Hasil PISA Indonesia 2025 menunjukkan capaian siswa Indonesia dalam sains, matematika, membaca, dan pemecahan masalah komputasional. PISA 2025 menempatkan sains sebagai domain utama, sedangkan matematika dan membaca tetap menjadi bagian dari tiga domain inti PISA. Selain itu, PISA 2025 untuk pertama kalinya mengukur Learning in the Digital World (LDW) sebagai domain inovatif, yang di dalamnya mencakup computational problem solving.
Di Indonesia, sebanyak 14.168 siswa dari 419 sekolah menyelesaikan asesmen PISA 2025. Sampel tersebut merepresentasikan sekitar 3.995.000 siswa berusia 15 tahun dalam populasi sasaran PISA di Indonesia.
Secara internasional, PISA 2025 melibatkan lebih dari 760.000 siswa dari 91 negara dan ekonomi. PISA ditujukan untuk siswa berusia antara 15 tahun 3 bulan hingga 16 tahun 2 bulan yang telah menyelesaikan sedikitnya enam tahun pendidikan formal.
Artikel ini membahas hasil PISA Indonesia 2025 berdasarkan data dan publikasi OECD, meliputi skor rata-rata, tingkat kemahiran siswa, proporsi siswa yang mencapai Level 2 atau lebih tinggi, capaian tingkat tinggi, perkembangan hasil dari waktu ke waktu, serta perbandingan dengan rata-rata OECD dan beberapa negara peserta PISA.
Baca juga : Hasil PISA Indonesia 2022
Ringkasan Hasil PISA Indonesia 2025
Hasil PISA Indonesia 2025 dapat dilihat dari skor rata-rata dan proporsi siswa yang mencapai Level 2 atau lebih tinggi. Dalam kerangka PISA, Level 2 digunakan sebagai salah satu acuan tingkat kemahiran dasar yang menunjukkan bahwa siswa telah mencapai kompetensi minimum tertentu dalam domain yang diukur.
| Domain | Skor Indonesia 2025 | Rata-rata OECD | Siswa Indonesia Level 2+ | Rata-rata OECD Level 2+ |
|---|---|---|---|---|
| Sains | 389 | 482 | 37% | 74% |
| Matematika | 364 | 463 | 17% | 65% |
| Membaca | 365 | 461 | 27% | 69% |
| Computational problem solving | 427 | 500 | — | — |
Data OECD menunjukkan bahwa skor rata-rata Indonesia dalam ketiga domain utama berada di bawah rata-rata OECD. Perbedaan juga terlihat pada proporsi siswa yang mencapai setidaknya Level 2. Dalam sains, 37% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih tinggi, dibandingkan 74% pada rata-rata OECD. Dalam matematika angkanya 17% dibandingkan 65%, sedangkan dalam membaca 27% dibandingkan 69%.
Pada tingkat kemahiran tinggi, hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau 6 dalam sains dan matematika, sedangkan rata-rata OECD masing-masing mencapai 7% dan 8%. Dalam membaca, hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih, sedangkan rata-rata OECD mencapai 6%.
Apa yang Diukur dalam PISA 2025?
Programme for International Student Assessment (PISA) merupakan asesmen internasional yang mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan nyata.
PISA tidak hanya mengukur kemampuan mengingat materi yang telah dipelajari di sekolah. Asesmen ini dirancang untuk melihat sejauh mana siswa dapat menggunakan pengetahuan untuk bernalar, memecahkan masalah, mengevaluasi informasi, dan mengambil keputusan dalam berbagai konteks.
PISA 2025 diikuti oleh 91 negara dan ekonomi, yang terdiri atas negara anggota OECD serta negara dan ekonomi mitra OECD, termasuk Indonesia. Indonesia bukan anggota OECD. Indonesia merupakan negara yang sedang menjalani proses aksesi untuk menjadi anggota OECD dan dalam konteks PISA termasuk negara dan ekonomi mitra OECD.
PISA 2025 dan Tiga Domain Utama
PISA secara berkala menetapkan salah satu dari tiga domain inti—sains, matematika, dan membaca—sebagai domain utama. Domain utama memperoleh pengukuran yang lebih mendalam, sedangkan dua domain lainnya tetap diukur untuk memungkinkan analisis perkembangan capaian dari waktu ke waktu.
| Domain | Tahun sebagai Domain Utama |
|---|---|
| Membaca | 2000, 2009, 2018 |
| Matematika | 2003, 2012, 2022 |
| Sains | 2006, 2015, 2025 |
Dengan pola tersebut, setiap domain menjadi domain utama sekitar setiap 9–10 tahun, sementara ketiga domain tetap diukur pada setiap siklus PISA. Pada PISA 2025, sains menjadi domain utama, sedangkan matematika dan membaca tetap menjadi domain inti yang diukur.
Sains sebagai Fokus Utama PISA 2025
Pada PISA 2025, Sains menjadi fokus utama PISA 2025. Asesmen sains mengukur kemampuan siswa untuk menggunakan pengetahuan ilmiah dalam memahami fenomena, melakukan dan mengevaluasi penyelidikan, menafsirkan data dan bukti, serta menggunakan informasi ilmiah untuk mengambil keputusan dan tindakan.
Tiga kompetensi utama yang diukur dalam sains adalah:
- Menjelaskan fenomena secara ilmiah, yaitu kemampuan mengenali, menyusun, menerapkan, dan mengevaluasi penjelasan mengenai fenomena alam dan teknologi.
- Menyusun dan mengevaluasi rancangan penyelidikan ilmiah serta menafsirkan data dan bukti ilmiah secara kritis, yaitu kemampuan menilai cara melakukan penyelidikan dan mengevaluasi data serta bukti ilmiah.
- Meneliti, mengevaluasi, dan menggunakan informasi ilmiah untuk pengambilan keputusan dan tindakan, yaitu kemampuan memperoleh dan mengevaluasi informasi ilmiah serta mempertimbangkan kredibilitas, keterbatasan, dan implikasinya bagi keputusan.
Sains menjadi domain utama pada PISA 2025 sehingga pengukurannya dilakukan secara lebih mendalam dibandingkan domain minor.
PISA 2025 dalam Matematika
PISA mengukur literasi matematika sebagai kemampuan untuk bernalar secara matematis serta merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan matematika untuk memecahkan masalah dalam berbagai konteks kehidupan nyata.
Asesmen matematika mencakup penalaran matematis, proses pemecahan masalah, konten matematika, dan konteks permasalahan. Dalam proses pemecahan masalah, siswa dituntut untuk:
- merumuskan situasi secara matematis;
- menggunakan konsep, fakta, prosedur, dan penalaran matematika; serta
- menafsirkan, menerapkan, dan mengevaluasi hasil matematika.
Konten matematika dalam PISA mencakup empat kategori utama, yaitu perubahan dan hubungan, kuantitas, ruang dan bentuk, serta ketidakpastian dan data.
Permasalahan juga ditempatkan dalam berbagai konteks, seperti konteks personal, pekerjaan, kemasyarakatan, dan ilmiah.
PISA 2025 dalam Membaca
PISA mendefinisikan literasi membaca sebagai kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan, dan terlibat dengan teks untuk mencapai tujuan, mengembangkan pengetahuan dan potensi diri, serta berpartisipasi dalam masyarakat.
Asesmen membaca PISA berfokus pada tiga proses utama:
- Menemukan informasi, termasuk mengakses, mengambil, mencari, dan memilih informasi yang relevan.
- Memahami teks, termasuk membangun pemahaman terhadap makna teks dan mengintegrasikan berbagai informasi.
- Mengevaluasi dan merefleksikan teks, termasuk menilai kualitas dan kredibilitas informasi serta merefleksikan isi dan bentuk teks.
PISA menggunakan berbagai format teks, termasuk teks tunggal dan multi-sumber, teks statis dan dinamis, serta teks kontinu, nonkontinu, dan campuran.
Situasi membaca juga beragam, meliputi konteks personal, publik, pekerjaan, dan pendidikan.
Learning in the Digital World dan Computational Problem Solving
PISA 2025 untuk pertama kalinya mengukur Learning in the Digital World (LDW) sebagai domain inovatif. LDW berkaitan dengan kemampuan siswa untuk terlibat dalam proses pembangunan pengetahuan dan pemecahan masalah yang bersifat iteratif dan terarah dengan menggunakan alat serta praktik komputasional.
Dalam PISA 2025, computational problem solving diukur sebagai bagian dari domain Learning in the Digital World. Asesmen ini berkaitan dengan kemampuan siswa menggunakan lingkungan dan perangkat digital untuk mengeksplorasi sistem, membuat dan memodifikasi representasi, serta memecahkan masalah menggunakan pendekatan komputasional.
OECD melaporkan bahwa skor rata-rata siswa Indonesia dalam computational problem solving adalah 427 poin, sedangkan rata-rata OECD adalah 500 poin.
Perlu dibedakan antara hasil computational problem solving yang telah dirilis dan aspek lain dari Learning in the Digital World. OECD menyatakan bahwa analisis mengenai self-directed learning dalam lingkungan digital akan dirilis pada tahap berikutnya.
Populasi Sasaran dan Sampel PISA 2025 di Indonesia
PISA tidak menguji seluruh siswa Indonesia. Asesmen ini menggunakan populasi sasaran dan sampel yang dirancang untuk menghasilkan estimasi mengenai populasi tersebut.
Populasi Sasaran PISA 2025
Populasi sasaran PISA 2025 mencakup siswa yang berusia antara 15 tahun 3 bulan hingga 16 tahun 2 bulan pada saat asesmen dan telah menyelesaikan sedikitnya enam tahun pendidikan formal. Penentuan peserta berdasarkan usia memungkinkan PISA membandingkan siswa dari berbagai sistem pendidikan yang memiliki struktur kelas dan jenjang pendidikan berbeda.
Siswa yang termasuk dalam populasi sasaran dapat berasal dari berbagai jenis institusi pendidikan, termasuk sekolah akademik maupun vokasional, negeri maupun swasta, serta pendidikan penuh waktu maupun paruh waktu.
Sampel PISA 2025 di Indonesia
Di Indonesia, sebanyak 14.168 siswa dari 419 sekolah menyelesaikan asesmen PISA 2025. Sampel tersebut merepresentasikan sekitar 3.995.000 siswa berusia 15 tahun dalam populasi sasaran PISA Indonesia. Karena PISA menggunakan sampel, hasil yang dilaporkan bukan berarti seluruh siswa Indonesia mengikuti tes. Hasil tersebut merupakan estimasi mengenai capaian populasi sasaran berdasarkan sampel yang dipilih melalui prosedur sampling PISA.
OECD menyatakan bahwa data Indonesia dalam PISA 2025 memenuhi standar kualitas dan layak dilaporkan.
Bagaimana PISA 2025 Dilaksanakan?
PISA 2025 dilaksanakan terutama menggunakan asesmen berbasis komputer. Siswa mengerjakan tes selama sekitar dua jam dan setiap siswa diuji dalam dua domain/subjek. Tidak semua siswa mengerjakan seluruh soal atau seluruh domain PISA. Melalui desain matrix sampling, siswa memperoleh kombinasi blok soal dan domain yang berbeda. Dengan cara tersebut, PISA dapat mencakup materi asesmen yang luas tanpa memberikan seluruh instrumen kepada setiap siswa.
Soal PISA terdiri atas pilihan ganda dan soal yang mengharuskan siswa menyusun jawaban sendiri. Soal ditempatkan dalam berbagai konteks untuk mengukur kemampuan menggunakan pengetahuan, bukan sekadar mengingat informasi. Pada asesmen berbasis komputer untuk sains, membaca, dan matematika, PISA 2025 juga menerapkan multi-stage adaptive testing, sehingga blok soal berikutnya dapat disesuaikan dengan kinerja siswa pada tahap sebelumnya.
Setelah tes, siswa mengisi kuesioner latar belakang selama sekitar 35 menit. Kuesioner tersebut mengumpulkan informasi mengenai siswa, sikap dan keyakinan, pengalaman belajar, kondisi rumah, serta pengalaman di sekolah. Kepala sekolah juga mengisi kuesioner mengenai pengelolaan sekolah dan lingkungan belajar.
Dengan demikian, PISA tidak hanya menghasilkan informasi mengenai capaian kognitif siswa, tetapi juga menyediakan data mengenai konteks belajar dan pengalaman siswa.
Hasil PISA Indonesia 2025
Skor Rata-rata Indonesia dalam PISA 2025
Pada PISA 2025, skor rata-rata siswa Indonesia adalah:
- 389 poin dalam sains
- 364 poin dalam matematika
- 365 poin dalam membaca
- 427 poin dalam computational problem solving
Sebagai pembanding, rata-rata OECD adalah:
- 485 poin dalam sains
- 472 poin dalam matematika
- 472 poin dalam membaca
- 500 poin dalam computational problem solving
Dengan demikian, skor rata-rata Indonesia berada di bawah rata-rata OECD pada seluruh domain tersebut. Gambar 2 dan 3 berikut menunjukkan tren capaian ketiganya.

Sumber: https://www.oecd.org/en/data/dashboards/pisa-education-and-skills/performance-trends.html
Perkembangan Hasil PISA Indonesia 2015–2025
Jika dilihat dari perkembangan antar-siklus, capaian rata-rata siswa Indonesia pada 2025 relatif sama dengan hasil 2022 dalam sains, matematika, dan membaca. Namun, dalam perspektif yang lebih panjang, capaian pada 2025 masih berada di bawah hasil yang diukur pada 2015.
Perbandingan jangka panjang penting karena perubahan satu siklus ke siklus berikutnya tidak selalu menggambarkan keseluruhan arah perkembangan capaian siswa. Dalam periode 2018–2025, rata-rata capaian siswa Indonesia juga berada di bawah Malaysia dan Thailand pada ketiga domain tersebut.
Perubahan kesenjangan dengan kedua negara tersebut menunjukkan pola yang berbeda. Dibandingkan Thailand, kesenjangan Indonesia melebar dalam sains sebesar 14 poin, sedangkan perubahan kesenjangan dalam membaca dan matematika tidak signifikan.
Sementara itu, kesenjangan dengan Malaysia menyempit secara signifikan pada ketiga domain. Dalam matematika, kesenjangan berkurang dari 62 poin menjadi 34 poin; dalam membaca dari 44 poin menjadi 28 poin; dan dalam sains dari 42 poin menjadi 32 poin.
Perbandingan Indonesia dengan Rata-rata OECD
Perbedaan skor antara Indonesia dan rata-rata OECD pada PISA 2025 dapat dilihat berikut:
| Domain | Indonesia | OECD | Selisih |
|---|---|---|---|
| Sains | 389 | 482 | 93 |
| Matematika | 364 | 463 | 99 |
| Membaca | 365 | 461 | 96 |
| Computational problem solving | 427 | 500 | 73 |
Data menunjukkan adanya perbedaan skor rata-rata antara Indonesia dan rata-rata OECD pada seluruh domain yang dilaporkan. Selisih terbesar dalam tiga domain inti terdapat pada matematika, yaitu 99 poin, diikuti membaca 96 poin dan sains 93 poin. Untuk computational problem solving, selisihnya adalah 73 poin
Perbedaan antara Indonesia dan rata-rata OECD tidak hanya terlihat pada skor rata-rata, tetapi juga pada distribusi tingkat kemahiran siswa.
- Dalam sains, 37% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih tinggi, dibandingkan 74% pada rata-rata OECD.
- pada bidang matematika, 17% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih tinggi, dibandingkan 65% pada rata-rata OECD.
- Dalam membaca, 27% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih tinggi, dibandingkan 69% pada rata-rata OECD.
Perbedaan juga terlihat pada tingkat kemahiran tinggi. Proporsi siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau 6 dalam sains dan matematika sangat kecil, sedangkan rata-rata OECD mencapai 7% dalam sains dan 8% dalam matematika. Dalam membaca, hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih, sedangkan rata-rata OECD mencapai 6%.
Pada PISA 2025, skor rata-rata siswa Indonesia dalam matematika, membaca, dan sains berada di bawah rata-rata OECD seperti pada gambar berikut. Hal yg sama terlihat pada computational problem solving, di mana skor rata-rata siswa Indonesia juga lebih rendah dibandingkan rata-rata OECD.

Source: Tables I.B1.2a.1-3 and Tables I.2.1, I.2.4, I.2.o1 and I.2.o2
Selain perbedaan skor rata-rata, terdapat perbedaan pada distribusi tingkat kemahiran siswa. Proporsi siswa Indonesia yg mencapai tingkat kemahiran tinggi (Level 5 atau 6) dalam setidaknya satu dari tiga domain, yaitu matematika, membaca, dan sains, lebih kecil dibandingkan rata-rata negara OECD. Pada sisi lain, proporsi siswa Indonesia yg mencapai setidaknya Level 2 dalam ketiga domain tersebut juga lebih kecil dibandingkan rata-rata OECD.

Gambar 4. Tingkat kemahiran siswa berusia 15 tahun dalam sains, matematika, dan membaca di Indonesia
Source: Tables I.B1.2a.10-12
Hasil PISA Indonesia 2025 dalam Sains
Skor rata-rata sains Indonesia pada PISA 2025 adalah 389 poin, sedangkan rata-rata OECD adalah 482 poin. Dengan demikian, skor Indonesia berada di bawah rata-rata OECD. Hasil PISA Indonesia 2025 menunjukkan bahwa 37% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam sains, sedangkan rata-rata OECD mencapai 74%.
Pada Level 2, siswa setidaknya mampu mengenali penjelasan yang tepat terhadap fenomena sains yang sudah dikenal dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menentukan, dalam kasus sederhana, apakah suatu kesimpulan sesuai dengan data. Pada tingkat kemahiran tinggi, hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau 6. Sebagai perbandingan, rata-rata OECD mencapai 7%.
Siswa pada Level 5 atau 6 mampu menerapkan pengetahuan sains secara kreatif dan mandiri pada berbagai situasi, termasuk situasi yang belum dikenal. Dengan demikian, distribusi capaian PISA 2025 menunjukkan perbedaan yang besar antara proporsi siswa Indonesia yang mencapai tingkat kemahiran dasar dan proporsi siswa yang mencapai tingkat kemahiran tinggi.
Hasil PISA Indonesia 2025 dalam Matematika
Pada matematika, Indonesia memperoleh skor rata-rata 364 poin, sedangkan rata-rata OECD mencapai 463 poin. Hanya sekitar 17% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih tinggi, sedangkan rata-rata OECD mencapai 65%. Pada Level 2, siswa setidaknya mampu menafsirkan dan mengenali, tanpa instruksi langsung, bagaimana situasi sederhana dapat direpresentasikan secara matematis.
Pada tingkat kemahiran tinggi, hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau 6. Rata-rata OECD untuk siswa yang mencapai Level 5 atau 6 adalah 8%. Pada level tersebut, siswa mampu menghadapi persoalan yang lebih kompleks, membangun model matematis, serta memilih, membandingkan, dan mengevaluasi strategi penyelesaian.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa perbedaan capaian tidak hanya terlihat pada kemampuan matematika tingkat dasar, tetapi juga pada proporsi siswa yang mencapai tingkat kemahiran tinggi.
Hasil PISA Indonesia 2025 dalam Literasi Membaca
Dalam membaca, 27% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih tinggi, sedangkan rata-rata OECD mencapai 69%. Pada tingkat kemahiran tersebut, siswa setidaknya mampu menemukan dan memahami informasi dalam teks serta melakukan evaluasi sederhana terhadap isi dan informasi yang disajikan.
Pada tingkat yang lebih tinggi, siswa dituntut untuk memahami teks yang lebih kompleks, mengevaluasi informasi, serta membedakan informasi berdasarkan bukti yang tersedia dalam teks dan sumber. Hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih dalam membaca, sedangkan rata-rata OECD mencapai 6%.
Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan distribusi capaian membaca antara Indonesia dan rata-rata OECD, baik pada tingkat kemahiran dasar maupun tingkat kemahiran tinggi.
Hasil membaca Indonesia pada 2025 secara rata-rata tidak berbeda secara signifikan dari hasil 2022, tetapi masih berada di bawah hasil pada 2015. Dalam perkembangan 2018–2025, rata-rata hasil membaca Indonesia juga berada di bawah Malaysia dan Thailand.
Kesenjangan Capaian Siswa Indonesia
Selain melihat skor rata-rata, hasil PISA juga dapat dilihat berdasarkan distribusi capaian siswa.
Antara 2022 dan 2025, kesenjangan antara 10% siswa dengan skor tertinggi dan 10% siswa dengan skor terendah tidak berubah secara signifikan dalam matematika dan sains. Dalam membaca, kesenjangan antara kedua kelompok tersebut menyempit.
Jika dibandingkan dengan 2015, proporsi siswa yang berada di bawah Level 2 meningkat pada ketiga domain. Peningkatan tersebut sebesar 14 poin persentase dalam matematika, 18 poin persentase dalam membaca, dan 7 poin persentase dalam sains.
Level 2 merupakan salah satu acuan penting dalam membaca distribusi kemahiran PISA karena menunjukkan tingkat kemampuan dasar yang perlu dicapai siswa agar dapat menggunakan kompetensi yang diukur dalam situasi yang relatif sederhana.
Kesimpulan
Hasil PISA Indonesia 2025 memberikan gambaran mengenai capaian siswa usia 15 tahun dalam sains, matematika, membaca, dan computational problem solving.
- Pada tiga domain inti, skor rata-rata Indonesia adalah 389 poin dalam sains, 364 poin dalam matematika, dan 365 poin dalam membaca. Ketiga skor tersebut berada di bawah rata-rata OECD.
- Perbedaan juga terlihat pada proporsi siswa yang mencapai Level 2 atau lebih tinggi. Dalam sains, proporsinya 37%, dalam matematika 17%, dan dalam membaca 27%. Sebagai pembanding, rata-rata OECD masing-masing mencapai 74%, 65%, dan 69%.
- Pada tingkat kemahiran tinggi, proporsi siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau 6 dalam sains dan matematika sangat kecil. Dalam membaca, hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih.
- Dari sisi perkembangan waktu, capaian rata-rata Indonesia pada 2025 relatif sama dengan 2022, tetapi masih berada di bawah hasil yang diukur pada 2015. Perbandingan dengan Malaysia dan Thailand juga menunjukkan bahwa rata-rata capaian Indonesia pada periode 2018–2025 berada di bawah kedua negara tersebut, dengan perubahan kesenjangan yang berbeda menurut domain.
- Hasil PISA 2025 perlu dibaca sebagai gambaran capaian populasi sasaran PISA, bukan sebagai hasil tes seluruh siswa Indonesia. Di Indonesia, 14.168 siswa dari 419 sekolah berpartisipasi dan merepresentasikan sekitar 3,995 juta siswa berusia 15 tahun dalam populasi sasaran.
Dengan demikian, data PISA 2025 dapat digunakan untuk memahami capaian dan distribusi kemampuan siswa Indonesia serta membandingkannya dengan sistem pendidikan lain. Data tersebut juga menyediakan dasar untuk mengkaji kemampuan siswa dalam menggunakan pengetahuan, bernalar, memecahkan masalah, mengevaluasi informasi, dan menerapkan kompetensi dalam berbagai konteks.
Pertanyaan yg Sering Diajukan ttg PISA Indonesia 2025
Skor rata-rata Indonesia pada PISA 2025 adalah 389 poin dalam sains, 364 poin dalam matematika, dan 365 poin dalam membaca. Untuk computational problem solving, skor rata-ratanya 427 poin.
Sebanyak 37% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam sains, 17% dalam matematika, dan 27% dalam membaca.
Skor rata-rata Indonesia berada di bawah rata-rata OECD pada sains, matematika, membaca, dan computational problem solving. Perbedaan juga terlihat pada proporsi siswa yang mencapai Level 2 atau lebih tinggi.
Skor rata-rata Indonesia dalam sains adalah 389 poin, sedangkan rata-rata OECD adalah 485 poin.
Rata-rata skor Indonesia dalam matematika adalah 364 poin, sedangkan rata-rata OECD adalah 472 poin.
Skor rata-rata Indonesia dalam membaca adalah 365 poin, sedangkan rata-rata OECD adalah 472 poin.
Skor rata-rata Indonesia dalam computational problem solving adalah 427 poin, sedangkan rata-rata OECD adalah 500 poin.
Secara rata-rata, capaian Indonesia pada 2025 relatif sama dengan hasil 2022 dalam sains, matematika, dan membaca. Namun, perubahan tersebut perlu dibedakan dari perkembangan jangka panjang karena capaian 2025 masih berada di bawah hasil yang diukur pada 2015.
Sebanyak 14.168 siswa dari 419 sekolah menyelesaikan asesmen PISA 2025 di Indonesia. Mereka merepresentasikan sekitar 3.995.000 siswa berusia 15 tahun dalam populasi sasaran PISA Indonesia.
Tidak. Setiap siswa mengerjakan tes selama sekitar dua jam dan diuji dalam dua domain/subjek. Melalui desain matrix sampling, siswa memperoleh kombinasi blok soal dan domain yang berbeda.
Indonesia bukan anggota OECD. Indonesia sedang dalam proses aksesi untuk menjadi anggota OECD. Dalam konteks PISA 2025, Indonesia termasuk negara dan ekonomi mitra OECD.
Level 2 merupakan salah satu acuan tingkat kemahiran dasar dalam PISA. Siswa yang mencapai level tersebut telah menunjukkan kemampuan minimum tertentu yang diperlukan untuk menggunakan kompetensi yang diukur dalam situasi yang relatif sederhana.
Sumber
- OECD. (2026). PISA 2025 Results (Volume I): Future-Ready Students. OECD Publishing, Paris.
- OECD. (2026). PISA 2025 Results (Volume I): Indonesia — Country Note.
- OECD Education GPS. (2026). Indonesia — Student Performance (PISA 2025).
Eksplorasi konten lain dari Herman Anis
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


