Merancang Model Pembelajaran Blended Learning

Merancang Model Pembelajaran Blended Learning

HermanAnis.com. Teman-teman semua, pada bahasan kali ini kita akan membahas tentang model model pembelajaran inovatif yakni Blended Learning dengan fokus bahasan adalah bagaimana merancang model pembelajaran blended learning. Dalam merancang model pembelajaran blended learning, pengajar perlu menguasai bagaimana cara mengintegrasikan pembelajaran online dengan pembelajaran tatap muka.

Bagi teman-teman yang berprofesi sebagai tenaga pendidik, Model-model pembelajaran ini penting untuk di pahami sebagai salah satu bentuk pembelajaran inovatif.

Sebagaimana di ketahui bahwa Pembelajaran Blended Learning (BL) merupakan model pembelajaran yang mengkombinasikan antara pembelajaran online dengan pembelajaran konvensional (tatap muka).

Baca Selengkapnya: Model-model pembelajaran Blended Learning

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Merancang Model Pembelajaran Blended Learning

Beberapa kemampuan yang perlu di kuasai dalam proses mengintegrasikan kedua pembelajaran ini di antaranya yaitu:

  • kemampuan dalam memanfaatkan data karakteristik peserta didik,
  • teknik mengajar dan teknik memfasilitasi pembelajaran secara individual dan kelompok,
  • kemampuan mengembangkan interaksi secara online, serta
  • dapat mengaplikasikan kombinasi ketiga kemampuan tersebut kedalam praktek pembelajaran model blended learning.

Baca Selengkapnya: Aplikasi yang cocok untuk Pembelajaran Blended Learning

1). Mengintegrasikan pembelajaran online dengan pembelajaran tatap muka

Setelah mengenal beberapa model kelas dalam model blended learning, sekarang akan di bahas mengenai bagaimana menyusun aktifitas pembelajaran yang menggunakan model blended learning.

Hal penting yang perlu di perhatikan dalam pembelajaran yang menggunakan model blended learning adalah adanya interaksi antara peserta didik dengan konten (materi) pembelajaran, peserta didik dengan guru, serta interaksi antara peserta didik dengan peserta didik lainnya.

Ketika merancang pembelajaran yang menggunakan model blended learning, guru harus memadukan jenis-jenis interaksi di atas baik dalam pembelajaran online maupun pembelajaran tatap muka.

Jenis-Jenis Interaksi dalam Pembelajaran Model Blended Learning
Gambar 1. Jenis-Jenis Interaksi dalam Pembelajaran Model Blended Learning
(Graham dkk, K-12 Blended Teaching, 2019)

Selain itu jenis-jenis dan kombinasi interaksi di atas, baik secara langsung (tatap muka) maupun secara online juga dapat di ilustrasikan melalui kuadran sebagai berikut.

Dimana pada kuadran sebelah kanan menggambarkan interaksi antara peserta didik dengan konten pembelajaran sedangkan pada kuadran sebelah kiri menggambarkan interaksi antara peserta didik dengan guru serta interaksi antara peserta didik dengan peserta didik lainnya.

Model blended learning memungkinkan semua jenis interaksi ini dapat di akomodasi dalam satu kegiatan pembelajaran

Kombinasi interaksi antara orang dengan teknologi baik secara
langsung (tatap muka) maupun secara online.
Gambar 2. Kombinasi interaksi antara orang dengan teknologi baik secara
langsung (tatap muka) maupun secara online.
(Graham dkk, K-12 Blended Teaching, 2019)

Selain itu jenis-jenis dan kombinasi interaksi di atas, baik secara langsung (tatap muka) maupun secara online juga dapat di ilustrasikan melalui kuadran sebagai berikut.

Dimana pada kuadran sebelah kanan menggambarkan interaksi antara peserta didik dengan konten pembelajaran sedangkan pada kuadran sebelah kiri menggambarkan interaksi antara peserta didik dengan guru serta interaksi antara peserta didik dengan peserta didik lainnya.

Model blended learning memungkinkan semua jenis interaksi ini dapat di akomodasi dalam satu kegiatan pembelajaran.

Kombinasi interaksi antara orang dengan teknologi baik secara
langsung (tatap muka) maupun secara online.
Gambar 2. Kombinasi interaksi antara orang dengan teknologi baik secara
langsung (tatap muka) maupun secara online.
(Graham dkk, K-12 Blended Teaching, 2019)

Baca Selengkapnya : Pengertian Pembelajaran Blended Learning

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran blended learning

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran yang menggunakan model blended learning tidak hanya bertujuan untuk membangun interaksi antara peserta didik dan guru secara online saja.

Namun, penggunaan teknologi juga di tujukan untuk mendukung agar interaksi dalam pembelajaran secara tatap muka dapat berlangsung dengan baik.

Sebagai contoh,

Guru yang mengaplikasikan model blended learning akan lebih mudah memfasilitasi peserta didik secara individual maupun dalam kelompok kecil di bandingkan dengan model pembelajaran konvensional.

Hal ini dikarenakan:

  • Sebagian penyampaian materi atau sesi diskusi telah di laksanakan dalam sesi pembelajaran online. Sehingga guru memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan peserta didik secara individual maupun dalam kelompok kecil saat sesi pembelajaran tatap muka berlangsung.
  • Guru memiliki kesempatan untuk dapat menilai kinerja, kemampuan, dan mengetahui kebutuhan belajar peserta didik melalui aktifitas pembelajaran online.

Pembelajaran yang menggunakan model blended learning dapat memungkinkan guru untuk mengarahkan fokus pembelajaran sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik secara individual.

Hal ini didukung dengan perencanaan, perancangan, pengembangan, serta penerapan kegiatan pembelajaran yang saling melengkapi baik ketika sesi online maupun sesi tatap muka.

Salah satu kesalahan yang sering di lakukan oleh guru dalam pembelajaran yang menggunakan model blended learning adalah tidak adanya keterkaitan antara kegiatan pembelajaran pada sesi online dan sesi tatap muka.

Padahal sesuai dengan prinsipnya, seluruh kegiatan pembelajaran pada model blended learning bersifat saling terkait dan saling melengkapi satu dengan lainnya.

Berikut contoh lain bagaimana cara mengintegrasikan antara kegiatan belajar online dan tatap muka:

  • Guru dapat menginfomasikan topik untuk kegiatan diskusi kepada peserta didik dalam sesi pembelajaran tatap muka, kemudian melanjutkan kegiatan diskusi tersebut pada saat sesi online. Penarikan kesimpulan kegiatan diskusi kembali di lakukan pada saat pembelajaran tatap muka.
  • Pada saat peserta didik belajar menggunakan software pembelajaran, guru dapat memantau miskonsepsi yang terjadi. Sehingga, guru dapat mengadakan sesi diskusi berdasarkan data miskonsepsi yang di alami oleh peserta didik.

Menyusun Aktifitas Pembelajaran dengan model Blended Learning

Ada tiga komponen penting yang harus di perhatikan dalam merancang dan mengembangkan aktifitas pembelajaran dengan model blended learning, di antaranya yaitu:

(a). Standar Capaian dan Tujuan Pembelajaran

Standar capaian pembelajaran di tentukan oleh kurikulum nasional dan menggambarkan secara umum hasil yang harus di capai oleh peserta didik setelah pembelajaran.

Ketika merancang suatu kegiatan pembelajaran, akan lebih baik jika standar capaian pembelajaran diuraikan menjadi beberapa tujuan yang lebih spesifik yang dapat dicapai melalui satu kegiatan pembelajaran.

Tujuan belajar biasanya di awali dengan frase “Pada akhir pembelajaran, peserta didik mampu …”. Tujuan pembelajaran di gunakan sebagai acuan untuk menentukan konten, aktifitas, dan proses penilaian dalam suatu pembelajaran.

(b) Penilaian

Untuk dapat mengukur tingkat pemahaman materi dan kemampuan peserta didik serta menentukan apakah peserta didik telah mampu mencapai standar capaian dan tujuan pembelajaran, maka di perlukan suatu prosedur penilaian.

Prosedur penilaian yang di pakai dapat berupa penilaian secara tertulis (tes, kuis, dan esai), penilaian kinerja (pembuatan proyek dan presentasi), penilaian formatif, serta penilaian sumatif.

(c) Kegiatan Pembelajaran

Selama kegiatan pembelajaran juga dapat di lakukan penilaian terhadap proses, keaktifan, dan partisipasi peserta didik selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Misalnya pada saat kegiatan diskusi, kegiatan membaca atau menyimak pemaparan materi.

Ketiga komponen tersebut harus selaras antara satu dengan yang lainnya sesuai dengan ilustrasi pada gambar di bawah ini.

Penyelerasan Tujuan Pembelajaran, Penilaian, dan Kegiatan Pembelajaran
Gambar 3. Penyelerasan Tujuan Pembelajaran, Penilaian, dan Kegiatan Pembelajaran
(Graham dkk, K-12 Blended Teaching, 2019)

Berikut merupakan contoh format tabel yang dapat di gunakan untuk menyusun dan mengembangkan tujuan pembelajaran, penilaian serta kegiatan pembelajaran dalam model pembelajaran blended learning.

Tabel 1. Contoh Format Tabel untuk Menyusun Komponen Pembelajaran Model Blended Learning
(Graham dkk, K-12 Blended Teaching, 2019)

Contoh Format Tabel untuk Menyusun Komponen Pembelajaran Model Blended Learning

Setelah mengembangkan ketiga komponen di atas, guru dapat mulai merencanakan urutan kegiatan pembelajaran untuk peserta didik. Misalnya, akan ada sesi diskusi online sebelum, selama, atau setelah sesi pembelajaran tatap muka.

Kegiatan diskusi tersebut juga dapat di mulai saat pembelajaran tatap muka, kemudian di lanjutkan pada saat sesi pembelajaran online atau sebaliknya. Struktur pembelajaran model blended learning bersifat lebih fleksibel di bandingkan dengan pembelajaran model konvensional.

Esensi dari model pembelajaran blended learning adalah memberikan kesempatan pada peserta didik untuk dapat lebih fleksibel dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Selain itu, guru juga harus menyesuaikan rancangan dan urutan kegiatan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik, baik secara individual maupun kelompok, sesuai dengan data peserta didik.

Tidak ada aturan untuk urutan yang baku dalam menyusun kegiatan pembelajaran. Namun, hal yang perlu di jadikan pertimbangan dalam memilih dan menyusun kegiatan pembelajaran adalah standar capaian dan tujuan pembelajaran, serta karakteristik dan kebutuhan peserta didik secara individu maupun kelompok.

3). Evaluasi Pembelajaran Model Blended Learning

Selama kegiatan belajar berlangsung, alangkah baiknya jika guru membuat catatan mengenai hal-hal penting yang terjadi dan perlu di perbaiki untuk kegiatan selanjutnya. Guru dapat menggunakan contoh pertanyaan-pertanyaan di bawah ini sebagai acuan untuk refleksi dari kegiatan pembelajaran yang telah di lakukan.

  • (a). Kegiatan mana saja yang berhasil berjalan dengan baik?
  • (b). Dan kegiatan mana saja yang tidak berhasil berjalan dengan baik?
  • (c). Apakah data penilaian telah di gunakan sebagai acuan untuk merencanakan kegiatan belajar yang selanjutnya?
  • (d). Apakah guru perlu meningkatkan atau justru mengurangi intensitas interaksi dalam hal memfasilitasi peserta didik secara individual?
  • (e). Apakah interaksi ketika sesi pembelajaran online berjalan seperti yang telah di rencanakan?

Guru dapat merevisi kegiatan blended learning ini untuk kesempatan selanjutnya berdasarkan data hasil belajar peserta didik, data hasil pengamatan guru terhadap kinerja peserta didik, juga komentar-komentar dari peserta didik mengenai kegiatan belajar yang telah berlangsung.

Sehingga perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran model ini dapat terus berlanjut hingga guru benar-benar mampu menguasai bagaimana membelajarkan peserta didik menggunakan model blended learning.

Forum Diskusi

Untuk memperdalam pemahaman Saudara mengenai materi tentang pembelajaran kelas digital di atas, coba Saudara diskusikan tugas berikut dengan teman-teman kelompokmu di kelas !

  • Berikut merupakan suatu skenario pembelajaran yang menggunakan model blended learning. Silahkan saudara diskusikan hal-hal yang perlu dikoreksi dalam skenario pembelajaran berikut: Skenario:
    Seorang guru menerapkan model kelas lab rotation. Dimana salah satu sesi pembelajaran diarahkan menuju laboratorium sebagai salah satu perhentian (station).
    Pada satu sesi pembelajaran, guru mengarahkan peserta didik ke laboratorium komputer untuk belajar matematika menggunakan software aplikasi.
    Setelah itu, di sesi berikutnya, guru menjelaskan konsep materi matematika beserta contohnya menggunakan papan tulis di kelas.
  • Buatlah suatu rancangan dan urutan kegiatan belajar menggunakan salah satu model blended learning.
    Kegiatan belajar dilakukan selama satu minggu dengan durasi sekitar 45-60 menit setiap harinya. Materi pelajaran dan jenjang pendidikan disesuaikan dengan keahlian saudara. Berikut merupakan tabel yang dapat saudara gunakan untuk memetakan rancangan kegiatan belajar.
merancang model pembelajaran blended learning

Sumber Rujukan
Ali Muhtadi. 2019. Modul 4. Pembelajaran Inovatif. PPG dalam Jabatan Kemdikbud.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: