Hikmah Hari Raya Idul Qurban: Menyembelih Kebinatangan Manusia

Hikmah Hari Raya Idul Qurban - Menyembelih “Kebinatangan” Manusia

HermanAnis.com – Hikmah Hari Raya Idul Qurban – Menyembelih “Kebinatangan” Manusia. Seluruh umat Islam di Indonesia pada hari Jum’at, 26 Oktober 2012, merayakan Hari Raya Idul Adha 1433 H.

Meskipun di tulis pada tahun 2012, namun pesan yang ingin di sampaikan sepertinya masih relevan dengan kondisi sekarang ini.

Pada hari kita akan melaksanakan Shalat Id, dan di lanjutkan dengan proses penyembelihan hewan qurban. Sekedar renungan, berikut ini saya akan menuangkan dalam tulisan makna Qurban dengan menyembelih binatang hewan qurban sebagai ihtiar untuk menyembelih dan membunuh perilaku kebinatangan manusia.

Kisah Nabi Ibrahim AS

Kisah Nabi Ibrahim AS yang menyembelih puteranya Nabi Ismail AS merupakan negasi kemanusiaan yang paling hakiki. Negasi kemanusiaan yang saya maksudkan adalah ketidak-mungkinan dalam nalar apapun manusia untuk menyembelih sesama manusia atas alasan apapun.

Sifat simbolis dari  kisah ini menemukan makna hakikinya sebagai totalitas ketakwaan dan kepasrahan total Ibrahim AS kepada Allah SWT (sehingga ihlas “mengorbankan” Ismail AS, puteranya).

Bahwa Allah SWT kemudian, dengan Kuasa-Nya, serta merta dan segera “mengganti” Ismail AS dengan seekor Domba. Ini melengkapi kisah yang menjadi awal pengambilan istinbat hukum di syariatkannya Ibadah Qurban dengan menyembelih hewan Qurban seperti Sapi dan Kambing.

Hikmah Hari Raya Idul Qurban

Hewan Qurban seperti Kambing dan Sapi adalah representasi makhluk Allah SWT yang memiliki kedekatan ciri khas sedekat-dekatnya dengan kita semua, makhluk manusia, dalam sifat dan perilaku dasar seperti makan, minum, tidur, memiliki hawa nafsu, “bekerja” dan mengembangkan keturunan beranakpinak. Kedekatan maknawi semacam ini bisa menjadi pembeda yang sangat jelas antara manusia dan hewan atau binatang. 

Namun, kedekatan maknawi tersebut juga bisa menghadirkan parameter-parameter kesamaan yang jelas pula antara manusia dan binatang. Bahwa adagium manusia adalah binatang yang berakal merupakan parameter yang kepadanya persamaan dan perbedaan itu menjadi melekat kuat pada diri manusia.

Ada saat manusia itu seperti binatang. Sama persis dengan binatang. Bahkan lebih hina dari binatang. Ayat Al Qur’an berikut ini sangat jelas dalam menggambarkannya: 

  “Dan demi, sungguh Kami telah ciptakan untuk Jahannam banyak dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati, tetapi tidak mereka gunakan untuk memahami dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak mereka gunakan untuk melihat dan mereka mempinyai telinga (tetapi) tidak mereka mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”  (QS. Al-A’raaf, 179)

Hati, Mata dan Telinga orang-orang yang memilih kesesatan di persamakan dengan binatang karena binatang tidak dapat menganalogikan apa yang ia dengar dan lihat dengan sesuatu yang lain.

Binatang memang tidak memiliki akal seperti manusia

Bahkan manusia yang tidak menggunakan potensi yang di anugerahkan Allah, lebih buruk, sebab binatang dengan instinknya akan selalu mencari kebaikan dan menghindari bahaya, sementara manusia durhaka justru menolak kebaikan dan kebenaran dan mengarah pada bahaya yang tiada taranya. 

Setelah kematiannya, manusia mengalami kekal di api neraka. Berbeda dengan binatang yang mati dan punah dengan sendirinya. Di sisi lain, binatang tidak di anugerahi potensi sebanyak potensi yang di punyai manusia. Sehingga binatang tidak wajar di kecam bila tidak mencapai apa yang tidak dapat di capai manusia.

Sebaliknya, manusia pantas di kecam apa bila sama dengan binatang dan di kecam lebih banyak lagi jika ia lebih buruk daripada binatang. Karena potensi manusia sebenarnya dapat mengantarkannya meraih ketinggian jauh melebihi binatang. 

Praktik Qurban dengan menyembelih hewan qurban mengisyaratkan secara simbolis agar kita mampu meminimalisir sifat-sifat dan perilaku hewani pada diri kita. Pada saat yang sama, ia merefleksikan tingkat ketakwaan si pemberi qurban. Harusnya demikian adanya.

Qurban yang di lakukan setiap tahun oleh seorang muslim tetapi tidak memberikan efek meningkatnya ketakwaan patut di pertanyakan tentunya. Ini juga merupakan kekeliruan dalam memahami qurban hanya sebatas menyembelih dan mendistribusikan daging mentah. 

  “Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu…… (Qs. Al-Hajj: 37). 

Jadi kata kunci dalam Ibadah Qurban adalah takwa dan meningkatnya ketakwaan seseorang. Sementara menyembelih hewan dan dan mendistribusikan daging hewan qurban merupakan simbol yang bisa bernilai ibadah sosial (sedekah) yang tak tergantikan dengan uang. 

Kesimpulan – Hikmah Hari Raya Idul Qurban

Demikian opini singkat artikel menyambut Idul Adha. Mari melalui momentum Idul Adha ini, kita berihtiar untuk “menyembelih” sifat-sifat kebinatangan yang melekat pada diri kita untuk meningkatkan ketakwaan kita semua. Demikian salah satu Hikmah Hari Raya Idul Qurban.

Baca Juga: Memaknai hikmah Peristiwa Isra’ Mi’raj

Di lihami oleh tulisan saudara seiman “Kang Nawar”
(ditulis di Roemah Kopi Makassar, 2012)


Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Ketika Kebiasaan Itu Datang

HermanAnis.com – Ketika kebiasaan itu datang, terus berulang sampai sekarang dan mungkin akan sampai kapanpun selama aku hidup. Cerita mulai Pukul 17.56 WITA menjelang...
Herman Anis
1 min read

Tentang Dia yang Jauh

Tentang Dia Tentang dia yang jauh, namun selalu datang sekehendaknya. Ternyata rasa telah luntur dan kusam, hambar oleh siraman apapun, walaupun dari cawan yang...
Herman Anis
1 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca