Hakikat Hidup Manusia

Hakikat Hidup Manusia

HermanAnis.com – Teman-teman semua, pada kesempatan ini kita akan bahas tentang apa saja Hakikat Hidup Manusia. Mari kita mulai.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

A. Harmoni dan Oposisi

Dalam alam semesta ada perbedaan ada kesatuan, itulah sumbernya harmoni. Jadi selain perubahan, katanya Heraklitus hidup ini punya hakekat oposisi. Yang justru dari oposisi itulah muncul Harmoni.

Jadi kebalikannya, kitakan selama ini menganggap harmoni itu ada dalam keseragaman. Tentu tidak, harmoni itu ada ketika ada oposisi-oposisi. Harmoni itukan sering di artikan serasi, kalau ndak ada oposisi di mana menyebut serasinya. Kalau semua seragam, tak bisa di sebut harmoni.

Hakikat Hidup ini isinya oposisi dan Harmoni, pertentangan dan kesatuan. Kamu bisa kenyang, kalau ada rasa lapar. Kalau ndak ada lapar enggak ada kenyang. Ada tua karena ada muda.

Kalau ada orang kaya, berarti ada orang miskin. Jadi inikan oposisi-oposisi. Miskin-kaya, presiden-rakyat, tua-muda, besar-kecil, inikan oposisi-oposisi, dari situ terbangun harmoni.

Hakikat Hidup Manusia

Baca Juga: Mengistirahatkan Pikiran Agar Hidup Lebih Tenang

Kalau semuanya rakyat, semuanya kaya, semuanya muda, ndak akan ada tua, bahkan muda itu sendiri juga ndak ada. Jika semuanya rakyat, yah rakyat itu sendiri hakekatnya enggak ada.

Kalau semuanya sehat, maka sehat itu sendiri gak ada, karena untuk ada sehat, butuh ada sakit. Jadi itulah oposisi dan harmoni. Maka jangan mengeluh kalau pas lagi sakit, kalau kita sakit itu menunjukkan bahwa kita ini manusia biasa ternyata masih bisa sakit, ternyata kita ini lemah. Hikmahnya banyakkan sakit itu.

Dengan adanya sakit kita kenal namanya sehat. Kalau ndak ada sakit, ndak ada sehat. Rumah sakit nggak ada gunanya. Apotek buat apa? fakultas kedokteran di tutup saja. Karena ada sakit inilah, banyak hal bisa berputar secara harmonis.

Hidup ini saling melengkapi, di alektis. Jadi hidup ini selain berubah, juga saling berlawanan. Cuma dari perlawanan-perlawanan itu muncul harmoni. Jadi seimbang.

Kalau ada temanmu jahat, jelek, jangan kesusu di marahi. Di perbaiki pelan-pelan, tapi setidaknya dengan jeleknya dia, kebaikanmu jadi muncul. Kalau semua baik, baikmu gak akan kehitung, tapi karena ada yang jelek, baikmu jadi kelihatan.

Jadi di antara gunanya kegelapan itu, cahaya jadi penting. Kalau ndak ada kegelapan, tak ada gunanya cahaya. Harmoni dan oposisi.

Kalau kemarahan tidak ada, kesabaranmu ndak ada artinya. Jadi kesabaran itu mulia karena ada namanya kemarahan. Ini saling mengimbangi, saling harmoni. Inilah logika Harmoni dan oposisi.

Segala sesuatu muncul karena oposisi-oposisi. Jadi oposisi itu membawa kenyamanan, kesesuaian. Konflik membawa pada harmoni. Hidup ini di alektis. Karena oposisi inilah nanti lahir sesuatu yang baru.

Kamu mungkin ndak jadi bijaksana kalau dapat teman baik terus. Kebijaksanaanmu keluar ketika kamu berdialektika dengan temanmu yang kurang ajar, yang nakal. Di rumah kamu tidak bijaksana, karena di rumah kamu jadi objek nasehatnya orangtuamu.

Kamu di begitu di kos-kosan, dapat teman yang nakal sekarang kamu posisinya jadi yang ngasih nasehat . Hidup itu tergantung musuhmu apa, siapa? Makanya cari musuh yang tangguh, biar kamu juga jadi tangguh.

Kalau kamu males, nggak mau ambil resiko, yah tidak melahirkan hal-hal yang besar. Hidup ini indah, semuanya cair. Kalau kamu mengucapkan sesuatu, kadang-kadang kebalikannya juga sama-sama benar.

Misalnya, kalau kamu ke stasiun, biasanya kalau bawa barang banyak, itukan di dekati banyak orang yang mau ngangkatkan barangmu. Itu enaknya kamu sewa mereka, apa tidak?

Mungkin kamu jawab, “Pak barang saya sedikit aja”, “Ngapain sih mereka, kayak bos saja, saya angkat sendiri”. Yang kamu ucapkan benar, tapi lawan dari itu mungkin juga benar, “barang Saya sedikit sih Pak, tapi saya mau Biar mereka yang ngangkat, kasihan mereka kalau nggak ada yang nyewa mereka, mereka ndak dapat apa-apa seharian. Ini lawannya juga benar.

Jadi kadang-kadang yang kamu ucapkan apa, menurutmu benar, jangan salah, bisa jadi lawan bicaramu juga benar. Kalau kalian belajar filsafat Jawa yang namanya Sastro Jendro. Sastro Jendro itu filsafat tentang kenyataan bahwa hidup ini isinya kontradiksi-kontradiksi, biarkan saja seperti adanya, kenyataannya memang begitu.

Misalnya, Bagaimana cara kita mencapai kesempurnaan? cara kita mencapai kesempurnaan adalah dengan cara menerima ketidaksempurnaan kita. Itukan kayak bertentangan dua hal. Biar saja itu jalan seperti adanya.

Nah, itu harmoni dan oposisi. Hidup ini kadang-kadang, bukan antara yang salah dan benar, tapi antara yang benar dan yang benar-benar. Yang saya omongkan menurutku benar, bukan berarti yang kamu omongkan salah. Bisa jadi yang kamu omongkan juga benar, karena konteksnya saja yang berbeda.

Pacaran ganggu kuliah apa mendukung kuliah? Itu bisa dua-duanya benar. Pacaran bisa mengganggu kuliah, karena nanti kamu ndak konsen, kamu mikir pacaran terus, yang terus males kuliah. Tapi bisa jadi dia mendukung kuliah, dengan pacaran kamu jadi rajin kuliah, biar cepat selesai, terus kawin. Dua-duanya bisa benar.

Tiddak bisa kamu klaim pacaran ganggu kuliah atau pacaran mendukung kuliah. Ndak, masing-masing ada konteksnya, bisa jadi yang saya omongkan benar, yang kamu omongkan juga benar, cuma memang kontaknya saja berbeda.

Misalnya, “sepakbola Indonesia ini penuh harapan”, sementara yang lain bilang, “sepakbola Indonesia ini tanpa harapan”, itu dua-duanya bisa benar, di lihat konteksnya.

Jadi, harmoni dan oposisi antara lain membahas tentang kalau ada dua pernyataan, dua situasi yang oposisi bukan berarti harus salah satu yang benar, tapi bisa jadi dua-duanya benar.

Contohnya, kalau kamu memperoleh segala sesuatu yang kamu inginkan, itu ndak selalu baik loh. Kamukan berdoa ingin sehat terus, tapi kamu ndak akan bisa menikmati kesehatanmu, kalau kamu tidak pernah sakit. Kamu ndak akan bisa mensyukuri kesehatanmu, kalau kamu sehat terus.

Jadi kalau kita berdoa, “ya Allah, berikanlah saya kesehatan selalu yang enggak sakit-sakit”, doamu ndak salah. Cuma kalau ini di kabulkan oleh Allah SWT, ada efeknya. Nikmatnya sehat nggak akan bisa kamu rasakan. Kamu bersyukur sehat itu ketika kamu pernah sakit. “Alhamdulillah, sekarang sehat.

Dengan kamu sakitkan, banyak hal yang selama ini kamu anggap penting, jadi ndak penting, karena kamu mikir kesehatanmu. Sekarang kesehatan jadi nomor satu, berharga.

Jaga kesehatan, kesehatan nomor satu. Kalimat ini kita paham, tapi kita yakin benar dengan makna kalimat ini, kalau kita memang pernah sakit. Kalau tidak pernah sakit, agak susah kita mengapresiasi sehat.

Kenyang juga begitu, kalo hidupmu enak terus, ndak pernah lapar, kenyang itu ndak ada nilainya. Kenyang itu jadi bernilai, karena kita pernah lapar, makanya Agama menyuruh kita puasa, biar kamu tahu rasanya lapar.

Kalau kamu tahu rasanya lapar, antara lain kamu bisa mengapresiasi kelaparan dan bisa bersyukur atas kekenyangan yang kita miliki, kita peroleh. Jadi itu gunanya mendapat yang tidak kita inginkan.

Kamu sekarang ngerti berharganya kuliah setelah semester 14. Iyakan, kemarin-kemarin enggak terlalu kamu apresiasi, sekarang kamu baru sadar, “harus serius ini kuliah”, kenapa? terancam DO. Yang tak pernah ngalami semester 14, mungkin tak terlalu bisa menikmati indahnya kuliah sampai semester 14.

Baca Juga: 17 Penyakit Hati dalam Islam

Kuliah yang sejati itukan di semester-semester akhir itu, bagaimana tegangmu, seriusmu bagaimana kamu bikin skripsi. Itu contoh oposisi kalau di filsafatnya Sastro Jendro.

Hidup itu memang kayak gitu, yang kita anggap jelek, kadang-kadang hasilnya baik. Seperti cerita Werkudoro, dia bisa dapat air kehidupan. Karena dia patuh pada gurunya, padahal gurunya ini curang gurunya, ingin membunuhnya. Tapi karena dengan patuh pada guru yang curang, ia tetap dapat air kehidupan.

Dalam perang, ada cerita bersaling bunuh dua saudara antara Arjuna dengan Karna. Ceritanya, yang kalah Karna, tapi rasanya yang kalah Arjuna. Kenapa? dia membunuh saudaranya sendiri, yang di sesali secara luar biasa oleh Arjuna.

Disinikan batas menang kalah, ndak jelas. Siapa kalah, siapa menang. Harusnya dari sisi pertarungannya yang menang Arjuno, tapi ternyata setelah di telusuri lebih dalam, mungkin yang menang Karna, karena Arjuna menyesal telah membunuh Karna, yang saudaranya sendiri. Ini yang di sebut kalau di Jawa namanya Kasunyatan, ilmunya namanya Sastro Jendro.

Hidup itu kenyataan, yang kita anggap jelek, kita anggap baik, mungkin batasnya tipis. Arjuna itu sudah puluhan tahun bercita-cita membunuh Karna, tapi begitu cita-citanya terpenuhi, yang lahir hanya penyesalan.

Inilah hidup, ndak bisa di tebak. Selalu ada oposisi-oposisi, perlawanan-perlawanan, selalu ada hal yang berbeda yang tidak kita inginkan. Tapi biarkan saja, setiap peristiwa membawa hikmahnya sendiri. Ada rahasianya sendiri, ada manfaatnya sendiri. Itu contoh dari Heraklitus.

Coba lihat laut, laut adalah air yang paling murni dan paling kotor. Bagi ikan, bisa diminum dan menyehatkan. Bagi manusia, tak dapat di minum dan membuat sakit. Inikan salah satu contoh paradoks, satu oposisi.

Kalau kita tanya, “pentingkah air laut?” bagi ikan, dia bisa di minum dan menyehatkan. Bagi kita airnya malah membuat sakit. Itu contoh oposisi paradoks, dalam hidup ini banyak yang seperti itu.

Kemudian perang, perang juga sesuatu yang paradoks, yang oposisi, katanya Heraklitus. Kitakan banyak yang anti perang, tapi situasi damai hari ini itu pemicunya adalah perang. Jadi kita kalo baca sejarah dunia, dari perang ke perang. B

elanda tidak kerasan di Indonesia, kemudian berunding pulang. Kenapa ndak kerasan, yah karena ada perang. Jadi kemerdekaan kita antara lain jasa dari perang. Kalau ndak ada perang dulu, kita ndak Merdeka.

Baca Juga: Tujuh Nasihat Jalaludin Rumi

Jadi jangan salah, katanya Heraklitus, peranglah yang membuat kita seperti sekarang. Perubahan besar banyak dimulai dari peperangan. Inikan paradroks, oposisi, padahal selama ini kita anggap perang itu sesuatu yang harus di hindar-hindari, tapi dalam sejarah justru munculnya kerjasama, munculnya keadilan, munculnya tekad untuk damai, itu karena ada perang.

Ketika orang capek perang terus, lahirlah PBB yang awalnya dulu LBB. Ketika kita saingan terus, lahirlah kreativitas-kreativitas. Makanya, kadang-kadang kalau ingin cepat maju, cara paling gampang cari saingan.

Cara paling cepat untuk maju itu, cari rival yang kira-kira kekuatannya sebanding sama kamu. Misalnya, kalau kamu kuliah, yah tetapkan musuhmu, “saya harus lebih baik IPK-nya dari dia”, tapi yang pinter jangan yang bodoh.

Dengan itu kamu jadi semangat, jangan salah. Jadi itu gunanya oposisi. Dari situ justru muncul harmoni, makanya Heraklitus mengkritik para penyair, kok kayak orang bodoh, masa ndak ingin konflik, justru dari konflik itu kita maju, berkembang.

Kalau ndak ada konflik, kita ndak maju-maju, di anggap aman saja, di anggap nyaman. Harus ada yang saling bersaing, sehingga kamu bisa bergerak untuk maju, itu sarannya Heraklitus. Jadi kalau kita ingin maju, ayo kita cari musuh.

Konflik-konflik itukan justru membuat kita dewasa, punya target semakin maju. Maka, jangan anti konflik. Hidup ini memang karakternya serba oposisi, dari oposisi itulah muncul harmoni. Ada siang pasti ada malam, ada lapar pasti ada kenyang, ada kaya pasti ada miskin. Di situlah hidup ini berputar-putar.

Dari mana oposisi itu muncul, katanya Heraklitus antara lain, oposisi itu lahirnya dari perspektif.

B. Oposisi dan Perspektif

Selanjutnya hakikat hidup manusia dapat di pahami melalui pemaknaan terhadap apa itu oposisi dan perspektif. Katanya Heraklitus, “monyet yang paling ganteng itu tetap tampaknya lebih jelek kalau di bandingkan dengan manusia. Manusia paling bijaksana, akan tampak seperti monyet kalau di bandingkan dengan Tuhan”.

Jadi maksudnya, baik-buruk itu sama, adanya dalam perbandingan. Dia tidak pernah sendirian. kamu baik atau jelek itukan di perbandingkan. Kamu merasa orang baik, tapi kalau tak bandingkan dengan dia, kamu ndak ada apa-apanya. Kamu merasa jahat, tenang aja masih banyak yang lebih jahat, Firaun, Hitler dan kawan-kawan.

Jadi oposisi itu isinya perspektif-perspektif, bagaimana kamu melihat. Sama kayak tadi, monyet paling ganteng, itu tetep lebih menang kita yang manusia. Kenapa? karena yang memahami kita manusia.

Tapi mungkin bagi monyet, manusia yang paling ganteng sekalipun akan tampak jelek di bandingkan dengan keluarganya monyet. Makanya, ndak ada monyet jatuh cinta sama manusia, ngejar-ngejar manusia, yang ada tetap dia ngejar-ngejar monyet, Kenapa? perspektif.

Jadi oposisi-oposisi itu lahirnya dari cara pandang kita. Baik-buruk, hitam putih, siang-malam, itu nanti ada hubungannya dengan perspektif. Bagi Tuhan sih, segalanya indah, baik, dan benar. Tapi, bagi manusia ada yang baik, ada yang jahat.

Jadi kalau manusia ya, ndak bisa sempurna. Ada yang baik, ada yang jahat, dan itu perspektif. Nah, yang beda-beda ini sebenarnya satu. Perspektif kita yang membedakan, makanya di situ, tangga untuk naik dan tangga untuk turun itu sebenarnya tangga yang sama, yang membedakan adalah kepentingan kita, perspektif kita.

Kalau kalian sedang naik tangga, itukan tangganya sama, pas kamu lagi turun, dia namanya tangga untuk turun, tapi kalau kamu sedang ingin naik, tangga ini jadi tangga untuk naik. Tangganya sama, cuma bunyinya bisa beda, karena kepentingan kita yang beda, perspektif kita yang beda.

Contoh lain, karena adanya sakit, maka sehat itu jadi menyenangkan. Karena adanya kejahatan, maka kebaikan itu jadi menyenangkan. Oleh karena adanya kelaparan, maka kenyang itu membahagiakan. Karena adanya capek, maka istirahat itu jadi menyenangkan, membahagiakan.

Jadi jangan mengeluh dengan kesulitan, ketidakenakan, ketidaknyamananmu, karena bisa jadi itulah gerbang untukmu bisa menikmati kenyamanan, rasa enak, dan rasa nikmat. Kalau ndak ada itu, ndak. Kayak kalau kalian makan itu loh, ketika di awali lapar, makan apa saja jadi enak. Jadi ternyata enaknya makanmu, di tentukan oleh penderitaanmu sebelum makan.

Kalau ndak ada laparnya, ndak ada penderitaannya, makan seperti apapun mungkin jadi nggak enak. Misalnya, piring pertama itu di awali dari lapar jadi nikmatnya luar biasa. Terus kamu serakah, makan piring yang kedua, enaknya piring kedua ini paling tinggal setengah. Kamu lebih serakah lagi, mungkin karena ada yang mentraktir, terus kamu nambah piring ketiga, akhirnya di piring ketiga ini kamu tidak bisa menghabiskan, makanan yang semula terasa enak, bisa jadi bencana.

Jadi ternyata kenikmatan itu ada di suapan pertama. Kamu harus ngatur strategi, kadang-kadang kalau kamu makan, “yang paling enak kamu makan awal apa akhir”. Ketika kamu makan akhir, enaknya tinggal separuh, kenapa? karena kamu sudah kenyang.

Misalnya, lauk ada tempe, tahu, ayam, biasanya ayamnya yang terakhir. Padahal, ganas-ganasmu, nikmat makan itu di suapan-suapan awal, ketika kamu lapar. Tapi ketika ayamnya kamu makan belakangan, yah enaknya tinggal separuh. Atau di simpan aja ayamnya buat nanti, kalau sudah lapar lagi.

Hakikat Hidup Manusia

Demikian, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: