Apa itu Flipped Learning atau Pembelajaran Terbalik?

Apa itu Flippen Learning?

HermanAnis.com – Hai teman-teman, pada kesempatan ini kita akan membahas salah satu bentuk pembelajaran inovatif, yaitu Flipped Learning atau Pembelajaran Terbalik. Pembahasan akan fokus pada apa itu Flipped Learning dan empat pilar pokok dalam pembelajaran terbaik.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

1. Apa itu Flipped Learning atau Pembelajaran Terbalik?

Meskipun sering di definisikan secara sederhana sebagai “pekerjaan sekolah yang di kerjakan di rumah dan pekerjaan rumah yang di kerjakan di sekolah,”. Namun, Flipped Learning lebih dari itu, melalui pendekatan ini, guru tetap dapat menerapkan metodologi atau berbagai metodologi di kelas mereka.

Untuk mengatasi beberapa kesalahpahaman tentang istilah ini, Flipped Learning Network (FLN), sebuah lembaga yang di isi oleh ahli dan Pendidik Flipped berpengalaman, telah menyusun definisi formal dari pembelajaran terbalik. Mereka kemudian mendefinisikan istilah-istilah secara eksplisit. Sehingga dapat menghilangkan kesalahpahaman guru, media, dan peneliti.

Menurut NFT, Flipped Learning adalah pendekatan pedagogis di mana instruksi langsung bergerak dari ruang belajar kelompok ke ruang belajar individu, dan ruang kelompok yang dihasilkan diubah menjadi lingkungan belajar yang dinamis dan interaktif di mana pendidik membimbing siswa saat mereka menerapkan konsep dan terlibat secara kreatif dalam pembelajaran konten materi pelajaran.

Definisi Flipped Learning atau Pembelajaran Terbalik

Baca Juga: Kelebihan dan Kelemahan Flipped Classroom

Flipped Learning Network juga membedakan antara Flipped Classroom dan Flipped Learning. Istilah-istilah ini sering di anggap sama padahal tidak sama dan seharusnya tidak di pertukarkan. Membalik kelas dapat di lakukan, namun itu tidak selalu mengarah ke Pembelajaran Terbalik.

Banyak Pendidik yang mungkin sudah membalik kelas mereka, dengan meminta siswa membaca teks di luar kelas, menonton video tambahan, atau memecahkan masalah tambahan. Namun, perlu di ketahui untuk terlibat dalam pembelajaran terbalik ini, maka dia harus memasukkan empat pilar berikut ke dalam pembelajarannya.

2. Empat Pilar FLIP

Dalam NFT, terdapat empat pilar pokok dalam Flipped Learning. Keempat pilar ini wajib di penuhi untuk pembelajaran itu bisa di katakan telah menerapkan pembelajaran terbalik. Keempatnya pilar pokok Flipped Learning itu adalah, 1) Flexible Environment, 2) Learning Culture, 3) Intentional Content, dan 4) Professional Educator.

Empat pilar pokok Flipped Learning atau Pembelajaran Terbalik

a. Pilar pertama Flipped LearningFlexible Environment

Pilar pertama dalam Flipped Learning adalah Lingkungan belajar yang fleksibel. Perlu di ketahui bahwa dengan pembelajaran terbalik maka ini memungkinkan guru untuk integrasi berbagai mode pembelajaran. Contohnya, pendidik dapat mengatur ulang ruang belajar peserta didik mereka untuk mengakomodasi unit pembelajaran, dalam mendukung kerja kelompok atau belajar mandiri.

Mereka dapat menciptakan ruang yang fleksibel di mana siswa dapat memilih kapan dan di mana mereka belajar. Selain pendidik dapat mengubah kelas mereka secara fleksibel sesuai kebutuhan dan ekspektasinya terkait jadwal peserta didik untuk belajar, pendidik juga dapat mengatur jadwal penilaian sesuai kebutuhan guru dan kesiapan siswa.

Untuk mengecek apakah pembelajaran yang di laksanakan oleh pendidik telah menerapkan pendekatan Flipped Learning pada pilar ini, teman-teman bisa memeriksanya dengan memberikan ceklist pada pernyataan berikut.

  • F1 – Saya menetapkan ruang dan kerangka waktu yang memungkinkan siswa untuk berinteraksi dan merefleksikan pembelajaran mereka sesuai kebutuhan.
  • F2 – Saya terus mengamati dan memantau siswa untuk membuat penyesuaian.
  • F3 – Saya memberi siswa berbagai cara untuk mempelajari konten dan menampilkan penguasaan yang telah di capai.

Setelah di evaluasi semuanya terpenuhi, maka pembelajaran yang Bapak/Ibu guru terapkan sudah memenuhi pilar pertama dari Pilar pertama dalam pembelajaran terbalik yaitu Lingkungan belajar yang fleksibel.

b. Pilar kedua Pembelajaran Terbalik – Learning Culture

Pilar kedua dalam Flipped Learning adalah Budaya Belajar. Dalam model tradisional yang berpusat pada guru, guru adalah sumber informasi utama. Sebaliknya, dalam model Pembelajaran Terbalik, pembelajaran sengaja menggeser instruksi ke pendekatan yang berpusat pada peserta didik.

Aktivitas pembelajaran siswa selama di kelas di dedikasikan untuk mengeksplorasi topik secara lebih mendalam dan menciptakan peluang belajar yang kaya. Sehingga, siswa secara aktif terlibat dalam konstruksi pengetahuan saat mereka berpartisipasi dan mengevaluasi pembelajaran mereka dengan cara yang bermakna secara pribadi.

Untuk mengecek apakah pembelajaran yang di laksanakan oleh pendidik telah menerapkan pendekatan Flipped Learning untuk pilar ini, teman-teman bisa memeriksanya dengan memberikan ceklist pada pernyataan berikut.

  • L1 – Saya memberi siswa kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan yang bermakna tanpa guru menjadi pusat informasi.
  • L2 – Saya membuat perancah kegiatan ini dan membuatnya dapat di akses oleh semua siswa melalui diferensiasi dan umpan balik.

Setelah di evaluasi dan jika semuanya terpenuhi, maka pembelajaran yang Bapak/Ibu guru terapkan sudah memenuhi pilar pertama dari pilar kedua dalam pembelajaran terbalik yaitu budaya belajar.

c. Pilar ketiga Flipped LearningIntentional Content

Pilar ketiga dalam Flipped Learning adalah Intentional Content. Fokus lain seorang pendidik dalam Flipped Learning adalah memikirkan bagaimana mereka dapat menggunakan model Flipped Learning untuk membantu siswa mengembangkan pemahaman konseptual, dan terampil dan lancar secara prosedural mendemontrasikan keterampilan yang di pelajari.

Olehnya itu, sangat penting untuk menentukan apa yang mereka butuhkan untuk mengajar dan materi apa yang harus di jelajahi siswa sendiri secara terinci dan terukur. Pendidik perlu untuk memaksimalkan waktu pembelajaran yang tersedia seefektif mungkin, mengadopsi dan mengintegrasikan metode strategi pembelajaran aktif yang berpusat pada siswa sepraktis mungkin, berdasarkan tingkat kelas dan materi pelajaran.

Olehnya itu, fokus pada apa yang akan di pelajari dan di kuasai oleh siswa perlu di tuliskan, dan sajikan serta di pahami oleh guru dan siswa. Sehingga, nantinya siswa memiliki prioritas kerja dalam aktivitas belajar untuk memahami konsep yang bebankan melalui instruksi langsung, atau tidak langsung yang bisa di akses oleh siswa secara mandiri.

Untuk mengecek apakah pembelajaran yang di laksanakan oleh pendidik telah menerapkan pendekatan Flipped Learning untuk pilar ini, teman-teman bisa memeriksanya dengan memberikan ceklist pada pernyataan berikut.

  • I1 – Saya membuat dan/atau mengkurasi konten yang relevan (biasanya video) untuk siswa saya.
  • I2 – Saya membedakan untuk membuat konten dapat di akses dan relevan untuk semua siswa

Setelah di evaluasi dan jika semuanya terpenuhi, maka pembelajaran yang Bapak/Ibu guru terapkan sudah memenuhi pilar ketiga dalam pembelajaran terbalik, yaitu Intentional Content.

d. Pilar keempat Pembelajaran Terbalik – Professional Educator

Pilar keempat dalam Flipped Learning adalah Professional Educator. Peran Pendidik sebagai seorang Profesional, sangat penting dalam pembelajaran terbalik. Peran ini lebih penting daripada ketika pendidik berada di Kelas konvensional.

Selama pembelajaran di kelas, pendidik perlu untuk terus mengamati siswa, memberi umpan balik yang relevan pada saat itu, dan menilai pekerjaan siswa. Penerapan konsep Assessment of Learning dan Assessment as Learning dalam pembelajaran terbalik sangat mendukung.

Para pendidik dalam Flipped Learning, perlu untuk selalu melakukan refleksi terhadap praktik yang merekalakukan. Selain itu, pendidik juga perlu untuk membangun kolaborasi dengan ahli, dengan teman sejawat seprofesi, untuk meningkatkan pengajaran mereka.

Selain itu, pendidik dalam Flipped Learning harus bisa menerima kritik yang membangun, dan mentolerir “kekacauan/kegadungan” yang terkendali di kelas mereka. Peran pendidik dalam pembelajaran terbalik harus kurang menonjol sebagai satu-satunya sumber informasi, fungsinya untuk memfasilitasi aktivitas, mengarahkan, dan memberi petunjuk.

Namun meskipun begitu, perlu diingat bahwa Guru tetap menjadi unsur paling penting yang memungkinkan Pembelajaran Terbalik terjadi. Ini juga sepertinya berlaku dalam mode pembelajaran apapun.

Untuk mengecek apakah pembelajaran yang di laksanakan oleh pendidik telah menerapkan pendekatan Flipped Learning untuk pilar ini, teman-teman bisa memeriksanya dengan memberikan ceklist pada pernyataan berikut ini,

  • P1 – Saya membuat diri saya ada untuk semua siswa untuk umpan balik individu, kelompok kecil, dan kelas secara real time sesuai kebutuhan.
  • P2 – Saya melakukan penilaian formatif yang sedang berlangsung selama waktu kelas melalui observasi dan dengan merekam data untuk menginformasikan instruksi masa depan.
  • P3 – Saya berkolaborasi dan berefleksi dengan pendidik lain dan bertanggung jawab untuk mengubah praktik saya.

Setelah di evaluasi dan jika semuanya terpenuhi, maka pembelajaran yang Bapak/Ibu guru terapkan sudah memenuhi pilar keempat dalam pembelajaran terbalik yaitu Professional Educator.

Sumber Rujukan:


Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca