Teori Belajar Gagne

15 min read

Teori Belajar Gagne

HermanAnis.com – Teman-teman semua, pembahasan kita kali ini masih tentang Teori Belajar yakni, Teori Belajar Gagne. Menurut Gagne, belajar memberi kontribusi terhadap adaptasi yang di perlukan untuk mengembangkan proses yang logis, sehingga perkembangan tingkah laku (behavior) adalah hasil dari efek belajar secara kumulatif.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Robert M. Gagne yang lahir pada tahun 1916 adalah seorang ahli psikolog pendidikan yang telah mengembangkan suatu pendekatan perilaku yang elektik mengenai psikologi. Salah satunya adalah teori pembelajaran yang di dasarkan pada model pemrosesan informasi.

Dalam memahami belajar, Teori Belajar Gagne tidak memperhatikan apakah proses belajar tadi terjadi melalaui penemuan (discovery) atau proses penerimaan (reception) sebagaimana di perkenalkan oleh Bruner dan Ausubel. Menurutnya yang terpenting adalah kualitas, penetapan (daya simpan) dan kegunaan belajar.

Olehnya itu, dalam rangka proses pembelajaran guru dapat menyusun program guru dapat menyusun program pembelajaran yang cocok dengan tahap dan fase pembelajaran.

Teori belajar menurut menurut Teori Belajar Gagne, lebih menitikberatkan pada operasionalisasi konsep belajar kumulatif dan memberikan mekanisme untuk merancang pembelajaran dan sederhana ke kompleks.

Salah satu teori dan prinsip belajar yang penting untuk diterapkan atau diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran adalah teori Robert M. Gagne, yang sering dikenal dengan 9 peristiwa pembelajaran atau model nine instructional events Gagne.

Menurut Gagne, belajar memberi kontribusi terhadap adaptasi yang diperlukan untuk mengembangkan proses yang logis, sehingga perkembangan tingkah laku (behavior) adalah hasil dari efek belajar yang kumulatif (Gagne, 1968).

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa belajar itu bukan proses tunggal. Belajar menurut Gagne tidak dapat didefinisikan dengan mudah karena belajar bersifat kompleks.

Gagne (1985) mengkaji masalah belajar yang kompleks dan menyimpulkan bahwa informasi dasar atau keterampilan sederhana yang dipelajari mempengaruhi terjadinya belajar yang lebih rumit

Daftar Isi Artikel Ini

Teori Belajar Robert M. Gagne

Robert. M. Gagne dalam bukunya: The Conditioning of Learning mengemukakan bahwa: Learning is a change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and wich is not simply ascribable to process of growth.

Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia. Setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja. Gagne berkeyakinan bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dari luar diri dan faktor dalam diri dan keduanya saling berinteraksi.

Gagne (1972) mendefinisikan belajar adalah mekanisme di mana seseorang menjadi anggota masyarakat yang berfungsi secara kompleks. Kompetensi itu meliputi, skill, pengetahuan, attitude (perilaku), dan nilai-nilai yang diperlukan oleh manusia. Sehingga belajar adalah hasil dalam berbagai macam tingkah laku yang selanjutnya disebut kapasitas.

Kemampuan-kemampuan tersebut diperoleh peserta didik dari: (1) stimulus dan lingkungan, dan (2) proses kognitif. Menurut Gagne (1977), belajar merupakan seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap individu sebagai hasil transformasi rangsangan yang berasal dari peristiwa eksternal di lingkungan individu yang bersangkutan (kondisi).

Agar kondisi eksternal itu lebih bermakna sebaiknya diorganisasikan dalam urutan peristiwa pembelajaran (metode atau perlakuan). Selain itu, dalam usaha mengatur kondisi eksternal diperlukan berbagai rangsangan yang dapat diterima oleh panca indera, yang dikenal dengan nama media dan sumber belajar (Miarso, 2004:245).

Pembelajaran menurut Gagne hendaknya mampu menimbulkan peristiwa belajar dan proses kognitif. Peristiwa pembelajaran (instructional events) adalah peristiwa dengan urutan sebagai berikut:

  1. menimbulkan minat dan memusatkan perhatian agar peserta didik siap menerima pelajaran.
  2. menyampaikan tujuan pembelajaran agar peserta didik tahu apa yang diharapkan dalam belajar itu.
  3. mengingat kembali konsep/ prinsip yang telah dipelajari sebelumnya yang merupakan prasyarat.
  4. menyampaikan materi pembelajaran,
  5. memberikan bimbingan atau pedoman untuk belajar,
  6. membangkitkan timbulnya unjuk kerja (merespon) peserta didik,
  7. memberikan umpan balik tentang kebenaran pelaksanaan tugas (penguatan),
  8. mengukur/mengevaluasi hasil belajar, dan
  9. memperkuat retensi dan transfer belajar (Miarso, 2004:245-246).

Sembilan Peristiwa Pembelajaran (Model Nine Instructional Events Gagne)

Teori Robert M. Gagne, yang disebut dengan sembilan peristiwa pembelajaran (model nine instructional events Gagne) adalah peristiwa yang dirancang oleh pendidik (eksternal) untuk membantu proses belajar dalam diri peserta didik (internal).

Bentuk seutuhnya dari setiap peristiwa tidak harus ditetapkan untuk semua mata pelajaran.

Tabel 1. Bagan sembilan peristiwa pembelajaran (Suciati & Irawan, 2001:62-65)

Bagan sembilan peristiwa pembelajaran dalam Teori Belajar Gagne
Bagan sembilan peristiwa pembelajaran dalam Teori Belajar Gagne

Guru perlu mengembangkan sendiri sesuai dengan kompetensi dasar untuk dapat membantu proses belajar peserta didik (Suciati & Irawan, 2001:62). Sedangkan urutannya tidak harus seperti dalam tabel di bawah ini, demikian pula tidak semua peristiwa harus digunakan dalam satu kegiatan pembelajaran.

Kategori Kemampuan Belajar menurut Teori Belajar Gagne

Menurut Gagne ada lima kategori kemampuan belajar, yaitu:

  1. keterampilan intelektual atau kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungannya melalui penggunaan lambang. Keterampilan itu meliputi:
    • (a) asosiasi dan mata rantai (menghubungkan suatu lambang dengan suatu fakta atau kejadian,
    • (b) diskriminasi (membedakan suatu lambang dengan lambang lain),
    • (c) konsep (mendefinisikan suatu pengertian atau prosedur),
    • (d) kaidah (mengkombinasikan beberapa konsep dengan suatu cara), dan
    • (e) kaidah lebih tinggi (menggunakan berbagai kaidah dalam memecahkan masalah;
  2. (strategi/siasat kognitif yaitu keterampilan peserta didik untuk mengatur proses internal perhatian, belajar, ingatan, dan pikiran;
  3. informasi verbal yaitu kemampuan untuk mengenal dan menyimpan nama atau istilah, fakta, dan serangkaian fakta yang merupakan kumpulan pengetahuan;
  4. keterampilanmotorik yaitu keterampilan mengorganisasikan gerakan sehingga terbentuk keutuhan gerakan yang mulus, teratur, dan tepat waktu; dan
  5. sikap yaitu keadaan dalam diri peserta didik yang mempengaruhi (bertindak sebagai moderator atas) pilihan untuk bertindak. Sikap ini meliputi komponen afektif (emosional), aspek kognitif, dan unjuk perbuatan (Miarso, 2004:551).

Untuk lebih jelasnya, kelima kemampuan belajar ini disajikan dalam tabel berikut!

Tabel 2. Bagan lima kategori kemampuan belajar

NoJenis hasil belajarDeskripsi kemampuanContoh
1Kemampuan intelektualMenerapkan konsep dan peraturan untuk mengatasi masalah dan ide-ide untuk menghasilkan produMerancang dan mengkode program komputer yang bisa memenuhi keinginan
2Strategi kognitifMengelola pikiran dan proses belajar seseorangSecara selektif memilih menggunakan tiga strategi yang berbeda untuk mendiagnosa kerusakan
3Informasi verbalMenyebutkan, menceritakan, atau meng-gambarkan informasi yang telah tersimpan sebelumnyaMenyebutkan tiga alasan prosedur keselamatan perusahaan.
4Kemampuan keterampilan
motorik (skill)
Melaksanakan suatu tindakan dengan tepat dan cepat.Menembak benda kecil bergerak dengan senapan secara tepat dan konsisten.
5SikapMenentukan tindakan pribadiMemilih dan meres-pon semua surat yang masuk dalam waktu 24 jam.

Hakikat Belajar dalam Teori Belajar Gagne

Ada beberapa hal yang melandasi pandangan Teori Belajar Gagne tentang belajar, menurutnya belajar bukan merupakan proses tunggal melainkan proses luas yang di bentuk oleh pertumbuhan dan perkembangan tingkah laku, di mana tingkah laku itu merupakan proses kumulatif dari belajar.

Artinya banyak keterampilan yang di pelajari memberikan sumbangan bagi belajar keterampilan yang lebih rumit. Teori Belajar Gagne (1972) mendefinisikan belajar adalah mekanisme di mana seseorang menjadi anggota masyarakat yang berfungsi secara kompleks.

Teori Belajar Gagne

Kompetensi itu meliputi skill, pengetahuan, attitude (perilaku), dan nilai-nilai yang di perlukan oleh manusia, sehingga belajar adalah hasil dalam berbagai macam tingkah laku yang selanjutnya di sebut kapasitas atau outcome.

Menurut Teori Belajar Gagne belajar memberi kontribusi terhadap adaptasi yang di perlukan untuk mengembangkan proses yang logis, sehingga perkembangan tingkah laku (behavior) adalah hasil dari efek belajar yang kumulatif (Gagne, 1968).

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa belajar itu bukan proses tunggal. Belajar menurut Teori Belajar Gagne tidak dapat di definisikan dengan mudah, karena belajar bersifat kompleks.

Hasil belajar merupakan kapabilitas. Setelah belajar, orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai.

Timbulnya kapabilitas tersebut berasal dari (1) stimulasi yang berasal dari lingkungan; dan (2) proses kognitif yang di lakukan siswa.

Dengan demikian, belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi menjadi kapabilitas baru.

Juga di kemukakan bahwa belajar merupakan factor yang luas yang di bentuk oleh pertumbuhan, perkembangan tingkah laku merupakan hasil dari aspek kumulatif belajar.

Teori Belajar Gagne mendefenisikan belajar adalah perubahan dalam disposisi atau kapabilitas manusia yang berlangsung selama satu masa waktu dan tidak semata-mata di sebabkan oleh proses pertumbuhan. Perubahan itu berbentuk perubahan tingkah laku. Hal itu dapat di ketahui dengan jalan membandingkan tingkah laku sebelum belajar dan tingkah laku yang di peroleh setelah belajar.

Perubahan tingkah lakuh dapat berbentuk perubahan kapabilitas jenis kerja atau perubahan sikap, minat atau nilai. Perubahan itu harus dapat bertahan selama periode waktu dan dapat di bedakan dengan perubahan karena pertumbuhan. Misal perubahan tinggi badan atau perkembangan otot dan lain-lain (Margaret G. Bell dalam Panen, Paulina dkk, 1999)

Teori Belajar Gagne – Teori Pemrosesan Informasi

Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran.

Menurut Teori Belajar Gagne, pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian di olah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.

Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu.

Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

Menurut Teori Belajar Gagne, tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu,

  1. motivasi;
  2. pemahaman;
  3. pemerolehan;
  4. penyimpanan;
  5. ingatan kembali;
  6. generalisasi;
  7. perlakuan dan
  8. umpan balik.

Model pemrosesan informasi dapat di gambarkan dengan kumpulan kotak-kotak yang di hubungkan dengan garis-garis. Kotak-kotak itu menggambarkan fungsi-fungsi atau keadaan sistem dan garis-garis menggambarkan transformasi yang terjadi dari suatu keadaan ke keadaan yang lain.

Proses Kognitif dalam Teori Belajar Gagne

Teori Belajar Gagne

Menurut Gagne ada sembilan tahap pengolahan (proses) kognitif yang terjadi dalam belajar yang kemudian di sebut “fase-fase belajar”. Fase-fase belajar ini kemudian di golongkan ke dalam (1) fase persiapan; (2) fase perolehan dan perbuatan; dan (3) alih belajar.

Setiap fase di beri nama dan di bawah masing-masing fase terlihat satu kotak yang menunjukkan proses internal utama, yaitu kejadian belajar, selama fase itu.

  1. Fase Motivasi
    Siswa harus di beri motivasi untuk belajar dengan harapan bahwa belajar siswa belajar akan memperoleh hadiah atau imbalan akan usahanya untuk belajar.
  2. Fase Pengenalan
    Siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
  3. Fase Perolehan
    Bila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran. Informasi di sajikan. Informasi itu di ubah menjadi bentuk yang bermakna yang di hubungkan dengan informsi yang telah ada dalam memori siswa. Siswa dapat membentuk gambaran-gambaran mental dari informasi itu atau membentuk asosiasi baru antara informasi baru dan informasi lama.
  4. Fase Retensi
    Informasi baru yang di peroleh harus di pindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui pengulangan kembali (rehearsal), praktek (practice), elaborasi, dll.
  5. Fase Pemanggilan (Recall)
    Bagian penting dalam belajar adalah memperoleh hubungan dengan apa yang telah di pelajari, yaitu dengan memanggil (recall) informasi.
  6. Fase Generalisasi
    Biasanya informasi itu kurang nilainya jika tidak dapat di terapkan di luar konteks di mana informasi itu di pelajari. Jadi, generalisasi atau transfer informasi pada siruasi-situasi baru merupakan fase kritis dalam belajar.
  7. Fase Penampilan
    Para siswa harus memperlihatkan bahwa mereka telah belajar sesuatu melalui penampilan yang tampak.
  8. Fase Umpan Balik
    Para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka, yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang di ajarkan.

Aplikasi Teori Belajar Sibernetik dalam Teori Belajar Gagne

Teori belajar pengolahan informasi termasuk dalam lingkup teori kognitif yang mengemukakan bahwa teori belajar adalah proses internal yang tidak dapat di amati secara langsung dan merupakan perubahan kemampuan yang terikat pada situasi tertentu.

Namun, memori kerja manusia mempunyai kapasitas yang terbatas. Menurut Gagne, untuk mengurangi muatan kerja bentuk pengetahuan yang di pelajari dapat berupa; proporsi, produksi, dan mental images.

Teori Gagne dan Briggs mempreskripsikan adanya: (1) kapasitas belajar; (2) peristiwa pembelajaran; (3) pengorganisasian/urutan pembelajaran.

Mengenai kapabilitas belajar kaitannya dengan belajar untuk kerja di rumuskan oleh Gagne sebagai berikut:

  • Informasi Verbal Menyatakan informasi
  • Kemampuan intelektual Menggunakan simbol untuk berinteraksi dengan lingkungan.
  1. Diskriminasi Membedakan perangsang yang memiliki dimensi fisik yang berlainan.
  2. Konsep konkret Mengidentifikasi contoh-contoh konkret
  3. Kaidah Menunjukkan aplikasi suatu kaidah
  4. Konsep abstrak Mengklasifikasi contoh-contoh dengan menggunakan ungkapan verbal atau defenisi.
  5. Kaidah tingkat lebih tinggi Mengembangkan kaidah baru untuk memecahkan masalah.
  • Strategi Kognitif Mengembangkan cara-cara baru untuk memecahkan masalah.
  • Menggunakan berbagai cara untuk mengontrol proses belajar dan/atau berpikir.
  • Sikap Memilihi berperilaku dengan cara tertentu
  • Keterampilan Motorik Melakukan gerakan tubuh yang luwes, cekatan serta dengan urutan yang benar.

Dalam mengorganisasikan pembelajaran, perlu di pertimbangkan ada tidaknya prasyarat belajar untuk suatu kapabilitas, apakah siswa telah memiliki prasyarat belajar yang di perlukan.

Ada prasyarat belajar utama yang harus di kuasai siswa dan aada prasyarat belajar pendukung yang dapat memudahkan belajar.

Pengorganisasian pembelajaran kapabilitas belajar meliputi, (1) Pengorganisasian pembelajaran ranah keterampilan intelektual, (2) Pengorganisasian pembelajaran ranah invormasi verbal, (3) Pengorganisasian pembelajaran ranah strategi kognitif; (4) Pengorganisasian pembelajaran ranah sikap, dan (5) Pengorganisasian pembelajaran ranah keterampilan motorik.

Taksonomi dalam Teori Belajar Gagne

Selama ini kita merumuskan kompetensi dasar berdasarkan taksonomi Bloom dengan tiga domainnya, yaitu: domain kognitif, domain afektif, dan domain psikomotor. Padahal Gagne mengembangkan pula tujuan-tujuan belajar yang di kenal dengan taksonomi Gagne.

Menurut Teori Belajar Gagne tingkah laku manusia yang sangat bervariasi dan berbeda di hasilkan dari belajar. Kita dapat mengklasifikasikan tingkah laku sedemikian rupa sehingga dapat di ambil implikasinya yang bermanfaat dalam proses belajar.

Dalam Teori Belajar Gagne mengemukakan bahwa keterampilan-keterampilan yang dapat diamati sebagai hasil-hasil belajar di sebut kemampuan-kemampuan atau disebut juga kapabilitas.

Kapabilitas merupakan kemampuan yang di miliki manusia karena ia belajar. Olehnya itu, kapabilitas dapat di ibaratkan sebagai tingkah laku akhir dan di tempatkan pada puncak membentuk suatu piramida.

Kapabilitas keterampilan intelektual menurut Teori Belajar Gagne, di kelompokkan dalam 8 tipe belajar yaitu, belajar isyarat, belajar stimulus respon, belajar rangkaian gerak, belajar rangkaian verbal, belajar memperbedakan, belajar pembentukan konsep, belajar pembentukan aturan, dan belajar pemecahan masalah.

Tipe belajar tersebut terurut kesukarannya dari yang paling sederhana (belajar isyarat) sampai kepada yang paling kompleks belajar pemecahan masalah.

a. Belajar Isyarat (Sinyal)

Belajar isyarat adalah belajar yang tidak di niati atau tanpa kesengajaan, timbul sebagai akibat suatu rangsangan (stimulus) sehingga menimbulkan suatu respon emosional pada individu yang bersangkutan.

Sebagai contoh, sikap guru yang sangat menyenangkan siswa, dan membuat siswa yang mengikuti pelajaran guru tersebut menyenangi pelajaran yang di ajarkan oleh guru tersebut.

b. Belajar stimulus respon

Belajar stimulus respon adalah belajar untuk merespon suatu isyarat, berbeda dengan pada belajar isyarat pada tipe belajar ini belajar yang di lakukan di niati atau sengaja dan di lakukan secara fisik.

Olehnya itu, dalam belajar stimulus respon menghendaki suatu stimulus yang datangnya dari luar sehingga menimbulkan terangsangnya otot-otot kemudian di iringi respon yang di kehendaki sehingga terjadi hubungan langsung yang terpadu antara stimulus dan respon.

c. Belajar rangkaian gerak (Chaining Motorik)

Belajar rangkaian gerak merupakan perbuatan jasmaniah terurut dari dua kegiatan atau lebih stimulus respon.

Setiap stimulus respon dalam suatu rangkaian berhubungan erat dengan stimulus respon yang lainnya yang masih dalam rangkaian yang sama.

d. Belajar Asosiasi / rangkaian verbal (Chaining Verbal)

Kalau tadi pada belajar rangkaian gerak merupakan perbuatan jasmaniah, maka pada belajar rangkaian verbal merupakan perbuatan lisan.

Jadi, belajar rangkaian verbal adalah perbuatan lisan terurut dari dua kegiatan atau lebih stimulus respon. Setiap stimulus respon dalam satu rangkaian berkaitan dengan stimulus respon lainnya yang masih dalam rangkaian yang sama.

e. Belajar memperbedakan / diskriminasi jamak (Multiple Discrimination)

Belajar memperbedakan adalah belajar membedakan hubungan stimulus respon sehingga bisa memahami bermacam-macam objek fisik dan konsep, dalam merespon lingkungannya, anak membutuhkan keterampilan sederhana sehingga dapat membedakan suatu objek dengan objek lainnya, dan membedakan satu simbol dengan simbol lainnya.

f. Belajar Pembentukan Konsep (Concept Learning)

Belajar Pembentukan Konsep adalah belajar mengenal sifat bersama dari benda-benda konkret, atau peristiwa untuk mengelompokkan menjadi satu.

Untuk hal-hal tertentu belajar pembentukan konsep merupakan lawan dari belajar memperbedakan.

Olehnya itu, belajar memperbedakan atau menginginkan anak dapat membedakan objek-objek berdasarkan karakteristiknya yang berlainan, sedangkan belajar pembentukan konsep menginginkan agar anak dapat mengklasifikasikan objek-objek ke dalam kelompok-kelompok yang memiliki karakteristik sama.

g. Belajar Pembentukan Aturan / Kaidah (Rule Learning)

Aturan terbentuk berdasarkan konsep-konsep yang sudah di pelajari. Dalam belajar pembentukan aturan memungkinkan anak untuk dapat menghubungkan dua konsep atau lebih.

h. Belajar memecahkan masalah (Problem solving)

Belajar memecahkan masalah adalah tipe belajar yang lebih tinggi derajatnya dan lebih kompleks daripada tipe belajar aturan (rule learning). Pada tiap tipe belajar memecahkan masalah, aturan yang telah di pelajari terdahulu untuk membuat formulasi penyelesaian masalah.

Hasil belajar menurut Teori Belajar Gagne meliputi informasi verbal, keterampilan intelektual, keterampilan motorik, sikap dan strategi kognitif.

Kemampuan belajar dalam Teori Belajar Gagne ini menggambarkan kapabilitas dan untuk perbuatan (performance) yang berlainan.

1. Keterampilan Intelektual

Kemampuan skill intelektual adalah kemampuan pembelajar yang dapat menunjukkan kompetensinya sebagai anggota masyarakat seperti; menganalisa berita-berita.

Membuat keseimbangan keuangan, menggunakan bahasa untuk mengungkapkan konsep, menggunakan rumus-rumus matematika. Dengan kata lain ia tahu “Knowing how”.

2. Strategi-strategi Kognitif

Defenisi Strategi Kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.

Strategi kognitif adalah kemampuan yang mengontrol manajemen belajar si pembelajar mengingat dan berpikir.

Cara yang terbaik untuk mengembangkan kemampuan tersebut adalah dengan melatih pembelajar memecahkan masalah, penelitian dan menerapkan teori-teori untuk memecahkan masalah real di lapangan.

Melalui pendidikan formal di harapkan pembelajar menjadi “self learner” dan “independent tinker”.

3. Informasi Verbal

Informasi verbal adalah kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tulisan. Pemilikan informasi verbal memungkinkan individu berperanan dalam kehidupan.

Belajar informasi verbal merupakan kemampuan yang di nyatakan, seperti membuat label, menyusun fakta-fakta, dan menjelaskan.

Kemampuan/untuk kerja dari hasil belajar, seperti membuat pernyataan, penyusunan frase, atau melaporkan informasi.

4. Sikap-sikap / Perilaku (Attitude)

Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut. Perilaku (attitude) merupakan kemampuan yang mempengaruhi pilihan pembelajar (peserta didik) untuk melakukan suatu tindakan.

Belajar melalui model ini di peroleh melalui pemodelan atau orang yang di tokohkan, atau orang yang di idolakan.

5. Keterampilan-keterampilan Motorik

Kemampuan Motorik adalah kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dan urutan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.

Model Pembelajaran dalam Teori Belajar Gagne

Peristiwa pembelajaran adalah aktifitas-aktifitas belajar yang menurut Teori Belajar Gagne perlu di terapkan sebagaimana dalam fase-fase belajar. Ada sembilan peristiwa belajar yang menjadi model pembelajaran untuk meningkatkan kualitas belajar. Dengan penerapan model ini di harapkan hasil belajar dapat di tingkatkan atau di pertahankan.

Peritiwa pembelajaran di asumsikan sebagai cara-cara yang perlu di ciptakan oleh guru dengan tujuan untuk mendukung proses-proses belajar (internal) di dalam diri siswa. Hakekat suatu peristiwa pembelajaran untuk setiap pembelajaran berbeda-beda, tergantung pada kapabilitas yang di harapkan atau harus di capai sebagaimana hasil belajar.

Teori Belajar Gagne

Kesembilan peristiwa pembelajaran yang ada pada setiap fase belajar dapat di uraikan sebagai berikut:

1. Membangkitkan Perhatian

Kegiatan paling awal dalam pembelajaran adalah menarik perhatian siswa agar siswa mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir pelajaran.

Perhatian siswa dapat di tingkatkan dengan memberikan berbagai rangsangan sesuai dengan kognisi yang ada misalnya dengan perubahan gerak badan (berjalan, mendekati siswa, dll), perubahan suara, menggunakan berbagai media belajar yang dapat menarik perhatian siswa atau menyebutkan contoh-contoh yang ada di dalam dan di luar kelas, dan lain-lain.

2. Memberitahukan Tujuan Pembelajaran pada Siswa

Agar siswa mempunyai harapan dan tujuan selama belajar, maka pada siswa perlu di jelaskan apa saja yang akan di capai selama pembelajaran dan jelaskan pula manfaat dari materi yang akan di pelajari dan tugas-tugas yang harus di selesaikan selama pembelajaran.

Keuntungan menjelaskan tujuan adalah agar siswa dapat menjawab sendiri pertanyaan “apakah ia telah belajar?”, “apakah materi yang di pelajari telah di kuasai?”. Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membangkitkan harapan dalam diri siswa tentang kemampuan dan upaya yang harus di lakukan agar tujuannya tercapai.

3. Merangsang Ingatan pada Materi Prasyarat

Bila siswa telah memiliki perhatian dan pengharapan yang baik pada pelajara, guru perlu mengingatkan siswa tentang materi apa saja yang telah di kuasai sebelumnya dengan materi yang akan di ajarkan.

Dengan pengetahuan yang ada pada memori kerjanya, di harapkan siswa siap untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang lama dengan pengetahuan yang baru yang akan di pelajari.

Ada banyak cara yang dapat di lakukan guru untuk mengingatkan siswa pada materi yang telah di pelajari misalnya dengan mengingatkan siswa pada topik-topik yang telah di pelajari dan memninta siswa untuk menjelaskannya secara singkat.

4. Menyajikan Bahan Perangsang

Hal ini di lakukan dengan cara menyajikan bahan kepada siswa berupa pokok-pokok materi yang penting yang bersifat kunci. Namun sebelum itu, guru harus menentukan bahan apa yang harus di sajikan berupa informasi verbal, keterampilan intelektual, atau belajar sikap.

Dengan demikian, berdasarkan jenis kemampuan atau bahan ini maka dapat di pilih bentuk kegiatan apa saja yang akan di sajikan sehingga proses pembelajaran berjalan lancar.

Misalnya, bila akan mengajarkan tentang sikap maka pilihlah bahan berupa model-model perilaku manusia. Bila akan mengajarkan keterampilan motorik maka demonstrasikanlah contoh bahan keterampilan tersebut dan tunjukkan caranya secara tepat.

5. Memberi Bimbingan Belajar

Bimbingan belajar di berikan dengan tujuan untuk membantu siswa agar mudah mencapai tujuan pelajaran atau kemampuan-kemampuan yang harus di capainya pada akhir pelajaran.

Misalnya bila siswa harus mengusai konsep-konsep kunci, maka berilah cara mengingat konsep-konsep tersebut misalnya dengan menjelaskan karakteritik dari setiap konsep.

Bila siswa hrus menguasai keterampilan tertentu, maka bimbinglah dengan cara menjelaskan langkah-langkah yang harus di tempuh untuk menguasai keterampilan tersebut.

6. Menampilkan untuk Kerja

Nah, Untuk mengetahui apakah siswa telah memiliki kemampuan yang di harapkan, maka mintalah siswa untuk menampilkan kemampuannya dalam bentuk tindakan yang dapat di amati oleh guru.

Misalnya, apabila inging mengetahui kemampuan informasi verbal siswa maka berikan siswa pertanyaan-pertanyaan yang dapat di ukur tingkat penguasaannya atau bila ingin mengetahui keterampilan siswa maka mintalah siswa untuk melakukan tindakan tertentu.

Olehnya itu, jawaban yang di berikan siswa hendaklah sesuai dengan kemampuan yang di minta dalam tujuan pembelajaran.

7. Memberikan Umpan Balik

Memberikan umpan balik merupakan fase yang terpenting. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, umpan balik diberikan secara informative dengan cara memberikan keterangan tentang tingkat unjuk kerja yang telah di capai siswa.

Misalnya jelaskan jawaban siswa yang sudah benar dan yang perlu di lengkapi atau yang perlu di pelajari kembali oleh siswa dengan cara “sudah baik”, “pelajari kembali”, atau “lengkapi”, dll.

8. Menilai untuk Kerja

Merupakan peristiwa pembelajaran yang berfungsi menilai apakah siswa sudah mencapai tujuan atau belum. Untuk itu perlu di buat alat penilaian yang konsisten dengan tujuan dan di harapkan mampu mengukur tingkat pencapaian belajar siswa.

9. Meningkatkan Retensi

Guru perlu memberikan latihan-latihan dalam berbagai situasi agar dapat menjamin bahwa siswanya dapat mengulangi dan menggunakan pengetahuan barunya kapan saja di perlukan.

Dalam suatu pembelajaran, satu hal yang penting dan perlu di tanamkan dalam diri siswa adalah “kepercayaan diri”.

Menurut Bandura seperti di kutip oleh Teori Belajar Gagne dan Driscoll (1988: 70) seseorang yang memiliki sikap percaya diri tinggi cenderung akan berhasil bagaimana pun kemampuan yang ia miliki.

Sikap di mana seseorang merasa yakin, percaya dapat berhasil mencapai sesuatu akan mempengaruhi mereka bertingkah laku untuk mencapai keberhasilan tersebut. Sikap ini mempengaruhi kinerja aktual seseorang, sehingga perbedaan dalam sikap ini menimbulkan perbedaan dalam kinerja.

Membantu siswa menyadari kekuatan dan kelemahan diri serta menanamkan pada siswa gambaran diri positif terhadap diri sendiri.

Menghadirkan seseorang yang terkenal dalam suatu bidang sebagai pembicara, memperlihatkan video tapes atau potret seseorang yang telah berhasil (sebagai model), misalnya merupakan salah satu cara menanamkan gambaran positif terhadap diri sendiri dan kepada siswa.

Salah satu cata untuk menumbuhkan kepercayaan diri pada siswa adalah dengan menggunakan seorang model. Menurut Martin dan Briggs (1986) dalam Mambo (2008) penggunaan model seseorang yang berhasil dapat mengubah sikap dan tingkah laku individu mendapat dukungan luas dari para ahli.

Menggunakan seseorang sebagai model untuk menanamkan sikap percaya diri menurut Bandura seperti di kutip Gagne dan Briggs (1979: 88) sudah di lakukan secara luas di sekolah-sekolah.

Adapun langkah-langkah menanamkan rasa percaya diri pada diri siswa di dalam kelas dalam Teori Belajar Gagne, sebagai berikut:

  • Menggunakan suatu patokan, standar yang memungkinkan siswa dapat mencapai keberhasilan (misalnya dengan mengatakan bahwa kamu tentu dapat menjawab pertanyaan di bawah ini tanpa melihat buku).
  • Memberi tugas yang sukar tetapi cukup realistis untuk di selesaikan/sesuai dengan kemampuan siswa (misalnya memberi tugas kepada siswa di mulai dari yang mudah berangsur sampai ke tugas yang sukar).
  • Menyajikan materi secara bertahap sesuai dengan urutan dan tingkat kesukarannya menurut Keller dan Dodge seperti di kutip Reigeluth dan Curtis dalam Gagne (1987) merupakan salah satu usaha menanamkan rasa percaya diri pada siswa.
  • Mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran misalnya menurut Lesser seperti di kutip Gagne dan Driscoll (1988:69) variasi dari serius ke humor, dari cepat ke lambat, dari suara keras ke suara yang sedang, dan mengubah gaya mengajar.
  • Mengadakan komunikasi nonverbal dalam kegiatan pembelajaran seperti demonstrasi dan simulasi yang menurut Gagne dan Briggs (1979) dapat di lakukan untuk menarik minat/perhatian siswa.

Kesimpulan Teori Belajar Gagne

Sebagai penutup berikut ini beberapa kesimpulan yang perlu diperhatikan dalam pengembangan PSB, yaitu:

  1. Teori belajar Robert. M. Gagne ini membantu kita untuk memahami proses belajar yang terjadi di dalam diri peserta didik, mengerti kondisi-kondisi dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi, memperlancar atau menghambat proses belajar peserta didik sehingga dapat bertindak secara tepat.
  2. Belajar merupakan seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap individu yang merupakan hasil transformasi rangsangan yang berasal dari peristiwa eksternal di lingkungan individu yang bersangkutan.
  3. Menurut Gagne, ada lima kemampuan belajar, yaitu:
    • (1) keterampilan intelektual,
    • (2) strategi kognitif,
    • (3) informasi verbal,
    • (4) keterampilan motorik, dan
    • (5) sikap.
  4. Hirarki belajar (learning hierarchies) adalah urut-urutan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik agar dapat mempelajari hal-hal yang lebih sulit atau lebih kompleks.
  5. Ada delapan tipe belajar Gagne yaitu:
    • (1) belajar sinyal (signal learning),
    • (2) belajar stimulus respon (stimulus response learning),
    • (3) belajar merangkai tingkah laku (behavior chaining learning),
    • (4) belajar asosiasi verbal (verval chaining learning),
    • (5) belajar diskriminasi (discrimination learning),
    • (6) belajar konsep (concept learning),
    • (7) belajar kaídah (rule learning), dan
    • (8) belajar memecahkan masalah (problem solving learning).
  6. Sumber belajar meliputi semua sumber (baik berupa data, orang maupun benda) yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas (kemudahan) dan menunjang belajar bagi peserta didik.
  7. Segala sumber dan bahan pembelajaran, segala macam peralatan audio visual, segala macam tipe personnel yang ada di dalam PSB, semuanya itu dimaksudkan untuk membantu mewujudkan pengembangan sistem instruksional untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran.
  8. Fungsi dan kegiatan Pusat Sumber Belajar (PSB) akan sangat tergantung pada tujuan pembelajaran, fasilitas, peralatan, media dan bahan belajar yang dimiliki, staf pengelola PSB yang bersangkutan. Tetapi yang pasti bahwa kelima fungsi tersebut akan selalu ada dalam setiap PSB sebagai suatu lembaga yang berusaha untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

Saran dan Rekomendasi Teori Belajar Gagne dalam Pembelajaran

Selain itu berdasarkan uraian dan kesimpulan di atas, dapat diberikan saran-saran sebagai berikut:

  1. Dalam kegiatan pembelajaran tidak dapat dilakukan sembarangan, tetapi supaya menggunakan teori-teori dan prinsip-prinsip belajar tertentu misalnya teori Robert. M. Gagne agar bisa bertindak secara tepat.
  2. Teori belajar Robert M. Gagne ini supaya dijadikan acuan atau landasan dalam melakukan intervensi dengan mengembangkan PSB, sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan dan proses pembelajaran melalui pengembangan sistem instruksional.
  3. Proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan supaya diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
  4. Peserta didik supaya tidak hanya belajar dari guru atau pendidik saja, tetapi dapat belajar dengan berbagai sumber belajar berupa pesan (massage), orang (people), bahan (materials/software), alat (devices/hardware), teknik (technique), dan lingkungan (setting) yang dikelola oleh suatu lembaga yaitu Pusat Sumber Belajar (PSB).

DAFTAR RUJUKAN

  • Aisyah, Nyimas dkk. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Bahan Ajar Cetak S1 PGSD. Jakarta: Dirjen Dikti-Depdiknas.
  • Arsyad, Azhar. 1997. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  • Budiningsih, Asri. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Rineka Cipta.
  • Dahar, Ratna Wilis. 1988. Teori-teori Belajar. Jakarta: P2LPTK.
  • Gagne, Robert M. 1977. The Conditions of Learning, New York: Holt, Rinehart and Winston.
  • Gagne, Robert M. 1985. The Cognitive Psychology of School Learning, Boston Toronto: Little, Brown and Company.
  • Miarso, Yusufhad. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Penerbit Prenada Media.
  • Suciati, Irawan, Prasetya. 2001.Teori Belajar dan Motivasi, Jakarta: Depdiknas, Ditjen PT. PAU-UT.
  • Winkel, W.S. 2007. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.

Demikian terori belajar Gagne
Mudah-mudahan ada manfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *