HOTS dalam Pembelajaran

HOTS dalam Pembelajaran

HermanAnis.com – Definisi, Indikator atau Aspek dalam Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS). Pembahasan akan di fokuskan pada Pembelajaran Berbasis HOTS atau Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Selain itu, dalam tulisan ini juga akan di bahas tentang bagaimana proses berpikir, proses kognitif dan dimensi pengetahuan kaitannya dengan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi atau HOTS dalam Pembelajaran.

A. Definisi Pembelajaran HOTS

Keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dalam bahasa umum di kenal sebagai Higher Order Thinking Skills (HOTS) di picu oleh empat kondisi berikut,

  1. Sebuah situasi belajar tertentu yang memerlukan strategi pembelajaran yang spesifik dan tidak dapat di gunakan di situasi belajar lainnya.
  2. Kecerdasan yang tidak lagi di pandang sebagai kemampuan yang tidak dapat di ubah, melainkan kesatuan pengetahuan yang di pengaruhi oleh berbagai faktor yang terdiri dari lingkungan belajar, strategi, dan kesadaran dalam belajar.
  3. Pemahaman pandangan yang telah bergeser dari unidimensi, linier, hirarki atau spiral menuju pemahaman pandangan ke multidimensi dan interaktif.
  4. Keterampilan berpikir tingkat tinggi yang lebih spesifik seperti penalaran, kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan keterampilan berpikir kritis dan kreatif.

Resnick (1987) memberikan definisi keterampilan berpikir tingkat tinggi yaiitu proses berpikir kompleks dalam menguraikan materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, menganalisis, dan membangun hubungan dengan melibatkan aktivitas mental yang paling dasar.

Selain itu, dalam taxonomi Bloom, level berpikir dapat di bagi menjadi dua bagian. Pertama adalah keterampilan tingkat rendah (LOTS) yang terdiri dari: mengingat (remembering), memahami (understanding), dan menerapkan (applying), dan kedua adalah yang di klasifikasikan ke dalam keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) berupa keterampilan menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan mencipta (creating).

Aspek HOTS dalam Pembelajaran- Aspek keterampilan berpikir tingkat tinggi
Gambar 5: Aspek keterampilan berpikir tingkat tinggi

B. Aspek HOTS dalam Pembelajaran

HOTS dalam Pembelajaran atau pembelajaran yang berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi adalah pembelajaran yang melibatkan 3 aspek keterampilan berpikir tingkat tinggi yaitu: transfer of knowledge, critical thinking and creative thinking, dan problem solving.

Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi atau HOTS dalam Pembelajaran tidak memandang level KD, apakah KD nya berada pada tingkatan C1, C2, C3, C4, C5, atau C6.

C. HOTS dalam Pembelajaran – Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi sebagai Transfer of Knowledge

Keterampilan berpikir tingkat tinggi atau HOTS dalam Pembelajaran erat kaitannya dengan keterampilan berpikir dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor yang menjadi satu kesatuan dalam proses belajar dan mengajar.

1. Ranah Kognitif

Ranah kognitif meliputi kemampuan dari peserta didik dalam mengulang atau menyatakan kembali konsep/prinsip yang telah di pelajari dalam proses pembelajaran yang telah di dapatnya.

Proses ini berkenaan dengan kemampuan dalam berpikir, kompetensi dalam mengembangkan pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisasi, penentuan, dan penalaran. Ranah kognitif dapat di lihat dari dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif.

a. Dimensi Pengetahuan

Anderson dan Krathwoll yang melakukan revisi terhadap taksonomi Bloom, mengajukan rangkaian proses-proses yang menunjukkan kompleksitas kognitif dengan menambahkan istilah dimensi pengetahuan.

Mereka berdua mengusulkan empat dimensi pengetahuan yakni, pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedurual, dan pengetahuan metakognisi.

1) Pengetahuan Faktual,

Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar yang harus di ketahui para peserta didik jika mereka akan di kenalkan dengan suatu disiplin atau untuk memecahkan masalah apapun di dalamnya.

Elemen-elemen biasanya merupakan simbol-simbol yang berkaitan dengan beberapa referensi konkret, atau “benang-benang simbol” yang menyampaikan informasi penting.

Sebagian terbesar, pengetahuan faktual muncul pada level abstraksi yang relatif rendah. Dua bagian jenis pengetahuan faktual adalah:

  • Pengetahuan terminologi yang meliputi nama-nama dan simbol-simbol verbal dan nonverbal tertentu (contohnya kata-kata, angka-angka, tanda-tanda, dan gambar-gambar).
  • Yang kedua adalah pengetahuan yang detail, pengetahuan ini terdiri dari elemen-elemen yang spesifik mengacu pada pengetahuan peristiwa-peristiwa, tempat-tempat, orang-orang, tanggal, sumber informasi, dan semacamnya.
2) Pengetahuan Konseptual

Pengetahuan konseptual meliputi skema-skema, model-model mental, atau teori-teori eksplisit dan implisit dalam model-model psikologi kognitif yang berbeda, pengetahuan konseptual meliputi tiga jenis:

  • klasifikasi dan kategori meliputi kategori, kelas, pembagian, dan penyusunan spesifik yang di gunakan dalam pokok bahasan yang berbeda;
  • Prinsip dan generalisasi cenderung mendominasi suatu disiplin ilmu akademis dan di gunakan untuk mempelajari fenomena atau memecahkan masalah-masalah dalam disiplin ilmu; dan
  • Yang terakhir adalah pengetahuan tentang teori, model, dan struktur meliputi pengetahuan mengenai prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi bersama dengan hubungan-hubungan di antara mereka yang menyajikan pandangan sistemis, jelas, dan bulat mengenai suatu fenomena, masalah, atau pokok bahasan yang kompleks
3) Pengetahuan Prosedural
a) Pengetahuan prosedural, “pengetahuan mengenai bagaimana” melakukan sesuatu.

Hal ini dapat berkisar dari melengkapi latihan-latihan yang cukup rutin hingga memecahkan masalah-masalah baru. Pengetahuan ini sering mengambil bentuk dari suatu rangkaian langkah-langkah yang akan di ikuti.

Hal ini meliputi pengetahuan keahlian-keahlian, algoritma-algoritma, teknik-teknik, dan metode-metode secara kolektif di sebut sebagai prosedur-prosedur.

b) Pengetahuan keahlian dan algoritma spesifik suatu subjek.

Pengetahuan prosedural dapat di ungkapkan sebagai suatu rangkaian langkah-langkah, yang secara kolektif di kenal sebagai prosedur.

Kadangkala langkah-langkah tersebut di ikuti perintah yang pasti, di waktu yang lain keputusan-keputusan harus di buat mengenai langkah mana yang di lakukan selanjutnya.

Dengan cara yang sama, kadang-kadang hasil akhirnya pasti, dalam kasus lain hasilnya tidak pasti. Meskipun proses tersebut bisa pasti atau lebih terbuka, hasil akhir tersebut secara umum di anggap pasti dalam bagian jenis pengetahuan.

c) Pengetahuan teknik dan metode spesifik suatu subjek.

Pengetahuan teknik dan metode spesifik suatu subjek meliputi pengetahuan yang secara luas merupakan hasil dari konsensus, persetujuan, atau norma-norma disipliner daripada pengetahuan yang lebih langsung merupakan suatu hasil observasi, eksperimen, atau penemuan.

Bagian jenis pengetahuan ini secara umum menggambarkan bagaimana para ahli dalam bidang atau disiplin ilmu tersebut berpikir dan menyelesaikan masalah-masalah daripada hasil-hasil dari pemikiran atau pemecahan masalah tersebut.

d) Pengetahuan kriteria untuk menentukan kapan menggunakan prosedur-prosedur yang tepat.

Sebelum terlibat dalam suatu penyelidikan, para peserta didik di harapkan dapat mengetahui metode-metode dan teknik-teknik yang telah di gunakan dalam penyelidikan-penyelidikan yang sama.

Pada suatu tingkatan nanti dalam penyelidikan tersebut, mereka dapat diharapkan untuk menunjukkan hubungan-hubungan antara metode-metode dan teknik-teknik yang mereka benar-benar lakukan dan metode-metode yang di lakukan oleh peserta didik lain.

4) Pengetahuan Metakognisi

Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai kesadaran secara umum sama halnya dengan kewaspadaan dan pengetahuan tentang kesadaran pribadi seseorang.

Penekanan kepada peserta didik untuk lebih sadar dan bertanggung jawab terhadap pengetahuan dan pemikiran mereka sendiri.

Perkembangan para peserta didik akan menjadi lebih sadar dengan pemikiran mereka sendiri sama halnya dengan lebih banyak mereka mengetahui kesadaran secara umum, dan ketika mereka bertindak dalam kewaspadaan ini, mereka akan cenderung belajar lebih baik.

a) Pengetahuan strategi

Secara defenisi, pengetahuan strategi adalah pengetahuan mengenai strategi-strategi umum untuk pembelajaran, berpikir, dan pemecahan masalah.

b) Pengetahuan mengenai tugas kognitif, termasuk pengetahuan kontekstual dan kondisional

Para peserta didik mengembangkan pengetahuan mengenai strategi-strategi pembelajaran dan berpikir, pengetahuan ini mencerminkan baik strategi-strategi umum apa yang di gunakan dan bagaimana mereka menggunakan.

c) Pengetahuan diri

Kewaspadaan diri mengenai keluasan dan kedalaman dari dasar pengetahuan dirinya merupakan aspek penting pengetahuan diri. Para peserta didik perlu memperhatikan terhadap jenis strategi yang berbeda.

Kesadaran seseorang cenderung terlalu bergantung pada strategi tertentu, di mana terdapat strategi-strategi lain yang lebih tepat untuk tugas tersebut, dapat mendorong ke arah suatu perubahan dalam penggunaan strategi.

Baca Juga:
Langkah Langkah Model Pembelajaran Inkuiri

b. Proses Kognitif

Tujuan pembelajaran pada ranah kognitif menurut Bloom merupakan segala aktivitas pembelajaran menjadi enam tingkatan sesuai dengan jenjang terendah sampai tertinggi.

Tabel 1. Proses Kognitif LOTS sesuai dengan level kognitif Bloom

Proses Kognitif LOTS sesuai dengan level kognitif Bloom

Tabel 2. Proses Kognitif HOTS sesuai dengan level kognitif Bloom

Proses Kognitif HOTS sesuai dengan level kognitif Bloom

Kata kerja yang di gunakan dalam proses pembelajaran sesuai dengan ranah kognitif Bloom adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Kata Kerja Operasional Ranah Kognitif

Kata Kerja Operasional Ranah Kognitif

Anderson dan Krathwoll yang melakukan revisi terhadap taksonomi Bloom, mengajukan rangkaian proses-proses yang menunjukkan kompleksitas kognitif dengan menambahkan istilah dimensi pengetahuan.

Kombinasi dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif dapat di lihat pada gambar 2 di bawah ini.

Proses Kognitif dalam Taksonomi Bloom revisi Anderson dan Krathwohl
Gambar 2. Kombinasi dimensi pengetahuan dan proses kognitif

Berdasarkan gambar 2 di atas, Anderson dkk ingin menjalaskan pengkategorian HOTS yang lebih modern. Tidak lagi hanya melibatkan satu dimensi (dimensi proses kognitif saja), tetapi HOTS merupakan irisan antara tiga komponen dimensi proses kognitif teratas (menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta) dan tiga komponen dimensi pengetahuan tertinggi (konseptual, prosedural, dan metakognitif).

Sehingga dalam perumusan indikator pembelajaran di luar irisan tersebut dalam taksonomi Bloom revisi tidak dapat di anggap sebagai HOTS.

Baca Juga:
Model Kompetensi dalam Pengembangan Profesi Guru di Indonesia

Sebagai contoh, indikator pembelajaran yang memuat proses kognitif mengevaluasi (memeriksa, mengkritisi), tetapi pada dimensi pengetahuan berada pada level faktual (penggunaan lambang, simbol, notasi), bukan merupakan indikator dari HOTS. Hal tersebut karena level faktual pada dimensi pengetahuan tidak termasuk bagian dari HOTS.

Kombinasi dimensi pengetahuan dan proses berpikir
Gambar 3. Kombinasi dimensi pengetahuan dan proses berpikir

Dengan melihat gambar 3 di atas, maka dapat di pahami bahwa untuk mencapai dimensi proses pengetahuan tertentu, wajib melewati dimensi proses pengetahuan di bawahnya yang menunjang, tidak langsung menuju dimensi yang akan di tuju, dengan kata lain dalam mencapai tujuan tertentu, wajib melewati jalan atau tangga yang di bawahnya sebagai penunjang atau mendukung dimensi proses pengetahuan tersebut.

2. Ranah Afektif

Kartwohl & Bloom juga menjelaskan bahwa selain kognitif, terdapat ranah afektif yang berhubungan dengan sikap, nilai, perasaan, emosi serta derajat penerimaan atau penolakan suatu objek dalam kegiatan pembelajaran dan membagi ranah afektif menjadi 5 kategori, yaitu seperti pada tabel di bawah.

Tabel 4. Ranah Afektif

Ranah Afektif

3. Ranah Psikomotorik

Keterampilan proses psikomotor merupakan keterampilan dalam melakukan pekerjaan dengan melibatkan anggota tubuh yang berkaitan dengan gerak fisik (motorik) yang terdiri dari gerakan refleks, keterampilan pada gerak dasar, perseptual, ketepatan, keterampilan kompleks, ekspresif, dan interperatif.

D. HOTS dalam Pembelajaran – Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi sebagai Critical and Creative Thinking

John Dewey mengemukakan bahwa berpikir kritis secara esensial sebagai sebuah proses aktif, di mana seseorang berpikir segala hal secara mendalam, mengajukan berbagai pertanyaan, menemukan informasi yang relevan daripada menunggu informasi secara pasif (Fisher, 2009).

Berpikir kritis merupakan proses di mana segala pengetahuan dan keterampilan di kerahkan dalam memecahkan permasalahan yang muncul, mengambil keputusan, menganalisis semua asumsi yang muncul dan melakukan investigasi atau penelitian berdasarkan data dan informasi yang telah di dapatkan sehingga menghasilkan informasi atau simpulan yang di inginkan.

Tabel 5. Enam elemen dasar tahapan keterampilan berpikir kritis, yaitu FRISCO

Enam elemen dasar tahapan keterampilan berpikir kritis, yaitu FRISCO

Dalam menjabarkan berpikir kritis, sejumlah pakar telah merumuskan indikator berpikir kritis seperti Robert Ennis (1995), Edward Glaser, Marzano dan lainnya.

Berfikir kreatif merupakan kemampuan yang sebagian besar dari kita yang terlahir bukan pemikir kreatif alami. Perlu teknik khusus untuk membantu menggunakan otak kita dengan cara yang berbeda.

Masalah pada pemikiran kreatif adalah bahwa hampir secara definisi dari setiap ide yang belum di periksa akan terdengar aneh dan mengada-ngada bahkan terdengar gila. Tetapi solusi yang baik mungkin akan terdengar aneh pada awalnya.

Namun demikian, solusi tersebut jarang di ungkapkan dan di coba. Berpikir kreatif dapat berupa pemikiran imajinatif, menghasilkan banyak kemungkinan solusi, berbeda, dan bersifat lateral.

Pembelajaran Berbasis HOTS berperan penting dalam mempersiapkan peserta didik agar menjadi pemecah masalah yang baik dan mampu membuat keputusan maupun kesimpulan yang matang dan mampu di pertanggungjawabkan secara akademis.

E. HOTS dalam Pembelajaran – Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi sebagai Problem Solving

HOTS dalam Pembelajaran sebagai problem solving di perlukan dalam proses pembelajaran, karena pembelajaran yang di rancang dengan pendekatan pembelajaran berorientasi pada keterampilan tingkat tinggi tidak dapat di pisahkan dari kombinasi keterampilan berpikir dan keterampilan kreativitas untuk pemecahan masalah.

Keterampilan pemecahan masalah merupakan keterampilan para ahli yang memiliki keinginan kuat untuk dapat memecahkan masalah yang muncul pada kehidupan sehari-hari.

Peserta didik seara individu akan memiliki keterampilan pemecahan masalah yang berbeda dan di pengaruhi oleh beberapa faktor.

Menurut Mourtos, Okamoto, dan Rhee, ada enam aspek yang dapat di gunakan untuk mengukur sejauh mana keterampilan pemecahan masalah peserta didik, yaitu:

1. Menentukan masalah

Mendefinisikan masalah, menjelaskan permasalahan, menentukan kebutuhan data dan informasi yang harus di ketahui sebelum di gunakan untuk mendefinisikan masalah sehingga menjadi lebih detail, dan mempersiapkan kriteria untuk menentukan hasil pembahasan dari masalah yang di hadapi;

2. Mengeksplorasi masalah

Menentukan objek yang berhubungan dengan masalah, memeriksa masalah yang terkait dengan asumsi, dan menyatakan hipotesis yang terkait dengan masalah;

3. Merencanakan solusi

Peserta didik mengembangkan rencana untuk memecahkan masalah, memetakan sub-materi yang terkait dengan masalah, memilih teori prinsip dan pendekatan yang sesuai dengan masalah, dan menentukan informasi untuk menemukan solusi;

4. Melaksanakan rencana

Pada tahap ini peserta didik menerapkan rencana yang telah ditetapkan;

5. Memeriksa solusi

Mengevaluasi solusi yang di gunakan untuk memecahkan masalah; dan

6. Mengevaluasi

Pada langkah ini, solusi di periksa, asumsi yang terkait dengan solusi di buat, memperkirakan hasil yang di peroleh ketika mengimplementasikan solusi dan mengomunikasikan solusi yang telah dibuat.

Selain uraian di atas, dalam Pembelajaran bebasis HOTS, pendidik baik guru atau dosen perlu memperhatikan Pembelajaran Abad 21 yang sering distilahkan sebagai 4Cs (critical thinking, communication, collaboration, and creativity).

4Cs adalah empat keterampilan yang telah di identifikasi sebagai keterampilan abad ke-21 (P21) yaitu keterampilan yang sangat penting dan di perlukan untuk pendidikan abad ke-21.

F. Sumber Rujukan

  1. Arends, R.I. 2012. Learning to Teach. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.
  2. Ditjen GTK. Direktorat PG Dikdas. 2017. Peningkatan Kompetensi Pedagogik Melalui PKB Guru Sekolah Dasar
  3. Ditjen GTK Kemendikbud. 2019. Buku Pegangan Pembelajaran Berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi
  4. N. J. Mourtos, N. DeJong Okamoto & J. Rhee. 2004. Defining, Teaching, and Assessing Problem Solving Skills. San Jose State University San Jose, California 95192-0087
  5. Jan Kusiak, Derrick Brown, 2007, Creative Thinking Technique, Australia

Demkian
semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: