Levels of Inquiry atau Tingkatan Inkuiri

Levels of Inquiry atau Tingkatan Inkuiri

HermanAnis.com. Teman-teman semua, pembahasan kita kali ini masih tentang Model Pembelajaran Inquiry, dimana kita akan bahas tentang Levels of Inquiry (LoI) atau tingkatan inkuiri (inquiry).

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Tingkatan Model Pembelajaran Inkuiri

Wenning (2010) memperkenalkan Model Tingkat Penyelidikan untuk pembelajaran sains. Wenning menyusun tingkatan kegiatan eksperimen dalam kegiatan pembelajaran inkuiri menjadi beberapa tingkatan berbeda yang di sebut dengan Level of Inquiry (LoI). Menurut Wenning (2012) secara sistematis levels of inquiry terdiri dari 6 level yakni:

  1. discovery learning,
  2. interactive demonstrations,
  3. inquiry lessons,
  4. inquiry labs,
  5. Real-world aplications, dan
  6. Hypothetical inquiry,

LoI ini merupakan bentuk macam-macam implementasi model pembelajaran Inkuri dalam tataran praktis. Penyusunan ini di dasarkan pada seberapa canggihnya aktivitas kegiatan eksperimen di lakukan, semakin canggih maka akan semakin tinggi tingkatannya.

Levels of Inquiry 1 – Discovery Learning

Discovery Learning atau Belajar Penemuan merupakan jenis model pembelajaran inkuiri yang paling dasar. Model ini lebih menekankan pada pendekatan”aha” dalam prosesnya

Selama prosesnya, pembelajaran di bimbing secara intensif oleh guru dari mulai proses observasi, penemuan pola, hinggga kesimpulan. Biasanya di terapkan untuk kegiatan eksperimen pada tinggatan kelas rendah siswa sekolah dasar.Fokus Discovery Learning bukanlah untuk menemukan aplikasi untuk pengetahuan, melainkan pada membangun konsep dan pengetahuan berdasarkan  pengalaman belajar peserta didik. Dengan demikian, discovey learning menggunakan refleksi sebagai kunci untuk memahami konsep.

Guru memperkenalkan sebuah pengalaman sedemikian rupa untuk meningkatkan relevansi atau maknanya, menggunakan serangkaian pertanyaan selama atau setelah pengalaman untuk membimbing peserta didik mencapai kesimpulan tertentu, dan memberi pertanyaan kepada peserta didik untuk mendiskusikan langsung yang berfokus pada masalah atau kontradiksi yang nyata.

Dengan menggunakan penalaran induktif, peserta didik membangun hubungan atau prinsip sederhana berdasarkan hasil pengamatan yang di pandu guru.

Baca Juga : Project Based Leaning (Pembelajaran Berbasis Proyek)

Interactive Demonstration

Dalam Interactive Demonstration atau demonstrasi interaktif, guru mendemonstrasikan proses investigasi yang akan di lakukan siswa dalam pembelajaran. Guru yang memanipulasi (mendemonstrasikan) menggunakan peralatan/perangkat pembelajaran dan kemudian mengajukan pertanyaan penyelidikan tentang apa yang akan terjadi (prediksi) atau bagaimana sesuatu yang mungkin terjadi (penjelasan).

Pada level ini guru bertugas melakukan demonstrasi, mengembangkan dan mengajukan pertanyaan menyelidik, memunculkan tanggapan, meminta penjelasan lebih lanjut, dan membantu peserta didik mencapai kesimpulan berdasarkan bukti. Melalui aktivitas ini maka guru akan mendapatkan banyak permasalahan dari peserta didik.

Guru kemudian dapat merencanakan atau memodelkan prosedur ilmiah yang sesuai pada tingkat yang paling mendasar, sehingga membantu peserta didik belajar secara implisit mengenai proses penyelidikan. Pendidik atau guru senantiasa perlu untuk mengarahkan proses pemahaman, prediksi, serta penjelasan pada setiap tahapan yang di lewati peserta didik dalam proses pembelajarannya.

Guru juga dapat menggunakan cara think-aloud protocol atau mengajak peserta secara bersama membahas secara langsung setiap fenomena dan data yang tersaji dalam proses demonstrasi secara terstruktur dan sistematis dengan melibatkan proses berpikir setiap peserta didik dalam bentuk diskusi terbuka di kelas selama proses demonstrasinya.

Levels of Inquiry 3 – Inquiry Lesson

Levels of Inquiry

Dalam proses pembelajaran Inkuiri atau Inquiry Lesson, guru mengarahkan peserta didik melalui proses eksperimen sederhana yang di lakukan oleh guru dengan mengikuti tahapan-tahapan Inkuiri secara eksplisit, bertahap, dan teratur. Perbedaan proses pembelajaran ini dengan model Demo Interaktif adalah pada kegiatan eksperimen sederhana yang di tampilkan guru lebih menekankan secara spesifik setiap proses yang di lakukan sedangkan pada proses Demo Interaktif lebih menekankan pada hasil yang diperoleh dari demonstrasi yang guru lakukan.

Penekanan proses yang di maksud dalam pembelajaran Inkuiri ini di antaranya adalah: (a) mendefinisikan Masalah; (b) mendefinisikan sistem yang terlibat dalam eksperimen; dan (c) mengidentifikasi dan mengontrol variable yang terlibat dalam eksperimen. Guru secara berkesinambungan berbicara dan menekankan prinsip-prinsip dasar penyelidikan ilmiah (Scientific Inquiry).

Dalam banyak hal, Inquiry Lesson serupa dengan demonstrasi interaktif. Namun, ada beberapa perbedaan penting. Dalam Inquiry Lesson, penekanan secara halus beralih ke bentuk percobaan ilmiah yang lebih kompleks. Guru masih berperan memberikan panduan, fasilitator, dan menggugah pertanyaan. Bimbingan di berikan secara tidak langsung dengan menggunakan strategi tanya jawab yang tepat.

Guru memfasilitasi peserta didik untuk merencanakan percobaan sendiri, mengidentifikasi dan mengendalikan variabel. Pendidik atau guru secara eksplisit dengan memberikan panduan tentang saintifik proses melalui pertanyaan pembimbing.

Guru memodelkan proses intelektual mendasar dan menjelaskan pemahaman mendasar tentang saintifik inkuiri sementara peserta didik belajar dengan mengamati, mendengarkan, dan menanggapi pertanyaan. Proses pembelajaran pada level ini mengajak peserta didik “berpikir keras” (think aloud).

Pendekatan ini akan lebih membantu peserta didik memahami proses inkuri. Inquiry Lesson ini penting untuk menjembatani kesenjangan antara demonstrasi interaktif dan Inquiry Lab. Hal ini terjadi karena tidak beralasan untuk mengasumsikan bahwa peserta didik dapat menggunakan pendekatan eksperimental yang lebih canggih sebelum mereka mengenalnya.

Inquiry Lab

Inquiry Lab adalah kegiatan membimbing peserta didik lebih mandiri dalam mengembangkan dan melaksanakan rencana eksperimen dan mengumpulkan data yang sesuai. Pendekatan Inquiry Lab melibatkan aktivitas peserta didik sebagai berikut:

  • Didorong oleh pertanyaan yang membutuhkan keterlibatan intelektual berkelanjutan dengan menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi untuk pemikiran independen;
  • Fokuskan kegiatan peserta didik dalam pengumpulan dan data untuk menemukan konsep, prinsip, atau hukum baru yang bergerak dari konkret menjadi abstrak;
  • Meminta peserta didik untuk membuat desain eksperimental mereka sendiri; mewajibkan peserta didik untuk mengidentifikasi, membedakan, dan mengendalikan variabel-variabel penting dan dependen; dan mendorong peserta didik memiliki keterampilan dan kemampuan saintifik inkuiri;
  • Biasanya memungkinkan peserta didik belajar dari kesalahan prosedur; memberikan waktu dan kesempatan bagi peserta didik untuk membuat dan memperbaiki kesalahannya;
  • Menggunakan prosedur yang jauh lebih konsisten dengan praktik ilmiah otentik;

Inkuiri Laboratorium merupakan kegiatan penyelidikan yang di lakukan secara langsung oleh peserta didik dalam upaya membangun konsep yang baru mereka pelajari atau penguatan konsep lama yang telah mereka miliki sebelumnya.

Proses Inkuiri Laboratorium menyediakan pertanyaan-pertanyaan pengarah dalam prosesnya di bandingkan memberikan detail prosedur yang harus peserta didik lakukan. Berdasarkan kuantitas dan jenis pertanyaan yang di sajikan, Inkuri Laboratorium ini di bagi menjadi 3 tingkatan berbeda, yaitu;

  • Inkuiri Terbimbing. Proses eksperimen pada inkuiri jenis ini, peserta didik di bimbing melalui pertanyaan-pertanyaan pengarah yang di sediakan oleh guru dalam proses pelaksanaan eksperimennya.
  • Inkuiri Terbatas. Pada Inkuiri terbatas, jumlah pertanyaan yang di sediakan guru berkurang, pertanyaan yang di sediakan guru hanya pertanyaan-pertanyaan penelitian yang bersifat esensial saja, sedangkan proses eksperimennya di susun secara utuh oleh siswa berdasarkan pertanyaan-pertanyaan esensial tersebut.
  • Inkuiri Bebas. Inkuiri bebas memberikan keleluasaan kepada peserta didik untuk menentukan, menyusun, dan mengontrol aktivitas eksperimennya. Pada situasi ini, guru lebih menjadi penyedia tema atau materi pembelajaran serta penyedia aksesibilitas atau fasilitator peserta didik terhadap lingkungan dan fasilitas eksperimen yang di butuhkan

Levels of Inquiry 5 – Real-world Applications

Dalam pembelajaran level berikutnya peserta didik menerapkan apa yang telah mereka pelajari melalui pengalaman ke situasi baru. Mereka menemukan jawaban yang berkaitan dengan masalah otentik saat bekerja secara individu atau dalam kelompok kooperatif dan kolaboratif dengan menggunakan pendekatan berbasis masalah & berbasis proyek.

Kegiatan ini mengarahkan peserta didik bagaimana sebenarnya para ilmuwan dalam memecahkan masalah. Dalam pembelajaran berbasis masalah atau berbasis proyek akan berfungsi untuk melatih peserta didik dalam menggunakan konsep, prinsip, dan hukum dalam memecahkan masalah sehari-hari/ kontekstual.

Baca Juga: Sintaks Model Pembelajaran Inquiry

Hypothetical Inquiry

Level Hypothetical Inquiry memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengajukan hipotesis dan pengujian. Hypothetical Inquiry perlu di bedakan dari membuat prediksi, perbedaan yang tidak di pahami banyak guru fisika atau dengan peserta didik mereka. Prediksi adalah pernyataan tentang apa yang akan terjadi mengingat satu set kondisi awal.

Contoh prediksi adalah, “Ketika saya dengan cepat meningkatkan volume gas, suhunya akan turun.” Prediksinya tidak memiliki kekuatan penjelasan apa pun, meskipun mungkin deduksi logis berasal dari hukum atau pengalaman. Hipotesis adalah penjelasan sementara yang dapat di uji secara menyeluruh, dan hal itu dapat mengarahkan penyelidikan lebih lanjut. Contoh hipotesis mungkin karena senter gagal bekerja karena baterainya sudah mati.

Untuk menguji hipotesis ini, seseorang mungkin mengganti baterai yang sudah soak/rusak dengan baterai baru. Jika itu tidak berhasil, hipotesis baru di hasilkan. Hipotesis terakhir ini mungkin berkaitan dengan kontinuitas rangkaian seperti bola lampu yang terbakar atau kabel yang putus.

Hypothetical Inquiry berhubungan dengan memberikan dan menguji penjelasan (biasanya “bagaimana”, bukan “mengapa”), untuk menjelaskan hukum atau pengamatan tertentu. Sebagai tingkatan Inkuiri tertinggi, Pengembangan dan Pengujian Hipotesis merupakan jenis Inkuiri yang akan dapat terbentuk jika peserta didik telah memiliki pengalaman Inkuri pada tahapan-tahapan sebelumnya.

Pada jenis Inkuiri ini, pada prinsipnya peserta didik di harapkan dapat memberikan penjelasan secara detail berdasarkan informasi-informasi substantif yang mereka dapatkan atau hadapi. Peserta didik menentukan dan mengatur konsep apa yang ingin mereka selidiki dan mengkonsultasikannya kepada guru.

Selain itu, menurut Jan-Marie Kellow Inquiry levels hanya terdiri dari 4 level. Empat level of inquiry di berikan dalam gambar di bawah ini.

Levels of Inquiry atau Tingkatan dalam Pembelajaran Inquiry

Baca Juga: Model Pembelajaran Kooperatif

Sumber

  • C. J. Wenning. 2010. Levels of inquiry: Using inquiry spectrum learning sequences to teach. science

Demikian, pembahasan tentang level-level inquiry.
Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: