Cara Mengenali Diri

2 min read

HermanAnis.com – Cara mengenali diri. Apa kabar kawan? mudah-mudahan baik. Alhamdulillah, sudah bisa menambah tulisan lagi. Sesungguhnya ilmu dari segala ilmu ialah ma’rifat kepadaNya.

Cara Mengenali Diri

Salah satu jalan berma’rifat kepada Allah ialah dengan berma’rifat kepada diri sendiri. Seperti yang di sampaikan oleh Ali karamallahu wajhah; Man arafa nafasaha arafa rabbaha. Barang siapa mengenal dirinya ia akan mengenal Tuhannya.

Baca Juga: Ketika kebiasaan itu datang

Lahirnya empat bocah di rumah adalah berkah tak terhingga, mereka kini terkadang menjadi sumber motivasi, inspirasi, kedamaian, dan kekuatan. Di luar rumah, inspirasi itu sering datang dari pojok warung kopi, “tempat umum yang menjual sejuta inspirasi” kata pepatah.

Di sana ada pelayanan yang excellent; ramah penuh senyum, tempat duduk luas dan bersih, serta akses internet yang mumpuni.  

Mari kita mulai, pernah ada di benak saya bahwa kesuksesan hidup diukur dari karya, prestasi, penghargaan, pencapaian, ucapan terima kasih, atau bahkan gelar kepahlawanan.

Betul bahwa menjadi orang besar, menjadi seseorang yang di kenang bisa menjadi motivasi yang mengembangkan diri. Tapi hati-hati kawan, semua itu bisa menjadi jebakan ‘betmen’. Mudah-mudahan anda paham istilah ini.

Salah satu kekeliruan yang banyak di lakukan orang adalah mengukur kesuksesan dengan parameter-parameter objektif yang kasat mata. Padahal setiap orang telah di ciptakan dengan qadar yang berbeda-beda. Setiap orang tidak akan di bebankan melainkan menurut kesanggupannya.

Ketakwaan pun tidak ada yang standar untuk semua orang, bagi setiap orang ketakwaan ialah “fattaqullaha mastatha’tum” bertakwalah menurut kesanggupanmu. Dan saat di hisab nanti kita akan di minta pertanggung jawaban sendiri-sendiri.

Apakah menjadi anggota DPR lebih berharga dari sekedar menjadi tukang racik kopi? Jika menjadi anggota DPR hanya membuat orang kesal karena arogansinya dan miskin empati.

Cara mengenali diri

Cara Mengenali Diri. Ketika menjadi anggota DPR hanya menjadi bahan lelucon yang memalukan karena kekurang kompetenannya, atau hanya menjadi fitnah karena harta dari suap, gratifikasi, dan perkoncoan. Ataukah, membuat lidah kita beracun seperti ular dengan janji-janji palsu, maka menjadi anggota DPR adalah suatu hal yang hina, rendah, mengerikan, dan membawa celaka dunia akhirat.

Adapun tukang racik kopi itu tiap malam menyediakan kopi nikmat bagi makhluk-makhluk penikmatnya. Memberikan pelayanan dan kebermanfaatan, menggembirakan banyak orang dengan pelayanannnya yang tulus dan ramah.

Lalu dari keringatnya ia bisa menafkahi keluarga sehingga Istri dan anaknya. Dan jika semua itu di lakukan sepanjang hidupnya dengan niat yang ikhlas serta tidak melalaikan kewajiban lainnya maka insya Allah peracik kopi adalah ahli surga.

Sungguh Allah tidak akan melihat manusia dari harta dan rupanya. Melainkan dari hati dan perbuatannya. Barangsiapa dalam hatinya selalu rindu kepada kebenaran dan kebaikan, maka hidupnya akan berakhir dalam keadaan yang baik.

Apakah menjadi seorang pejuang yang mati di medan laga akan lebih mulia daripada seorang pelacur yang bertaubat? Dalam sebuah riwayat di sebutkan bahwa ada yang mati berjihad membela agama dan Allah mencampakannnya ke neraka.

Tapi ada seorang pelacur yang masuk surga karena Allah ridha atas amalnya memberi minum anjing yang hampir mati kehausan.

Setiap kita di lahirkan di tempat tertentu. Perjalanan hidupnya khas. Isi kepalanya tidak ada yang sama. Setiap dari kita unik. Dan Allah telah menganugerahi nikmat yang berbeda-beda. Kita di ciptakan dengan kondisi yang terbaik untuk diri masing-masing.

Hadapi hidup dengan penuh kebahagiaan

Cara Mengenali Diri. Andai ada yang di lahirkan tanpa organ tubuh yang lengkap tetap itu adalah kondisi yang terbaik baginya. Karena nikmat Allah berbeda-beda, pun ujiannya. Di atas itu semua Allah maha adil. Manusialah yang bodoh dan sombong sehingga mengatakan Tuhan tidak adil.

Maka bersyukurlah atas semua yang telah kita lalui dan dapatkan. Minta ampun atas nikmat yang kita sia-siakan.

Karena bukan “Saya bahagia maka saya bersyukur”, melainkan “Saya bersyukur maka saya bahagia”. Bukan “Karena saya sukses maka saya gembira”, tapi “saya gembira maka saya sukses”. Demikian kata-kata istri saya yang selalu saya ingat. Jadilah saja diri kita sebaik-baiknya.

Terus beramal dan kenali diri. Sebab parameter kesuksesan yang sejati dan objektif hanya dua; pertama, menjadi hamba Allah yang baik, dan kedua menjadi khalifah di muka bumi dengan segala peran dan ukurannya.

Jika peran kita “hanya” menjadi seorang budak, jadilah budak terbaik seperti Bilal bin Rab’ah. Jika peran kita “hanya” menjadi seorang pembantu, jadilah pembantu terbaik seperti Zaid bin Haritsah.

Cara mengenal diri kita. Kalau engkau tak mampu menjadi beringin, yang tegak di puncak bukitJadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danauKalau kamu tak sanggup menjadi belukar.

Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalanKalau engkau tak mampu menjadi jalan raya. Jadilah saja jalan kecil, jalan yang membawa orang ke mata air

Tidaklah semua orang harus menjadi kapten, tentu harus ada awak kapalnya….bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi, rendah, nilai dirimu, tetapi sikap, cara, dan tindakanmu dalam menyelesaikannya yang menjadi pembeda dengan orang lain.

Baca Juga: Absolutisme dan Realtivisme

Demikian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *