Teori Belajar Behavioristik Menurut Ahli

Teori Belajar Behavioristik Menurut Ahli

HermanAnis.com – Berbeda dengan teori belajar kognitif, konstruktivistik, dan humanistik, teori belajar behavioristik menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku. Seseorang di anggap telah belajar sesuatu jika ia telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Pandangan behavioristik mengakui pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respon.

A. Pengertian Belajar dalam Teori Belajar Behavioristik

Menurut Teori Belajar Behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang di alami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.

Seseorang di anggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya. Sebagai contoh, siswa belum dapat berhitung perkalian. Walaupun ia sudah berusaha giat dan gurunya sudah mengajarkan dengan tekun, namun jika anak tersebut belum dapat mempraktekkan perhitungan perkalian, maka ia belum di anggap belajar. Karena ia belum dapat menunjukkan perubahan perilaku sebagai hasil belajar.

Menurut teori belajar ini yang terpenting adalah masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons.

B. Stimulus dan Respon dalam Proses Pembelajaran

STIMULUS adalah apa saja yang di berikan guru kepada siswa misalnya daftar perkalian, alat peraga, pedoman kerja, atau cara-cara tertentu, untuk membantu belajar siswa, sedangkan RESPON adalah reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang di berikan oleh guru.

Menurut Teori Belajar Behavioristik, apa yang terjadi di antara stimulus dan respon di anggap tidak penting di perhatikan karena tidak dapat di amati dan tidak dapat di ukur. Yang dapat di amati hanyalah stimulus dan respons.

Oleh sebab itu, apa saja yang di berikan guru (stimulus), dan apa saja yang di hasilkan siswa (respons), semuanya harus dapat di amati dan dapat di ukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

Faktor lain yang juga di anggap penting oleh aliran behaviotistik adalah faktor penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan di tambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat.

Begitu juga bila penguatan di kurangi (negative reinforcement) responpun akan tetap di kuatkan. Misalnya, ketika siswa di beri tugas oleh guru, ketika tugasnya di tambahkan maka ia akan semakin giat belajarnya.

Maka penambahan tugas tersebut merupakan penguatan positif (positive reinforcement) dalam belajar. Bila tugas-tugas di kurangi dan pengurangan ini justru meningkatkan aktivitas belajarnya, maka pengurangan tugas merupakan penguatan negatif (negative reinforcement) dalam belajar.

Jadi penguatan merupakan suatu bentuk stimulus yang penting di berikan (di tambahkan) atau di hilangkan (di kurangi) untuk memungkinkan terjadinya respons.

C. Teori Belajar Behavioristik menurut para Ahli

Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah:

  1. Thorndike,
  2. Watson,
  3. Clark Hull,
  4. Edwin Guthrie, dan
  5. Skinner.

Pada dasarnya para penganut aliran behavioristik setuju dengan pengertian belajar di atas, namun ada beberapa perbedaan pendapat di antara mereka. Bagaimana pendapat mereka, berikut penjelasannya.

1. Teori Belajar Behavioristik menurut Edward Lee Thorndike (1874-1949)

Teori Belajar Behavioristik Menurut Ahli

Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat di tangkap melalui alat indera.

Sedangkan respon yaitu reaksi yang di munculkan siswa ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Dari definisi belajar tersebut maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat berwujud kongkrit yaitu yang dapat di amati, atau tidak kongkrit yaitu yang tidak dapat di amati.

Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, namun ia tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku-tingkah laku yang tidak dapat di amati. Namun demikian, teorinya telah banyak memberikan pemikiran dan inspirasi kepada tokoh-tokoh lain yang datang kemudian. Teori Thorndike ini di sebut juga sebagai aliran Koneksionisme (Connectionism).

Baca Juga:

2. Teori Belajar Behavioristik menurut Watson (1878-1958)

Watson adalah seorang tokoh aliran behavioristik yang datang sesudah Thorndike. Menurutnya, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang di maksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat di amati (observabel) dan dapat di ukur.

Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu di perhitungkan. Ia tetap mengakui bahwa perubahan-perubahan mental dalam benak siswa itu penting, namun semua itu tidak dapat menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum karena tidak dapat di amati.

Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar di sejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh dapat di amati dan dapat di ukur. Asumsinya bahwa, hanya dengan cara demikianlah maka akan dapat di ramalkan perubahan-perubahan apa yang bakal terjadi setelah seseorang melakukan tindak belajar.

Pemikiran Watson (Collin, dkk: 2012) dapat di gambarkan sebagai berikut:

Teori Belajar Behavioristik Menurut Ahli

Para tokoh aliran behavioristik cenderung untuk tidak memperhatikan hal-hal yang tidak dapat di ukur dan tidak dapat di amati, seperti perubahan-perubahan mental yang terjadi ketika belajar, walaupun demikian mereka tetap mengakui hal itu penting.

Baca Juga:

3. Teori Belajar Behavioristik menurut Clark Leaonard Hull (1884-1952)

Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengrtian tentang belajar. Namun ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi yang di kembangkan oleh Charles Darwin.

Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu, teori Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia.

Sehingga stimulus dalam belajarpun hampir selalu di kaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat bermacam-macam bentuknya. Dalam kenyataannya, teori-teori demikian tidak banyak di gunakan dalam kehidupan praktis, terutama setelah Skinner memperkenalkan teorinya. Namun teori ini masih sering di pergunakan dalam berbagai eksperimen di laboratorium.

Baca Juga:

4. Teori Belajar Behavioristik menurut Edwin Ray Guthrie (1886-1959)

Demikian juga dengan Edwin Guthrie, ia juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Namun ia mengemukakan bahwa stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana yang di jelaskan oleh Clark dan Hull.

Di jelaskannya bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar siswa perlu sesering mungkin di berikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat lebih tetap.

Ia juga mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, maka di perlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar.

Hukuman yang di berikan pada saat yang tepat akan mampu merubah kebiasaan dan perilaku seseorang. Namun setelah Skinner mengemukakan dan mempopulerkan akan pentingnya penguatan (reinforcemant) dalam teori belajarnya, maka hukuman tidak lagi di pentingkan dalam belajar.

5. Teori Belajar Behavioristik menurut Burrhusm Frederic Skinner (1904-1990)

Skinner merupakan tokoh behavioristik yang paling banyak di perbincangkan, konsep-konsep yang di kemukakan oleh Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep lain yang di kemukakan oleh para tokoh sebelumnya.

Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara lebih komprehensif. Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya akan menimbulkan perubahan tingkah laku.

Pada dasarnya stimulus-stimulus yang di berikan kepada seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antara stimulus-stimulus tersebut akan mempengaruhi bentuk respon yang akan di berikan. Demikian juga dengan respon yang di munculkan inipun akan mempunyai konsekuensi-konsekuensi.

Konsekuensi-konsekuensi inilah yang pada gilirannya akan mempengaruhi atau menjadi pertimbangan munculnya perilaku. Oleh sebab itu, untuk memahami tingkah laku seseorang secara benar, perlu terlebih dahulu memahami hubungan antara stimulus satu dengan lainnya.

Serta memahami respon yang mungkin di munculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin akan timbul sebagai akibat dari respon tersebut.

Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab, setiap alat yang di gunakan perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya. Pandangan teori belajar behavioristik ini cukup lama di anut oleh para guru dan pendidik.

Namun dari semua pendukung teori ini, teori Skinerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik.

Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul, dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus–respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang di kemukakan oleh Skiner.

Teori Belajar Behavioristik banyak di kritik karena sering kali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variable atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang tidak dapat di ubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon.

Contohnya, seorang siswa akan dapat belajar dengan baik setelah di beri stimulus tertentu. Tetapi setelah di beri stimulus lagi yang sama bahkan lebih baik, ternyata siswa tersebut tidak mau belajar lagi.

Di sinilah persoalannya, ternyata Teori Belajar Behavioristik tidak mampu menjelaskan alasan-alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respon ini.

Namun Teori Belajar Behavioristik dapat mengganti stimulus satu dengan stimulus lainnya dan seterusnya sampai respon yang di inginkan muncul. Namun demikian, persoalannya adalah bahwa Teori Belajar Behavioristik tidak dapat menjawab hal-hal yang menyebabkan terjadinya penyimpangan antara stimulus yang di berikan dengan responnya.

Sebagai contoh, motivasi sangat berpengaruh dalam proses belajar. Pandangan behavioristik menjelaskan bahwa banyak siswa termotivasi pada kegiatan-kegiatan di luar kelas (bermain video-game, berlatih atletik), tetapi tidak termotivasi mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Siswa tersebut mendapatkan pengalaman penguatan yang kuat pada kegiatan-kegiatan di luar pelajaran, tetapi tidak mendapatkan penguatan dalam kegiatan belajar di kelas.

Pandangan behavioristik tidak sempurna, kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi siswa, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama.

Teori Belajar ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya.

Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat di amati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang di amati tersebut.

Teori Belajar Behavioristik juga cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif.

Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan siswa untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi.

Padahal banyak faktor yang berpengaruh dalam hidup ini yang mempengaruhi proses belajar. Jadi pengertian belajar tidak sesederhana yang di lukiskan oleh Teori Belajar Behavioristik.

Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda / tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dan lain-lain).

Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung Teori Belajar Behavioristik memang tidak menganjurkan di gunakannya hukuman dalam kegiatan belajar.

Beberapa prinsip belajar Skinner antara lain:

  1. Hasil belajar harus segera di beritahukan kepada siswa, jika salah di betulkan, jika benar di beri penguat.
  2. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
  3. Materi pelajaran, di gunakan sistem modul.
  4. Dalam proses pembelajaran, lebih di pentingkan aktivitas sendiri.
  5. Dalam proses pembelajaran, tidak di gunakan hukuman. Untuk ini lingkungan perlu di ubah, untuk menghindari adanya hukuman.
  6. Tingkah laku yang di inginkan pendidik, di beri hadiah, dan sebaiknya hadiah di berikan dengan di gunakannya jadwal variable rasio reinforcer.
  7. Dalam pembelajaran, di gunakan shaping.

Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi siswa untuk bebas berpikir dan berimajinasi. Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar.

Baca Juga:

Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu;

  1. Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara.
  2. Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama.
  3. Hukuman mendorong si terhukum mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk dari pada kesalahan yang di perbuatnya.

Skinner lebih percaya kepada apa yang di sebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman.

Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus di berikan (sebagai stimulus) agar respon yang akan muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus di kurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat.

Misalnya, seorang siswa perlu di hukum karena melakukan kesalahan. Jika siswa tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus di tambahkan.

Tetapi jika sesuatu yang tidak mengenakkan siswa (sehingga ia melakukan kesalahan) di kurangi (bukan malah di tambah) dan pengurangan ini mendorong siswa untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang di sebut penguat negatif.

Lawan dari penguat negatif adalah penguat positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah bahwa penguat positif itu di tambah, sedangkan penguat negatif adalah di kurangi agar memperkuat respons.

D. Penerapan Teori Belajar Behavioristik dalam Kegiatan Pembelajaran

Aliran psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan praktek pendidikkan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.

Teori Belajar Behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respons atau perilaku tertentu dapat di bentuk karena di kondisi dengan cara tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila di berikan reinforcement, dan akan menghilang bila di kenai hukum.

Istilah-istilah seperti hubungan stimulus-respon, individu atau siswa pasif, perilaku sebagai hasil belajar yang tampak, pembentukan perilaku (shaping) dengan penataan kondisi secara ketat, reinforcement dan hukuman, ini semua merupakan unsur-unsur yang sangat penting dalam Teori Belajar Behavioristik.

Teori ini hingga sekarang masih merajai praktek pembelajaran di Indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti Kelompok bermain, Taman Kanak-kanak, Sekolah-Dasar, Sekolah Menengah, bahkan sampai di Perguruan Tinggi, pembentukan perilaku dengan cara drill (pembiasaan) di sertai dengan reinforcement atau hukuman masih sering di lakukan.

Karena Teori Belajar Behavioristik memandang bahwa sebagai sesuatu yang ada di dunia nyata telah tersetruktur rapi dan teratur, maka siswa atau orang yang belajar harus di hadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan di tetapkan lebih dulu secara ketat.

Aplikasi Teori Belajar Behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti; tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.

Pembelajaran yang di rancang dan di laksanakan berpijak pada Teori Belajar Behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau siswa.

Siswa di harapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang di ajarkan. Artinya, apa yang di pahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus di pahami oleh murid.

Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui proses berpikir yang dapat di analisis dan di pilah, sehingga makna yang di hasilkan dari proses berpikir seperti ini di tentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut.

Pembiasaan dan di siplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak di kaitkan dengan penegakan di siplin.

Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan di kategorikan sebagai kesalahan yang perlu di hukum, dan keberhasilan belajar atau kemampuan di kategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas di beri hadiah.

Demikian juga, ketaatan pada aturan di pandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa atau siswa adalah obyek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus di pegang oleh sistem yang berada di luar diri siswa.

Tujuan pembelajaran menurut Teori Belajar Behavioristik di tekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas “mimetic”, yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah di pelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes.

Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan.

Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak di dasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut.

Thorndike (Schunk, 2012) kemudian merumuskan peran yang harus di lakukan guru dalam proses pembelajaran, yaitu:

  1. Membentuk kebiasaan siswa. Jangan berharap kebiasaan itu akan terbentuk dengan sendirinya
  2. Berhati hati jangan smpai membentuk kebiasaan yang nantinya harus di ubah. Karena mengubah kebiasaan yang telah terbentuk adalah hal yang sangat sulit.
  3. Jangan membentuk dua atau lebih kebiasaan, jika satu kebiasaan saja sudah cukup
  4. Bentuklah kebiasaan dengan cara yang sesuai dengan bagaimana kebiasaan itu akan di gunakan.

Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut satu jawaban benar.

Maksudnya, bila siswa menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.

Evaluasi belajar di pandang sebagai bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya di lakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran.

Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan siswa secara individual. Salah satu contoh pembelajaran behavioristik adalah pembelajaran terprogram (PI/Programmed Instruction), di mana pembelajaran terprogram ini merupakan pengembangan dari prinsip-prinsip pembelajaran Operant conditioning menurut oleh Skinner. Dalam Schunk (2012) PI melibatkan beberapa prinsip pembelajaran.

Dalam pembelajaran terprogram, materi di bagi menjadi frame-frame secara berurutan yang setiap frame memberikan informasi dalam potongan kecil dan di lengkapi dengan test yang akan di respon oleh siswa. Pada jaman modern ini, aplikasi Teori Belajar Behavioristik berkembang pada pembelajaran dengan powerpoint dan multimedia.

Olehnya itu, dalam pembelajaran dengan powerpoint, pembelajaran cenderung terjadi satu arah. Materi di sampaikan dalam bentuk powerpoint yang telah di susun secara rinci.

Sementara itu pada pembelajaran dengan multimedia, siswa di harapkan memiliki pemahaman yang sama dengan pengembang, materi di susun dengan perencanaan yang rinci dan ketat dengan urutan yang jelas, latihan yang di berikan pun cenderung memiliki satu jawaban benar.

Feedback pada pembelajaran dengan multimedia cenderung di berikan sebagai penguatan dalam setiap soal, hal ini serupa dengan program pembelajaran yang pernah di kembangkan Skinner (Collin, 2012), di mana Skinner mengembangkan model pembelajaran yang di sebut “teaching machine” yang memberikan feedback kepada siswa bila memberikan jawaban benar dalam setiap tahapan dari pertanyaan test, bukan sekedar feedback pada akhir test.

Hal-hal yang harus di perhatikan dalam menerapkan teori-teori behavioristik adalah ciri-ciri kuat mendasarinya yaitu:

a. Mementingkan pengaruh lingkungan.
b. Mengutamakan bagian-bagian (elementalistik).
c. Mementingkan peranan reaksi.
d. Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon.
e. Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya.
f. Hasil belajar yang di capai adalah munculnya perilaku yang di inginkan  
g. Mementingkan pembentukan kebiasan melalui latihan dan pengulangan.

E. Kelebihan Teori Belajar Behavioristik

Dalam penerapannya terdapat setidaknya 6 kelebihan dari teori belajar ini,

  1. Guru tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui stimulasi.
  2. Bahan pelajaran disusun secara hirarki dari yang sederhana sampai pada yang kompleks.
  3. Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu.
  4. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati dan jika terjadi kesalahan harus segera diperbaiki.
  5. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan.
  6. Metode behavioristik ini sangat cocok untuk pemerolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, rafleks, daya tahan dan sebagainya contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahragam dan sebagainya.
    Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.

F. Kekurangan Teori Belajar Behavioristik

Sedangkan, kekurangan dari teri belajar ini diantaranya adalah,

  1. Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher centered learning), bersifat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat di amati dan di ukur.
  2. Mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa sebagai sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus di pelajari murid.
  3. Murid di pandang pasif, perlu motivasi dari luar, dan sangat di pengaruhi oleh penguatan yang di berikan guru.
  4. Penggunaan hukuman yang sangat di hindari oleh para tokoh begavioristik justru di anggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.
  5. Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang di dengar dan di pandang sebagai cara belajar yang efektif.

G. Kesimpulan

Teori belajar behavioristik masih di rasakan manfaatnya dalam kegiatan pembelajaran. Selain teori ini telah mampu memberikan sumbangan atau motivasi bagi lahirnya teori-teori belajar yang baru, juga karena prinsip-prinsipnya (walaupun terbatas) terasa masih dapat di aplikasikan secara praktis dalam pembelajaran hingga kini.

Walaupun teori ini mulai mendapatkan kritikan, namun dalam hal-hal tertentu masih di perlukan khususnya dalam mempelajari aspek-aspek yang sifatnya relatif permanen dengan tujuan belajar yang telah di rumuskan secara ketat.

Secara ringkas, Teori Belajar Behavioristik mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku. Seseorang di anggap telah belajar sesuatu jika ia telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku.

Pandangan behavioristik mengakui pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons.

Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respons di anggap tidak penting di perhatikan sebab tidak bisa di amati dan di ukur. Yang bisa di amati dan di ukur hanyalah stimulus dan respons.

Penguatan (reinforcement) adalah faktor penting dalam belajar. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons.

Bila penguatan di tambahkan (positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Demikian juga jika penguatan di kurangi (negative reinforcement) maka respons juga akan menguat. Tokoh-tokoh penting Teori Belajar Behavioristik antara lain Thorndike, Watson, Skiner, Hull dan Guthrie.

Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan belajar di tekankan sebagai aktifitas “mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah di pelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan.

Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar. Jawaban yang benar menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.

H. Daftar Rujukan

Rujukan utama yang dipake dalam tulisan ini adalah Modul Belajar mahasiswa PPG tahun 2019. Rujukan lainnya sebagai berikut.

  • Biehler, R.F. & Snowman, J. (1982). Psychology Applied to Teaching, Fourth edition, Boston: Houghton Mifflin Company.
  • Collin, Catherine, dkk. 2012. The Psychology Book. London: DK.
  • Dahar, R. W., (1989). Teori-teori Belajar. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti, P2LPTK.
  • Degeng, I.N.S., (1989). Ilmu Pengajaran: Taksonomi Variabel. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti, P2LPTK.
  • Degeng N.S., (1997). Pandangan Behavioristik vs Konstruktivistik: Pemecahan Masalah Belajar Abad XXI. Malang: Makalah Seminar TEP.
  • Dimyati, M, (1989). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti, P2LPTK
  • Gage, N.L., & Berliner, D. (1979). Educational Psychology. Second Edition, Chicago: Rand McNally.
  • Raka Joni, T. (1990). Cara belajar siswa aktif: CBSA: artikulasi konseptual, jabaran operasional, dan verivikasi empirik. Pusat Penelitian IKIP Malang.
  • Ratna Wilis D. (1996). Teori-teori Belajar. Jakarta : Erlangga
  • Schunk, Dale. H. 2012. Learning Theories an Educational Perspective. Edisi keenam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Smaldino, dkk. 2010. Instructional Technology and Media for Learning. 10th edition. United State of America: Pearson.
  • Smaldino, dkk. 2012. Instructional Technology and Media for Learning. 11th edition. United State of America: Pearson.

Terima kasih telah membaca artikel ini,
semoga bermanfaat.


Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: