Pengertian Andragogi Menurut Ahli

7 min read

Pengertian Andragogi Menurut Ahli

HermanAnis.com– Teman-teman semua, pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang Pengertian Andragogi Menurut Ahli.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Istilah andragogi seringkali di jumpai dalam proses pembelajaran orang dewasa (adult learning), baik dalam proses pendidikan nonformal (pendidikan luar sekolah) maupun dalam proses pembelajaran pendidikan formal.

Pengertian Andragogi Menurut Ahli

Baca Juga: Apa itu Pedagogi?

Pada pendidikan nonformal teori dan prinsip andragogi di gunakan sebagai landasan proses pembelajaran pada berbagai satuan, bentuk dan tingkatan (level) penyelenggaraan pendidikan nonformal. Pada pendidikan formal andragogi seringkali di gunakan pada proses pembelajaran pada tingkat atau level pendidikan menengah ke atas.

Namun demikian, dalam menerapkan konsep, prinsip andragogi pada proses pembelajaran sebenarnya tidak secara mutlak harus berdasar pada bentuk, satuan tingkat atau level pendidikan. Akan tetapi, yang paling utama adalah berdasar pada kesiapan peserta didik untuk belajar.

Kondisi itu terjadi karena kita menganggap bahwa semua murid, peserta didik (warga belajar) itu adalah sebagai orang dewasa yang di asumsikan memiliki kemampuan yang aktif dalam merencanakan arah belajar, memiliki bahan, memikirkan cara terbaik untuk belajar, menganlisis dan menyimpulkan serta mampu mengambil manfaat dari belajar atau dari sebuah proses pendidikan.

Fungsi guru dalam hal ini hanya sebagai fasilitator, bukan menggurui, sehingga relasi antara guru dan peserta didik (murid, warga belajar) lebih bersifat multicomunication. (Knowles, 1970).

Oleh karena itu andragogi adalah suatu bentuk pembelajaran yang mampu melahirkan sasaran pembelajaran (lulusan) yang dapat mengarahkan dirinya sendiri dan mampu menjadi guru bagi dirinya sendiri. Dengan keunggulan-keunggulan itu andragogi menjadi landasan dalam proses pembelajaran pendidikan nonformal.

Hal ini terjadi karena dalam pendidikan nonformal, formula pembelajarannya di arahkan pada kondisi sasaran yang menekankan pada peningkatan kehidupan, pemberian keterampilan dan kemampuan untuk memecahkan permasalahan yang di alami terutama dalam hidup dan kehidupan sasaran di tengah-tengah masyarakat.

Pengertian Andragogi Menurut Ahli

Untuk memahami secara mendasar tentang konsep teori dan prinsip andragogi, pada bagian ini akan di uraikan secara tuntas tentang beberapa definisi andragogi dari berbagai ahli.

Pengertian Andragogi Menurut Ahli

Pengertian Andragogi Menurut Dugan (1995)

Dugan (1995) mendefinisikan andragogi lebih kepada asal katanya, andragogi berasal dari Bahasa Yunani. Andra berarti manusia dewasa, bukan anak-anak, menurut istilah, andragogi berarti ilmu yang mempelajari bagaimana orang tua belajar.

Baca Juga: Pengertian Heutagogi menurut Ahli

Pengertian Andragogi Menurut Sudjana (2005)

Menurut Sudjana dalam Bukunya, Pendidikan Non-Formal Wawasan Sejarah Perkembangan Filsafat Teori Pendukung Azas (2005), di sebutkan bahwa, andragogi berasal dari bahasa Yunani ”andra dan agogos”.

Andra berarti orang dewasa dan Agogos berarti memimpin atau membimbing, sehingga andragogi dapat di artikan ilmu tentang cara membimbing orang dewasa dalam proses belajar. Atau sering di artikan sebagai seni dan ilmu yang membantu orang dewasa untuk belajar (the art and science of helping adult learn).

Menurut Knowles dalam Srinivasan (1977)

Menurut Knowles dalam Srinivasan (1977) menyatakan bahwa: andragogy as the art and science to helping adult a learner. Pada konsep lain andragogi seringkali di definisikan sebagai pendidikan orang dewasa atau belajar orang dewasa.

Definisi pendidikan orang dewasa merujuk pada kondisi peserta didik orang dewasa baik di lihat dari dimensi fisik (biologis), hukum, sosial dan psikologis. Istilah dewasa di dasarkan atas kelengkapan kondisi fisik juga usia, dan kejiwaan, disamping itu pula orang dewasa dapat berperan sesuai dengan tuntutan tugas dari status yang dimilikinya.

Pengertian Andragogi Menurut Elias dan Sharan B. Merriam (1990)

Elias dan Sharan B. Merriam (1990) menyebutkan kedewasaan pada diri seseorang meliputi: age, psychological maturity, and soscial roles. Yang di maksud dewasa menurut usia, adalah setiap orang yang menginjak usia 21 tahun (meskipun belum menikah).

Pengertian Andragogi Menurut Hurlock (1968)

Menurut Hurlock (1968), adult (dewasa) adulthood (status dalam keadaan kedewasaan) di tujukan pada usia 21 tahun untuk awal masa dewasa dan sering di hitung sejak 7 atau 8 tahun setelah seseorang mencapai kematangan seksual, atau sejak masa pubertas. Pendekatan berdasar usia di lakukan oleh ahli hukum, sehingga melahirkan perbedaan perlakuan hukum terhadap pelanggar.

Dewasa di lihat dari sudut pandang dimensi biologis juga bisa di lihat dari segi fisik, di mana manusia dewasa memiliki karakteristik khas seperti: mampu memilih pasangan hidup, siap berumah tangga, dan melakukan reproduksi (reproduktive function).

Dewasa berdasar dimensi psikologis dapat dilihat dan di bedakan dalam tiga kategori yaitu: dewasa awal (early adults) dari usia 16 sampai dengan 20 tahun, dewasa tengah (middle adults) dari 20 sampai pada 40 tahun, dan dewasa akhir (late adults) dari 40 hingga 60 tahun.

Pengertian Andragogi Menurut Hutchin (1970) dan Rogers, (1973)

Hutchin (1970) dan Rogers, (1973) dalam Saraka, (2001:59) memandang batas usia seputar 25 sampai
dengan 40 tahun, merupakan usia emas (golden age). Pada dimensi ini dewasa lebih di tujukan pada kematangan seorang individu.

Pengertian Andragogi Menurut Anderson

Anderson dalam Psychology of Development and personal Adjustment (1951), meyimpulkan tujuh ciri kematangan bagi seorang individu yaitu:

  1. Kematangan individu dapat di lihat dari minatnya yang selalu berorientasi pada tugas-tugas yang di lakukan atau di kerjakannya, serta tidak mengarah pada perasaan-perasaan diri sendiri atau untuk kepentingan pribadi (tidak pada diri dan atau ego).
  2. Tujuan-tujuan yang di kembangkan dalam konsep dirinya jelas dan selalu memiliki kebiasaan kerja yang efisien.
  3. Kemampuan dalam mengendalikan perasaan pribadi dalam pengertian selalu dapat mempertimbangkan pribadinya dalam bergaul dengan orang lian.
  4. Memiliki pandangan yang obyektif dalam setiap keputusan yang di ambilnya.
  5. Siap menerima kritik atau saran untuk peningkatan diri.
  6. Pertanggung jawab atas segala usaha-usaha yang di lakukan.
  7. Secara realitas selalu dapat menyesuaikan diri dalam situasi-situasi baru.

Freire, 1973; dan Milton dkk, 1985

Menurut Freire, 1973; dan Milton dkk, 1985, kematangan seorang individu dapat pula menjadi patokan bagi kedewasaan secara sosial, hal ini dapat di cermati dari kesiapannya dalam menerima tanggungjawab, mengerjakan dan menyelesaikan tugas-tugas peribadi dan sosialnya terutama untuk memenuhi kebutuhan belajarnya.

Pengertian Andragogi Menurut Lovelly, 1980:1

Lovell mengatakan bahwa: Adulthood is the time when basic skills and abilities were so rapidly acquired in childhood are consolidated and exploited to the full and many new skills and competencies learned. There can be many factors influencing the way in which an adult approaches a new learning experience.

Some related to the characteristics of the learners and range from personality and cognitive styles to individual differences in age, experience, motivations and self-perception. Other relate to social context within which learning takes place and to the ways in which any formal teaching is planned and carried out and evaluated.

Pengertian Andragogi Menurut Knowless, (1986:55)

Secara fundamental, karakteristik kedewasaan atau kematangan seorang individu yang paling mendasar terletak pada tanggung jawabnya. Ketika individu sudah mulai memiliki kemampuan memikul tanggung jawab, di mana ia sanggup menghadapi kehidupannya sendiri dan mengarahkan diri sendiri.

Jika mereka menghadapi situasi baru tidak memiliki bekal kemampuan maupun keterampilan diri (skills of directed inquiry), maka ia akan merasa sulit dalam mengambil inisiatif terutama dalam memiliki tanggung jawab belajarnya.

Tidak sedikit individu yang telah memiliki latar belakang pendidikan tinggi (universitas, perguruan tinggi, sekolah tinggi) tidak siap menerima tanggung jawab lebih lanjut dari hasil belajarnya. Sehingga individu-individu tersebut menjadi penganggur, mengalami kecemasan, frustasi, dan kegagalan.

Bersikap pasif menghadapi dunia kesehariannya dan tidak berdaya atau berani dalam menghadapi masa depan. Kematangan dalam kondisi dewasa-matang, dapat di tandai oleh kemampuan memenuhi kebutuhannya, memanfaatkan pengalamannya dan mengidentifikasi kesediaan belajar.

Ketika kemampuan belajar seputar masalah kehidupannya menjadi meningkat, maka sikap ketergantungan kepada orang lain akan semakin berkurang. Orang dewasa yang memiliki konsep diri matang dapat memikul tanggung jawab kehidupan, menyadari di mana posisi dirinya pada saat itu dan tahu akan kemana tujuan hidupnya.

Di samping itu pula mereka cakap dalam mengambil keputusan dan mampu berpartisipasi di masyarakat dan akan mampu mengarahkan dirinya, memilih dan menetapkan pekerjaan yang relevan. Orang dewasa yang betul-betul matang secara psikologis tidak akan menghindar atau lari dari masalah yang di hadapi.

Pengertian Andragogi Menurut Inggalls, 1973, Knowless, 1977 Kamil, 2001, Saraka, 2001, dan Unesco, 1988

Dalam dimensi sebagai peserta didik (murid, warga relajar) andragogi, dewasa dalam banyak hal memiliki beberapa keunggulan-keunggulan. Dari segi konsep diri, mereka memiliki kematangan psikologis; bertanggung jawab, memiliki hasrat dan motivasi kuat untuk belajar dan mampu mengarahkan dirinya.

Mereka dapat belajar dan mempelajari sesuatu dalam skala yang lebih luas dan memilih strategi belajar yang lebih baik, lebih efektif dan lebih terarah dan mampu mengarahkan diri (self directing).

Dari pengalaman belajar, peserta didik dewasa memiliki setumpuk pengalaman sebagai resource persons and total life impressions dalam kaitannya dengan orang lain. Mereka dapat menjadi sumber dan bahan belajar yang kaya, terutama dalam mendukung belajar kelompok serta belajar bersama dengan ahli-ahli.

Sistem pembelajaran pada peserta didik dewasa dapat di arahkan ke dalam berbagai bentuk kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhannya dan kebutuhan sumber serta bahan belajar, seperti pada: kelompok diskusi, bermain peran, simulasi, pelatihan, (group discusion, team designing, role playing, simulations, skill practice sessions).

Dari segi kesiapan belajar, orang dewasa memandang bahwa “all living is learning. Learning is not only preparation for living the very essence of living, the very essence of living it self”.

Setiap peserta didik memiliki pola kesiapan yang berbeda dengan warga lainnya terutama dalam hal kekuatan motivasi (inner motivations) seperti: needs for esteem (self esteem), urge to grow, the satisfaction for accomplishment, the need to know something specific and curiosity to learn”.

Pada umumnya orang dewasa mereka memiliki kemampuan membaca, menulis dan menghitung dan menguasai kemampuan verbal dan kecakapan mengambil keputusan yang relevan dengan kebutuhan pribadi dan tuntutan sosialnya.

Mereka merancang dan menetapkan minat dan kebutuhan belajarnya, mendiagnosis kebutuhannya sesuai tuntutan hidupnya dan lain-lainnya. Pembelajaran dapat bertindak sebagai nara sumber, pengarah, pembimbing, pemberi fasilitas, atau teman belajar (resource person, guide, helper, facilitator or partner for the learners).

Dari perspektif waktu dan orientasi belajar, orang dewasa memandang belajar itu sebagai suatu proses pemahaman dan penemuan masalah serta pemecahan masalah, baik berhubungan dengan masalah kekinian maupun masalah kehidupan di masa depan. Orang dewasa lebih mengacu pada tugas atau masalah kehidupan (task or problem oriented). Sehingga orang dewasa akan belajar mengorganisir pengalaman hidupnya.

Brookfield, 1986:47

Secara alamiah, orang dewasa memiliki kemampuan menetapkan tujuan belajar, mengalokasi sumber belajar, merancang strategi belajar dan mengevaluasi kemajuan terhadap pencapain tujua relajar secara mandiri.

Lebih jauh Tough menyatakan bahwa: Peserta didik dewasa lebih di mungkinkan terlibat dalam self initiated education atau self directed education, ketimbang dalam self directed learning. Proses dan aktivitasnya di deskripsikan sebagai self directed learning atau self directed education atau self teaching, learning projects or major learning efforts.

Berdasarkan kondisi-kondisi itu dan konsepsi andragogi, istilah pendidikan orang dewasa dapat di artikan sebagai Pendidikan yang di tujukan untuk peserta didik yang telah dewasa atau berumur 18 tahun ke atas atau telah menikah dan memiliki kematangan, dan untuk memenuhi tuntutan tugas tertentu dalam kehidupanya.

Pengertian Andragogi Menurut Derkenwald dan Merriam

Derkenwald dan Merriam mengungkapkan pengertian pendidikan orang dewasa adalah “is a process where by person whose major social roles characteristic of adult status undertake systematic and sustained learning activities for the purpose of bringing about chnges in knowledge, attitudes, values, or skliss”.

Pendidikan orang dewasa adalah suatu proses belajar yang sistematis dan berkelanjutan pada orang yang berstatus dewasa dengan tujuan untuk mencapai perubahan pada pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan. Kondisi-kondisi yang dapat di timbulkan dari definisi itu adalah:

  1. Orang dewasa termotivasi untuk belajar sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka;
  2. Orientasi belajar bagi orang dewasa adalah berpusat pada kehidupan;
  3. Pengalaman sebagai sumber kekayaan untuk belajar orang dewasa;
  4. Orang dewasa mengharapkan berhubungan sendiri dengan kebutuhan yang tepat;
  5. Perbedaan individual di antara perorangan berkembang sesuai dengan umurnya.

Menurut Knowles (1976)

Knowles (1976) melanjutkan pemahamnan C. Linderman, mengungkapkan bahwa kondisi orang dewasa dalam belajar berbeda dengan anak-anak. Kalaulah pada anak-anak di gunakan istilah “padagogy” sehingga di artikan dengan “the art and science of teaching children” atau ilmu dan seni mengajar anak-anak.

Menurut pandangannya, mengapa sampai terjadi perbedaan antara kegiatan belajar anak-anak dengan orang dewasa, hal tersebut karena orang dewasa memiliki:

  1. Konsep diri (The self-concept),
  2. Pengalaman hidup (The role of the learner’s experience);
  3. Kesiapan belajar (Readiness to learn);
  4. Orientasi belajar (Orientasion to learning);
  5. Kebutuhan pengetahuan (The need to know); dan
  6. Motivasi (Motivation).

Pendapat-pendapat itu sejalan dengan beberapa definisi yang di kembangkan para ahli di antaranya adalah: Definisi yang di ungkapkan oleh Morgan, Barton et al (1976) bahwa, pendidikan orang dewasa adalah suatu aktifitas pendidikan yang di lakukan oleh orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari yang hanya menggunakan sebagian waktu dan tenaganya untuk mendapatkan tambahan intelektual.

Menurut Reevers, Fansler, dan Houle

Menurut Reevers, Fansler, dan Houle, pendidikan orang dewasa adalah upaya yang di lakukan oleh individu dalam rangka pengembangan diri, di mana di lakukan dengan tanpa paksaan (legal).

UNESCO lebih tajam mendifinisikan pendidikan orang dewasa sebagai suatu proses pendidikan yang terorganisir baik isi, metode dan tingkatannya, baik formal maupun nonformal, yang melanjutkan maupun menggantikan pendidikan di sekolah akademi, universitas, dan pelatihan kerja yang membuat orang yang di anggap dewasa oleh masyarakat dapat mengembangkan kemampuannya, memperkaya pengetahuannya, meningkatkan kualifikasi teknis maupun profesionalnya, dan mengakibatkan perubahan pada sikap dan perilakunya dalam persfektif rangkap perkembangan peribadi secara utuh dan partisipasi dalam pengembangan sosial, ekonomi, dan budaya yang seimbang.

Baca Juga: Perbedaan Andragogi dan Pedagogi

Sumber:

  • Knowles, M S; Holton E F; & Swanson, R A. (1998). The Adult Learner. Gulf Publishing company. Houston – Texas, USA.
  • Lunandi, A G. 1987. Pendidikan Orang Dewasa. Sebuah uraian praktis untuk pembimbing, penatar, pelatih dan penyuluh lapangan. PT Gramedia, Jakarta Pusat Kurikulum.
  • Sharan B Merriam (editor). 2001. The New Uptade on Adult Learning Theory. San Francisco. Jossey Bass.
  • Sudarwan Danim. 2010. Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi. Bandung; Penerbit Alfabeta.
  • Hiryanto. 2017. PEDAGOGI, ANDRAGOGI DAN HEUTAGOGI SERTA IMPLIKASINYA DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT. Dinamika Pendidikan Vol XXII.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.