Teori Belajar Konstruktivisme menurut Ahli

Teori Belajar Konstruktivisme menurut Ahli

Hermananis.com – Berbeda dengan teori belajar kognitif, behavioristik, konstruktivistik, dan humanistik, teori belajar konstruktivisme memandang bahwa belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan, dimana pembentukan ini harus dilakukan sendiri oleh si pembelajar.

Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari.

A. Teori Belajar Konstruktivisme

Pada bagian ini akan di bahas proses belajar dari pandangan konstruktivisme, dan dari aspek-aspek si-belajar, peranan guru, sarana belajar, dan evaluasi belajar. Teori konstruktivisme merupakan teori yang sudah tidak asing lagi bagi dunia pendidikan, sebelum mengetahui lebih jauh tentang teori konstruktivisme alangkah lebih baiknya di ketahui dulu konstruktivisme itu sendiri.

Konstruktivisme berarti bersifat membangun. Dalam konteks filsafat pendidikan, konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, bahwa konstruktivisme merupakan sebuah teori yang sifatnya membangun, membangun dari segi kemampuan, pemahaman, dalam proses pembelajaran.

Sebab dengan memiliki sifat membangun maka dapat diharapkan keaktifan dari pada siswa akan meningkat kecerdasannya. Merasa kurang lengkap untuk mengetahui dari pada teori konstruktivisme sebelum mengetahui pendapat-pendapat dari pada pakar ahli, diantaranya yaitu: Hill, mengatakan, sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang di pelajari.

Menurut hill konstruktivisme merupakan bagaimana menghasilkan sesuatu dari apa yang dipelajarinya, dengan kata lain bahwa bagaimana memadukan sebuah pembelajaran dengan melakukan atau mempraktikkan dalam kehidupannya supaya berguna untuk kemaslahatan.

Shymansky mengatakan konstuktivisme adalah aktivitas yang aktif, di mana peserta didik membina sendiri pengetahuannya, mencari arti dari apa yang mereka pelajari, dan merupakan proses menyelesaikan konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berfikir yang telah ada dimilikinya.

Berdasarkan pendapatnya di atas, maka dapat di pahami bahwa konsturktivisme merupakan bagaimana mengaktifkan siswa dengan cara memberikan ruang yang seluas-luasnya untuk memahami apa yang mereka telah pelajari dengan cara menerpakan konsep-konsep yang di ketahuinya kemudian mempaktikkannya ke dalam kehidupan sehari-harinya.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat dibuat sebuah kesimpulan yaitu konstruktivisme merupakan sebuah teori yang memberikan keluasan berfikir kepada siswa dan memberikan siswa di tuntut untuk bagaimana mempraktikkan teori yang sudah di ketahuinya dalam kehidupannya.

1. Proses belajar

Secara konseptual, proses belajar jika di pandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutahkiran struktur kognitifnya.

Kegiatan belajar lebih di pandang dari segi prosesnya dari pada segi perolehan pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas. Proses tersebut berupa

“…..constructing and restructuring of knowledge and skills (schemata) within the individual in a complex network of increasing conceptual consistency…..”

Pemberian makna terhadap obyek dan pengalaman oleh individu tersebut tidak di lakukan secara sendiri-sendiri oleh siswa, melainkan melalui interaksi dalam jaringan sosial yang unik, yang terbentuk baik dalam budaya kelas maupun di luar kelas.

Oleh sebab itu pengelolaan pembelajaran harus di utamakan pada pengelolaan siswa dalam memproses gagasannya, bukan semata-mata pada pengelolaan siswa dan lingkungan belajarnya bahkan pada unjuk kerja atau prestasi belajarnya yang di kaitkan dengan sistem penghargaan dari luar seperti nilai, ijasah, dan sebagainya.

2. Peranan siswa

Menurut pandangan konstruktivistik, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang di pelajari.

Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa sendiri. Dengan istilah lain, dapat di katakan bahwa hakekatnya kendali belajar sepenuhnya ada pada siswa.

Paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kamampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi pengetahuan yang baru. Oleh sebab itu meskipun kemampuan awal tersebut masih sangat sederhana atau tidak sesuai dengan pendapat guru, sebaiknya di terima dan di jadikan dasar pembelajaran dan pembimbingan.

3. Peranan guru

Dalam Teori Belajar Konstruktivisme guru atau pendidik berperan membantu agar proses pengkonstruksian belajar oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak menstransferkan pengetahuan yang telah di milikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri.

Guru di tuntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar. Sehingga, Guru tidak dapat mengklaim bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemauannya.

Peranan kunci guru dalam interaksi pedidikan adalah pengendalian yang meliputi;

  1. Menumbuhkan kemandirian dengan menyediakan kesempatan untuk mengambil keputusan dan bertindak.
  2. Meningkatkan kemampuan mengambil keputusan dan bertindak, dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa.
  3. Menyediakan sistem dukungan yang memberikan kemudahan belajar agar siswa mempunyai peluang optimal untuk berlatih.

4. Sarana belajar

Pendekatan dalam Teori Belajar Konstruktivisme menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.

Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya di sediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Siswa di beri kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang sesuatu yang di hadapinya.

Dengan cara demikian, siswa akan terbiasa dan terlatih untuk berpikir sendiri, memecahkan masalah yang di hadapinya, mandiri, kritis, kreatif, dan mampu mempertanggung jawabkan pemikirannya secara rasional.

5. Evaluasi belajar

Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, konstruksi pengetahuan, serta aktivitas-aktivitas lain yang di dasarkan pada pengalaman.

Hal ini memunculkan pemikiran terhadap usaha mengevaluasi belajar konstruktivistik. Ada perbedaan penerapan evaluasi belajar antara pandangan behavioristik (tradisional) yang obyektifis dan konstruktivistik.

Pembelajaran yang di programkan dan di desain banyak mengacu pada obyektifis, sedangkan Piagetian dan tugas-tugas belajar discovery lebih mengarah pada konstruktivistik.

Obyektifis mengakui adanya reliabilitas pengetahuan, bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, dan tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah tersetruktur dengan rapi. Guru bertugas untuk menyampaikan pengetahuan

tersebut. Realitas dunia dan strukturnya dapat di analisis dan di uraikan, dan pemahaman seseorang akan di hasilkan oleh proses-proses eksternal dari struktur dunia nyata tersebut, sehingga belajar merupakan asimilasi obyek-obyek nyata.

Tujuan para perancang dan guru-guru tradisional adalah menginterpretasikan kejadian-kejadian nyata yang akan di berikan kepada para siswanya. Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme mengemukakan bahwa realitas ada pada pikiran seseorang.

Manusia mengkonstruksi dan menginterpretasikannya berdasarkan pengalamannya. Teori Belajar Konstruktivismemengarahkan perhatiannya pada bagaimana seseorang mengkonstruksi pengetahuan dari pengalamannya, struktur mental, dan keyakinan yang digunakan untuk menginterpretasikan obyek dan peristiwa-peristiwa.

Teori belajar Konstruktivisme mengakui bahwa siswa akan dapat menginterpretasi-kan informasi ke dalam pikirannya, hanya pada konteks pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri, pada kebutuhan, latar belakang dan minatnya.

Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme mengakui bahwa pikiran adalah instrumen penting dalam menginterpretasikan kejadian, obyek, dan pandangan terhadap dunia nyata, di mana interpretasi tersebut terdiri dari pengetahuan dasar manusia secara individual.

Guru dapat membantu siswa mengkonstruksi pemahaman representasi fungsi konseptual dunia eksternal. Jika hasil belajar di konstruksi secara individual, bagaimana mengevaluasinya?

Evaluasi belajar pandangan behavioristik tradisional lebih di arahkan pada tujuan belajar. Sedangkan pandangan Teori Belajar Konstruktivisme menggunakan goal-free evaluation, yaitu suatu konstruksi untuk mengatasi kelemahan evaluasi pada tujuan spesifik.

Evaluasi akan lebih obyektif jika evaluator tidak di beri informasi tentang tujuan selanjutnya. Jika tujuan belajar di ketahui sebelum proses belajar di mulai, proses belajar dan evaluasinya akan berat sebelah.

Pemberian kriteria pada evaluasi mengakibatkan pengaturan pada pembelajaran. Tujuan belajar mengarahkan pembelajaran yang juga akan mengontrol aktifitas belajar siswa.

Pembelajaran dan evaluasi yang menggunakan kriteria merupakan prototipe obyektifis/behavioristik, yang tidak sesuai bagi Teori Belajar Konstruktivisme. Hasil belajar konstruktivistik lebih tepat di nilai dengan metode evaluasi goal-free.

Evaluasi yang di gunakan untuk menilai hasil belajar konstruktivistik, memerlukan proses pengalaman kognitif bagi tujuan-tujuan konstruktivistik.

Bentuk-bentuk evaluasi dalam Teori Belajar Konstruktivisme dapat di arahkan pada tugas-tugas autentik, mengkonstruksi pengetahuan yang menggambarkan proses berpikir yang lebih tinggi seperti tingkat “penemuan” pada taksonomi Merrill, atau “strategi kognitif” dari Gagne, serta “sintesis” pada taksonomi Bloom.

Juga mengkonstruksi pengalaman siswa, dan mengarahkan evaluasi pada konteks yang luas dengan berbagai perspektif.

B. Teori Belajar Konstruktivisme menurut Ahli

Pioner Teori Belajar Konstruktivisme: Lev Vygotsky 1896-1934

Teori belajar konstruktivisme merupakan teori belajar yang di pelopori oleh Lev Vygotsky, dimana teori belajar ini sering di sebut sebagai teori belajar sosiokultural. Nah, teori belajar ini merupakan teori belajar yang titik tekan utamanya adalah pada bagaimana belajar dengan bantuan orang lain dalam suatu zona keterbatasan dirinya yaitu Zona Proksimal Development (ZPD) dan mediasi.

Setiap anak dalam perkembangannya membutuhkan orang lain untuk memahami sesuatu dan memecahkan masalah yang di hadapinya, Teori yang juga di sebut sebagai teori konstruksi sosial ini menekankan bahwa intelegensi manusia berasal dari masyarakat, lingkungan dan budayanya.

Teori ini juga menegaskan bahwa perolehan kognitif individu terjadi pertama kali melalui interpersonal (interaksi dengan lingkungan sosial) intrapersonal (internalisasi yang terjadi dalam diri sendiri). Vygotsky berpendapat bahwa menggunakan alat berfikir akan menyebabkan terjadinya perkembangan kognitif dalam diri seseorang.

Secara spesifik kegunaan alat berfikir menurut Vygotsky adalah :

  1. Membantu memecahkan masalah.
  2. Memudahkan dalam melakukan tindakan.
  3. Memperluas kemampuan
  4. Melakukan sesuatu sesuai dengan kapasitas alaminya.

Inti dari Teori Belajar Konstruktivisme ini adalah penggunaan alat berfikir seseorang yang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan sosial budayanya. Lingkungan sosial budaya akan menyebabkan semakin kompleksnya kemampuan yang di miliki oleh setiap individu.

Menurut Vygotsky belajar meliputi tiga konsep utama, yaitu:

  1. Hukum Genetik tentang Perkembangan
  2. Zona Perkembangan Proksimal
  3. Mediasi

1. Hukum Genetik tentang Perkembangan

Perkembangan menurut Vygotsky tidak bisa hanya di lihat dari fakta-fakta atau keterampilan-keterampilan, namun lebih dari itu, perkembangan seseorang melewati dua tataran. Tataran sosial (interpsikologis dan intermental) dan tataran psikologis (intrapsikologis).

Di mana tataran sosial di lihat dari tempat terbentuknya lingkungan sosial seseorang dan tataran psikologis yaitu dari dalam diri orang yang bersangkutan. Teori Belajar Konstruktivisme menenpatkan intermental atau lingkungan sosial sebagai faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta perkembangan kognitif seseorang.

Fungsi-fungsi mental yang tinggi dari seseorang di yakini muncul dai kehidupan sosialnya. Sementara itu, intramental dalam hal ini di pandang sebagai derivasi atau turunan yang terbentuk melalui penguasaan dan internalisasi terhadap proses-proses sosial tersebut.

Hal ini terjadi karena anak baru akan memahami makna dari kegiatan sosial apabila telah terjadi proses internalisasi. Oleh sebab itu belajar dan berkembang satu kesatuan yang menentukan dalam perkembangan kognitif seseorang. Vygotsky meyakini bahwa kematangan merupakan prasyarat untuk kesempurnaan berfikir.

Secara spesifik, namun demikian ia tidak yakin bahwa kematangan yang terjadi secara keseluruhan akan menentukan kematangan selanjutnya.

2. Zona Perkembangan Proksimal

Zona Perkembangan Proksimal/Zona Proximal Development (ZPD) merupakan konsep utama yang paling mendasar dari Teori Belajar Konstruktivisme Vygotsky.

Dalam Luis C. Moll (1993: 156-157), Vygotsky berpendapat bahwa setiap anak dalam suatu domain mempunyai ‘level perkembangan aktual’ yang dapat di nilai dengan menguji secara individual dan potensi terdekat bagi perkembangan domain dalam tersebut.

Vygotsky mengistilahkan perbedaan ini berada di antara dua level Zona Perkembangan Proksimal. Vygotsky mendefinisikan Zona Perkembangan Proksimal sebagai jarak antara level perkembangan aktual seperti yang di tentukan untuk memecahkan masalah secara individu dan level perkembangan potensial seperti yang di tentukan lewat pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau dalam kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih mampu.

Secara jelas Vygotsky memberikan pandangan yang matang tentang konsep tersebut seperti yang di kutip oleh Luis C. Moll (1993: 157) :

Zona Perkembangan Proksimal mendefinisikan fungsi-fungsi tersebut yang belum pernah matang, tetapi dalam proses pematangan. Fungsi-fungsi tersebut akan matang dalam situasi embrionil pada waktu itu.

Fungsi-fungsi tersebut dapat di istilahkan sebagai “kuncup” atau “bunga” perkembangan yang di bandingkan dengan “buah” perkembangan.

Vygotsky mengemukakan ada empat tahapan ZPD yang terjadi dalam perkembangan dan pembelajaran, yaitu:

  1. Tahap 1 : Tindakan anak masih di pengaruhi atau di bantu orang lain
  2. Fase/Tahap 2 : Tindakan anak yang di dasarkan atas inisiatif sendiri.
  3. Tahap 3 : Tindakan anak berkembang spontan dan terinternalisasi.
  4. Fase/Tahap 4 : Tindakan anak spontan akan terus di ulang-ulang hingga anak siap untuk berfikir abstrak.

Pada empat tahapan ini dapat di simpulkan bahwa. Seseorang akan dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak bisa dia lakukan dengan bantuan yang di berikan oleh orang dewasa maupun teman sebayanya yang lebih berkompeten terhadap hal tersebut.

4. Mediasi

Mediasi merupakan tanda-tanda atau lambang-lambang yang di gunakan seseorang untuk memahami sesuatu di luar pemahamannya. Ada dua jenis mediasi yang dapat mempengaruhi pembelajaran yaitu,

  1. Tema mediasi semiotik di mana tanda-tanda atau lambang-lambang yang di gunakan seseorang untuk memahami sesuatu di luar pemahamannya ini di dapat dari hal yang belum ada di sekitar kita, kemudian di buat oleh orang yang lebih faham untuk membantu mengkontruksi pemikiran kita dan akhirnya kita menjadi faham terhadap hal yang di maksudkan;
  2. Scoffalding di mana tanda-tanda atau lambang-lambang yang di gunakan seseorang untuk memahami sesuatu di luar pemahamannya ini di dapat dari hal yang memang sudah ada di suatu lingkungan, kemudian orang yang lebih faham tentang tanda-tanda atau lambang-lambang tersebut akan membantu menjelaskan kepada orang yang belum faham sehingga menjadi faham terhadap hal yang dimaksudkan.

Kunci utama untuk memahami proses sosial psikologis adalah tanda-tanda atau lambang-lambang yang berfungsi sebagai mediator.

Tanda-tanda atau lambang-lambang tersebut sebenarnya merupakan produk dari lingkungan sosiokultural di mana seseorang berada. Untuk memahami alat-alat mediasi ini, anak-anak di bantu oleh guru, orang dewasa maupun teman sebaya yang lebih faham.

Sementara itu, Wertsch berpendapat bahwa: Mekanisme hubungan antara pendekatan sosiokultural dan fungsi-fungsi mental di dasari oleh tema mediasi semiotik. Artinya tanda atau lambang beserta makna yang terkandung di dalamnya berfungsi sebagai penghubung antara rasionalitas-sosiokultural (intermental) dengan individu sebagai tempat berlangsungnyaa proses mental.

C. Penerapan Teori Belajar Konstruktivisme dalam Kegiatan Pembelajaran

Berdasarkan Vygotsky beberapa hal yang perlu untuk di perhatikan dalam proses pembelajaran, yaitu :

  1. Dalam kegiatan pembelajaran hendaknya anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proksimalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang.
  2. Pembelajaran perlu di kaitkan dengan tingkat perkembangan potensialnya dari pada perkembangan aktualnya.
  3. Pembelajaran lebih di arahkan pada penggunaan strategi untuk mengembangkan kemampuan intermentalnya daripada kemampuan intramentalnya.
  4. Anak di berikan kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang telah di pelajarinya dengan pengetahuan prosedural untuk melakukan tugas-tugas dan memecahkan masalah.
  5. Proses Belajar dan pembelajaran tidak sekedar bersifat transferal tetapi lebih merupakan ko-konstruksi.

Dalam Teori Belajar Konstruktivisme ini, pengetahuan yang di miliki seseorang berasal dari sumber-sumber sosial yang terdapat di luar dirinya. Untuk mengkonstruksi pengetahuan, di perlukan peranan aktif dari orang tersebut. Pengetahuan dan kemampuan tidak datang dengan sendirinya, namun harus di usahakan dan di pengaruhi oleh orang lain.

1. Prinsip-prinsip utama Teori Belajar Konstruktivisme

Prinsip-prinsip utama Teori Belajar Konstruktivisme yang banyak di gunakan dalam pendidikan menurut Guruvalah:

  1. Pengetahuan di bangun oleh siswa secara aktif
  2. Tekanan proses belajar mengajar terletak pada Siswa
  3. Mengajar adalah membantu siswa belajar
  4. Tekanan dalam proses belajar lebih pada proses dan bukan pada hasil belajar
  5. Kurikulum menekankan pada partisipasi siswa
  6. Guru adalah fasilitator

Dapat di simpulkan bahwa dalam Teori Belajar Konstruktivisme, proses belajar tidak dapat di pisahkan dari aksi (aktivitas) dan interaksi, karena persepsi dan aktivitas berjalan seiring secara di alogis. Belajar merupakan proses penciptaan makna sebagai hasil dari pemikiran individu melalui interaksi dalam suatu konteks sosial.

Dalam hal ini, tidak ada perwujudan dari suatu kenyataan yang dapat di anggap lebih baik atau benar. Vygotsky percaya bahwa beragam perwujudan dari kenyataan di gunakan untuk beragam tujuan dalam konteks yang berbeda-beda.

Pengetahuan tidak dapat di pisahkan dari aktivitas di mana pengetahuan itu di konstruksikan, dan di mana makna di ciptakan, serta dari komunitas budaya di mana pengetahuan di diseminasikan dan di terapkan. Melalui aktivitas, interaksi sosial, tersebut penciptaan makna terjadi.

Proses pembelajaran akan efektif jika di ketahui inti kegiatan belajar yang sesungguhnya. Pada bagian ini akan di bahas ciri-ciri pembelajaran tradisional atau behavioristik dan ciri-ciri pembelajaran dalam Teori Belajar Konstruktivisme.

Kegiatan pembelajaran yang selama ini berlangsung, yang berpijak pada teori behavioristik, banyak di dominasi oleh guru. Guru menyampaikan materi pelajaran melalui ceramah, dengan harapan siswa dapat memahaminya dan memberikan respon sesuai dengan materi yang di ceramahkan.

Dalam pembelajaran, guru banyak menggantungkan pada buku teks. Materi yang di sampaikan sesuai dengan urutan isi buku teks. Di harapkan siswa memiliki pandangan yang sama dengan guru, atau sama dengan buku teks tersebut. Alternatif-alternatif perbedaan interpretasi di antara siswa terhadap fenomena sosial yang kompleks tidak di pertimbangkan.

Siswa belajar dalam isolasi, yang mempelajari kemampuan tingkat rendah dengan cara melengkapi buku tugasnya setiap hari.

Ketika menjawab pertanyaan siswa, guru tidak mencari kemungkinan cara pandang siswa dalam menghadapi masalah, melainkan melihat apakah siswa tidak memahami sesuatu yang di anggap benar oleh guru. Pengajaran di dasarkan pada gagasan atau konsep-konsep yang sudah di anggap pasti atau baku, dan siswa harus memahaminya.

Pengkonstruksian pengetahuan baru oleh siswa tidak di hargai sebagai kemampuan penguasaan pengetahuan. Berbeda dengan bentuk pembelajaran di atas, pembelajaran dalam Teori Belajar Konstruktivisme membantu siswa menginternalisasi dan mentransformasi informasi baru.

Transformasi terjadi dengan menghasilkan pengetahuan baru yang selanjutnya akan membentuk struktur kognitif baru. Pendekatan dalam Teori Belajar Konstruktivisme lebih luas dan sukar untuk di pahami.

Pandangan ini tidak melihat pada apa yang dapat di ungkapkan kembali atau apa yang dapat di ulang oleh siswa terhadap pelajaran yang telah di ajarkan dengan cara menjawab soal-soal tes (sebagai perilaku imitasi), melainkan pada apa yang dapat di hasilkan siswa, di demonstrasikan, dan di tunjukkannya.

Pada pembelajaran dalam Teori Belajar Konstruktivisme, siswa yang di harapkan memiliki peran optimal. Selain itu siswa juga di harapkan untuk dapat berkolaborasi dengan orang lain untuk mencapai kemampuan yang optimal.

Menurut Vygotsky sebagai salah satu tokoh penghusung teori ini, perubahan mental anak tergantung pada proses sosialnya yaitu bagaimana anak berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Lingkungan sosial yang menguntungkan anak adalah orang-orang dewasa atau anak yang lebih mampu yang dapat memberi penjelasan tentang segala sesuatu sesuai dengan kebutuhan anak yang sedang belajar.

2. Posisi Siswa dalam pembelajaran Teori Belajar Konstruktivisme

Siswa dalam pembelajaran Teori Belajar Konstruktivisme di abad 21 (ISTE dalam smaldino, dkk, 2010) di tuntut untuk:

  1. memiliki kreativitas dan inovasi,
  2. dapat berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain,
  3. menggunakan kemampuannya untuk mencari informasi dan menganalisis informasi yang dia dapatkan,
  4. berpikir kritis dalam memecahkan masalah ataupun dalam membuat keputusan,
  5. memahami konsep-konsep dalam perkembangan teknologi dan mampu mengoperasikannya.

Pembelajaran dalam Teori Belajar Konstruktivisme meyakini bahwa setiap siswa adalah istimewa, setiap siswa unik dan setiap siswa adalah manusia-manusia special yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, siswa harus dilihat dan dipahami secara menyeluruh bukan hanya dari apa yang tanpak saja.

Seperti penuturan Lev Vygotsky, jalan pikiran seseorang harus di mengerti dari latar sosial dan budayanya bukan dari apa yang ada di balik otaknya semata. Selain itu, Vygotsky (Collin,2012) juga menekankan bahwa kita menjadi dirikita sendiri melalui orang lain.

Aplikasi teori Vygotsky yang paling terkenal adalah model pembelajaran colaboratif. Selain itu, contoh aplikasi Teori Belajar Konstruktivisme dalam proses pembelajaran modern adalah berkembangnya pembelajaran dengan web (web learning) dan pembelajaran melalui social media (social media learning).

Dalam Smaldino, dkk (2012) di jelaskan bahwa pembelajaran pada abad ke 21 telah banyak mengalami perubahan, intergrasi internet dan social media memberikan perspektif baru dalam pembelajaran.Pembelajaran dengan social media memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi, berkolaborasi, berbagi informasi dan pemikiran secara bersama.

Sama halnya dengan pembelajaran melalui social media,pembelajaran melalui web juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk melengkapi satu atau lebih tugas melalui jaringan internet. Selain itu juga dapat melakukan pembelajaran kelompok dengan menggunakan fasilitas internet seperti google share.

Model pembelajaran melalui web maupun social media ini sejalan dengan Teori Belajar Konstruktivisme, di mana siswa adalah pembelajar yang bebas yang dapat menentukan sendiri kebutuhan belajarnya.

D. Perbandingan Pembelajaran Tradisional (Behavioristik) dan Pembelajaran Konstruktivistik

Secara rinci perbedaan karakteristik antara pembelajaran tradisional atau behavioristik dan pembelajaran konstruktivistik adalah sebagai berikut.

Pembelajaran TradisionalPembelajaran Kontruktivisme
Kurikulum di sajikan dari bagian-bagian menuju ke seluruhan dengan menekankan pada keterampilan-keterampilan dasar.Kurikulum di sajikan mulai dari keseluruhan menuju ke bagian-bagian, dan lebih mendekatkan pada konsep-konsep yang lebih luas.
Pembelajaran sangat taat pada kurikulum yang telah di tetapkan.Pembelajaran lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide siswa
Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada buku teks dan buku kerjaKegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber-sumber data primer dan manipulasi bahan
Siswa-siswa di pandang sebagai “kertas kosong” yang dapat di goresi infor-masi oleh guru, dan guru-guru pada umumnya menggunakan cara di dak-tik dalam menyampaikan informasi kepada siswa.Siswa di pandang sebagai pemikir-pemikir yang dapat memunculkan teori-teori tentang dirinya.
Penilaian hasil belajar atau pengetahuan siswa di pandang sebagai bagian dari pembelajaran, dan biasanya di lakukan pada akhir pelajaran dengan cara testing.Pengukuran proses dan hasil belajar siswa terjalin di dalam kesatuan kegiatan pembelajaran, dengan cara guru mengamati hal-hal yang sedang di lakukan siswa, serta melalui tugas-tugas pekerjaan.
Siswa-siswa biasanya bekerja sendiri-sendiri, tanpa ada group process dalam belajar.Siswa-siswa banyak belajar dan bekerja di dalam group process.

E. Asumsi-Asumsi Teori Belajar Konstruktivisme

Konstruksivisme menyoroti interaksi orang-orang dan situasi-situasi dalam penguasaan dan penyempurnaan keterampilan-keterampilan dan pengetahuan.

Selain itu, konstuktivisme juga memiliki asumsi yang sama dengan teori kognitif sosial yang mengarahkan bahwa orang, prilaku, dan lingkungan berinteraksi secara timbal balik. Adapun asumsi-asumsi dari konstruktivisme adalah,

Asumsi Pertama, manusia merupakan siswa aktif yang mengembangkan pengetahuan bagi diri mereka sendiri.

Di mana siswa diberikan keluasan untuk mengembangkan ilmu yang sudah didapatkan tersebut, baik dengan melakukan latihan, melakukan eksperimen maupun berdiskusi sesama siswa. Dengan hal seperti itu maka ilmu-ilmunya tersebut akan berkembang
dan bertambah.

Asumsi Kedua. Guru sebaiknya tidak mengajar.

Guru sebaiknya tidak mengajar dalam artian menyampaikan pelajaran dengan cara tradisional kepada sejumlah siswa. Sehingga, guru seharusnya membangun situasi-situasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat terlibat secara aktif dengan materi pelajaran melalui pengolahan materi-materi dan interaksi sosial.

Maksudnya seorang pendidik atau guru dituntut untuk lebih aktif dan menarik dalam menjelaskan, selain itu juga guru harus bisa menggunakan media dalam proses pembelajaran. Jangan hanya menggunakan metode-metode yang sudah lama atau jaman dulu, seperti ceramah, mencatat sampai habis.

Akan tetapi guru harus mengajar dengan cara bagaimana supaya siswa harus di buat aktif dan masuk dalam pembelajaran tersebut. Adapun aktivitas-aktivitas pembelajaran meliputi mengamati fenomena-fenomena, mengumpulkan data-data, merumuskan dan menguji hipotesis-hipotesis, dan bekerja sama dengan orang lain.

Kegiatan lainnya adalah mengajak siswa mengunjungi lokasi-lokasi di luar ruangan kelas. Guru-guru dari berbagai disiplin ilmu diperlukan untuk merencanakan kurikulum bersama-sama.

Siswa perlu diarahkan untuk dapat mengatur diri sendiri dan berperan aktif dalam pembelajaran mereka dengan menentukan tujuan-tujuan, memantau dan mengevaluasi kemajuan mereka, dan bertindak melampaui standar-standar yang disyaratkan bagi mereka dengan menelusuri hal-hal yang menjadi minat mereka.

F. Perspektif-Perspektif Dalam Teori Belajar Konstruktivisme

1. Konstruktivisme eksogeneus.

Konstruktivisme eksogeneus mengacu pada pemikiran bahwa penguasaan pengetahuan merepresentasikan sebuah kosntruksi ulang dari struktur-struktur yang berbeda dalam dunia eksternal.

Pandangan ini mendasarkan pengaruh kuat dari dunia luar pada konstruksi pengetahuan, seperti pengalaman-pengalaman, pengajaran dan pengamatan terhadap model-model.

2. Konstruktivisme endogenus.

Konstruktivisme endogenus menekankan pada koordinasi tindakan-tindakan yang sebelumnya, bukan secara langsung dari informasi lingkungan. Karena itu, pengetahuan bukanlah cerminan dari dunia luar yang diperoleh melalui pengalaman-pengalaman, pengajaran, atau interaksi sosial.

Pengetahuan berkembang melalui aktifitas kognitif dari abstraksi dan mengikuti sebuah rangkaian yang dapat diprediksikan secara umum.

3. Konstruktivisme dialektikal.

Konstruktivisme dialektikal berpendapat bahwa pengetahuan tidak hanya dapat diperoleh melalui sekolah akan tetapi bisa juga di dapatkan melalui saling berinteraksi sesama teman, guru, tetangga dan bahkan lingkungan sekitar kita.

Selain itu juga interpretasinya tidak terikat dengan dunia luar. Bahkan pengetahuan atau pemahaman timbul akibat saling berlawanan mental dari interaksi antara lingkungan sekitar dengan seseorang.

Dari ketiga pandang tersebut memiliki kelebihan masing-masing, seperti konstruktivisme eksogeneus yaitu untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan seorang siswa terhadap ilmu tertentu secara akurat dan terperinci.

Kemudian konstruktivisme endogenus yaitu untuk mengetahui sejauh mana penguasaan materi secara terstruktur mulai dari yang paling bawah sampai dengan yang paling tinggi. Sedangkan konstruktivisme dialektikal digunakan ketika guru atau pendidik ingin merencanakan itervensi-intervensi untuk mendorong pemikiran siswa dan untuk mengarahkan penelitian untuk menemukan efektifitas dari pengaruh-pengaruh sosial seperti paparan terhadap model-model dan kerja sama dengan teman sebaya.

G. Kelebihan Teori Belajar Konstruktivisme

Hidup ini, tidak ada yang sempurna ada kebaikan ada juga keburukan, begitu juga dengan sebuah teori. Tidak ada teori yang sempurna akan tetapi saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainya begitu juga konstruktivisme.

Adapun 6 kelebihan teori konstruktivisme di antaranya adalah:

  1. Pertama, guru bukan satu-satunya sumber belajar.
    Maksudnya yaitu dalam proses pembelajaran guru hanya sebagai pemberi ilmu dalam pembelajaran, siswa tuntut untuk lebih aktif dalam proses pembelajarannya, baik dari segi latihan, bertanya, praktik dan lain sebagainya. Jadi guru hanya sebagi pemberi arah dalam pembelajaran dan menyediakan apa-apa saja yang dibutuhkan oleh siswanya. Sebab dalam kosntruktivisme pengetahuan itu tidak hanya di dapatkan dalam proses pembelajaran akan tetapi bisa juga di dapatkan melalui diskusi, pengalaman dan juga bisa di dapatkan di lingkungan sekitarnya.
  2. Kedua, siswa (pembelajaran) lebih aktif dan kreatif.
    Maksudnya di mana siswa dituntut untuk bisa memahami pembelajarannya baik di dapatkan di sekolah dan yang dia dapatkan di luar sekolah. Sehingga pengetahuan-pengetahuannya yang dia dapatkan tersebut bisa dia kaitkan dengan baik dan seksama. Selain itu juga siswa di tuntut untuk bisa memahami ilmu-ilmu yang baru dan dapat di koneksikan dengan ilmu-ilmu yang sudah lama.
  3. Ketiga, pembelajaran menjadi lebih bermakna. Belajar bermakna berarti menginstruksi informasi dalam struktur penelitian lainnya. Artinya pembelajaran tidak hanya mendengarkan dari guru saja akan tetapi siswa harus bisa mengaitkan dengan pengalaman-pengalaman pribadinya dengan informasi-informasi yang dia dapatkan baik dari temanya, tetangganya , keluarga, surat kabar, televisi, dan lain sebagainya.
  4. Keempat, pembelajaran memiliki kebebasan dalam belajar. Maksudnya siswa bebas mengaitkan ilmu-ilmu yang dia dapatkan baik di lingkungannya dengan yang di sekolah sehingga tercipta konsep yang diharapkannya.
  5. Kelima, perbedaan individual terukur dan di hargai.
  6. Keenam, guru berfikir proses membina pengetahuan baru, siswa berfikir untuk menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan.

H. Kekurangan atau kelemahan dalam Teori Belajar Konstruktivisme

5 Kekurangan dari teori belajar konstruktivisme berdasarkan berbagai sumber rujukan yakni:

  1. Pertama, proses belajar konstruktivisme secara konseptual adalah proses belajar yang bukan merupakan perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan
    akomodasi yang bermuara pada pemutakhiran sruktur kognitif.
  2. Kedua, peran siswa. Menurut pandangan ini, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan.
  3. Ketiga, peran guru. Dalam pendekatan ini guru atau pendidik berperan membantu agar proses pengonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak menerapkan pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri.
  4. Keempat, sarana belajar. Pendekatan ini menekankan bahwa peran utama dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengonstruksi pengetahuannya sendiri.
  5. Kelima, evaluasi, pandangan ini mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, konstruksi pengetahuan, serta aktifitas-aktifitas lain yang didasarkan pada
    pengalaman.

I. Karakteristik pembelajaran berdasarkan Teori Belajar Kontruktivisme

4 Karakteristik pembelajaran berdasarkan Teori Belajar Kontruktivisme adalah:

  1. Membebaskan siswa dari belenggu kurikulum yang berisi fakta-fakta lepas yang sudah di tetapkan, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ide-idenya secara lebih luas.
  2. Menempatkan siswa sebagai kekuatan timbulnya interes, untuk membuat hubungan di antara ide-ide atau gagasannya, kemudian memformulasikan kembali ide-ide tersebut, serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
  3. Guru bersama-sama siswa mengkaji pesan-pesan penting bahwa dunia adalah kompleks, di mana terdapat bermacam-macam pandangan tentang kebenaran yang datangnya dari berbagai interpretasi.
  4. Guru mengakui bahwa proses belajar serta penilaiannya merupakan suatu usaha yang kompleks, sukar di pahami, tidak teratur, dan tidak mudah di kelola.

J. Kesimpulan Teori Belajar Konstruktivisme

Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari teori belajr ini adalah,

  1. Teori konstruktivisme merupakan teori yang sudah tidak asing lagi bagi dunia pendidikan, sebelum mengetahui lebih jauh tentang teori konstruktivisme alangkah lebih baiknya di ketahui dulu konetruktivisme itu sendiri.
  2. Konstruktivisme berarti bersifat membangun. Dalam konteks filsafat pendidikan, konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.
  3. Guru-guru konstruktivistik yang mengakui dan menghargai dorongan diri manusia/siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri. kegiatan pembelajaran yang di lakukannya akan di arahkan agar terjadi aktivitas konstruksi pengetahuan oleh siswa secara optimal.

Daftar Rujukan

  1. Modul Kegiatan Belajar III PPG tahun 2019. Kemdikbud.
  2. Biehler, R.F. & Snowman, J. (1982). Psychology Applied to Teaching, Fourth edition, Boston: Houghton Mifflin Company.
  3. Brooks, J.G., & Brooks, M., (1993). The case for constructivist classrooms. association for supervision and curriculum development. Alexandria, Virginia.
  4. Collin, Catherine, dkk. 2012. The Psychology Book. London: DK.
  5. Gage, N.L., & Berliner, D. (1979). Educational Psychology. Second Edition, Chicago: Rand McNally.
  6. Jigna, DU. Application of Humanism Theoryin The Teaching Approach. CS Canada: Higher Education of Social Sciences. Vol. 3, No. 1, 2012, pp. 32-36. DOI:10.3968/j.hess.1927024020120301.1593
  7. Schunk, Dale. H. 2012. Learning Theories an Educational Perspective. Edisi keenam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  8. Smaldino, dkk. 2012. Instructional Technology and Media for Learning. 11th edition. United State of America: Pearson.

Demikian,
semoga bermanfaat


Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

2 Replies to “Teori Belajar Konstruktivisme menurut Ahli”

  1. Terima kasih informasi dari Bapak, sangat membantu dalam kegiatan pelaksanaan PPG saya pak. melalui tulisan yang Bapak buat, sangat memberikan inspirasi untuk saya dapat terus belajar menjadi guru yang lebih baik lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca