Mencermati Isi Ceramah

HermanAnis.com – Mencermati Isi Ceramah Agama. Setelah sebulan lebih, akhirnya saya bisa menulis lagi, mencoba untuk berbagi informasi. Saya awali tulisan dengan cerita tentang shalat Tarawih 1432 H yang saya ikuti di suatu Masjid di Kota Makassar, ini saya angkat di blog karena isi ceramahnya yang sangat menarik hatiku untuk berkomentar.

Baca Juga: Hikmah Hari Raya Idul Qurban – Menyembelih “Kebinatangan” Manusia

Mencermati Isi Ceramah

Ceramah disampaikan selama hampir 25 menit oleh seorang Muballiq yang intonasi suaranya mirip dengan K.H Zainuddin MZ , dia begitu sukses menirukannya.

Beliau membahas topik Iman dan Taqwa, topik yang mungkin sering kita dengar. Selama 25 menit itu saya menyimak dengan seksama isi ceramahnya. Beliau intinya hanya menyampaikan, mari kita menjaga dan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT, dan hanya itu yang bisa saya simpulkan.

Tidak ada yang keliru dengan isi ceramahnya, namun ada sesuatu yang membuat hatiku berguman, ada yang hilang, ada yang tidak lengkap, ada yang kurang dengan isi ceramahnya dan hal itulah yang sangat penting untuk di ketahui umat.  

Beliau hanya menyampaikan mari kita menjaga dan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT, namun tidak pernah menjelaskan bagaimana caranya untuk menjaga dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kapada Allah SWT dalam keseharian kita.

Baca Juga: Cara Mengenali Diri

Saya teringat dengan kalimat teman saya  “apaji, yang dia bilang itu sebenarnya semua orang sudah tau“. Dalam 25 menit itu, maaf, hanya suaranya yang menarik isinya hampir tidak terlalu bermakna.

Dari kejadian itu, saya selalu memperhatikan setiap ceramah agama dan kesimpulan saya mengatakan bahwa ada pola yang sama. Sebagian Muballiq kita hanya menympaikan sesuatu yang semua orang sudah tau.  

Saudaraku, pernahkah kita berpikir, mengapa ada orang yang tega membunuh sesamanya, bahkan orang tuanya sendiri, berbuat zina, ataupun merampok?. Apakah mereka itu tidak mengetahui bahwa itu salah?

Saya kira mereka semua tau itu. Pertanyaannya adalah mengapa mereka melakukan itu, padahal mereka tau bahwa perbuatan tersebut salah, dan berdosa?

Seharusnya inilah yang di bahas oleh Muballiq kita, jangan hanya mengajak untuk tidak berzina, tidak merampok, dsb. contoh lain adalah, seharusnya jangan hanya mengajak untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, namun perlu di ajarkan bagaimana cara yang tepat untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Begitu mudahnya kita berkata syukur kepada-Nya, tapi pernahkah kita benar-benar bersyukur?, atau apakah kita sudah mengetahui cara bersyukur? Sesuatu yang membuat kita risau adalah, apakah Muballiq kita mempunyai kemampuan untuk itu? namun semua bisa, asalkan mau belajar untuk terus memperbaiki kualitas diri.

Baca Juga: Memaknai hikmah Peristiwa Isra’ Mi’raj

Saudaraku, sebagai renungan, Sesungguhnya Allah SWT Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Pengampun, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Apapun yang Allah berikan kepada kita saat ini, tentunya Dia yang lebih tahu apa yang kita butuhkan untuk menjalani hidup.

Apapun yang tidak kita miliki saat ini, seharusnya kita yakini, bahwa kita belum membutuhkannya sekarang, karena pada akhirnya, kita akan menyadari hikmah dari setiap takdir-Nya.  Dia memberikan kelebihan kepada seseorang dan kelebihan pada yang lainnya. Demikian juga dengan kekurangan, tak ada satu manusia yang tak memiliki kekurangan pada dirinya.

Namun kelebihan manusia yang satu terhadap lainnya, sesunggunya terletak pada bagaimana mensikapi kelebihan dan kekurangan tersebut. Sering kali manusia mengumpat atas kekurangan yang di terimanya, padahal pada saat bersamaan, sejumlah kelebihan ia miliki, namun tak pernah di syukurinya.   

Saat ini, cobalah menengok kembali perjalanan kita di dunia. Lahir tanpa memiliki apapun, tak bersepatu dan berpakaian. Kini, satu lemari pakaian kita punya. Kenapa? Waktu itu kita belum membutuhkan sepatu dan pakaian bagus.

Dulu kita sangat menikmati berjalan kaki atau berdesakan dalam bus, dan kini setelah memiliki kendaraan pribadi, kemudian berpikir, karena dulu belum merasa perlu untuk memiliki kendaraan sendiri.  Kuncinya adalah, bagaimana setiap kita menikmati setiap pemberian yang Allah berikan pada kita saat ini dan mensyukurinya.

Jika tidak, tak kan pernah nikmat lainnya menghampiri kita, karena janji-Nya memang demikian. Semoga kita selalu bersyukur atas apapun yang telah kita miliki, apapun keadaan kita, karna di balik itu ada hikmah dari-Nya


Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Hikmah Hari Raya Idul Qurban: Menyembelih Kebinatangan Manusia

HermanAnis.com – Hikmah Hari Raya Idul Qurban – Menyembelih “Kebinatangan” Manusia. Seluruh umat Islam di Indonesia pada hari Jum’at, 26 Oktober 2012, merayakan Hari Raya...
Herman Anis
2 min read

Ketika Kebiasaan Itu Datang

HermanAnis.com – Ketika kebiasaan itu datang, terus berulang sampai sekarang dan mungkin akan sampai kapanpun selama aku hidup. Cerita mulai Pukul 17.56 WITA menjelang...
Herman Anis
1 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca