Pembelajaran Berbasis Proyek

Pembelajaran Berbasis Proyek

HermanAnis.com – Kurikulum prototipe merupakan kurikulum berbasis kompetensi untuk mendukung pemulihan pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning). Dalam tulisan kali ini kita akan fokus membahas model pembelajaran yang lagi banyak di bicarakan yaitu, Project Based Learning (PjBL).

Baca juga: Pendekatan pembelajaran IPA di SD

A. Mengapa perlu Pembelajaran Berbasis Proyek?

Mulai tahun 2022 hingga 2024, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) memberikan tiga opsi kurikulum yang dapat di terapkan satuan pendidikan dalam pembelajaran, yaitu,

  1. kurikulum 2013,
  2. curriculum darurat, dan
  3. kurikulum prototipe.

Nah, kurikulum darurat merupakan penyederhanaan dari kurikulum 2013 yang mulai di terapkan pada tahun 2020 saat pandemi Covid-19. Kurikulum prototipe merupakan kurikulum berbasis kompetensi untuk mendukung pemulihan pembelajaran dengan menerapkan Project Based Learning.

Selain itu, dalam proses pembelajaran, Pendidik juga di harapkan dapat mengimplementasikan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian seperti discovery learning atau inquiry learning. Hal ini bertujuan untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific approach), tematik secara terpadu (antar mata pelajaran) dan tematik pada satu mata pelajaran.

Keterampilan belajar yang di butuhkan siswa di masa depan, menurut kerangka 21st Century Learning, adalah pembelajaran yang memfokuskan pada pengembangan keterampilan belajar dan inovasi; yang mencakup kreatifitas dan inovasi, berpikir kritis dan penyelesaian masalah serta komunikasi dan kolaborasi.

Keterampilan-keterampilan inilah yang sudah seharusnya menjadi tujuan dari seperangkat sistem pendidikan ketimbang berorientasi pada pencapaian hasil ujian dan tujuan pragmatis serta individual lainnya. Sehingga, proses pembelajaran di persekolahan harus berorientasi pada relevansi kehidupan yang fleksibel dengan perkembangan zaman. Dan hal ini ada dalam PjBL.

Project-Based Learning (PjBL), menyediakan kerangka pembelajaran yang melatih siswa untuk menguasai keterampilan abad 21. Pengasahan keterampilan dasar belajar ini, akan membebaskan siswa pada belenggu pengetahuan yang usang tertelan zaman. Mengingat pentingnya pembalajaran ini untuk di terapkan, maka menjadi sangat beralasan jika setiap Pendidik dapat mengkaji, mempelajari, dan mempraktekkan model ini dalam pembelajarannnya.

Pembelajaran Berbasis Proyek

Baca Juga:

B. Definisi Pembelajaran Berbasis Proyek menurut Ahli

Dari berbagai referenisi yang ada dapat di simpulkan bahwa Pembelajaran Berbasis Proyek atau Project Based Learning (PjBL) merupakan model aktifitas kelas yang berjangka panjang, terbuka, multidisiplin dan berpusat pada siswa (student centered).

Aktivitas dalam PjBL di organisasikan melalui kerangka proyek tertentu yang dapat bermanfaat dan bermakna bagi pembelajar ataupun bagi masyarkat.

PjBL memberi ruang untuk siswa mengeksplorasi kemampuannya sendiri, menyelesaikan persoalan secara kreatif, terlibat aktif dalam pembelajaran, bertujuan, dan berfokus pada pengamalan keterampilan hasil dari pengetahuan dan pengalaman.

Dengan kata lain, model pembelajaran berbasis proyek memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menentukan sendiri proyek yang akan di kerjakannya baik dalam hal merumuskan pertanyaan yang akan di jawab, memilih topik yang akan diteliti, maupun menentukan kegiatan penelitian yang akan di lakukan.

Peran pendidik dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator, menyediakan bahan dan pengalaman bekerja, mendorong peserta didik berdiskusi dan memecahkan masalah, dan memastikan peserta didik tetap bersemangat selama mereka melaksanakan proyek.

Sehingga, secara sederhana, Project Based Learning adalah suatu metode pembelajaran yang menggunakan proyek atau kegiatan sebagai media pembelajarannya. 

Project Based Learning merupakan suatu metode belajar dengan menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata.

Model ini memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan sendiri proyek yang akan dikerjakannya baik dalam hal merumuskan pertanyaan yang akan dijawab, memilih topik yang akan diteliti, maupun menentukan kegiatan penelitian yang akan dilakukan. 

Peran guru dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator, menyediakan bahan dan pengalaman bekerja, mendorong siswa berdiskusi dan memecahkan masalah, dan memastikan siswa tetap bersemangat selama mereka melaksanakan proyek. 

Informasi lebih lengkap tentang Definisi PjBL dapat teman-teman baca pada artikel ini Definisi PjBL menurut Ahli.

C. Karakteristik Model Pembelajaran Berbasis Proyek

Karakteristik utama Project Based Learning adalah pembelajarannya dikembangkan berdasarkan tingkat perkembangan berfikir siswa dengan berpusat pada aktivitas belajar siswa.

Menurut Barbara Stripling, dkk, dalam “Project Based Learning: Inspiring Middle School Students to Engage in Deep and Active Learning“, Karakteristik Project Based Learning, adalah :

  1. menggunakan ketrampilan berpikir kreatif, kritis, dan mencari informasi untuk melakukan investigasi, menarik kesimpulan, dan menghasilkan produk terkait dengan permasalahan dan isu dunia nyata yang autentik
  2. mengarahkan peserta didik untuk menginvestifigasi ide dan pertanyaan penting. 
  3. merupakan proses inkuiri
  4. terkait dengan kebutuhan dan minat peserta didik. 
  5. berpusat pada peserta didik dengan membuat produk dan melakukan presentasi secara mandiri.

Sedangkan menurut Gora Winastwan dan Sunarto, dalam “Pakematik Strategi Pembelajaran Inovatif Berbasis TIK“, karakteristik pembelajaran berbasis proyek adalah, 

  1. mengembangkan pertanyaan atau masalah, yang berarti dalam proses pembelajaran harus mengembangkan pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik. 
  2. memiliki hubungan dengan dunia nyata, yang berarti peserta didik dihadapkan dengan masalah yang ada pada dunia nyata. 
  3. menekankan pada tanggung jawab peserta didik.
  4. penilaian, di mana penilaian dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan hasil proyek yang dikerjakan peserta didik.

Dari pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa, karakteristik Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dicirikan dengan adanya:

  1. Peran instruktur atau pendidik adalah sebagai fasilitator, pelatih, penasehat dan perantara untuk mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan daya imajinasi, kreasi dan inovasi dari peserta didik.
  2. Peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja; 
  3. Adanya permasalahan atau tantangan yang di ajukan kepada peserta didik; 
  4. Peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang di ajukan; 
  5. Peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan; 
  6. Proses evaluasi di jalankan secara kontinu; 
  7. Peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah di jalankan; 
  8. Produk akhir aktivitas belajar akan di evaluasi secara kualitatif; dan 
  9. Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.

Baca Juga: Lingkungan Belajar Abad 21

D. Prinsip Project Based Learning (PjBL)

Menurut J.W.Thomas, dalam “Project-Based Learning: A Handbook for Middle and High Teachers“, terdapat 5 prinsip dalam Project Based Learning yaitu,

  1. Sentralistis.
  2. Pertanyaan Penuntun.
  3. Investigasi Konstruktif. 
  4. Otonomi.
  5. Realistis.

1. Sentralistis.

Pekerjaan proyek merupakan pusat dari kegiatan pembelajaran berbasis proyek. Olehnya itu maka, proyek yang potensial di selesaikan oleh pebelajar harus bisa di prediksi oleh pengajar.

Kita sebagai pendidik perlu membekali semua sumber daya yang di butuhkan untuk akan menyelesaikan proyek tersebut. Peserta didik harus mempelajari konsep utama dari suatu pengetahuan melalui kerja proyek.

2. Pertanyaan Penuntun. 

Dalam pembelajaran berbasis proyek, Pendidik perlu menyediakan atau menyiapkan serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan konteks proyek yang di sasar. Pertanyaan ini harus menuntun.

Sehingga, aktivitas bekerja dalam proyek dapat menjadi motivasi eksternal yang di harapkan dapat membangkitkan motivasi internal pada diri peserta didik, yang nantinya dapat membangun kemandirian mereka dalam menyelesaikan tugas proyek.

3. Investigasi Konstruktif. 

Pembelajaran berbasis proyek dapat sukses jika terjadi proses investigasi yang di lakukan sendiri oleh peserta didik dalam merumuskan pengetahuan yang di butuhkan untuk menyelesaikan proyek. Sehingga, pendidik harus merancang aktivitas yang dapat mendorong peserta untuk melakukan proses pencarian dan atau pendalaman konsep pengetahuan dalam rangka menyelesaikan masalah atau proyek yang di hadapi.

4. Otonomi. 

Dalam model pembelajaran berbasis proyek, peserta didik di beri kebebasan untuk menentukan target sendiri sehingga meraka dapat bertanggung jawab terhadap apa yang di kerjakan. Pendidik hanya berperan sebagai motivator dan fasilitator dalam mendukung keberhasilan peserta didik dalam belajar atau menyelesaikan proyeknya.

5. Realistis. 

Dalam pembelajaran proyek, proyek yang di rancang oleh  peserta didik merupakan proyek nyata atau proyek yang sesuai dengan kenyataan di masyarakat. Proyek yang di rancang bukan bentuk imitasi, atau meniru apa yang telah ada. Kalaupun itu tidak original minimal ada modifikasi yang menjadi pembeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.

E. Sintaks atau Langkah langkah Pembelajaran Berbasis Proyek

Sintak atau langkah-langkah pembelajaran berbasis proyek ada 6 yakni,

  1. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start with Essential Question).
  2. Menyusun Perencanaan Proyek (Design Project).
  3. Menyusun Jadwal (Create Schedule).
  4. Memantau Siswa dan Kemajuan Proyek (Monitoring the Students and Progress of Project).
  5. Penilaian Hasil (Assessment the Outcome).
  6. Evaluasi Pengalaman (Evaluation the Experience).

Penjelasan lebih lengkap tentang hal ini dapat teman-teman baca pada artikel ini, Langkah Langkah Pembelajaran Berbasis Proyek.

F. Keunggulan Project Based Learning (PjBL)

Menurut Suzie Boss dan Jane Kraus, kelebihan atau keunggulan dari pembelajaran berbasis proyek adalah sebagai berikut :

  1. Pembelajarannya bersifat terpadu dengan kurikulum yang ada, sehingga tidak memerlukan tambahan apapun dalam pelaksanaannya. 
  2. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik. Melalui kerja secara kolaboratif, peserta didik dapat memecahkan masalah yang penting baginya. 
  3. Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks. Hal ini dapat meningkatkan motivasi belajar mereka untuk belajar, mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan yang mereka anggap penting bagi dirinya.
  4. Meningkatkan kolaborasi. Kolaborasi yang ada dapat meningkatkan kerja sama dalam merancang dan mengimplementasikan proyek-proyek yang telah di rencanakan. Di mana aktivitas ini dapat menembus batas-batas geografis atau bahkan melompat zona waktu.
  5. Melalui pembelajaran ini, sangat di mungkinkan penggunaan teknologi yang terintegrasi sebagai alat untuk penemuan, kolaborasi, dan komunikasi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Ini merupakan suatu inovasi pembelajaran yang baru. 
  6. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi.
  7. Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber informasi, menganalisis, menetapkan yang relevan untuk pemecahan masalahnya.
  8. Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
  9. Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata. Peserta didik terlibat dalam kegiatan dunia nyata dan mempraktikan strategi otentik secara disiplin.
  10. Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang di miliki, kemudian di implementasikan dengan dunia nyata.
  11. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.

Baca Juga : Pembelajaran Berdiferensiasi

G. Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek

Beberapa kekurangan atau kelemahan dari pembelajaran berbasis proyek di antaranya adalah,

  1. Memerlukan banyak waktu dan biaya selama proses pembelajaran, ataupun untuk menyelesaikan masalah.
  2. Memerlukan banyak media dan sumber belajar. Perlu menyediakan banyak peralatan.
  3. Pendidik dan peserta didik harus sama-sama siap belajar dan berkembang. Hal ini merupakan tantangan, juga bisa menjadi “bomerang” jika ada yang kurang siap.
  4. Ada kekhawatiran peserta didik hanya akan menguasai satu topik tertentu, sesuai dengan apa yang di kerjakannya. Sehingga ketika topik lain di berikan mereka, di khawatirkan peserta didik tidak bisa menyelesaikannya.
  5. Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, di mana instruktur memegang peran utama di kelas, sehingga akan kesulitan menerapkan model ini.
  6. Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam melakukan penyelidikan percobaan dan pengumpulan informasi secara mandiri akan mengalami kesulitan.
  7. Besar kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok.

Baca Juga: Perbedaan Model Metode Strategi Pendekatan Teknik dan Taktik dalam Pembelajaran 

Terima kasih telah membaca artikel ini,
Semoga bermanfaat.


Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

2 Replies to “Pembelajaran Berbasis Proyek”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca