15 Prinsip Dasar Kepemimpinan menurut Aristoteles

15 Prinsip Dasar Kepemimpinan menurut Aristoteles

HermanAnis.com – Pada kesempatan ini kita akan membahas 15 prinsip dasar kepemimpinan menurut Aristoteles. Pandangan-pandangan Aristoteles ini penting di jadikan prinsip oleh seorang pemimpin. Bukan hanya untuk memimpin di luar diri, tapi juga untuk memimpin diri sendiri.

15 Prinsip Dasar Kepemimpinan menurut Aristoteles
Aristoteles
Sumber: pixelizam.com

Baca Juga: Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan – Era Gemilang Sains yang Terlupakan

Pikiran-pikiran para filosof, yang berhubungan dengan pembangunan manusia, pembentukan karakter manusia, bisa kita jadikan sebagai prinsip dalam kepemimpinan atau leadership. Tak terkecuali, gagasan-gagasan dari Aristoteles.

Prinsip-prinsip ini, mungkin penting untuk membangun kualitas pemimpin, menjadikan seseorang sebagai pemimpin yang baik. Seringkali ada yang mengeluh, bahkan mungkin kita sendiri. Seperti, “di Indonesia ini ada begitu banyak orang pintar, tapi rasa-rasanya mendapat dan memilih pemimpin yang baik kok susah yah”.

Hmm, daripada mengeluh begitu, lebih baik sekarang kita berupaya membentuk diri kita, sehingga punya kualifikasi pemimpin yang baik.

Jikalau ada di sini yang Guru, Dosen, Ustadz atau anak-anak muda yang punya gairah untuk masa depan yang cemerlang. Maka prinsip-prinsip ini penting untuk kita pahami, dalam rangka membangun diri kita sebagai seorang atau calon pemimpin yang baik.

Baca Juga:
Kata kata Bijak Lao Tzu

15 Prinsip Dasar Kepemimpinan menurut Aristoteles

  1. Knowing yourself is the begining of wisdom. Mengetahui dirimu sendiri adalah awal dari kebijaksanaan.
  2. We are what we repeatedly do. excellence, then, is not an act, but a habbit. Diri kita ini adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang.
  3. Happiness Belongs to the self-sufficient. Kebahagiaan itu milik bagi yang merasa cukup.
  4. Through Discipline Comes Freedom. Melalui kedisiplinan akan datang kebebasan.
  5. Hope is a waking dream. Harapan adalah mimpi dalam kondisi terjaga.
  6. He who cannot be a good follower cannot be a good leader. Dia yang tidak bisa menjadi pengikut yang baik, tidak akan bisa menjadi pemimpin yang baik.
  7. Pattience is bitter, but its fruit is sweet. Kesabaran itu pahit, tapi buahnya manis.
  8. To avoid criticism say nothing, do nothing, be nothing. Kalau kamu ingin menghindari kritik orang, ndak usah ngomong apa-apa, tidak usah melakukan apa-apa, ndak usah jadi apa-apa.
  9. Liars when they speak the truth are not beliaved. Pembohong saat mengucapkan kebenaran tidak akan dipercaya.
  10. Fortune favours the bold. Keberuntungan itu memihak pada “the bold”.
  11. A likely impossibility is always preferable to an unconvincing possibility. Ketidakmungkinan yang di ungkapkan lebih tegas, jelas, akan lebih disukai daripada kemungkinan yang tidak meyakinkan.
  12. To run away from trouble is a form of cowardice and, while it is true that the suicide braves death, he does it not for some noble object but to escape some ill. Lari dari kesulitan itu adalah sebentuk sifat pengecut.
  13. Tolerance and apathy are the last virtues of a dying society. Toleransi dan Apathy adalah kebajikan terakhir dari “dying society”.
  14. It is the mark of an educated mind to be able to entertain a thought without accepting it. Adalah ciri dari pikiran yang terdidik, untuk mampu menjelaskan satu pikiran tanpa menerimanya.
  15. We make war that we may life in peace. Kadang perang harus diputuskan, agar kita dapat hidup dalam damai.

Baca Juga:
Tujuh Nasihat Jalaludin Rumi

Prinsip Dasar Kepemimpinan yang pertama, “Knowing Yourself is the Begining of Wisdom

Prinsip dasar kepemimpinan yang pertama adalah “knowing yourself is the begining of Wisdom“. Mengenali diri sendiri adalah awal dari kebijaksanaan. Ini berlaku bukan hanya bagi yang punya ambisi jadi leader, tapi untuk siapapun. Knowing yourself, ketahui dirimu, kenali dirimu lebih awal, karena anda tidak mungkin bisa jadi bijaksana, jika diri sendiri saja anda tidak kenal.

Manfaat paling dekat ketika kita mengenal diri kita adalah, kita akan mampu untuk bersikap bijaksana. Dan pada akhirnya, jika pengenalan kita semakin mendalam, maka kita bisa mengenali keberadaan pencipta.

Sebagai contoh, misalnya anda berkata, “aku ini orangnya sensitif, aku ini orangnya baperan, ndak bisa ada orang ngomong jelek sedikitpun tentang aku, maka darahku akan naik, mataku jadi merah”.

Dengan pengenalan itu, anda akan memutuskan, “aku ndak cocok terlalu banyak terlibat di forum-forum yang isinya saling cela, saling kritik, enggak kuat, aku itu mudah panas”. Inilah contoh bahwa anda sudah jadi bijaksana.

Karena anda mengert dirimu, maka kamu bisa memilih jadi bijaksana, dengan mengambil kebijaksanaan untuk menjauh dari hal-hal yang mungkin membuatnya tersinggung.

Ini prinsip pertama seorang pemimpin, dia harus kenal dirinya sendiri.

“Aku ini lemah, mudah di hasut, mudah di provokasi. Olehnya itu, maka, aku akan mencari orang yang baik-baik saja, yang aku percaya. Bahwa dia ndak akan punya motif jelek terhadap diriku. Mereka inilah yang akan aku jadikan pembantu-pembantuku”.

Ataukah, misalnya “aku ini orangnya kuat, aku ini ndak mudah di pengaruhi, keputusanku tegas. Jadi gak apa-apalah aku cari pembantu-pembantu yang pinter-pinter. Meskipun nanti ada yang curang, ada yang culas. Aku pasti bisa mendeteksinya kok, dan aku yakin bisa mengatasinya”.

Olehnya itu, maka knowing yourself is the begining of Wisdom, sangatlah penting bagi setiap orang, apalagi bagi seorang pemimpin. Sebenarnya mengenali diri tidak perlu menunggu kalian menjadi pemimpin. Pemimpin gak pemimpin, “yah kalau ingin hidupmu beres, yah harus knowing yourself, kenali dirimu”. Itu katanya Aristoteles.

Itu prinsip pertama, Teman-teman para calon pemimpin, harus mau Muhasabah, harus mau belajar. Pertama-tama, belajar tentang diri sendiri. Siapa aku, apa ciriku, di mana kelemahanku, dan di mana kelebihanku?

Prinsip Leadership yang kedua, “We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habbit”

Prinsip dasar kepemimpinan kedua, “We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habbit“. Diri kita ini adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Kesempurnaan itu bukanlah sejenis tindakan, tapi satu kebiasaan.

Kalau ingin jadi pemimpin yang baik, bentuk karakter diri, dengan terbiasa atau habit sebagai orang yang baik. Apa itu habit? habit adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang.

Olehnya itu, katanya Aristotels “we are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habbit“. Kita itu apa yang kita lakukan berulang.

Sebagai contoh, yang istiqomah ngaji, berarti ngajinya akan berulang-ulang, sehingga akan jadi habit. Karena ngaji itu baik, maka itu akan membantu diri kita jadi orang baik.

Yang istiqomah shalat malam, ini berarti dia melakukan salat malam secara kontiniu, berulang-ulang. Oleh karena sholat malam ini kebaikan, maka dia sedang membentuk dirinya menjadi orang baik.

Nah, kalo ngaji dan shalat malam itu baik dan kita melakukannya berulang-ulang, maka dia akan jadi habit. Jika ini menjadi habit, dan tertanam dengan baik secara konsisten, maka kita akan memiliki karakter baik.

Pemimpin juga begitu, dia terbentuk melalui apa yang berulang-ulang dia lakukan. Prinsip kedua bagi seorang pemimpin adalah, pemimpin yang baik dapat di lihat dari apa kegiatan baik yang berulang-ulang dia lakukan.

Dari aktivitas baik yang dilakukan berulang-ulang itu, akan memunculkan karakter baik. Seorang pemimpin harus membangun karakter yang baik dengan cara mengulang-ulang.

Baca Juga:
Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat Ilmu

Prinsip Dasar Kepemimpinan yang ketiga, “Happiness Belongs to the self-sufficient

Prinsip dasar kepemimpinan yang ketiga, “Happiness Belongs to the self-sufficient”. Kebahagiaan itu miliknya yang merasa cukup.

Self-sufficient itu, merasa sudah cukup. Dengan begitu, biasanya kita sudah bahagia. Jika anda sudah merasa semua yang diinginkan sudah terpenuhi, maka itu disebut self-sufficient.

Ini parameter kebahagiaan. Selain itu, self-sufficient juga berarti, orang yang mandiri, orang yang sudah puas dengan dirinya sendiri. Diat tidak lagi butuh dan tidak lagi tergantung lagi dengan yang lain.

Pemimpin yang bahagia, berarti juga pemimpin yang self-sufficient, pemimpin yang merasa cukup dengan dirinya, pemimpin yang mandiri, atau pemimpin yang tidak tergantung dengan yang lain.

Ketergantungan akan mengindikasikan ketidakmandirian. Sehingga jika seorang pemimpin tidak mandiri, maka berarti dia akan kesulitan untuk bahagia. Kalo dirinya saja tidak bahagia, bagaimana yang dipimpinnya?

Prinsip Leadership yang keempat, “Through Discipline Comes Freedom”

Prinsip dasar kepemimpinan yang keempat adalah, “Through Discipline Comes Freedom”. Ini merupakan quotenya Aristoteles, “melalui kedisiplinan akan datang kebebasan”.

Kita sering mengkritisi diri kita sendiri, “Orang Indonesia itu susah sekali disiplin”. Disiplin adalah kunci. Disiplin itu memang nggak enak, gak bebas, merepotkan, harus A, harus B, harus C, harus tertib, sesuai aturan. Yah, memang begitulah disiplin.

Namun, menurut Aristoteles, justru disiplin inilah nanti yang akan membuahkan kebebasan. Disiplin memang agak ketat, tidak bebas, tapi buahnya adalah kebebasan.

Sebagai contoh, Teman-teman disiplin belajar, pada akhirnya menemukan kebebasan dengan kelulusannya. Yang males belajar, ndak akan ketemu kebebasan yang di sebut kelulusan itu.

Bagi yang disiplin hafalan, pada akhirnya menemukan kebebasan sebagai penghafal al-Qur’an. Tapi yang tidak disiplin, padahal sudah niat, pada akhirnya tidak akan hafal-hafal, sehingga tidak menemukan kebebasannya.

“Through Discipline Comes Freedom”. Ini prinsip yang harus dipahami oleh seorang pemimpin. Semua Tujuan yang diinginkan, harus di upayakan secara disiplin. Dalam upaya mencapai tujuan iti, tentu akan ketemu dengan banyak kesulitan, tapi tetaplah disiplin. Kalau sudah disiplin, nanti akan ketemu kebebasan.

Pemimpin harus mengerti logika ini dan perlu disiplin. Melalui kedisiplinan akan lahir kebebasan. Disiplin itu memang sumpek, tapi kalau tujuannya terpenuhi di situ ada kelegaan yang luar biasa.

Prinsip Dasar Kepemimpinan yang kelima, “Hope is a waking dream”

Prinsip kelima adalah “hope is a waking dream“. Harapan adalah mimpi dalam kondisi terjaga. Setiap orangkan punya mimpi. Istilah mimpi sebenarnya untuk orang yang lagi tidur.

Untuk orang yang terjaga atau bangun, namanya bukan mimpi, tapi harapan, cita-cita, keinginan. Olehnya itu, maka seorang pemimpin, harus punya keinginan, harapan, dan cita-cita.

Banyak orang bilang, “kita harus berani bermimpi”. Untuk orang yang sedang terjaga, namanya bukan mimpi, tapi berharap. Seorang pemimpin harus berani berharap, berani bercita-cita.

Selain itu pemimpin juga tak boleh pesimis. Kalau pemimpinnya sudah tak punya harapan, apalagi yang di pimpin. Pemimpin harus mencerminkan sosok yang penuh harap, sosok yang punya cita-cita besar, bahkan tidak sekedar hanya cita-cita saja, tetapi cita-cita yang besar.

Kalau sekedar cita-cita kecil, kurang manfaat dalam posisinya sebagai seorang pemimpin. Pemimpin itu memang harus agak muluk atau targetnya harus tinggi.

Makanya, kata Bung Karno, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit dan gantungkan di bintang-bintang”. Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Setinggi mungkin.

Kalau pemimpinnya sudah hopeless, tanpa harapan, atau tidak bisa di harapkan, maka perlu ganti yang lain, ganti dengan yang punya harapan.

Prinsip Leadership yang keenam, “He who cannot be a good follower cannot be a good leader”

Prinsip dasar kepemimpinan yang kelima adalah, “he who cannot be a good follower cannot be a good leader“. Dia yang tidak bisa menjadi pengikut yang baik, tidak akan bisa menjadi pemimpin yang baik.

Dalam Quotes ini, Aristoteles ingin menegaskan bahwa pemimpin yang baik adalah pengikut yang baik. Kalau orangnya tidak bisa di pimpin, maka sulit dia akan jadi pemimpin yang baik.

Untuk jadi pemimpin yang baik, dia harus tahu bagaimana situasi yang di pimpin. Bagaimana rasanya jadi pengikut atau menjadi orang yang di pimpin yang baik. Sehingga nantinya dia akan tahu cara jadi pemimpin yang baik.

Kalau di pimpin saja tidak bisa, maka dia akan susah jadi pemimpin. Jika kita tidak mengerti cara jadi orang biasa, maka kita juga akan sulit jadi orang yang istimewa. Ini rumus dari Aristoteles.

Untuk itu, jika anda bercita-cita jadi pemimpin yang baik suatu saat, maka pertama-tama yang anda harus lakukan adalah, Anda harus latihan. Latihan dalam menjalankan hidup sebagai orang yang sedang dipimpin.

Orang yang dipimpin disebut baik jika, dia patuh pada aturan, taat pada keputusan bersama, dan mau menjalankan apa keputusan-keputusan kelembagaan. Orang yang seperti ini, nantinya akan bagus jadi leader.

Tapi, kalau sejak awal orang ini tidak bisa di atur, selalu melanggar aturan, selalu membantah, kalau ketemu dengan keputusan bersama, ndak mau bareng-bareng memajukan lembaga. Maka, dia pasti ndak bagus untuk jadi leader.

Prinsip Dasar Kepemimpinan yang ketujuh, “Pattience is bitter, but its fruit is sweet”

Prinsip ketujuh adalah, “pattience is bitter, but its fruit is sweet”. Kesabaran itu pahit, tapi buahnya manis. Kalau ini enggak perlu di jelaskan lagi. Ini ada hubungannya dengan yang tadi, Istiqomah, berjuang bersama, bersabar, dan disiplin untuk menanggung proses dan usaha.

Hidup kita sebagai manusia itu beda dengan semua makhluk Allah. Makhluk Allah yang lain itu umumnya paket sudah jadi.

Manusia itu memiliki potensi. Dalam potensi itu, kita bisa memikirkan untuk mencapai hal-hal besar, namun itu masih dalam potensi. Jikalau kita ingin mewujudkan potensi itu, kita butuh usaha, butuh perjuangan, butuh upaya, butuh daya, dan lain sebagainya.

Sehingga jika ndak ada itu, maka kesuksesannya ndak akan keluar. Makanya, seorang yang ingin sukses dan berhasil, termasuk seorang pemimpin, harus punya daya sabar. Sabar dalam berusaha, sabar dalam berjuang, sabar dalam mengaktualkan potensi tadi.

Tidak mungkin keberhasilan itu datang tiba-tiba. Bagi teman-teman yang belajar tentang akhlak sabar, sabar itu di bagi menjadi dua bagian yaitu, sabar menanggung hasil dan sabar menjalani proses.

Sabar menanggung hasil itu maksudnya, kalau kita ketemu hasil yang tidak di inginkan, yah sabar. Kalau ketemu hal yang baik, juga yah sabar, sabar untuk selalu bersyukur.

Semntara sabar menanggung proses itu, adalah sabar dalam perjuangan. Contohnya, ketika yang lain sedang istirahat, santai-santai rebahan, kita malah kerja. Yang lain sudah rekreasi, kita malah lembur. Ketika yang lain makan-makan, kita malah puasa. Yang lain tidur, kita malah shalat, ibadah. Ini contoh sabar dalam proses.

Hal ini mungkin agak pahit, tidak menyenangkan. Namun, jangan lupa, hanya yang puasa, yang menemukan buka puasa. Jadi hanya yang mau menanggung kepahitanlah yang nanti akan menemukan kemanisannya hidup. Buah yang manis.

Sabar itu pahit, tapi buahnya manis. Kalau teman-teman ingin hidup yang meningkat, ketemu buah yang manis-manis, yah harus mau menanggung proses yang pahit.

Seorang pemimpin juga harus punya kesabaran dalam proses. Mungkin dalam perjuangan itu, mendapat kritik orang, di serang kiri-kanan. Yah, sabar saja. Karena, perjuangan ini memang tidak mudah, ada naik turunnya, ada hal-hal yang harus di korbankan.

Di sana sini akan ketemu nyinyir-nyinyiran, ndak apa-apa, sabar saja, karena begitulah hidup. Kalau sudah berhasilkan, anda akan merasakan manis buahnya.

Seperti ceritanya Nabi Nuh, waktu membangun perahu. Nabi Nuh itu, basisnya bukan tukang kayu. Tapi oleh Allah, dia di perintahkan untuk membangun atau membuat perahu.

Perahunya di bangun pelan-pelan, ini tidak mudah dan ini berat pastinya. Di cemooh kiri-kanan, namun coba liat, ini berujung pada buah yang manis. Waktu banjir bandang terjadi, satu-satunya tempat selamat, tempat berlindung adalah kapalnya Nabi Nuh. Sekarang, ketemulah buah manisnya. Buah dari sabar dalam menanggung proses.

Olehnya itu, maka, bagi teman-teman yang masih muda, yang masih dalam fase perjuangan. Berjuang kuliah, berjuang cari kerja, mungkin berjuang cari istri, atau berjuang apa saja yang lain. Kalian akan ketemu momen-momen pahit dalam hidup. Tapi ndak masalah, pahitmu akan berbuah manis. Kecuali kamu ndak sanggup, ndak mau menjalani rasa pahit itu. Kamu nggak akan ketemu buahnya. Karena tidak mau berjuang.

Pemimpin yang baik harus siap berjuang, dan sabar dalam perjuangan, sehingga buahnya nanti manis. “Pattience is bitter, but its fruit is sweet” .

Prinsip Leadership yang kedelapan, “To avoid criticism say nothing, do nothing, be nothing”

Prinsip dasar kepemimpinan yang kedelapan menurut Aristoteles adalah, “to avoid criticism say nothing, do nothing, be nothing. Sebenarnya quote ini, nyinyir, nyindir kita, yang kadang-kadang anti kritik.

Kalau kamu ingin menghindari kritik orang, say nothing-ndak usah ngomong apa-apa, do nothing-tidak usah melakukan apa-apa, be nothing-ndak usah jadi apa-apa. Ini nyindir kita, termasuk para leader yang alergi dengan kritik.

Pertama-tama, kita sadari, kita itu manusia yang tidak sempurna, pasti punya kelemahan-kelemahan, pasti punya kekurangan kekurangan. Bukalah telinga, bukalah pikiran, kalau ada kritik masuk, posisikan kritik itu sebagai jalan untuk perbaikan ke depan. Tidak masalah itu kritik.

Jangan anti kritik, kalau ndak mau dikritik orang, katanya Aristoteles, ndak usah ngomong apa-apa, ndak usah melakukan apa-apa, enggak usah jadi apa-apa. Manusia yang gak ngapa-ngapain, barulah dia tidak akan di kritik orang. Mau di kritik apanya. Ngomong juga ngak, melakukan apa-apa juga ngak, juga enggak jadi apa-apa.

Maksudnya Aristoteles, siaplah selalu menerima kritik. Ndak apa-apa orang mengkritik, ini berarti orang peduli dengan kita. Kecuali memang, kita sama sekali menghindari kritik. Yah berarti, ndak usah ngomong apa-apa, ndak usah melakukan apa-apa, ndah usah jadi apa-apa.

Tapi seharusnya pemimpinkan ndak mungkin begitu, masa’ pemimpin enggak ngomong apa-apa, masa’ pemimpin ndak melakukan apa-apa, masa’ pemimpin ndak mewujudkan apa-apa. Pasti dia akan bertemu dengan kritisisme.

Pemimpin ndak boleh alergi dengan kritik. Posisi itu sebagai jalan untuk kebaikan, dan perbaikan ke depan jalan, jalan untuk naik kelas.

Bahkan seandainyapun, sama sekali ndak ada orang yang ngeritik, mungkin karena takut, atau karena medianya ndak bisa nyambung, nggak bisa sampai. Makanya, kita juga harus harus siap mengkritisi diri sendiri, self-criticism, itu yang di sebut Muhasabah.

Aku ini sudah pas atau belum, aku ini menyakiti orang apa tidak, aku ini menyusahkan orang apa tidak sih, ini namanya mengkritisi diri kalau dalam agama di sebut Muhasabah.

Baca Juga:
Etika Menurut Socrates

Prinsip Dasar Kepemimpinan yang kesembilan, “Liars when they speak the truth are not beliaved”

Prinsip kesembilan bagi seorang leader, “Liars when they speak the truth are not beliaved“. Pembohong saat mengucapkan kebenaran tidak akan di percaya.

Prinsip kesembilan ini bagi seorang pemimpin adalah ringkasnya hangan jangan jadi ‘Liars‘. Kapan seseorang punya atribut ‘liars‘, atribut pembohong, itu ketika orang membiasakan diri berbohong. Bolak-balik bohong, maka meskipun nanti dia ngomong kebenaran, orang tidak akan percaya.

Kenapa seorang pemimpin tidak di percaya, mungkin karena dia ‘liars‘, Dia bolak-balik menyampaikan atau mengucapkan kebohongan, sehingga begitu dia ngomong benar, orang tidak akan percaya.

Hati-hati para pemimpin, ucapkan saja hal-hal yang benar, yang baik, yang realistis. Jangan sering-sering berbohong, karena ketika Anda bohong, nanti orang jadi apatism, tak percaya sama Anda lagi.

Kita itu tergantung pada apa yang kita biasakan. Kalau di biasakan bohong, yang terbentuk karakter pembohong. Kalau pembohong, meskipun kita ngomong benar, yah orang nggak akan percaya lagi.

Oke, hati-hati yah pemimpin, di biasakan untuk tidak bohong, jangan sampai kebiasaannya bohong. Karena kalau biasanya bohong, nanti akan sampai pada titik, meskipun ngomong benar, tidak di percaya.

Prinsip Leadership yang ke-sepuluh, “Fortune favours the bold”

Prinsip dasar kepemimpinan yang kesepuluh bagi seorang leader, “Fortune favours the bold”. Keberuntungan itu memihak pada “the bold”. The bold itu, orang yang tegas, orang yang jelas, orang yang berani.

Jadi pemimpin kalau ingin di tempeli keberuntungan, harus tegas, harus berani, harus jelas, tidak mencla-mencle, tidak membingungkan dan tidak kebingungan, karena “Fortune favours the bold”.

Kalau kita sendiri tidak jelas, ndak tegas ngomongnya, yah ndak mungkin kita beruntung. Kita sendiri ndak jelas, mau beruntung tentang apa, nah kita sendiri juga ndak tahu maunya kemana. Ini prinsip kesepuluh.

Jadi bagi para pemimpin yang ingin sukses, ingin di hampiri oleh Dewi Fortuna, oleh keberuntungan, yah harus tegas, harus jelas, harus mantap dalam setiap keputusan yang diambil. Jangan serba ragu, jangan serba bingung, jangan serba nggak jelas, harus tegas.

Tegas itu berarti memudahkan yang di pimpin, juga memudahkan dirinya sendiri dan ini akan mengundang keberuntungan, “Fortune favours the bold”.

Prinsip Dasar Kepemimpinan yang ke-sebelas, “A likely impossibility is always preferable to an unconvincing possibility”

Prinsip dasar kepemimpinan yang kesebelas bagi seorang leader, “A likely impossibility is always preferable to an unconvincing possibility”. Ketidakmungkinan yang di ungkapkan lebih tegas, mantap, jelas, akan lebih di sukai daripada kemungkinan yang tidak meyakinkan”.

Contohnya, Indonesia lima tahun kedepan, akan memimpin peradaban. Itukan “impossibility”. Yah, kalau realistis, lima tahun lagi pasti belum bisa. Tapi kalau, ketidakmungkinan ini di sampaikan secara tegas, mantap, jelas, sehingga di sukai orang, ayo kita berjuang lima tahun ke depan. Ini biasanya lebih di sukai, di bandingkan dengan “unconvincing possibility”, Kemungkinan, tapi tidak meyakinkan.

“Indonesia ini akan sukses memimpin peradaban kira-kira ya 2050 2060, tapi itu pun tergantung banyak hal sih”. Ini kan kurang meyakinkan, ndak meyakinkan, orang ndak prefer, orang ndak suka, masih enggak jelas juga. Mending yang ndak mungkin, tapi mantep, tegas, jelas.

Kalian nanti kalau jadi pemimpin juga begitu, boleh kalian patok cita-cita yang rasanya kok Impossible. Tapi dengan skema yang kamu bikin, dengan target-target yang kamu rancang, dari seolah-olah itu bisa di capai, ini orang lebih suka, meskipun itu rasanya tidak mungkin, tapi bisa saja terjadi.

Jadi seorang leader harus memahami hukum ini, “A likely impossibility is always preferable to an unconvincing possibility”, berarti kuncinya tadi, engkau yang mantap, engkau yang jelas, yang tegas, punya skema rancangan yang jelas, sehingga orang meskipun itu rasanya tidak mungkin, tapi bisa saja terjadi.

Prinsip Leadership yang ke-duabelas, “To run away from trouble is a form of cowardice and, while it is true that the suicide braves death, he does it not for some noble object but to escape some ill”

Prinsip yang keduabelas, “To run away from trouble is a form of cowardice and, while it is true that the suicide braves death, he does it not for some noble object but to escape some ill“. Lari dari kesulitan itu adalah sebentuk sifat pengecut.

Meskipun benar, bahwa bunuh diri itu adalah menunjukkan berani menghadapi kematian, tapi orang yang melakukan bunuh diri itu, tidak melakukan sesuatu yang mulia. Dia hanya lari dari rasa sakit .

Prinsip yang ke-12 ini mewanti-wanti kita, termasuk calon pemimpin dan para pemimpin untuk tidak lari dari kesulitan. Hidup ini tidak mungkin mulus, seperti yang kita inginkan, lancar-lancar saja, selalu akan ada kesulitan, hadapi kesulitan itu, taklukkan kesulitan itu, jangan jadi pengecut.

“Saya berani kok, menghadapi masalah, dan masalah itu saya hadapi dengan lari dari masalah”. Ndak, Anda bukan menyelesaikan masalah, tapi lari dari masalah. Ndak ada mulianya, kamu lari dari masalah . Ini di ilustrasikan oleh Aristoteles. Kalau engkau lari dari masalah, engkau pengecut, masalahnya tetap ada.

Meskipun kamu beralasan, saya berani Pak, berani lari. Sebenarnya kamu hanya sedang menghindari masalah, bukan menyelesaikan masalah. Lari dari kesulitan adalah ciri seorang pengecut, jangan jadi pengecut. Selesaikan masalah itu, apalagi jika Anda pemimpin. Kalau pemimpinnya saja lari dari masalah, gimana dengan yang di pimpin.

Prinsip Dasar Kepemimpinan yang ke-tigabelas, “Tolerance and apathy are the last virtues of a dying society”

Prinsip dasar kepemimpinan yang ke-ketiga belas, “Tolerance and apathy are the last virtues of a dying society”. Ini penting untuk pemimpin sehubungan dengan kehidupan bersama. Toleransi dan apati adalah kebajikan terakhir dari “dying society” atau masyarakat yang mau ambruk, lembaga yang mau runtuh.

Di institusi yang mau jatuh, ketika misalnya Anda jadi pemimpin satu lembaga, satu institusi, satu organisasi, mungkin dia sudah kacau, sudah enggak karu-karuan, sudah menjelang kejatuhannya, penopang sebenarnya tinggal dua, yaitu toleransi dan apathy.

Kalau dua ini sudah ndak ada, yah sebentar lagi pasti hancur. Toleransi itu berarti menerima perbedaan . Jadi, toleransi itu senjata terakhir, kenapa? karena ndak mungkin kita menghindari perbedaan.

Hidup ini plurar, macem-macem, baik secara individual, maupun secara sosial. Hidup ini macam-macam isinya, kalau orang tidak menerima perbedaan, menerima ada yang berbeda. Ini yah, sebentar lagi alamat “societynya” akan mati, kehidupan bersamanya akan hancur, tanpa disangga oleh toleransi.

Atau paling apesnya adalah “apahty”, ini juga kebajikan terakhir. “Apathy” itu makna letternya “cuek”. Sudahlah suka-suka kamulah, kamu mau apa, asal kita tidak saling ganggu. Itu Apathy.

Toleransi dan Apthy ini kebajikan terakhir. Jalau dua ini, ndak ada, yah sudah, akan terjadi kehancuran masyarakat, akan konflik.

Kalau bisa, lebih dari itu, bukan sekadar toleransi, tapi juga saling memahami, saling mendukung untuk hal-hal yang memungkinkan kerjasama. Ndak sekedar apathy, tapi juga saling mengerti, saling memberi ruang, saling bekerja sama dan seterusnya.

Tapi seandainya itu ndak ada, minimal harus ada toleransinya. Kemudian, penyangga terakhirnya kehidupan masyarakat adalah toleransi. Pemimpin harus mengupayakan dua hal ini, kebersamaan ndak mungkin bisa di bangun tanpa pondasi paling dasar, yakni toleransi. Ini prinsip dasar menurut pendapatnya Aristoteles.

Prinsip Leadership yang ke-empatbelas, “It is the mark of an educated mind to be able to entertain a thought without accepting it”

Prinsip dasar kepemimpinan atau leadership yang ke-14 adalah “It is the mark of an educated mind to be able to entertain a thought without accepting it”. Adalah ciri dari pikiran yang terdidik, untuk mampu menjelaskan, mampu mengentertain, mampu menghibur, mampu memetakan, mampu menjelaskan satu pikiran tanpa menerimanya.

Jadi pemimpin harus punya pikiran terbuka. Pemimpin kalau di situ, istilahnya “educated mind”, bukan pikiran terbuka, jadi pikiran yang terdidik. Pemimpin itu pikirannya harus terdidik. Pikiran terdidik itu apa? mampu mengapresiasi, mampu membaca, menjelaskan satu pikiran, meskipun dia tidak menerima pikiran itu.

Contohnya begini, “gagasan itu saya paham maksudnya, gagasan itu maunya ini toh, tujuannya kesini, targetnya ini, tapi mohon maaf saya nggak setuju seperti itu, saya punya pandangan lain” Yang seperti ini, namanya “educated main”, dia bisa entertain itu, dia bisa mengapresiasi, menjelaskan satu pikiran tanpa harus dia setuju.

Seorang pemimpin harus punya ‘educated main’, pikiran yang terbuka, karena dalam lembaga, dalam organisasi yang dia pimpin pasti disitu banyak pikiran-pikiran lain, gagasan-gagasan lain, yang bertumbu. Olehnya itu, maka dia harus mampu untuk memperbaiki, mengapresiasi, memahami, merekonstruksi, meskipun tanpa harus dia menerima.

Baca Juga:
Metaverse – Apa itu Metaverse, bagaimana cara menjalankannya & apa saja contohnya

Prinsip Dasar Kepemimpinan yang ke-limabelas, “We make war that we may life in peace”

Prinsip dasar kepemimpinan yang terakhir, prinsip yang ke-15 adalah, “We make war that we may life in peace”. Kadang-kadang perang harus di putuskan, agar kita dapat hidup dalam damai.

Maksudnya apa? kadang-kadang seorang pemimpin harus memutuskan sesuatu yang pahit, ndak enak. Tapi, pastikan keputusan itu akan membawa dampak yang sangat positif sesudahnya.

Memutuskan perang oke, tapi pastikan perang ini di lakukan demi kehidupan yang lebih damai di masa yang akan datang. Oleh karena, memang hidup ini rata-rata perlu pengorbanan-pengorbanan. Seorang pemimpin harus paham hukum ini.

Jangan mau nyamannya saja, enggak berani memutuskan. “Kalau ini saya putuskan, ini pahit ini, kalau pahit nanti saya tidak di sukai, nanti saya enggak di pilih pagi”. Ini model pemimpin yang tidak berani mengambil resiko.

Ndak apa-apa, putuskan saja, pahit, asal memang nanti efeknya, dampaknya adalah kebaikan yang justru lebih luas dan lebih dalam. Kadang-kadangkan harus perang, kalau ndak berani perang kita ndak mungkin merdeka.

Kalau ndak merdeka, ndak akan seperti ini kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Kalau dulu para pahlawan kita prinsipnya adalah “damai saja, jangan perang, perang itu kekerasan”. Ndak akan lahir kemerdekaan seperti ini. Seperti kita nikmati hari ini.

Keputusan perang di ambil demi “We make war that we may life in peace”, hidup aman untuk selanjutnya. Jadi kadang-kadang seorang pemimpin harus berani memutuskan yang pahit, tapi hasilnya adalah kebaikan yang berkali lipat, lebih luas dan lebih dalam.

Nah inilah kualifikasi kualifikasi pemimpin ideal versi Aristoteles, sekitar 15 prinsip. Dari sini kelihatan bagaimana corak pemimpin yang bijaksana versi Aristoteles.

Baca Juga :
Ciri ciri Orang Cerdas menurut Steve Jobs

Sumber: Kuliah Filsafat dari Dr. FF
Terima kasih telah membaca artikel ini,
semoga bermanfaat.


Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca