Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka:

  1. Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yanga akan di laksanakan murid
  2. Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang di pergunakan
  3. Perlu memperhitungkan tempat dan waktu
  4. Pendidik menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid
  5. Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan di jadikan eksperimen
  6. Membagi kertas kerja kepada murid
  7. Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan
  8. Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila di anggap perlu di diskusikan secara klasikal.

Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan eksperimen atau mencoba di lakukan melalui tiga tahap, yaitu, persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. Ketiga tahapan eksperimen atau mencoba di maksud di jelaskan berikut ini.

Persiapan
  1. Menetapkan tujuan eksperimen
  2. Mempersiapkan alat atau bahan
  3. Mempersiapkan tempat eksperimen sesuai dengan jumlah peserta didik serta alat atau bahan yang tersedia. Di sini guru perlu menimbang apakah peserta didik akan melaksanakan eksperimen atau mencoba secara serentak atau di bagi menjadi beberapa kelompok secara paralel atau bergiliran
  4. Mempertimbangkan masalah keamanan dan kesehatan agar dapat memperkecil atau menghindari risiko yang mungkin timbul.
  5. Memberikan penjelasan mengenai apa yang harus di perhatikan dan tahapan-tahapan yang harus di lakukan peserta didik, termasuk hal-hal yang di larang atau membahayakan.
Pelaksanaan
  1. Selama proses eksperimen atau mencoba, guru ikut membimbing dan mengamati proses percobaan. Di sini guru harus memberikan dorongan dan bantuan terhadap kesulitan-kesulitan yang di hadapi oleh peserta didik agar kegiatan itu berhasil dengan baik.
  2. Selama proses eksperimen atau mencoba, guru hendaknya memperhatikan situasi secara keseluruhan, termasuk membantu mengatasi dan memecahkan masalah-masalah yang akan menghambat kegiatan pembelajaran.
Tindak lanjut
  1. Peserta didik mengumpulkan laporan hasil eksperimen kepada guru
  2. Guru memeriksa hasil eksperimen peserta didik
  3. Pendidik memberikan umpan balik kepada peserta didik atas hasil eksperimen.
  4. Guru dan peserta didik mendiskusikan masalah-masalah yang di temukan selama eksperimen.
  5. Pendidik dan peserta didik memeriksa dan menyimpan kembali segala bahan dan alat yang di gunakan.

Menalar

Esensi Menalar

Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang di anut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat di observasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.

Selain itu, penalaran di maksud merupakan penalaran ilmiah, meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating; bukan merupakan terjemanan dari reasonsing, meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran.

Karena itu, istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori.

Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu di kenal sebagai asosiasi atau menalar. Dari persepektif psikologi, asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu.

Menurut teori asosiasi, proses pembelajaran pembelajaran akan berhasil secara efektif jika terjadi interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik. Pola ineraksi itu di lakukan melalui stimulus dan respons (S-R). Teori ini dikembangan kerdasarkan hasil eksperimen Thorndike, yang kemudian di kenal dengan teori asosiasi.

Jadi, prinsip dasar proses pembelajaran yang di anut oleh Thorndike adalah asosiasi, yang juga dikenal dengan teori Stimulus-Respon (S-R). Menurut Thorndike, proses pembelajaran, lebih khusus lagi proses belajar peserta didik terjadi secara perlahan atau inkremental/bertahap, bukan secara tiba-tiba. Thorndike mengemukakan berapa hukum dalam proses pembelajaran.

Hukum efek (The Law of Effect),

Hukum efek (The Law of Effect), di mana intensitas hubungan antara stimulus (S) dan respon (R) selama proses pembelajaran sangat di pengaruhi oleh konsekuensi dari hubungan yang terjadi.

Jika akibat dari hubungan S-R itu dirasa menyenangkan, maka perilaku peserta didik akan mengalami penguatan. Sebaliknya, jika akibat hubungan S-R dirasa tidak menyenangkan, maka perilaku peserta didik akan melemah.

Menurut Thorndike, efek dari reward (akibat yang menyenangkan) jauh lebih besar dalam memperkuat perilaku peserta didik di bandingkan efek punishment (akibat yang tidak menyenangkan) dalam memperlemah perilakunya.

Ini bermakna bahwa reward akan meningkatkan perilaku peserta didik, tetapi punishment belum tentu akan mengurangi atau menghilangkan perilakunya.

Hukum latihan (The Law of Exercise).

Awalnya, hukum ini terdiri dari dua jenis, yang setelah tahun 1930 di nyatakan di cabut oleh Thorndike. Karena dia menyadari bahwa latihan saja tidak dapat memperkuat atau membentuk perilaku.

Pertama, Law of Use yaitu hubungan antara S-R akan semakin kuat jika sering di gunakan atau berulang-ulang.

Kedua, Law of Disuse, yaitu hubungan antara S-R akan semakin melemah jika tidak di latih atau di lakukan berulang-ulang.Menurut Thorndike, perilaku dapat di bentuk dengan menggunakan penguatan (reinforcement). Memang, latihan berulang tetap dapat di berikan, tetapi yang terpenting adalah individu menyadari konsekuensi perilakunya.

Hukum kesiapan (The Law of Readiness).

Menurut Thorndike, pada prinsipnya apakah sesuatu itu akan menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk di pelajari tergantung pada kesiapan belajar individunya.

Dalam proses pembelajaran, hal ini bermakna bahwa jika peserta dalam keadaan siap dan belajar di lakukan, maka merekaakan merasa puas.

Sebaliknya, jika pesert didik dalam keadaan tidak siap dan belajar terpaksa di lakukan, maka mereka akan merasa tidak puas bahkan mengalami frustrasi. Prinsip-prinsip dasar dari Thorndike kemudian di perluas oleh B.F. Skinner dalam Operant Conditioning atau pelaziman/pengkondisian operan.

Pelaziman operan adalah bentuk pembelajaran di mana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan di ulangi.

Merujuk pada teori S-R, proses pembelajaran akan makin efektif jika peserta didik makin giat belajar. Dengan begitu, berarti makin tinggi pula kemampuannya dalam menghubungkan S dengan R.

Kaidah dasar yang digunakan dalam teori S-R adalah:

  1. Kesiapan (readiness).
    Kesiapan di identifikasi berkaitan langsung dengan motivasi peserta didik. Selain itu kesiapan itu harus ada pada diri guru dan peserta didik.
    Guru harus benar-benar siap mengajar dan peserta didik benar-benar siap menerima pelajaran dari gurunya. Sejalan dengan itu, segala sumber daya pembelajaran pun perlu di siapkan secara baik dan saksama.
  2. Latihan (exercise).
    Latihan merupakan kegiatan pembelajaran yang di lakukan secara berulang oleh peserta didik. Pengulangan ini memungkinkan hubungan antara S dengan R makin intensif dan ekstensif.
  3. Pengaruh (effect).
    Hubungan yang intensif dan berulang-ulang antara S dengan R akan meningkatkan kualitas ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik sebagai hasil belajarnya.
    Manfaat hasil belajar yang di peroleh oleh peserta didik di rasakan langsung oleh mereka dalam dalam dunia kehidupannya.

Kaidah atau prinsip “pengaruh” dalam pembelajaran berkaitan dengan kemamouan guru menciptakan suasana, memberi penghargaan, celaan, hukuman, dan ganjaran. Teori S – S ini memang terkesan robotik. Karenanya, teori ini terkesan mengenyampingkan peranan minat, kreativitas, dan apirasi peserta didik.

Oleh karena tidak semua perilaku belajar atau pembelajaran dapat di jelaskan dengan pelaziman sebagaimana di kembangkan oleh Ivan Pavlov, teori asosiasi biasanya menambahkan teori belajar sosial (social learning) yang di kembangkan oleh Bandura. Menurut Bandura, belajar terjadi karena proses peniruan (imitation). Kemampuan peserta didik dalam meniru respons menjadi pengungkit utama aktivitas belajarnya.

Ada empat konsep dasar teori belajar sosial (social learning theory) dari Bandura.

  1. Pertama, pemodelan (modelling), di mana peserta didik belajar dengan cara meniru perilaku orang lain (guru, teman, anggota masyarakat, dan lain-lain) dan pengalaman vicarious yaitu belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain itu.
  2. Kedua, fase belajar, meliputi fase memberi perhatian terhadap model (attentional), mengendapkan hasil memperhatikan model dalam pikiran pebelajar (retention), menampilkan ulang perilaku model oleh pebelajar (reproduction), dan motivasi (motivation) ketika peserta didik berkeinginan mengulang-ulang perilaku model yang mendatangkan konsekuensi-konsekuensi positif dari lingkungan.
  3. Ketiga, belajar vicarious, di mana peserta didik belajar dengan melihat apakah orang lain diberi ganjaran atau hukuman selama terlibat dalam perilaku-perilaku tertentu.
  4. Keempat, pengaturan-diri (self-regulation), dimana peserta didik mengamati, mempertimbangkan, memberi ganjaran atau hukuman terhadap perilakunya sendiri.

Teori asosiasi ini sangat efektif menjadi landasan menanamkan sikap ilmiah dan motivasi pada peserta didik berkenaan dengan nilai-nilai instrinsik dari pembelajaran partisipatif. Dengan cara ini peserta didik akan melakukan peniruan terhadap apa yang nyata d iobservasinya dari kinerja guru dan temannya di kelas. Bagaimana aplikasinya dalam proses pembelajaran?

Aplikasi pengembangan aktivitas pembelajaran untuk meningkatkan daya menalar peserta didik dapat di lakukan dengan cara berikut ini.

  1. Guru menyusun bahan pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap sesuai dengan tuntutan kurikulum.
  2. Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah. Tugas utama guru adalah memberi instruksi singkat tapi jelas dengan di sertai contoh-contoh, baik di lakukan sendiri maupun dengan cara simulasi.
  3. Bahan pembelajaran di susun secara berjenjang atau hierarkis, di mulai dari yang sederhana (persyaratan rendah) sampai pada yang kompleks (persyaratan tinggi).
  4. Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat di ukur dan di amati
  5. Seriap kesalahan harus segera di koreksi atau di perbaiki
  6. Perlu di lakukan pengulangan dan latihan agar perilaku yang di inginkan dapat menjadi kebiasaan atau pelaziman.
  7. Evaluasi atau penilaian di dasari atas perilaku yang nyata atau otentik.
  8. Guru mencatat semua kemajuan peserta didik untuk kemungkinan memberikan tindakan pembelajaran perbaikan.
Cara menalar

Seperti telah di jelaskan di awal, terdapat dua cara menalar, yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Penalaran induktif merupakan cara menalardengan menarik simpulan dari fenomena atau atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum.

Jadi, menalar secara induktif adalah proses penarikan simpulan dari kasus-kasus yang bersifat nyata secara individual atau spesifik menjadi simpulan yang bersifat umum. Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik.

Contoh:

  • Singa binatang berdaun telinga, berkembangbiak dengan cara melahirkan
  • Harimau binatang berdaun telinga, berkembangbiak dengan cara melahirkan
  • Ikan Paus binatang berdaun telinga berkembangbiak dengan melahirkan
  • Simpulan: Semua binatang yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan

Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataan-pernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus.

Pola penalaran deduktif di kenal dengan pola silogisme. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian di hubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Ada tiga jenis silogisme, yaitu silogisme kategorial, silogisme hipotesis, silogisme alternatif. Pada penalaran deduktif tedapat premis, sebagai proposisi menarik simpulan. Penarikan simpulan dapat di lakukan melalui dua cara, yaitu langsung dan tidak langsung. Simpulan secara langsung di tarik dari satu premis,sedangkan simpulan tidak langsung di tarik dari dua premis.

Contoh:

  • Kamera adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi
  • Telepon genggam adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperas.
  • Simpulan: semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk beroperasi
Analogi dalam Pembelajaran

Selama proses pembelajaran, guru dan pesert didik sering kali menemukan fenomena yang bersifat analog atau memiliki persamaan. Dengan demikian, guru dan peserta didik adakalamua menalar secara analogis.

Analogi adalah suatu proses penalaran dalam pembelajaran dengan cara membandingkan sifat esensial yang mempunyai kesamaan atau persamaan. Berpikir analogis sangat penting dalam pembelajaran, karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik. Seperti halnya penalaran, analogi terdiri dari dua jenis, yaitu analogi induktif dan analogi deduktif.

Kedua analogi itu di jelaskan berikut ini. Analogi induktif di susun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena atau gejala. Atas dasar persamaan dua gejala atau fenomena itu di tarik simpulan bahwa apa yang ada pada fenomena atau gejala pertama terjadi juga pada fenomena atau gejala kedua.

Analogi induktif merupakan suatu “metode menalar” yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu simpulan yang dapat di terima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua fenomena atau gejala khusus yang di perbandingkan.

Contoh:

Andi merupakan pebelajar yang tekun. Dia lulus seleksi Olimpiade Sains Tingkat Nasional tahun ini. Dengan demikian, tahun ini juga, Andi akan mengikuti kompetisi pada Olimpiade Sains Tingkat Internasional. Untuk itu dia harus belajar lebih tekun lagi. Analogi deklaratif merupakan suatu“metode menalar” untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu fenomena atau gejala yang belum di kenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah di kenal.

Analogi deklaratif ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru, fenomena, atau gejala menjadi di kenal atau dapat di terima apabila di hubungkan dengan hal-hal yang sudah di ketahui secara nyata dan di percayai.

Contoh:

Kegiatan kepesertadidikan akan berjalan baik jika terjadi sinergitas kerja antara kepala sekolah, guru, staf tatalaksana, pengurus organisasi peserta didik intra sekolah, dan peserta didik. Seperti halnya kegiatan belajar, untuk mewujudkan hasil yang baik di perlukan sinergitas antara ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

Hubungan Antarfenomena

Seperti halnya penalaran dan analogi, kemampuan menghubungkan antarfenomena atau gejala sangat penting dalam proses pembelajaran, karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik. Di sinilah esensi bahwa guru dan peserta didik di tuntut mampu memaknai hubungan antarfenonena atau gejala, khususnya hubungan sebab-akibat.

Hubungan sebab-akibat di ambil dengan menghubungkan satu atau beberapa fakta yang satu dengan datu atau beberapa fakta yang lain. Suatu simpulan yang menjadi sebab dari satu atau beberapa fakta itu atau dapat juga menjadi akibat dari satuatau beberapa fakta tersebut.

Penalaran sebab-akibat ini masuk dalam ranah penalaran induktif, yang di sebut dengan penalaran induktif sebab-akibat. Penalaran induksi sebab akibat terdiri dri tiga jenis.

Hubungan sebab–akibat.

Pada penalaran hubungan sebab-akibat, hal-hal yang menjadi sebab di kemukakan terlebih dahulu, kemudian di tarik simpulan yang berupa akibat.

Contoh:

Bekerja keras, belajar tekun, berdoa, dan tidak putus asa adalah faktor pengungkit yang bisa membuat kita mencapai puncak kesuksesan.

Hubungan akibat–sebab.

Pada penalaran hubungan akibat-sebab, hal-hal yang menjadi akibat di kemukakan terlebih dahulu, selanjutnya di tarik simpulan yang merupakan penyebabnya.

Contoh:

Akhir-ahir ini sangat marak kenakalan remaja, angka putus sekolah, penyalahgunaan Nakoba di kalangan generasi muda, perkelahian antarpeserta didik, yang di sebabkan oleh pengabaian orang tua dan ketidaan keteladanan tokoh masyarakat, sehingga mengalami dekandensi moral secara massal.

Hubungan sebab–akibat 1 – akibat 2.

Pada penalaran hubungan sbab-akibat 1 –akibat 2, suatu penyebab dapat menimbulkan serangkaian akibat. Akibat yang pertama menjadi penyebab, sehingga menimbulkan akibat kedua. Akibat kedua menjadi penyebab sehingga menimbulkan akibat ketiga, dan seterusnya.

Contoh:

Masyarakat yang tinggal di daerah terpencil, hidupnya terisolasi. Keterisolasian itu menyebabkan mereka kehilangan akses untuk melakukan aktivitas ekonomi, sehingga muncullah kemiskinan keluarga yang akut.

Kemiskinan keluarga yang akut menyebabkan anak-anak mereka tidak berkesempatan menempuh pendidikan yang baik. Dampak lanjutannya, bukan tidak mungkin terjadi kemiskinan yang terus berlangsung secara siklikal.

Mengomunikasikan (Membentuk Jejaring)

Sebagai bagian proses akhir dari pendekatan ilmiah, mengomunikasikan atau membentuk jejaring pengetahuan yang telah di peroleh merupakan kunci akhir dari kebermaknaan proses pembelajaran secara keseluruhan. Dalam prosesnya, kegiatan ini dapat di lakukan dengan menuliskan atau menceritakan apa yang di temukan selama proses mencari informasi, mengasosiasi dan menemukan pola.

Hasil tersebut di sampaikan di kelas dan di nilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik atau kelompok peserta didik tersebut. Beberapa hal yang dapat di laksanakan dalam kegiatan mengomunikasikan adalah sebagai berikut.

  1. Setiap kelompok peserta didik bekerjasama untuk mendeskripsikan karakter dan kegitan yang telah di sediakan oleh guru atau dalam buku,
  2. Semua peserta didik memahami bagaimana mendeskripsikan hal-hal yang ada di sekitar mereka,
  3. Peserta didik/kelompk peserta didik membacakan hasil kerja di depan kelas secara bergiliran,
  4. Setiap kelompok peserta didik mendengarkan dengan baik, dan bisa memberikan masukan tentang karakter atau kegiatan tersebut,
  5. Guru mengarahkan dan memastikan jalannya proses kegiatan agar efektif dan semua peserta didik dapat terlibat aktif dalam proses kegiatan ini,
  6. Setelah diskusi dalam proses mengomunikasikan ini selesai, guru memberikan penjelasan tentang materi esensial yang telah di pelajari sebagai bagian proses penguatan dan penanaman konsep.

Aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran dengan pendekatan ilmiah adalah menyediakan sumber belajar, mendorong siswa berinteraksi dengan sumber belajar, mengajukan pertanyaan agar peserta didik memikirkan hasil interaksinya, memantau persepsi dan proses berpikir peserta didik, mendorong peserta didik berdialog dan berbagi hasil pemikirannya, mengonfirmasi pemahaman yang di peroleh dan mendorong peserta didik merefleksikan pengalaman belajarnya

Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran dapat di artikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang di desain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Selain itu, strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus di kerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat di capai secara efektif dan efisien.

Istilah strategi sering d igunakan dalam banyak konteks dengan makna yang selalu sama. Dalam konteks pengajaran strategi bisa di artikan sebagai suatu pola umum tindakan guru-peserta didik dalam manifestasi aktivitas pengajaran.

Adapun yang di maksud dengan strategi dalam pendidikan yaitu pengetahuan atau seni mendayagunakan semua faktor atau kekuatan untuk mengamankan sasaran kependidikan yang hendak di capai melalui perencanaan dan pengarahan dalam operasionaliasi sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan yang ada, termasuk pula perhitungan tentang hambatan-hambatannya berupa fisik maupun yang bersifat non fisik (seperti mental dan moral baik dari subjek, objek maupun lingkungan sekitar).

Jadi, strategi pendidikan dapat di artikan sebagai kebijaksanaan dan metode umum pelaksanaan proses pendidikan. Pemakaian suatu strategi pembelajaran dalam kelas harus memperhatikan berbagai pertimbangan antara lain:

Tujuan yang akan di capai

Karena strategi adalah sebuah cara dalam mencapai tujuan, dalam hal ini adalah tujuan pembelajaran, maka tujuan yang akan dicapai harus di rumuskan dengan jelas berserta indikator keberhasilan yang dapat diukur.

Bahan atau materi pembelajaran

Bahan atau materi pembelajaran sangat mempengaruhi penggunaan strategi pembelajaran. Hal ini di karenakan bahan atau materi yang akan di sampaikan harus mampu tersampaikan dengan jelas kepada peserta didik sesuai denga tujuan pembelajaran yang telah di tentukan.

Siswa serta kesiapan guru

Sebagai subyek dan obyek dari pembelajaran, siswa dan guru juga harus di pertimbangkan tingkat kesiapannya dalam menggunakan strategi pembelajaran agar keberhasilan strategi ini dapat maksimal sesuai dengan tujuan yang di inginkan dalam pembelajaran.

Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran adalah suatu ilmu pengetahuan yang membahas tentang bagaimana cara-cara atau teknik yang perlu di tempuh atau di pergunakan dalam upaya menyampaikan materi atau bahan ajar kepada obyeknya yaitu peserta didik.

Jadi, yang di maksud dengan metode pembelajaran adalah suatu ilmu yang membicarakan bagaimana cara atau teknik menyajikan bahan pelajaran terhadap siswa agar tercapai tujuan yang telah di tetapkan secara efektif dan efesien.

Metode pembelajaran di definisikan sebagai cara yang di gunakan guru dalam menjalankan fungsinya dan merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Metode pembelajaran lebih bersifat teknis, yaitu tidak berisi tahapan-tahapan tertentu, melainkan implementatif. Dengan kata lain, metode dapat sama, lebih mengarah pada kegiatan pembelajaran apa yang secara spesifik di lakukan dalam prosesnya.

Adapun dalam pemilihan metode ini faktor-faktor yang perlu di perhatikan antara lain:

a) Faktor tujuan dan bahan pelajaran
b) Peserta didik
c) Lingkungan
d) Alat dan sumber belajar
e) Faktor kesiapan guru

Model Pembelajaran

Menurut Joyce & weil model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur pembelajaran yang sistematis dalam pengorganisasian pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perangcang pembelajaran dan para guru dalam merancang dan melaksanakan proses belajar mengajar.

Karena dalam model pembelajaran menggambarkan proses belajar mengajar, tentu di dalam setiap model pembelajaran mempunyai langkah/sintaks tertentu yang perlu di perhatikan dalam mengaplikasikan suatu model pembelajaran.

Dalam pemilihan model pembelajaran hal-hal yang perlu di perhatikan antara lain:

a) Sifat dan materi yang di ajarkan
b) Tujuan yang ingin di capai
c) Tingkat kemampuan peserta didik.

Contoh model pembelajaran yang umum di gunakan di antaranya adalah:

Pada bagian berikut ini, kita hanya akan membahas 4 jenis model pembelajaran ini.

Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction Model)

Model Pembelajaran Langsung atau Direct Instruction (DI) dalam proses pembelajaran dapat di pandang sebagai metode maupun model pembelajaran.

Saat memandangnya sebagai metode pembelajaran, kita cukup memahaminya sebagai bentuk transfer informasi yang berfungsi untuk menekankan suatu konsep dasar materi ajar agar tidak terjadi kesalahan maupun kekeliruan konsep (miskonsepsi) tanpa memandangnya sebagai tahapan pembelajaran yang berurutan.

Dalam modul ini, kita akan membahas lebih mendalam Model Pembelajaran Langsung sebagai model pembelajaran dengan karakteristik tahapan-tahapannya.

National Institute for Direct Instruction menyatakan bahwa Model Pembelajaran Langsung atau DI adalah suatu model pengajaran dalam bentuk penekanan proses pembelajaran yang di kembangkan dengan baik dan di rencanakan dengan hati-hati dalam cakupan pemerolehan pembelajaran yang tertentu dan tugas-tugas mengajar yang di definisikan dan di tentukan dengan jelas.

Sederhananya, model pembelajaran Langsung di rancang untuk lebih pada upaya menjelaskan lebih mendalam suatu konsep tertentu berdasarkan bukti-bukti nyata yang dapat di sajikan. Kreator model pembelajaran Langsung pada tahun 1960-an, Siegfried Engelmann dan Dr. Wesley Becker, mempercayai bahwa dengan pembelajaran Langsung:

  1. Setiap siswa dapat di ajar;
  2. Semua anak dapat meningkat kemampuan akademisnya;
  3. Semua guru dapat berhasil jika di bekali pelatihan dan materi yang memadai;
  4. Siswa yang berprestasi rendah dan yang berkebutuhan khusus dapat di ajar dengan kecepatan yang lebih cepat daripada yang biasanya terjadi jika mereka ingin mengejar ketinggalan dengan teman-teman mereka yang berkinerja lebih tinggi; dan
  5. Semua perincian proses pembelajaran dapat dikontrol untuk meminimalkan kemungkinan siswa salah menafsirkan informasi yang di ajarkan dan untuk memaksimalkan efek penguatan dari pengajaran.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Langsung

Dalam pembelajaran, sintaks atau langkah-langkah model pembelajaran Langsung (DI) sebagai berikut:

  1. Membuka Pembelajaran (Menyampaikan Tujuan dan Mempersiapkan Siswa)
  2. Memperkenalkan Konsep (Mempresentasikan dan Mendemontrasikan Pengetahuan atau Keterampilan)
  3. Memandu Praktek (Membimbing Pelatihan)
  4. Mengeratkan Bagian (Mencek Pemahaman dan Umpan Balik)
  5. Mengerjakan secara Mandiri (Memberi Kesempatan Pelatihan Lanjutan dan Penerapan)

Model Pembelajaran Inquiry

Model pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang di pertanyakan (Sanjaya, 2006).

Menurut Piaget bahwa model pembelajaran inquiry adalah model pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang di temukannya dengan yang di temukan siswa lain (mulyasa, 2008).

Dengan melihat kedua pendapat di atas, maka dapat di simpulkan bahwa model pembelajaran inquiry adalah model pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri sehingga dapat berpikir secara kritis untuk mencari dan menemukan jawaban dari suatu masalah yang di pertanyakan.

Prinsip-Prinsip dalam Model Pembelajaran Inquiry

Dalam penerapannya, Model Pembelajaran Inquiry harus memiliki dua prinsip yakni prinsip berorientasi pada pengembangan intelektual dan prinsip interaksi.

Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri ini selain berorientasi pada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar.

Oleh karena itu, keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan strategi inkuiri bukan di tentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pembelajaran, akan tetapi sejauh mana beraktifitas mencari dan menemukan sesuatu.

Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi, artinya menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Inkuiri

Langkah-langkah atau Sintaks Model Pembelajaran Inquiry ada 6 langkah. Enam langkah tersebut adalah:

  1. Orientasi
  2. Merumuskan masalah
  3. Merumuskan hipotesis
  4. Mengumpulkan data
  5. Menguji hipotesis
  6. Merumuskan kesimpulan

Level Model Pembelajaran Inquiry

Wenning (2010) memperkenalkan Model Tingkat Penyelidikan untuk pembelajaran sains. Wenning menyusun tingkatan kegiatan eksperimen dalam kegiatan pembelajaran inkuiri menjadi beberapa tingkatan berbeda yang di sebut dengan Level of Inquiry (LoI). Menurut Wenning (2012) secara sistematis level of inquiry:

  1. discovery learning,
  2. interactive demonstrations,
  3. inquiry lessons,
  4. inquiry labs,
  5. Real-world aplications, dan
  6. Hypothetical inquiry.

LoI ini merupakan bentuk macam-macam implementasi model pembelajaran Inkuri dalam tataran praktis. Penyusunan ini di dasarkan pada seberapa canggihnya aktivitas kegiatan eksperimen di lakukan, semakin canggih maka akan semakin tinggi tingkatannya.

Kemudian juga aktivitas kegiatan eksperimen di tinjau berdasarkan siapakah yang memilik peran kontrol yang paling dominan dalam pelaksanaannya, semakin besar peran guru dalam mengontrol kegiatan eksperimen, semakin rendah tingkatannya.

Gambar 4. Level of Inkuiri dalam proses implementasi pembelajaran

Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif Learning)

Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Slavin mengemukakan, “In cooperative learning methods, student work together in four member teams to master material initially presented by the teacher”.

Dari uraian tersebut menguraikan model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran di mana sistem belajar dan bekerja pada kelompok kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam bekerja.

Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk – bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru.

Secara umum pembelajaran kooperatif di anggap lebih di arahkan oleh guru, di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaan pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang di rancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang di maksud.

Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.

Ada beberapa jenis pembelajaran kooperatif, di antaranya adalah:

  1. kelompok pembelajaran kooperatif formal (formal cooperative learning group)
  2. pembelajaran kooperatif informal (informal cooperative learning group),
  3. kelompok besar kooperatif (cooperative base group) dan
  4. gabungan dari tiga kelompok kooperative (integrated use of cooperative learning group).

Cooperative learning di definisikan sederhana sebagai sekelompok kecil pembelajaran yang bekerja sama menyelesaikan masalah, merampungkan tugas atau menyelesaikan tugas bersama. Dengan catatan mengharuskan siswa bekerja sama dan saling bergantung secara positif antar satu sama lain dalam konteks struktur tugas, struktur tujuan dan struktur reward.

Tujuan Cooperative learning

Menurut Slavin tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu di tentukan atau di pengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.

Sedangkan menurut Ibrahim model pembelajaran kooperatif di kembangkan untuk mencapai setidaktidaknya tiga tujuan pembelajaran, yaitu:

  1. Hasil belajar akademik.
  2. Penerimaan terhadap perbedaan individu
  3. Pengembangan keterampilan sosial

Karakteristik Cooperative Learning

Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat di lihat dari proses pembelajaran yang menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok.

Tujuan yang ingin di capai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan bahan pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut.

Adanya kerja sama inilah yang menjadi ciri khas dari pembelajaran kooperatif. Terdapat beberapa karakteristik strategi pembelajaran kooperatif, di antaranya yaitu:

  1. Pembelajaran secara tim.
  2. Di dasarkan pada manajemen kooperatif
  3. Kemauan untuk bekerja sama
  4. Keterampilan bekerja sama.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif

Terdapat enam langkah utama atau tahapan dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif. Langkah-langkah itu di tunjukkan pada Tabel berikut:

Tahapan Pembelajaran KooperatifAktivitas Guru
Fase 1
Menyampaikan Tujuan dan Memotivasi
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran
yang ingin di capai pada pelajaran tersebut
dan memotivasi siswa
Fase 2
Menyajikan Informasi
Menyajikan informasi kepada siswa
dengan jalan demontrasi atau lewat bahan
bacaan.
Fase 3
Mengorganisasikan Siswa ke dalam
Kelompok Kooperatif
Menjelaskan kepada siswa bagaimana
caranya membentuk kelompok belajar dan
membantu setiap kelompok agar melakukan
transisi secara efisien.
Fase 4
Membimbing Kelompok Bekerja dan
Belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok
belajar pada saat mereka melaksanakan
aktivitas pembelajaran
Fase 5
Evaluasi
Mengevaluasi hasil belajar tentang
materi yang telah di pelajari atau masing
masing kelompok mempresentasikan hasil
kerjanya
Fase 6
Memberikan Penghargaan
Guru memberikan apresiasi untuk menghargai
baik upaya maupun hasil belajar individu dan
kelompok

Teknik- Teknik Cooperative Learning

Teknik-teknik yang di gunakan dalam pembelajaran kooperatif di antaranya:

  1. Mencari pasangan.
  2. Bertukar pasangan.
  3. Berpikir-berpasangan-berempat.
  4. Berkirim salam dan soal.
  5. Kepala bernomor.
  6. Kepala bernomor struktural.
  7. Dua Tinggal Dua Tamu.
  8. Divisi Pencapaian Tim Siswa (STAD).
  9. Keunggulan dan Kelemahan Cooperative Learning

Model Pembelajaran Berbasis Proyek

Menurut Thomas (2000: 1) dalam jurnal A Review of Research on Project-Based Learning menyatakan Project-based learning is a model that organizes learning around projects. Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa pembelajaran berbasis proyek adalah suatu model pembelajaran yang melaksanakan pembelajaran dengan proyek.

Di sisi lain, Abdul Majid (2011: 207) berpendapat bahwa yang di maksud proyek adalah tugas yang harus di selesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari pengumpulan, pengorganisasian, pengevaluasian, hingga penyajian data.

Warsono dan Hariyanto (2012:153) mendefinisikan secara sederhana pembelajaran berbasis proyek sebagai suatu pengajaran yang mencoba mengaitkan antara teknologi dengan masalah kehidupan sehari-hari yang akrab dengan siswa, atau dengan suatu proyek sekolah.

Sementara itu Bransfor dan Stein (1993) mendefinisikan pembelajaran berbasis proyek sebagai model pengajaran yang komprehensif yang melibatkan siswa dalam kegiatan penyelidikan yang kooperatif dan berkelanjutan.

Hal itu senada dengan pendapat Utomo Dananjaya (2013: 101) di mana dalam pembelajaran berbasis proyek, siswa melaksanakan tugas melalui serangkaian aktivitas.

  • Aktivitas pertama adalah mengamati dengan meghitung, mengukur, menimbang, mengklasifikasi, mencari hubungan dengan ruang dan waktu.
  • Kedua, membuat hipotesisi atau prediksi.
  • Ketiga, merencanakan penerapan kgiatan seperti kegiatan penelitian dan eksperimen (mengendalikan variabel).
  • Keempat, menginterretasi kejadian-kejadian dalam kegiatan dan menganalisisnya.
  • Kelima, menyusun kesimpulan dengan mendeskripsikan hasil atau memecahkan masalah yang ada.
  • Keenam, mengomunikasikannya.

Kesimpulan dari berbagai pendapat di atas bahwa pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang mengaitkan pelajaran dengan masalah kehidupan sehari-hari yang di buktikan dengan proyek yang di selesaikan dalam jangka waktu tertentu melaui serangkaian aktivitas.

Karakteristik Pembelajaran Berbasis Proyek

Menurut Brown dan Campione dalam Warsono (2013) menyatakan bahwa ada dua komponen pokok dalam pembelajaran berbasis proyek, yang pertama yaitu ada masalah menantang yang mendorong siswa mengorganisasikan dan melaksanakan suatu kegiatan, yang secara keseluruhan mengarahkan siswa kepada suatu proyek yang bermakna dan harus di selesaikan sendiri sebagai tim.

Komponen yang kedua yaitu karya akhir yang berupa suatu produk atau suatu penyelesaian tugas berkelanutan yang bermakna bagi pengembangan pengetahuan dan ketrampilan mereka. Menurut Thomas (2000: 3-5) terdapat lima karakteristik dalam pembelajaran berbasis proyek, yaitu:

  1. Projects are central, not peripheral to the curriculum.
  2. Project are focused on questions or problems that “drive” student to encounter (and struggle with) the central concepts and principles of a discipline.
  3. Project involve students in a constructive investigation.
  4. Project are student-driven to some significant degree.
  5. Project are realistic, not school-like.

Langkah–langkah Pelaksanaan Model Pembelajaran Berbasis Proyek

Pelaksanaan model pembelajaran berbasis proyek, di jalankan dengan melalui beberapa tahap pembelajaran atau langkah-langkah kerja. Langkah-langkah pembelajaran berbasis proyek sebagaimana yang di kembangkan oleh The George Lucas Educational Foundation (2005) dalam buku Pedoman Metode Pembelajaran Berbasis Proyek (2014) di jelaskan dalam Gambar di bawah ini.

Langkah langkah Pembelajaran Berbasis Proyek
Gambar 5. Langkah-langkah Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek

6 Langkah-langkah project based learning sebagai berikut.

  1. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question)
  2. Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)
  3. Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
  4. Memonitor Siswa dan Kemajuan Proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)
  5. Menguji Hasil (Assess the Outcome)
  6. Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)

Sumber:

Demikian
Semoga Bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.