Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran Berdiferensiasi

HermanAnis.com. Teman-teman semua, pada bahasan kali ini kita akan membahas tentang Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi. Hal ini penting karena dengan memahami strategi ini maka kita dapat memenuhi kebutuhan belajar peserta didik dalam mereka belajar.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Apa itu Pembelajaran Berdiferensiasi ?

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang di dasarkan pada keputusan masuk akal yang di ambil oleh guru dengan berorientasi kepada kebutuhan peserta didik. Nah, yang harus di garis bawahi dalam pembelajaran berdifrensiasi adalah kebutuhan peserta didik.

Untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, maka guru perlu melakukan pemetaan kebutuhan belajar peserta didiknya.

Bagaimana cara memetakan kebutuhan belajar peserta didik dalam pembelajaran berdiferensiasi?

Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi

Untuk memperoleh pemetaaan kebutuhan belajar peserta didik maka di perlukan pengukuran atau asesmen. Asesmen yang di gunakan tentunya harus di kembangkan sesuai kebutuhan belajar peserta didik. Terdapat banyak variabel yang dapat di ukur dalam memetakan kebutuhan belajar peserta didik, namun secara umum kita bisa fokus pada tiga profil kebutuhan peserta didik berdasarkan pendapat dari Tomlinson (2001).

Baca Juga: Prinsip dan Prosedur Penyusunan Modul Ajar

Kebutuhan Peserta Didik dalam Pembelajaran Berdiferensiasi

Tomlison mengkategorikan kebutuhan peserta didik dalam tiga aspek yaitu,

  1. kesiapan belajar peserta didik
  2. minat belajar peserta didik dan
  3. profil belajar peserta didik

Baca Juga : Asesmen Formatif dan Sumatif dalam Kurikulum Merdeka

Kebutuhan peserta didik berdasarkan kesiapan belajar

Untuk mengetahui kebutuhan peserta didik berdasarkankan kesiapan belajar, guru perlu melakukan pengukuran terhadap aspek-aspek dalam kesiapan belajar. Dari beberapa referensi yang ada, kesiapan belajar peserta didik dapat di lihat berdasarkan kemampuan awal peserta didik atau pengetahuan prasyarat yang telah dimiliki peserta didik.

Sebagai contoh, guru bisa mengembangkan asesmen untuk memetakan kemampuan literasi membaca, kemampuan literasi numerik, kemampuan operasi matematika, kemampuan menggunakan alat ukur, pemahaman peserta didik terkait materi prasyarat, dan sebagainya.

Selain itu, guru juga bisa mengembangkan asesmennya untuk mengetahui profil kemampuan setiap peserta didiknya dalam memahami konsep yang bersifat kompleks, konsep yang abstrak, konsep konkret, dan seterusnya.

Namun perlu juga di perhatikan bahwa di luar semua itu, guru juga perlu mengecek ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana pendukung pembelajaran berdiferensiasi yang di rancang.

Dalam mengukur kebutuhan peserta didik berdasarkan kesiapan belajar ini, guru dapat menggunakan tes atau hasil tes materi sebelumnya. Bentuk tes dan contohnya sudah banyak tersedia di mbah google. Kalo belum ada, bisa nitip menulisnya di kolom kementar di bawah tulisan ini. Kami akan coba bantu untuk memebrikan contoh.

Kebutuhan peserta didik berdasarkankan minat

Pemetaan kebutuhan peserta didik berdasarkankan minat bisa di idenfikasi berdasarkan minat-minat yang umumnya dimiliki oleh peserta didik berdasarkan usia, gender, lingkungan dan lainnya. Minat-minat yang umum ini seperti, minat terhadap sains, minat terhadap seni, minat terhadap olehraga, minat terhadap otomotif, minat terhadap ilmu komputer, minat terhadap filsafat, dan sebagainya.

Tugas guru sebelum melakukan pemetaan adalah mengidentifikasi minat-minat apa saja yang potensi muncul pada sejumlah anak didiknya.

Dalam mengukur kebutuhan peserta didik berdasarkan minat ini, guru dapat menggunakan angket terbuka dan tertutup. Contohnya sudah banyak tersedia di mbah google. Kalo belum ada, bisa nitip menulisnya di kolom kementar di bawah tulisan ini.

Kebutuhan peserta didik berdasarkankan profil belajar

Pemetaan kebutuhan peserta didik berdasarkankan profil belajar dapat di idenfikasi berdasarkan; budaya, lingkungan, usia atau tahap perkembangan kognitif, gender, gaya belajar, dan sebagainya.

Namun, dari semua itu, yang paling penting untuk mendapat perhatian untuk di petakan adalah gaya belajar setiap peserta didik. Karakter belajar atau gaya belajar peserta didik setidaknya dapat di bagi menjadi tiga, yakni gaya belajar

  1. Visual
  2. Audiotori
  3. Kinestetik

Dalam prakteknya kita akan menemukan peserta didik yang memiliki gaya belajar yang kecendrugannya tidak jelas, atau merupakan kombinasi dari 3 jenis gaya belajar tersebut. Hal ini penting untuk menjadi perhatian guru.

Untuk mengukur kebutuhan peserta didik berdasarkan profil belajar ini, guru dapat menggunakan angket terbuka dan tertutup. Contohnya juga sudah ada tersedia di mbah google.

Baca Juga: Komponen Modul Ajar dan RPP dalam Kurikulum Merdeka

Apa itu strategi pembelajaran berdiferensiasi?

Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi

Dalam proses pembelajaran berdiferensiasi ini, di perlukan strategi. Strategi inilah yang kita sebut sebagai strategi pembelajaran berdiferensiasi. Ada banyak sebenarnya strategi pembelajaran berdiferensiasi, namun dalam bahasan kali ini kita hanya akan fokus membahas tiga Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi yakni,

  • Pertama, strategi pembelajaran berdiferensiasi konten,
  • kedua, strategi pembelajaran berdiferensiasi proses, dan
  • ketiga, strategi pembelajaran berdiferensiasi produk.

Bagaimana pembelajaran berdiferensiasi ini bisa memenuhi kebutuhan murid, serta memenuhi hasil belajar anak, tentunya setelah kita lakukan pemetaan, seorang guru juga wajib menerapkan strategi yang berbeda, media yang berbeda, dan semua hal sesuai kebutuhan peserta didik.

Baca Juga: Alur Tujuan Pembelajaran

Mari kita akan bahas satu persatu!

Pembelajaran Berdiferensiasi Konten

Konten menurut kamus bahasa Indonesia yaitu informasi yang tersedia melalui media atau produk elektronik. Konten dapat kita artikan apa yang kita ajarkan pada peserta didik kita. Dengan menggunakan media seperti media cetak, audio atau bisa menggunakan kombinasi yaitu berupa video pembelajaran.

Kebutuhan belajar peserta didik menjadi dasar dalam praktek berdiferensiasi yang kita lakukan di kelas.

Diferensiasi konten bisa dilakukan berdasarkan kesiapan peserta didik. Misalnya, mana peserta didik yang mampu memahami secara konkrit dan mana peserta didik yang masih memahami secara abstrak. Diferensiasi konten bisa di lihat dari pemetaan profil peserta didik, sesuai dengan gaya belajar. Ada gaya belajar Auditori, Visual ataupun kinestetik.

Contoh menggunakan bahan ajar, berupa bacaan, video dan audio. Ini untuk meng-cover atau mendiferensiasi konten bahan ajar yang kita gunakan sehingga semua peserta didik terfasilitasi terhadap bahan ajar yang di berikan.

Demikian juga berdasarkan minat. Misalnya anak yang minat olahraga, maka guru yang mengajar bahasa Indonesia, hendaknya memberikan teks-teks yang ada kaitannya dengan olahraga, sehingga dia bisa menghubungkan dengan skemata yang ada dalam pemikirannya.

Demikian juga dengan anak yang suka seni, maka berikanlah teks-teks yang ada kaitannya dengan seni, sehingga dia bisa hubungkan apa yang dia pelajari dengan minatnya. Dengan di penuhinya kebutuhan peserta didik tadi, di harapkan hasil belajar akan meningkat dan maksimal.

Dengan membelajarkan mereka berdasarkan kesiapan belajarnya, maka kita tahu bagaimana anak dengan kemampuan yang rendah, sedang, dan tinggi.

Berikanlah soal yang beragam, jangan di samaratakan soal untuk anak dengan kemampuan tinggi dan anak dengan kemampuan rendah, hasilnya tidak akan pernah sama.

Nah, inilah keuntungan kita menggunakan atau menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dalam pembelajaran di kelas.

Pembelajaran Berdiferensiasi Proses

Pengertian proses menurut kamus bahasa Indonesia yaitu runtunan perubahan (peristiwa) dalam perkembangan sesuatu. Proses merupakan bagaimana peserta didik memahami atau memaknai dari materi yang di ajarkan.

Proses seperti apa yang ini diajarkan di kelas?

Misalkan setelah di petakan, di kelas itu ternyata di ketahui ada siswa yang kinestetik, visual, dan audio, maka guru perlu memilihkan media yang cocok, dan tentu tidak cukup hanya teks bacaan saja. Kalau sekadar bacaan, guru hanya mampu memenuhi anak yang visual, sementara anak yang audio itu tentu saja tidak terpenuhi.

Oleh karena itu, media yang dipilih guru untuk memenuhi ketiganya dapat dengan menggunakan video pembelajaran. Dengan video pembelajaran, peserta didik yang audiotori, akan mendengar suaranya, yang visual akan melihat gambarnya.

Sementara untuk anak yang kinestetik, yang butuh aktivitas bergerak, guru perlu membuatkan video yang dapat merangsang dia untuk melakukan gerakan yang dapat mencontoh gerakan dalam video. Bukan sekedar suara atau gambar saja

Inilah pentingnya pembelajaran berdiferensiasi dengan dasar mengetahui kebutuhan belajar peserta didik.

Contoh lain, misalnya dengan memberikan kegiatan berjenjang, berdasarkan pertanyaan pemandu, menggunakan pengelompokkan yang fleksibel, mengembangkan kegiatan bervariasi, praktek, ataupun demonstrasi.

Kegiatan berjenjang itu bisa memfasilitasi anak-anak sesuai dengan kemampuannya. Misalnya, dari kegiatan yang mudah terlebih dahulu, bisa kita berikan kepada anak-anak yang tingkat pemahamannya masih terbatas.

Sedangkan untuk pertanyaan pemandu, guru perlu membuat pertanyaan-pertanyaan yang dapat merangsang peserta didik untuk berpikir.

Strategi lain adalah dengan melakukan pengelompokkan yang fleksibel, kita bisa mengelompokkan anak-anak sesuai dengan kemampuannya.

Dalam proses pembelajaran, guru dapat menerapkan pendekatan keterampilan proses khsusunya pada pelajaran sains, atau melakukan praktikum, merancang suatu proyek melalui project based learning.

Selain itu, guru juga dapat menerapkan metode demonstrasi, dengan mendemonstrasikan suatu fenomena sesuai dengan konteks keseharian peserta didik, yang di kenali oleh peserta didik, atau kontekstual bagi peserta didik.

Pembelajaran Berdiferensiasi Produk

Produk merupakan hasil pekerjaan peserta didik atau kerja yang harus di tunjukkan kepada guru. Produk harus mencerminkan penguasaan peserta didik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Kita dapat membebaskan kepada peserta didik untuk membuat produk sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah di tetapkan. Contoh, anak yang suka membuat video, nanti produknya berupa video, yang suka menulis, bisa produknya berupa tulisan seperti menulis karangan tentang fenomena sosial, olahraga, seni dan lain sebagainya.

Namun yang pokok adalah poin dari tujuan pembelajaran ada di dalam produk yang di buat oleh anak didik, jadi tidak sekedar ada produk.

Bagaimana hubungan pembelajaran berdeferensiasi dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara

Menurut Ki Hajar Dewantara proses pembelajaran harus memperhatikan kodrat peserta didik. Secara kodrat anak SD, SMP, SMA, dan Mahasiswa jelas berbeda. Setiap anak perlu di perlakukan sebagaimana kodratnya.

Dengan demikian, maka sangat beralasan jika sebelum pembelajaran di lakukan guru perlu melakukan asesmen atau pengukuran yang berkaitan dengan kebutuhan peserta didik. Melalui hasil pemetaan tersebut, guru dapat merancang pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik (pembelajaran berdiferensiasi).

Hubungan antara pembelajaran berdiferensiasi dengan inquiry apresiatif

Pada pembelajaran inquiry apresiatif, guru harus melihat anak dari sisi positif, yakni setiap anak pintar, tinggal mereka menemukan guru yang tepat. Olehnya itu, maka kita perlu menjadi guru yang tepat bagi setiap peserta didik kita.

Ini tentu tidaklah mudah, perlu kreativitas, perlu latihan, perlu kolaborasi, dan banyak membaca, mengkaji, berinovasi. Pembelajaran dengan inquiry apresiatif memberikan tanggung jawab kpeada guru untuk merancang proses inquiry (penyelidikan) sesuai dengan kebutuhan peserta didik tanpa meninggalkan esensi dari tujuan pembelajaran yang ingin di capai.

Demikian, semoga ada manfaat,
terima kasih.

One Reply to “Pembelajaran Berdiferensiasi”

  1. Terimakasih atas tulisannya, sangat membantu dalam proses PPG saya. Semoga makin berkah ilmunya. Semangat terus untuk berbagi ilmunya.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: