Merumuskan Tujuan Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka

Cara merumuskan Tujuan Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka

HermanAnis.com. Teman-teman semua, bahasan kita kali ini masih terkait dengan Implementasi Kurikulum Merdeka, yakni, merumuskan tujuan pembelajaran. Fokus bahasan kita akan adalah mengkaji bagaimana cara merumuskan tujuan pembelajaran yang baik benar.

Baca Tentang : Proses Perencanaan Kegiatan Pembelajaran pada Kurikulum Merdeka

A. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan tujuan pembelajaran

Dalam merumuskan tujuan pembelajaran, seorang guru harus memperhatikan prisip-prinsip dalam perumusan tujuan pembelajaran yang baik, beberpa prisnsip tersebur antara lain:

1. Jelas dan spesifik

Tujuan pembelajaran harus jelas dan spesifik sehingga siswa dapat memahami apa yang harus mereka capai dan bagaimana cara mencapainya.

2. Terukur

Tujuan pembelajaran harus dapat di ukur sehingga dapat di ketahui sejauh mana siswa telah mencapainya.

3. Relevan

Tujuan pembelajaran harus relevan dengan topik atau materi yang akan di pelajari dan juga relevan dengan kebutuhan siswa.

4. Realistis

Tujuan pembelajaran harus realistis dan dapat di capai oleh siswa dalam kurun waktu yang telah di tentukan.

5. Tantangan

Tujuan pembelajaran harus menantang namun masih dapat di capai oleh siswa. Tujuan yang terlalu mudah atau terlalu sulit dapat mengurangi motivasi siswa dalam pembelajaran.

6. Terintegrasi

Tujuan pembelajaran harus terintegrasi dengan tujuan pembelajaran lainnya dan juga terkait dengan tujuan umum dari pembelajaran tersebut.

7. Mengikuti prinsip ABCD

Tujuan pembelajaran harus mengikuti prinsip ABCD (Audience, Behavior, Condition, Degree) yang terdiri dari: siapa yang menjadi target pembelajaran (Audience), apa yang harus dipelajari dan dilakukan (Behavior), kondisi atau situasi pembelajaran (Condition), dan sejauh mana tujuan pembelajaran harus dicapai (Degree).

8. Berdasarkan kurikulum dan standar kompetensi

Tujuan pembelajaran harus berdasarkan pada kurikulum dan standar kompetensi yang telah di tetapkan oleh pemerintah atau lembaga pendidikan yang berwenang.

9. Di sesuaikan dengan kebutuhan siswa

Tujuan pembelajaran harus dapat di sesuaikan dengan kebutuhan siswa, baik dari segi kecepatan belajar, gaya belajar, kemampuan, dan minat.

10. Mengarah pada pengembangan kompetensi

Tujuan pembelajaran harus mengarah pada pengembangan kompetensi siswa dalam berbagai aspek, seperti kognitif, afektif, dan psikomotorik.

11. Bersifat di namis

Tujuan pembelajaran harus bersifat dinamis dan dapat di perbaharui atau di sesuaikan sesuai dengan perkembangan peserta didik, kurikulum, maupun tuntutan dunia kerja dan masyarakat.

12. Memberikan motivasi

Tujuan pembelajaran juga harus memberikan motivasi bagi siswa untuk belajar dan mengembangkan diri. Tujuan yang menarik dan memiliki relevansi dengan kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

13. Mendukung pembelajaran terpadu

Tujuan pembelajaran harus mendukung pembelajaran terpadu, yaitu integrasi antara berbagai disiplin ilmu atau mata pelajaran sehingga siswa dapat memahami hubungan antara berbagai aspek dalam kehidupan.

14. Terbuka dan transparan

Tujuan pembelajaran harus terbuka dan transparan, sehingga siswa dan orang tua siswa dapat memahami tujuan yang ingin di capai dalam proses pembelajaran.

15. Mendorong refleksi diri

Tujuan pembelajaran harus mendorong refleksi diri bagi siswa, yaitu kemampuan untuk memperhatikan, memahami, dan mengevaluasi hasil belajar dan mengembangkan diri lebih lanjut.

16. Bersifat inklusif

Tujuan pembelajaran harus bersifat inklusif, yaitu mampu menjangkau dan memenuhi kebutuhan semua siswa, tanpa terkecuali, termasuk siswa yang memiliki kebutuhan khusus atau berkebutuhan khusus.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, pembelajaran akan lebih terarah dan efektif, serta dapat menciptakan siswa yang memiliki kompetensi yang di butuhkan untuk menghadapi dunia yang semakin kompleks dan dinamis.

B. Cara Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Setelah memahami CP, pendidik mulai mendapatkan ide-ide tentang apa yang harus di pelajari peserta didik dalam suatu fase. Pada tahap ini, pendidik mulai mengolah ide tersebut, menggunakan kata-kata kunci yang telah dikumpulkannya pada tahap sebelumnya, untuk merumuskan tujuan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran yang di kembangkan ini perlu di capai peserta didik dalam satu atau lebih jam pelajaran, hingga akhirnya pada penghujung Fase mereka dapat mencapai CP. Oleh karena itu, untuk CP dalam satu fase, pendidik perlu mengembangkan beberapa tujuan pembelajaran.

Dalam tahap merumuskan tujuan pembelajaran ini, pendidik belum mengurutkan tujuan-tujuan tersebut, cukup merancang tujuan-tujuan belajar yang lebih operasional dan konkret saja terlebih dahulu. Urutan-urutan tujuan pembelajaran akan di susun pada tahap berikutnya.

Dengan demikian, pendidik dapat melakukan proses pengembangan rencana pembelajaran langkah demi langkah.

Penulisan tujuan pembelajaran sebaiknya memuat 2 komponen utama, yaitu:

  • Kompetensi, yaitu kemampuan atau keterampilan yang perlu di tunjukkan/di demonstrasikan oleh peserta didik.
    Pertanyaan panduan yang dapat di gunakan pendidik, antara lain:
    • Secara konkret, kemampuan apa yang perlu peserta didik tunjukkan?
    • Tahap berpikir apa yang perlu peserta didik tunjukkan?
  • Lingkup materi, yaitu konten dan konsep utama yang perlu di pahami pada akhir satu unit pembelajaran.
    Pertanyaan panduan yang dapat di gunakan pendidik, antara lain:
    • Hal apa saja yang perlu mereka pelajari dari suatu konsep besar yang dinyatakan dalam CP?
    • Apakah lingkungan sekitar dan kehidupan peserta didik dapat di gunakan sebagai konteks untuk mempelajari konten dalam CP (misalnya, proses pengolahan hasil panen di gunakan sebagai konteks untuk belajar tentang persamaan linear di SMA)

Baca Juga: Apersepsi dalam Pembelajaran

1. Tingkatan Kemampuan Kognitif berdasarkan Taksonomi Bloom revisi Anderson dan Krathwohl

Taksonomi Bloom revisi Anderson dan Krathwohl berguna dalam proses perumusan tujuan pembelajaran. Namun demikian, Taksonomi Bloom ini telah di revisi seiring dengan perkembangan hasil-hasil penelitian.

Anderson dan Krathwohl (2001) mengembangkan taksonomi berdasarkan Taksonomi Bloom, dan dinilai lebih relevan untuk konteks belajar saat ini.

Anderson dan Krathwohl mengelompokkan kemampuan kognitif menjadi tahapan-tahapan berikut ini, dengan urutan dari kemampuan yang paling dasar ke yang paling tinggi sebagai berikut:

  • Mengingat, termasuk di dalamnya mengingat kembali informasi yang telah di pelajari, termasuk de nisi, fakta-fakta, daftar urutan, atau menyebutkan kembali suatu materi yang pernah di ajarkan kepadanya.
  • Memahami, termasuk di dalamnya menjelaskan ide atau konsep seperti menjelaskan suatu konsep menggunakan kalimat sendiri, menginterpretasikan suatu informasi, menyimpulkan, atau membuat parafrasa dari suatu bacaan.
  • Mengaplikasikan, termasuk di dalamnya menggunakan konsep, pengetahuan, atau informasi yang telah di pelajarinya pada situasi berbeda dan relevan.
  • Menganalisis, termasuk dalam kemampuan ini adalah memecah- mecah informasi menjadi beberapa bagian, kemampuan untuk mengeksplorasi hubungan/korelasi atau membandingkan antara dua hal atau lebih, menentukan keterkaitan antarkonsep, atau mengorganisasikan beberapa ide dan/atau konsep
  • Mengevaluasi, termasuk kemampuan untuk membuat keputusan, penilaian, mengajukan kritik dan rekomendasi yang sistematis.
  • Menciptakan, yaitu merangkaikan berbagai elemen menjadi satu hal baru yang utuh, melalui proses pencarian ide, evaluasi terhadap hal/ide/benda yang ada sehingga kreasi yang di ciptakan menjadi salah satu solusi terhadap masalah yang ada.

Termasuk di dalamnya adalah kemampuan memberikan nilai tambah terhadap suatu produk yang sudah ada.

2. Tingkatan Pemahaman dalam Merumuskan Tujuan Pembelajaran menurut Tighe dan Wiggins (2005)

Selain taksonomi di atas, untuk merumuskan tujuan pembelajaran, pendidik juga dapat merujuk pada teori lain yang di kembangkan oleh Tighe dan Wiggins (2005) tentang enam bentuk pemahaman.

Sebagaimana yang di sampaikan dalam penjelasan tentang CP, pemahaman (understanding) adalah proses berpikir tingkat tinggi, bukan sekadar menggunakan informasi untuk menjelaskan atau menjawab pertanyaan.

Menurut Tighe dan Wiggins, pemahaman dapat di tunjukkan melalui kombinasi dari enam kemampuan berikut ini:

  • Penjelasan (explanation). Penjelasan adalah mendeskripsikan suatu ide dengan kata-kata sendiri, membangun hubungan, mendemonstrasikan hasil kerja, menjelaskan alasan, menjelaskan sebuah teori, dan menggunakan data.
  • Aplikasi. Aplikasi adalah menggunakan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman mengenai sesuatu dalam situasi yang nyata atau sebuah simulasi (menyerupai kenyataan).
  • Empati. Empati adalah menaruh diri di posisi orang lain. Merasakan emosi yang dialami oleh pihak lain dan/atau memahami pikiran yang berbeda dengan dirinya.
  • Interpretasi. Interpretasi adalah menerjemahkan cerita, karya seni, atau situasi. Interpretasi juga berarti memaknai sebuah ide, perasaan, atau sebuah hasil karya dari satu media ke media lain.
  • Perspektif. Perspektif merupakan melihat suatu hal dari sudut pandang yang berbeda, siswa dapat menjelaskan sisi lain dari sebuah situasi, melihat gambaran besar, melihat asumsi yang mendasari suatu hal dan memberikan kritik.
  • Pengenalan diri atau Refleksi diri. Pengenalan diri atau Refleksi diri merupakan memahami diri sendiri; yang menjadi kekuatan, area yang perlu di kembangkan serta proses berpikir dan emosi yang terjadi secara internal.

3. Taksonomi menurut menurut Marzano (2000) dalam Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Marzano (2000) mengembangkan taksonomi baru untuk tujuan pembelajaran. Dalam taksonominya, Marzano menggunakan tiga sistem dalam domain pengetahuan. Ketiga sistem tersebut adalah sistem kognitif, sistem metakognitif, dan sistem diri (self-system).

Sistem diri adalah keputusan yang di buat individu untuk merespon instruksi dan pembelajaran: apakah akan melakukannya atau tidak. Sementara sistem metakognitif adalah kemampuan individu untuk merancang strategi untuk melakukan kegiatan pembelajaran agar mencapai tujuan.

Selanjutnya sistem kognitif mengolah semua informasi yang di perlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berikut 6 level taksonomi menurut Marzano:

Mengenali dan mengingat kembali (retrieval)

Taksonomi menurut menurut Marzano (2000) 2

Pemahaman

Taksonomi menurut menurut Marzano (2000) dalam Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Analisis

Taksonomi menurut menurut Marzano (2000) 3

Pemanfaatan Pengetahuan

Taksonomi menurut menurut Marzano (2000) dalam Merumuskan Tujuan Pembelajaran 4

Metakognisi

Taksonomi menurut menurut Marzano (2000) 5

Sistem Diri

Taksonomi menurut menurut Marzano (2000) dalam Merumuskan Tujuan Pembelajaran 6

Pendidik dapat menggunakan teori atau pendekatan lain dalam merancang tujuan pembelajaran, selama teori tersebut di nilai relevan dengan karakteristik mata pelajaran serta konsep/topik yang di pelajari, karakteristik peserta didik, dan konteks lingkungan pembelajaran.

Beberapa catatan khusus terkait dengan perumusan tujuan pembelajaran di jenis dan jenjang pendidikan tertentu:

  • Pada Capaian Pembelajaran Peserta didik, penyusunan tujuan pembelajaran mempertimbangkan laju perkembangan anak, bukan kompetensi dan konten seperti pada jenjang lainnya.
  • Pada Pendidikan Khusus, selain kompetensi dan konten, tujuan pembelajaran juga mencakup variasi dan akomodasi layanan sesuai karakteristik peserta didik. Selain itu, tujuan pembelajaran diarahkan pada terbentuknya kemandirian dalam aktivitas sehari-hari sampai kesiapan memasuki dunia kerja.
  • Pada pendidikan kesetaraan, dalam merumuskan tujuan pembelajaran memperhatikan karakteristik peserta didik, kebutuhan belajar dan kondisi lingkungan.
  • Pada satuan pendidikan SMK, tujuan pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran dapat disusun bersama dengan mitra dunia kerja.

Pendidik memiliki alternatif untuk merumuskan tujuan pembelajaran dengan beberapa alternatif di bawah ini:

  • Alternatif 1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara langsung berdasarkan CP
  • Alternatif 2. Merumuskan tujuan pembelajaran dengan menganalisis ‘kompetensi’ dan ‘lingkup Materi’ pada CP.
  • Alternatif 3. Merumuskan tujuan pembelajaran Lintas Elemen CP

Panduan praktis dalam merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan prinsip SMART dengan memuat aspek ABCD dapat teman-teman pada link berikut ini.

Sumber Rujukan


Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca