Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan – Era Gemilang Sains yang Terlupakan

Era Gemilang Sains yang Terlupakan

HermanAnis.com – Teman-teman semua, tulisan kali ini akan membahas tentang Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan, pembahan akan mengulas sebuah era dalam sejarah Islam ketika para ilmuwan Muslim dan non-Muslim, Arab dan non-Arab tinggal berdampingan di bawah Kerajaan Islam yang menjadi pusat penelitian berbagai bidang studi, dari matematika, kedokteran, filsafat, hingga astronomi.

Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Di era atau dunia modern, kalau kita mau mengukur pengedepankan sains dan teknologi, itu salah satu ukurannya adalah kemenangan di Nobel.

Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan 1 - Era Gemilang Sains yang Terlupakan

Nobel, ini adalah penghargaan internasional yang di berikan kepada mereka yang memberikan kontribusi yang sangat bermanfaat untuk umat manusia dalam bidang sains dan teknologi termasuk fisika, kimia, kedokteran, dan juga ekonomi.

Tapi juga untuk non-sains termasuk sastra atau literatur dan perdamaian. Penghargaan ini di mulai oleh Alfred Nobel seorang ahli kimia, insinyur, dan industrialis Swedia yang terkenal karena penemuan dinamit pada tahun 1901. Dan tentunya ini berkelanjutan semenjak awal abad ke-20.

Setiap pemenang menerima medali emas, diploma, dan penghargaan uang. Hingga tahun 2021, penghargaan Nobel telah di berikan kepada 975 pemenang baik individu maupun organisasi.

Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Kalau kita lihat, pemenang Nobel dari tahun 1901 sampai 2021 itu totalnya 975; untuk non-sains itu 344 pemenang, dan untuk sains itu 631 pemenang.

Baca juga: Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Sebagian besar pemenang beragama Kristen, kurang lebih 68% dari total jumlah pemenang, di ikuti oleh Yahudi, kurang lebih 20,8% dari total pemenang, dan lainnya termasuk Islam, hanya 1,3% dari total jumlah pemenang, Hindu 0,8%, dan Buddha 0,4%.

Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan 3. Era Gemilang Sains yang Terlupakan

Kalau kita kupas lagi, dalam konteks sains, hanya tiga orang Islam yang pernah menang hadiah Nobel.

Yang pertama adalah Abdus Salam di tahun 1979, dia itu keturunan Pakistan. Dan yang kedua adalah Ahmed Zewail, keturunan Mesir, yang menang di bidang kimia. Dan yang ketiga adalah Aziz Sancar keturunan Turki, yang menang di bidang kimia juga.

Nah, Islam ini hanya merupakan 0,5% dari total pemenang Nobel dalam bidang sains. Sedangkan Hindu dengan 4 pemenang, itu 0,6%, dan Yahudi dengan 147 pemenang, itu merupakan 23,3% dari total pemenang Nobel dalam bidang sains. Yang paling banyak tentunya adalah 418 pemenang yaitu orang Kristen yang merupakan 66,2% dari total pemenang Nobel dalam bidang sains.

Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan 4 - Era Gemilang Sains yang Terlupakan

Nah, kalau untuk bidang non-sains, agama Buddha itu ada 4 pemenang, itu merupakan 1,2% dari total jumlah pemenang. Hindu, 4 pemenang juga, 1,2%. Islam ada 10 pemenang, 2,9% dari total pemenang Nobel dalam bidang non-sains. Dan Yahudi ada 56 pemenang, 16,3%. Kristen itu ada 248 pemenang kurang lebih 72,1% dari total pemenang Nobel dalam bidang non-sains.

Kalau kita kupas lagi dalam konteks populasi dunia sejumlah 7,8 miliar penduduk, kaum Kristen yang kurang lebih 2,5 miliar penduduk, mereka memenangkan 66% dari total hadiah Nobel yang di menangkan dalam konteks sains, sedangkan populasi mereka itu adalah 32,1% dari total populasi dunia.

Sedangkan Islam dengan 1,8 miliar penduduk atau kurang lebih 24,5% dari total penduduk dunia, mereka memenangkan hanya 0,5% dari total hadiah Nobel dalam bidang sains. Hindu dengan jumlah 1,16 miliar di dunia atau kurang lebih 15% dari total populasi dunia, mereka hanya memenangkan 0,6% dari total hadiah Nobel yang di menangkan dalam bidang sains.

Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan 5 - Era Gemilang Sains yang Terlupakan

Buddha dengan 506 juta atau kurang lebih 5% dari populasi dunia, mereka belum menangkan apapun. Sedangkan Yahudi, hanya dengan populasi 20 juta atau kurang lebih 0,18% dari total populasi dunia, mereka sudah memenangkan 23,3% dari total hadiah Nobel yang di menangkan selama ini dalam bidang sains.

Baca Juga: Fitrah Manusia

Nah, kalau kita belajar selama ini, ilmuwan-ilmuwan yang kita ketahui itu kebanyakan atau hampir semuanya yang kita kenal, itu berasal atau dari Eropa.

Tentunya yang pertama yang di kenal itu bisa Isaac Newton, bisa Aristoteles, bisa Albert Einstein, bisa Pythagoras, bisa Galileo, Charles Darwin, ataupun Marie Curie. Lucunya, nggak kedengaran nama- nama yang berasal dari Timur Tengah atau dari dunia atau zaman Islam.

Tapi, yang penting untuk di ketahui adalah kalau kita bicara mengenai angka atau bilangan, angka yang di gunakan oleh manusia di seluruh dunia ini adalah angka Arabic atau bilangan Arabic, bahkan ilmu mereka untuk menemukan angka itu juga di topang oleh teman-teman di India.

Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan - Era Gemilang Sains yang Terlupakan

India itu yang menemukan angka nol yang ditambahkan ke angka-angka dari 1-9.

Berikutnya, kalau kita melihat bintang yang ada di Galaksi Milky Way, itu 2/3 dari seluruh bintang yang sudah di berikan nama, itu sebetulnya diberikan nama oleh ahli-ahli di zaman Islam yang jaya khususnya di zaman Abbasid, yang berjaya selama kurang lebih 500 tahun dari tahun 750 sampai kurang lebih 1258.

Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Tiga Zaman Emas Peradaban Muslim

Kejayaan islam itu termanifestasi dalam beberapa zaman atau 3 zaman yang di catat dalam sejarah.

Zaman Umayyah – Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Yang pertama adalah zaman Umayyah yang di mulai kurang lebih 29 tahun setelah Nabi Muhammad meninggal di tahun 632, ini berlangsung dari tahun 661-750.

Era Gemilang Sains yang Terlupakan

Tentunya kejayaan zaman Umayyad ini diwarnai dengan tingkat toleransi dan keterbukaan yang luar biasa khususnya dalam urusan ekonomi, sosial, dan budaya.

Ini di pelopori oleh Muawiyah ibn Abu Sufyan yang memposisikan dirinya sebagai pimpinan atau gubernur di Damaskus yang akhirnya menjadi ibukota dari kekuasaan untuk kerajaan Umayyad selama 90-an tahun.

Mereka cukup luas sekali teritorinya. Ini mencakup 11 juta km2 termasuk Asia Tengah, Pakistan, Afrika Utara, Peninsula, Iberia yaitu Spanyol dan Portugal atau Andalusia.

Ini jauh lebih besar daripada teritori yang di kuasai di zaman Romawi sebelumnya.

Mayoritas dari populasi yang ada di zaman Umayyad ini adalah kaum Kristen, mereka dan non-muslim lainnya termasuk kaum Yahudi diharuskan bayar pajak lebih tinggi di bandingkan kaum muslim atau Islam yang hanya harus bayar pajak zakat.

Baca Juga: Kisah Layla Majnun, Cerita Cinta Ketuhanan oleh Nizami Ganjavi

Zaman Abbasid – Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Zaman berikutnya yang bisa di bilang sebagai zaman kejayaan Islam itu adalah zaman Abbasid atau Abbasiyah yang berlangsung cukup lama, dari tahun 750 sampai tahun 1258.

Era atau zaman ini sangat di warnai dengan toleransi dan keterbukaan, zaman ini di pelopori oleh sebetulnya sebelum tahun 750, oleh pamannya Nabi Muhammad SAW bernama Abbas ibn Abdul Muthalib yang hidup dari tahun 566 – tahun 653.

Zaman Abbasid ini kekuasaannya juga sangat besar, dan di awal waktu, mereka beribukota di Kufa yang sekarang berada di Irak semenjak mengambil alih dari kerajaan Umayyad di tahun 750, namun selanjutnya mereka memindahkan ibukota ke Baghdad di tahun 762 semenjak Raja Al-Mansur berkuasa.

Era Gemilang Sains yang Terlupakan - Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan 4

Baghdad ini menjadi pusat dari ilmu pengetahuan, sains, budaya, filsafat, dll., yang membuahkan zaman keemasan Islam yang luar biasa. Namun berakhir di tahun 1258 sewaktu di serang dan di taklukkan oleh Hulagu Khan keturunan raja dari kerajaan Mongol.

Zaman Ottoman – Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Manifestasi kejayaan Islam yang ketiga ini di zaman Ottoman yang berlangsung cukup lama dari tahun 1299 sampai tahun 1922, juga di warnai dengan toleransi dan keterbukaan, tapi mungkin tidak sekental seperti Abbasid dalam konteks pengedepanan sains dan teknologi.

Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan 8

Ini di prakarsai oleh Sultan Osman dari Anatolia, seorang kepala suku Turkoman, dan Ottoman itu mengakhiri kekuasaan Kerajaan Byzantine dengan pengambilalihan Kota Konstantinopel di tahun 1453 oleh keturunan Osman bernama Sultan Mehmed di usia muda sekali.

Dan pada zaman Sultan Sulaiman, kerajaan Ottoman mengalami puncak kejayaan dengan pengembangan sistem pemerintahan, ekonomi, dan sosial yang menjadikan Ottoman pusat interaksi antara Eropa, Timur Tengah, dan Asia.

Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan 9

Pengedepanan ilmu alam di zaman Ottoman tidak secanggih sewaktu di zaman Abbasid. Dan ini berakhir beberapa tahun setelah berakhirnya Perang Dunia I di tahun 1917-1918.

Rumah Kebijaksanaan – Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Pada intinya pengedepanan sains dan teknologi sangat termanifestasi di zaman Abbasid. Salah satunya adalah House of Wisdom atau Bayt al-Hikmah.

Ini sebetulnya tempat yang di lahirkan oleh raja Al-Mansur di zaman Abbasid dan ini merupakan tempat yang ujung- ujungnya menjadi perpustakaan yang sangat besar dan spektakuler dan menjadi institusi pendidikan yang bisa mengumpulkan karya-karya yang luar biasa, tapi di sempurnakan oleh raja berikutnya keturunan Al-Mansur, bernama Harun al-Rashid yang berkuasa dari tahun 786 – 809.

Dan tentunya ini di besarkan lagi dan di indahkan lagi oleh Al-Ma’mun keturunan Harun al-Rashid yang mengumpulkan bukan hanya koleksi-koleksi pribadi dari zaman Al-Mansur, Harun al-Rashid dan Al-Ma’mun, tapi mereka mengumpulkan karya-karya tulisan-tulisan dari seluruh penjuru dunia.

Ini mungkin yang membedakan keterbukaan yang berada di zaman Abbasid di bandingkan keterbukaan yang ada di zaman-zaman kejayaan Islam lainnya. Di House of Wisdom atau Bayt al-Hikmah, ada 4 ilmuwan yang mungkin bisa di-highlight atau di garis bawahi.

Era Gemilang Sains yang Terlupakan - Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan

4 ilmuwan Sains Islam yang Terlupakan – Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Yang pertama, yang paling terkenal ini adalah Ibnu Sina yang hidup di tahun 980-1037, beliau ini orang keturunan Persia, tapi dari kecil itu di kenal sebagai prodigy, dan lahir di Bukhara, di negara sekarang namanya Uzbekistan, dan beliau adalah ahli filsafat dan kedokteran yang menulis “The Canon of Medicine“.

Karya ini menjadi acuan ilmu kedokteran di dunia Islam dan Eropa sampai abad ke-19, bahkan acuan atau referensi di ilmu kedokteran di zaman kontemporer, itu masih banyak mengacu ke temuan- temuan atau karya-karya dari Ibnu Sina.

Yang berikutnya adalah Al-Biruni yang hidup dari tahun 973 1048, beliau juga orang Persia, tidak seterkenal Ibnu Sina, tapi beliau adalah ahli filsafat, teologi, matematika, fisika, dan seorang polimatika, bahkan banyak sekali teori-teorinya beliau itu di berdayakan, di referensikan, di gunakan sebagai acuan oleh ilmuwan-ilmuwan terkenal di Eropa dan dunia sekitarnya ratusan tahun berikutnya.

Era Gemilang Sains yang Terlupakan

Beliau juga di juluki sebagai geologis atau ahli geologi dan antropologi pertama. Kemudian, beliau juga di juluki sebagai Leonardo Da Vinci-nya dunia Islam.

Beliau sangat merupakan follower atau pengikut dari orang ilmuwan lainnya yang bernama Al-Khwarizmi, yang juga hidup di zaman Abbasid, lahir di Uzbekistan, dan beliau itu juga terkenal menggunakan trigonometri untuk mengukur panjang lingkaran planet dunia atau Bumi.

Jadinya bayangin kalo Al-Biruni sudah bisa mengukur lingkaran atau panjang lingkaran planet bumi di ratusan tahun sebelum Christopher Columbus menemukan Amerika, bisa di argumentasikan bahwa ilmuwan di jaman Abbasid itu sebetulnya sudah mengambil kesimpulan bahwasanya planet bumi itu sudah bulat, bukan rata.

Berikutnya adalah Ibn al-Haytham. Beliau adalah orang keturunan Arab bukan Persia. Hidup di tahun 965 1040. Beliau adalah bapak dari ilmu optik modern. Seorang astronomer, ahli matematika, ahli fisika, dan beliau lahir di Basrah yang sekarang berada di negara Irak. Beliau juga di kenal sebagai seorang polimatik yang ahli di bidang filsafat dan kedokteran.

Era Gemilang Sains yang Terlupakan

Berikutnya adalah ilmuwan yang juga nggak kalah terkenal yaitu Ibn Musa al-Khwarizmi, hidup di tahun 780-850. Lahir di Uzbekistan, seorang Persia, seorang polimatika yang menjadi pemimpin Baitul Hikmah atau House of Wisdom.

Beliau ini adalah orang yang menemukan aljabar dengan tulisan kitab Al Jabr W’Al-Muqabala atau Compendium on Completion and Reduction. Dan tentunya banyak yang gak sadar bahwasanya kata Al-Khwarizmi ini menjadi dasar atau asal-usul penggunaan konsep atau kata algoritma atau algorithm.

Banyak ilmuwan-ilmuwan lainnya yang sangat Jaya di zaman Abbasid, termasuk Abu Bakr al-Razi, keturunan Persia, ahli kedokteran, filsafat, alkimia, logika, astronomi, dan menulis banyak sekali mengenai penyakit-penyakit termasuk smallpox, chickenpox, dan pediatric.

Berikutnya Abu Mashar, Ahli astrologi yang menerjemahkan karya-karyanya Aristoteles. Sahl ibn Harun, seorang ahli filsafat dan polimatika. Al-Hajjaj ibn Yusuf ibn Matar, ahli matematika yang mennerjemahkan karya-karyanya Euclid.

Hunayn ibn Ishaq seorang dari Syiria, seorang Kristen, yang ahli filsafat dan pernah di berikan amanah atau tanggung jawab untuk mengepalai Bayt al-Hikmah atau House of Wisdom. Abu Bishr Matta ibn Yunus, seorang Kristen juga yang ahli kedokteran dan sangat dimuliakan di zaman Abbasid.

Dan Al-Kindi seorang ahli filsafat, ahli matematika, dan musik. Jabir ibn Hayyan, ahli kimia dan alkimia. Omar Khayyam, ahli matematika, puisi, dan astronomi.

Kalau kita mengacu ke era yang lebih modern atau kontemporer, di tahun 1543, ada seorang ilmuwan bernama Copernicus dari Polandia yang menemukan bahwasanya bukan planet bumi, tapi justru matahari yang merupakan pusat atau sentra dari sistem tata surya atau the solar system.

Karyanya beliau itu mengacu ke banyak sekali karya-karya dari ilmuwan di zaman Abbasid termasuk Al-Tusi dan Al-Battani. Mereka ini adalah ahli astronomi, matematika, dan fisika di masa kejayaan kerajaan Abbasid.

Era Gemilang Sains yang Terlupakan

Pada intinya bahasa-bahasa yang di baca dan di terjemahkan di Bayt al-Hikmah itu bukan bahasa Arab saja, tapi juga di gunakan bahasa Farsi, Aramaik, Yahudi, Syriac, Yunani dan Latin.

Jadi bisa di bayangkan keterbukaan mereka untuk belajar dari seluruh penjuru dunia itu luar biasa sekali. Dan tentunya esensi dari ulasan ini adalah enggak ada itu sains Persia, sains Arab, sains Islam, sains Yahudi, sains Kristen, yang ada adalah sains. Sains tidak memiliki batas.

Tentunya yang menggarisbawahi kejayaan mereka apakah itu di zaman Umayyad, Abbasid, ataupun Ottoman adalah keterbukaan dan toleransi. Tapi saya perlu garis bawahi di sini sempat ada seorang ahli spiritual, ahli fislsafat, dan ahli macam-macam bernama Hamid al-Ghazali seorang polimatika keturunan Persia.

Beliau menulis banyak sekali karya-karya tulisan, dua yang saya mau sorot. Yang pertama adalah Revival of the Religious Sciences bahwasanya ajaran islam itu sudah di lupakan di zaman Abbasid, dan beliau itu mengingatkan untuk kaum Islam itu tetap mendekatkan diri dengan agama.

Karya keduanya, adalah The Incoherence of the Philosophers yang mengkritik ilmu pengetahuan sains Aristotelian bahwasanya revelation (wahyu) itu lebih tinggi daripada investigasi atau rasionalitas.

Mungkin kalau saja pengedepanan sains dan teknologi itu terus berlanjut semenjak zaman keemasan Islam di zaman Abbasid, mungkin sekali kemenangan di Nobel dalam bidang sains yang di menangkan oleh kaum Islam itu jauh lebih besar daripada hanya 0,5% dari total kemenangan selama ini.

Tapi tentunya Nobel itu bukan penilaian yang universal, tapi Ini hanya salah satu dari acuan untuk sejauh apa kita sudah mengedepankan ilmu sains dan teknologi.

Meredupnya Cahaya Keilmuan Islam

Telah ada beberapa pemikiran ataupun spekulasi mengenai sebab berkurangnya pengedepanan sains dan teknologi semenjak berakhirnya zaman Abbasid di tahun 1258.

Yang pertama,

Mungkin sangat masuk akal yaitu serangan yang spektakuler yang di lakukan oleh Hulagu Khan terhadap Baghdad di tahun 1258 dengan hancurnya dokumentasi ilmu pengetahuan yang banyak sekali sudah terakumulasi dari zaman Yunani, ribuan tahun sebelumnya, zaman Romawi, ratusan tahun sebelumnya.

Yang kedua,

Pemicu kemerosotasn adalah kritik terhadap ilmu pengetahuan sains Aristotelian yang menyebabkan berkurangnya intellectual curiosity.

Yang ketiga,

mungkin saja berkurangnya peran Timur Tengah sebagai bagian penting dari Rute Sutra atau Silk Route semenjak pihak-pihak Eropa menemukan jalur maritim yang baru menuju Asia semenjak abad ke-15.

Yang keempat,

mungkin saja semenjak di temukannya printing press atau mesin cetak di Eropa, di abad ke-15, ini yang membuahkan episode di mana Eropa itu lebih cepat melakukan pencatatan dan produksi massal untuk karya-karya tulisan mereka yang bisa di berdayakan untuk kepentingan menyebarkan ilmu pengetahuan untuk komunitas mereka.

Era Gemilang Sains yang Terlupakan

Tapi mungkin yang penting untuk di ketahui kita semua adalah “keterbukaan manusia terhadap ilmu dari manapun merupakan atribut yang paling penting untuk suatu bangsa itu bisa menjadi bangsa yang maju.

Indonesia tentunya ini perlu mencatat sebagai negara muslim terbesar di dunia, tentunya kental dengan moderasi keterbukaan, toleransi, dan kebersamaan, bukan nggak mungkin untuk Indonesia untuk bisa berperan besar sekali untuk pengedepanan sains dan teknologi ke depan.

Era Gemilang Sains yang Terlupakan

Sumber Utama

  • Chanel Youtube Gita Wirjawan. Era Gemilang Sains yang Terlupakan | Endgame The Take #11.

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca