Konsep Asesmen Nasional (AN)

Konsep-Asesmen-Nasional-tidak-memiliki-Konsekuensi-pada-Kelulusan-Siswa

HermanAnis.com- Konsep Asesmen Nasional. Ujian Nasional (UN) mulai tahun 2021 ini resmi di hapus , kemudian ini ganti dengan Asesmen Nasional (AN). Apa itu Asesmen Nasional (AN)? latar belakangnya apa? Bagaimana pelaksanaannya? dan apa saja indikatornya? berikut uaraiannya!

Konsep Asesmen Nasional

Latar belakang perubahan Ujian Nasional menjadi Asesmen Nasional (AN) setidaknya di dasarkan pada 2 hal yakni,

Tren dan permasalahan hasil belajar pendidikan dasar dan menengah

Seperti di ketahui salah satu indikator yang menjadi acuan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) adalah Programme for International Student Assessment (PISA). PISA sebagai metode penilaian internasional merupakan indikator untuk mengukur kompetensi siswa Indonesia di tingkat global. 

Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mencatat, peringkat nilai PISA Indonesia berdasarkan survei tahun 2018 adalah: Membaca (peringkat 72 dari 77 negara), Matematika (Peringkat  72 dari 78 negara), dan Sains (peringkat 70 dari 78 negara).

Nilai PISA Indonesia juga cenderung stagnan dalam 10-15 tahun terakhir. Untuk lebih jelasnya perhatikan grafik skor dan peringkat PISA Indonesia dalam rentang tahun 1995 sampai dengan 2018 di bawah ini!

Hasil tes PISA untuk literasi membaca, numerasi dan sains

Dari grafik terlihat bahwa Skor PISA Indonesia :

  1. Konsisten sebagai salah satu negara dengan peringkat hasil PISA terendah
  2. Stagnan dalam 10-15 tahun terakhir
  3. Namun demikian, selisih skor dengan rata- rata skor OECD sudah sedikit meningkat

Hal inilah yang menjadi salah satu alasan penggantian Ujian Nasional (UN) menjadi Asesmen Kompetensi Minimum, yang nantinya akan berfokus pada literasi, numerasi pendidikan karakter.

Baca Juga: Perbedaan antara Asesmen Formatif dan Sumatif dalam Kurikulum Merdeka

Tren dan permasalahan hasil belajar pendidikan dasar dan menengah

Perhatikan diagram persentase siswa yang mengalami perundungan pada tahun 2018 dalam diagram batang di bawah ini,

Landasan Konsep Asesmen Nasional

Dari gambar, terlihat bahwa terdapat 41% siswa Indonesia di laporkan mengalami perundungan beberapa kali dalam sebulan (vs. 23% rata-rata OECD). Siswa yang sering mengalami perundungan memiliki skor 21 poin lebih rendah dalam membaca, merasa sedih, ketakutan, dan kurang puas dengan hidupnya. Mereka jugamemiliki kecenderungan membolos sekolah.

Persentase pola pikir siswa untuk berkembang pada tahun 2018 jauh di bawah persentase negara-negara OECD.

Landasan Konsep Asesmen Nasional

Hanya 29% siswa Indonesia setuju bahwa ‘kepandaian adalah sesuatu yang bisa berubah banyak’ (vs. 63% rata-rata OECD). Siswa dengan pola pikir berkembang memiliki skor 32 poin lebih tinggi dalam membaca, mengekspresikan ketakutan terhadap kegagalan yang lebih rendah, lebih termotivasi dan ambisius, menjadikan pendidikan sebagai hal yang penting.

Olehnya karena itu, Kemendikbud kemudian mengeluarkan Pokok-pokok Kebijakan Merdeka Belajar dengan melakukan inovasi dan perbaikan terhadap.

Apa itu Asesmen Nasional (AN)?

Asesmen Nasional (AN) adalah pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program kesetaraan jenjang dasar dan menengah. Asesmen ini merupakan sistem penilaian baru yang akan di terapkan di sekolah.

Sistem ini berbeda dengan Ujian Nasional atau UN yang di gunakan pemerintah sebelumnya untuk menilai pendidikan.

Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar murid yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran.

Informasi-informasi tersebut diperoleh dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

Mutu pendidikan yang di maksud di ukur dengan menggunakan 3 Instrumen yakni;

  1. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang mengukur literasi membaca dan numerasi sebagai hasil belajar kognitif,
  2. Survei Karakter (SK) yang mengukur sikap, kebiasaan, nilai-nilai (values) sebagai hasil belajar nonkognitif, dan
  3. Survei Lingkungan Belajar (SLB) yang mengukur kualitas pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran

Baca Juga: Perbedaan antara Asesmen Formatif dan Sumatif dalam Kurikulum Merdeka

Mengapa perlu ada Asesmen Nasional?

AN perlu di lakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Asesmen ini di rancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar murid.

AN menghasilkan informasi untuk memantau (a) perkembangan mutu dari waktu ke waktu, dan (b) kesenjangan antar bagian di dalam sistem pendidikan (misalnya kesenjangan antarkelompok sosial ekonomi dalam satuan pendidikan, kesenjangan antara satuan Pendidikan negeri dan swasta di suatu wilayah, kesenjangan antardaerah, atau pun kesenjangan antarkelompok berdasarkan atribut tertentu).

Asesmen Nasional bertujuan untuk menunjukkan apa yang seharusnya menjadi tujuan utama satuan pendidikan, yakni pengembangan kompetensi dan karakter murid. AN juga memberi gambaran tentang karakteristik esensial sebuah satuan pendidikan yang efektif untuk mencapai tujuan utama tersebut. Hal ini di harapkan dapat mendorong satuan pendidikan dan Dinas Pendidikan untuk memfokuskan sumber daya pada perbaikan mutu pembelajaran.

Apakah Asesmen Nasional menentukan kelulusan peserta didik?

Apakah Asesmen Nasional menentukan kelulusan peserta didik? jawabannya Tidak. Asesmen Nasional tidak menentukan kelulusan. AN diberikan kepada murid bukan di akhir jenjang satuan pendidikan. AN juga tidak di gunakan untuk menilai peserta didik yang menjadi peserta asesmen.

Hasil Asesmen Nasional tidak akan memuat skor atau nilai peserta didik secara individual. Seperti di jelaskan sebelumnya, hasil AN diharapkan menjadi dasar di lakukannya perbaikan pembelajaran.

Dengan demikian, AN tidak terkait dengan kelulusan peserta didik. Penilaian untuk kelulusan peserta didik merupakan kewenangan pendidik dan satuan pendidikan.

Siapa yang menjadi peserta Asesmen Nasional?

Asesmen Nasional akan di ikuti oleh seluruh satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah di Indonesia, termasuk satuan pendidikan kesetaraan. Pada tiap satuan pendidikan, AN akan diikuti oleh sebagian peserta didik kelas V, VIII, dan XI yang di pilih secara acak oleh Kemdikbud.

Mengapa Asesmen Nasional hanya diikuti oleh sebagian murid?

Hal ini terkait dengan tujuan dan fungsi Asesmen Nasional. AN tidak di gunakan untuk menentukan kelulusan ataupun menilai prestasi murid sebagai seorang individu.

Evaluasi hasil belajar setiap individu murid menjadi kewenangan pendidik. Pemerintah melalui Asesmen Nasional melakukan evaluasi sistem. AN merupakan cara untuk memotret dan memetakan mutu sekolah dan sistem pendidikan secara keseluruhan.

Karena itu, tidak semua murid perlu menjadi peserta dalam Asesmen Nasional. Yang di perlukan adalah informasi dari sampel yang mewakili populasi murid di setiap satuan pendidikan pada jenjang kelas yang menjadi target dari AN.

Asesmen Nasional juga akan di ikuti oleh seluruh guru dan kepala satuan pendidikan. Informasi dari peserta didik, guru, dan kepala satuan pendidikan di harapkan memberi informasi yang lengkap tentang kualitas proses dan hasil belajar di setiap satuan pendidikan.

Asesmen Nasional akan di ikuti oleh murid, guru, dan kepala satuan.

Murid/warga belajar

Untuk persekolahan peserta adalah sampel siswa Kelas V, VIII, dan XI yang di pilih secara acak, mengapa yang menjadi sampel adalah murid kelas V, VIII dan XI?

Hasil Asesmen Nasional diharapkan menjadi dasar dilakukannya perbaikan pembelajaran. Pemilihan jenjang kelas V, VIII dan XI dimaksudkan agar murid yang menjadi peserta AN dapat merasakan perbaikan pembelajaran ketika mereka masih berada di satuan pendidikan tersebut.

Selain itu, Asesmen Nasional juga di gunakan untuk memotret dampak dari proses pembelajaran di setiap satuan pendidikan. Murid kelas V,VIII, dan XI telah mengalami proses pembelajaran sehingga satuan pendidikan dapat di katakan telah berkontribusi pada hasil belajar yang di ukur dalam AN.

  • Untuk pendidikan kesetaraan peserta adalah warga belajar kelas 6, 9, 12
  • Setiap peserta mengerjakan AKM, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar

Guru
Semua guru mengerjakan Survei Lingkungan Belajar secara mandiri

Kepala Satuan Pendidikan
Semua kepala satuan pendidikan mengerjakan Survei Lingkungan Belajar secara mandiri.

Apakah Asesmen Nasional menggantikan UN?

Asesmen Nasional tidak menggantikan peran UN dalam mengevaluasi prestasi atau hasil belajar murid secara individual. Namun Asesmen Nasional menggantikan peran UN sebagai sumber informasi untuk memetakan dan mengevaluasi mutu sistem pendidikan.

Sebagai alat untuk mengevaluasi mutu sistem, Asesmen Nasional akan menghasilkan potret yang lebih utuh tentang kualitas hasil belajar serta proses pembelajaran di satuan pendidikan.

Laporan hasil Asesmen Nasional akan dirancang untuk menjadi “cermin” atau
umpan balik yang berguna bagi satuan pendidikan dan Dinas Pendidikan dalam proses evaluasi diri dan perencanaan program.

Apa yang di ukur Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)?

Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) mengukur literasi membaca dan numerasi sebagai hasil belajar kognitif.

1. Literasi Membaca

Literasi membaca berkaitan dengan kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia agar dapat berkontribusi secara produktif di masyarakat.

2. Numerasi

Sedangkan Literasi numerasi berkaiatan dengan kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia.

Mengapa yang diukur adalah literasi dan numerasi?

Asesmen Nasional mengukur dua macam literasi, yaitu Literasi Membaca dan Literasi Matematika (atau Numerasi). Keduanya dipilih karena merupakan kemampuan atau kompetensi yang mendasar dan diperlukan oleh semua murid, terlepas dari profesi dan citacitanya di masa depan.

Literasi dan numerasi juga merupakan kompetensi yang perlu dikembangkan secara lintas mata pelajaran. Kemampuan membaca yang diukur melalui AKM Literasi sebaiknya dikembangkan tidak hanya melalui pelajaran Bahasa Indonesia, tapi juga pelajaran agama, IPA, IPS, dan pelajaran lainnya.

Kemampuan berpikir logis-sistematis yang diukur melalui AKM Numerasi juga sebaiknya dikembangkan melalui berbagai pelajaran. Dengan mengukur literasi dan numerasi, Asesmen Nasional mendorong guru semua mata pelajaran untuk berfokus pada pengembangan kompetensi membaca dan berpikir logis-sistematis.

Komponen AKM dan Bentuk Soal

Konsep Asesmen Nasional. Soal-soal AKM di desain menggunakan stimulus dengan konteks yang beragam, dengan elaborasi tabel, grafik, ilustrasi terutama untuk jenis stimulus multiple items dengan ilustrasi yang kontekstual dan informatif. Stimulus soal AKM memiliki unsur yaitu,

  • Edukatif,
  • Menarik,
  • Inspiratif dan
  • Keterbaruan.

Sedangkan soal-soal AKM di sajikan ke dalam berbagai macam bentuk soal, antara lain:

  • Pilihan ganda
  • Pilihan ganda kompleks
  • Menjodohkan
  • Isian/Jawaban singkat
  • Essay/Uraian

Pilihan ganda kompleks terdiri dari pilihan dengan jawaban benar lebih dari satu, pernyataan Benar-Salah, Ya-Tidak, Berubah-Tidak Berubah, dan lain-lain.

Konsep Asesmen Nasional (AN)

Asesmen Nasional mendorong guru untuk mengembangkan kompetensi kognitif yang mendasar sekaligus karakter murid secara utuh.

Mengapa mengukur literasi dan numerasi?

  • Literasi membaca dan numerasi adalah dua kompetensi minimum bagi murid untuk bisa belajar sepanjang hayat dan berkontribusi pada masyarakat.
  • Menurut studi nasional dan internasional, tingkat literasi murid Indonesia masih rendah.

Mengapa juga mengukur karakter?

  • Pendidikan bertujuan mengembangkan potensi murid secara utuh.
  • Asesmen nasional mendorong mengembangkan sikap, nilai (values), dan perilaku yang mencirikan Pelajar Pancasila.

Agar berdampak positif, hasil asesmen perlu di tindaklanjuti. Hasil Asesmen Nasional perlu di gunakan untuk diagnosis masalah dan perencanaan perbaikan pembelajaran oleh guru, kepala sekolah, dan dinas pendidikan.

Hasil Asesmen Nasional 2021 di gunakan sebagai,

  • Pemetaan awal (baseline) mutu sistem,
    1. HASIL ASESMEN NASIONAL 2021 TIDAK DI GUNAKAN UNTUK MENILAI PRESTASI MURID ATAUPUN KINERJA GURU DAN SEKOLAH.
    2. LAPORAN HASIL ASESMEN NASIONAL 2021 DI BERIKAN KEPADA GURU DAN SEKOLAH SEBAGAI ALAT UNTUK MELAKUKAN EVALUASI DIRI DAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN.
    3. MURID, ORANGTUA, GURU, DAN SEKOLAH TIDAK PERLU CEMAS DAN TIDAK PERLU MELAKUKAN PERSIAPAN KHUSUS UNTUK MENGHADAPI ASESMEN NASIONAL.
  • Penyetaraan hasil belajar bagi peserta didik program kesetaraan.
    1. Khusus untuk program pendidikan kesetaraan, Asesmen Nasional memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai alat pemetaan mutu dan ujian penyetaraan hasil belajar bagi peserta didik yang memerlukan.
    2. Yang digunakan sebagai ujian penyetaraan adalah AKM Literasi dan AKM Numerasi.

Apa yang diukur melalui Survei Karakter?

Karakter yang akan di ukur melalui survei ini adalah Profil Pelajar Pancasila. Terdapat 6 profil yang akan menjadi sasaran dalam survei. Baca selengkapnya tentang Profil Pelajar Pancasila

Apa yang di ukur pada Survei Lingkungan Belajar?

Yang menjadi fokus pada survei lingkungan belajar adalah iklim belajar dan iklim satuan pendidikan, penjabarannya adalah:

  1. Iklim keamanan sekolah: Keamanan dan well being siswa, Sikap dan keyakinan guru, dan Kebijakan & program sekolah,
  2. Iklim kebhinekaan sekolah: Praktik multikultural di kelas, Sikap & keyakinan guru/kepsek, dan Kebijakan & program sekolah,
  3. Indeks Sosial Ekonomi: Pendidikan orang tua, Profesi orang tua, dan Fasiilitas belajar di rumah
  4. Kualitas Pembelajaran: Manajemen kelas, Dukungan afektif, dan Aktivasi kognitif,
  5. Pengembangan Guru: Refeksi dan perbaikan pembelajaran dan Dukungan untuk refleksi guru.

Apa Tujuan Asesmen Nasional (AN)?

Terdapat 4 tujuan dari AN, di antaranya adalah:

1. Asesmen untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan

AN di lakukan untuk mengevaluasi kinerja satuan pendidikan dan sekaligus menghasilkan informasi untuk perbaikan kualitas belajar-mengajar, yang kemudian di harapkan berdampak pada karakter dan kompetensi siswa.

2. Asesmen Nasional sebagai penunjuk arah tujuan dan praktik pembelajaran

Kompetensi dan karakter murid sebagai tujuan. Asesmen ini menunjukkan apa yang seharusnya menjadi tujuan utama sekolah, yakni pengembangan karakter dan kompetensi siswa. Hal ini di harap dapat mendorong sekolah dan dinas pendidikan untuk memfokuskan sumber daya pada perbaikan mutu pembelajaran.

3. Asesmen Nasional memberi gambaran tentang karakteristik esensial sebuah sekolah yang efektif

Sekolah yang efektif: memiliki ciri mulai dari pengajaran yang baik, sampai program dan kebijakan sekolah yang membentuk iklim akademik, sosial, dan keamanan yang kondusif). Hal ini untuk membantu sekolah lebih memahami apa yang perlu di lakukan untuk meningkatkan mutu pembelajaran.

4. Asesmen Nasional untuk memotret mutu sekolah

Mutu sekolah meliputi: mutu input, proses, dan hasil belajar yangmencerminkan kinerja sekolah, sebagai umpan balik berkala yang objektif dan komprehensif bagi manajemen sekolah, dinas pendidikan, dan Kemendikbud.

Bagaimana Konsep Penerapan atau Pelaksanaan Asesmen Nasional (AN)?

Pelaksanaan Asesmen Nasional (AN) di koordinasi oleh Kemendikbud bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kanwil dan Kantor Kemenag. Dalam pelaksanaannya, koordinasi di perlukan untuk:

  1. Pemetaan dan penyiapan komputer dan sarana pendukung.
  2. Pemetaaan sekolah secara spasial untuk sharing resources.
  3. Penyiapan teknisi TIK terutama untuk jenjang SD.

Asesmen Nasional (AN) di laksanakan dengan ketentuan:

  1. AN di laksanakan menggunakan komputer dan secara daring,
  2. Murid mengerjakan pada sesi dengan jadwal yang di tentukan dan dengan di awasi, dan
  3. Guru dan kepala satuan pendidikan mengerjakan survei secara mandiri dengan periode waktu yang cukup panjang.

Penerapan Asesmen Nasional (AN) pada jenjang satuan pendidikan akan di lakukan secara serentak mulai tahun 2021 ini.

  1. Murid kelas 5, 8, dan 11. Maksimal 30 murid SD dan 45 murid SMP/SMA/SMK akan di pilih secara acak oleh Kemendikbud untuk menjadi responden. Tes dan kuesioner murid di administrasikan menggunakan komputer dalam kondisi terawasi (proctored),
  2. Guru SD, SMP, dan SMA. Semua guru menjadi responden. Untuk mengurangi beban administratif, guru di beri waktu 2 minggu untuk mengisi kuesioner. Pengisian kuesioner di lakukan secara daring tanpa pengawasan (mandiri).
  3. Kepala SD, SMP, dan SMA. Semua kepala sekolah menjadi responden. Sama dengan guru, kepala sekolah di beri waktu 2 minggu untuk mengisi kuesioner. Pengisian kuesioner di lakukan secara daring tanpa pengawasan (mandiri).

Bagaimana Alokasi Waktu Asesmen Nasional?

Alokasi waktu Asesmen Nasional

Rancangan Jadwal Pelaksanaan Asesmen Nasional (AKM, Survei Karakter, Survei Lingkungan Belajar)

Jadwal AKM

Terkait dengan waktu pelaksanaan ada perubahan jadwal. Silahkan baca lebih lanjut di sini Pelaksanaan Asesmen Nasional (AN) Bergeser ke September 2021.

Bagaimana konsep tentang Hasil Asesmen Nasional (AN)?

Hasil Asesmen Nasional 2021 di gunakan sebagai (1) pemetaan awal (baseline) mutu sistem, serta (2) penyetaraan hasil belajar bagi peserta didik program kesetaraan.

Bagaimana Rancangan Pelaporan dan Implikasi Pembelajaran dengan AKM?

Trus, gimana nih, dampak Asesmen Nasional buat kita? Akan seperti apa perbedaan asesmen dan UN nanti? Tenang, Sobat. Buat kita, assessment artinya:

  1. tidak menentukan kelulusan
  2. tidak di berikan di akhir jenjang
  3. hasilnya tidak memuat nilai secara individu.

Menurut penjelasan Kemendikbud, pelaksanaan AN nanti tidak akan melibatkan seluruh siswa. Pada setiap SMP/ MTs dan SMA/ MA/ SMK, akan di pilih maksimal 45 siswa sebagai responden. Inilah yang nantinya akan menjadi perbedaan assesment nasional dengan UN. 

Contoh Hasil AKM

Sontoh soal AKM
Konsep Asesmen Nasional

Hasil AKM untuk strategi membangun kompetensi: Implikasi pembelajaran lintas matapelajaran

Contoh Level Literasi Membaca dan Implikasi pada Pembelajaran Lintas Bidang Studi

  • Perlu Intervensi Khusus
    Siswa belum mampu menemukan dan mengambil informasi eksplisit yang ada dalam wacana ataupun membuat interpretasi sederhana.
    Untuk itu siswa memerlukan bahan belajar lain secara audio, visual dan pendampingan khusus.
  • Minimal
    Siswa mampu menemukan dan mengambil informasi eksplisit yang ada dalam wacana serta membuat interpretasi sederhana.
    Siswa tidak paham secara utuh isi topik. Berikan sumber belajar pendamping dalambentuk pointer atau simpulan untuk pemahaman yang utuh.
  • Baik.
    Siswa mampu membuat interpretasi dari informasi implisit yang ada dalam teks; mampu membuat simpulan dari hasil integrasi beberapa informasi dalam suatu teks.
    Siswa paham mengenai isi topik, namun belum mampu merefleksi. Oleh karena itu berikan pembelajaran identifikasi kondisi lingkungan siswa, kaitkan dengan fungsi dan manfaatnya.
  • Mahir.
    Siswa mampu mengintegrasikan beberapa informasi lintas teks; mengevaluasi isi, kualitas, cara penulisan suatu teks; serta bersikap reflektif terhadap isi teks.
    Siswa mampu merefleksi kegunaan/manfaat untuk dirinya dan lingkungan sekitarnya, oleh karena itu berikan pembelajaran menyusun beragamstrategi pemanfaatan sesuai topik.

Baca Juga: Bagaimana Cara Menghormati dan Mematuhi Guru?

Contoh level kompetensi numerasi dan tindak lanjut pembelajaran lintas mapel

  • Perlu Intervensi Khusus
    Siswa hanya memiliki pengetahuan matematika yang terbatas. Siswa menunjukkan penguasaan konsep yang parsial dan keterampilan komputasi yang terbatas.
    Peserta didik di dampingi mulai dari pencatatan data dan di lakukan diskusi untuk memvalidasi hasil pencatatan data. Validasi ini dapat di lakukan dalam bentuk diskusi dengan teman yang kompetensi numerasinya baik ataupun mahir.
  • Minimal
    Siswa memiliki keterampilan dasar matematika: komputasi dasar dalam bentuk persamaan langsung, konsep dasar terkait geometri dan statistika, serta menyelesaikan masalah matematika sederhana yang rutin.
    Siswa di berikan contoh-contoh caramenyajikan data untuk menuangkan data hasil catatannya ke dalam bentuk penyajian yang tepat dan akurat. Interpretasi holistic mengenai data sebelum menarik kesimpulan di lakukan dalam diskusi Bersama.
  • Baik.
    Siswa mampu mengaplikasikan pengetahuan matematika yang di miliki dalam konteks yang lebih beragam.
    Peserta didik selain menginterpretasi data hasil catatannya d iminta pula membandingkan datanya dengan data kelompok lainnya kemudian membuatsimpulan umum hasil penelitian dalamsatu kelas. Siswa di bimbing dalammenjustifikasi data yang sifatnya anomaly.
  • Mahir.
    Siswa mampu bernalar untuk menyelesaikan masalah kompleks serta non rutin berdasarkan konsep matematika yang di milikinya.
    Siswa diminta membandingkan data dirinya, data kelompok lainnya, dan data dari jurnal ilmiah yang relevan, kemudian membuat generalisasi hasil percobaan yang di lakukan dengan menyandingkan beragam data.

Sumber Informasi:

  • Bahan Paparan Sosialisasi Asesmen Nasional Bidang Penilaian Direktorat SMA Kemendikbud

Demikian pembahasan tentang Konsep Asesmen Nasional.
Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: