Nasib Bahasa Ibu di Rumah kita

2 min read

HermanAnis.com – Bahasa ibu di rumah kita – bagaimana nasibnya, apakah terancam punah? Bahasa ibu atau bahasa asli mengalami ancaman kepunahan setiap harinya.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Unesco merilis bahwa setiap dua minggu sebuah bahasa menghilang dengan membawa seluruh warisan budaya dan intelektual. Olehnya itu setidaknya -+45 persen dari sekitar 6.000 bahasa yang di gunakan di dunia terancam punah.

Tanggal 21 Pebruari selalu di peringati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Hal ini berdasarkan keputusan UNESCO pada 17 November 1999 pada sidang yang di setujui oleh 188 negara.

Dari laman Kemendikbud, Penetapan Hari Bahasa Ibu Internasional tidak lepas dari aksi demonstrasi besar mahasiswa Universitas Dhaka, Bangladesh (Paksitan Timur saat itu) yang menuntut di akuinya bahasa Bengali sebagai bahasa ibu suku Bengal.

Aksi ini di picu akibat keputusan Muhammad Ali Jinnah, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Pakistan yang mendeklarasikan Bahasa Urdu sebagai bahasa resmi Pakistan.

Tentu saja hal ini memicu kemarahan Suku Bengal yang bertutur bahasa Bengali. Akibatnya, mahasiswa Universtas Dhaka berdemonstrasi secara besar-besaran pada 21 Pebruari 1952 yang menimbulkan banyak korban jiwa.

Aksi demonstrasi ini juga berbuntut panjang dengan berpisahnya Pakistan Timur pada tahun 1971 dan mendeklarasikan sebagai negara Bangladesh.

Nasib Bahasa Ibu di Rumah kita

Pada 9 Januari 1998, Rafiqul Islam, seorang tokoh Bangladesh menggagas di adakannya Hari Bahasa Ibu Internasional kepada Sekjen PBB saat itu, Kofi Annan.

Gagasan ini di tindaklanjuti oleh PBB dan pada 17 November 1999, dengan di akui oleh 188 negara, gagasan Rafiqul Islam tersebut di sahkan dan di pilihlah tanggal 21 Pebruari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional untuk mengenang peristiwa demonstrasi berdarah pada tahun 1952.

Hanya beberapa ratus bahasa yang benar-benar di beri tempat dalam sistem pendidikan dan domain publik, dan kurang dari seratus bahasa di gunakan di dunia digital

Kita mungkin sudah terbiasa melihat begitu banyak anak-anak di sekitar kita yang tidak bisa berbahasa daerah seperti bahasa bahasa daerah orang tuanya. Banyak di antara kita yang sudah menjadi korban dari orang tua yang tidak pernah mengajarkan bahasa daerahnya.

Mungkin saja kedua orang tua kita berasal dari daerah yang berbeda, contohnya bapak kita orang makassar (berbahasa makassar) dan ibu berasal dari soppeng (bugis), namun kita anaknya tidak bisa menggunakan kedua bahasa tersebut.

Sangat ironi (seharusnya kedua bahasa ibu bapak itu dapat di gunakan).

Banyak orang tua yang lupa mengajari anaknya bahasa ibu atau bahasa daerahnya sendiri.

Orang tua lebih fokus kepada bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya tanpa pernah peduli kalau bahasa daerahnya akan hilang.

Oleh karena itu, saya niatkan untuk anak-anak saya nantinya akan mengajarkan kepada mereka bahasa bugis dengan baik. Hilangnya bahasa ibu atau bahasadaerah kita di karenakan kita sendiri yang tak pernah merawat dan menularkannya kepada generasi penerus.

Nasionalisme sangat penting dengan berbahasa satu bahasa Indonesia, tetapi bahasa daerah sebagai bahasa ibu tetap juga harus kita tularkan kepada anak-anak kita. Jangan sampai ketika anak-anak kita di tanya berasal dari mana, lalu di jawab dari Soppeng, tapi tidak bisa bahasa bugis.

Khan malu jadinya. Mengaku orang Bugis, tapi tidak bisa bahasa bugis. Bahasa daerah harus menjadi mata pelajaran muatan lokal di tiap daerah yang wajib di lestarikan.

Pemerintah daerah harus memberikan tempat dan mengapresiasi tenaga pengajar bahasa daerah ini karena bahasa daerah adalah bagian dari budaya bangsa.

Sumber: Gambar dari Podcast Liputan 6

Jangan biarkan bahasa daerah kita hilang satu demi satu karena kurangnya guru mata pelajaran bahasa daerah. Setiap propinsi melalui kepala dinas pendidikannya masing-masing harus pro-aktif menyediakan tenaga pengajar bahasa daerah agar tidak punah. Bahasa daerah harus terjaga sepanjang masa.

Akhirnya, mari kita ajarkan bahasa daerah kepada anak-anak kita agar mereka tahu bahasa ibu bapaknya. Bahasa para leluhur yang telah meninggalkan warisan budaya bangsa.

Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan budaya, oleh karenanya mari kita lestarikan keragaman budaya bangsa itu dengan terus mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anak kita.

Sudahkah anda mengajarkan bahasa daerah kepada putra-putri anda di rumah?

Salam
Herman

Hikmah Hari Raya Idul Qurban – Menyembelih “Kebinatangan” Manusia

HermanAnis.com – Hikmah Hari Raya Idul Qurban – Menyembelih “Kebinatangan” Manusia. Seluruh umat Islam di Indonesia pada hari Jum’at, 26 Oktober 2012, merayakan Hari Raya...
Herman
2 min read

Ketika kebiasaan itu datang

Cerita mulai Pukul 17.56 WITA menjelang magrib…   Pulang ke rumah dengan semua rencana yang terurut jelas dalam pikiran. Menyejukkan badan dengan air PDAM...
Herman
56 sec read

Tentang Dia yang Jauh

Tentang dia yang jauh, namun selalu datang sekehendaknya. Ternyata rasa telah luntur dan kusam, hambar oleh siraman apapun, walaupun dari cawan yang murni, suci,...
Herman
1 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: