Model Pembelajaran Kooperatif

7 min read

Model Pembelajaran Kooperatif

HermanAnis.com. Teman-teman semua, pada kesempatan ini kita akan membahas satu model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik yakni Model Pembelajaran Kooperatif. Dalam pembahasan akan diuraikan tentang pengertian, Prinsip-Prinsip, Karakteristik, Kelebihan dan Kelemahan, dan Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Cooperative learning atau Model Pembelajaran Kooperatif berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Slavin mengemukakan, “In cooperative learning methods, student work together in four member teams to master material initially presented by the teacher”.

Dari uraian tersebut menguraikan model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran di mana sistem belajar dan bekerja pada kelompok kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam bekerja.

Pembelajaran kooperatif dalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk – bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru.

Secara umum pembelajaran kooperatif di anggap lebih di arahkan oleh guru, di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaan pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang di rancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang di maksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.

Ada beberapa jenis pembelajaran kooperatif, di antaranya adalah:

  1. kelompok pembelajaran kooperatif formal (formal cooperative learning group)
  2. pembelajaran kooperatif informal (informal cooperative learning group),
  3. kelompok besar kooperatif (cooperative base group) dan
  4. gabungan dari tiga kelompok kooperative (integrated use of cooperative learning group).

Cooperative learning di definisikan sederhana sebagai sekelompok kecil pembelajaran yang bekerja sama menyelesaikan masalah, merampungkan tugas atau menyelesaikan tugas bersama. Dengan catatan mengharuskan siswa bekerja sama dan saling bergantung secara positif antar satu sama lain dalam konteks struktur tugas, struktur tujuan dan struktur reward.

Gagasan ini upaya yang di rancang untuk menyampaikan materi sedemikian rupa sehingga siswa bener bener bisa bekerja sama untuk mencapai sasaran sasaran pembelajaran sesuai tujuan pembelajaran dalam ruang lingkup lebih luas yaitu kontribusi perkembangan terhadap pendidikan di Indonesia searah dengan cita cita luhur pendiri bangsa ini.

Jadi pembelajaran cooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokkan/tim kecil, yaitu antara 4 sampai 6 orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen). Sistem penilaian dil akukan terhadap kelompok.

Setiap kelompok akan memperoleh penghargaan (reward), jika kelompok mampu menunjukkan prestasi yang di persyaratkan.

Dengan demikian, setiap anggota kelompok akan mempunyai ketergantungan positif. Ketergantungan semacam itulah yang selanjutnya akan memunculkan tanggung jawab individu terhadap kelompok dan keterampilan interpersonal dari setiap anggota kelompok.

Setiap individu akan saling membantu, mereka akan mempunyai motivasi untuk keberhasilan kelompok, sehingga setiap individu akan memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan kontribusi demi keberhasilan kelompok.

Model Pembelajaran Kooperatif

Ada lima unsur membedakan cooperative learning dengan kerja kelompok yang di kenal pada umumnya yaitu:

  1. Positive independence
  2. Interaction face to face
  3. Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok
  4. Membutuhkan keluwesan
  5. Meningkatkan keterampilan bekerja sama dalam memecahkan masalah (proses kelompok).

Menurut Slavin, Abrani dan Chambers berpendapat bahwa belajar melalui kooperatif dapat di jelaskan dari beberapa prespektif, yaitu:

  1. Prespektif motivasi, bahwa peghargaan yang di berikan kepada kelompok memungkinkan setiap anggota kelompok akan saling membantu.
  2. sosial, bahwa melalui kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam belajar karena mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan.
  3. perkembangan kognitif, bahwa dengan adanya interaksi anggota kelompok dapat mengembangkan prestasi siswa untuk berpikir mengolah berbagai informasi.
  4. Prespektif elaborasi kognitif, bahwa setiap siswa akan berusaha untuk memahami dan membina informasi untuk menambah pengetahuan kognitifnya.

Jadi, pola belajar kelompok dengan cara kerja sama antar siswa, selain dapat mendorong tumbuhnya gagasan yang lebih bermutu dan meningkatkan kreativitas siswa, juga merupakan nilai sosial bangsa Indonesia yang perlu di pertahankan.

Apabila individu-individu ini bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, ketergantungan timbal-balik atau saling ketergantungan antar mereka akan memotivasi mereka untuk bekerja lebih keras demi keberhasilan secara bersama-bersama, di mana kadang-kadang mereka harus menolong seorang anggota secara khusus. Hal tersebut mendorong tumbuhnya rasa ke”kami”an dan mencegah rasa ke”aku”an.

Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative learning)

Menurut Slavin tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu di tentukan atau di pengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Sedangkan menurut Ibrahim model pembelajaran kooperatif di kembangkan untuk mencapai setidaktidaknya tiga tujuan pembelajaran, yaitu:

Hasil belajar akademik

Dalam belajar kooperatif mencakup beragam tujuan sosial, dan memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit.

Model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

Penerimaan terhadap perbedaan individu

Pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk saling menghargai satu sama lain.

Pengembangan keterampilan sosial

Pembelajaran kooperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting di miliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

Para ahli telah menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami konsep-komsep yang sulit, dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Keterampilan sosial atau kooperatif berkembang secara signifikan dalam pembelajaran kooperatif.

Pembelajaran kooperatif sangat tepat di gunakan untuk melatih keterampilan-keterampilan kerjasama dan kolaborasi, serta keterampilan-keterampilan tanya jawab.

Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Model Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat di lihat dari proses pembelajaran yang menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok.

Tujuan yang ingin di capai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan bahan pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut.

Adanya kerja sama inilah yang menjadi ciri khas dari pembelajaran kooperatif. Terdapat beberapa karakteristik strategi pembelajaran kooperatif, di antaranya yaitu:

Pembelajaran secara tim.

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Semua anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itulah, criteria keberhasilan pembelajaran di tentukan oleh keberhasilan tim.

Di dasarkan pada manajemen kooperatif

Dalam pembelajaran kooperatif mempunyai empat fungsi pokok, yaitu:

  1. perencanaan, menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan secara efektif
  2. pelaksanaan, menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif harus di laksanakan sesuai dengan perencanaan, melalui langkah-langkah pembelajaran yang sudah di tentukan termasuk ketentuan-ketentuan yang sudah di sepakati bersama;
  3. organisasi, menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pekerjaan bersama antar setiap anggota kelompok, oleh sebabitu perlu di atur tugas dan tanggung jawab setiap anggota kelompok;
  4. kontrol, menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu di tentukan kriteria keberhasilan baik melalui tes maupun nontes.

Kemauan untuk bekerja sama

Keberhasilan pembelajaran kooperatif d itentukan oleh keberhasilan secara kelompok. Oleh sebab itu, prinsip bekerja sama perlu di tekankan dalam proses pembelajaran kooperatif.

Setiap anggota kelompok bukan saja harus di atur tugas dan tanggung jawab masing-masing, akan tetapi juga di tanamkan perlunya saling membantu.

Keterampilan bekerja sama

Kemauan untuk bekerja sama itu kemudian di praktikkan melalui aktivitas dan kegiatan yang tergambarkan dalam keterampilan bekerja sama.

Dengan demikian, siswa perlu di dorong untuk ikut dan sanggup berinteraksi berbagai hambatan dam berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga setiap siswa dapat menyampaikan ide, mengemukakan pendapat, dan memberikan kontribusi kepada keberhasilan kelompok.

Baca Juga: Inquiry Learning (Pembelajaran Penyelidikan)

Langkah langkah dalam Model Pembelajaran Kooperatif

Langkah langkah dalam Model Pembelajaran Kooperatif

Terdapat enam langkah utama atau tahapan dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif. Langkah-langkah itu di tunjukkan pada Tabel berikut:

Tahapan Pembelajaran KooperatifAktivitas Guru
Fase 1
Menyampaikan Tujuan dan Memotivasi
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran
yang ingin di capai pada pelajaran tersebut
dan memotivasi siswa
Fase 2
Menyajikan Informasi
Menyajikan informasi kepada siswa
dengan jalan demontrasi atau lewat bahan
bacaan.
Fase 3
Mengorganisasikan Siswa ke dalam
Kelompok Kooperatif
Menjelaskan kepada siswa bagaimana
caranya membentuk kelompok belajar dan
membantu setiap kelompok agar melakukan
transisi secara efisien.
Fase 4
Membimbing Kelompok Bekerja dan
Belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok
belajar pada saat mereka melaksanakan
aktivitas pembelajaran
Fase 5
Evaluasi
Mengevaluasi hasil belajar tentang
materi yang telah di pelajari atau masing
masing kelompok mempresentasikan hasil
kerjanya
Fase 6
Memberikan Penghargaan
Guru memberikan apresiasi untuk menghargai
baik upaya maupun hasil belajar individu dan
kelompok

Teknik-Teknik dalam Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Teknik-teknik yang di gunakan dalam pembelajaran kooperatif di antaranya:

Mencari pasangan.

Teknik belajar mengajar mencari pasangan (make a match) di kembangkan oleh Larna Curran (1994). Salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.

Bertukar pasangan.

Teknik belajar mengajar bertukar pasangan memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan orang lain.

Berpikir-berpasangan-berempat.

Teknik belajar mengajar ini di kembangkan oleh Frank Lyman dan Spencer Kagam sebagai struktur kegiatan pembelajaran kooperatif.

Teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan lain dari teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa.

Berkirim salam dan soal.

Teknik belajar mengajar ini memberi kesempatan kepada siswa untuk melatih pengetahuan dan keterampilan mereka.

Siswa membuat pertanyaan sendiri sehingga akan merasa lebih terdorong untuk belajar dan menjawab pertanyaan yang di buat oleh teman-teman sekelasnya. Kegiatan ini cocok untuk persiapan menjelang tes dan ujian.

Kepala bernomor.

Teknik belajar mengajar Kepala Bernomor di kembangkan oleh Spencer Kagan (1992). Teknik ini Memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat selain itu, dapat mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka.

Kepala bernomor struktural.

Teknik belajar mengajar ini sebagai modifikasi dari Kepala Bernomor. Dengan teknik ini siswa belajar melaksanakan tanggung jawab pribadinya dalam saling keterkaitan dengan rekan-rekan kelompoknya, sehingga memudahkan untuk mengerjakan tugas.

Dua Tinggal Dua Tamu.

Teknik belajar mengajar Dua Tinggal Tamu juga di kembangkan oleh Spencer Kagan (1992) dan bisa di gunakan bersama dengan teknik Kepala Benomor. Teknik ini memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain.

Divisi Pencapaian Tim Siswa (STAD).

Tipe Student Team Achievement Division ( STAD ) merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, sehingga tipe ini dapat di gunakan oleh guru-guru yang baru menggunakan model pembelajaran kooperatif.

Menurut Slavin (2000), dalam STAD siswa di tempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat orang yang heterogen, yakni merupakan campuran menurut tingkat kinerja, jenis kelamin, suku, dan lain-lain. Guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja di dalam kelompok mereka untuk memsatikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai materi pelajaran tersebut.

Akhirnya kepada seluruh siswa di berikan tes tentang materi pembelajaran yang di pelajari. Pada waktu tes ini mereka tidak dapat saling membantu. Poin setiap anggota tim ini selanjutnya di jumlahkan untuk mendapatkan skor kelompok. Tim yang mencapai keriteria tertentu di berikan penghargaan atau sertifikat/ganjaran lain sebagai bentuk apresiasi kinerja mereka.

Baca Juga: Problem Based Learning (Pembelajaran Berbasis Masalah)

Keunggulan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Keunggulan Model Pembelajaran Kooperatif

8 Keunggulan model pembelajaran kooperatif sebagai suatu strategi dan model pembelajaran adalah:

  1. Melalui cooperative learning siswa tidak telalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
  2. Cooperative learning dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
  3. Dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
  4. Cooperative learning dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
  5. Cooperative learning merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilan memanage waktu, dan sikap positif terhadap sekolah.
  6. Melalui cooperative learning dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat masalah, karena keputusan yang di buat adalah tanggung jawab kelompoknya.
  7. Cooperative learning dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
  8. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir. Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang.

Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif

Di samping keunggulan, pembelajaran kooperatif juga memiliki kelemahan. Lima Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif di antaranya adalah:

  1. Untuk siswa yang di anggap memiliki kelebihan, contohnya mereka akan merasa terhambat oleh siswa yang di anggap kurang memiliki kemampuan. Akibatnya, keadaan semacam ini dapat mengganggu iklim kerja sama dalam kelompok.
  2. Ciri utama dari cooperative learning adalah bahwa siswa saling membelajarkan. Oleh karena itu, jika tanpa peer teaching yang efektif, maka di bandingkan dengan pengajaran langsung dari guru, bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya di pelajari dan di pahami tidak pernah di capai oleh siswa.
  3. Penilaian yang di berikan dalam cooperative learning di dasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari, bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang di harapkan adalah prestasi setiap induvidu siswa.
  4. Keberhasilan cooperative learning dalam upaya mengembangakan kesadaran berkelompok memerlukan waktu yang cukup panjang, dan hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali atau berkali-kali penerapan pembelajaran ini.
  5. Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya di dasarkan pada kemampuan secara individual. Oleh karena itu, idealnya melalui cooperative learning selain siswa belajar bekerja sama, siswa juga harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri. Untuk mencapai kedua hal itu dalam cooperative learning memang bukan pekerjaan yang mudah.

Baca Juga: Project Based Leaning (Pembelajaran Berbasis Proyek)

Demikian, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *