Model-model pembelajaran Blended Learning

Model-model pembelajaran Blended Learning

HermanAnis.com. Teman-teman semua, pada bahasan kali ini kita akan membahas tentang model model pembelajaran inovatif yakni Blended Learning dengan fokus bahasan adalah Model-model pembelajaran Blended Learning. Bagi teman-teman yang berprofesi sebagai tenaga pendidik, Model-model pembelajaran Blended Learning ini penting untuk di pahami sebagai salah satu bentuk pembelajaran inovatif.

Sebagaimana di ketahui bahwa Pembelajaran Blended Learning (BL) merupakan model pembelajaran yang mengkombinasikan antara pembelajaran online dengan pembelajaran konvensional (tatap muka).

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Baca Selengkapnya : Pengertian Pembelajaran Blended Learning

A. Model-model pembelajaran Blended Learning

Ada banyak model yang dapat di gunakan guru untuk mengaplikasikan aktifitas pembelajaran online dan tatap muka dalam pembelajaran blended learning. Clayton Christensen Institute telah mengindentifikasi beberapa model yang cukup sering di gunakan dalam menyusun pembelajaran ‘blended learning’ .

Beberapa model blended learning di antaranya adalah,

  1. Model Rotasi (Rotation Model): Model kelas Station Rotation, model kelas Lab/Whole Group Rotation, model kelas Flipped (Flipped Clasroom), model rotasi individu (Individual Rotation);
  2. Model Kelas Flex;
  3. Model Kelas Self-Blend;
  4. Model Enriched-Virtual.

Dalam bentuk bagan, Model-model pembelajaran Blended Learning dapat di ilustrasikan dalam gambar di bawah ini:

Model-model pembelajaran Blended Learning
Gambar 1. Ilustrasi Model Pembelajaran Blended Learning
(Staker & Horn, Classifying K–12 Blended Learning, 2012)

Baca juga: Bagaimana Merancang Model Pembelajaran Blended Learning?

Masing-masing model pembelajaran blended learning di atas dapat di jelaskan sebagai berikut:

B. Model-model pembelajaran Blended Learning 1 – Model Rotasi (Rotation Model)

Pada model kelas ini peserta didik akan di atur untuk bergantian menempati pos-pos kegiatan pembelajaran yang telah di sediakan. Misalnya akan ada pos untuk kegiatan diskusi, mengerjakan proyek, tutorial secara individual, dan mengerjakan tugas atau latihan.

Berikut beberapa model kelas yang termasuk pada kategori model rotasi (rotation model):

Sesuai dengan namanya, dalam model pembelajaran ini terdapat beberapa tempat atau perhentian (station) dimana peserta didik dapat menempatinya secara bergiliran sesuai dengan kesepakatan atau arahan dari guru.

Pada salah satu perhentian (station), peserta didik dan guru dapat saling berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan yang di temui oleh peserta didik. Model pembelajaran ini sering di gunakan dalam pembelajaran di sekolah dasar.

Baca Selengkapnya: Aplikasi yang cocok untuk Pembelajaran Blended Learning

1. Model Kelas Station Rotation

Lalu bagaimana model kelas station rotation dalam versi pembelajaran blended learning?

Ilustrasi Model Pembelajaran Station Rotation
Gambar 2. Ilustrasi Model Pembelajaran Station Rotation
(Graham dkk, K-12 Blended Teaching, 2019)

Pada pembelajaran blended learning, ada satu perhentian (station) dimana peserta didik belajar dan memanfaatkan teknologi untuk mempelajari bahan diskusi dalam kelas sebelum berkumpul dan berdiskusi dengan guru dalam perhentian (station) lainnya.

Selain itu, tempat atau perhentian (station) juga dapat di gunakan oleh peserta didik untuk berdiskusi atau bekerja menyelesaikan proyek yang di tugaskan guru. Model kelas station rotation ini sering di gunakan dalam pembelajaran blended learning pada sekolah yang peserta didiknya tidak banyak yang mempunyai perangkat seperti tablet dan laptop.

Agar model kelas station rotation menjadi efektif maka sebaiknya kelas model ini di terapkan untuk peserta didik yang dapat belajar secara mandiri. Hal ini di karenakan guru hanya akan terfokus pada satu kelompok peserta didik yang sedang berada dalam perhentian (station) tertentu.

Namun alternatif lain yang juga dapat di lakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan adanya fasilitator lain yang membantu guru dalam mengawasi peserta didik yang berkegiatan di perhentian (station) lainnya.

Selain itu, guru dan peserta didik juga dapat membuat kesepakatan di awal pembelajaran, dimana masing-masing peserta didik harus saling membantu ketika berkegiatan di setiap perhentian (station). Sehingga guru dapat fokus memfasilitasi diskusi pada satu perhentian (station).

Contoh :

Akademi KIPP LA memfasilitasi ruangan kelas di suatu Taman Kanak-kanak dengan 15 buah komputer.

Pada suatu kegiatan pembelajaran, guru mengatur peserta didik dalam beberapa jenis kegiatan di antaranya yaitu: pembelajaran online, diskusi kelompok kecil, dan kegiatan latihan/tugas secara individual.

Gambar 3 berikut ini mengilustrasikan kegiatan pembelajaran menggunakan model kelas station rotation dalam TK.

Model-model pembelajaran Blended Learning
Gambar 3. Ilustrasi model kelas Station Rotation
(Staker & Horn, Classifying K–12 Blended Learning, 2012)

2. Model Kelas Lab/Whole Group Rotation

Berbeda dengan model kelas station rotation dimana perpindahan/perputaran yang di lakukan peserta didik masih berada dalam satu ruangan yang sama, pada model kelas lab/whole group rotation, peserta didik akan di atur untuk berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain.

Salah satu ruangan di gunakan untuk sesi pembelajaran secara online sedangkan ruangan yang lain di gunakan untuk kegiatan yang lainnya. Pada model kelas ini, peran guru tidak hanya terbatas hanya pada satu kelompok kecil dalam satu perhentian (station).

Namun disini, guru berperan untuk memfasilitasi dan membantu peserta didik secara individual saat belajar menggunakan perangkat elektronik.

Contoh:

Pada suatu pembelajaran, peserta didik berpindah dari ruangan kelasnya menuju laboratorium komputer selama dua jam setiap hari untuk mengikuti pembelajaran matematika dan membaca secara online.

Gambar 4 berikut ini merupakan ilustrasi dari kegiatan belajar yang menggunakan model kelas lab/whole group rotation.

Ilustrasi Model Kelas lab/whole group rotation
Gambar 4. Ilustrasi Model Kelas lab/whole group rotation
(Staker & Horn, Classifying K–12 Blended Learning, 2012)

3. Model Kelas Flipped (Flipped Clasroom)

Biasanya, dalam suatu pembelajaran yang konvensional, peserta didik mempelajari suatu materi dalam kelas. Kemudian peserta didik akan mendapatkan tugas yang berkaitan dengan materi tersebut untuk di kerjakan setelah jam pelajaran selesai.

Namun, yang sering terjadi adalah peserta didik sering mengalami kebingungan karena tidak tersedianya sumber dan bahan ajar yang dapat membantu mereka menyelesaikan tugas rumahnya. Model pembelajaran flipped classroom membalik siklus yang biasanya terjadi.

Sebelum peserta didik memulai kelas, mereka akan mendapatkan pengajaran secara langsung melalui video secara online. Sehingga ketika kelas di mulai, peserta didik dapat mulai mengerjakan dan menyelesaikan tugasnya serta dapat meminta bantuan melalui kegiatan diskusi di kelas.

Model-model pembelajaran Blended Learning
Gambar 5. Ilustrasi Model Pembelajaran Flipped Classroom
(Graham dkk, K-12 Blended Teaching, 2019)

Contoh:

Siswa kelas 4 – 6 mempelajari materi matematika melalui video pembelajaran dan menjawab soal-soal yang berkaitan dengan materi tersebut di Moodle. Kegiatan ini dapat di lakukan di manapun setelah jam sekolah selesai.

Kemudian, para siswa tersebut membahas dan mendiskusikan apa yang mereka telah pelajari baik dalam video pembelajaran maupun dalam moodle bersama dengan guru pada saat jam sekolah.

Berikut adalah ilustrasi dari kegiatan pembelajaran yang menggunakan model kelas flipped (flipped classroom).

Ilustrasi Model Kelas flipped (Flipped Classroom)
Gambar 6. Ilustrasi Model Kelas flipped (Flipped Classroom)
(Staker & Horn, Classifying K–12 Blended Learning, 2012)

4. Model Rotasi Individu (Individual Rotation)

Pada model ini, siswa mendapatkan jadwal yang telah di sesuaikan dengan masing-masing individual untuk dapat belajar secara mandiri. Jadwal ini dapat di atur baik oleh guru maupun di atur secara online. Model rotasi individu berbeda dengan model rotasi yang lainnya karena peserta didik tidak berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Contoh:

SMA Carpe Diem menugaskan peserta didik untuk belajar sesuai dengan jadwal yang di atur. Masing-masing peserta didik belajar secara online di pusat pembelajaran maupun dalam pembelajaran secara tatap muka. Masing-masing sesi berlangsung selama 35 menit.

Gambar 7 berikut ini merupakan ilustrasi dari kegiatan belajar yang menggunakan rotasi individu (individual rotation).

Model-model pembelajaran Blended Learning
Gambar 7. Ilustrasi Model Kelas Rotasi Individu (Individual Rotation)
(Staker & Horn, Classifying K–12 Blended Learning, 2012)

C. Model-model pembelajaran Blended Learning 2 – Model Kelas Flex

Pada model kelas flex, sebagian besar pembelajaran di lakukan secara online sehingga pembelajaran bersifat sangat fleksibel. Peserta didik dapat belajar sesuai dengan kemampuan, kebutuhan dan kecepatan belajar masing-masing.

Pada model kelas ini, guru dapat berperan sebagai fasilitator melalui sesi diskusi, pengerjaan proyek dalam kelompok, maupun tutoring secara individu.

Hal ini di maksudkan untuk membantu peserta didik yang mengalami permasalahan dalam pembelajaran berdasarkan hasil pantauan aktifitas pembelajaran online yang telah di laksanakan.

Model kelas flex memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang. Terdapat pula fasilitas bagi peserta didik untuk dapat berdiskusi langsung dengan guru secara online ketika menemui permasalahan dalam pembelajaran.

Kunci dari model kelas flex adalah guru dapat memfasilitasi pembelajaran yang sangat fleksibel bagi peserta didik namun tetap ada interaksi yang bermakna antar peserta didik dan guru selama kegiatan pembelajaran.

Model-model pembelajaran Blended Learning 2 - Model Kelas Flex
Gambar 8. Ilustrasi Model Pembelajaran Flex
(Graham dkk, K-12 Blended Teaching, 2019)

Contoh:

Salah satu akademi di San Fransisco menerapkan model pembelajaran flex, dimana guru yang mengajar pada sesi pembelajaran tatap muka merancang strategi pembelajaran dan intervensi untuk sesi tersebut berdasarkan data yang di dapatkan dari kegiatan pembelajaran online yang telah di lakukan sebelumnya.

Model-model pembelajaran Blended Learning
Gambar 9. Ilustrasi Model Kelas Flex
(Staker & Horn, Classifying K–12 Blended Learning, 2012)

D. Model-model pembelajaran Blended Learning 3 Model Self-Blend

Pada model ini, peserta didik dapat mengambil satu atau lebih kegiatan pembelajaran online sebagai tambahan dari kegiatan pembelajaran tatap muka yang telah di lakukan.

Contoh:

Sekolah Quakertown Community di Pennsylvania menawarkan pembelajaran online untuk peserta didik kelas 6-12. Pembelajaran online ini di rancang untuk dapat di akses baik di lingkungan sekolah (cyber lounge) maupun di tempat lainnya. Guru yang memfasilitasi pembelajaran online adalah guru yang juga mengajar pada sesi pembelajaran tatap muka.

Model-model pembelajaran Blended Learning 3 - Model Self-Blend
Gambar 10. Ilustrasi Model Kelas Self-Blend
(Staker & Horn, Classifying K–12 Blended Learning, 2012)

E. Model-model pembelajaran Blended Learning 4 – Model Enriched-Virtual

Pada model kelas ini program pembelajaran di bagi menjadi dua sesi, yaitu pembelajaran tatap muka dan pembelajaran secara online. Pada awalnya model kelas enriched-virtual sepenuhnya adalah model kelas online.

Namun pada perkembangannya di tambahkan model blended learning untuk memfasilitasi peserta didik melalui pembelajaran tatap muka. Model enriched-virtual berbeda dengan model flipped karena pembelajaran tatap muka dalam model enriched-virtual tidak di lakukan setiap hari.

Model kelas ini juga berbeda dengan model Self-Blend karena pembelajaran yang di tawarkan adalah kegiatan pembelajaran secara utuh, bukan berupa materi secara khusus.

Contoh:

Pertemuan pertama progam pembelajaran di dalam suatu eCADEMY di lakukan secara tatap muka. Kemudian, untuk pertemuan selanjutnya peserta didik di persilahkan untuk dapat belajar secara online saja selama peserta didik dapat menyelesaikan program tersebut dengan nilai minimal yang telah
di tentukan.

Model-model pembelajaran Blended Learning
Gambar 11. Ilustrasi Model Kelas Enriched-Virtual
(Staker & Horn, Classifying K–12 Blended Learning, 2012)

F. Bagaimana Memilih model kelas yang sesuai dalam Model-model pembelajaran Blended Learning

Guru dapat memilih dan menggabungkan beberapa model kelas dan di sesuaikan dengan kebutuhan guru dan peserta didik. Misalnya, jika ingin memfokuskan suatu pembelajaran pada sesi pembelajaran tatap muka, maka dapat di gunakan model kelas flipped.

Jika guru ingin membentuk beberapa kelompok kecil dalam pembelajaran sehingga dapat memaksimalkan interaksi dengan peserta didiknya maka dapat mengambil model kelas station rotation atau lab rotation.

Sebaliknya, jika guru ingin fokus untuk membelajarkan peserta didik secara online, maka dapat menggunakan model kelas flex.

Proses penyusunan kegiatan belajar masing-masing model blended learning di sesuaikan dengan beberapa karakteristik seperti fasilitas belajar, ketersediaan akses terhadap teknologi, usia dan kemampuan peserta didik, serta durasi jam pelajaran.

Baca Juga:
Experiential Learning (Pembelajaran Berbasis Pengalaman)

Sumber Rujukan
Ali Muhtadi. 2019. Modul 4. Pembelajaran Inovatif. PPG dalam Jabatan Kemdikbud.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: