Teori Belajar Watson

Teori Belajar Watson

HermanAnis.com. Teman-teman semua, pada kesempatan ini kita masih membahas tentang Teori Belajar menurut para Ahli yakni Teori Belajar Watson. Teori Belajar Watson memandang bahwa dalam pembelajaran, hal yang paling penting adalah input berupa stimulus dan output berupa respons.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

A. Biografi John Broadus Watson

John Broadus Watson lahir pada 9 Januari 1878 di South Carolina USA, dan meninggal di New York pada 25 September 1958. Setelah memperoleh gelar master dalam bidang bahasa (Latin dan Yunani), matematika, dan filsafat di tahun 1900, ia menempuh pendidikan di University of Chicago.  

Minat awalnya adalah pada filsafat, sebelum beralih ke psikologi. Ia menulis disertasi dalam bidang psikologi eksperimen dan melakukan studi-studi dengan percobaan pada tikus.

Tahun 1903 ia menyelesaikan disertasinya, dan kemudian pada tahun 1908 ia pindah ke John Hopkins University dan menjadi direktur lab. psikologi di sana. Pada tahun 1912 ia menulis karya utamanya yang di kenal sebagai ‘behaviorist’s manifesto’, yaitu “Psychology as the Behaviorists Views it”.  

Dalam karyanya ini Watson menetapkan dasar konsep utama dari aliran behaviorisme. Psikologi adalah cabang eksperimental dari natural science yang posisinya setara dengan ilmu kimia dan fisika. Di mana introspeksi tidak punya tempat di dalamnya dan sejauh ini psikologi gagal dalam usahanya membuktikan jati diri sebagai natural science.

Peran Watso Teori Belajar Watson dalam bidang pendidikan juga cukup penting.  Ia menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan tingkah laku. Ia percaya bahwa dengan memberikan kondisioning tertentu dalam proses pendidikan, maka akan dapat membuat seorang anak mempunyai sifat-sifat tertentu.

Ia bahkan memberikan ucapan yang sangat ekstrim untuk mendukung pendapatnya tersebut, dengan mengatakan:

“Berikan kepada saya sepuluh orang anak, maka saya akan jadikan ke sepuluh anak itu sesuai dengan kehendak saya”.

B. Teori Belajar menurut Watson

Teori Belajar Watson merupakan sebuah proses interaksi antara stimulus dan respons, namun stimulus dan respons yang di maksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat di amati (observabel) dan dapat di ukur.

Dengan kata lain Teori Belajar Watson mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar. Namun ia menganggap hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu di perhitungkan. Oleh karena hal tersebut tidak dapat menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum, dan karena hal tersebut tidak dapat diam.

John Boardus Watson pernah melakukan percobaan yang pernah di terapkan Pavlov mengenai classical conditioning, yaitu dengan menggunakan seekor tikus dan seseorang anak yang bernama Albert.

Teori Belajar Watson

Dari percobaan tersebut Watson percaya bahwa manusia di lahirkan dengan beberapa refleks dan reaksi emosional seperti cinta, kebencian, dan kemarahan.

Teori belajar yang di kembangan Watson adalah Sarbon (stimulus and response bond theoriy). Teori ini secara umum adalah sama dengan teori Thorndike yaitu Connectionisme dan teori Pavlov Clasical Conditioning, hal ini di karenakan yang menjadi landasan dari teori behaviorisme Watson adalah teori Thorndike dan Pavlov.

Watson menggunakan teori Clasical Conditioning Pavlov dalam hal interaksi antara stimulus dan respons yang di lengkapi dengan komponen penguatan (reinforcement) dari Thorndike. Sarbon (stimulus and response bond theory) adalah teori yang memandang bahwa belajar merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respons- respons bersyarat melalui stimulus.

Menurut Teori Belajar Watson manusia di lahirkan dengan beberapa refleks dan reaksi-reaksi emosional seperti takut, cinta, dan marah. Semua tingkah laku tersebut terbentuk oleh adanya hubungan antara stimulus dan respons baru melalui conditioning. Sehingga belajar dapat di pandang sebagai cara menanamkan sejumlah ikatan antara perangsang dan reaksi dalam sistem susunan syaraf.

Teori Belajar Watson

1. Stimulus dan Respon dalam Teori Belajar Watson

Menurut Teori Belajar Watson dalam proses belajar dan pembelajaran hal yang paling penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respons. Stimulus adalah apa saja yang di berikan guru kepada peserta didik, sedangkan respon ialah reaksi atau tanggapan peserta didik terhadap stimulus yang di berikan oleh seorang guru.

Untuk dapat merancang atau mengkondisikan lingkungan belajar, baik itu berupa kelas, saraprasarana, maupun kondisi belajar peserta didik. Sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi respons yang di berikan peserta didik. Dengan demikian maka jika guru menginginkan seorang murid yang aktif, baik, paham dan terampil, maka hal yang perlu dilakukan adalah merancang dan memberikan lingkungan belajar yang baik.

Watson adalah seorang tokoh aliran behavioristik yang datang sesudah Thorndike. Menurutnya, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Namun stimulus dan respon yang di maksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat di amati (observabel) dan dapat di ukur.

Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu di perhitungkan. Ia tetap mengakui bahwa perubahan-perubahan mental dalam benak siswa itu penting, namun semua itu tidak dapat menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum karena tidak dapat diamati.

Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar di sejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh dapat di amati dan dapat di ukur. Asumsinya bahwa, hanya dengan cara demikianlah maka akan dapat di ramalkan perubahan-perubahan apa yang bakal terjadi setelah seseorang melakukan tindak belajar.

Berbeda dengan Thorndike, menurut Watson yang merupakan pelopor yang datang sesudah Thorndike, stimulus dan respons tersebut harus berbentuk tingkah laku yang bisa diamati (observable).

Dengan kata lain, Teori Belajar Watson mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang tidak perlu di ketahui. Bukan berarti semua perubahan mental yang terjadi dalam benak siswa tidak penting.

Semua itu penting, akan tetapi, faktor-faktor tersebut tidak bisa menjelaskan apakah proses belajar sudah terjadi atau belum. Hanya dengan asumsi demikianlah, menurut Teori Belajar Watson, dapat di ramalkan perubahan apa yang bakal terjadi pada siswa.

Hanya dengan demikian pula psikologi dan ilmu belajar dapat di sejajarkan dengan ilmu lainnya seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empiris. Berdasarkan uraian ini, penganut aliran tingkah laku lebih suka memilih untuk tidak memikirkan hal-hal yang tidak bisa di ukur, meskipun mereka tetap mengakui bahwa hal itu penting.

C. Pandangan utama Teori Belajar Watson

Jadi psikologi adalah ilmu yang bertujuan meramalkan perilaku. Pandangan ini di pegang terus oleh banyak ahli dan di terapkan pada situasi praktis.

Dengan penolakannya pada mind dan kesadaran, Teori Belajar Watson juga membangkitkan kembali semangat obyektivitas dalam psikologi yang membuka jalan bagi riset – riset empiris pada eksperimen terkontrol.

1. Psikologi mempelajari stimulus dan respons (S-R Psychology)

Yang di maksud dengan stimulus adalah semua obyek di lingkungan, termasuk juga perubahan jaringan dalam tubuh. Respon adalah apapun yang di lakukan sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat tinggi, juga termasuk pengeluaran kelenjar. Respon ada yang overt dan covert, learned dan unlearned.

2. Tidak mempercayai unsur herediter (keturunan) sebagai penentu perilaku.

Perilaku manusia adalah hasil belajar sehingga unsur lingkungan sangat penting. Dengan demikian pandangan Teori Belajar Watson bersifat deterministik, perilaku manusia di tentukan oleh faktor eksternal, bukan berdasarkan free will.

3. Pandangan tentang Mind – Body.

Baginya, mind mungkin saja ada, tetapi bukan sesuatu yang dipelajari ataupun akan di jelaskan melalui pendekatan ilmiah. Jadi bukan berarti bahwa Teori Belajar Watson menolak mind secara total.

Ia hanya mengakui body sebagai obyek studi ilmiah. Penolakan dari consciousness, soul atau mind ini adalah ciri utama behaviorisme dan kelak di pegang kuat oleh para tokoh aliran ini, meskipun dalam derajat yang berbeda – beda.

Pada titik ini sejarah psikologi mencatat pertama kalinya sejak jaman filsafat Yunani terjadi penolakan total terhadap konsep soul dan mind. Tidak heran bila pandangan ini di awal mendapat banyak reaksi keras, namun dengan berjalannya waktu behaviorisme justru menjadi populer.

4. Psikologi harus menggunakan Metode Empiris.

Dalam hal ini metode psikologi adalah observation, conditioning, testing, dan verbal reports.

5. Menolak konsep insting,

Menolak konsep insting, mulai dari karakteristiknya sebagai refleks yang unlearned, hanya milik anak – anak yang tergantikan oleh habits, dan akhirnya di tolak sama sekali kecuali simple reflex seperti bersin, merangkak, dan lain-lain.

6. Konsep Learning adalah sesuatu yang vital.

Habits yang merupakan dasar perilaku adalah hasil belajar yang di tentukan oleh dua hukum utama, recency dan frequency. Teori Belajar Watson mendukung conditioning respon Pavlov dan menolak law of effect dari Thorndike.

Maka habits adalah proses conditioning yang kompleks. Ia menerapkannya pada percobaan phobia (subyek Albert). Kelak terbukti bahwa Teori Belajar Watson punya banyak kekurangan dan pandangannya yang menolak Thorndike salah.

7. Pandangannya tentang Memory.

Apa yang di ingat dan di lupakan ditentukan oleh seringnya sesuatu di gunakan/dilakukan. Dengan kata lain, sejauhmana sesuatu di jadikan habits. Faktor yang menentukan adalah kebutuhan.

8. Proses thinking and speech saling berkaitan satu sama lain.

Thinking adalah subvocal talking. Artinya proses berpikir di dasarkan pada keterampilan berbicara dan dapat di samakan dengan proses bicara yang ‘tidak terlihat’, masih dapat di identifikasi melalui gerakan halus seperti gerak bibir atau gesture lainnya.

9. Perilaku dapat di kontrol dan ada hukum yang mengaturnya.

Sumbangan utama Teori Belajar Watson adalah ketegasan pendapatnya bahwa perilaku dapat di kontrol dan ada hukum yang mengaturnya.

D. Teori dan Konsep Behaviorisme dari John Broadus Watson

Teori belajar S-R (stimulus – respon) yang langsung ini di sebut juga dengan koneksionisme menurut Thorndike, dan behaviorisme menurut Teori Belajar Watson, namun dalam perkembangan besarnya koneksionisme juga di kenal dengan psikologi behavioristik.

Stimulus dan respon (S-R) tersebut memang harus dapat di amati, meskipun perubahan yang tidak dapat di amati seperti perubahan mental itu penting, namun menurutnya tidak menjelaskan apakah proses belajar tersebut sudah terjadi apa belum.  

Dengan asumsi demikian, dapat di ramalkan perubahan apa yang akan terjadi pada anak. Teori perubahan perilaku (belajar) dalam kelompok behaviorisme ini memandang manusia sebagai produk lingkungan. Segala perilaku manusia sebagian besar akibat pengaruh lingkungan sekitarnya.

Apakah seorang manusia tergolong baik, tidak baik, emosional, rasional, ataupun irasional. Di sini hanya di bicarakan bahwa perilaku manusia itu sebagai akibat berinteraksi dengan lingkungan, dan pola interaksi tersebut harus bisa di amati dari luar.

Belajar dalam teori behaviorisme ini selanjutnya di katakan sebagai hubungan langsung antara stimulus yang datang dari luar dengan respons yang di tampilkan oleh individu.

Respons tertentu akan muncul dari individu, jika di beri stimulus dari luar. S singkatan dari Stimulus, dan R singkatan dari Respons. Pada umumnya teori belajar yang termasuk ke dalam keluarga besar behaviorisme memandang manusia sebagai organisme yang netral-pasif-reaktif terhadap stimuli di sekitar lingkungannya.

Orang akan bereaksi jika di beri rangsangan oleh lingkungan luarnya. Demikian juga jika stimulus di lakukan secara terus menerus dan dalam waktu yang cukup lama, akan berakibat berubahnya perilaku individu.

Jika orang sakit maag maka obatnya adalah promag, waisan, mylanta, ataupun obat-obat lain yang sering di iklankan televisi. Jenis obat lain tidak pernah di gunakannya untuk penyakit maag tadi, padahal mungkin saja secara higienis obat yang tidak tertampilkan, lebih manjur.

Syarat terjadinya proses belajar dalam pola hubungan S-R ini adalah adanya unsur:  dorongan (drive), rangsangan (stimulus), respons, dan penguatan (reinforcement). 

Teori Belajar Watson

1. Dorongan dalam Teori Belajar Watson

Dorongan, adalah suatu keinginan dalam diri seseorang untuk memenuhi kebutuhan yang sedang di rasakannya.

Seorang anak merasakan adanya kebutuhan akan tersedianya sejumlah uang untuk membeli buku bacaan tertentu, maka ia terdorong untuk membelinya dengan cara meminta uang kepada ibu atau bapaknya.

Unsur dorongan ini ada pada setiap orang, meskipun kadarnya tidak sama, ada yang kuat menggebu, ada yang lemah tidak terlalu peduli akan terpenuhi atau tidaknya.

2. Rangsangan atau Stimulus dalam Teori Belajar Watson

Unsur ini datang dari luar diri individu, dan tentu saja berbeda dengan dorongan tadi yang datangnya dari dalam. Contoh rangsangan antara lain adalah bau masakan yang lezat, rayuan gombal, dan bahkan bisa juga penampilan seorang gadis cantik dengan bikininya yang ketat.

Stimulus Respon Reinforsmen

Dalam dunia aplikasi komunikasi instruksional, rangsangan bisa terjadi, bahkan di upayakan terjadinya yang di tujukan kepada pihak sasaran agar mereka bereaksi sesuai dengan yang di harapkan.

Dalam kegiatan mengajar ataupun kuliah, di mana banyak pesertanya yang tidak tertarik atau mengantuk, maka sang komunikator instruksional atau pengajarnya bisa merangsangnya dengan sejumlah cara yang bisa di lakukan, misalnya dengan bertanya tentang masalah – masalah tertentu yang sedang trendy saat ini, atau bisa juga dengan mengadakan sedikit humor segar untuk membangkitkan kesiagaan peserta dalam belajar.

3. Respon atau Tanggapan dalam Teori Belajar Watson

Dari adanya rangsangan atau stimulus ini maka timbul reaksi di pihak sasaran atau komunikan. Bentuk reaksi ini bisa bermacam – macam, bergantung pada situasi, kondisi, dan bahkan bentuk dari rangsangan tadi.

Stimulus respon

Reaksi – reaksi dari seseorang akibat dari adanya rangsangan dari luar inilah yang di sebut dengan respons dalam dunia teori belajar ini. Respons ini bisa di amati dari luar.

Respons ada yang positif, dan ada pula yang negatif.

  • Respon Positif di sebabkan oleh adanya ketepatan seseorang melakukan respons terhadap stimulus yang ada, dan tentunya yang sesuai dengan yang di harapkan. Sedangkan
  • Respon Negatif adalah apabila seseorang memberi reaksi justru sebaliknya dari yang di harapkan oleh pemberi rangsangan.

4. Penguatan (Reinforcement) dalam Teori Belajar Watson

Unsur ini datangnya dari pihak luar, di tujukan kepada orang yang sedang merespons. Apabila respons telah benar, maka di beri penguatan agar individu tersebut merasa adanya kebutuhan untuk melakukan respons seperti tadi lagi.

Seorang anak kecil yang sedang mencoreti buku kepunyaan kakaknya, tiba-tiba di bentak dengan kasar oleh kakaknya, maka ia bisa terkejut dan bahkan bisa menderita guncangan sehingga berakibat buruk pada anak tadi. Memang anak tadi tidak mencoreti buku lagi, namun akibat yang paling buruk di kemudian hari adalah bisa menjadi trauma untuk mencoreti buku karena takut bentakan.

Bahkan yang lebih di khawatirkan lagi akibatnya adalah jika ia tidak mau bermain dengan buku lagi atau alat tulis lainnya. Itu penguatan yang salah dari seorang kakak terhadap adiknya yang masih kecil ketika sedang mau memulai menulis buku.

Barangkali akan lebih baik jika kakaknya tadi tidak dengan cara membentak kasar, akan tetapi dengan bicara yang halus sambil membawa alat tulis lain. berupa selembar kertas kosong sebagai penggantinya. Misalnya, “Bagus!, coba kalau menggambarnya di tempat ini, pasti lebih bagus”. Dengan cara penguatan seperti itu, sang anak tidak merasa di larang menulis. Itu namanya penguatan positif.

Contoh penguatan positif lagi, setiap anak mendapat ranking bagus di sekolahnya, orang tuanya memberi hadiah berwisata ke tempat-tempat tertentu yang menarik. Atau setidaknya di puji oleh orang tuanya, maka anak akan berusaha untuk mempertahankan rankingnya tadi pada masa yang akan datang. Jadi psikologi adalah ilmu yang bertujuan meramalkan perilaku. Pandangan ini di pegang terus oleh banyak ahli dan di terapkan pada situasi praktis.  

Dengan penolakannya pada mind dan kesadaran. Teori Belajar Watson juga membangkitkan kembali semangat obyektivitas dalam psikologi yang membuka jalan bagi riset-riset empiris pada eksperimen terkontrol.

Sumber:

  • Pratama, A. Yoga. 2019. Relevansi Teori Belajar Behaviorisme Terhadap Pendidikan Agama Islam. Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah Vol. 4, No. 1.
  • https://www.ufrgs.br/psicoeduc/chasqueweb/edu01011/behaviorist-watson.pdf
  • http://staffnew.uny.ac.id/upload/132206561/pendidikan/bab-3-behavioristik.pdf

Demikian,
Semoga bermanfaat

2 Replies to “Teori Belajar Watson”

  1. Halo, min. saya tertarik dengan tulisan ini dan ingin mengutip di dalam analisis saya sbg referensi. Tapi, saya tidak menemukan data seperti nama penulis dan tahun berapa tulisan ini dipublikasikan, sehingga saya sedikit kesulitan untuk menuliskan daftar pustaka. Bolehkah saya mengetahui nama author dan tahun publikasi tulisan ini

    1. Makasih atas responnya, sy kira Anda punya etika yang baik. Ini dulu tugas kuliah saya, sebelumnya sy posting di blogspot.com. Namun sekarang blogspotnya sudh beralih ke wordpress. Tulisan ini dibuat September 2014.
      Jika mau dijadikan referensi, bisa menggunakan identitas saya sebagai penulis a.n. Herman Anis. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: