Hierarki Ketidaksetujuan Graham (Graham’s Hierarchy of Disagreement)

Hierarki Ketidaksetujuan Graham (Graham’s Hierarchy of Disagreement)

HermanAnis.com. Hierarki ketidaksetujuan Graham menunjukkan tingkatan yang berbeda oleh seseorang untuk mengekspresikan ketidaksetujuannya terhadap argumen/materi/topik tertentu.

Dalam debat atau diskusi terkadang kita terkadang berada pada posisi untuk memberikan tanggapan terhadap suatu argumen dari lawan debat atau teman diskusi. Terkadang ada argumen yang kita setujui dan ada yang tidak kita setujui.

Bagaimana kita mengungkapkan ketidak setujuan kita terhadap argumen tersebut, Paul Graham memberikan kita acuan berupa hirarki ketidaksetujuan.

Paul Graham merupakan seorang programmer komputer dan seorang penulis dari Inggris. Salah satu karyanya yang paling terkenal dan tersebar luas di seluruh dunia Graham’s Hierarchy of Disagreement pada tahun 2008.

Baca Juga: Adab Bertanya dalam Forum

7 Hierarki Ketidaksetujuan Graham

Hierarki ketidaksetujuan Graham menunjukkan tingkatan yang berbeda oleh seseorang untuk mengekspresikan ketidaksetujuannya terhadap argumen/materi/topik tertentu.

Dalam debat/diskusi aspek etiket debat sangat penting untuk diperhatikan. Etika dan etiket dalam mengungkapkan ketidaksetujuan menurut Graham seperti dalam gambar di bawah ini.

Hierarki Ketidaksetujuan Graham
Gambar 1. Hierarki Ketidaksetujuan Graham

Menurut bagan segitiga ini, kita dapat menggunakan atau mengevaluasi cara kita untuk membantah orang. Dari gambar 1, posisi paling bawah kalau bisa jangan sama sekali. Semakin keatas semakin baik.

Yang paling baik adalah posisi yang paling atas. Sehingga, kalau bisa ungkapan ketidak setujuan kita kepada orang, gayanya, gaya yang paling atas.

Terdapat 7 Hierarki Ketidaksetujuan menurut Graham yakni,

  1. name-calling
  2. ad hominem
  3. responding to tone
  4. contradiction
  5. counterargument
  6. refutation
  7. refuting the central point

Penjelasan ketujuh hierarki tersebut sebagai berikut:

1. Name-calling – Hierarki Ketidaksetujuan Graham

Ini merupakan ungkapan tingkat ketidaksetujuan terendah. Ungkapan berupa penghinaan yang mungkin disebabkan karena tidak memiliki argumen untuk membantah. Ini yang paling di larang dil akukan ketika kita tidak setuju dengan pendapat orang.

Ungkapan yang di lontarkan dapat berupa cacian, makian dan pangilan-panggilan-pangilan yang menjatuhkan. Misalnya dasar engkau bajingan, kamu orang rusak, kadrun, cebong. Ini adalah ungkapan yang paling tidak beradap.

Baca Juga: Bagaimana Cara Berdebat Dengan Benar?

2. Ad hominem

Ini merupakan ungkapan tingkat ketidaksetujuan yang di gunakan oleh seseorang secara pribadi, dengan maksud mendiskreditkan lawan debat/diskusi tanpa memberikan argumen yang rasional. Menyerang karakter pribadi.

Contoh dari perbedaan ini adalah: “Apa yang kamu tau, kuliah saja tidak pernah’ atau “Kamu itu malas kuliah, berani-beraninya usul macam-macam., ini ad hominem.

Yang di serang kejelekan-kejelekan orangnya, bukan isi argumennya. Untuk itu, penting untuk selalu konsisten melihat/mendengar apa yang di omongkan dan jangan/tidak melihat siapa yang berbicara.

Baca Juga: Apa itu berpikir kritis?

3. Responding to tone – Hierarki Ketidaksetujuan Graham

Dalam kasus ini seseorang memfokuskan atau menggunakan tone dari lawan debat/diskusi untuk mencoba menolak atau membantahnya tanpa mempertimbangkan isi argumentasi dari apa yang sedang di bicarakan.

Yang di tanggapi adalah tonenya, bukan substansi argumennya. Seperti intonasinya, kalo tulisanan, hanya kembang-kembangannya.

Misalnya, Saya tidak setuju pendapatmu karena ngomong kasar begitu, ini responding to tone. Untuk itu, maka usahakan jangan hanya pada level tonenya saja, tapi kita tanggapi isi argumennya.

Baca Juga: Indikator Keterampilan Berpikir Kritis dalam Sains

4. Contradiction

Orang yang menggunakan kontradiksi untuk menyatakan ketidaksetujuan dengan mengungkapkan gagasan yang berlawanan. Dalam kasus ini, argumen di gunakan untuk membantah dengan menyebutkan kontradiksinya.

Misalnya, orang menyatakan bahwa orang makassar kasar-kasar, lalu di tunjukkan itu si’ A’ lembut-lembut kok. Ini namanya kontradiksi. Ini merupakan strategsi membantah dengan menunjukkan kasus yang berbeda tanpa perlu menguraikan alasannya.

5. Counterargument – Hierarki Ketidaksetujuan Graham

Tidak sekedar menunjukkan kasus yang berlawanan, tapi juga memberikan alasannya. Ada argumennya, pada bagian akhir diberikan inferensi kontradiksi misalnya ini berarti tidak semua orang makassar kasar-kasar.

Misalnya: “Kamu tidak benar, karena seperti yang dikatakan Socrates …”

6. Refutation

Ketika ada orang membuat satu pernyataan, kita analisis pernyataan itu, kemudian kita tunjukkan kesalahan-kesalahan di mana dan mengapa itu salah. Memberikan rujukan-rujukan terpercaya.

Menguraikan kesalahan-kesalahan, menjelaskannya, merujuk kebenaran dari yang semula salah.

7. Refuting the central point – Hierarki Ketidaksetujuan Graham

Gagasan utamanya apa sih, tidak sekedar pernyataannya, maksud intinya apa?, kemudian di bantah. Di dalami dulu, di cek dulu, maksudnya, baru di bantah.

File PDF tulisan ini anda dapat download pada link INI.

Demikian,
Semoga ada manfaat.


Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca