Etika Menurut Socrates

Etika Menurut Socrates

HermanAnis.com – Pada kesempatan ini kita akan membahas satu tema Socrates, “Mbahnya” para filsuf, yang dipandang sebagai pelopor memuncaknya tradisi berfikir filsafat di Yunani. Kita akan bahas tentang perilaku, konsep etiknya. Kalau sudah kenal dirinya, maka sekarang saatnya melakukan ekspresi diri. Ekspresi diri itu wujudnya tindakan. Harus baik, harus pas, cocok. Tindakan yang baik, yang sesuai, itu ranahnya etik.

A. Tradisi Berpikir Filsafat di Yunani

Kalau teman-teman membaca sejarahnya Yunani, ini era klasik sekitar abad 9 sampai abad ke-6 sebelum Masehi. Saat itu di Yunani banyak negara kota, namanya polis. Yang polisi ini ada dua yang paling besar, yaitu Athena dan Sparta.

Awalnya polis ini di atur dengan model aristokrasi, oligarki, bahkan ada yang sampai model tirani. Tapi, kemudian belakangan muncul gagasan ide model demokrasi yang di awali di Athena. Saat itu Athena berhasil menjatuhkan seorang Tiran namanya Hippias.

Jatuhnya Tiran ini memunculkan model demokrasi yang saat itu modelnya demokrasi langsung. Ada dewan isinya 500 orang yang gantian dan bertugas memilih siapa yang harus jadi pimpinan.

Athena ini pernah mengalami dua kali serangan dari Persia dan gagal. Pada era Darius pertama itu Athena dan Yunani di serang, tapi berhasil menang. Persia balik, 10 tahun kemudian anaknya Darius yang namanya serses menyerang Athena, menyerang Yunani, ingin menguasai Yunani tapi juga gagal. Setelah serangan Persia yang kedua kalah, kemudian negara-negara kota tadi membentuk semacam Liga, dengan namanya Liga Delos untuk membangun kekuatan militer.

Karena Persia ndak balik-balik, akhirnya uang urunan yang banyak ini termasuk kekuatan militer yang luar biasa itu, di kuasai oleh Perikles. Ini yang menguasai Athena saat itu, ini membuat jengkel, membuat iri negara kota yang lain.

Akhirnya muncullah perang berkepanjangan antara Sparta dan Athena. Puluhan tahun perang dan akhirnya yang menang Sparta. Menangnya Sparta ini melahirkan istilah 30 Tiran.

Kemudian Athena di perintah oleh sekelompok elit oligarki Sparta. Disebut Tiran karena memang sewenang-wenang, kabarnya lima persen lebih penduduk Athena jadi korban.

Perang ini mengakibatkan melemahnya kekuatan Yunani baik Athena maupun Sparta. Meskipun nanti bisa balik lagi mengusir tiran-tiran ini, tapi sudah kondisinya tidak seperti dulu.

Di era 30 Tiran ini, ketika orang jungkir balik mengatasi kesulitan hidup inilah, muncul Socrates. Jadi medan filsafatnya Socrates itu situasi yang semacam itu. Meskipun nanti salah satu dari pimpinannya 30 Tiran yang namanya Kritias menjadi muridnya Socrates, tapi nanti akhirnya Socrates juga dieksekusi oleh mereka ini. Jadi itu ceritanya seorang Sokrates.

Pada masa itu, dia di anggap membahayakan Negara saat itu, merusak anak-anak muda yang mengakibatkan dia dieksekusi. Jadi itulah arenanya, makanya dia kritis sekali pada perilaku-perilaku moral yang menyimpang.

Setelah Yunani lemah itu, datanglah dari arah utara kerajaan kecil, kemudian jadi luar biasa dari Macedonia, yang rajanya bernama raja Philip. Raja Philip bahkan bisa menaklukkan Yunani satu persatu. Setelah meninggal di lanjutkan anaknya yang bernama Alexander. Di era era inilah Socrates, Plato, Aristoteles itu berkiprah di dunia filsafat, bahkan Alexander ini nanti bahkan bisa menaklukkan Persia.

Baca Juga: Era Gemilang Sains yang Terlupakan

B. Pandangan Socrates tentang Etika

Socrates saat dia berkiprah, berfilsafat, berdakwah, berhadapan dengan antagonisnya, musuhnya, yaitu kaum sophis. Ada dua kontras pandangan antara socrates dan kaum sophis ini.

1. Pandangan kaum Sophis

Pandangan kaum sophis yang pertama adalah kekuasaan membuahkan kebenaran. Kunci kebenaran itu kekuasaan, siapa punya kuasa dialah yang bisa mengatur kebenaran. Ini seperti pandangannya Fuko bahwa, power is knowledge, bukan Knowledge is power. Siapa punya kekuasaan dia bisa mengatur mana benar, mana salah. Kebenaran itu kuncinya kekuasaan, kaum solvis ini adalah guru-guru yang memandang bahwa endidikan itu profesi. Sehingga kebenaran versi mereka, sesuai yang bayari mereka.

Pandangan kaum sophis yang kedua adalah manusia adalah ukuran dari segala sesuatu. Setiap orang mengukur segala sesuatu dengan standarnya sendiri. Kata kaum sofis, ukuran kebenaran itu adalah manusia. Manusia adalah ukuran segala sesuatu, standar itu yang bikin kita, kalau ndak cocok diganti saja standarnya sesuai yang kita inginkan. Karena manusia adalah ukuran dari segala sesuatu.

Pandangan kaum sophis yang ketiga adalah relativisme, pandangan bahwa kebenaran itu relatif menurut masing-masing orang atau budaya.

Baca Juga: Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat Ilmu

2. Pandangan Socrates

Pandangan kaum sophis yang bertolak belakang dengan socrates. Kalau menurut socrates kebenaran itu memang ada, objektif. Manusia silahkan mencari, silahkan meraihnya. Jadi dia bukan sesuatu yang sifatnya relatif, jadi baik itu memang ada, benar itu memang ada, indah itu memang ada. Jadi standar itu sifatnya absolut, mutlak.

Dari sisi kemudahan, pandangan socrates lebih mudah, karena kita hidup itu perlu keyakinan-keyakinan akan kebenaran tertentu. Menurut Socrates, hidup ini perlu standar-standar baku tentang kebenaran dan kebaikan. Manusia itu kan selalu ingin milih yang paling cocok, paling relevan, paling sesuai untuk hidupnya. Kalau standarnya tidak pasti, kalian anda kesulitan, prosesnya melelahkan.

Musuh besarnya socrates adalah orang-orang sophis. Jadi zaman itu Socrates mengkritik orang-orang di sekelilingnya, misalnya melalui kalimat:

“Apakah engkau tidak malu karena begitu peduli menghasilkan uang, ketenaran dan nama baik, sementara engkau tidak peduli dengan kebijaksanaan, kebenaran dan perbaikan jiwamu?”

Ini bagian dari degradasi moral saat itu yang di lihat oleh Socrates. Orang-orang ini kok lebih sibuk cari uang, lebih sibuk ingin terkenal, kalau bahasa hari ini ingin viral dan ingin nama baik, kehormatan. Lupa bahwa ada yang lebih esensial yaitu wisdom (kebijaksanaan), kebenaran dan perbaikan hidup.

Kalau sekarang kalimat masih relevan apa ndak, kalau masih relevan berarti memang manusia tidak belajar-belajar sejak zaman Yunani. Pikiran manusia ndak jauh-jauh dari uang, ketenaran, nama baik, bahkan beragama pun kadang-kadang hanya jadi kendaraan untuk dapat uang, untuk viral dan dapat status nama baik. Nah, itu degradasi moral di zamannya Socrates.

Kalimat lain dari Socrates yang berhubungan dengan anak-anak muda, dia berkata,

“Anak-anak sekarang menyukai kemewahan, mereka memiliki perilaku buruk, sinis pada otoritas, mereka menunjukkan rasa tidak hormat pada orang yang lebih tua dan lebih suka ngobrol di bandingkan oleh raga. Anak-anak sekarang menjadi Tiran, bukan pembantu di rumah mereka. Mereka tidak lagi berdiri saat orang lebih tua masuk ruangan, mereka menentang orang tua mereka, ngobrol di depan temannya sambil melahap makanan lezat di meja, menyilangkan kaki, menzalimi guru mereka”

Intinya ada krisis moral, krisis akhlak, dan adab. Kalimatnya socrates untuk anak-anak zaman itu, kalau sekarang zaman ini mungkin lebih parah. Saya sebut lebih parah karena dunia anak-anak hari ini bukan dunia nyata pergaulan sosial, pengalaman hidup bersama. Sekarang anak-anak hari ini lebih sibuk di dunia maya, sehingga kepekaan sosialnya tidak tinggi, itu yang membuat sulit mereka bisa peka akhlak, peka adat. Medan mereka tidak panjang bersentuhan dengan dunia sosial konkrit, mereka lebih banyak dengan dunia maya.

Ini kegelisahannya Socrates, degradasi moral, baik orang dewasa maupun anak-anak mudanya. Itulah mengapa nanti, dia lebih suka diskusi dengan anak-anak muda, menggarap mereka sampai di anggap meracuni pikirannya anak-anak muda saat itu.

Baca Juga: Daftar Penerima Hadiah Nobel dalam Bidang Fisika

C. Profil Etik Socrates

Socrates terkenal saat itu terkenal sebagai seorang yang komitmen etiknya tinggi. Ada beberapa fakta, terkait dengan bahwa profil etiknya.

Profil etik yang pertama Socrates adalah seorang pemberani. Socrates dizamannya pernah ikut perang di pasukan perang. Termasuk saat dia menyebarkan ide-ide gagasannya, dia ndak takut, di ingatkan banyak orang. Sampai ketika terancam hukuman mati pun, dia ndak gentar. Pemberani bukan nekat, dia penuh perhitungan, dia cerdas.

Dia di kenal sebagai seorang heroik yang pemberani. Jadi kalau dia menganggap itu benar akan dia perjuangkan, meskipun perjuangannya secara persuasi. Mengajak orang diskusi, bukan maki-maki orang, menjatuhkan orang. Dia ndak menggurui sampai orangnya sadar sendiri ternyata yang salah dia.

Profil etik yang kedua, Socrates menjelaskan bahwa dia menerima “daimonion”. Diamonion itu suara Ilahiyah. Dia merasa mendapatkan pesan-pesan ilahiyah yang harus di sebarkan kemana-mana. Maka jangan heran kalau ada orang berpendapat jangan Sokrates itu nabi. Mungkin mungkin saja, toh yang dia lakukan baik, sangat religius bahkan di beberapa tempat agak dogmatis, memang orang harus begini, ada kebenaran absolut ada.

Profil etik yang ketiga, Socrates menganggap dirinya seorang penggangu (gadfly of Athens). Dia menganggap dirinya itu seperti lalat yang mengganggu orang. Jadi memang cara dakwahnya dia itu mengusik pikirannya orang, membuat orang ndak tenang. Kayak lalat, bikin orang sebel. Tapi kalau ndak begitu, orang ndak mau mikir tentang hidupnya.

Mungkin secara pribadi banyak orang sebel sama dia, ndak suka, tapi kata dia “biar saja, demi agar orang sadar tentang dirinya”. Makanya dengan gayanya ini, nanti Socrates di kenal sebagai orang yang paling bijaksana saat itu. Peramal Oracle dari kuil Delfi yang ketika di tanya, “apa ada orang yang lebih bijaksana di Athena ini selain Sokrates?” jawabannya dia “ndak ada, dialah orang yang paling pintar yang paling bijaksana.”

Pernah satu ketika socrates itu lagi asik-asiknya debat, diskusi, di siram air sama istrinya. Mungkin saking jengkelnya, debat lagi, debat lagi, jengkel. Teman-temannya kenal semua, bahwa memang istrinya itu agak temperamen, cerewet suka marah-marah.

Baca Juga: Sejarah Penemuan Atom

D. Pandangan Etik Socrates

Secara umum, cara berpikir etiknya yang pertama memang fokus etik oleh socrates itu manusianya. Jadi karena ada orang berpikir etik itu yang di lihat perbuatannya. Ini jenis jujur, apa jenis bohong, ini jenis amanah, apa jenis curang, yang di lihat perbuatannya. Kalau menurut socrates, ini fokus ke orangnya. Berarti apa, orangnya yang harus di garap jadi baik. Kalau orangnya sudah baik, otomatis nanti keluar perbuatan-perbuatan yang baik. Itu yang di sebut fokus pada orangnya. Jadi lebih utama membereskan manusianya dulu, kalau kualitas jiwanya manusia itu utama, yang keluar ya perilaku utama.

Kemudian orientasinya adalah perubahan dan perbaikan. Jadi perubahan sikap dan tindakan sehingga terjadi perbaikan kualitas hidup. Kalau sudah perbaikan, disitu lahir kebahagiaan. Jadi orang itu kalau hidupnya, lebih baik terus terjadi perbaikan, dia akan bahagia.

Untuk bisa lebih baik, dia harus mau mengubah diri. Untuk mengubah diri jadi lebih baik ada syaratnya, pengetahuan. Maka dasar etiknya socrates itu pengetahuan, ilmu. Orang itu harus pinter dulu, berilmu dulu, baru dia bisa jadi orang baik. Manifestasinya kebajikan, perilaku-perilaku utama.

Jadi berarti apa? fokusnya manusia, yang manusia ini harus memperbaiki dirinya terus-menerus, memperbaiki ini dasarnya pengetahuan yang di wujudkan dalam kebajikan. Jadi berarti kalau versinya Socrates, tugas kita ini belajar terus, sehingga kualitas hidup kita jadi lebih baik. Kenapa, dengan kita belajar, kita tahu mana yang lebih baik. Sehingga, kita bisa mengubah diri jadi lebih baik. Jadi kunci prinsip-prinsip etiknya socrates ini ada di pengetahuan.

Yang menurut dia nanti istilahnya wisdom, pengetahuan yang pas, yang cocok, yang kita terjemahkan jadi kebijaksanaan. Kalau orang sudah bijaksana, dia akan bahagia, karena kebijaksanaan itu menjalankan ilmu, menjalankan pengetahuan secara tepat, sesuai konteks ruang dan waktunya. Jadi ini peta umumnya, di fokuskan pada manusia, yang menuju kebahagiaan dengan cara memperbaiki dirinya terus-menerus, di awali dari pengetahuan yang di wujudkan melalui tindakan. Inilah prinsip etiknya Socrates.

Baca Juga: Perbedaan Kreativitas, Penemuan dan Inovasi

E. Pentingnya Pengetahuan menurut Socrates

Definisi pengetahuan menurut socrates adalah, kuncinya kebaikan itu pengetahuan. Pengetahuan di socrates itu lebih mirip dengan pencerahan. Tidak sekedar tahu, bedakan orang tahu dengan tercerahkan. Orang tercerahkan itu kan orang yang tahu dan sadar.

Makanya pengetahuan itu ekuivalen dengan kebaikan. Orang nambah ilmu, pasti dia tambah baik. Tapi, “kok ada orang ngaku ilmunya banyak, kelakuannya tambah tidak baik?” sebenarnya dia belum berilmu, tidak bisa di sebut berpengetahuan. Masih belum tuntas penguasaan atas ilmu, kalau belum mewujud dalam lakon. Kuncinya etik pengetahuan itu setara dengan kesadaran. Orang berpengetahuan itu berhubungan dengan eksistensi dirinya. Jadi aku tahu itu berhubungan dengan keberadaanku. Tidak sekedar aku ngerti dan aku hafal.

Selain pengetahuan, kuncinya etik itu ada pada kebajikan atau keutamaan. Kalau istilah Yunani “Arete”. Arete itu kebajikan yang terletak dalam kondisi jiwa yang optimal. Jadi jiwa kita ini berfungsi optimal, kalau dia coraknya kebajikan. Corak kebajikan itu ada 3 yakni, sadar, tahu dan rasional. Hidupnya terarah, terpola, dan di sadari.

Lawannya arete itu “ignoransi”. Ignoransi itu kurang ngerti, tidak paham. Belum disebut orang ngerti, jika orang tersebut paham namun pemahamannya itu tidak nyambung dengan perilakunya.

Menurut Socrates, orang itu kalau melakukan perbuatan jahat, berarti dia ilmunya kurang. “Pak, itu orang pinter loh Pak, doktor loh Pak, Profesor, tapi kok korupsi? Kalau kamu sebut korupsi, berarti dia ndak pintar, meskipun doktor, meskipun profesor. Meskipun orang penting.

Loh tapi bukunya banyak loh Pak? Iya, tetap tidak bisa di sebut orang pinter. Kalau misalnya maling atau makan haknya orang lain itu negatif, yah dia cuma tahu saja, masih belum sadar. Makanya dia masih tega korupsi, berarti sebenarnya dia belum tahu. Kalau dia tahu sampai dalam, sampai detail tentang larangan mengambil haknya orang lain, efeknya kerusakan jiwanya sendiri, dan kerusakan dunia sosial yang di timbulkannya, pasti dia ndak akan mau maling, nggak akan mau korupsi, atau perbuatan buruk apapun.

Kalau kamu sudah tahu benar, tentang hakikat larangan itu, sampai dalam, kamu pasti ndak akan mau melakukannya. Jadi ini rumus dari Socrates. Kok, ada orang yang masih mau melakukan keburukan, kejahatan berarti dia belum pinter, belum sadar dan belum tahu. Mungkin masih hafal saja, kalau sekedar hafal, Google sekarang lebih canggih.

Inilah dua yang utama dasar etiknya socrates, makanya dia punya satu quotes yang terkenal sekali:

“There is only one good, knowledge, and one evil, ignorance”

by Socrates

Tambah pinter orang, pasti dia tambah baik, tambah ndak pintar orang pasti dia kelakuannya tambah ndak terkontrol, tambah buruk. Orang pinter itu kelakuannya baik. Pengetahuan itu berkorelasi dengan moralitas.

Baca Juga: 15 Prinsip Dasar Kepemimpinan menurut Aristoteles

F. Pertanyaan Moral Socrates

Ada tiga pertanyaan moral yang di bahas oleh socrates dari berbagai dialognya.

  1. Bagaimana seseorang harus menjalankan hidupnya?
  2. Jenis tindakan apa saja yang termasuk kebajikan?
  3. Bagaimana orang hidup bersama orang lain bersama masyarakatnya?

Kita hidup ini kan di minta benar dan baik. Pernah ndak kita bertanya hidup yang benar dan baik itu yang seperti apa? nah ini di tanyakan, pertanyaan moral pertama dari Socrates. Kamu tahu nggak sih, standar-standar hidup benar dan baik, hidup yang bermoral.

Yang kedua, apa saja tindakan yang termasuk benar dan baik tadi atau kebajikan tadi? Mungkin kalian pernah belajar tentang akhlak, tentang moral. Ini baik, itu baik, tapi mungkin pada saat kalian mengidentifikasi perbuatan baik itu, pernah ndak berpikir Apa sih yang di maksud itu? aku sudah termasuk itu atau belum? jujur itu baik, apa sih jujur itu? terus aku sudah jujur apa belum? sabar itu baik di bandingkan pemarah, loh aku itu tergolong orang sabar apa orang pemarah? cirinya apa?

Nah, inilah menurut socrates. Jadi kalau kamu ngaku-ngaku, saya itu penyabar loh Pak orangnya, buktinya apa? cirinya apa? sabar itu apa sih? batasnya sabar itu di mana? bagaimana standarnya orang bisa di sebut penyabar? bedanya apa sabar dengan takut?

Kadang-kadang kan kita itu menjustifikasi perilaku kita yang buruk dengan akal kita. Ini yang membuat terus jadi ruwet, padahal itu salah, tapi terus kita benarkan, sendiri kita ndak jujur, kita tahu itu salah tapi kita tidak jujur pada diri kita.

Yang ketiga, penting di pertanyakan, hidup bersama orang lain yang baik itu yang seperti apa? ini yang paling rumit. Kalau yang awal-awal kan hidup individual kita, karena hidup sosial itu melibatkan subjek yang lain, yang sama powernya dengan kita, sama posisinya dengan kita. Ini ndak sederhana, ini nanti kalau di socrates melahirkan seni namanya politik. Jadi yang paling rumit itu memang tata hidup bersama yang di kenal dengan politik.

Baca Juga: Tujuh Nasihat Jalaludin Rumi

1. Prasyarat Moralitas

Menurut socrates moralitas itu punya dua syarat yaitu Reason dan Impartiality. Semua hal yang benar untuk di lakukan yakni apa yang memiliki yang memiliki alasan terbaik untuk mendukungnya. Reason itu nalar, masuk akal, jadi perbuatan baik itu pasti masuk akal. Reason pasti mudah di cari argumen rasionalnya. Cirinya rasional, ndak ada kebaikan yang tidak masuk akal.

“Kenapa sih kok kita harus menghargai orang tua? itu kan menjawabnya mudah sekali. Kenapa kok kita harus jujur tidak boleh bohong?, itu menjawabnya gampang, masuk akal. Kenapa kita ndak boleh ngambil miliknya orang lain? mencuri haknya orang lain, itu kan belum di jawab pun rasanya akal sudah bisa menerima, kalau kita itu jangan ngambil haknya orang lain. Ini namanya ciri perbuatan moral.

Cirinya perbuatan moral yang kedua adalah impartiality, berlaku untuk siapapun, kapanpun, di manapun, dan tidak memihak. Prinsip imparsial yakni, kapanpun, di manapun, pada siapapun ini bisa di terapkan. Kalau masih milih-milih, menyeleksi dan lain sebagainya, kemungkinan ada pelanggaran moral.

Jadi moral itu harus tidak memihak, harus objektif, ruang dan waktunya, kapanpun di manapun, hukum itu berlaku. Nah ini namanya impartiality. Jadi kalau kalian bingung, apakah yang kamu lakukan ini bermoral apa tidak? pertama-tama coba tanyakan pikiranmu, masuk akal ndak.

Menurut Socrates,

“Sistem moralitas yang di dasarkan pada nilai-nilai emosional sementara itu hanyalah ilusi belaka, konsepsi yang kasar yang tidak masuk akal dan tidak ada benarnya”

Jadi moralitas itu tidak bisa di dasarkan pada sentimen, kita suka dan tidak suka. Kita kan itu sering memilih sesuatu dengan dasar suka dan tidak suka. Ini kan dasarnya emosi, kata Socrates.

Baca Juga: Apa itu Metaverse

2. Keinginan untuk Kebaikan: Cinta

Orang yang secara sungguh-sungguh menginginkan kebenaran, kebaikan tadi, itu nanti kualifikasinya adalah kualifikasi cinta. Keinginan akan kebaikan itu berhubungan dengan cinta, makanya ada kalimat dari Socrates “cinta itu menginginkan”.

Ciri paling dasarnya cinta itu kan menginginkan. Kenapa mencintai sesuatu, menginginkan sesuatu, pasti karena dia menganggap di balik sesuatu yang dia cintai ada kebaikan dan kebahagiaan untuk dirinya. Aku cinta padamu, itu karena aku menganggap dalam dirimu ada kebahagiaan untuk diriku. Realistisnya begitu, meskipun bisa ada pamrih.

Kata Socrates, sederhananya kamu mencintai sesuatu itu kan menginginkan sesuatu. Kenapa kamu inginkan, karena kamu anggap itu membawa kebaikan, membawa manfaat untuk dirimu dan kamu merasa bisa bahagia dengan itu. Itu dasarnya cinta.

Jadi nggak mungkin, sejak awal orang mencintai itu tidak berdasar ingin memperolehnya. Dia mesti ingin meraihnya, karena dia merasa di dalam yang dia cintai ini ada manfaatnya dan membawanya pada kebahagiaan, maka moralitas yang menginginkan kebahagiaan, yang menginginkan kebaikan, kebenaran tadi, ini sebenarnya jenis perilaku cinta yang tujuannya kebahagiaan.

Misalnya, Pak saya itu cinta ikhlas, tulus, rela, ndak pamrih. Tapi, ketika kamu melakukan itu pun sebenarnya kan tujuanmu ingin bahagia. Jadi jenis perbuatan moral itu pada puncaknya adalah perilaku cinta. Perilaku ingin sepenuhnya meraih sesuatu dan memperoleh kebahagiaan. Ini nanti yang dilanjutkan oleh para filosof muslim seperti Imam Ghazali, ketika kita menginginkan sesuatu, mencintai sesuatu, yang tujuannya mencari kebahagiaan, jangan cari kebahagiaan yang semu.

Kalau sekedar harta, kalau sekedar pasangan, kalau sekedar apapun yang kita cintai, hanya selevel itu mungkin kita ketemu kebahagiaan, tapi kebahagiaan yang tidak Hakiki. Kejarlah kebahagiaan yang paling hakiki, yang tidak semu, itu nanti ketemunya di cinta Ilahiyah.

Nanggung kalau hanya mencintai makhlukNya, cintai saja sumbernya. Apapun keistimewaan dalam diri makhluk, pasti sempurnanya ada di khaliknya. Khalik yang menciptakan makhluk yang indah, pasti dia juga puncaknya keindahan.

Tujuan etik, tujuan moralitas, itu kalau di Socrates ketemunya di kebahagiaan. Kesimpulannya Socrates ada orang yang menganggap kebahagiaan itu sama dengan kesenangan, ada orang yang menganggap kebahagiaan itu sama dengan kehormatan, ada pula yang menganggap kebahagiaan itu adalah kebijaksanaan.

Ini agak beda-beda pandangannya, meskipun nanti setelah di kejar-kejar oleh Socrates ya ketemunya justru yang Hakiki. Orang yang bahagianya hanya karena kesenangan, kesenangan itu kan rasa berbunga-bunga sesaat, itu kemungkinan dirinya, jiwanya di kendalikan oleh nafsu. Jadi kalau bahasanya para filsuf muslim itu, jiwanya itu binatang ternak. Binatang ternak, itu kan enak hidupnya, makan di sediakan, dia tinggal santai-santai, nanti kawin juga pasangannya di siapkan, kemudian beranak pinak, kemudian nyaman hidupnya.

Baca Juga: Perbedaan Kreativitas, Penemuan dan Inovasi

Demikian dulu. Smoga menggugah.


Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca