Media Pembelajaran Daring

HermanAnis.com – Teman-teman semua, tulisan kali ini akan membahas tentang Media Pembelajaran Daring. Pembahasan kita akan awali dengan definisi Media Pembelajaran Daring, jenis-jenis media pembalajaran daring dan lainnya. Untuk selengkapnya silahkan teman-teman melanjutkan untuk membaca artikel ini!

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

A. Definisi Media Pembelajaran Daring

Media pembelajaran daring atau online merupakan media yang di lengkapi dengan alat pengontrol yang dapat di operasikan oleh pengguna (user) sehingga pengguna dapat mengendalikan dan mengakses apa yang menjadi kebutuhan pengguna, seperti mengunduh ataupun mengupload materi.

Dalam penggunaan media pembelajaran daring atau online, pembelajaran bersifat mandiri dan memiliki interaktifitas tinggi sehingga dapat meningkatkan ingatan, memberikan pengalaman belajar melalui teks, video dan animasi yang di buat sehingga informasi yang akan di sampaikan dapat lebih mudah di pahami dan di pelajari oleh siswa.

Selain itu, siswa pun dapat mengumpulkan hasil belajar secara daring/online dengan mudah dan cepat melalui email, mengirim komentar di forum diskusi, chat, dan melakukan video conference. Pandemi COVID-19 menjadikan institusi pendidikan mendadak menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh, terutama secara daring. Untuk mendukung hal ini maka diperlukan media pembelajaran daring.

Media pembelajaran daring dapat di gunakan dengan google classroom, google suite, whatsapp, dan zoom. Guru pun dapat membuat dan mendesain materi dengan membuat compact disk (CD) yang dapat di berikan kepada siswa.

Dengan cara ini, pembelajaran akan tetap berjalan dan siswa tidak akan ketinggalan pelajaran. Pembelajaran jarak jauh secara daring adalah pembelajaran jarak jauh yang cara pengantaran bahan ajar dan interaksinya di lakukan dengan perantara teknologi internet.

Oleh karena itu, keberlangsungan pembelajaran daring tidak dapat di lepaskan dari keberadaan infrastruktur internet sebagai teknologi utamanya.

Dalam pembelajaran daring, keberadaan kelas tempat penyelenggaraan pembelajaran di gantikan oleh kelas virtual yang di sebut learning management system (LMS).

Selain LMS, pendidik juga dapat merancang pembelajaran daring dengan menggunakan website. Apalagi sejak pandemi Covid-19, mayoritas instansi pendidikan mulai membangun websitenya sendiri. Apalagi website diperlukan untuk menyebarkan informasi secara cepat dan sebagai sarana belajar bagi para siswa.

B. Jenis Jenis Media Pembelajaran Daring (Online).

Berbagai media pembelajaran online yang dapat digunakan dalam pembelajaran, yaitu:

1. Media Pembelajaran Daring menggunakan Google Classroom

Media Pembelajaran Daring dengan Google classroom atau ruang kelas google adalah suatu tempat pembelajaran online yang dapat memudahkan guru daalam memberikan informasi, membagikan materi pembelajaran serta melakukan penilaian. Dengan google classroom pembelajaran dapat tersampaikan secara maksimal kepada seluruh siswa secara online. Google classroom adalah layanan berbasis internet yang di sediakan oleh google sebagai system elearning.

Service ini di desain untuk membantu pengajar membuat dan membagikan tugas kepada siswa secara online atau paperless. Ini berarti, butuh akses internet untuk dapat masuk ke dalam google classroom. Selain itu, google classroom juga mempunyai kemampuan untuk membuat salinan otomatis dari tugas yang sudah di buat oleh siswa.

Guru dapat mengecek tugas siswa dan memberikan penilaian secara langsung. Manfaat google classroom dalam pembelajaran adalah membuat kelas online dengan mudah, hemat waktu, mengorganisasi semua tugas dengan mudah, mengadakan komunikasi dan diskusi dengan cepat serta data akan aman.

Google classroom di desain bagi siswa, guru, wali murid dan administrator. Sehingga, Wali siswa dapat memanfaatkan ringkasan email yang memuat tugas siswa dengan melihat informasi tugas yang telah dan belum di kerjakan oleh siswa. Wali hanya data menerima ringkasan emai melalui akun pribadinya. Untuk administrator dapat membuat, melihat atau menghapus kelas di domainnya, menambahkan atau menghapus siswa dan guru dari kelas serta melihat semua tugas kelas di domainnya.

2. Media Pembelajaran Daring menggunakan Whats App

Media Pembelajaran Daring dengan menggunakan aplikasi Whatsapp merupakan salah satu media komunikasi yang sangat popular saat ini. Whats app dapat di jadikan alternative dalam pembelajaran.

Aplikasi ini dapat melakukan percakapan secara online dengan jumlah patisipan yang tidak terlalu banyak, memasukkan teks, suara dan video.

Whats app juga adalah aplikasi yang sederhana, aman dan mudah karena sebagaian besar orang menggunakan aplikasi ini.

3. Media Pembelajaran Daring menggunakan Zoom

Zoom merupakan salah satu Media Pembelajaran Daring. Zoom adalah sebuah aplikasi pertemuan gratis dengan video dan berbagi layar hingga 100 orang atau lebih. Aplikasi ini dapat di gunakan dalam berbagai perangkat seluler, laptop atau alat komunikasi lain yang mendukung. Zoom dapat mengadakan pertemuan, dialog dan diskusi langsung dengan orang lain dan berbagi materi yang akan di jelaskan dengan sharing screen.

Selain itu juga, guru dapat membuka ruang chat atau diskusi dengan siswa sehingga pembelajaran menjadi lebih aktif.

4. Media Pembelajaran Daring menggunakan Google suite

Google suite merupakan layanan dari google yang memberikan fasilitas digitalisasi untuk sekolah di Indonesia. Layanan ini menggunakan email sekolah sebagai alamat domain. Langkah-langkah menggunakan google suit yaitu sebagai berikut:

  1. Tahap 1: Pendaftaran di google G Suite for Education. Buka link: https://gsuite.google.com/signup/edu/welcome. Setelah itu isi isiannya sampai selesai.
  2. Langkah 2 : Verifikasi domain dengan akun google g suite for education. Silahkan login ke https://admin.google.com/ dengan menggunakan akun google g suite for education yang sudah anda daftarkan.
  3. Tahap 3 : Mengaktifkan layanan gmail akun g suite for education

C. Media Pembelajaran Offline

Media pembelajaran offline adalah media yang dapat di gunakan secara offline yang di lengkapi dnegan alat pengontrol/navigasi yang dapat di gunakan oleh pengguna (user), dan berjalan secara berurutan dengan alat pengontrol dari pengguna.

Presentasi tersebut dapat berupa compact disk (CD). Karakteristik menggunakan media pembelajaran offline yaitu materi pembelajaran terpadu, waktu pembelajaran tetap atau pasti, di kontrol oleh guru, pembelajaran searah/linier, sumber informasi telah di edit, dan teknologi yang di gunakan telah di kenal.

D. Objek pembelajaran Daring

Media Pembelajaran Daring – IEEE mendefinisikan objek pembelajaran sebagai semua entitas, digital ataupun nondigital, yang dapat di gunakan untuk pembelajaran, pendidikan, atau pelatihan.

Dalam konteks pembelajaran daring, objek pembelajaran adalah sumber belajar digital yang dapat di kemas dan di pakai ulang dalam modul, unit, mata kuliah, atau program pembelajaran.

Berdasarkan definisi itu, beragam bentuk objek pembelajaran dapat di buat, antara lain teks, gambar, video, audio, animasi, simulasi, kuis, tugas, dan forum diskusi.

Beberapa objek pembelajaran kemudian di susun dan di rangkai sehingga menjadi desain course mata kuliah, seperti yang terlihat pada Gambar 2 berikut.

E. Teks dalam Media Pembelajaran Daring

Media Pembelajaran Daring – Di bandingkan dengan media pembelajaran berbasis audiovisual, media pembelajaran teks tidak begitu diminati oleh mahasiswa generasi milenial dan seterusnya.

Namun, karena mudah di buat, mudah di akses, dan dapat di gunakan untuk mendeskripsikan banyak hal, media ini perlu di sediakan. Berikut tips pengemasan objek pembelajaran teks agar lebih diminati.

  1. Gunakan e-book (misalnya format .pdf, .epub, .lit) dan flipbook yang dapat di baca menggunakan beragam gawai, misalnya smartphone, komputer tablet, dan laptop. Beberapa format teks mungkin memerlukan program bantu yang umumnya tersedia secara cuma-cuma di internet.
  2. Objek pembelajaran teks dapat di perkaya dengan gambar atau ilustrasi visual lainnya, misalnya grafik, tabel, diagram, bahkan media audio-visual guna meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap pesan yang di baca.
  3. Pilih font yang berbentuk bulat supaya tidak memberi kesan terlalu formal dan kaku. Ukuran font yang proporsional juga penting di perhatikan sebagai bagian dari estetika penampilan media.

F. Infografis dalam Media Pembelajaran Daring

Infografis merupakan salah satu Media Pembelajaran Daring, di mana infografis di sini adalah infografis yang berisi konten belajar. Lebih detailnya tentang infografis dapat di lihat pada penjelasan penjelasan berikut.

1. Pengenalan Infografis

Media Pembelajaran Daring dengan infografis adalah media yang menyajikan informasi dalam bentuk grafis/gambar; Infografis adalah informasi atau data yang di interpretasikan secara visual;

Secara detailnya infografis adalah informasi yang di sajikan dalam bentuk teks yang di padukan dengan elemen visual, seperti grafik, gambar, ilustrasi, atau tipografi, supaya pembaca lebih tertarik dan lebih mudah mencerna informasi yang di sampaikan (Ningtyas, 2020).

2. Pemanfaatan Infografis dalam Pembelajaran

Dalam website Copypress (2020) di jabarkan bahwa dalam pembelajaran, infografis dapat di manfaatkan untuk hal-hal berikut.

  1. Mengilustrasikan lini masa sejarah;
  2. Menyorot statistik;
  3. Meningkatkan kesadaran akan suatu isu/masalah;
  4. Memberikan tips bermanfaat; dan
  5. Menjelaskan instruksi.

Selain itu, saat kegiatan belajar-mengajar berlangsung, infografis dapat di manfaatkan pada saat-saat berikut.

  1. Memperkenalkan topik bahasan baru;
  2. Memaparkan kesimpulan dari suatu data statistik;
  3. Menstimulasi mahasiswa untuk mendiskusikan suatu topik; dan
  4. Menjadikan infografis sebagai projek atau tugas.

3. Pentingnya Infografis

Sebagai konten yang bersifat visual, infografis mempunyai kelebihan sebagai berikut.

  1. Otak manusia memproses konten visual 60.000 kali lebih cepat daripada konten lainnya;
  2. Otak manusia mengingat informasi dalam wujud visual sebesar 80% dari yang di lihat;
  3. Infografis mampu menyederhanakan informasi yang kompleks jika di sajikan secara menarik; dan
  4. Infografis mudah di viralkan/di sebarluaskan

4. Tipe-tipe Infografis

Ada banyak tipe infografis, tetapi yang di sampaikan di booklet ini hanya tipe-tipe infografis yang populer. Berikut delapan tipe infografis tersebut.

a. Grafik Campuran

Infografis ini memuat informasi atau data dalam berbagai grafik. Sebagai contoh, grafik garis, diagram batang, pie chart, diagram donat, dsb. Berikut ilustrasinya.

b. Daftar atau List

Informasi atau data yang di sajikan berupa daftar/deret yang di sertai penjelasan dan elemen grafis. Berikut ilustrasinya.

c. Timeline atau lini masa

Infografis yang menyajikan data yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Berikut ilustrasinya.

d. How to Guide

Infografis ini menyajikan langkah-langkah atau proses. Berikut ilustrasinya

Perbandingan

Tipe ini membandingkan atau mengkontraskan dua atau lebih subjek yang berbeda.

e. Peta/lokasi

Tipe ini menyajikan informasi yang berkaitan dengan suatu wilayah geografis.

f. Anatomi

Infografis ini memaparkan informasi yang berkaitan dengan suatu bagian dari sebuah subjek yang besar.

5. Merancang Infografis

Media Pembelajaran Daring – Berikut tips dalam merancang infografis.

a. Menentukan konten infografis

1) Menentukan topik

  • Tentukan apa yang ingin di bahas/di sajikan.
  • Topik spesifik dan mengerucut.

2) Identifikasi masalah

  • Hal utama apa yang ingin di bahas.
  • Seperti apa perinciannya.

b. Mengumpulkan data

1) Mencari data

  • Kumpulkan data dengan cara brainstorming
  • Membuat bank data.

2) Menyaring data

  • Memilih data yang akan di gunakan.
  • Mengelompokkan data sesuai kategori

c. Memvisualisasikan/menyajikan data

1) Menyorot angka

Data yang berupa angka-angka yang menonjol atau menjadi highlight di sajikan dalam ukuran besar dengan warna mencolok.

2) Diagram

  • Di gunakan untuk membandingkan antar data.
  • Beberapa jenis diagram yang popular ialah diagram batang, piechart, diagram garis, diagram donat, dan pictogram.

3) Flowchart, mindmap, & table

Di gunakan untuk data yang berupa pengelompokan atau pengorganisasi.

4) Peta

Menjelaskan secara geografis tentang apa yang terjadi pada suatu wilayah. Contohnya peta tentang potensi suatu daerah atau perubahan geografis.

d. Tata Letak Elemen

Infografis yang baik memadukan informasi dan elemen grafis yang mampu meningkatkan pemahaman pembaca. Berikut tips menata elemen infografis.

1) Arus informasi alami

  • Infografis harus bercerita.
  • Data saling berhubungan (benang merah).
  • Informasi bersifat kronologis.

2) Menggunakan grid

Grid berfungsi sebagai berikut.

  • Membantu mengelompokkan data.
  • Membuat batasan yang jelas antar data.

3) Manfaatkan template

  • Template membantu kreator untuk mendesain tidak dari nol.
  • Saat penggunaan template, periksa tipe data dan sesuaikan dengan template.

4) Tambahkan unsur estetis

a) Mainkan font

  • Buat secara sederhana, tetapi menonjol.
  • Maksimal tiga tipe font

b) Pengulangan elemen grafis

  • Elemen grafis dapat berupa bentuk/shape
  • Terapkan bentuk yang sama untuk kategori data yang sama/sejenis
  • Pastikan elemen grafis yang di tambahkan simetris.
  • Elemen yang berulang dan selaras menciptakan ritme visual yang dapat membuat komposisi terlihat baik
  • Gunakan bentuk dasar untuk menekankan header pada daftar elemen.

c) Manfaatkan ikon

Kehadiran ikon yang mewakili konten dapat memperkuat konsep penting dalam teks.

d) Gunakan white space/ruang negatif

  • Buat margin di sekitar tepi infografis
  • Beri spasi antara unsur-unsur yang tidak terkait satu sama lain
  • Whitespace juga di gunakan untuk membagi warna

e) Mainkan warna

  • Menyoroti informasi penting
  • Mengelompokkan elemen terkait atau data sejenis

G. Gambar

Media Pembelajaran Daring – Gambar di manfaatkan untuk mendukung visualisasi bahan ajar berbasis teks agar lebih atraktif. Format image yang banyak di gunakan adalah JPEG, PNG, dan GIF.

Penggunaan gambar kadang di batasi oleh hak cipta. Oleh karena itu, sebaiknya gunakan gambar atau foto karya pribadi dan free license image.

Penggunaan proprietary image sebaiknya di hindari. Berikut beberapa website yang menyediakan free licence image..

  • https://unsplash.com/
  • Laman. https://www.freeimages.com/
  • https://www.pexels.com/
  • Tautan. https://pixabay.com/

Apabila gambar ingin di buat lebih fokus dengan cara menghilangkan background, aplikasi online seperti https://www.remove.bg/ dapat anda gunakan.

H. Audio

Media Pembelajaran Daring – Media audio yang sedang populer saat ini ialah podcast. Beberapa pemanfaatan media audio dalam pembelajaran yang cukup efektif di antaranya ialah untuk menyampaikan pesanpesan yang sederhana, misal sapaan atau instruksi kegiatan pembelajaran.

Tips mengemas bahan ajar audio berkualitas baik (jernih/tanpa noise) dan menarik.

  1. Gunakan noise-cancelling microphone untuk merekam
  2. Manfaatkan software audio recording and editing, seperti Audacity.
  3. Gunakan backsound yang tepat.

Beberapa tautan tentang audio berikut ini dapat membantu anda untuk membuat audio yang lebih baik.

  • Tutorial Audacity. https://youtu.be/CIT8OYTFQBk
  • Musik dengan free copyright. http://www.bensound.com/
  • Contoh media audio. http://bit.ly/contoh_audio1

I. Video

Media Pembelajaran Daring – Dalam meningkatkan pengalaman belajar mahasiswa, tingkat keefektifan video sebagai media pembelajaran yang berbasis audio-visual ialah sebesar 50%, sedangkan teks hanya 10% dan audio hanya 20%. Tipe video yang paling sering di gunakan dalam pembelajaran ialah video:

  • Narrator: video yang memaparkan informasi tanpa kehadiran penyaji (presenter) dalam scene video;
  • Presenter: video yang memaparkan informasi di sertai kehadiran penyaji (presenter) dalam scene video
  • Demonstrasi: video yang mendemonstrasikan prosedur melakukan suatu kegiatan

Ketiga tipe video tersebut saat ini populer di kemas dalam format microvideo atau video berdurasi pendek dengan topik bahasan yang sangat spesifik.

Durasi microvideo tidak lebih dari 10 menit untuk video narrator dan presenter, sedangkan 15 menit untuk video demonstrasi/tutorial.

Dalam mengembangkan video pembelajaran di butuhkan peranperan berikut.

a. Pemilik ide;
b. Penulis skrip; dan
c. Pengembang video.

Sementara tahapan yang di lalui dalam pengembangan video meliputi hal-hal berikut.

a. Penulisan skrip;
b. Perekaman;
c. Penyuntingan;
d. Penilaian; dan
e. Revisi video

1. Penulisan skrip;

Media Pembelajaran Daring – Skrip di buat oleh pemilik ide (misalnya dosen) sebagai sarana komunikasi dengan seluruh anggota tim pengembang video. Pentingnya penulisan skrip video adalah sebagai berikut.

  • Menjaga durasi video;
  • Menghindari pengulangan informasi;
  • Hindari jeda saat berbicara; dan
  • Manghindari pengucapan kata-kata tak berarti.

Tips menulis skrip video ialah sebagai berikut.

  • Gunakan bahasa percakapan sehari-hari;
  • Menggunakan kalimat yang mudah di mengerti;
  • Gunakan kalimat instruksi yang jelas dan urutan yang sesuai jika video berupa video demonstrasi/tutorial; dan
  • Tidak mengandung adegan dan/atau kalimat flashback.

2. Media Pembelajaran Daring dengan Video Narrator dari Slide Presentasi

Media Pembelajaran Daring – Video Narrator dari Slide Presentasi. Video tipe ini atau voice layover di kembangkan dengan cara merekam suara narator di dalam setiap slide presentasi.

Proses perekaman suara dapat di lakukan langsung menggunakan perangkat lunak presentasi atau menggunakan perangkat lunak perekaman serta penyuntingan video.

Saat proses perekaman suara atau narasi, agar output jernih, gunakan mikrofon berkualitas baik atau noisecanceling microphone (mikrofon penghilang bising).

Manfaatkan juga perangkat lunak perekaman yang mampu meredam bising.

Berikut tautan contoh video narrator dan slide presentasi.

  • https://youtu.be/hpQJRGq2JrQ
  • https://youtu.be/5qCvBl2AqnA

Untuk meningkatkan engagement mahasiswa, video presentasi juga dapat di tambahkan dengan backsound.

Tutorial cara memasukkan dan mengatur backsound dan suara narator pada slide presentasi dapat di lihat pada tautan di bawah ini.

  • https://youtu.be/tTHnzky0Xho
  • http://bit.do/fJKK
  • http://bit.do/fJKKm

3. Video Narator dengan Teknik Screen Recording

Media Pembelajaran Daring – Video tipe ini menggunakan perangkat lunak screen recording untuk merekam segala aktivitas yang terjadi di layar laptop/komputer presenter.

Dengan demikian, penjelasan dosen dalam video narator dapat di sertai visualisasi dalam bentuk coretan-coretan dengan beragam fasilitas pointer yang di sediakan oleh perangkat lunak slide presentasi, seperti pada Gambar 31.

Salah satu perangkat lunak perekaman layar ialah Screencast-O-Matic. Contoh video narator dengan teknik screen recording dapat di akses melalui link berikut.

  • Tautan menggunakan pena. http://bit.do/fJKK2
  • Menggunakan highlight. http://bit.do/fJKLe
  • Tautan menggunakan pointer laser. http://bit.do/fKmxK
  • Menggunakan papan tulis digital. http://bit.do/fKmxW

4. Media Pembelajaran Daring dengan Video Presenter

Media Pembelajaran Daring – Video presenter yang di sarankan sebagai objek pembelajaran daring adalah video yang merekam presenter (dosen) sedang mengajar/ceramah secara tunggal tanpa di sertai audien/mahasiswa (Gambar 30 dan 31).

Dalam video seperti ini, presenter di rekam menggunakan background tertentu atau background green screen.

Penggunaan green screen memudahkan penyunting mengubah gambar latar belakang dengan menggunakan perangkat lunak penyunting video.

Sementara itu, video presenter yang berupa dokumentasi dosen mengajar di kelas yang memfokuskan penonton pada bagaimana proses pembelajaran berlangsung (Gambar 32) sebaiknya tidak di gunakan.

Presenter sebaiknya di rekam dalam posisi berdiri, dari kepala sampai dengan pinggang. Presenter dapat di rekam dari depan (Gambar 31) maupun dari samping (Gambar 32).

Untuk mengurangi kebosanan mahasiswa dan mempermudah mahasiswa menerima penjelasan, video ini sebaiknya dilengkapi dengan sisipan teks (Gambar 30 dan 31).

Apabila video di rekam tanpa green screen, sisipan tersebut sebaiknya di lengkapi dengan box untuk menutup background (Gambar 30).

Selain anotasi teks, video juga dapat di lengkapi dengan penambahan gambar atau animasi (Gambar 33 & 34).

5. Media Pembelajaran Daring dengan Video Demonstrasi

Media Pembelajaran Daring – Tujuan video demonstrasi adalah menjelaskan urutan cara melakukan suatu proses atau kegiatan. Video demonstrasi biasanya di gunakan pada mata kuliah praktik.

Hal yang perlu di perhatikan pada pengembangan video demonstrasi adalah sudut pengambilan gambar (camera angle).

Proses yang kritis atau memiliki tingkat kesulitan tinggi, sebaiknya di rekam dengan teknik zoom-in menggunakan angle over the shoulder atau top-view (Gambar 35).

6. Media Pembelajaran Daring dengan Animasi

Media Pembelajaran Daring – Animasi adalah objek pembelajaran yang bersifat audio-visual yang menurut survei di sukai oleh mahasiswa generasi Z.

Atau, animasi adalah kompilasi antara gambar, teks, narasi, dan apabila perlu musik ilustrasi. Contoh animasi yang dapat di gunakan antara lain adalah animasi whiteboard, animasi 2D; dan animasi 3D.

J. Media Pembelajaran Daring dengan Simulasi

Media Pembelajaran Daring dengan Simulasi adalah objek pembelajaran yang memfasilitasi mahasiswa untuk berinteraksi, baik dengan objek nyata maupun objek maya. Bermain peran, simulasi diskusi, dan praktik dengan simulasi pasien (orang yang berperan sebagai pasien) merupakan aktivitas simulasi yang tidak menggunakan teknologi.

Simulasi berbasis layar memerlukan dukungan teknologi yang berupa komputer personal, laptop, dan perangkat lunak untuk menghadirkan interaksi pada lingkungan tiruan. Selain itu, simulasi dapat di gunakan untuk meningkatkan kemampuan teknis melakukan sesuatu, memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan komunikasi interpersonal.

Dan, berikut beberapa sumber belajar terbuka penyedia aplikasi simulasi yang dapat di akses secara gratis.

  • Phet. http://bit.do/fJKXs
  • Arthur Lakes Library. http://bit.do/fJKXK
  • Virtual Micoscope. http://bit.do/fJKXS
  • Virtual Lab Boston University Physics. http://bit.do/fJKX4

K. Media Pembelajaran Daring dengan menggunakan Augmented Reality (AR)

Salah satu Media Pembelajaran Daring adalah AR, AR adalah teknologi yang menambahkan elemen digital interaktif, seperti teks, gambar, video klip, suara, dan animasi 3D—pada lingkungan nyata.

Selain itu, AR bermanfaat untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran dengan menggunakan alat bantu berupa ponsel.

AR dapat menghadirkan bentuk maya struktur 3D mesin, binatang purba, bahan makanan, dan lain-lain ke dalam kelas.

Selain itu, AR biasanya berbentuk media teks fisik (buku atau kertas) yang dapat di pindai dengan kamera ponsel untuk menghadirkan elemen digital.

Dan, berikut tautan contoh cara menggunakan media AR, https://youtu.be/mwrHkbLCHP0Virtual Reality

L. Media Pembelajaran Daring dengan menggunakan Virtual reality

Media Pembelajaran Daring – Virtual reality (VR) adalah teknologi interaktif yang mampu menghadirkan dunia maya. Dunia maya ini di kembangkan menggunakan pemodelan 3D atau kamera 360o. Virtual reality dihadirkan ke lingkungan nyata dengan menggunakan bantuan alat VR box, baik yang responsif maupun nonresponsif.

Setelah menggunakan kacamata VR, mata pengguna akan berhadapan dengan dunia maya. Lingkungan di dalam program VR ada yang bersifat aktif (responsif) dan juga ada yang hanya dapat di lihat (nonresponsif). VR dapat di manfaatkan untuk keperluan simulasi. Sebelum mahasiswa melakukan praktik di bengkel, klinik, atau laboratorium, misalnya—mahasiswa dapat melakukan kegiatan simulasi dengan menggunakan VR.

Aktivitas yang memerlukan kecermatan tinggi, misalnya memperbaiki mesin pesawat, melakukan operasi jantung, menggunakan freeze drying, dan lain sebagainya, dapat di lakukan melalui simulasi menggunakan VR sebelum kegiatan yang sebenarnya dapat di lakukan. Sehingga, setelah mahasiswa menguasai kompetensi minimal dengan VR, mahasiswa kemudian mengikuti kegiatan praktik di bengkel, klinik, atau laboratorium. Tautan 36 adalah contoh media VR di bidang kedokteran.

M. Aplikasi Pendukung Pembelajaran Lainnya

Dalam aplikasinya Media Pembelajaran Daring sekarang ini telah banyak di kembangkan oleh perguruan tinggi atau perusahaan penyedia alat bantu pembelajaran berbasis teknologi, misalnya laboratorium virtual (virtual laboratory atau dry-lab). Laboratorium virtual adalah lingkungan maya dengan desain 3D yang di hadirkan untuk meningkatkan keterlibatan (engagement) mahasiswa pada pembelajaran daring.

Selain itu, laboratorium virtual dapat di terapkan pada mata kuliah praktik di laboratorium, seperti kimia, fisika, atau biologi, terutama pada pembelajaran dengan strategi flipped classroom. Pada sesi daring mahasiswa dapat diminta mengakses aplikasi laboratorium virtual untuk meningkatkan kepercayaan diri dan mengurangi risiko kesalahan.

Setelah itu, pada sesi tatap muka, mahasiswa datang ke laboratorium untuk melakukan kegiatan praktik yang sesungguhnya. Berikut beberapa open education resource penyedia aplikasi laboratorium virtual yang dapat di akses secara gratis.

  • Biointeractive. http://bit.do/fJKZi
  • Chemcollective. http://bit.do/fJKZm

N. Merancang Media Pembelajaran Daring

Kegiatan pada perancangan media pembelajaran daring bertujuan untuk menghasilkan rencana pembelajaran semester (RPS) di PT atau rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) pada tingkat sekolah dasar sampai menengah beserta perangkat pembelajaran, seperti instrumen penilaian dan objek pembelajaran yang efisien dan efektif. Dari berbagai model perancangan pembelajaran yang populer, booklet ini menyajikan secara singkat tahapan sesuai model ADDIE.

Untuk itu, tahapan pada model ini di lakukan secara sistematis, logis, dan terstruktur agar dapat menjamin tercapainya capaian pembelajaran lulusan (CPL). Berikut penjabaran tahapan ADDIE. Beberapa tahapan perancangan pembelajaran daring setidaknya di lakukan dalam tahapan sebagai berikut.

1. Tahap Analisis Media Pembelajaran Online

Kegiatan pada tahap analisis Media Pembelajaran Daring adalah,

  1. Mengidentifikasi CPL yang di bebankan pada mata kuliah;
  2. Merumuskan capaian pembelajaran mata kuliah (CPMK) yang bersifat spesifik terhadap mata kuliah berdasarkan CPL yang di bebankan pada MK tersebut;
  3. Mengembangkan sub-CPMK yang merupakan kemampuan akhir yang di rencanakan pada tiap tahap pembelajaran dan di rumuskan berdasarkan CPMK;
  4. Melakukan analisis pembelajaran untuk memberikan gambaran kepada mahasiswa tentang tahapan belajar yang akan di jalani;
  5. Menganalisis kebutuhan belajar untuk mengetahui kebutuhan keluasan dan kedalaman materi pembelajaran serta perangkat pembelajaran yang di perlukan;

2. Tahap Design Media Pembelajaran Online

Kemudian Design Media Pembelajaran Daring, pada tahap ini kegiatan yang dapat kita lakukan adalah, (a) menentukan indikator pencapaian sub-CPMK sebagai kemampuan akhir yang di rencanakan pada tiap tahap pembelajaran untuk memenuhi CPL; dan menetapkan kriteria penilaian dan mengembangkan instrumen penilaian pembelajaran berdasarkan indikator pencapaian sub-CPMK;

3. Tahap Development Media

Selanjutnya development, pada tahap ini kegiatan yang dapat kita lakukan adalah memilih dan mengembangkan bentuk pembelajaran daring, metode pembelajaran, dan penugasan mahasiswa sebagai pengalaman belajar; dan mengembangkan materi pembelajaran yang beragam dalam bentuk bahan ajar dan sumber-sumber belajar daring yang sesuai;

4. Tahap Implementation Media Pembelajaran Online

Selanjutnya tahap implementasi Media Pembelajaran Daring, pada tahap ini kegiatan yang dapat kita lakukan adalah menyelenggarakan mata kuliah dan mengadakan prapelatihan dan pengarahan kepada tenaga kependidikan yang berfungsi sebagai tenaga pendukung.

5. Tahap Evaluation Media

Pada tahap evaluasi ini, di lakukan melakukan evaluasi pembelajaran, baik evaluasi formatif maupun evaluasi sumatif.

Baca Juga

Sumber Rujukan:

Agus Sumantri, dkk. 2020. Booklet Pembelajaran Daring. Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud RI.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: