Teori belajar Pavlov

Teori belajar Pavlov

HermanAnis.com –  Teman-teman semua, pada kesempatan ini kita masih membahas tentang Teori Belajar menurut para Ahli yakni Teori belajar Pavlov. Teori belajar Pavlov berhasil menghasilkan hukum-hukum belajar seperti Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang di tuntut dan Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang di tuntut.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

A. Biografi Teori belajar Pavlov

Teori belajar Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang pendeta. Ia dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi. Pavlov lulus sebagai sarjan kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. 

Pada tahun 1884 ia menjadi direktur departemen fisiologi pada institute of Experimental Medicine dan memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan. Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun 1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikology behavioristik di Amerika.

Teori belajar Pavlov

Karya tulisnya adalah Work of Digestive Glands (1902) dan Conditioned Reflexes (1927). Classic conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang di temukan Pavlov melalui percobaanny terhadap anjing, di mana perangsang asli dan netral di pasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang di inginkan.  

B. Teori belajar Pavlov

Eksperimen-eksperimen yang di lakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, di mana gejala-gejala kejiwaan seseorang di lihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran, peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya.

Teori belajar Pavlov

Pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu. Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang di inginkan.

Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.  

Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada seekor anjing. Sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apabila di perlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur anjing tersebut.

Sebelum makanan di perlihatkan, maka yang di perlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu, baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula.

Apabila perbuatan yang demikian di lakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula.  

1. Classical Conditioning dalam Teori Belajar Pavlov

Classical conditioning adalah proses di mana suatu stimulus/rangsangan yang awalnya tidak memunculkan respon tertentu, di asosiasikan dengan stimulus kedua yang dapat memunculkan. Secara sederhananya, pengkondisian klasik merujuk pada sejumlah prosedur pelatihan di mana satu stimulus/rangsangan muncul menggantikan stimulus yang lainnya dalam mengembangkan suatu respon.

Ivan Pavlov membangun riset dengan melakukan penelitian perilaku dengan obyek seekor anjing seperti yang di gambarkan di bawah ini.

Teori belajar Pavlov

Keterangan Gambar:

  • Gambar pertama. Di mana anjing, bila di berikan sebuah makanan (UCS) maka secara otonom anjing akan mengeluarkan air liur (UCR).
  • Gambar kedua. Jika anjing di bunyikan sebuah bel maka ia tidak merespon atau mengeluarkan air liur.
  • Gambar ketiga.Sehingga dalam eksperimen ini anjing di berikan sebuah makanan (UCS) setelah di berikan bunyi bel (CS) terlebih dahulu, sehingga anjing akan mengeluarkan air liur (UCR) akibat pemberian makanan.
  • Gambar keempat. Setelah perlakukan ini di lakukan secara berulang-ulang, maka ketika anjing mendengar bunyi bel (CS) tanpa di berikan makanan, secara otonom anjing akan memberikan respon berupa keluarnya air liur dari mulutnya (CR).

2. Hukum Belajar Menurut Pavlov

Dari penelitian di atas, Pavlov kemudian mencetuskan dua hukum belajar:

  1. Law of Respondent Conditioning, yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus di hadirkan secara  simultan (salah satunya sebagai reinforce), maka reflex dan stimulus lainnya akan meningkat.
  2. Law of Respondent Extinction, yakni hukum pemusnahan yang di tuntut. Jika reflex yang sudah diperkuat melalui respondent conditioning di datangkan kembali tanpa menghadirkan reinforce, maka kekuatannya akan menurun

Makanan adalah rangsangan wajar, sedang merah adalah rangsangan buatan. Ternyata kalau perbuatan yang demikian di lakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat (kondisi) untuk timbulnys air liur pada anjing tersebut. Peristiwa ini di sebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons.  

Olehnya itu dalam hal ini Pavlov berpendapat bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat di latih. Bectrev murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut di lakukan pada manusia, yang ternyata di ketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul tidak di sadari manusia.

Dari eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau pembiasaan dapat di ketahui bahwa daging yang menjadi stimulus alami dapat di gantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang di kondisikan. Ketika lonceng di bunyikan ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang di kondisikan.

C. Implementasi Teori Belajar Pavlov

Nah, bagaimana Teori belajar Pavlov ini di terapkan, Apakah situasi ini bisa di terapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan sehar-jhari ada situasi yang sama seperti pada anjing.   Sebagai contoh, suara lagu dari penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah.

Awalnya mungkin suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering lewat, maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas. Bayangkan, bila tidak ada lagu tersebut betapa lelahnya si penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya.

Contoh lain adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu atau tombol antrian di bank. Tanpa di sadari, terjadi proses menandai sesuatu yaitu membedakan bunyi-bunyian dari pedagang makanan (rujak, es, nasi goreng, siomay) yang sering lewat di rumah, bel masuk kelas-istirahat atau usai sekolah dan antri di bank tanpa harus berdiri lama.  

Dari contoh tersebut dapat di ketahui bahwa dengan menerapkan Teori Pavlov ternyata individu dapat di kendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang di inginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia di kendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.

D. Kesimpulan Pavlov

Dari eksperimen yang di lakukan maka pokok pikiran dalam Teori belajar Pavlov di antaranya adalah:  

  • Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang di tuntut. Jika dua macam stimulus di hadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat
  • Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang di tuntut. Jika refleks yang sudah di perkuat melalui Respondent conditioning itu di datangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

Sumber Rujukan:

Demikian penjelasan tentang Teori Belajar Pavlov
semoga ada manfaat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: