Teori Belajar Thorndike

Teori Belajar Thorndike

HermanAnis.com – Teman-teman semua, pada kesempatan ini kita masih membahas tentang Teori Belajar menurut para Ahli yakni Teori Belajar Thorndike. Dalam Teori Belajar Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat di tangkap melalui alat indera.

Selamat membaca, semoga ada manfaat!

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Sedangkan respon yaitu reaksi yang di munculkan siswa ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan.

A. Belajar menurut Thorndike

Menurut Teori Belajar Thorndike, perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat berwujud kongkrit yaitu yang dapat di amati, atau tidak kongkrit yaitu yang tidak dapat di amati.

Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat di tangkap melalui alat indera.

Teori Belajar Thorndike

Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme. untuk bereaksi atau berbuat atau respon adalah sembarang tingkah laku yang di munculkan karena adanya perangsang.  

Eksperimen kucing lapar yang di masukkan dalam sangkar (puzzle box) di ketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons. Perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha-usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu.

Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu.

Oleh karena itu teori belajar yang di kemukakan oleh Teori Belajar Thorndike ini sering di sebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi.  

Selain tentang teori belajar Thorndike, dalam website ini teman-teman dapat memperoleh informasi tentang teori belajar di antaranya adalah:

B. Teori Belajar Thorndike

Teori Belajar Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut:

  1. Hukum kesiapan (law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku. Maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung di perkuat.
  2. Hokum latihan (law of exercise), yaitu semakin sering suatu tingkah laku di ulang/di latih (di gunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.
  3. Hukum akibat (law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung di perkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung di perlemah jika akibatnya tidak memuaskan.
Teori Belajar Thorndike

  Selanjutnya Teori Belajar Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut:

  1. Hukum Reaksi Bervariasi (Multiple Response)
    Hokum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh proses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum. memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang di hadapi.
  2. Hokum Sikap (Set/Attitude)
    Hukum ini menjelaskan bahwa perilaku belajar seseorang tidak hanya di tentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja. Tetapi juga di tentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif, emosi, sosial, maupun psikomotornya.
  3. Hokum Aktivitas Berat Sebelah (Prepotency of Element)
    Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon hanya pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi.
  4. Hukum Respon by Analogy
    Hokum ini mengatakan bahwa individu dapat melakukan respon pada situasi yang belum pernah di alami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah di alami. Dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah di kenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang sama/identik, maka transfer akan makin mudah.
  5. Hokum perpindahan asosiasi (Associative Shifting).
    Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang di kenal ke situasi yang belum di kenal di lakukan secara. tertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru. Kemudian membuang sedikit demi sedikit unsur lama.

B. Ciri-ciri Hukum Belajar

Ciri-ciri hukum belajar dalam Teori Belajar Thorndike antara lain:

  1. Hukum latihan di tinggalkan karena di temukan pengulangan, saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon. Sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah.
  2. Hokum akibat di revisi. Di katakan oleh Teori Belajar Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa.
  3. Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan, tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon.
  4. Akibat suatu perbuatan dapat menular (spread of effect) baik pada bidang lain maupun pada individu lain.

Demikian,
semoga ada manfaat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: