Cara Merumuskan Tujuan Pembelajaran

6 min read

Cara Merumuskan Tujuan Pembelajaran

HermanAnis.com – Teman-teman semua, pembahasan kita kali ini adalah bagaimana cara merumuskan tujuan pembelajaran yang baik?

Pembahasan akan di awali dengan penjelasan singkat tentang apa pentingnya tujuan pembelajaran, kemudian faktor-faktor yang perlu di perhatikan dalam merumuskan tujuan pembelajaran, unsur ABCD, dan yang terakhir prinsip SMART dalam perumusan tujuan pembelajaran.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Baca Juga: Alur Tujuan Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka

Dasar Perumusan Tujuan Pembelajaran

Sejak tahun 70-an pembicaraan tentang bagaimana merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran yang baik sudah terjadi. Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa menyusun indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran yang paling utama adalah rumusannya harus mencantumkan perubahan perilaku (behavior).

Smaldino, dkk berpandangan bahwa dalam rumusan indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran harus memenuhi komponen ABCD. Rumusan ini harus tersurat dalam desain pembelajaran (RPP).

Sebelumnya, Robert Mager (1962) juga berpandangan bahwa melalui rancangan tujuan pembelajaran yang memenuhi unsur ABCD, maka hal tersebut dapat memberikan petunjuk yang jelas bagi guru untuk menerapkan strategi pembelajaran yang baik, serta menjadi petunjuk yang baik bagi penyusun tes yang benar-benar mengukur perilaku peserta didik.

Dalam PBM kita tentunya menginginkan adanya perubahan pengetahuan/perilaku yang dimiliki oleh peserta didik. Pengetahuan/perilaku haruslah bisa di ukur sehingga bisa di ketahui mana peserta didik yang telah tuntas dan mana yang belum tuntas.

Apa yang akan di capai peserta didik setelah mengikuti PBM dalam bentuk pencapaian pengetahuan, sikap, dan keterampilan inilah yang disebut tujuan pembelajaran. Dengan kalimat lain, tujuan pembelajaran merupakan arah yang ingin dituju oleh setiap peserta didik dari keseluruhan rangkaian aktivitas PBM.

Perumusan tujuan pembelajaran, di dasarkan pada rumusan indikator pencapaian kompetensi (IPK) yang telah di rumuskan berdasarkan kompetensi dasar (KD).

Cara Merumuskan Tujuan Pembelajaran - ABCD, Audience, Behavior, Condition, Degree, dan memiliki prinsip SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevance atau Realistic, dan Timely atau Timebound)

Unsur-unsur ABCD dalam Merumuskan Tujuan Pembelajaran

ABCD merupakan suatu akronim. Dalam rumusan tujuan pembelajaran yang baik, unsur-unsur ABCD haruslah tertulis dengan jelas. Akronim dari ABCD adalah,

  1. A : Audience
  2. B : Behavior
  3. C : Condition
  4. D : Degree

Penjelasan setiap akronimnya sebagai berikut!

Unsur Audience (A) dalam Tujuan Pembelajaran

Audience (A), adalah peserta didik yang akan belajar. Dalam merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran harus di jelaskan siapa peserta didik yang akan mengikuti pelajaran, atau peserta didik yang mana?

Pembelajaran memiliki sasaran yang sempit, kelas dan semester berapa?

Namun demikian, jika format RPP telah di awali dengan identitas sekolah dan identitas mata pelajaran, maka sebutan “peserta didik atau siswa” sudah terwakili.

Baca Juga: Sintaks Problem Based Learning

Unsur Behavior (B) dalam Tujuan Pembelajaran

Behavior (B), adalah perilaku yang spesifik yang akan di munculkan oleh peserta didik setelah selesai memperoleh pengalaman belajar dalam pelajaran tersebut. Perilaku ini terdiri dari atas dua bagian penting, yaitu: kata kerja dan obyek.

Kata kerja menunjukkan kemampuan minimal (standart performance) bagaimana peserta didik menunjukkan sesuatu, seperti: menjelaskan, menunjukkan, menganalisis, mengkikir, mengebor dlsb. Objek (standart content) menunjukkan apa yang akan di lakukan peserta didik, misalnya definisi hukum kirchoff 1, terjadinya fotosintesis, prosedur mengkikir, dlsb.

Komponen perilaku dalam indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran adalah tulang punggung RPP secara keseluruhan. Tanpa perilaku yang jelas, komponen yang lain menjadi tidak bermakna. Bila contoh kata kerja dan obyek di atas di satukan dalam bentuk perilaku dan obyek, akan tersusun sebagai berikut:

  1. menjelaskan hukum kirchoff 1
  2. menganalisis terjadinya fotosintesis pada tumbuhan,
  3. menjelaskan prosedur mengkikir, dlsb

Komponen perilaku di formulakan dengan kata kerja operasional dan single performance. Kata kerja operasional, artinya perilaku yang di lakukan peserta didik harus dapat di amati, dan terukur. Contoh kata kerja yang bermakna kabur: mengetahui (know), mengerti (understand), menghargai (appreciate), dlsb.

Single performance, maknanya dalam satu indikator pencapaian kompetensi dan satu tujuan pembelajaran hanya mengdung perilaku tunggal yang akan di lakukan perserta didik, sehingga pengukuran hasil belajar mudah (tidak ambigu).

Contoh:

Peserta didik akan mampu menjelaskan dan menghitung volume kubus dengan masing-masing sisi 15 cm.

Unsur Condition (C) dalam Tujuan Pembelajaran

Condition (C), Komponen ketiga dalam perumusan indikator dan tujuan pembelajaran adalah condition (C). C adalah kondisi, yang berarti batasan yang dikenakan kepada peserta didik atau alat/peralatan yang di gunakan peserta didik pada saat di lakukan penilaian.

Kondisi itu bukan keadaan pada saat peserta didik belajar. Indikator dan tujuan pembelajaran mempunyai komponen peserta didik dan perilaku seperti kebanyakan di gunakan orang seharusnya mengandung komponen yang memberikan petunjuk kepada pengembang tes tentang kondisi atau dalam keadaan bagaimana peserta didik di harapkan mendemonstrasikan perilaku yang di kehendaki pada saat di lakukan penilaian.

Misalnya:

  1. Diberikan tiga rumus menghitung rata-rata skor,……
  2. Dengan kalkulator,….
  3. Setelah pembelajaran,..

Kondisi contoh 1) dan 2), adalah keadaan yang spesifik di perlukan untuk melakukan pengalaman belajar, yang tentukannya akan mempengaruhi tingkat (kualitas) hasil belajar. Sementara kondisi contoh 3), adalah keadaan umum yang mesti terjadi pada peserta didik selama proses belajar.

Unsur Degree (D) dalam Tujuan Pembelajaran

Degree (D), dalam contoh perumusan indikator dan tujuan pembelajaran telah tercakup unsur peserta didik, perilaku, dan kondisi.

Tetapi, sebagai suatu indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran yang dapat di jadikan petunjuk dalam menilai keberhasilan dalam mencapai perilaku yang terdapat di dalamnya, masih diperlukan jawaban terhadap pertanyaan berikut: “seberapa baik peserta didik di harapkan menampilkan perilaku tsb?

Untuk itu, di perlukan satu komponen terakhir yang harus ada dalam indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran, yaitu komponen Degree (D). Degree adalah tingkat keberhasilan peserta didik dalam mencapai perilaku tsb.

Contoh degree sebagai berikut:

  • peserta didik di harapkan mengukur jari-jari lingkaran tabung kertas dengan kebenaran 70%,
  • peserta didik di harapkan mengukur jari-jari silinder torak dengan tingkat kesalahan 0,1 mm

Degree contoh 1),

Guru pada saat penilaian masih memberikan toleransi yang besar. Dengan pertimbangan bahwa tabung yang terbuat dari kertas, pasti memiliki kelenturan bahan, sehingga besar kemungkinan hasil pengukuran kurang tepat. Guru lebih menekankan pada prosedur pengukuran yang benar.

Degree contoh 2),

Guru pada saat penilaian tidak memberikan toleransi kesalahan pengukuran. Dengan pertimbangan torak (piston) terbuat dari bahan campuran almunium, tembaga, silikon dan nikel agar piston tidak karat, kuat dengan temperatur tinggi.

Kesalahan pengukuran lebih dari 0,1 mm, akan menyebabkan torak (piston) tidak dapat masuk silinder atau jika dapat masuk, daya kompresi berkurang.

Tingkat keberhasilan ditunjukkan dengan batas minimal dari penampilan suatu perilaku yang di anggap dapat di terima.

Di atas batas itu, berarti peserta didik belum mencapai indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran yang telah di tetapkan.

Keempat komponen rumusan indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran tersebut dapat di lakukan oleh guru (sebagai desainer pembelajaran) yang telah memahami dan menghayati essensi sistem pembelajaran sebagai investasi masa depan bangsa yang harus di pertanggung jawabkan akuntabilitas keprofesiannya.

Sebagaimana di jelaskan bahwa rumusan tujuan pembelajaran yang baik seharusnya memenuhi unsur ABCD (Audience, Behavior, Condition, Degree) seperti contoh berikut:

  • Setelah melakukan kegiatan pemecahan masalah tentang pencemaran udara (C), siswa (A) dapat menentukan gas polutan yang menyebabkan pencemaran udara (B) paling sedikit 3 jenis gas (D).

Contoh rumusan tujuan pembelajaran tersebut sudah mengandung unsur ABCD. Hal ini tidak mengapa, yang penting di pahami adalah unsur C (Condition) merupakan prasyarat atau sebab A (Audience) bisa atau mampu (kompeten) melakukan sesuatu dengan D (Degree) ukuran atau kualitas yang jelas.

Selain itu, unsur C (Condition) dalam suatu rumusan tujuan pembelajaran yang menerapkan STEAM hampir di pastikan berupa metode pembelajaran yang merupakan bagian dari model Problem Based Learning (PBL) atau Project based Learning (PjBL) sebagai cirinya.

Baca Juga: Tujuan Penilaian Hasil Belajar

Prinsip dalam Cara Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Selain unsur ABCD, dalam perumusan tujuan pembelajaran Anda juga harus memahami prinsip SMART yang merupakan singkatan dari Specific, Measurable, Achievable, Relevance atau Realistic, dan Timely atau Timebound, Forrest (2003).

Specific (S),

Specific berarti tujuan pembelajaran harus jelas yaitu hanya mengandung satu kata kerja operasional. Bisa Saudara bayangkan, pasti sulit untuk mengukur dan mengamati apabila dalam satu tujuan terdapat dua atau lebih satu kata kerja.

Maka dari itu sangat penting untuk menetapkan tujuan yang spesifik;

Contoh rumusan tujuan yang specifik adalah sebagai berikut:

  • Siswa dapat menjelaskan (satu kata kerja operasional) prosedur pembuatan sushi.

Contoh yang tidak specific:

  • Siswa dapat menjelaskan prosedur pembuatan sushi dan nasi kuning (dua objek yang berbeda). Siswa dapat menjelaskan dan membandingkan (dua kata kerja operasional) menu pembuatan sop kaki kambing.

Measurable (M),

Measurable menekankan pada pentingnya kriteria yang di gunakan untuk mengukur besarnya kemajuan yang di buat dalam mencapai target.

Jika tujuan tidak dapat di ukur, apakah kita dapat mengetahui siswa telah membuat kemajuan dalam mencapai tujuan akhirnya?

Tentu sulit bukan? Apa yang ingin Saudara capai haruslah bisa di ukur, misalnya seberapa kuat, seberapa sering, seberapa banyak, atau seberapa dalam;

Contoh rumusan tujuan yang measurable adalah sebagai berikut:

  • Siswa dapat menjelaskan 2 fungsi protein dalam pertumbuhan manusia (tujuan tersebut memiliki kriteria yang jelas dan pasti).

Adapun contoh rumusan tujuan yang tidak measurable, misalnya:

  • Siswa memahami sejauh mana protein berfungsi untuk pertumbuhan manusia (tidak jelas dan pasti kriterianya).

Achievable (A),

Achievable berarti target harus realistis dan dapat di capai. Target tidak boleh di buat terlalu mudah (untuk kompetensi dasar siswa anda), tapi juga tidak boleh terlalu sulit sehingga terasa mustahil untuk di capai;

Contoh rumusan tujuan yang achievable adalah sebagai berikut:

  • Siswa mampu memasak 2 porsi nasi goreng seafood dengan peralatan yang telah di sediakan (dapat di capai).

Contoh rumusan tujuan yang tidak achievable adalah sebagai berikut:

  • Siswa mampu mengolah dan menghidangkan sukiyaki sesuai dengan standar masakan Jepang (sulit di capai jika alat, bahan dan bumbu tidak tersedia).

Relevance atau Realistic (R),

Relevance atau Realistic memiliki arti memilih tujuan pembelajaran yang tepat dan berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Sebuah tujuan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa atau masalah di sekitar akan di anggap sebagai tujuan pembelajaran yang relevan atau realistik;

Contoh rumusan tujuan yang realistic dan relevance adalah sebagai berikut:

  • Siswa dapat membuat 3 jenis masakan khas Jawa Tengah dengan waktu kurang dari 3 jam. (tujuan relevan dan realistik karena berkaitan dengan lingkungan siswa dan dapat di ukur dengan jelas).

Contoh rumusan tujuan yang tidak realistic dan relevance adalah sebagai berikut:

  • Siswa dapat membuat hidangan steak tartar (tujuan tidak realistik atau relevan karena siswa belum mengerti apa itu steak tartar dan sulit di ukur keberhasilannya).

Timely atau Timebound (T),

Timely atau Timebound menekankan pada pentingnya menempatkan tujuan dengan kerangka waktu, yakni memberikan batas waktu pencapaian tujuan yang jelas.

Contoh rumusan tujuan yang timely atau timebound adalah sebagai berikut:

  • Siswa dapat mencetak 10 butir kue semprit dalam waktu satu menit.

Contoh yang tidak timebound adalah sebagai berikut:

  • Siswa dapat membuat kue donat dalam waktu 30 menit (tidak rasional sebab mengembangkan adonannya saja sudah membutuhkan waktu minimal 30 menit)

Baca Juga: Karakteristik Peserta Didik

Contoh rumusan tujuan pembelajaran yang bukan HOTS:

Saudara sekalian, merumuskan tujuan pembelajaran juga perlu menekankan keterampilan berpikir tingkat tinggi atau HOTS (Higher Order of Thinking Skill).

Beberapa contoh kata kerja operasional dalam tujuan pembelajaran yang mencerminkan HOTS adalah menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi (Anderson & Krathwohl, 2001).

Berikut adalah contoh rumusan tujuan pembelajaran yang menggunakan kata kerja HOTS:

  • Setelah melakukan kegiatan pencarian informasi mengenai pencemaran udara, siswa dapat menganalisis 3 faktor penyebab pencemaran udara dengan tepat.
  • Setelah melakukan kegiatan pencarian informasi mengenai pencemaran udara, siswa dapat menyebutkan faktor-faktor penyebab pencemaran udara paling sedikit 3 faktor.

Untuk menguatkan bahwa suatu tujuan pembelajaran dalam RPP ada kalanya perlu di tulis secara eksplisit tujuan jangka panjang berupa unsur-unsur pembelajaran abad 21 melalui rumusan tujuan pembelajaran seperti contoh berikut:

Cara Merumuskan Tujuan Pembelajaran - ABCD, Audience, Behavior, Condition, Degree, dan memiliki prinsip SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevance atau Realistic, dan Timely atau Timebound)

Berdasarkan contoh tersebut, terlihat bahwa rumusan tujuan pada point terakhir mengandung unsur keterampilan abad 21 (4C) dan nilai-nilai penguatan karakter (PPK) sebagai ciri rancangan pembelajaran STEAM atau inovatif abad 21.

Konsekuensinya, rumusan tujuan seperti itu berarti menyelesihi prinsip spesicific-SMART karena mengandung lebih dari satu kata kerja sebagaimana telah berlalu penjelasannya.

Nah, coba Saudara bandingkan dengan rumusan tujuan pembelajaran pada point-point sebelumnya, berapa kata kerja operasional untuk masing-masing point?

File pdf tulisan ini dapat anda dowload di link di SINI

Sumber:
Materi Pedagogi PPG 2019.

Demikian penjelasan tentang Cara Merumuskan Tujuan Pembelajaran dengan benar.
Semoga Bermanfaat.

Telusuri Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.