Apersepsi dalam Pembelajaran dan Contohnya

Apersepsi dalam Pembelajaran dan Contohnya

HermanAnis.com – Teman-teman semua, dalam kesempatan ini kita akan membahas satu topik dalam pembelajaran yakni apersepsi dalam pembelajaran. Apersepsi dalam pembelajaran adalah upaya awal yang di lakukan oleh guru untuk menarik perhatian siswa dan mempersiapkan mereka sebelum memulai materi pelajaran. Apersepsi bertujuan untuk membangkitkan minat dan motivasi siswa sehingga mereka lebih siap dan tertarik untuk belajar.

Baca Juga: Contoh Apersepsi Hukum Newton

A. Apersepsi dalam Pembelajaran

Berbagai upaya yang di lakukan guru agar siswanya siap dan fokus ketika menerima materi pembelajaran yang akan di berikan. Salah satunya dengan memberikan apersepsi sebelum proses pembelajaran berlangsung.

Pemberian apersepsi sebelum proses pembelajaran berlangsung sangat besar manfaatnya bagi kesiapan belajar siswa. Apersepsi dapat membantu siswa agar lebih mudah dalam menyerap materi pembelajaran yang akan di sampaikan.

1. Apa itu apersepsi?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud apersepsi adalah “Pengamatan secara sadar (penghayatan) tentang segala sesuatu dalam jiwanya (dirinya) sendiri yang menjadi dasar perbandingan serta landasan untuk menerima ide-ide baru”. Dengan kata lain apersepsi merupakan suatu proses menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan yang baru, dalam hal ini yang di maksud pengetahuan adalah materi pelajaran yang di sampaikan guru. Dengan memberikan apersepsi di harapkan dapat menimbulkan sikap antusias, rasa ingin tahu, dan termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran dari dalam diri siswa.

Apersepsi berasal dari kata Apperception berarti menafsirkan buah pikiran, jadi menyatukan dan mengasimilasi suatu pengamatan dengan pengalaman yang telah dimiliki dan dengan demikian memahami dan menafsirkannya. Selain itu, kata ”Apperception” dapat berarti menyatupadukan dan mengasimilasikan suatu pengamatan dengan pengalaman yang telah dimiliki.

Apersepsi adalah getaran-getaran tanda yang di terima oleh seorang individu atas suatu obyek tertentu. Obyek tersebut bisa berupa suatu benda, gejala alam atau sosial, dan tindakan-tindakan yang di lakukan oleh seseorang. Apersepsi atau getaran-getaran tersebut di terima melalui panca indra yang kita miliki. Proses penerimaan apersepsi inilah yang kita sebut sebagai persepsi (Nurcahto, 2014).

Secara umum fungsi apersepsi dalam kegiatan pembelajaran adalah untuk membawa dunia mereka ke dunia kita. Artinya, mengaitkan apa yang telah di ketahui atau di alami dengan apa yang akan di pelajari.

Apersepsi dalam pembelajaraan adalah menghubungan pelajaran lama dengan pelajaran baru, sebagai batu loncatan sejauh mana anak didik mengusai pelajaran lama sehingga dengan mudah menyerap pelajaran baru. Pada saat kita akan mengajar sebuah konsep apa saja pada siswa, guru sebaiknya memahami bahwa setiap siswa memiliki pengalaman, sikap dan kebiasaan yang berbeda, agar dapat menggali dan menghubungkan pengalaman, sikap dan kebiasaan siswa terhadap konsep yang akan kita ajarkan perlu kiranya kita kaitkan dengan apersepsi.

1. Pengertian apersepsi menurut ahli

Apersepsi merupakan konsep yang di perkenalkan oleh psikolog dan ahli pendidikan, Herman Ebbinghaus pada tahun 1907. Apersepsi dalam konteks pendidikan di artikan sebagai upaya awal atau pengantar yang di lakukan oleh guru untuk menarik perhatian siswa dan mempersiapkan mereka sebelum memulai materi pelajaran.

Beberapa pengertian apersepsi menurut ahli lainnya adalah sebagai berikut:

  1. Menurut John Dewey, apersepsi adalah pengalaman sebelumnya yang terhubung dengan pengalaman saat ini yang dapat membantu siswa memahami konsep yang di ajarkan.
  2. Menurut David Ausubel, apersepsi adalah konsep yang terkait dengan penyusunan makna dalam pembelajaran. Apersepsi yang baik dapat membantu siswa memahami konsep baru dengan lebih mudah dan efektif.
  3. Menurut Anne Anastasi, apersepsi adalah suatu kondisi psikologis yang terdiri dari pengalaman sebelumnya, minat, dan motivasi siswa yang berperan dalam membentuk persepsi mereka terhadap materi pelajaran.

Dalam pendidikan, apersepsi merupakan bagian yang penting dari proses pembelajaran karena dapat mempengaruhi minat, motivasi, dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Oleh karena itu, guru harus dapat merancang apersepsi yang menarik dan sesuai dengan materi pelajaran yang akan di sampaikan.

Pada tahap pendahuluan dalam proses belajar mengajar akan mempengaruhi hasil yang akan dicapai, karena tahap ini merupakan tahap penentu untuk membangkitkan motivasi peserta didik dalam mempelajari materi yang akan di sajikan, selain itu juga untuk mengingatkan peserta didik terhadap materi yang telah di sajikan sebagai bahan prasyarat. Jadi pada tahap pendahuluan ini perlu di lakukan asosiasi antara pengalaman (pengetahuan) lama dan pengetahuan yang akan di ajarkan melalui pemberian bahan apersepsi, (Djamarah, 2014)

Berdasarkan definisi di atas maka dapat di simpulkan bahwa apersepsi adalah pengamatan atau penghayatan tentang segala sesuatu dan getaran yang di terima oleh seorang individu atas suatu objek yang menjadi dasar untuk menerima ide-ide baru. Dan merupakan salah satu usaha guru untuk membuat kaitan materi dengan aspek yang relevan.

2. Apersepsi dilakukan pada saat apa?

Kegiatan apersepsi di lakukan sebelum proses belajar mengajar di mulai. Kegiatan ini biasanya di lakukan pada awal sesi pembelajaran atau sebelum materi pelajaran baru di perkenalkan oleh guru. Tujuannya adalah untuk membangkitkan minat siswa, memperbarui pengetahuan yang sudah dimiliki siswa, dan mempersiapkan siswa untuk lebih siap dan terfokus dalam proses pembelajaran yang akan datang. Dengan melakukan kegiatan apersepsi, di harapkan siswa akan lebih siap dan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang materi pelajaran yang akan di pelajari.

Mengingat pengetahuan yang telah di miliki anak itu akan memudahkannya menerima atau mengolah pengetahuan yang baru, maka pada waktu mengajar, guru hendaklah berusaha menyesuaikan bahan baru dengan pengetahuan yang telah di miliki murid.

Dengan demikian, jika guru akan mengajarkan materi pelajaran yang baru perlu di hubungkan dengan hal-hal yang telah di kuasai siswa atau mengaitkannya dengan pengalaman siswa terdahulu untuk mempermudah pemahaman.

3. Bagaimana guru melaksanakan kegiatan apersepsi?

Guru dapat melaksanakan kegiatan apersepsi dengan beberapa cara, di antaranya:

  1. Tanya Jawab
    Guru dapat menanyakan beberapa pertanyaan terkait dengan topik yang akan di pelajari pada hari itu. Pertanyaan tersebut dapat di rancang untuk membangkitkan minat siswa, memperbarui pengetahuan yang sudah di miliki siswa, atau menstimulasi pikiran siswa sebelum proses pembelajaran di mulai.
  2. Diskusi Kelompok
    Siswa dapat di bagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk berdiskusi tentang topik yang akan di pelajari. Diskusi ini dapat membantu siswa saling berbagi pengetahuan dan menstimulasi pikiran mereka sebelum proses belajar di mulai.
  3. Presentasi
    Guru dapat meminta siswa untuk membuat presentasi singkat tentang topik yang akan di pelajari. Ini dapat membantu siswa untuk lebih memahami materi dan juga membangun keterampilan presentasi mereka.
  4. Brainstorming
    Siswa dapat diminta untuk membuat daftar kata-kata atau konsep yang terkait dengan topik yang akan di pelajari. Ini dapat membantu siswa mengaktifkan pengetahuan mereka dan membantu guru mengetahui seberapa banyak pengetahuan yang di miliki siswa tentang topik tersebut.
  5. Video Pembelajaran
    Guru dapat memutar video pembelajaran singkat tentang topik yang akan di pelajari sebagai pengantar sebelum memulai pembelajaran. Ini dapat membantu siswa memahami topik dan mempersiapkan mereka untuk belajar lebih lanjut.

Pada dasarnya, kegiatan apersepsi harus di rancang sedemikian rupa sehingga dapat mempersiapkan siswa secara psikologis dan kognitif sebelum proses pembelajaran di mulai. Oleh karena itu, guru harus memilih kegiatan yang tepat dan relevan dengan materi pelajaran yang akan di pelajari serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan lebih baik.

4. Tata cara usaha guru untuk membuat kaitan dalam apersepsi

Berikut tata cara usaha guru untuk membuat kaitan:

  • Dalam permulaan pelajaran, guru meninjau kembali sampai sejauh mana materi yang sudah di pelajari sebelumnya dapat di pahami oleh siswa dengan cara guru mengajukan pertanyaan pada siswa atau inti materi pelajaran terdahulu secara singkat.
  • Membandingkan pengetahuan lama dengan yang akan di sajikan. Hal ini di lakukan apabila materi baru itu erat kaitannya dengan pengetahuan lama.
  • Guru menjelaskan konsepnya atau pengertian lebih dahulu sebelum menguraikan bahan secara terperinci.

Hal inilah sebagai titik tolak untuk memulai bahan pelajaran yang baru. Oleh sebab itulah pengajaran harus maju secara tingkat demi tingkat, sehingga yang lebih dulu merupakan suatu persiapan bagi yang akan datang. Bahan apersepsi sangat membantu anak didik dalam usaha mengolah kesan-kesan dari bahan pelajaran yang di berikan oleh guru.

5. Tahap apersepsi dalam pembelajaran

Tahap apersepsi meliputi kegiatan sebagai berikut:

  1. Sekilas mengulang pelajaran yang lalu dengan cara:
    • Memberikan uraian singkat oleh pengajar, atau
    • Memberikan susunan pertanyaan-pertanyaan lisan.
  2. Pengantar kepada pelajaran baru, sebagai usaha untuk mengaitkan minat dan menarik perhatian siswa agar siswa siap menerima pelajaran baru. Untuk keperluan tersebut dapat di lakukan beberapa cara antara lain dengan:
    • Mengkomunikasikan topik yang akan di bicarakan.
    • Membicarakan kaitan topik yang akan di bicarakan dengan lingkungan atau dengan pelajaran lain.
    • Memberikan beberapa pertanyaan mengenai konsep yang telah di ketahui siswa dan yang akan di gunakan untuk mengembangkan konsep yang baru.

6. Contoh apersepsi dan motivasi dalam pembelajaran

Apersepsi dan motivasi sangat penting dalam pembelajaran karena dapat membantu siswa lebih mudah memahami materi yang di ajarkan dan lebih termotivasi untuk belajar. Berikut ini adalah beberapa contoh apersepsi dan motivasi dalam pembelajaran:

  1. Menunjukkan benda nyata atau contoh konkret yang terkait dengan topik yang akan di pelajari. Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah tumbuhan, guru dapat menunjukkan beberapa jenis tumbuhan yang berbeda dan menjelaskan ciri-ciri masing-masing tumbuhan tersebut. Hal ini dapat membantu siswa membayangkan dengan lebih jelas tentang apa yang akan di pelajari dan membangkitkan rasa ingin tahu siswa.
  2. Memberikan permainan atau aktivitas yang terkait dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah matematika, guru dapat memberikan permainan yang berhubungan dengan konsep matematika tersebut. Hal ini dapat membuat siswa lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar.
  3. Menggunakan media visual seperti gambar, poster, atau video yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah lingkungan hidup, guru dapat menunjukkan video tentang kerusakan lingkungan dan bagaimana cara menjaga lingkungan agar tetap sehat. Hal ini dapat membuat siswa lebih peduli dan termotivasi untuk belajar tentang lingkungan hidup.
  4. Menyajikan pertanyaan atau permasalahan yang menantang siswa untuk berpikir dan mencari jawaban.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah sejarah, guru dapat memberikan pertanyaan yang memancing rasa ingin tahu siswa dan mendorong mereka untuk mencari jawaban.
  5. Memberikan pujian dan pengakuan atas usaha dan prestasi siswa.
    Hal ini dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan meraih prestasi yang lebih baik lagi di masa depan.

Dengan menggunakan apersepsi dan motivasi, di harapkan siswa dapat lebih mudah memahami konsep yang akan di pelajari dan lebih termotivasi untuk belajar dengan lebih baik.

Apersepsi dalam Pembelajaran

B. Mengapa apersepsi penting dilakukan oleh guru?

Mengapa seorang pendidik sangat penting menyampaikan apersepsi dan tujuan pembelajaran di kegiatan awal pembukaan dalam pembelajaran?

Seorang pendidik sangat penting menyampaikan apersepsi dan tujuan pembelajaran di kegiatan awal pembukaan dalam pembelajaran karena alasan berikut:

  1. Membangkitkan minat dan motivasi siswa
  2. Memudahkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran
  3. Membuat siswa lebih terlibat dalam pembelajaran
  4. Meningkatkan efektivitas pembelajaran

Apersepsi sangat penting di lakukan oleh guru karena memiliki beberapa manfaat, di antaranya:

  1. Meningkatkan Minat Siswa
    Dengan membangkitkan minat siswa, proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan siswa lebih termotivasi untuk belajar.
  2. Memperbarui Pengetahuan Siswa
    Dengan memperbarui pengetahuan, siswa akan lebih siap dalam mengikuti pembelajaran dan memahami materi pelajaran dengan lebih baik.
  3. Menstimulasi Pikiran Siswa
    Kegiatan apersepsi dapat menstimulasi pikiran siswa sebelum proses pembelajaran di mulai. Dengan menstimulasi pikiran, siswa lebih siap dan terfokus dalam mengikuti proses pembelajaran.
  4. Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran
    Dalam arti, siswa lebih siap, lebih termotivasi, dan lebih memahami materi pelajaran yang akan dipelajari, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif.
  5. Meningkatkan Keterlibatan Siswa
    Dengan terlibat dalam kegiatan apersepsi, siswa akan merasa lebih terlibat dan berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

Jadi dengan kata lain apersepsi adalah suatu gejala jiwa yang dialami apabila kesan baru masuk ke dalam kesadaran seseorang dan berjalin dengan kesan-kesan lama yang sudah dimiliki di sertai proses pengolahan sehingga menjadi kesan yang lebih luas. Azas ini penting pula artinya dalam usaha menghubungkan bahan pelajaran  yang akan di berikan dengan apa yang telah di kenal anak.

Dalam kesimpulannya, pendidik sangat penting untuk menyampaikan apersepsi dan tujuan pembelajaran di kegiatan awal pembukaan dalam pembelajaran, karena dapat membantu membangkitkan minat dan motivasi siswa, memudahkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, membuat siswa lebih terlibat dalam pembelajaran, dan meningkatkan efektivitas pembelajaran secara keseluruhan.

C. Tujuan dan manfaat apersepsi dalam pembelajaran

1. Tujuan apersepsi dalam Pembelajaran

Tujuan dari apersepsi dalam pembelajaran adalah untuk mempersiapkan siswa sebelum memulai materi pelajaran sehingga mereka lebih siap dan tertarik untuk belajar. Apersepsi bertujuan untuk membangkitkan minat dan motivasi siswa sehingga mereka dapat lebih terlibat dalam pembelajaran dan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang materi pelajaran yang akan di sampaikan.

Beberapa tujuan apersepsi dalam pembelajaran antara lain:

a. Meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam belajar.

Dengan memberikan apersepsi yang menarik dan relevan dengan materi pelajaran, siswa akan lebih tertarik untuk belajar dan terdorong untuk mengembangkan minat dan motivasi yang lebih besar terhadap materi pelajaran.

b. Menyiapkan siswa sebelum memulai materi pelajaran

Apersepsi membantu siswa untuk lebih siap dan terfokus sebelum memulai materi pelajaran, sehingga mereka lebih siap dan lebih mudah menerima informasi yang akan di sampaikan.

c. Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran

Dengan memberikan apersepsi yang sesuai dan relevan dengan materi pelajaran, siswa akan lebih mudah memahami konsep dan materi pelajaran yang akan di sampaikan.

d. Meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran

Dengan memberikan apersepsi yang menarik, siswa akan lebih terlibat dalam proses pembelajaran, sehingga mereka akan lebih aktif dan lebih mudah memahami materi pelajaran.

e. Meningkatkan efektivitas pembelajaran

Dengan memberikan apersepsi yang baik, pembelajaran akan lebih efektif dan efisien, karena siswa akan lebih siap dan lebih mudah menerima materi pelajaran yang akan di sampaikan.

f. Membangun keterkaitan antara materi pelajaran dengan pengalaman siswa

Apersepsi dapat membantu membangun keterkaitan antara materi pelajaran dengan pengalaman siswa, sehingga siswa dapat memahami konsep dan aplikasi materi pelajaran dengan lebih baik.

g. Memfasilitasi pengalaman belajar yang menyenangkan

Dengan memberikan apersepsi yang menarik, siswa akan merasa lebih senang dan terhibur dalam proses pembelajaran, sehingga mereka akan memiliki pengalaman belajar yang lebih menyenangkan.

h. Mendorong siswa untuk berpikir kritis dan kreatif

Dengan memberikan apersepsi yang menantang, siswa akan lebih terdorong untuk berpikir kritis dan berpikir kreatif dalam memecahkan masalah dan mengembangkan ide-ide baru.

i. Menjalin hubungan antara guru dan siswa

Apersepsi dapat membantu guru untuk menjalin hubungan yang baik dengan siswa, karena guru dapat mengambil referensi dari pengalaman dan minat siswa untuk membangun apersepsi yang sesuai.

Dalam sumbangan untuk pencapaian tujuan pembelajaran, apersepsi memegang peranan penting dalam memotivasi siswa, mempersiapkan siswa, membangun minat dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Oleh karena itu, guru harus memperhatikan dan memperhatikan perancangan apersepsi yang baik dalam setiap pembelajaran yang dilakukan.

Selain itu, berikut adalah beberapa tujuan dari apersepsi dalam pembelajaran:

a. Mencoba menarik siswa ke dunia yang guru ciptakan.

Perlu dipahami bahwa tidak semua siswa mengerti terhadap apa yang akan kita ajarkan. Tidak semua juga yang menyadari bahwa pemahaman akan pelajaran lama bisa kembali bermanfaat di pelajaran yang akan di pelajari. Pembelajaran terkadang merupakan suatu kesatuan yang terangkai antara satu materi dengan materi lainnya dan dengan melakukan apersepsi maka akan menyadarkan siswa bahwa materi yang akan di pelajari memiliki relevansi dengan materi yang telah di pelajari.

b. Mencoba menyatukan dua dunia

Walaupun dapat di katakan materi satu dengan yang lainnya memiiki perbedaan, namun ada materi-materi tertentu yang memiliki relevansi dengan materi sebelumnya. Sehingga sangat perlu bagi guru untuk menyatukan dan menghubungkan antara kedua materi tersebut.

c. Menciptakan atmosfir

Suasana harus tetap selalu di jaga dan di bentuk sedemikian rupa agar tetap terus terpelihara suasana yang kondusif bagi siswa untuk belajar. Selain itu apersepsi bukan hanya membentuk armosfir fisik yang baik, namun juga dapat membentuk suasana psikologis yang baik sehingga menimbulkan perasaan mampu untuk mempelajari materi baru. Dalam mengajar pada saat yang tepat guru dapat memanfaatkan hal-hal yang menjadi kesenangan anak untuk di selipkan dalam melengkapi isi dari bahan pelajaran yang di sampaikan, (Djamarah, 2014).

Pembelajaran terkadang merupakan suatu kesatuan yang terangkai antara satu materi dengan materi lainnya dan dengan melakukan apersepsi maka akan menyadarkan siswa bahwa materi yang siswa bahwa materi yang akan di pelajari memiliki relevansi dengan materi yang telah di pelajari.

2. Manfaat apersepsi dalam pembelajaran

Ada beberapa yang perlu di perhatikan berkaitan dengan manfaat atau keuntungan apersepsi, yaitu:

  1. Pengalaman baru akan mudah di terima jika di kaitkan dengan pengalaman lama yang telah dimiliki peserta didik sehingga proses pembelajaran akan berjalan lebih efektif.
  2. Pengalaman lama yang sudah dimiliki dapat memberikan warna terhadap pengalaman baru sehingga suatu kesatuan yang integral dalam memodifikasi prilaku baru.
  3. Apersepsi dapat menumbuhkembangkan ketertarikan (interest) dan perhatian (attention) dalam belajar sehingga keterbukaan untuk menerima pengalaman baru dalam belajar lebih siap dan menyenangkan.
  4. Apersepsi dapat menumbuhkembangkan motivasi belajar peserta didik sehingga memberikan input untuk terjadinya mental Revolution dan motif untuk berprestasi.

D. Sumber – sumber Apersepsi

Munif Chatib membagi sumber-sumber apersepsi yaitu sebagai berikut:

  1. Alpha Zone
  2. Pemanasan ( Warmer )
  3. Pre-teach
  4. Scene Setting

1. Alpha Zone

Zona Alfa ( Alpha Zone ) sebernarnya adalah salah satu gelombang otak. Kondisi seseorang dalam gelombang delta adalah tidur tanpa mimpi. Dalam kondidi delta,otak seseorang bukan total beristirahat, melainkan masih bekerja. Bahkan, kondisi ini dikatakan sebagai kondisi yang prima untuk penyembuhan penyakit.

Namun kondisi ini paling tepat untuk proses belajar sebab tidak mungkin guru memberikan materi kepada siswa yang sedang nyaman tidur. Ada empat cara yang dapat membawa siswa ke kondisi zona gelombang alfa yaitu, fun story, ice breaking, musik, dan brain gym.

Setelah bertatap muka dengan siswa, mulailah menuju kondisi awal yang menyenangkan. Kesiapan paling untuk memasukkan fakta dan informasi. Dalam keadaan ini, pergerakan dendrite otak sudah harmonis.

Jika divisualkan, gerakannya akan bersama-sama saat mengambil info. Berbeda dengan kondisi teta, di mana anak tampak melamun membayangkan sesuatu, dan bahkan bisa masuk ke kondisi delta, tertidur lelap saat guru menerangkan, kondisi alfa mudah di kenali. Jika sudah tampak senyum mengembang di bibir siswa, dan mata berbinar, saat itulah kondisi alfa sudah on.

Menciptakan alfa zone di dapat melalui kegiatan games, cerita lucu, tebak-tebakan, musik, brain gym, dan serangkaian ice breaking lainnya yang tak harus ada hubungannya dengan materi yang akan di ajarkan. Tak perlu semua ada. Salah satu saja. Mengingat pentingnya pengkondisian alfa yang di ibaratkan seperti peluru, buatlah katalog ice breaking. Targetnya adalah siswa bisa tertarik.

2. Warmer

Warmer atau pemanasan adalah mengulang materi yang sebelumnya diajarkan oleh guru. Biasanya warmer baik dilakukan pada pertemuan kedua sebuah materi.

Menghangatkan ingatan yang sudah lalu. Jika pertemuan itu bukan yang pertama, warmer di maksukan sebagai pembentuk pengetahuan konstruktivisme, yakni membangun makna baru berdasar pengetahuan yang sudah di miliki siswa. Contoh guru me-recall dengan pertanyaan terbuka. “Bagaimana pendapatmu tentang pohon bambu dan pohon kelapa, yang keduanya adalah tanaman yang banyak di temui di Indonesia. Apa saja kegunaannya?”

3. Pre-teach

Pre-teach adalah aktivitas yang harus dilakukan sebelum aktivitas inti pembelajaran. Biasanya, jika tidak dilakukan pre-teach proses belajar akan terganggu. Berikut ini contoh pre-teach :

  1. Penjelasan awal tentang alur diskusi, memilih
  2. Moderator, notulen, jumlah kelompok,dan lama waktu diskusi
  3. Penjelasan awal tentang prosedur yang harus dilakukan siswa ketika berkunjung ke sebuah tempat.

Ini yang sering di lupakan oleh Guru. Tidak heran kalau kondisi kelas kusut masai dan siswa tak terkondisi. Pre teach ini memberi informasi secara manual, bagaimana aturan di berlakukan. Terlebih pada mata pelajaran sains atau percobaan yang menggunakan alat, pre teach mutlak di lakukan, agar tak terjadi cedera atau kesalahan prosedur.

4. Scene setting

Kondisi inilah yang paling dekat dengan strategi. Sering pula di sebut sebagai hook atau pengait menuju mata pelajaran inti.

Scene setting adalah aktivitas yang paling dekat dengan strategi pembelajaran. Salah satu model scene setting, seperti yang dipaparkan oleh Bobbi Deporter dalam bukunya Quantum Teaching, adalah AMBAK, berarti Apa Manfaatnya Bagiku. Scene setting adalah aktivitas yang dilakukan guru atau siswa untuk membangun konsep awal pembelajaran.

Ciri-ciri siswa yang mempunya motivasi setalah mendapat apersepsi,ini dapat melalui proses belajar mengajar di kelas, seperti :

  1. Tertarik pada mata pelajaran yang diajarkan
  2. Mempunyai antusias yang tinggi serta mengendalikan perhatiannya terutama pada guru
  3. Ingin selalu bergabung dalam kelas
  4. Ingin identitasnya diakui oleh guru
  5. Tindakan, kebiasaan, dan moral selalu dalam kontrol diri
  6. Selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali
  7. Selalu terkontrol oleh lingkungan

Contohnya:
Meminta siswa membandingkan benda pilihan dari tas nya, dan berjajar sesuai berat benda, adalah scene setting menuju pelajaran matematika ‘berat ringan’.

Seberapa penting pembentukan apersepsi ini? Menurut Munif Chotib, jika tak di lakukan, proses belajar jelas tak maksimal, dan akan terjadi down shifting pada otak anak, karena tak di refresh.

E. Contoh apersepsi dalam pembelajaran

Apersepsi adalah kegiatan awal yang di lakukan oleh guru untuk membangkitkan minat, perhatian, dan motivasi siswa dalam pembelajaran.

1. Contoh kegiatan apersepsi itu apa ya?

Kegiatan apersepsi adalah kegiatan yang di lakukan sebelum proses belajar mengajar di mulai dengan tujuan untuk mempersiapkan siswa secara psikologis dan kognitif agar lebih siap dan terfokus dalam proses pembelajaran.

Berikut adalah beberapa contoh kegiatan apersepsi yang dapat di lakukan:

  1. Tanya Jawab
    Guru dapat menanyakan beberapa pertanyaan terkait dengan topik yang akan dipelajari pada hari itu untuk mengaktifkan pengetahuan siswa tentang topik tersebut sebelum memulai pembelajaran baru.
  2. Diskusi Kelompok
    Siswa dapat dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk berdiskusi tentang topik yang akan dipelajari. Diskusi ini dapat membantu siswa saling berbagi pengetahuan dan menstimulasi pikiran mereka sebelum proses belajar dimulai.
  3. Presentasi
    Guru dapat meminta siswa untuk membuat presentasi singkat tentang topik yang akan dipelajari. Ini dapat membantu siswa untuk lebih memahami materi dan juga membangun keterampilan presentasi mereka.
  4. Brainstorming
    Siswa dapat diminta untuk membuat daftar kata-kata atau konsep yang terkait dengan topik yang akan dipelajari. Ini dapat membantu siswa mengaktifkan pengetahuan mereka dan membantu guru mengetahui seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki siswa tentang topik tersebut.
  5. Video Pembelajaran
    Guru dapat memutar video pembelajaran singkat tentang topik yang akan dipelajari sebagai pengantar sebelum memulai pembelajaran. Ini dapat membantu siswa memahami topik dan mempersiapkan mereka untuk belajar lebih lanjut.

Itulah beberapa contoh kegiatan apersepsi yang dapat di lakukan sebelum proses belajar mengajar di mulai untuk mempersiapkan siswa secara psikologis dan kognitif.

2. Contoh apersepsi dalam Pembelajaran IPA

Apersepsi adalah kegiatan awal yang di lakukan oleh guru untuk membangkitkan minat, perhatian, dan motivasi siswa dalam pembelajaran. Berikut ini adalah contoh apersepsi yang dapat di gunakan dalam pembelajaran IPA:

  1. Mengamati gambar atau benda yang berkaitan dengan topik yang akan dipelajari. Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah sistem pernapasan, guru dapat menunjukkan gambar organ pernapasan manusia atau model paru-paru.
  2. Menunjukkan video singkat atau animasi yang menjelaskan konsep yang akan di pelajari. Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah gerak benda, guru dapat menunjukkan video yang menunjukkan berbagai macam gerak benda.
  3. Memberikan pertanyaan atau permasalahan yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari. Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah sifat-sifat zat, guru dapat menanyakan bagaimana cara membedakan antara benda padat, cair, dan gas.
  4. Menceritakan kisah atau cerita yang terkait dengan topik yang akan di pelajari. Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah peristiwa alam, guru dapat menceritakan kisah tentang gempa bumi atau banjir bandang.
  5. Menunjukkan benda nyata yang terkait dengan topik yang akan di pelajari. Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah cahaya, guru dapat menunjukkan prisma atau lensa sebagai contoh dari pemantulan dan pembiasan cahaya.

Dengan menggunakan apersepsi, di harapkan siswa dapat lebih mudah memahami konsep yang akan di pelajari dan lebih termotivasi untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya.

3. Contoh apersepsi dalam Pembelajaran Matematika

Apersepsi adalah kegiatan awal dalam pembelajaran yang dilakukan oleh guru untuk membangkitkan minat, perhatian, dan motivasi siswa dalam pembelajaran.

Berikut ini adalah beberapa contoh apersepsi dalam pembelajaran Matematika:

  1. Menunjukkan benda nyata yang terkait dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah bilangan pecahan, guru dapat menunjukkan kue atau roti yang di bagi-bagi menjadi pecahan.
  2. Memberikan pertanyaan atau permasalahan yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah sifat-sifat geometri, guru dapat menanyakan bagaimana cara membedakan antara bangun datar dan bangun ruang.
  3. Menggunakan media visual seperti video atau animasi yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah trigonometri, guru dapat menunjukkan video yang memperlihatkan contoh aplikasi trigonometri dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Menceritakan kisah atau peristiwa sejarah yang terkait dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah sejarah matematika, guru dapat menceritakan tentang kehidupan para matematikawan terkenal seperti Pythagoras, Euclid, atau Archimedes.
  5. Menunjukkan gambar atau diagram yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah grafik fungsi, guru dapat menunjukkan grafik fungsi matematika yang terkenal seperti fungsi linear, fungsi kuadrat, atau fungsi sinus.

Dengan menggunakan apersepsi, di harapkan siswa dapat lebih mudah memahami konsep yang akan di pelajari dan lebih termotivasi untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya.

4. Contoh apersepsi dalam Pembelajaran IPS

Apersepsi adalah kegiatan awal dalam pembelajaran yang di lakukan oleh guru untuk membangkitkan minat, perhatian, dan motivasi siswa dalam pembelajaran. Berikut ini adalah beberapa contoh apersepsi dalam pembelajaran IPS:

  1. Menunjukkan peta atau gambar negara yang akan di pelajari.
    Guru dapat menjelaskan tentang letak geografis, batas wilayah, dan informasi lainnya tentang negara tersebut.
  2. Memberikan pertanyaan atau permasalahan yang berkaitan dengan topik yang akan dipelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan dipelajari adalah hak asasi manusia, guru dapat menanyakan bagaimana pentingnya hak asasi manusia dan bagaimana penerapannya di masyarakat.
  3. Menceritakan kisah atau peristiwa sejarah yang terkait dengan topik yang akan dipelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan dipelajari adalah revolusi industri, guru dapat menceritakan bagaimana revolusi industri mempengaruhi perubahan sosial dan ekonomi di Inggris dan dunia.
  4. Menunjukkan benda nyata yang terkait dengan topik yang akan dipelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan dipelajari adalah peran pemerintah dalam perekonomian, guru dapat menunjukkan benda-benda seperti uang kertas, koin, atau anggaran belanja pemerintah.
  5. Menggunakan media visual seperti video pendek atau foto yang berkaitan dengan topik yang akan dipelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan dipelajari adalah budaya Indonesia, guru dapat menunjukkan video yang memperlihatkan keindahan alam, keragaman budaya, dan seni tradisional Indonesia.

Dengan menggunakan apersepsi, di harapkan siswa dapat lebih mudah memahami konsep yang akan di pelajari dan lebih termotivasi untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya.

5. Contoh apersepsi dalam Pembelajaran Bahasa

Apersepsi adalah kegiatan awal dalam pembelajaran yang di lakukan oleh guru untuk membangkitkan minat, perhatian, dan motivasi siswa dalam pembelajaran. Berikut ini adalah beberapa contoh apersepsi dalam pembelajaran Bahasa:

  1. Menunjukkan gambar atau video yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah ungkapan dalam bahasa Inggris, guru dapat menunjukkan gambar atau video yang memperlihatkan ungkapan tersebut dalam situasi yang berbeda.
  2. Memberikan pertanyaan atau permasalahan yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah jenis-jenis kalimat, guru dapat menanyakan bagaimana cara membedakan antara kalimat afirmatif, negatif, dan interogatif.
  3. Menceritakan kisah atau cerita pendek yang terkait dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah narasi, guru dapat menceritakan cerita pendek yang menunjukkan struktur dan ciri-ciri dari narasi.
  4. Menggunakan media visual seperti poster atau slide presentasi yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah unsur kebahasaan, guru dapat menunjukkan poster yang memperlihatkan contoh kata kerja, kata benda, kata sifat, dan kata keterangan.
  5. Memberikan tugas ringan yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah kosakata bahasa Inggris, guru dapat memberikan tugas untuk menulis 10 kata baru yang ditemukan dalam sebuah artikel.

Dengan menggunakan apersepsi, di harapkan siswa dapat lebih mudah memahami konsep yang akan di pelajari dan lebih termotivasi untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya.

a. Contoh apersepsi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Apersepsi dalam pembelajaran bahasa Indonesia sangat penting untuk membantu siswa memahami dan termotivasi dalam belajar bahasa Indonesia. Berikut ini adalah beberapa contoh apersepsi dalam pembelajaran bahasa Indonesia:

  1. Menunjukkan benda nyata atau contoh konkret yang terkait dengan bahasa Indonesia yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah kalimat, guru dapat menunjukkan contoh kalimat dalam bentuk tulisan atau benda-benda sekitar yang terkait dengan kalimat.
  2. Menggunakan media visual seperti gambar, poster, atau video yang berkaitan dengan bahasa Indonesia yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah struktur teks, guru dapat menunjukkan video tentang struktur teks naratif, deskriptif, dan eksposisi.
  3. Memberikan pertanyaan atau permasalahan yang menantang siswa untuk berpikir dan mencari jawaban dalam bahasa Indonesia.
    Misalnya, jika topik yang akan dipelajari adalah pemilihan kata yang tepat, guru dapat memberikan pertanyaan tentang pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan sesuatu.
  4. Mengaitkan bahasa Indonesia dengan kehidupan sehari-hari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah penggunaan tanda baca, guru dapat menunjukkan bagaimana tanda baca di gunakan dalam surat, buku, atau artikel koran.
  5. Menggunakan pendekatan kreatif dan inovatif untuk membangkitkan minat siswa.
    Misalnya, jika topik yang akan dipelajari adalah keanekaragaman bahasa Indonesia, guru dapat memberikan tugas untuk membuat puisi atau cerpen yang menggambarkan keanekaragaman bahasa Indonesia.

Dengan menggunakan apersepsi dalam pembelajaran bahasa Indonesia, di harapkan siswa dapat lebih mudah memahami konsep bahasa Indonesia yang akan di pelajari dan lebih termotivasi untuk membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia.

b. Contoh apersepsi dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Apersepsi dalam pembelajaran bahasa Inggris sangat penting untuk membantu siswa memahami dan termotivasi dalam belajar bahasa Inggris. Berikut adalah beberapa contoh apersepsi dalam pembelajaran bahasa Inggris:

  1. Menunjukkan benda nyata atau contoh konkret yang terkait dengan bahasa Inggris yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah vocab, guru dapat menunjukkan gambar atau benda yang terkait dengan kosakata yang akan di pelajari.
  2. Menggunakan media visual seperti gambar, poster, atau video yang berkaitan dengan bahasa Inggris yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah present continuous, guru dapat menunjukkan video tentang bagaimana cara menggunakan present continuous dalam kalimat.
  3. Memberikan pertanyaan atau permasalahan yang menantang siswa untuk berpikir dan mencari jawaban dalam bahasa Inggris.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah tenses, guru dapat memberikan pertanyaan tentang perbedaan antara present tense dan past tense.
  4. Mengaitkan bahasa Inggris dengan kehidupan sehari-hari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah penggunaan bahasa Inggris dalam situasi percakapan, guru dapat menunjukkan bagaimana bahasa Inggris di gunakan dalam interaksi sosial seperti memesan makanan di restoran atau mengajukan pertanyaan di bandara.
  5. Menggunakan pendekatan kreatif dan inovatif untuk membangkitkan minat siswa.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah grammar, guru dapat memberikan tugas untuk membuat cerita pendek dengan menggunakan grammar yang sedang di pelajari.

Dengan menggunakan apersepsi dalam pembelajaran bahasa Inggris, di harapkan siswa dapat lebih mudah memahami konsep bahasa Inggris yang akan di pelajari dan lebih termotivasi untuk berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Inggris

6. Contoh apersepsi dalam pembelajaran Sejarah

Berikut adalah contoh apersepsi dalam pembelajaran tentang sejarah:

Tema: Perjuangan Kemerdekaan Indonesia Subtema: Peristiwa 10 November 1945

Apersepsi:

  1. Guru menampilkan gambar Soekarno dan Mohammad Hatta di layar proyektor dan menanyakan siswa tentang siapa mereka dan apa yang telah mereka lakukan untuk kemerdekaan Indonesia.
  2. Guru meminta siswa untuk mengingat kembali apa yang telah di pelajari sebelumnya tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia, misalnya “Apa yang menjadi penyebab terjadinya peristiwa 10 November 1945?”
  3. Guru memperlihatkan cuplikan video tentang pidato Soekarno pada peristiwa 10 November 1945 dan menanyakan siswa tentang isi pidato tersebut, misalnya “Apa pesan yang ingin di sampaikan Soekarno dalam pidatonya pada peristiwa 10 November 1945?”

Dengan apersepsi ini, di harapkan siswa dapat mengingat kembali dan memperbarui pengetahuan mereka tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia dan dapat siap secara mental dan kognitif untuk mempelajari topik peristiwa 10 November 1945 lebih lanjut.

7. Contoh apersepsi dalam Pembelajaran Agama

Apersepsi dalam pembelajaran agama sangat penting untuk membangkitkan minat dan perhatian siswa dalam mempelajari nilai-nilai agama. Berikut ini adalah beberapa contoh apersepsi dalam pembelajaran agama:

  1. Menunjukkan objek atau simbol agama yang terkait dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah Ramadan, guru dapat menunjukkan buku-buku atau kalender yang di gunakan selama Ramadan.
  2. Memberikan cerita atau dongeng tentang tokoh-tokoh agama yang terkait dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah kisah Nabi Muhammad SAW, guru dapat memberikan cerita tentang kehidupan beliau dan pengorbanan yang di lakukan dalam menyebarkan agama Islam.
  3. Menggunakan media visual seperti poster, slide presentasi, atau video yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah akhlak, guru dapat menunjukkan poster atau slide presentasi tentang akhlak yang baik dan buruk.
  4. Memberikan pertanyaan atau permasalahan yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan dipelajari adalah shalat, guru dapat menanyakan pertanyaan tentang tata cara shalat atau arti dari bacaan dalam shalat.
  5. Memberikan contoh-contoh kehidupan sehari-hari yang terkait dengan nilai-nilai agama yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah kebaikan kepada orang tua, guru dapat memberikan contoh-contoh nyata tentang bagaimana cara menunjukkan kebaikan kepada orang tua.

Dengan menggunakan apersepsi dalam pembelajaran agama, di harapkan siswa dapat lebih mudah memahami nilai-nilai agama yang di ajarkan dan lebih termotivasi untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

a. Apersepsi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Apersepsi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat membantu siswa untuk lebih memahami materi yang akan di pelajari serta meningkatkan motivasi belajar mereka. Berikut ini adalah beberapa contoh apersepsi dalam pembelajaran PAI:

  1. Membaca ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah akhlak, guru dapat membacakan ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan akhlak.
  2. Menggunakan media visual seperti gambar atau video yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah sholat, guru dapat menunjukkan video tentang bagaimana cara sholat.
  3. Menggunakan kisah atau cerita yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah sabar, guru dapat menceritakan kisah tentang kesabaran Nabi Ayyub.
  4. Menggunakan permainan atau kuis yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah ibadah, guru dapat membuat kuis tentang tata cara ibadah.
  5. Mengaitkan materi PAI dengan kehidupan sehari-hari siswa.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah muamalah, guru dapat menunjukkan bagaimana muamalah di terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan menggunakan apersepsi dalam pembelajaran PAI, di harapkan siswa dapat lebih mudah memahami materi PAI yang akan di pelajari serta lebih termotivasi untuk mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

8. Contoh apersepsi dalam Pembelajaran Olahraga

Apersepsi dalam pembelajaran olahraga sangat penting untuk membangkitkan minat dan motivasi siswa dalam belajar olahraga. Berikut ini adalah beberapa contoh apersepsi dalam pembelajaran olahraga:

  1. Menunjukkan benda nyata atau contoh konkret yang terkait dengan olahraga yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah bola basket, guru dapat menunjukkan bola basket dan alat-alat lainnya yang di gunakan dalam olahraga tersebut.
  2. Menggunakan media visual seperti gambar, poster, atau video yang berkaitan dengan olahraga yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah teknik lari, guru dapat menunjukkan video tentang teknik lari yang benar dan gerakan yang harus di hindari.
  3. Memberikan pertanyaan atau permasalahan yang berkaitan dengan olahraga yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah teknik tendangan bola, guru dapat menanyakan pertanyaan tentang posisi tubuh yang benar saat menendang bola.
  4. Mengaitkan olahraga dengan kehidupan sehari-hari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah manfaat olahraga untuk kesehatan, guru dapat menunjukkan bagaimana olahraga dapat meningkatkan kesehatan dan membantu menghindari penyakit.
  5. Menggunakan pendekatan kreatif dan inovatif untuk membangkitkan minat siswa.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah voli, guru dapat memberikan tugas untuk membuat permainan voli mini dan melatih keterampilan teknis voli.

Dengan menggunakan apersepsi dalam pembelajaran olahraga, di harapkan siswa dapat lebih mudah memahami teknik dan konsep olahraga yang di ajarkan dan lebih termotivasi untuk mengembangkan keterampilan olahraga mereka.

9. Contoh apersepsi dalam pembelajaran Seni Budaya

Apersepsi dalam pembelajaran seni budaya dapat membantu siswa memahami konsep seni budaya dengan lebih baik dan lebih termotivasi untuk belajar. Berikut ini adalah beberapa contoh apersepsi dalam pembelajaran seni budaya:

  1. Menunjukkan benda nyata atau contoh konkret yang terkait dengan seni budaya yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah seni ukir, guru dapat menunjukkan beberapa contoh ukiran dari berbagai daerah di Indonesia.
  2. Menggunakan media visual seperti gambar, poster, atau video yang berkaitan dengan seni budaya yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan dipelajari adalah tari tradisional, guru dapat menunjukkan video tentang tarian tersebut dan bagaimana cara menarinya.
  3. Memberikan pertanyaan atau permasalahan yang menantang siswa untuk berpikir dan mencari jawaban.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah musik tradisional, guru dapat memberikan pertanyaan tentang jenis alat musik tradisional dan bagaimana cara memainkannya.
  4. Mengaitkan seni budaya dengan kehidupan sehari-hari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah seni rupa, guru dapat menunjukkan bagaimana seni rupa di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti desain poster, logo, atau produk kerajinan.
  5. Menggunakan pendekatan kreatif dan inovatif untuk membangkitkan minat siswa.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah seni lukis, guru dapat memberikan tugas untuk membuat gambar dengan teknik tertentu, atau membuat pameran seni yang menampilkan karya siswa.

Dengan menggunakan apersepsi dalam pembelajaran seni budaya, di harapkan siswa dapat lebih mudah memahami konsep seni budaya yang akan di pelajari dan lebih termotivasi untuk mengeksplorasi dan mengembangkan kemampuan seni budaya mereka.

10. Contoh apersepsi dalam Pembelajaran di SD

Apersepsi adalah kegiatan awal dalam pembelajaran yang di lakukan oleh guru untuk membangkitkan minat, perhatian, dan motivasi siswa dalam pembelajaran. Berikut ini adalah beberapa contoh apersepsi dalam pembelajaran di SD:

  1. Lagu anak-anak yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah sifat-sifat benda, guru dapat memulai pembelajaran dengan menyanyikan lagu anak-anak tentang sifat-sifat benda.
  2. Menunjukkan benda nyata yang terkait dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah tumbuhan, guru dapat menunjukkan beberapa tumbuhan yang berbeda-beda dan menjelaskan bagian-bagian dari tumbuhan tersebut.
  3. Menggunakan media visual seperti poster, slide presentasi, atau video yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah kegiatan sehari-hari di lingkungan sekitar, guru dapat menunjukkan poster atau slide presentasi tentang kegiatan sehari-hari di lingkungan sekitar.
  4. Cerita pendek atau dongeng yang terkait dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah benda-benda di sekitar kita, guru dapat menceritakan sebuah dongeng tentang benda-benda tersebut.
  5. Memberikan pertanyaan atau permasalahan yang berkaitan dengan topik yang akan di pelajari.
    Misalnya, jika topik yang akan di pelajari adalah bilangan, guru dapat menanyakan pertanyaan tentang cara menjumlahkan bilangan yang berbeda.

Dengan menggunakan apersepsi, di harapkan siswa dapat lebih mudah memahami konsep yang akan di pelajari dan lebih termotivasi untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya.

G. Contoh apersepsi dalam RPP

Berikut adalah contoh apersepsi dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) untuk mata pelajaran Matematika di kelas 6 SD:

Kelas: 6 SD Mata Pelajaran: Matematika Tema: Bangun Ruang Subtema: Kubus dan Balok

a. Apersepsi:

  1. Guru menampilkan gambar sebuah kubus dan balok di layar proyektor dan menanyakan siswa tentang ciri-ciri kubus dan balok, misalnya “Apa yang menjadi perbedaan antara kubus dan balok?”
  2. Guru meminta siswa untuk mengingat rumus-rumus yang telah di pelajari sebelumnya, misalnya “Apakah kalian masih ingat rumus volume dan luas permukaan kubus dan balok? Silakan sebutkan.”
  3. Guru memperlihatkan beberapa contoh soal terkait dengan kubus dan balok, misalnya “Berapakah volume sebuah kubus dengan panjang sisi 6 cm? Berapakah luas permukaan sebuah balok dengan panjang 8 cm, lebar 4 cm, dan tinggi 5 cm?”

b. Kegiatan Inti:
Setelah apersepsi, guru dapat memulai pembelajaran tentang kubus dan balok dengan memperkenalkan materi baru, menjelaskan rumus-rumus yang terkait dengan kubus dan balok, dan memberikan contoh-contoh soal yang lebih kompleks untuk di kerjakan oleh siswa.

c. Penutup:
Guru dapat mengevaluasi pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran hari itu dengan memberikan beberapa soal latihan terkait dengan kubus dan balok. Selain itu, guru juga dapat memberikan tugas rumah untuk melatih siswa dalam mengerjakan soal terkait dengan kubus dan balok.

H. Kendala yang dihadapi oleh guru dalam penerapan apersepsi

Selama ini pelaksanaan keterampilan membuka pelajaran berupa apersepsi yang di laksanakan oleh guru masih saja mengalami berbagai kendala.

1. Kendala yang dihadapi Guru dalam menerapkan apersepsi

Setidaknya ada tiga hal yang di rasakan menjadi kendala dalam pelaksanaan apersepsi, yang meliputi:

  1. Faktor waktu, yaitu terbatasnya penggunaan waktu, di karenakan waktu yang tersedia relative singkat.
  2. Faktor siswa, yaitu kurangnya kemampuan siswa dalam hal menyiapkan diri belajar sebelumnya.
  3. Faktor fasilitas, yaitu kurang buku-buku yang dapat di jadikan rujukan untuk memperdalam kemampuan melaksanakan apersepsi

Kegiatan pembelajaran di rancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompotensi dasar.

Pengalaman pencapaian yang di maksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pembelajaran yang berkualitas adalah pembelajaran yang di tujukan pada peserta didik. Pembelajaran yang mengembangkan kreatifitas, pembelajaran yang menciptakan kondisi yang menyenangkan dan menantang, pembelajaran yang menyediakan pengalaman belajar yang beragam, pembelajaran dalam wahana belajar melalui berbuat.

2. Contoh kendala dalam penerapan apersepsi pada mata pelajaran PkN

Berikut ini contoh kendala dalam penerapan apersepsi pada Mata pelajaran PkN. Mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga Negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya sebagai warga Negara Indonesia yang cerdas, terampil dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

Menuju pencapaian tujuan nasional yakni mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan pembelajaran yang berkualitas. Persoalan mendasar yang dihadapi dan menjadi penghambat pelaksanaan apersepsi pada pembelajaran PKn adalah sebagai berikut:

  1. Minimnya cara yang diketahui terhadap butir-butir apersepsi sehingga dalam pelaksanaannya membutuhkan kreativitas mengatur jalannya pembelajaran.
  2. Tidak terbiasa melaksanakan beragam apersepsi.karena kurangnya pelatihan, diskusi dan lokakarya menghambat pelaksanaan keterampilan apersepsi baik yang bersifat teknis (pembuatan perangkat
    yang diperlukan) dan yang bersifat non teknis (pemahaman terhadap butir-butir apersepsi ) maka hal tersebut juga mempengaruhi guru dalam menyusun strategi yang efektif dan efesien.
  3. Sulitnya menemukan kesusaian antara butir apersepsi dengan materi pelajaran sehinngga penggunaanya disesuaiakan dengan pemahaman yang sesuai dengan kemampuan guru.

Keterampilan apersepsi pada pembelajaran PKn dalam pelaksanaannya, guru menghadapi kendala akibat:

  • Minimnya cara yang di ketahui terhadap butir-butir apersepsi
  • Siswa yang terlalu banyak sehingga sulit mengontrol kelas
  • Kurangnya pelatihan guru untuk menambah wawasan pengajaran terkhusus mengenai apersepsi. adapun pelatihan yang di ikuti hanya diklat PPG.
  • Guru tidak terbiasa melaksanakan beragam apersepsi
  • Sulitnya menemukan kesusaian antara butir apersepsi dengan materi pembelajaran

Berdasarkan hal tersebut, guru dalam melaksanakan apersepsi perlu banyak latihan agar dalam pelaksanaan apersepsi dalam kelas dapat berjalan lancar, dan guru harus cermat dalam mendesain model apersepsi sehingga waktu dapat digunakan dengan baik sehingga menciptakan situasi pembelajaran yang menimbulkan motivasi.

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat di simpulkan bahwa kendala yang di hadapi guru dalam pelaksanaan apersepsi pada pembelajaran
PPKn yaitu:

  1. Minimnya cara yang di ketahui terhadap butir-butir apersepsi,
  2. Tidak terbiasa melaksanakan beragam apersepsi,
  3. Sulitnya menemukan kesusaian antara butir apersepsi dengan materi pelajaran

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Referensi

  • Desi anwar. 2010. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (KBBI).
  • Jito Nurcahyo. 2014. Pengaruh Apersepsi Visual dan Minat Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teori Proses Pembubutan Dasar Di SMK N 2 Pengasih Kulon Progo, Program Studi Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.
  • Munif Chatib, 2012. Gurunya Manusia. Bandung: Kaifa Pustaka Mizan.
  • Syaiful Bahri Djamarah. 2014. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca