Experiential Learning (Pembelajaran Berbasis Pengalaman)

Experiential Learning (Pembelajaran Berbasis Pengalaman)

HermanAnis.com – Teman-teman semua, pada kesempatan ini kita masih membahas topik terkiat dengan Pembelajaran, dimana fokus bahasan kita adalah Experiential Learning (Pembelajaran Berbasis Pengalaman). Experiential Learning adalah pembelajaran yang menekankan pada pengalaman yang dialami oleh peserta didik. Mari kita bahas!

A. Pengertian Experiential Learning (Pembelajaran Berbasis Pengalaman)

Pada umumnya pembelajaran dibagi menjadi dua, yaitu pembelajaran berpusat pada guru (teacher centered) dan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Pembelajaran berpusat pada siswa, memberi ruang pada siswa untuk belajar menurut keterkaitannya, kemampuan pribadinya, dan gaya belajarnya.

Guru hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator yang harus bisa membangkitkan ketertarikan siswa terhadap suatu materi ajar dan menyediakan beraneka pendekatan cara belajar sehingga siswa yang berbeda-beda tersebut memperoleh metode belajar yang sesuai baginya lainnya.

Istilah “Experiential Learning” disini untuk membedakan anatara teori belajar kognitif yang cenderung menekankan kognisis lebih dari afektif dan teori belajar behavior yang menghilangkan peran pengalaman subyektif dalam proses belajar.

Experiential Learning Theory (ELT), yang kemudian menjadi dasar model Experiential Learning, dikembangkan oleh David Kolb (1984) sekitar awal 1980-an. Model ini menekan pada sebuah model pembelajaran yang holistik dalam proses belajar. Dalam Experiential Learning, pengalaman mempunyai peran sentral dalam proses belajar. Penekanan inilah yang membedakan (ELT) dari teori-teori belajar.

David Allen Colb adalah seorang ahli teori pendidikan Amerika yang minat dan publikasinya berfokus pada pembelajaran pengalaman perubahan individu dan sosial, pengembangan karir, dan pendidikan eksekutif dan profesional. Ia lahir pada 12 Des 1939 di Moline, Illinois Amerika Serikat, pendidikannya ditempuh di Universitas Harvard, Knox College.

Teori ini mendefinisikan belajar sebagai proses dimana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman (experience). Pengetahuan merupakan hasil perpaduan antara memahami dan mentransformasi pengalaman.

Experiental learning ini terdiri dari dua kata yakni yang pertama eksperimental atau pengalaman dan learning atau sedang belajar. Jika keduanya digabungkan maka akan membentuk makna pengalaman belajar.

Pembelajaran berbasis experiental learning adalah pembelajaran yang menekankan pada pengalaman yang dialami oleh peserta didik. Dengan adanya keterlibatan langsung dalam proses belajar tersebut siswa dapat mengkonstruksikan sendiri pengalaman-pengalamannya tersebut sehingga nantinya akan menjadi sebuah pengetahuan.

B. Konsep Model Pembelajaran Experiential Learning

Konsep model pembelajaran experiential learning ini memberi kesempatan kepada siswa untuk memutuskan pengalaman apa yang menjadi fokus mereka, keterampilan apa yang mereka kembangkan, dan bagaimana cara mereka membuat konsep dari pengalaman yang mereka telah alami tersebut.

Experiental learning dapat didefinisikan sebagai tindakan untuk mencapai suatu berdasarkan pengalaman yang secara terus-menerus mengalami perubahan guna meningkatkan keefektifan dari hasil belajar itu sendiri.

Tujuan dari model ini adalah untuk mempengaruhi siswa dengan tiga cara, yaitu:

  1. Mengubah struktur kognitif siswa.
  2. Mengubah sikap siswa
  3. Memperluas keterampilan-keterampilan siswa yang sudah ada.

Ketiga elemen tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi secara keseluruhan, tidak terpisah-pisah, karena apabila salah satu elemen tidak ada maka kedua elemenya tidak akan efektif. Model Experiential Learning memberi kesempatan kepada siswa untuk memutuskan pengalaman apa yang ingin mereka kembangkan, dan bagaimana cara mereka membuat konsep dari pengalaman yang mereka alami tersebut.

Belajar melalui pengalaman (Experiential Learning) mengacu pada proses belajar yang melibatkan siswa secara langsung dalam masalah atau materi yang sedang dipelajari. Berdasarkan konsep belajar melalui pengalaman, segala aktivitas kehidupan yang dialami individu merupakan sarana belajar yang dapat menciptakan ilmu pengetahuan.

Belajar dari pengalaman mencakup keterkaitan antara bebuat dan berpikir. Jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar, maka siswa itu akan belajar lebih baik. Hal ini dikarenakan dalam proses belajar tersebut siswa secara aktif berpikir tentang apa yang dipelajari dan bagaimana menerapkan hasil dari proses belajar dalam situasi nyata, (Tarwiyah, 2009).

Menurut Atherton (2008), bahwa dalam konteks belajar pembelajaran berbasis pengalaman dideskripsikan sebagai proses yang mana pengalaman siswa direfleksikan secara mendalam dan dari sini muncul pemahaman baru atau proses belajar.

C. Prinsip-prinsip Model Experiential Learning

Proses belajar Experiential Learning merupakan kegiatan merumuskan sebuah tindakan, mengujinya, menilai hasil, memperoleh feedback merefleksikan, mengubah dan mendefinisikan kembali sebuah tindakan berdasarkan prinsip prinsip yang harus dipahami dan diikuti. Prinsip-prinsip tersebut didasarkan pada teori Lewin (Tarwiyah, 2009) berikut:

  1. Experiential Learning yang efektif akan mempengaruhi berpikir siswa, sikap dan nilai-nilai, persepsi, dan perilaku siswa.
  2. Siswa lebih mempercayai pengetahuan yang mereka temukan sendiri daripada pengetahuan yang diberikan oleh orang lain.
    Menurut Lewin, berdasarkan hasil eksperimen yang dia lakukan bahwa, pendekatan belajar yang didasarkan pada pencarian (inquiri) dan penemuan (discovery) dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan komitmen mereka untuk mengimplementasikan penemuan tersebut pada masa yang akan datang.
  3. Belajar akan lebih efektif bila merupakan sebuah proses yang aktif. Pada saat siswa mempelajari sebuah teori, konsep atau mempraktekan, dan mencobanya, maka siswa akan memahami lebih sempurna, dan mengintegrasikan dengan apa yang dia pelajari sebelumnya serta akan dapat mengingat lebih lama. Banyak dari konsep-konsep atau teori-teori yang tidak akan dipahami sampai siswa mencoba untuk menggunakannya.
  4. Perubahan hendaknya tidak terpisah-pisah antara kognitif, afektif, dan perilaku, tetapi secara holistik. Ketiga elemen tersebut merupakan sebuah sistem dalam proses belajar yang saling berkaitan satu sama lain, teratur, dan sederhana. Mengubah salah satu dari ketiga elemen tersebut menyebabkan hasil belajar tidak efektif.
  5. Experiential Learning lebih dari sekedar memberi informasi untuk pengubah kognitif, afektif, maupun prilaku. Mengajarkan siswa untuk dapat berubah tidak berarti bahwa mereka mau berubah. Memberikan alasan mengapa harus berubah tidak cukup memotivasi siswa untuk berubah. Membaca sebuah buku atau mendengarkan penjelasan guru tidak cukup untuk menghasilkan penguasaan dan perhatian pada materi, tidak cukup mengubah sikap dan mengingatkan keterampilan sosial. Experiential Learning merupakan proses belajar yang menambahkan minat belajar pada siswa terutama untuk melakukan perubahan yang diinginkan.
  6. Pengubahan persepsi tentang diri sendiri dan lingkungan sangat diperlukan sebelum melakukan pengubahan pada kognitif, afektif, dan perilaku. Menurut Lewin, tingkah laku, sikap dan cara berpikir seseorang ditentukan oleh persepsi mereka. Persepsi seorang siswa tentang dirinya dan lingkungan disekitarnya akan mempengaruhinya dalam berperilaku, berpikiran, dan merasakan.
  7. Perubahan perilaku tidak akan bermakna bila kognitif, afektif, dan perilaku itu sendiri tidak berubah. Keterampilan-keterampilan baru mungkin dapat dikuasai atau dipraktekan, tetapi tanpa melakukan perubahan atau belajar terus menerus, keterampilan-keterampilan tersebut akan menjadi luntur dan hilang.

D. Karakteristik dalam Experiental Learning

Experiental Learning mempunyai enam karakteristik utama, yaitu:

  1. Belajar terbaik dipahami sebagai suatu proses tidak dalam kaitannya dengan hasil yang dicapai, jadi tidak hanya mementingkan hasil yang dicapai, tapi mementingkan proses daripada pembelajaran tersebut.
  2. Belajar adalah suatu proses kontinyu yang didasarkan pada pengalaman.
  3. Belajar memerlukan resolusi konflik-konflik antara gaya-gaya yang berlawanan dengan cara yang dialektis.
  4. Belajar adalah suatu proses yang holistik.
  5. Belajar melibatkan hubungan antara seseorang dan lingkungan. Dimana dalam experiental learning ini bahwasanya memang terdapat pengalaman secara langsung oleh siswa, jadi belajar melibatkan hubungan antara seseorang dengan lingkungannya.
  6. Belajar adalah proses tentang menciptakan pengetahuan yang merupakan hasil dari hubungan antara pengetahuan sosial dan pengetahuan pribadi.

E. Prosedur Pembelajaran dalam Experiential Learning

1. Prosedur Pembelajaran dalam Experiential Learning menurut Kolb

Prosedur pembelajaran dalam experiential learning terdiri dari 4 tahapan, yaitu;

  1. tahap pengalaman nyata,
  2. tahap observasi refleksi,
  3. tahap konseptualisasi, dan
  4. tahap implementasi.

Keempat tahap tersebut oleh Kolb (1984) kemudian digambarkan dalam bentuk lingkaran seperti pada gambar berikut:

Experiential Learning (Pembelajaran Berbasis Pengalaman)
Experiential Learning (Pembelajaran Berbasis Pengalaman)
Gambar 1 experiential learning cycle
sumber: Kolb (1984)

Tabel 1 Tahap-Tahap Pemebelajaran Berdasarkan Pengalaman

NoTahapKegiatan GuruKegiatan Siswa
1Concrete Experience(CE)/tahap pengalaman konkritGuru memfasilitasi siswa melibatkan diri sepenuhnya dalam pengalaman baruSiswa melibatkan diri sepenuhnya dalam pengalaman baru
2Reflection Observation(RO)/Tahap pengalaman refleksi observasiGuru membantu dan membimbing siswa dalam melakukan observasi dan merefleksikan atau memikirkan pengalaman dari berbagai segiSiswa mengobservasi dan merefleksikan atau memikirkan pengalaman dari berbagai segi
3Abstract Conceptualization (AC)/ tahap konseptualisasi abstrakGuru menjelaskan kepada siswa menciptakan konsep-konsep yang mengintegrasikan observasinya menjadi teoriSiswa menciptakan konsep-konsep yang mengintegrasikan observasinya menjadi teori
4Active Experimentation (AE)/tahap implementasiGuru membimbing siswa menggunakan teori untuk memecahkan masalah- masalah dan mengambil keputusan yang berdasarkan pengalaman.Siswa menggunakan teori untuk memecahkan masalah-masalh dan mengambil keputusan
Sumber: Reigeluth, 2009

Dalam tahapan di atas, proses belajar dimulai dari pengalaman konkret yang dialami seseorang. Pengalaman tersebut kemudian direfleksikan secara individu. Dalam proses refleksi seseorang akan berusaha memahami apa yang terjadi atau apa yang dialaminya.

Refleksi ini menjadi dasar konseptualisasi atau proses pemahaman prinsip-prinsip yang mendasari pengalaman yang dialami serta prakiraan kemungkinan aplikasinya dalam situasi atau konteks yang lain (baru).

Proses implementasi merupakan situasi atau konteks yang memungkinkan penerapan konsep yang sudah dikuasai. Kemungkinan belajar melalui pengalaman-pengalaman nyata kemudian direfleksikan dengan mengkaji ulang apa yang telah dilakukannya tersebut.

Pengalaman yang telah direfleksikan kemudian diatur kembali sehingga membentuk pengertian-pengertian baru atau konsep-konsep abstrak yang akan menjadi petunjuk bagi terciptanya pengalaman atau perilaku-perilaku baru.

Proses pengalaman dan refleksi dikategorikan sebagai proses penemuan (finding out), sedangkan proses konseptualisasi dan implementasi dikategorikan dalam proses penerapan (taking action). Menurut experiential learning theory, agar proses belajar mengajar efektif, seorang siswa harus memiliki 4 kemampuan, (Nasution, 2005).

Tabel 2. Kemampuan Siswa Dalam Proses Belajar Experiential Learning

NoKemampuanUraianPengutamaan
1Concrete Experience (CE)Siswa melibatkan diri sepenuhnya dalam pengalaman baruFeeling (perasaan)
2Reflection Observation (RO)Siswa mengobservasi dan merefleksikan atau memikirkan pengalaman dari berbagai segiWatching (mengamati)
3Abstract Conceptualization(AC)Siswa menciptakan konsep-konsep yang mengintegrasikan observasinya menjadi teori yang sehatThinking (berpikir)
4Active Experimentation(AE)Siswa menggunakan teori untuk memecahkan masalah-masalah dan mengambil keputusanDoing (berbuat)

Baca Juga:
Model Pembelajaran Inquiry

2. Langkah-langkah pembelajaran Experiential Learning menurut Hamalik

Menurut Hamalik (2001:213) mengungkapkan beberapa langkah-langkah pembelajaran Experiential Learning, yaitu:

a. Tahap Persiapan (kegiatan pendahuluan)

  1. Guru merumuskan secara seksama suatu rencana pengalaman belajar yang bersifat terbuka (open minded) yang memiliki hasil-hasil tertentu.
  2. Guru memberikan rangsangan dan motivasi kepada siswa.

b. Tahap Inti

  1. Siswa dapat bekerja secara individual atau kelompok, dalam kelompok-kelompok kecil/keseluruhan kelompok di dalam belajar berdasarkan pengalaman.
  2. Para siswa di tempatkan pada situasi-situasi nyata, maksudnya siswa mampu memecahkan masalah dan bukan dalam situasi pengganti.
    Siswa aktif berpartisipasi di dalam pengalaman yang tersedia, membuat keputusan sendiri, menerima konsekuen berdasarkan keputusan tersebut.

c. Tahap Akhir (Kegiatan penutup)

Pada kegiatan penutup, keseluruhan siswa menceritakan kembali tentang apa yang dialami sehubung dengan mata pelajaran tersebut untuk memperluas pengalaman belajar dan pemahaman siswa dalam melaksanakan pertemuan yang nantinya akan membahas bermacam-macam pengalaman tersebut.

Baca Juga:
Model Pembelajaran Kooperatif

F. Kelebihan dan Kelemahan Experiental Learning

1. Kelebihan Experiental Learning

Kelebihannya Experiental Learning ada 4 yakni,

  1. Mengembangkan dan meningkatkan rasa saling ketergantungan antar sesama anggota kelompok.
    Dalam pembelajaran menggunakan experiental learning ini, guru akan mengelompokkan siswa siswa berusaha memecahkan masalah dengan anggota kelompoknya. Hal inilah yang akan nantinya meningkatkan rasa ketergantungan antara sesama anggota kelompok.
  2. Meningkatkan keterlibatan dalam pemecahan masalah dalam pengambilan keputusan. Dimana hal ini akan terjadi ketika siswa saling berdiskusi untuk memecahkan masalah dan untuk mengambil sebuah keputusan secara bersama.
  3. Mengidentifikasi dan memanfaatkan bakat tersembunyi dan kepemimpinan. Tentunya dalam setiap kelompok pastinya akan terdapat anak yang memiliki sikap kepemimpinan. Hal ini akan nampak ketika siswa dikelompokkan.
  4. Meningkatkan empati dan pemahaman antar sesama anggota kelompok. Dimana dalam kelompok akan ada pendapat yang berbeda antara anggota kelompok. Hal inilah yang nantinya akan memunculkan rasa empati dan di antara anggota kelompok, bahwa setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda dan patut untuk di hormati sebagai sesama anggota kelompok.

2. Kelemahan Experiental Learning

Kelemahannya Experiental Learning setidaknya ada dua,

  1. Relatif memerlukan waktu yang cukup banyak. Adanya pengelompokan praktik langsung yang menjadikan pengalaman langsung bagi siswa ,akan memerlukan waktu yang cukup banyak. Apalagi untuk mengkondisikan siswa, ini memerlukan waktu yang banyak
  2. Sangat bergantung pada aktivitas siswa. Gimana jika siswa aktif dalam melakukan pembelajaran maka pembelajaran akan tercapai dengan baik. Begitupun sebaliknya, jika siswa tidak mengikuti pembelajaran dengan baik maka pembelajaranpun tidak akan tercapai dengan baik.

Demikian penjelasan tentang kelebihan dan kelemahan dari pada pembelajaran experiential learning.

Baca Juga:
Model-model pembelajaran Blended Learning

Sumber:

  • Atherton. (2008) Experiential Learning Model. Diakses tanggal 10 Januari 2023 pukul 09.20 dari http://modelexperientiallearning.blogspot.co.id
  • Hamalik, Oemar. (2001). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
  • Kolb, D. A. (1984). Experiential Learning : Experience as a source of learning and Development Eaglewood and Cliffs N. J USA : Prentice Hall http://www.learningfromexperience.com/images/uploads/process-ofexperiential – learning.pdf.
  • Nasution. 2005. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.
  • Sutriana, Eva. Deskripsi Penerapan Model Experiential Learning dalam Pembelajaran Matematika pada Siswa kelas X SMA Negeri 13 Sinjai.
  • Tarwiyah, W. (2009) Landasan Teori. Diakses tanggal 10 Januari 2023 pukul 09.20 WIB dari: http://digilib.uinsby.ac.id/8079/5/bab2.pdf

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: