Pendekatan dalam Pembelajaran IPA

Pendekatan Pembelajaran IPA

HermanAnis.com – Teman-teman semua, pada tulisan kali ini kita akan membahas pendekatan pembelajaran IPA, namun, sebelum lebih lanjut membahas itu, terlebih dahulu kita bahas apa itu pendekatan pembelajaran.

Baca juga: Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran

A. Apa itu pendekatan pembelajaran?

Pendekatan pembelajaran adalah cara yang digunakan oleh pendidik dalam menyajikan materi kepada siswa. Cara ini dapat mencakup model, strategi, ataupun teknik dalam menyajikan informasi, memfasilitasi pemahaman, dan mengembangkan keterampilan siswa. Pendekatan pembelajaran dapat di pengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, materi pelajaran, dan konteks pembelajaran.

Pendekatan pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan metode pengajaran, tetapi juga mencakup aspek filosofis. Beberapa pendekatan pembelajaran yang umum digunakan meliputi pembelajaran berpusat pada guru, pembelajaran berpusat pada siswa, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah, dan banyak lagi.

Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan Metode Demonstrasi

B. Bagaimana karakteristik dalam pembelajaran IPA?

Pembelajaran IPA khususnya di tingkat Sekolah Dasar (SD) memiliki peran krusial dalam membentuk landasan pemahaman siswa tentang fenomena alamiah di sekitar mereka. Dalam konteks pembelajaran ini, karakteristik yang terintegrasi dalam metode pengajaran sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang memfasilitasi pemahaman yang mendalam, pengembangan keterampilan berpikir kritis, dan penanaman sikap positif terhadap sains.

Berikut beberapa karakteristik utama dalam pembelajaran IPA meliputi:

  1. Aktif dan Berbasis Pengalaman: Pembelajaran IPA menekankan partisipasi aktif siswa dalam mengamati, mengeksplorasi, dan bereksperimen dengan fenomena alam di sekitar mereka. Mereka belajar melalui pengalaman langsung yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
  2. Kontekstual: Materi IPA di sajikan dalam konteks yang dekat dengan kehidupan siswa, sehingga mereka dapat melihat relevansi konsep-konsep ilmiah dengan situasi nyata.
  3. Inkuiri dan Penemuan: Siswa di dorong untuk bertanya, mengamati, mengumpulkan data, dan menarik kesimpulan sendiri melalui proses inkuiri. Mereka diberi kesempatan untuk menemukan konsep ilmiah melalui eksplorasi dan penemuan.
  4. Kolaboratif: Pembelajaran IPA sering kali melibatkan kerja sama antar siswa dalam melakukan eksperimen, berdiskusi, dan memecahkan masalah bersama. Kolaborasi memungkinkan siswa untuk belajar dari pengalaman dan pemikiran satu sama lain.
  5. Keterampilan Berpikir Kritis: Siswa di ajak untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis melalui analisis data, evaluasi informasi, dan menyimpulkan berdasarkan bukti-bukti yang mereka kumpulkan. Mereka juga di ajak untuk mengajukan pertanyaan, memecahkan masalah, dan membuat prediksi.
  6. Koneksi Antar Disiplin Ilmu: Pembelajaran IPA seringkali menekankan pada keterkaitan antara berbagai disiplin ilmu, seperti fisika, kimia, biologi, dan lingkungan. Hal ini membantu siswa memahami bahwa ilmu pengetahuan alam saling terkait dan saling mendukung.
  7. Penggunaan Teknologi dan Sumber Daya: Pembelajaran IPA dapat di tingkatkan dengan penggunaan teknologi, seperti simulasi komputer, perangkat lunak interaktif, dan sumber daya daring yang memungkinkan siswa untuk menjelajahi konsep-konsep ilmiah dengan lebih mendalam.

Dengan demikian, siswa dapat mengembangkan pemahaman yang kokoh tentang IPA, keterampilan berpikir saintifik, serta minat yang berkelanjutan terhadap eksplorasi dan penemuan ilmiah.

C. Pendekatan pembelajaran dalam IPA di SD

Pendekatan pembelajaran dalam IPA di SD merupakan fondasi penting dalam pembentukan dasar pemahaman ilmiah siswa. Tulisan ini akan menjelajahi berbagai pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam mengajar IPA di SD, menguraikan keunggulan masing-masing pendekatan, dan bagaimana pendekatan tersebut dapat membantu meningkatkan pemahaman dan minat siswa terhadap sains.

Melalui tulisan ini, di harapkan pembaca akan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang berbagai strategi pembelajaran IPA yang dapat di terapkan di SD, serta pentingnya memilih pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Dengan demikian, di harapkan pembelajaran IPA di SD dapat menjadi lebih menarik, efektif, dan mampu membentuk generasi yang memiliki pemahaman yang kokoh tentang ilmu pengetahuan alam.

Pendekatan pembelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) di SD biasanya di tujukan untuk membangun pemahaman dasar siswa tentang fenomena alam dan konsep ilmiah. Beberapa pendekatan yang umum digunakan meliputi:

1. Pendekatan Inkuiri

Siswa di ajak untuk mengamati, bertanya, mengumpulkan data, dan menyimpulkan melalui eksperimen dan penelitian. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa dalam menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri.

Pendekatan Inkuiri dalam pembelajaran IPA di SD

Contoh penerapan Pendekatan Inkuiri dalam pembelajaran IPA di SD

Berikut salah satu contoh penerapan Pendekatan Inkuiri dalam pembelajaran IPA di SD.

Judul Pelajaran: Eksplorasi Sifat Magnet

Langkah-langkah Pembelajaran:

  1. Pengamatan Awal: Guru memulai pelajaran dengan memperlihatkan berbagai objek yang dapat di tarik oleh magnet, seperti klip kertas, kancing, atau paku kecil. Siswa di ajak untuk mengamati dan mencatat apa yang mereka lihat.
  2. Pertanyaan Awal: Guru kemudian mengajukan pertanyaan kepada siswa, misalnya, “Mengapa beberapa benda bisa di tarik oleh magnet sedangkan yang lain tidak?” atau “Apa yang membuat benda tertentu menjadi magnetik?”
  3. Hipotesis: Siswa di minta untuk membuat hipotesis mereka sendiri berdasarkan pengamatan awal dan pengetahuan mereka tentang magnet.
  4. Eksperimen: Guru membagikan magnet kepada siswa dan memberi instruksi untuk melakukan serangkaian eksperimen. Misalnya, mereka bisa mencoba menarik berbagai benda dengan magnet, menggali benda yang berbeda untuk mengetahui apakah mereka magnetik atau tidak, dan menemukan pola-pola dalam hasil eksperimen mereka.
  5. Pengamatan dan Pengumpulan Data: Siswa mencatat hasil eksperimen mereka dan mengamati pola-pola yang muncul.
  6. Analisis Data dan Kesimpulan: Siswa bekerja sama dalam kelompok untuk menganalisis data yang mereka kumpulkan dan mencari hubungan antara jenis benda dan kemagnetannya. Mereka kemudian menyimpulkan temuan mereka dan menjelaskan mengapa beberapa benda dapat ditarik oleh magnet sedangkan yang lain tidak.
  7. Diskusi Kelompok dan Presentasi: Setiap kelompok mempresentasikan hasil penelitian mereka kepada kelas, menjelaskan temuan mereka dan membandingkannya dengan hipotesis awal mereka.
  8. Refleksi: Guru memfasilitasi diskusi reflektif di akhir pelajaran, mengajukan pertanyaan tentang apa yang dipelajari siswa, apa yang mengejutkan mereka, dan bagaimana pengalaman tersebut dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari.

Dengan Pendekatan Inkuiri ini, siswa tidak hanya mempelajari konsep tentang sifat magnet, tetapi juga terlibat secara aktif dalam proses penemuan ilmiah. Mereka di ajak untuk bertanya, mengamati, bereksperimen, dan menyimpulkan, yang membantu mereka membangun pemahaman yang lebih mendalam dan memperoleh keterampilan berpikir kritis yang di perlukan dalam ilmu pengetahuan.

2. Pendekatan Kontekstual

Pembelajaran IPA di sajikan dalam konteks yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga materi yang di pelajari memiliki relevansi langsung dengan pengalaman mereka. Hal ini membantu siswa dalam memahami konsep-konsep ilmiah dengan lebih baik.

Contoh penerapan Pendekatan Kontekstual dalam pembelajaran IPA di SD

Judul Pelajaran: Menjelajahi Siklus Hidup Tanaman di Sekitar Kita

Langkah-langkah Pembelajaran:

  1. Pengenalan Konteks: Guru memulai pelajaran dengan memperkenalkan tema “Siklus Hidup Tanaman” dan menghubungkannya dengan pengalaman siswa sehari-hari. Misalnya, guru dapat bertanya, “Apakah kalian pernah melihat tanaman tumbuh di sekitar rumah atau sekolah kita? Bagaimana prosesnya?”
  2. Eksplorasi Lingkungan Sekitar: Siswa di ajak untuk melakukan eksplorasi di sekitar lingkungan sekolah atau rumah mereka untuk mengidentifikasi berbagai jenis tanaman dan tahapan-tahapan siklus hidupnya.
  3. Observasi dan Identifikasi Tanaman: Siswa melakukan pengamatan langsung terhadap tanaman yang mereka temui. Mereka mengamati karakteristik fisik tanaman, seperti bentuk daun, bunga, dan buah, serta mencatatnya dalam jurnal pengamatan.
  4. Diskusi Kelompok: Siswa berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil untuk berdiskusi tentang apa yang mereka amati. Mereka berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka tentang tanaman serta membahas pertanyaan-pertanyaan yang muncul.
  5. Penggunaan Materi Sumber Daya: Guru menyediakan bahan-bahan sumber daya, seperti buku, poster, atau video singkat tentang siklus hidup tanaman. Siswa menggunakan sumber daya tersebut untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang berbagai tahapan siklus hidup tanaman.
  6. Kegiatan Praktikum: Siswa melakukan kegiatan praktikum, seperti menanam biji, memperhatikan pertumbuhan bibit, dan mengamati perubahan yang terjadi pada tanaman dari waktu ke waktu.
  7. Pembahasan Konsep: Guru memfasilitasi diskusi tentang konsep-konsep yang terkait dengan siklus hidup tanaman, seperti fotosintesis, penyerbukan, pembuahan, dan penyebaran biji. Mereka menjelaskan bagaimana setiap tahapan berkontribusi pada kelangsungan hidup tanaman.
  8. Penerapan Konsep: Siswa di ajak untuk merancang proyek sederhana yang menggambarkan siklus hidup tanaman. Misalnya, mereka dapat membuat poster atau diorama yang menunjukkan berbagai tahapan siklus hidup tanaman yang mereka pelajari.
  9. Refleksi dan Penutup: Pelajaran di akhiri dengan refleksi bersama, di mana siswa berbagi pemahaman mereka tentang siklus hidup tanaman dan bagaimana pembelajaran tersebut relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Dengan Pendekatan Kontekstual ini, pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna bagi siswa, serta membantu mereka membangun pemahaman yang kokoh tentang ilmu pengetahuan alam.

3. Pendekatan Berbasis Proyek

Siswa diberikan proyek-proyek yang menuntut mereka untuk berkolaborasi, mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan mempresentasikan hasil penelitian mereka. Pendekatan ini mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas siswa.

 Pendekatan Berbasis Proyek dalam pembelajaran IPA di SD

Contoh penerapan Pendekatan Berbasis Proyek dalam pembelajaran IPA di SD

Berikut adalah contoh penerapan Pendekatan Berbasis Proyek dalam pembelajaran IPA di SD dengan tema “Penyelidikan Lingkungan Hidup”:

Judul Proyek: Mengenal Lebih Dekat Lingkungan Hidup Sekolah Kita

Langkah-langkah Pembelajaran:

  1. Perencanaan Proyek: Guru dan siswa bersama-sama merencanakan proyek untuk menjelajahi dan memahami lingkungan hidup di sekitar sekolah mereka. Mereka mendiskusikan tujuan proyek, peran masing-masing, dan sumber daya yang di perlukan.
  2. Penentuan Topik Penyelidikan: Siswa berkolaborasi untuk menentukan topik penyelidikan yang ingin mereka teliti dalam lingkungan hidup sekolah, misalnya, keberagaman hayati, penggunaan air, pengelolaan sampah, atau polusi udara.
  3. Penyelidikan Awal: Siswa melakukan penyelidikan awal dengan mengamati lingkungan sekolah, mengumpulkan data, dan mewawancarai staf sekolah atau ahli lingkungan yang mungkin terlibat.
  4. Perencanaan Penelitian: Berdasarkan hasil penyelidikan awal, siswa merencanakan penelitian mereka. Mereka merumuskan pertanyaan penelitian, merancang metode pengumpulan data, dan menentukan alat dan teknik yang di perlukan.
  5. Pengumpulan Data: Siswa mengumpulkan data melalui observasi lapangan, survei, pengukuran, atau wawancara. Mereka mencatat data-data yang relevan sesuai dengan metode penelitian yang telah mereka tentukan.
  6. Analisis Data: Siswa menganalisis data yang telah mereka kumpulkan, mencari pola-pola, dan menarik kesimpulan berdasarkan temuan mereka.
  7. Pembuatan Presentasi: Siswa bekerja dalam tim untuk membuat presentasi tentang hasil penelitian mereka. Presentasi ini dapat berupa poster, laporan tertulis, presentasi slide, atau pameran di sekolah.
  8. Pameran Proyek: Siswa memamerkan hasil proyek mereka dalam sebuah pameran di sekolah. Mereka berbagi temuan mereka dengan siswa lain, staf sekolah, dan masyarakat sekolah.
  9. Refleksi dan Tindak Lanjut: Setelah pameran, siswa merefleksikan pengalaman mereka dalam proyek, mengevaluasi keberhasilan dan kesulitan yang mereka hadapi, serta merencanakan tindak lanjut untuk memberdayakan hasil penelitian mereka.

Melalui Pendekatan Berbasis Proyek ini, siswa tidak hanya mempelajari konsep-konsep IPA, tetapi juga terlibat secara langsung dalam proses penelitian ilmiah yang autentik. Mereka mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi, sambil menyelidiki isu-isu lingkungan hidup yang relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari

4. Pendekatan Kooperatif

Siswa di kelompokkan dalam tim-tim kecil untuk bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas IPA. Dalam proses ini, mereka belajar bekerjasama, berbagi ide, dan memecahkan masalah bersama.

Contoh penerapan Pendekatan Kooperatif dalam pembelajaran IPA di SD

Berikut adalah contoh penerapan Pendekatan Kooperatif dalam pembelajaran IPA di SD dengan tema “Eksperimen Sederhana tentang Cahaya”:

Judul Kegiatan: Eksperimen Cahaya dan Bayangan

Langkah-langkah Pembelajaran:

  1. Pembagian Kelompok: Siswa di bagi menjadi kelompok-kelompok kecil, biasanya 3-4 siswa per kelompok. Setiap kelompok memiliki peran yang berbeda, seperti pengamat, pencatat, dan pelaksana.
  2. Pengenalan Konsep: Guru memperkenalkan konsep-konsep dasar tentang cahaya dan bayangan, seperti sumber cahaya, pantulan, bayangan, dan perubahan bentuk bayangan.
  3. Perencanaan Eksperimen: Setiap kelompok merencanakan eksperimen sederhana yang akan mereka lakukan untuk menjelajahi konsep-konsep tersebut. Mereka merumuskan pertanyaan penelitian, merancang percobaan, dan menentukan alat dan bahan yang di perlukan.
  4. Pelaksanaan Eksperimen: Siswa bekerja sama dalam kelompok untuk melakukan eksperimen mereka. Mereka menggunakan alat-alat sederhana, seperti senter, cermin, dan kertas putih, untuk mengeksplorasi bagaimana cahaya berperilaku dan membentuk bayangan.
  5. Observasi dan Pencatatan: Setiap anggota kelompok memiliki peran tertentu dalam eksperimen. Mereka melakukan observasi, mencatat hasil percobaan, dan berdiskusi tentang temuan mereka.
  6. Analisis Data: Setelah selesai melakukan eksperimen, kelompok-kelompok berkumpul untuk menganalisis data yang mereka kumpulkan. Mereka mencari pola-pola dalam hasil percobaan mereka dan menyimpulkan apa yang mereka pelajari tentang cahaya dan bayangan.
  7. Presentasi Kelompok: Setiap kelompok mempresentasikan hasil eksperimen mereka kepada kelas. Mereka menjelaskan pertanyaan penelitian, prosedur eksperimen, dan temuan utama mereka.
  8. Diskusi dan Refleksi: Setelah presentasi, kelas berdiskusi tentang berbagai temuan dan konsep-konsep yang telah di pelajari. Siswa merenungkan pengalaman mereka dalam melakukan eksperimen, apa yang berhasil, dan apa yang mungkin bisa di perbaiki.

Dengan Pendekatan Kooperatif ini, siswa belajar bekerja sama dalam tim, berbagi ide, dan memecahkan masalah bersama. Mereka tidak hanya memahami konsep-konsep IPA melalui pengamatan langsung dan eksperimen, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial dan kolaboratif yang penting dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari.

5. Pendekatan Pemecahan Masalah dalam Pembelajaran IPA di SD

Siswa di berikan masalah-masalah nyata yang membutuhkan penerapan konsep-konsep ilmiah untuk di selesaikan. Mereka kemudian di tuntun untuk menemukan solusi melalui eksperimen dan diskusi.

Pendekatan Pemecahan Masalah dalam Pembelajaran IPA di SD

Contoh penerapan Pendekatan Pemecahan Masalah dalam pembelajaran IPA di SD

Berikut adalah contoh penerapan Pendekatan Pemecahan Masalah dalam pembelajaran IPA di SD dengan tema “Menyelidiki Pengaruh Suhu terhadap Kehidupan Makhluk Hidup”:

Judul Kegiatan: Pengaruh Suhu terhadap Kehidupan Makhluk Hidup

Langkah-langkah Pembelajaran:

  1. Pengenalan Konsep: Guru memperkenalkan konsep dasar tentang pengaruh suhu terhadap makhluk hidup. Mereka membahas bagaimana suhu memengaruhi proses biologis, seperti metabolisme, pertumbuhan, dan reproduksi.
  2. Pembentukan Kelompok: Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diberikan sebuah masalah terkait pengaruh suhu terhadap kehidupan makhluk hidup. Misalnya, “Bagaimana suhu memengaruhi pertumbuhan tanaman?” atau “Bagaimana suhu memengaruhi perilaku hewan?”
  3. Perumusan Masalah: Setiap kelompok merumuskan masalah yang ingin mereka teliti, seperti “Bagaimana suhu tinggi dan rendah memengaruhi pertumbuhan tanaman?” atau “Bagaimana suhu berbeda memengaruhi aktivitas serangga?”
  4. Perencanaan Eksperimen: Kelompok merencanakan percobaan sederhana untuk menjawab pertanyaan penelitian mereka. Mereka merancang percobaan, menentukan variabel yang akan mereka ukur, dan menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
  5. Pelaksanaan Eksperimen: Siswa melaksanakan percobaan sesuai dengan rencana yang mereka buat. Mereka mencatat hasil pengamatan mereka dan mengukur variabel yang telah ditentukan.
  6. Analisis Data: Setelah selesai melakukan eksperimen, kelompok-kelompok menganalisis data yang mereka kumpulkan. Mereka mencari pola-pola dalam hasil percobaan mereka dan menyimpulkan pengaruh suhu terhadap makhluk hidup berdasarkan temuan mereka.
  7. Pembuatan Laporan: Setiap kelompok membuat laporan tertulis tentang hasil percobaan mereka. Laporan tersebut mencakup latar belakang masalah, tujuan penelitian, metode eksperimen, hasil, dan kesimpulan.
  8. Presentasi dan Diskusi: Setiap kelompok mempresentasikan hasil penelitian mereka kepada kelas. Mereka menjelaskan masalah yang mereka teliti, proses eksperimen, hasil yang mereka dapatkan, dan kesimpulan yang mereka buat. Setelah presentasi, kelas berdiskusi tentang temuan dan konsekuensi dari penelitian tersebut.

Dengan Pendekatan Pemecahan Masalah ini, siswa belajar untuk mengidentifikasi masalah, merencanakan dan melaksanakan solusi, dan menganalisis hasil untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang konsep ilmiah. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kolaborasi, sambil menjelajahi konsep IPA secara aktif dan bermakna.

D. Kesimpulan

Dari berbagai pendekatan pembelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) di tingkat Sekolah Dasar (SD) yang telah di bahas, dapat di simpulkan beberapa hal penting:

  1. Keterlibatan Aktif Siswa: Pendekatan-pendekatan pembelajaran IPA di SD menekankan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran. Siswa di ajak untuk mengamati, mengeksplorasi, dan mengalami konsep-konsep ilmiah melalui pengalaman langsung, eksperimen, dan penyelidikan.
  2. Relevansi Kontekstual: Pentingnya mengaitkan pembelajaran IPA dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa. Dengan memperkenalkan konsep-konsep ilmiah dalam konteks yang dekat dengan pengalaman mereka, siswa dapat lebih mudah memahami dan menginternalisasi materi pembelajaran.
  3. Kolaborasi dan Interaksi: Berbagai pendekatan pembelajaran IPA menekankan kolaborasi dan interaksi antara siswa. Melalui kerja sama dalam kelompok, siswa dapat belajar dari pengalaman dan pemikiran satu sama lain, serta mengembangkan keterampilan sosial dan kerja sama.
  4. Pemecahan Masalah dan Inkuiri: Pendekatan-pendekatan seperti Pembelajaran Berbasis Proyek dan Pendekatan Pemecahan Masalah mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan berpikir kritis. Mereka di ajak untuk mengajukan pertanyaan, merumuskan masalah, merencanakan percobaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti yang ada.
  5. Penggunaan Sumber Daya Beragam: Integrasi teknologi, sumber daya daring, dan bahan-bahan sumber daya lainnya dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran IPA di SD. Penggunaan sumber daya beragam membantu siswa untuk menjelajahi konsep-konsep ilmiah dengan lebih mendalam dan menarik.

Dengan menggabungkan berbagai pendekatan ini, pembelajaran IPA di SD dapat menjadi lebih menarik, bermakna, dan efektif. Yang penting, pendekatan pembelajaran yang di pilih harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, dan konteks pembelajaran untuk mencapai hasil yang optimal dalam pemahaman ilmiah dan pengembangan keterampilan siswa.

Pendekatan-pendekatan ini seringkali digunakan secara kombinasi tergantung pada kebutuhan siswa dan tujuan pembelajaran yang ingin di capai. Yang penting, tujuan utama dari pendekatan pembelajaran IPA di SD adalah untuk membantu siswa memahami alam sekitar mereka, mengembangkan keterampilan berpikir ilmiah, serta memupuk minat dan sikap positif terhadap sains.

Demikian, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close