Teori Belajar Ausubel

23 min read

Teori Belajar Bermakna David Ausubel

HermanAnis.com – Teman-teman semua, pada kesempatan kali ini kita masih akan membahas tentang teori-teori belajar dengan fokus pembahasan adalah Teori Belajar Ausubel. Teori belajar Ausubel ini lebih dikenal sebagai teori belajar Bermakna David Ausubel. David Ausubel merupakan salah satu pelopor dalam teori belajar kognitif. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Inilah yang membedakan Ausubel dari pakar pendidikan lainnya. Ausubel memberi penekanan pada belajar bermakna.  

Teori Belajar Bermakna David Ausubel

Definisi Belajar Bermakna dalam Teori Belajar Ausubel

Teori belajar adalah suatu teori yang di dalamnya terdapat tata cara pengaplikasian kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa. Perancangan metode pembelajaran yang akan di laksanakan di kelas maupun di luar kelas.

Namun teori belajar ini tidaklah semudah yang di kira, dalam prosesnya. Teori belajar ini membutuhkan berbagai sumber sarana yang dapat menunjang, seperti: lingkungan siswa, kondisi psikologi siswa, perbedaan tingkat kecerdasan siswa.

Semua unsur ini dapat di jadikan bahan acuan untuk menciptakan suatu model teori belajar yang di anggap cocok, tidak perlu terpaku dengan kurikulum yang ada asalkan tujuan dari teori belajar ini sama dengan tujuan pendidikan.

Menurut Ausubel belajar dapat di klasifikasikan ke dalam dua dimensi yakni dimensi yang berhubungan dengan cara informasi/materi di sajikan dan dimensi yang berkaitan dengan bagaimana cara siswa dapat mengaitkan informasi atau materi pelajaran pada struktur kognitif yang telah dimilikinya.

Dimensi yang berhubungan dengan cara informasi/materi di sajikan kepada siswa melalui penemuan atau penerimaan, dimana belajar penerimaan menyajikan materi dalam bentuk yang utuh. Belajar penemuan mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang di ajarkan.

Sementara dimensi kedua berkaitan dengan bagaimana cara siswa dapat mengaitkan informasi atau materi pelajaran pada struktur kognitif yang telah dimilikinya. Akan tetapi jika siswa hanya mencoba-coba menghapal informasi baru tanpa menghubungkan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitifnya, maka dalam hal ini yang terjadi adalah belajar hafalan.

Belajar Bermakna menurut Ausubel

Teori Belajar Bermakna David Ausubel

Sebagai pelopor aliran kognitif Belajar Bermakna David Ausubel merupakan proses mengaitkan informasi baru dengan konsep-konsep yang terdapat dan relevan dalam struktur kognitif seseorang.  

Selanjutnya, pembelajaran yang dapat menimbulkan/memicu belajar bermakna jika memenuhi prasyarat:

  1. Materi yang akan di pelajari secara Potensial
  2. Anak yang belajar bertujuan melaksanakan belajar bermakna.  

Kebermaknaan materi pelajaran secara potensial tergantung dari materi itu memiliki kebermaknaan logis dan gagasan-gagasan yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Pandangan Teori Belajar Ausubel terkait dengan belajar Bermakna memiliki 4 prinsip pembelajaran , yakni:

  1. Pengaturan awal
  2. Diferensiasi progresif
  3. Belajar superordinat
  4. Penyesuaian Integratif

Berikut penjelasan selengkapnya,

Pengatur awal (advance organizer)

Pengatur awal atau bahan pengait dapat di gunakan guru dalam membantu mengaitkan konsep lama dengan konsep baru yang lebih tinggi maknanya.  Penggunaan pengatur awal tepat dapat meningkatkan pemahaman berbagai macam materi, terutama materi pelajaran yang telah mempunyai struktur yang teratur.

Pada saat mengawali pembelajaran dengan prestasi suatu pokok bahasan sebaiknya “pengatur awal” itu di gunakan, sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.  

Diferensiasi progresif

Dalam proses Belajar Bermakna dalam Teori Belajar Ausubel perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep-konsep. Caranya unsur yang paling umum dan inklusif di perkenalkan dahulu kemudian baru yang lebih mendetail, berarti proses pembelajaran dari umum ke khusus.  

Belajar superordinat

Belajar superordinat adalah proses struktur kognitif yang mengalami petumbuhan kearah deferensiasi, terjadi sejak perolehan informasi dan di asosiasikan dengan konsep dalam struktur kognitif tersebut. Proses belajar tersebut akan terus berlangsung hingga pada suatu saat di temukan hal-hal baru. Belajar superordinat akan terjadi bila konsep- konsep yang lebih luas dan inklusif.  

Penyesuaian Integratif

Pada suatu saat siswa kemungkinan akan menghadapi kenyataan bahwa dua atau lebih nama konsep di gunakan untuk menyatakan konsep yang sama atau bila nama yang sama di terapkan pada lebih satu konsep.

Untuk mengatasi pertentangan kognitif itu, Belajar Bermakna dalam Belajar David Ausubel mengajukan konsep pembelajaran penyesuaian integratif. Caranya materi pelajaran di susun sedemikian rupa, sehingga guru dapat menggunakan hierarki-hierarki konseptual ke atas dan ke bawah selama informasi di sajikan.  

Proses Pembelajaran Bermakna dalam Teori Belajar Ausubel

Piaget telah di kenal luas sebagai salah seorang ahli perkembangan kognitif. Sebagai penghargaan kepadanya, Wadsworth menulis:

To Jean Piaget and Stephen Davol – Two men who understood children, development, and how to help others learn”.

Teori-teori belajar dari Piaget telah di dasarkan pada hasil interviu klinis dengan beberapa orang anak, termasuk dengan dua putrinya sendiri. Awalnya, anak tersebut di hadapkan dengan suatu tugas atau persoalan. Selanjutnya, si anak di minta mengungkapkan secara lisan hal-hal yang sedang di pikirkannya.  

Pertanyaan-pertanyaan berikutnya dapat di ajukan penginterviu yang bertindak sebagai peneliti sedemikian rupa sehingga si anak tersebut dapat menjelaskan dan mengungkapkan secara lebih jauh dan terinci alasan-alasan di balik pendapatnya itu (Resnick & Ford, 1981).

Sejalan dengan itu, Shadiq (1999) telah belajar dari seorang anak kecil, Nani, yang telah memberi nama “batu lengket” untuk magnet karena magnet tersebut mirip sekali dengan batu-batuan yang ada di belakang rumahnya.  

Tentunya, pendapat itu salah karena tidak sesuai dengan pengetahuan Fisika. Meskipun begitu, si Nani akan tetap menganggap pendapatnya itu benar.

Itulah sebabnya, setiap anak selalu dengan yakin dan mantap akan menceritakan jalan pikirannya sendiri, tidak peduli pendapatnya tersebut benar atau salah, sehingga lebih mudah untuk di pelajari orang-orang di sekitarnya seperti yang sudah di lakukan Piaget.

Tulisan tentang ‘belajar bermakna’ sebagai lawan dari ‘belajar hafalan’ atau ‘belajar dengan membeo’ berikut ini akan di mulai dengan ceritera tentang si Nani lagi. Tentunya, si Nani yang waktu itu berlagak seperti seorang guru TK terhadap bapaknya tidak akan menyadari jika dia di anggap seperti burung beo oleh bapaknya.

Pada suatu hari, Fitriani Fajar yang waktu itu berumur sekitar 4,5 tahun dan masih duduk di bangku TK bertanya kepada bapaknya. Dari nada bicaranya tergambar bahwa ia ingin menguji apakah bapaknya sudah tahu tentang penjumlahan dua bilangan yang baru saja ia pelajari dari temannya.

Percakapan mereka adalah sebagai berikut (N =Nani, B = Bapaknya).

N: “Bapak! Dua tambah dua berapa? Ayo …!”
B: “Menurut Nani?”
N: “Bapak dulu.”
B: “Oke. Oke. Dua tambah dua sama dengan empat.”
N: “Betul.” Ia berlagak seperti guru TK yang membenarkan jawaban siswanya.
B: “Tahu dari mana bahwa dua tambah dua sama dengan empat?”
N: “Dari Ari. Ari tahu dari bapaknya.”
B: “Nani percaya?”
N: “Ya. Bapaknya Ari kan pintar.”
B: “Kenapa dua tambah dua sama dengan empat?”
N: “Ya karena dua tambah dua sama dengan empat.”
B: “Kalau satu tambah dua?”
N: “Nani belum tahu.”
B: “Kenapa?”
N: “Ari belum memberi tahu. Mungkin bapaknya belum mengajarinya.”
B: “Kalau satu tambah satu?”
N: “Dua.”
B: “Ah masak?”
N: “Tiga … tiga … tiga … .”
B: “Yang benar. Masak tiga.”
N: “Empat … empat … ! Lima …! Tujuh … tujuh … . Kalau begitu berapa?”
B: “Ya dua.”
N: “Nani kan sudah bilang dua tadi. E … bapak menipu.”  

Nani telah menunjukkan kepada kita bahwa ia telah mampu dengan benar atau kompeten menentukan nilai dari penjumlahan 2 + 2 ataupun 1 + 1.

Namun, apakah ia memahami mengapa dan darimana 2 + 2 = 4 dan 1 + 1 = 2? Ketika ia di tanya bapaknya mengapa 2 + 2 = 4?, ia menjawab: ”Ya karena 2 + 2 = 4,” tanpa alasan yang jelas.

Artinya, si Nani hanya meniru pada apa yang di ucapkan teman sebayanya yaitu si Ari. Tidaklah salah jika ada orang yang lalu menyatakan bahwa si Nani telah belajar dengan membeo. Seperti halnya seekor burung beo yang dapat menirukan ucapan tertentu namun sama sekali tidak mengerti isi ucapannya tersebut.

Jika si Ari, temannya, menyatakan 2 + 3 = 5 maka sangat besar kemungkinannya jika si Nani akan mengikutinya. Cara belajar dengan membeo seperti yang telah di lakukan si Nani tadi di sebut dengan belajar hafalan (rote learning) oleh David P Ausubel (Orton, 1987).  

Cara menghindari Belajar Hafalan dalam Teori Belajar Ausubel

Pertanyaan yang mungkin muncul adalah apa yang di maksud dengan belajar hafalan (rote learning). Ausubel menyatakan bahwa:

“…, if the learner’s intention is to memorise it verbatim, i,e., as a series of arbitrarily related word, both the learning process and the learning outcome must necessarily be rote and meaningless”.

Intinya, jika seorang anak, contohnya si Nani, berkeinginan untuk mengingat sesuatu tanpa mengaitkan hal yang satu dengan hal yang lain maka baik proses maupun hasil pembelajarannya dapat di nyatakan sebagai hafalan dan tidak akan bermakna sama sekali baginya.  

Contoh lain yang dapat di kemukakan tentang belajar hafalan ini adalah beberapa siswa SD kelas 1 ataui 2 yang dapat mengucapkan: “Ini Budi.

Ini Ibu Budi,” namun ia tidak dapat menentukan sama sekali mana yang “i” dan mana yang “di”. Contoh lain dari belajar menghafal adalah siswa yang dapat mengingat dan menyatakan rumus luas persegipanjang adalah l = p × l, namun ia tidak bisa menentukan luas suatu persegi panjang karena ia tidak tahu arti lambang l, p, dan l.  

Salah satu kelemahan dari belajar hafalan atau belajar membeo telah di tunjukkan Nani di mana jawaban yang benar, yaitu 1 + 1 = 2, di ubah dengan jawaban yang lain ketika jawaban tersebut pura-pura di anggap sebagai jawaban yang salah oleh bapaknya.

Intinya, si Nani tidak memiliki dasar yang kuat untuk meyakinkan dirinya sendiri, apalagi meyakinkan orang lain bahwa 1 + 1 = 2. Lebih celaka lagi kalau temannya tadi mengajari Nani bahwa 1 + 1 = 4 dan 2 + 2 = 6. Tidak mustahil jika ia mengikutinya.

Di samping itu, ia tidak bisa menjawab soal baru seperti 1 + 2 maupun 2 + 1 karena temannya belum mengajari hal itu.  

Materi pelajaran matematika bukanlah pengetahuan yang terpisah-pisah namun merupakan pengetahuan yang saling berkait antara pengetahuan yang satu dengan pengetahuan lainnya.

Seorang anak atau siswa tidak akan memahami pengertian penjumlahan dua bilangan jika ia tidak tahu arti dari “1” maupun “2”.

Ia harus tahu bahwa “1” menunjuk pada banyaknya sesuatu yang tunggal seperti banyaknya kepala, mulut, lidah dan seterusnya; sedangkan “2” menunjuk pada banyaknya sesuatu yang perpasangan seperti banyaknya mata, telinga, kaki, …dan seterusnya.  

Di samping itu, sering terjadi, ketika sedang menghitung sesuatu, tangan sang anak kecil masih ada di batu ke-4 namun ia sudah mengucapkan “tiga”, “lima”, atau malah “enam”.

Kesalahan sepele seperti ini akan berakibat pada kesalahan menjumlah dua bilangan. Hal yang lebih parah akan terjadi jika ia masih sering meloncat-loncat di saat membilang dari satu sampai sepuluh.

Dari apa yang di paparkan di atas jelaslah bahwa untuk dapat menguasai materi Matematika, seorang anak harus menguasai beberapa kemampuan dasar lebih dahulu.  

Setelah itu, si anak harus mampu mengaitkan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah di punyainya, sehingga proses pembelajarannya menjadi bermakna.

Karenanya, Belajar Bermakna David Ausubel menyatakan hal berikut sebagaimana di kutip Orton (1987:34):

“If I had to reduce all of educational psychology to just one principle, I would say this: The most important single factor influencing learning is what the learner already knows. Ascertain this and teach him accordingly”.

Jelaslah bahwa pengetahuan yang sudah dimiliki siswa akan sangat menentukan berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran. Untuk menjelaskan tentang belajar bermakna ini, perhatikan tiga bilangan berikut.

Menurut Anda, dari tiga bilangan berikut: (a) 50.471.198 (b) 54.918.071 (c) 17.081.945 manakah yang lebih mudah di pelajari atau di ingat para siswa?

Seorang siswa dapat saja mengingat ketiga bilangan tersebut yaitu dengan mengucapkan bilangan tersebut berulang-ulang beberapa kali.

Namun sebagai warga bangsa Indonesia tentunya Bapak dan Ibu Guru akan meyakini bahwa bilangan (c) yaitu 17.081.945 merupakan bilangan yang paling mudah di pelajari jika bilangan tersebut di kaitkan dengan tanggal 17 – 08 – 1945 yang merupakan hari kemerdekaan Republik Indonesia.  

Proses pembelajaran bilangan 17.081.945 (tujuh belas juta delapan puluh satu ribu sembilan ratus empat puluh lima) akan bermakna bagi siswa hanya jika si siswa, dengan bantuan gurunya, dapat mengaitkannya dengan tanggal keramat 17 Agustus 1945 yang sudah ada di dalam kerangka kognitifnya.

Bilangan (a) merupakan bilangan yang paling sulit untuk di pelajari karena aturan atau polanya belum di ketahui. Contoh di atas menunjukkan bahwa suatu proses pembelajaran akan lebih mudah di pelajari dan di pahami siswa jika para guru mampu dalam memberi kemudahan bagi siswanya sedemikian sehingga para siswa dapat mengaitkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah di milikinya.

Itulah inti dari belajar bermakna (meaningful learning) yang telah di gagas David P Ausubel.      

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar bermakna dalam Teori Belajar Ausubel

Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Belajar Bermakna David Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu.

Sifat-sifat struktur kognitif menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru masuk ke dalam struktur kognitif itu; demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi. Jika struktur kognitif itu stabil, dan di atur dengan baik, maka arti-arti yang sahih dan jelas atau tidak meragukan akan timbul dan cenderung bertahan.

Tetapi sebaliknya jika struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak teratur, maka struktur kognitif itu cenderung menghambat belajar dan retensi.  

Penerapan Belajar Bermakna dalam Teori Belajar Ausubel

Teori Belajar Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna. Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar- akan bermanfaat kalau mereka banyak di libatkan dalam kegiatan langsung.

Namun untuk siswa pada tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk mereka, menurut teori belajar bermakna Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, di agram, dan ilustrasi.

Inti dari belajar bermakna dalam teori belajar Ausubel adalah proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna kalau guru dalam menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi siswa.  

Pada belajar bermakna siswa dapat mengasimilasi pada belajar bermakna secara penerimaan, materi pelajaran di sajikan dalam bentuk final, sedangkan pada belajar bermakna secara penemuan, siswa di harapkan dapat menemukan sendiri informasi konsep atau dari materi pelajaran yang di sampaikan.

Belajar bermakna dapat terjadi jika siswa mampu mengkaitkan materi pelajaran baru dengan struktur kognitif yang sudah ada. Struktur kognitif tersebut dapat berupa fakta-fakta, konsep-konsep maupun generalisasi yang telah di peroleh atau bahkan di pahami sebelumnya oleh siswa.

Bruner memandang manusia sebagai pemproses, pemikir, dan pencipta informasi. Menurut Bruner, inti belajar adalah cara-cara bagaimana manusia memilih, mempertahankan, mentransformasikan informasi secara aktif. Masih menurut Bruner, di dalam orang yang belajar, hal-hal yang memiliki kesamaan atau kemiripan di hubungkan menjadi struktur yang memberikan arti pada hal-hal yang di pelajari.

Sebagaimana Piaget dalam pendidikan, Bruner juga menyarankan pendekatan child centered approach yang di hubungakan dengan belajar penemuan (discovery learning). Robert Gagne membagi tipe belajar ke dalam 8 jenis yang paling rendah tingkatannya, yaitu belajar isyarat (signal learning) sampai ke yang paling tinggi yaitu pemecahan masalah (probem solving).  

Secara lengkap tipe-tipe belajar adalah probem solving, rule learning, concept learning, discrimination learning, verbal learning, chaining, stimulus-response learning dan signal learning.

Dalam menjelaskan proses belajar, Piaget menggunakan 3 istilah yang sering di gunakan pada Biologi (hal ini sesuai dengan latar belakang akademiknya), yaitu asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi. Akomodasi merupakan anak untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Dalam hal ini lingkungan menuntut anak untuk melakukan sesuatu.  

Anak harus mengubah dirinya untuk melakukan hal itu, sebagai contoh, jika seorang anak menemukan sebuah benda yang menghalangi jalan bagi mainannya (mobil-mobilan misalnya), anak tersebut menemukan penyelesaian yang membuat dirinya dapat memudahkan benda yang menghalangi itu dan mainannya dapat berjalan lagi.

Asimilasi di lain pihak, adalah kemampuan anak mengubah untuk memenuhi apa yang ia imajinasikan. Anak memiliki ide apa yang ia inginkan dan memodifikasi lingkungan untuk mencapai hal tersebut. Ia mungkin melakukan modifikasi melalui aktifitas mental, misalnya seorang anak berumur 4 tahun menganggap sebatang sedotan minuman sebagai tongkat ajaib atau lempengan plastik di anggapnya sebagi pedang yang ampuh.

Namun, dapat juga ia melakukannya dengan aktifitas fisik, misalnya seorang anak membuat rumah rumahan, sebuah arca atau sebuah candi dari pasir. Hal ini sering di hubungkan dengan ‘bermain’ (play), yang sangat di sukai oleh anak-anak. Memang antarasimilasi dan bermain terdapat hubungan yang sangat erat.  

Kita semua tahu bahwa anak suka bermain dan asimilasi menjelaskan mekanisme psikologis mengenai hal itu. Dalam bermain anak-anak mentransformasikan objek-objek untuk memenuhi imajinasi yang ada pada dirinya.

Secara mudah dapat di katakan bahwa asimilasi melibatkan proses transformasi pengalaman di dalam pikiran, sedangkan akomodasi melibatkan proses penyesuaian pikiran terhadap pengalaman yang baru.

Pada sembarang tahapan (stage) perkembangan, akomodasi atau asimilasi salah satu untuk sementara mendominasi dan baru kemudian di gantikan oleh yang lain. Akhirnya suatu keseimbangan (equilibrium) akan di peroleh (untuk tahapan tertentu) melalui proses penyeimbangan atau ekuilibrasi (equilibration).  

Ekuilibrasi merupakan kemampuan anak untuk menyusun dan mengatur. Kalau semenjak kecil ia terbiasa dengan peta konsep, maka proses belajarnya akan menjadi lebih efektif, karena keping yang baru itu bisa segera di tempatkan pada dahan/ cabang yang tepat atau suatu saat bisa di update pada cabang yang lebih tepat bila di temukan informasi-informasi yang relevan.  

Peta Konsep Belajar Bermakna dalam Teori Belajar Ausubel 

Peta konsep merupakan salah satu bagian dari strategi organisasi. Strategi organisasi bertujuan membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan organisasi bertujuan membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru, terutama di lakukan dengan mengenakan struktur-struktur pengorganisasian baru pada bahan-bahan tersebut.

Strategi-strategi organisasi dapat terdiri dari pengelompokan ulang ide-ide atau istilah-istilah atau membagi ide-ide atau istilah-istilah itu menjadi subset yang lebih kecil. Strategi-strategi ini juga terdiri dari pengidentifikasian ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar.  

Salah satu pernyataan dalam Belajar Bermakna dalam Teori Belajar Ausubel adalah ‘bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi pembelajaran adalah apa yang telah di ketahui siswa (pengetahuan awal). Jadi supaya belajar jadi bermakna, maka konsep baru harus di kaitkan dengan konsep-konsep yang ada dalam struktur kognitif siswa, ini yang di sebut Teknik Konstruktivisme.

Belajar Bermakna dalam Teori Belajar Ausubel belum menyediakan suatu alat atau cara yang sesuai yang di gunakan guru untuk mengetahui apa yang telah di ketahui oleh para siswa. Berkenaan dengan itu Novak dan Gowin (1985) mengemukakan bahwa cara untuk mengetahui konsep-konsep yang telah di miliki siswa, supaya belajar bermakna berlangsung dapat di lakukan dengan pertolongan peta konsep.  

Pengertian Konsep dalam Belajar Bermakna dalam Teori Belajar Ausubel 

Konsep dapat di defenisikan dengan bermacam-macam rumusan. Salah satunya adalah defenisi yang di kemukakan Carrol dalam Kardi (1997) bahwa konsep merupakan suatu abstraksi dari serangkaian pengalaman yang di definisikan sebagai suatu kelompok obyek atau kejadian.

Abstraksi berarti suatu proses pemusatan perhatian seseorang pada situasi tertentu dan mengambil elemen-elemen tertentu, serta mengabaikan elemen yang lain. Tidak ada satu pun definisi yang dapat mengungkapkan arti yang kaya dari konsep atau berbagai macam konsep-konsep yang di peroleh para siswa.

Oleh karena itu konsep-konsep itu merupakan penyajian internal dari sekelompok stimulus, konsep-konsep itu tidak dapat di amati, dan harus di simpulkan dari perilaku. Dahar menyatakan bahwa konsep merupakan dasar untuk berpikir, untuk belajar aturan-aturan dan akhirnya untuk memecahkan masalah.

Dengan demikian konsep itu sangat penting bagi manusia dalam berpikir dan belajar. Pemetaan konsep merupakan suatu alternatif selain outlining, dan dalam beberapa hal lebih efektif daripada outlining dalam mempelajari hal-hal yang lebih kompleks.

Peta konsep di gunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi merupakan dua atau lebih konsep yang di hubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantik (Novak).  

George Posner dan Alan Rudnitsky menyatakan bahwa peta konsep mirip peta jalan, namun peta konsep menaruh perhatian pada hubungan antar ide-ide, bukan hubungan antar tempat. Peta konsep bukan hanya meggambarkan konsep-konsep yang penting melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu.

Dalam menghubungkan konsep-konsep itu dapat di gunakan dua prinsip, yaitu di ferensiasi progresif dan penyesuaian integratif. Menurut Belajar Bermakna dalam Teori Belajar Ausubel diferensiasi progresif adalah suatu prinsip penyajian materi dari materi yang sulit di pahami.

Sedang penyesuaian integratif adalah suatu prinsip pengintegrasian informasi baru dengan informasi lama yang telah di pelajari sebelumnya. Oleh karena itu belajar bermakna lebih mudah berlangsung, jika konsep-konsep baru di kaitkan dengan konsep yang inklusif.

Untuk membuat suatu peta konsep, siswa di latih untuk mengidentifikasi ide-ide kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam suatu pola logis.

Kadang-kadang peta konsep merupakan diagram hirarki, kadang peta konsep itu memfokus pada hubungan sebab akibat. Untuk mendapatkan pemahaman terhadap peta konsep yang lebih jelas, maka ciri-ciri peta konsep sebagai berikut:

  • Peta konsep (pemetaan konsep) adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi fisika, kimia, biologi, matematika dan lain-lain. Dengan membuat sendiri peta konsep siswa “melihat” bidang studi itu lebih jelas, dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna.  
  • Suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu bidang studi atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang memperlihatkan hubungan-hubungan proposisional antara konsep-konsep. Hal inilah yang membedakan belajar bermakna dari belajar dengan cara mencatat pelajaran tanpa memperlihatkan hubungan antara konsep-konsep.  
  • Ciri yang ketiga adalah mengenai cara menyatakan hubungan antara konsep-konsep. Tidak semua konsep memiliki bobot yang sama. Ini berarti bahwa ada beberapa konsep yang lebih inklusif dari pada konsep-konsep lain.  
  • Ciri keempat adalah hirarki. Jika dua atau lebih konsep di gambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep tersebut.

Peta konsep dapat menunjukkan secara visual berbagai jalan yang dapat ditempuh dalam menghubungkan pengertian konsep di dalam permasalahanya. Peta konsep yang di buat murid dapat membantu guru untuk mengetahui miskonsepsi yang dimiliki siswa dan untuk memperkuat pemahaman konseptual guru sendiri dan disiplin ilmunya.

Selain itu peta konsep merupakan suatu cara yang baik bagi siswa untuk memahami dan mengingat sejumlah informasi baru (Arends, 1997: 251).  

Cara Menyusun Peta Konsep  

Peta konsep memegang peranan penting dalam belajar bermakna. Oleh karena itu siswa hendaknya pandai menyusun peta konsep untuk meyakinkan bahwa siswa telah belajar bermakna. Langkah-langkah berikut ini dapat di ikuti untuk menciptakan suatu peta konsep.

  • Langkah 1: mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep.  
  • Tahap 2: mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide utama  
  • Langkah 3: menempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta tersebut  
  • Tahap 4: mengelompokkan ide-ide sekunder di sekeliling ide utama yang secara visual menunjukan hubungan ide-ide tersebut dengan ide utama.  

Berdasarkan pendapat di atas dapat di kemukakan langkah-langkah menyusun peta konsep sebagai berikut:  

  • Memilih suatu bahan bacaan  
  • Menentukan konsep-konsep yang relevan  
  • Mengelompokkan (mengurutkan) konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif  
  • Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep-konsep yang paling inklusif di letakkan di bagian atas atau di pusat bagan tersebut.   Dalam menghubungkan konsep-konsep tersebut di hubungkan dengan kata hubung. Misalnya “merupakan”, “dengan”, “di peroleh”, dan lain-lain.  

Peta Konsep sebagai Alat Ukur Alternatif  

Tes seperti pilihan ganda yang selama ini di pandang sebagai alat ukur (uji) keberhasilan siswa dalam menempuh jenjang pendidikan tertentu, bukanlah satu-satunya alat ukur untuk menentukan keberhasilan siswa. Tingkat keberhasilan siswa dalam menyerap pengetahuan sangat beragam, maka di perlukan alat ukur yang beragam.

Peta konsep adalah salah satu bentuk penilaian kinerja yang dapat mengukur siswa dari sisi yang berbeda. Penilaian kinerja adalah bentuk penilaian yang di gunakan untuk menilai kemampuan dan keterampilan siswa berdasarkan pada pengamatan tingkah lakunya selama melakukan penilaian terhadap hasil kerja siswa selama kegiatan.

Menurut Tukman penilaian kinerja adalah penilaian yang meliputi hasil dan proses, yang biasanya menggunakan material atau suatu peralatan (equipment). Penilaian kinerja dapat di gunakan terutama untuk mengukur tujuan pembelajaran yang tidak dapat di ukur dengan baik bila menggunakan tes obyektif.

Penilaian kinerja mengharuskan siswa secara aktif mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui. Yang paling penting, penilaian kinerja dapat memberi motivasi untuk meningkatkan pengajaran, pemahaman terhadap apa yang mereka perlu ketahui dan yang dapat mereka kerjakan.

Berdasarkan teori belajar kognitif, Belajar Bermakna dalam Teori Belajar Ausubel, Novak dan Gowin (1984) menawarkan skema penilaian yang terdiri atas: Struktur hirarki, perbedaan progresif, dan rekonsiliasi integratif. Struktur hirarkis, yaitu struktur kognitif yang di atur secara hirarki dengan konsep-konsep dan proposisi-proposisi yang lebih inklusif, lebih umum, superordinat terhadap konsep-konsep dan proposisi-proposisi yang kurang inklusif dan lebih khusus.

Perbedaan progresif menyatakan bahwa belajar bermakna merupakan proses yang kontinyu, di mana konsep-konsep baru memperoleh lebih banyak arti dengan bentuk lebih banyak kaitan-kaitan proporsional.  

Jadi konsep-konsep tidak pernah tuntas di pelajari, tetapi selalu di pelajari, di modifikasi, dan di buat lebih inklusif. Rekonsiliasi integratif menyatakan bahwa belajar bermakna akan meningkat bila siswa menyadari akan perlunya kaitan-kaitan baru antara kumpulan-kumpulan konsep atau proposisi.

Dalam peta konsep, rekonsiliasi integratif ini di perlihatkan dengan kaitan-kaitan silang antara kumpulan-kumpulan konsep. Selanjutnya Novak dan Gowin memberikan suatu aturan untuk mengikuti penilaian numerik jika skoring di pandang perlu.

Pertama, skoring di dasarkan atas preposisi yang valid. Kedua, untuk menghitung level hirarkis yang valid dan untuk menskor tiap level sebanyak hubungan yang di buat.

Dan ketiga, crosslink yang menunjukan hubungan valid antara dua kumpulan (segmen) yang berbeda adalah lebih penting daripada level hirarkis, karena mungkin saja ini pertanda adanya penyesuaian yang integratif.

Keempat, di harapkan siswa dapat memberikan contoh yang spesifik dalam beberapa kasus untuk meyakinkan bahwa siswa mengetahui peristiwa atau obyek yang di tunjukan oleh label konsep.  

Jenis-jenis Peta Konsep  

Peta konsep dapat di berikan dalam empat macam yaitu: pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (events chain), peta konsep siklus (cycle concept map), dan peta konsep laba-laba (spider concept map).  

1) Pohon Jaringan (network tree).  

Ide-ide pokok di buat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata lain di hubungkan oleh garis penghubung. Kata-kata pada garis penghubung memberikan hubungan antara konsep-konsep. Pada saat mengkonstruksi suatu pohon jaringan, tulislah topik itu dan daftar konsep-konsep utama yang berkaitan dengan topik itu.

Daftar dan mulailah dengan menempatkan ide-ide atau konsep-konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus. Cabangkan konsep-konsep yang berkaitan itu dari konsep utama dan berikan hubungannya pada garis-garis itu.

Pohon jaringan cocok di gunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:

  • Menunjukan informasi sebab-akibat
  • Suatu hirarki
  • Prosedur yang bercabang Istilah-istilah yang berkaitan yang dapat di gunakan .  

2) Rantai Kejadian (events chain)

Model ini dapat di gunakan untuk memerikan suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam suatu prosedur, atau tahap-tahap dalam suatu proses. Misalnya dalam melakukan eksperimen.

Rantai kejadian cocok di gunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:

  • Memerikan tahap-tahap suatu proses
  • Langkah-langkah dalam suatu prosedur
  • Suatu urutan kejadian  

3) Peta Konsep Siklus (cycle concept map)  

Dalam peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil akhir. Kejadian akhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Seterusnya kejadian akhir itu menhubungkan kembali ke kejadian awal siklus itu berulang dengan sendirinya dan tidak ada akhirnya.

Peta konsep siklus cocok di terapkan untuk menunjukan hubungan bagaimana suatu rangkaian kejadian berinteraksi untuk menghasilkan suatu kelompok hasil yang berulang-ulang. Gambar 2.5 memperlihatkan siklus tentang hubungan antara siang dan malam.  

4) Peta Konsep Laba-laba (spider concept map)  

Peta konsep laba-laba dapat di gunakan untuk curah pendapat. Dalam melakukan curah pendapat ide-ide berasal dari suatu ide sentral, sehingga dapat memperoleh sejumlah besar ide yang bercampur aduk. 

Banyak dari ide-ide tersebut berkaitan dengan ide sentral namun belum tentu jelas hubungannya satu sama lain. Kita dapat memulainya dengan memisah-misahkan dan mengelompokkan istilah-istilah menurut kaitan tertentu sehingga istilah itu menjadi lebih berguna dengan menuliskannya di luar konsep utama.

Peta konsep laba-laba cocok di gunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:  

  • Tidak menurut hirarki, kecuali berada dalam suatu kategori
  • Kategori yang tidak paralel
  • Hasil curah pendapat  

Proses mengajarkan strategi belajar di gunakan dua pendekatan pengajaran utama, yaitu pengajaran langsung dan pengajaran terbalik. Pengajaran langsung merupakan suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat di ajarkan selangkah demi selangkah.  

Dalam melatihkan strategi belajar secara efektif memerlukan pengetahuan deklaratif, prosedural, dan kondisional tentang strategi-strategi belajar.

Pengetahuan deklaratif tentang strategi-strategi tertentu termasuk bagaimana strategi itu di definisikan, mengapa strategi itu berhasil, dan bagaimana strategi itu serupa atau berbeda dengan strategi-strategi lain. Siswa juga memerlukan pengetahuan prosedural, sehingga mereka dapat menggunakan berbagai macam strategi secara efektif.  

Di samping itu juga menggunakan pengetahuan kondisional untuk mengetahui kapan dan mengapa menggunakan strategi tertentu.

Salah satu alasan menggunakan pengajaran langsung dalam mengajarkan strategi belajar adalah karena pengajaran langsung di ciptakan secara khusus untuk mempermudah siswa dalam mempelajari pengetahuan deklaratif dan prosedural yang telah di rencanakan dengan baik serta dapat mempelajarinya selangkah demi selangkah (Arends 1997).  

Pengajaran Langsung

Sintaks pengajaran langsung yang di adaptasikan untuk mengajarkan strategi belajar, dan di lengkapi dengan teori yang mendukung sebagai landasan pelaksanaan pengajaran strategi belajar sebagai berikut.

  • Tahap1
    1. Menyampaikan tujuan pembelajaran.
    2. Memotivasi siswa.
  • Tahap 2
    1. Secara klasikal menjelaskan strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep.
    2. Memodelkan strategi Mengarisbawahi dan membuat peta konsep.  
  • Tahap 3
    Melatihkan siswa menggunakan strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep di bawah bimbingan guru.  
  • Tahap 4
    1. Memeriksa pemahaman siswa terhadap strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep
    2. Memberi umpan balik hasil pemahaman siswa terhadap strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep.  
  • Tahap 5
    Melatih sisawa untuk menerapkan strategi belajar enggarisbawahi dan membuat peta konsep secara mandiri.  
  • Tahap 6
    1. Mengevaluasi tugas latihan menggarisbawahi dan membuat peta konsep.
    2. Membimbing siswa untuk merangkum pelajaran  

Fisika sebagai bagian dari sains (IPA), pada hakikatnya adalah kumpulan pengetahuan, cara berpikir, dan penyelidikan. IPA sebagai kumpulan pengetahuan dapat berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan model. IPA sebagai cara berpikir merupakan aktivitas yang berlangsung di dalam pikiran orang yang berkecimpung di dalamnya karena adanya rasa ingin tahu dan hasrat untuk memahami fenomena alam.

Cara bagaimana informasi ilmiah di peroleh, di uji, dan di validasikan. Fisika di pandang sebagai suatu proses dan sekaligus produk sehingga dalam pembelajarannya harus mempertimbangkan strategi atau metode pembelajaran yang efektif dan efesien yaitu salah satunya melalui kegiatan praktik.

Hal ini di karenakan melalui kegiatan praktik, siswa melakukan olah pikir dan juga olah tangan. Kegiatan praktik adalah percobaan yang di tampilkan guru dan atau siswa dalam bentuk demonstrasi maupun percobaan oleh siswa yang berlangsung di laboratorium atau tempat lain.

Adapun jenis-jenis kegiatan praktik di kelompokkan menjadi 4, yaitu eksperimen standar, eksperimen penemuan, demonstrasi, dan proyek. Kegiatan praktik dalam pembelajaran fisika mempunyai peran motivasi dalam belajar, memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan sejumlah keterampilan, dan meningkatkan kualitas belajar siswa.  

Macam-Macam Pendekatan dalam pembelajaran Fisika  

Strategi atau teknik, metode dan pendekatan merupakan tiga hal yang berbeda meskipun penggunaannya sering bersama-sama di jumpai dalam pembelajaran. Pendekatan merupakan teori atau asumsi. Metode adalah pengembangan yang lebih konkret dari teori tersebut, berupa prosedur-prosedur berdasarkan teori tersebut di dalam berbagai bentuk kegiatan kelas.

Meskipun telah di sebutkan bahwa “tidak ada satu pun pendekatan yang paling cocok untuk satu pelajaran”, tetapi karena pusat pelajaran fisika adalah eksperimen dan merupakan bagian tak terpisahkan dari pelajaran fisika itu sendiri maka melalui eksperimen siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dengan gejala fisika yang di pelajari.  

Fisika sebagai ilmu yang memiliki karakteristik tersendiri dalam mempelajarinya tidak cukup hanya melalui minds-on, tetapi juga harus melalui hands-on, seperti layaknya ilmuwan ketika menjelajahi alam ini. Secara teoretis dan dengan prosedur-prosedur yang tepat kerja laboratoriumlah pendekatan yang tepat di gunakan dalam pembelajaran fisika.

Macam-macam kerja laboratorium dapat di bedakan dalam deduktif atau verifikasi, induktif, keterampilan teknis, tanya jawab, dan keterampilan proses. Umumnya pendekatan-pendekatan tersebut dapat meningkatkan hal-hal sebagai berikut; sikap terhadap fisika, sikap ilmiah, penemuan ilmiah, pengembangan konsep, dan keterampilan-keterampilan teknis bagi siswa.

Pendekatan Keterampilan Proses dalam Belajar Bermakna David Ausubel 

Cara berpikir dalam sains, fisika misalnya, adalah keterampilan-keterampilan proses. Keterampilan proses sains di bedakan dalam dua bagian besar, yaitu keterampilan dasar proses sains, di mulai dari observasi sampai dengan meramal, dan keterampilan terpadu proses sains, dari identifikasi variabel sampai dengan yang paling kompleks, yaitu eksperimen.  

Keterampilan dasar proses sains adalah hal-hal yang di kerjakan ketika siswa mengerjakan sains, misalnya mengobservasi pengaruh suhu terhadap faktor redaman ayunan teredam.

Dalam keterampilan terpadu proses sains, siswa di pandu untuk melakukan eksperimen melalui penggunaan seluruh keterampilan-keterampilan proses yang siswa miliki.

Melalui eksperimen suatu pembelajaran fisika di katakan utuh, sebab eksperimen di laboratorium merupakan bagian integral dari konsep, prinsip dan hukum fisika akan di pelajari.  

Eksperimen dapat di katakan sebagi dewa dalam pembelajaran fisika, tetapi harus di ingat bahwa dalam pelaksanaannya memerlukan biaya dan tenaga yang besar sehingga sebagai guru fisika yang sukses harus betul-betul ahli dalam mendesain kegiatan eksperimen untuk siswanya.

Namun demikian, hendaknya hal tersebut tidak menjadi momok bagi guru dalam mempersiapkan penggunaannya di kelas, akan tetapi justru menjadi tantangan bagi guru untuk mempersiapkan eksperimen sebaik-baiknya agar pembelajaran fisika betul-betul efektif.  

Strategi Pembelajaran menurut Pandangan Konstruktivisme

Pandangan konstruktivisme sangat menekankan pentingnya gagasan yang sudah ada pada diri siswa untuk di kembangkan dalam proses belajar-mengajar.

Dengan demikian, pemahaman konsep sangat di tekankan.   Belajar merupakan proses aktif dan kompleks dalam upaya memperoleh pengetahuan baru.

Proses yang terjadi merupakan proses kognitif sebagai interaksi antara kegiatan persepsi, imajinasi, organisasi, dan elaborasi.

Proses pengorganisasian dan elaborasi memungkinkan terbentuk hubungan antarkonsep. Hubungan antarkonsep dapat di gambarkan sebagai peta konsep. Peta konsep dapat di gunakan sebagai alat untuk mengetahui hasil belajar dan adanya miskonsepsi.  

Miskonsepsi terjadi karena siswa masih menggunakan gagasan pribadinya dan pembelajaran belum dapat mengubah pemahaman siswa menjadi gagasan baru yang benar.

Perubahan ini dapat berlangsung dengan mulus asalkan pada siswa ada perasaan tidak puas terhadap pemahaman yang salah, siswa mempunyai pengetahuan optimal tentang konsep yang benar, konsep yang benar dapat masuk akal dan mempunyai daya memprediksi serta daya eksplanasi.

Strategi pembelajaran dapat di kembangkan dan siklus pembelajaran dan siklus belajar. Hal ini untuk memungkinkan terjadi keselarasan antara pola pikir yang di tuntut oleh guru dengan pola pikir siswa.  

Pengorganisasian materi sajian juga penting karena dalam proses belajar-mengajar terjadi hubungan segitiga antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar. Di sarankan pengorganisasian materi subjek berorientasi pada kerangka pemecahan masalah.  

Pendekatan Discovery dan Inquiry dalam Belajar Bermakna David Ausubel

Pendekatan discovery merupakan pendekatan mengajar yang memerlukan proses mental, seperti mengamati, mengukur, menggolongkan, menduga, men-jelaskan, dan mengambil kesimpulan.   Pada kegiatan discovery guru hanya memberikan masalah dan siswa di suruh memecahkan masalah melalui percobaan.

Pada pendekatan inquiry, siswa mengajukan masalah sendiri sesuai dengan pengarahan guru. Keterampilan mental yang di tuntut lebih tinggi dari discovery antara lain: merancang dan melakukan percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data, dan mengambil kesimpulan.  

Pendekatan inquiry adalah pendekatan mengajar di mana siswa merumuskan masalah, mendesain eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data sampai mengambil keputusan sendiri.

Pendekatan inquiry harus memenuhi empat kriteria ialah kejelasan, kesesuaian ketepatan dan kerumitannya. Setelah guru mengundang siswa untuk mengajukan masalah yang erat hubungannya dengan pokok bahasan yang akan di ajarkan.

Siswa akan terlibat melalui 5 fase ialah:  

  • Fase 1:
    siswa menghadapi masalah yang di anggap tantangan.  
  • Fase 2:
    siswa mengumpulkan data untuk menguji kondisi, sifat khusus dari objek teliti dan pengujian terhadap situasi masalah yang di hadapi.  
  • Fase 3:
    siswa mengumpulkan data untuk memisahkan variabel yang relevan, berhipotesis dan bereksperimen untuk menguji hipotesis sehingga di peroleh hubungan sebab akibat.  
  • Fase 4:
    merumuskan penemuan inquiry hingga di peroleh penjelasan, pernyataan, atau prinsip yang lebih formal.  
  • Fase 5:
    melakukan analisis terhadap proses inquiry, strategi yang di lakukan oleh guru maupun siswa. Analisis di perlukan untuk membantu siswa terarah pada mencari sebab akibat.  

Penerapan Model Kognitif dalam Belajar Bermakna David Ausubel  

Lima Prinsip Belajar dalam Teori Belajar Ausubel, mengenali betul apa yang menarik untuk kita? Jika kita mengetahui betul apa sesungguhnya yang menarik bagi kita, tentu akan lebih mudah mencari ragam informasi penting yang akan kita pelajari.

Tak ada seorang pun yang mampu memberikan informasi tentang apa yang menarik untuk kita pelajari kecuali kita sendiri.  

Ada baiknya, sekali waktu, Anda berhenti dulu belajar, lalu tanyakan pada diri Anda sendiri, untuk apa Anda belajar? Jika Anda cukup punya alasannya, tak salah bila Anda mencoba mengujinya dengan mengikuti beberapa tes untuk melihat tingkat pemahaman kita dan cara untuk meningkatkannya.

Hal terpenting yang perlu di ingat adalah seberapa cepat pun kita bisa memahami suatu informasi, maka informasi itu dengan mudah bisa hilang dari ingatan jika ternyata informasi tersebut bukan seperti sesuatu yang menjadi inti ketertarikan kita.

Kenalilah kepribadian diri sendiri. Jika kita tahu betul siap kita dan apa yang kita inginkan, maka mempelajari sesuatu yang sesuai dengan keinginan dan kepribadian kita menjadi lebih mudah di lakukan. Sebab, apapun yang akan kita pelajari dan pahami, seringkali menjadi sia-sia jika ternyata tak sesuai dengan kepribadian kita.   Rekam semua informasi dalam kata.

Langkah yang paling mudah untuk memahami, mengingat dan mempelajari sesuatu adalah dengan kata. Jadi, langkah yang paling mudah dan bijaksana adalah bila kita terbiasa merekam semua informasi itu dengan cara menuliskannya kembali dalam bentuk apa saja. Gambar, coretan dan yang terbaik adalah catatan tertulis buatan tangan sendiri.  

Belajar bersama orang lain

Cara termudah untuk belajar sesungguhnya adalah bila kita melakukannya secara bersama-sama. Prinsip belajar ini hampir selalu efektif bagi setiap orang, apa pun karakter belajar yang di milikinya.

Selain itu, belajar juga menjadi terasa lebih menyenangkan dan ringan, bila di lakukan secara bersama-sama.  

Hargai diri sendiri. Belajar memahami dan menyerap informasi akan menjadi lebih terasa bermanfaat dan berarti bila kita menghargainya.

Jadi, rencanakan apa yang Anda akan pelajari dan pahami. Setelah itu, cobalah membuat jeda di antara waktu belajar yang Anda laklukan. Setelah itu, lihat seberapa besar tingkat keberhasilan Anda dalam mempelajari suatu informasi atau fakta tertentu.

Bila Anda merasa itu berhasil, maka Anda layak menghargai jerih-payah Anda belajar dengan cara apa saja. Misalnya, merayakannya dengan makan enak atau membeli sesuatu yang bisa mengingatkan Anda akan keberhasilan yang Anda pernah capai.  

Belajar Penangkapan (reception learning) dalam Teori Belajar Ausubel

Menurut Belajar Bermakna dalam Teori Belajar Ausubel penangkapan pertama kali di kembangkan oleh David Ausubel sebagai jawaban atas ketidakpuasan model belajar discovery yang di kembangkan oleh Jerome Bruner tersebut.

Menurut Teori Belajar Ausubel, siswa tidak selalu mengetahui apa yang penting atau relevan untuk dirinya sendiri sehigga mereka memerlukan motivasi eksternal untuk melakukan kerja kognitif dalam mempelajari apa yang telah di ajarkan di sekolah.

Belajar Bermakna dalam Teori Belajar Ausubel menggambarkan model pembelajaran ini dengan nama belajar penangkapan.  

Para pakar teori belajar penangakapan menyatakan bahwa tugas guru adalah:

  1. Menstrukturkan situasi belajar.
  2. Memilih materi pembelajaran yang sesuai dengan siswa.
  3. Menyajikan materi pembelajaran secara terorganisir yang di mulai dari gagasan Inti belajar penangkapan yaitu pengajaran ekspositori, yakni pembelajaran sistematik yang di rencanakan oleh guru mengenai informasi yang bermakna (meaningful information).  
Teori Belajar Bermakna David Ausubel

Pembelajaran ekspositori terdiri dari tiga tahap, yaitu:  

1. Penyajian advance organizer

Advance organizer merupakan Pernyataan umum yang memperkenalkan bagian-bagian utama yang tercakup dalam urutan pengajaran.

Advance organiberfungsi untuk menghubungakan gagasan yang di sajikan di dalam pelajaran dengan informasi yang telah berada di dalam pikiran siswa, dan memberikan skema organisasional terhadap informasi yang sangat spesifik yang di sajikan.

2. Penyajian materi atau tugas belajar.

Dalam tahap ini, guru menyajikan metri pembelajaran yang baru dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, film, atau menyajikan tugas-tugas belajar kepada siswa.

Belajar Bermakna dalam Teori Belajar Ausubel menekankan tentang pentingnya mempertahankan perhatian siswa dan pentingya pengorganisasian materi pelajaran. Ini tentu perlu di kaitakan dengan struktur yang terdapat didalam advance organizer.

Dia menyarankan suatu proses yang di sebut dengan diferensiasi progresif, di mana pembelajaran berlangsung setahap demi setahap demi setahap. Di mulai dari konsep umum menuju kepada informasi spesifik, contoh-contoh ilustratif, dan membandingkan antara konsep lama dengan konsep baru.  

3. Memperkuat organisasi kognitif.

Belajar Bermakna dalam Teori Belajar Ausubel menyarankan bahwa guru mencoba mengikatkan informasi baru ke dalam stuktur yang telah di rencanakan di dalam permulaan pelajaran. Dengan cara mengingatkan siswa bahwa rincian yang ebrsifat spesifik itu berkaitan dengan gambaran informasi yang bersifat umum.

Pada akhir pembelajaran ini siswa di minta mengajukan pertanyaan pada diri sendiri mengenai tingkat pemahamannya terhadap pelajaran yang baru. Menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki dan pengorganaisasian materi pembelajaran sebagaimana yang dideskripsikan di dalam advance organizer samping itu juga memberikan pertanyaan kepada siswa dalam rangka menjajagi keluasan pemahaman siswa tentang isi pelajaran.

Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkahlaku yang bisa diamati. Setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan di dalam dirinya. Model ini sangat membebaskan peserta didik untuk belajar sendiri.

Teori Kognitif Bruner ini mengarahkan peserta didik untuk belajar secara discovery learning.

  1. Menentukan tujuan-tujuan instruksional
  2. Memilih materi pelajaran
  3. Menentukan topik-topik yang akan di pelajari peserta didik
  4. Mencari contoh-contoh, tugas, ilustrasi dsbnya yang dapat di gunakan peserta didik untuk bahan belajar.
  5. Mengatur topik peserta didik dari konsep yang paling kongkrit ke yang abstrak, dari yang sederhana ke kompleks  
  6. Mengevaluasi proses dan hasil belajar  

Belajar Deduktif dalam belajar bermakma David Ausubel

Dalam aplikasinya belajar secara deduktif (dari umum ke khusus) dan lebih mementingkan aspek struktur kognitif peserta didik dalam hal:

  1. Menentukan tujuan-tujuan instruksional  
  2. Mengukur kesiapan peserta didik (minat, kemampuan, struktur kognitif) baik melalui tes awal, interview, pertanyaan dll.  
  3. Memilih materi pelajaran dan mengaturnya dalam bentuk penyajian konsep-konsep kunci  
  4. Mengidentifikasikan prinsip-prinsip yang harus di kuasai peserta didik dari materi tsb.  
  5. Menyajikan suatu pandangan secara menyelurh tentang apa yang harus di kuasai peserta didik.  
  6. Membuat dan menggunakan “advanced organizer” paling tidak dengan cara membuat rangkuman terhadap materi yang baru di sajikan. Ini di lengkapi dengan uraian singkat yang menunjukkan relevansi (keterkaiatan) materi yang sudah di berikan dengan yang akan di berikan.
  7. Mengajar peserta didik untuk memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang sudah di tentukan dengan memberi fokus pada hubungan yang terjalin antara konsep yang ada  
  8. Mengevaluasi proses dan hasil belajar. Inti konstruktivisme adalah bahwa individu menginterpretasikan stimuli berdasarkan pengetahuan yang telah mereka miliki. Struktur kognitif yang telah terekam dalam otak dan membangun pengertian secara masuk akal.

Proses belajar yang demikian merupakan proses belajar yang bermakna (Ausubel, 1978). Di samping alasan tersebut, alasan lain adalah belajar yang bermakna, kreativitas, mempunyai peranan yang sangat penting bagi peningkatan mutu pendidikan.

Sumber Rujukan

  • Budiningsih, A. 2005. Belajar dan Pembelajaran. PT Rinerka Cipta : Jakarta.
  • Burhanuddin; Nur Wahyuni, Esa. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta: Penerbit Ar-Ruzz Media.
  • Suherman. 2000. Buku Saku Perkembangan Anak. Jakarta: EGC.

=Baca Juga=

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *