Hasil PISA Indonesia 2025

Hasil PISA Indonesia 2025
close

Artikel Hasil PISA Indonesia 2025 ini membahas capaian siswa Indonesia berdasarkan hasil asesmen PISA 2025 serta perkembangan kemampuan siswa dalam sains, matematika, dan membaca. Pembahasan mencakup kompetensi yg diukur dalam PISA 2025, populasi dan sampel peserta, pelaksanaan asesmen, serta capaian siswa Indonesia pada berbagai tingkat kemahiran. Artikel ini juga menyajikan perbandingan hasil Indonesia dg rata-rata OECD dan beberapa negara/ekonomi peserta serta perkembangan capaian dari siklus PISA sebelumnya.

Selain hasil pada tiga domain utama tersebut, artikel ini membahas Learning in the Digital World (LDW) sebagai domain inovatif yg diperkenalkan pada PISA 2025 dan mencakup computational problem solving. Uraian disusun berdasarkan data dan dokumen OECD untuk memberikan gambaran mengenai posisi capaian siswa Indonesia, perubahan hasil dari waktu ke waktu, serta karakteristik kemampuan yg ditunjukkan pada masing-masing tingkat kemahiran.

Baca juga : Hasil PISA Indonesia 2022

Memahami Apa yang Diukur PISA 2025

PISA 2025 tetap mengukur tiga kompetensi utamaโ€”sains, matematika, dan membacaโ€”tetapi sains menjadi fokus utama. Selain itu, PISA 2025 memperluas pengukuran dg computational problem solving dan untuk pertama kalinya mengukur kemampuan siswa belajar di dunia digital (Learning in the Digital World). Kompetensi yg diukur bukan sekadar penguasaan pengetahuan, tetapi kemampuan menggunakan pengetahuan untuk bernalar, memecahkan masalah, mengevaluasi informasi, dan mengambil keputusan dalam konteks kehidupan nyata.

Sebelum melihat bagaimana capaian siswa Indonesia dalam PISA 2025, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yg sebenarnya diukur dalam asesmen ini. PISA (Programme for International Student Assessment) merupakan survei internasional terhadap siswa berusia 15 tahun yg dilakukan setiap tiga tahun. Pada PISA 2025, asesmen ini diikuti oleh 91 negara dan ekonomi, yg terdiri atas 38 negara anggota OECD dan 53 negara serta ekonomi mitra OECD, termasuk Indonesia.

Indonesia bukan anggota OECD saat ini. Indonesia sedang dalam proses aksesi (accession) untuk menjadi anggota OECD. Oleh karena itu, dalam konteks PISA 2025, Indonesia termasuk dalam kelompok negara dan ekonomi mitra OECD (partner countries and economies). PISA mengukur sejauh mana siswa telah memperoleh pengetahuan dan keterampilan yg diperlukan untuk berpartisipasi dlm kehidupan sosial dan ekonomi. Pengukuran tidak hanya mencakup kemampuan mengingat apa yg telah dipelajari, tetapi juga kemampuan menggunakan pengetahuan tersebut dan menerapkannya pada persoalan dalam kehidupan nyata.

Pada PISA 2025, sains menjadi domain utama (main subject), bersama dg membaca dan matematika sebagai tiga domain inti PISA. Pada setiap siklus PISA, salah satu dari tiga domain inti, yaitu membaca, matematika, dan sains, ditetapkan sebagai domain utama (main subject). Domain utama memperoleh pengukuran yg lebih mendalam dibandingkan domain lainnya. Pergiliran domain utama pada setiap siklus PISA dapat dilihat pada tabel berikut.

DomainTahun sebagai Domain Utama
Membaca (Reading)2000, 2009, 2018
Matematika (Mathematics)2003, 2012, 2022
Sains (Science)2006, 2015, 2025

Pergiliran tersebut membuat setiap domain inti menjadi domain utama sekitar setiap 9โ€“10 tahun, sementara ketiganya tetap diukur pada setiap siklus PISA sehingga perkembangannya dapat dianalisis dari waktu ke waktu.

Kompetensi yang Diukur dalam PISA

Selain mengetahui domain yg diujikan, penting pula untuk memahami kompetensi yg diukur dalam masing-masing domain. Berdasarkan dokumen PISA, setiap domain memiliki fokus kemampuan yg berbeda.

Asesmen Sains PISA 2025

Asesmen sains PISA mencakup kemampuan untuk menjelaskan fenomena secara ilmiah, menyusun dan mengevaluasi rancangan penyelidikan ilmiah serta menafsirkan data dan bukti ilmiah secara kritis, dan mencari, mengevaluasi, serta menggunakan informasi ilmiah untuk pengambilan keputusan dan tindakan. Dengan demikian, pengukuran sains mencakup kemampuan siswa dalam menggunakan pengetahuan dan informasi ilmiah untuk menjelaskan fenomena, melakukan dan menilai penyelidikan, serta menggunakan bukti ilmiah dalam pengambilan keputusan.

Pada PISA 2025, sains menjadi domain utama (major domain) yang diasesmen. Untuk siklus ini, asesmen sains diperbarui untuk mengukur sejauh mana negara mempersiapkan siswa dg pemahaman tentang sains dan bagaimana sains menghasilkan pengetahuan yg dapat diandalkan. Kemampuan tersebut berkaitan dg kebutuhan warga negara untuk membuat keputusan berdasarkan informasi mengenai berbagai fenomena yg berkaitan dg sains, seperti kesehatan dan lingkungan, serta terlibat dlm tindakan di lingkungan keluarga, komunitas lokal, dan masyarakat secara lebih luas.

Asesmen sains PISA 2025 mengukur sejauh mana siswa memiliki tiga kompetensi utama, yaitu:

  1. Menjelaskan fenomena secara ilmiah (Explain phenomena scientifically)
    Kemampuan ini mencakup mengenali, menyusun, menerapkan, dan mengevaluasi penjelasan mengenai berbagai fenomena alam dan teknologi.
  2. Menyusun dan mengevaluasi rancangan penyelidikan ilmiah serta menafsirkan data dan bukti ilmiah secara kritis (Construct and evaluate designs for scientific enquiry and interpret scientific data and evidence critically)
    Kompetensi ini mencakup kemampuan menilai dan mengevaluasi cara melakukan penyelidikan terhadap pertanyaan secara ilmiah, serta menafsirkan dan mengevaluasi data ilmiah secara kritis.
  3. Meneliti, mengevaluasi, dan menggunakan informasi ilmiah untuk pengambilan keputusan dan tindakan (Research, evaluate and use scientific information for decision making and action)
    Kompetensi ini mencakup kemampuan memperoleh informasi ilmiah mengenai isu tertentu yg berkaitan dg sains, baik pada tingkat global, lokal, maupun personal, kemudian mengevaluasi kredibilitas informasi tersebut, kemungkinan kelemahannya, serta implikasinya terhadap keputusan pribadi dan masyarakat.
Asesmen Matematika (Mathematics) PISA 2025

Pengukuran pada tahun 2025 terhadap kemampuan matematika PISA mengukur kapasitas individu untuk bernalar secara matematis serta merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan matematika untuk memecahkan masalah dalam berbagai konteks kehidupan nyata. Kerangka asesmen matematika mencakup konsep, prosedur, fakta, dan alat yg digunakan untuk mendeskripsikan, menjelaskan, dan memprediksi fenomena. Kemampuan tersebut juga berkaitan dg pemahaman terhadap peran matematika dlm kehidupan serta kemampuan membuat pertimbangan dan keputusan yg didasarkan pada penalaran yg kuat.

Literasi matematika (mathematical literacy) didefinisikan sebagai kemampuan siswa untuk bernalar secara matematis serta merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan matematika untuk memecahkan masalah dalam berbagai konteks kehidupan nyata. Dalam PISA, kemampuan matematika siswa diukur melalui soal-soal yg mencakup proses pemecahan masalah dan penalaran matematis, konten matematika, serta konteks permasalahan.

1. Penalaran matematis dan proses pemecahan masalah

Bagian ini mencakup kemampuan mengevaluasi situasi, memilih strategi, menarik kesimpulan secara logis, mengembangkan dan menjelaskan solusi, serta mengenali bagaimana solusi tersebut dapat diterapkan. Penalaran ini mencakup penalaran deduktif dan induktif serta didukung oleh pemahaman terhadap konsep-konsep dasar matematika, seperti kuantitas, sistem bilangan dan sifat aljabarnya, abstraksi dan representasi simbolik, struktur dan pola matematika, hubungan fungsional antarkuantitas, pemodelan matematika untuk memahami dunia nyata, serta variasi sebagai dasar dalam statistika.

Dalam pemecahan masalah, PISA mengidentifikasi tiga proses, yaitu merumuskan situasi secara matematis, menggunakan konsep, fakta, prosedur, dan penalaran matematika, serta menafsirkan, menerapkan, dan mengevaluasi hasil matematika.

2. Konten matematika

Asesmen matematika PISA mencakup empat kategori konten, yaitu perubahan dan hubungan (change and relationships), kuantitas (quantity), ruang dan bentuk (space and shape), serta ketidakpastian dan data (uncertainty and data). Keempat kategori tersebut berkaitan erat dg materi yg umumnya terdapat dlm kurikulum matematika sekolah, seperti bilangan, aljabar, fungsi, geometri, dan pengolahan data.

3. Konteks

Konteks merupakan aspek kehidupan atau dunia individu tempat suatu permasalahan ditempatkan. PISA mengidentifikasi empat konteks, yaitu personal, pekerjaan (occupational), kemasyarakatan (societal), dan ilmiah (scientific). Dengan demikian, soal matematika PISA menempatkan penggunaan matematika dlm berbagai situasi yg berkaitan dg kehidupan individu, pekerjaan, masyarakat, dan bidang ilmiah.

Asesmen Membaca (Reading) PISA 2025

Asesmen membaca PISA mengukur kapasitas individu untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan, dan terlibat dg teks untuk mencapai tujuan, mengembangkan pengetahuan dan potensi diri, serta berpartisipasi dlm masyarakat. Literasi membaca (reading literacy) didefinisikan sebagai kemampuan siswa untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan, dan terlibat dg teks untuk mencapai tujuan mereka.

Dalam PISA, kemampuan membaca siswa diukur melalui soal yg mencakup tiga aspek utama:

1. Proses membaca (processes/aspects)

PISA tidak lagi mengukur keterampilan membaca paling dasar karena diasumsikan sebagian besar siswa berusia 15 tahun telah menguasainya. Asesmen berfokus pada tiga proses, yaitu menemukan informasi, memahami teks, serta mengevaluasi dan merefleksikan teks. Menemukan informasi mencakup mengakses dan mengambil informasi dlm teks serta mencari dan memilih teks yg relevan. Memahami teks mencakup membangun pemahaman terhadap makna literal dan mengintegrasikan informasi menjadi pemahaman yg utuh. Sementara itu, mengevaluasi dan merefleksikan teks mencakup menilai kualitas dan kredibilitas teks serta merefleksikan isi dan bentuk teks.

2. Format teks (text formats)

PISA menggunakan berbagai format teks, yaitu teks sumber tunggal dan multi-sumber, teks statis dan dinamis, serta teks kontinu, nonkontinu, dan campuran. Teks kontinu disusun dlm kalimat dan paragraf, sedangkan teks nonkontinu dapat berupa daftar, formulir, grafik, atau diagram.

3. Situasi membaca (situations)

Situasi membaca ditentukan berdasarkan tujuan penggunaan teks. PISA mencakup teks untuk keperluan personal, seperti novel, surat pribadi, atau biografi; keperluan publik, seperti dokumen resmi atau pengumuman; keperluan pekerjaan (occupational), seperti manual atau laporan; serta keperluan pendidikan, seperti buku teks atau lembar kerja. Beragam situasi tersebut digunakan karena kemampuan siswa dapat berbeda sesuai dg jenis situasi membaca yg dihadapi.

Ketiga domain tersebut memiliki fokus pengukuran yg berbeda, tetapi semuanya mengukur kapasitas individu dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan yg dimiliki sesuai dg tuntutan masing-masing domain.

Selain ketiga domain inti tersebut, PISA 2025 untuk pertama kalinya mengukur Learning in the Digital World (LDW) sebagai domain inovatif. LDW didefinisikan sebagai kapasitas siswa untuk terlibat dlm proses pembangunan pengetahuan dan pemecahan masalah yg bersifat iteratif dan terarah (iterative and self-regulated) dg menggunakan alat dan praktik komputasional. Dalam PISA 2025, computational problem solving diukur sebagai bagian dari domain LDW.

Learning in the Digital World (LDW) merupakan domain inovatif. Asesmen ini didasarkan pada pemahaman bahwa teknologi pendidikan dapat mengubah cara siswa belajar karena menyediakan peluang baru untuk mengeksplorasi fenomena kompleks, membuat representasi digital dari gagasan mereka, mengembangkan atau memodifikasinya, serta membagikannya dg orang lain.

Asesmen LDW berfokus pada dua kompetensi utama yg diperlukan siswa untuk belajar dg menggunakan teknologi:

1. Pembelajaran teregulasi diri (self-regulated learning)
Kompetensi ini merujuk pada kemampuan siswa untuk memantau dan mengendalikan proses metakognitif, kognitif, perilaku, motivasi, dan afektif selama proses belajar.

2. Praktik penyelidikan komputasional dan ilmiah (computational and scientific enquiry practices)
Kompetensi ini merujuk pada kemampuan menggunakan alat digital untuk mengeksplorasi sistem, merepresentasikan gagasan, dan memecahkan masalah menggunakan logika komputasional.

OECD mendefinisikan science proficiency sebagai kapasitas siswa untuk terlibat dg persoalan yg berkaitan dg sains dan gagasan-gagasan sains sebagai warga negara yg reflektif serta menggunakannya untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi. Mathematics proficiency merupakan kapasitas untuk bernalar secara matematis serta merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan matematika untuk memecahkan masalah dlm berbagai konteks kehidupan nyata. Sementara itu, reading proficiency merupakan kapasitas untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan, dan terlibat dg teks untuk mencapai tujuan, mengembangkan pengetahuan dan potensi, serta berpartisipasi dlm masyarakat.

Populasi Sasaran dan Sampel PISA 2025

PISA 2025 melibatkan lebih dari 760.000 siswa yg mewakili sekitar 33 juta siswa berusia 15 tahun di sekolah-sekolah pada 91 negara dan ekonomi peserta. Namun, angka tersebut perlu dipahami dlm konteks PISA target population, yaitu populasi siswa yg memenuhi kriteria yg telah ditetapkan PISA.

Dalam PISA 2025, populasi sasaran mencakup siswa yg berusia antara 15 tahun 3 bulan hingga 16 tahun 2 bulan pada saat asesmen & telah menyelesaikan sedikitnya enam tahun pendidikan formal. Penentuan peserta berdasarkan usia, bukan semata-mata berdasarkan kelas, memungkinkan PISA membandingkan siswa dari berbagai sistem pendidikan yg memiliki struktur & jenjang kelas yg berbeda. Siswa yg menjadi bagian dari populasi sasaran dapat terdaftar pada berbagai jenis institusi pendidikan, baik akademik maupun vokasional, penuh waktu maupun paruh waktu, serta sekolah negeri maupun swasta.

Dari populasi sasaran tersebut, PISA menggunakan sampel (PISA sample) sekolah & siswa untuk mengikuti asesmen. Sampel dipilih dg prosedur sampling yg dirancang agar hasil asesmen dapat digunakan untuk menghasilkan estimasi mengenai populasi sasaran. Karena itu, jumlah siswa yg mengikuti asesmen jauh lebih kecil daripada jumlah siswa yg direpresentasikannya.

Sampel PISA 2025 di Indonesia

Di Indonesia, sebanyak 14.168 siswa dari 419 sekolah menyelesaikan asesmen PISA 2025. Peserta tersebut merepresentasikan sekitar 3.995.000 siswa berusia 15 tahun dlm populasi sasaran Indonesia. Dengan demikian, hasil yg diperoleh dari sampel tersebut digunakan untuk menggambarkan karakteristik & capaian populasi siswa usia 15 tahun yg menjadi sasaran PISA di Indonesia.

PISA juga menetapkan aturan mengenai pengecualian (exclusions) untuk menjaga keterwakilan populasi. Secara umum, tingkat pengecualian keseluruhan dlm suatu negara harus berada di bawah 5%. Pengecualian dapat terjadi pada tingkat sekolah, misalnya karena sekolah sangat kecil atau sulit dijangkau, maupun pada tingkat siswa, misalnya karena kondisi tertentu yg membuat siswa tidak dapat mengikuti asesmen dg prosedur standar atau memiliki keterbatasan bahasa asesmen.

Batasan tersebut penting karena hasil PISA merupakan hasil estimasi berdasarkan sampel. OECD menetapkan standar sampling & pengecualian agar penyimpangan antara hasil sampel dan karakteristik populasi sasaran dapat ditekan. Dengan demikian, ketika membaca hasil PISA Indonesia 2025, yg dimaksud bukanlah seluruh siswa Indonesia, melainkan populasi sasaran PISA, yg diwakili melalui sampel sekolah dan siswa yg dipilih sesuai prosedur PISA.

Data Indonesia dalam PISA 2025 dinyatakan memenuhi standar kualitas PISA & layak dilaporkan. Oleh karena itu, hasil dari 14.168 siswa pada 419 sekolah digunakan untuk menghasilkan gambaran mengenai kemampuan, pengalaman belajar, sikap, & karakteristik siswa usia 15 tahun dalam populasi sasaran PISA di Indonesia.

Pelaksanaan Asesmen PISA 2025

PISA 2025 menguji sains sebagai domain utama, serta membaca, matematika, dan Learning in the Digital World (LDW). Sains, membaca, dan matematika mengukur kemampuan siswa menggunakan pengetahuan untuk memahami, menalar, mengevaluasi, dan memecahkan masalah, sedangkan LDW mengukur kemampuan membangun pengetahuan dan memecahkan masalah secara mandiri dg menggunakan lingkungan serta perangkat digital.

Asesmen dilaksanakan terutama berbasis komputer (computer-based assessment). Indonesia termasuk negara yg menggunakan asesmen berbasis komputer. Siswa mengerjakan tes selama sekitar dua jam. Namun, setiap siswa tidak mengerjakan seluruh domain dan seluruh soal PISA. Melalui desain matrix sampling, setiap siswa memperoleh kombinasi domain dan blok soal tertentu. Dengan demikian, keseluruhan instrumen PISA dapat mencakup materi yg luas tanpa seluruhnya diberikan kepada setiap siswa.

Soal PISA mencakup pilihan ganda maupun soal dengan jawaban yg harus disusun sendiri, dan disajikan dalam berbagai konteks untuk mengukur kemampuan menerapkan pengetahuan, bukan sekadar mengingat informasi. Pada asesmen berbasis komputer untuk sains, membaca, dan matematika, PISA 2025 juga menerapkan multi-stage adaptive testing, sehingga blok soal berikutnya dapat disesuaikan dg kinerja siswa pada tahap sebelumnya.

Setelah tes, siswa mengisi kuesioner latar belakang (background questionnaire) selama sekitar 35 menit. Kuesioner ini mengumpulkan informasi mengenai sikap, keyakinan, pengalaman belajar, kondisi rumah, dan pengalaman siswa di sekolah. Kepala sekolah juga mengisi kuesioner mengenai pengelolaan sekolah dan lingkungan belajar.

Dengan demikian, hasil PISA 2025 tidak hanya berasal dari tes kemampuan siswa, tetapi juga dari informasi mengenai konteks belajar siswa dan sekolah. Hal ini menjadi dasar bagi PISA untuk melihat capaian siswa sekaligus faktor-faktor yg berkaitan dg pengalaman belajar mereka.

Hasil PISA Indonesia 2025

Perkembangan capaian siswa Indonesia dalam sians, matematika, dan membaca dapat dilihat melalui perubahan skor rata-rata PISA dari satu siklus ke siklus berikutnya. Grafik berikut menunjukkan tren capaian ketiga domain tersebut di Indonesia.

Gambar 2. Tren capaian siswa dalam sains, matematika, dan membaca
Sumber: https://www.oecd.org/en/data/dashboards/pisa-education-and-skills/performance-trends.html

Perkembangan Hasil PISA Indonesia 2025

Hasil PISA 2025 menunjukkan bahwa capaian rata-rata siswa Indonesia dalam matematika, membaca, dan sains relatif sama dg hasil PISA 2022. Namun, jika dilihat dalam rentang yg lebih panjang, capaian tahun 2025 masih berada di bawah hasil yg diukur PISA pada 2015. Dalam perbandingan dg Malaysia dan Thailand, rata-rata capaian siswa Indonesia pada periode 2018โ€“2025 juga masih berada di bawah kedua negara tersebut.

Perkembangan kesenjangan capaian dg kedua negara tersebut menunjukkan pola yg berbeda. Dibandingkan Thailand, kesenjangan Indonesia melebar dalam sains sebesar 14 poin, sedangkan dalam membaca dan matematika perubahan kesenjangannya tidak signifikan. Sementara itu, kesenjangan dg Malaysia menyempit secara signifikan pada ketiga domain. Dalam matematika, kesenjangan berkurang dari 62 poin menjadi 34 poin; dalam membaca dari 44 poin menjadi 28 poin; dan dalam sains dari 42 poin menjadi 32 poin. OECD mencatat bahwa perubahan tersebut menunjukkan tren capaian siswa Indonesia yg lebih positif dibandingkan siswa Malaysia pada ketiga domain tersebut.

Jika dilihat berdasarkan kelompok capaian siswa, antara 2022 dan 2025 kesenjangan antara 10% siswa dg skor tertinggi dan 10% siswa dg skor terendah tidak berubah secara signifikan dalam matematika dan sains. Dalam membaca, kesenjangan antara kedua kelompok tersebut menyempit. Dengan demikian, perubahan distribusi capaian siswa antara 2022 dan 2025 berbeda menurut domain yg diukur.

Jika dibandingkan dg 2015, proporsi siswa yg berada di bawah Level 2 meningkat pada ketiga domain. Peningkatan tersebut sebesar 14 poin persentase dalam matematika, 18 poin persentase dalam membaca, dan 7 poin persentase dalam sains. Level 2 merupakan tingkat kemahiran dasar (baseline proficiency) yg digunakan PISA untuk menunjukkan bahwa siswa telah mencapai tingkat kemampuan minimum tertentu dalam domain yg diukur.

Bagaimana Capaian Indonesia Dibandingkan Rata-rata OECD?

Pada PISA 2025, skor rata-rata siswa Indonesia dalam matematika, membaca, dan sains berada di bawah rata-rata OECD seperti pada gamabr berikut. Hal yg sama terlihat pada computational problem solving, di mana skor rata-rata siswa Indonesia juga lebih rendah dibandingkan rata-rata OECD.

Gambar 3. Rata-rata capaian siswa dalam sains, matematika, membaca, dan pemecahan masalah komputasional
Source: Tablesย I.B1.2a.1-3 and Tablesย I.2.1,ย I.2.4,ย I.2.o1 andย I.2.o2

Selain perbedaan skor rata-rata, terdapat perbedaan pada distribusi tingkat kemahiran siswa. Proporsi siswa Indonesia yg mencapai tingkat kemahiran tinggi (Level 5 atau 6) dalam setidaknya satu dari tiga domain, yaitu matematika, membaca, dan sains, lebih kecil dibandingkan rata-rata negara OECD. Pada sisi lain, proporsi siswa Indonesia yg mencapai setidaknya Level 2 dalam ketiga domain tersebut juga lebih kecil dibandingkan rata-rata OECD.


Gambar 4. Tingkat kemahiran siswa berusia 15 tahun dalam sains, matematika, dan membaca di Indonesia
Source: Tables I.B1.2a.10-12

Hasil PISA Indonesia 2025 dalam Sains

Hasil PISA Indonesia 2025 menunjukkan bahwa capaian sains siswa Indonesia menunjukkan kesenjangan yg cukup besar dibandingkan rata-rata OECD maupun negara/ekonomi dengan capaian tertinggi. Hanya 37% siswa Indonesia yg mencapai Level 2 atau lebih tinggi, sementara rata-rata OECD mencapai 74%. Pada level ini, siswa setidaknya mampu mengenali penjelasan yg tepat terhadap fenomena sains yg sudah dikenal dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menentukan, dlm kasus sederhana, apakah suatu kesimpulan sesuai dg data.

Kesenjangan tersebut semakin terlihat jika dibandingkan dg negara/ekonomi berperforma tinggi seperti Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Zhejiang (B-S-J-Z, China), Makau (China), Singapura, Estonia, Jepang, Chinese Taipei, dan Korea, di mana lebih dari 85% siswanya mencapai Level 2 atau lebih tinggi. Pada tingkat kemahiran tertinggi, situasinya juga menunjukkan perbedaan yg jelas: hampir tidak ada siswa Indonesia yg mencapai Level 5 atau 6, sedangkan rata-rata OECD mencapai 7%. Siswa pada level ini mampu menerapkan pengetahuan sains secara kreatif dan mandiri pada berbagai situasi, termasuk situasi yg belum dikenal. Dengan demikian, berdasarkan data PISA 2025, tantangan capaian sains Indonesia terlihat pada proporsi siswa yg mencapai kompetensi dasar maupun proporsi siswa yg mampu mencapai tingkat kemahiran tinggi.

Terdapat sekitar 37% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam sains, sedangkan rata-rata OECD mencapai 74%. Pada tingkat ini, siswa setidaknya mampu mengenali penjelasan yg tepat untuk fenomena ilmiah yg sudah dikenal serta menggunakan pengetahuan tersebut untuk menentukan, dlm kasus sederhana, apakah suatu kesimpulan sesuai dg data yg tersedia.

Sebaliknya, hampir tidak ada siswa Indonesia yg mencapai Level 5 atau 6, yaitu tingkat kemahiran tertinggi dalam sains. Pada tingkat ini, siswa mampu menerapkan pengetahuan tentang dan mengenai sains secara kreatif dan mandiri pada berbagai situasi, termasuk situasi yg belum dikenal. Rata-rata siswa yg mencapai Level 5 atau 6 di negara-negara OECD adalah 7%.

Hasil PISA Indonesia 2025 dalam Matematika

Pada Hasil PISA Indonesia 2025, 17% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam matematika, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 65%. Pada tingkat ini, siswa setidaknya mampu menafsirkan dan mengenali, tanpa instruksi langsung, bagaimana situasi sederhana dapat direpresentasikan secara matematis. Sementara itu, hampir tidak ada siswa Indonesia yg mencapai Level 5 atau 6, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 8%.

Perbedaan ini terlihat lebih jelas jika dibandingkan dg sejumlah negara dan ekonomi Asia. Proporsi siswa yg mencapai Level 5 atau 6 mencapai 54% di B-S-J-Z (China), 37% di Singapura, 32% di Chinese Taipei, 29% di Makau (China), 23% di Korea, 22% di Jepang, dan 21% di Hong Kong (China). Pada level tersebut, siswa tidak hanya menyelesaikan persoalan matematika sederhana, tetapi mampu memodelkan situasi kompleks secara matematis serta memilih, membandingkan, dan mengevaluasi strategi pemecahan masalah. Data Hasil PISA Indonesia 2025 tersebut menunjukkan adanya perbedaan capaian yg cukup besar antara siswa Indonesia dan siswa di sejumlah negara/ekonomi tersebut, terutama pada kemampuan matematika tingkat tinggi.

Hasil PISA Indonesia 2025 dalam Literasi Membaca

Hasil PISA Indonesia 2025 menunjukkan bahwa capaian literasi membaca siswa Indonesia menunjukkan kesenjangan yg besar dibandingkan rata-rata OECD. Hanya 27% siswa Indonesia yg mencapai Level 2 atau lebih tinggi, sedangkan rata-rata OECD mencapai 69%; artinya, sebagian besar siswa Indonesia belum mencapai tingkat kemahiran membaca minimum yg diukur PISA.

Kesenjangan ini juga terlihat dalam perbandingan internasional, karena proporsi siswa yg mencapai Level 2 atau lebih tinggi berkisar dari 93% di B-S-J-Z (China) hingga 4% di Rwanda. Pada tingkat kemahiran tinggi, hampir tidak ada siswa Indonesia yg mencapai Level 5 atau lebih, sedangkan rata-rata OECD mencapai 6%. Padahal, pada level tersebut siswa mampu memahami teks panjang, menghadapi konsep abstrak atau berlawanan dg dugaan awal, serta membedakan fakta dan opini berdasarkan informasi tersirat dari isi atau sumber teks. Data ini menunjukkan bahwa tantangan literasi membaca Indonesia tidak hanya terletak pada pencapaian tingkat minimum, tetapi juga pada sangat kecilnya proporsi siswa yg mencapai kemampuan membaca tingkat tinggi.

Kesimpulan

Hasil PISA Indonesia 2025 menunjukkan bahwa capaian siswa Indonesia dalam sains, matematika, dan membaca masih berada di bawah rata-rata OECD, baik pada pencapaian Level 2 atau lebih tinggi maupun pada tingkat kemahiran tinggi.

  • PISA 2025 menunjukkan bahwa literasi tidak terbatas pada penguasaan pengetahuan, tetapi mencakup kemampuan menggunakan pengetahuan untuk bernalar, memecahkan masalah, mengevaluasi informasi, dan mengambil keputusan dalam konteks kehidupan nyata.
  • Capaian siswa Indonesia pada sains, matematika, dan membaca masih menunjukkan proporsi pencapaian Level 2 yg relatif rendah dibandingkan rata-rata OECD. Proporsi siswa yg mencapai Level 2 atau lebih tinggi masing-masing sebesar 37% dlm sains, 17% dlm matematika, dan 27% dlm membaca.
  • Persoalan capaian tidak hanya terlihat pada tingkat kemahiran dasar, tetapi juga pada capaian tingkat tinggi. Proporsi siswa Indonesia yg mencapai level tertinggi relatif sangat kecil, menunjukkan perlunya perhatian terhadap pengembangan kemampuan berpikir kompleks, penalaran, pemecahan masalah, dan evaluasi informasi.
  • Perkembangan dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa capaian rata-rata 2025 relatif sama dg 2022, tetapi masih berada di bawah capaian 2015. Temuan ini menunjukkan pentingnya melihat peningkatan capaian tidak hanya dlm jangka pendek antar-siklus, tetapi juga dlm perspektif perkembangan yg lebih panjang.
  • Perbedaan capaian antarnegara menunjukkan adanya variasi yg cukup besar dalam penguasaan kompetensi yg diukur PISA. Perbandingan tersebut dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk mengidentifikasi karakteristik pembelajaran dan praktik pendidikan yg berkaitan dg capaian literasi pada tingkat yg lebih tinggi.

ย Sumber: OECD (2026), PISA 2025 Results (Volume I): Future-Ready Students, PISA, OECD Publishing, Paris, https://doi.org/10.1787/73451bc5-en.


Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca