Karakteristik Peserta Didik

Karakteristik Peserta Didik

HermanAnis.com – Tahukah Anda mengapa pendidik perlu memahami karakteristik peserta didik? Tulisan ini akan memaparkan pentingnya hal tersebut, dan bagaimana klasifikasi karakteristik peserta didik.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Karakteristik Peserta Didik

6 Karakteristik Peserta Didik yang perlu di perhatikan Guru

Sebagai pendidik, kita pasti setuju bahwa proses pembelajaran akan dapat berlangsung secara efektif atau tidak, sangat di tentukan oleh seberapa tinggi tingkat pemahaman pendidik tentang karakteristik yang di miliki peserta didiknya.

Pemahaman karakteristik peserta didik sangat menentukan hasil belajar yang akan di capai, aktivitas yang perlu di lakukan, dan assesmen yang tepat bagi peserta didik. Atas dasar ini sebenarnya karakteristik peserta didik harus menjadi perhatian dan pijakan pendidik dalam melakukan seluruh aktivitas pembelajaran.

Karakteristik peserta didik menurut Smaldino secara garis besar dapat di klasifikasikan menjadi tiga yaitu karakteristik umum, kemampuan awal dan gaya belajar. Namun, pada bagian ini kita hanya akan membahas karakteristik peserta didik untuk karakteristik umum.

6 Karakteristik peserta didik yang dimaksud adalah:

  1. gender,
  2. etnik,
  3. usia,
  4. kultural,
  5. status sosial, dan
  6. minat.

Secara lengkap, tulisan dalam Format PDF dapat anda download pada link berikut : Karakteristik Peserta Didik PDF

Untuk memahami setiap karakteristik peserta didik ini, berikut uraiannya:

Karakteristik Peserta Didik berdasarkan Gender

Jika peserta didik dalam suatu kelas di lihat berdasarkan gender, maka pada umumnya kelas tersebut tidak homogen (heterogen), ada laki-laki ada perempuan. Kelas dengan peserta didik yang heterogen ataupun homogen akan memiliki karakter yang berbeda.

Olehnya itu, seorang pendidik perlu untuk memahami karakteristik peserta didik berdasarkan gendernya. Hal ini penting sebagai dasar dalam mempersiapkan pembelajaran, menyajikan materi, berkomunikasi, pemberian tugas, dan lainnya.

Sebagai referensi perbedaan karakter laki-laki dan perempuan menurut Barreca, Gina. (Psychology Today) di antaranya:

  1. Laki-laki sedikit peduli dengan apa yang perempuan katakan, sedangkan perempuan lebih memperhatikan apa yang di katakan laki-laki.
  2. Laki-laki lebih peduli dengan apa yang di lihat, sedangkan perempuan mencoba untuk peduli dengan apa yang laki-laki lihat.
  3. Perempuan akan tersenyum walaupun tidak bahagia, tapi laki-laki tergantung sifat dasarnya.
  4. Laki-laki tertawa ketika menemukan sesuatu yang lucu, tapi perempuan tergantung situasi yang tepat. …..”

Selain itu, jika di lihat dari perbedaannya, maka keduanya memiliki perbedaan pada fisiologis dan biologis, peran, perilaku, kegiatan dan atribut masyarakat.

Sedangkan jika di lihat dari kesamaan, maka keduanya memiliki kesamaan peran dalam hak dan kewajiban sesuai dengan adat istiadat, budaya masyarakat. Seperti kesetaraan dalam memperoleh pekerjaan, peningkatan ilmu dan takwa, mencapai cita-cita menjadi guru, dokter, dan lain-lain.

Atas dasar Karakteristik Peserta Didik yang demikian tentunya akan berimplikasi terhadap pengelolaan kelas, pengelompokan peserta didik, dan pemberian tugas yang di lakukan pendidik. Kelas yang peserta didiknya homogen tentunya tidak sesulit kelas yang peserta didiknya heterogen.

Contoh Penerapan Prinsip Gender dalam Pembelajaran

Pak Herman seorang guru yang memiliki kelas dengan peserta didik laki-laki dan perempuan. Olehnya itu, aka dalam pembentukan kelompok diskusi atau eksperimen harus dibagi secara heterogen dberdasarkan gender.

Hal ini di pandang efektif untuk peserta didik yang tergolong kanak-kanak, tetapi belum tentu efektif untuk peserta didik yang berada pada fase remaja karena remaja sudah memiliki rasa ketertarikan pada lawan jenis, dan juga kebiasaan kerja laki-laki dan perempuan berbeda.

Contoh lain, ketika Pak Herman memberi tugas, maka perlu juga mempertimbangkan bahwa, tidak semuanya di kerjakan di sekolah tetapi terkadang harus diselesaikan di luar sekolah/kelas. Olehnya itu, maka pengelompokan peserta didik secara heterogen juga kadang terdapat kendala.

Hal ini karena laki-laki biasa mengerjakan tugasnya bisa sampai larut malam, tetapi bagi perempuan belum tentu cocok. Bisa karena aturan keluarga anak perempuan yang pergi sampai malam tidak mendapat izin. Ini akan berbeda dengan peserta didik laki-laki yang pada umumnya orang tuanya mengizinkan putranya belajar di luar rumah sampai malam.

Hal-hal tersebut tentunya perlu dipahami oleh seorang pendidik dalam melakukan proses pembelajaran agar pembelajaran yang di lakukannya dapat berjalan efektif.

Karakteristik Peserta Didik berdasarkan Etnik

Negara Indonesia merupakan Negara yang luas wilayahnya dan kaya akan etniknya. Namun berkat perkembangan alat transpotasi yang semakin modern, maka seolah tidak ada batas antar daerah/suku dan juga tidak ada kesulitan menuju daerah lain untuk bersekolah.

Sehingga, di sekolah dan kelas tertentu terdapat multi etnik/suku bangsa, seperti dalam satu kelas kadang terdiri dari peserta didik etnik Jawa, Sunda, Madura, Minang, dan Bali, maupun etnik lainnya.

Seorang pendidik tentunya dalam melakukan proses pembelajaran perlu memperhatikan Karakteristik Peserta Didik berdasarkan kondisi etniknya. Seorang pendidik yang menghadapi peserta didik hanya satu etnik di kelasnya.

Contoh Penerapan Prinsip Etnik dalam Pembelajaran

Pak Herman seorang pendidik di kelas XII Sekolah Menengah Atas yang peserta didiknya terdiri dari etnik bugis semua atau mandar semua, tentunya tidak sesulit ketika menghadapi peserta didik dalam satu kelas yang multi etnik.

Jika Pak Herman melakukan proses pembelajaran dengan peserta didik yang multi etnik maka dalam melakukan interaksi dengan peserta didik di kelas tersebut perlu menggunakan bahasa yang dapat di mengerti oleh semua peserta didiknya.

Kemudian ketika Pak Herman memberikan contoh-contoh untuk memperjelas tema yang sedang di bahasnya juga contoh yang dapat di mengerti dan di pahami oleh semuanya.

Karakteristik Siswa berdasarkan Usia

Usia yang di miliki peserta didik akan berkonsekuensi terhadap pendekatan pembelajaran, motode, media, dan jenis evaluasi yang di gunakan pendidik. Karakteristik Peserta Didik berdasarkan usia sama pentingnya dengan 2 karakteristik sebelumnya.

Ketika pendidik menghadapi peserta didik Taman Kanak-kanak pada umumnya berusia 5-6 tahun, sudah tentu akan berbeda pendekatan, metode, dan media yang digunakan ketika menghadapi peserta didik SD yang berusia 7-11 tahun, SMP yang usianya berkisar 12-14 tahun,SMA/SMK yang umumnya berusia 15-17 tahun, karena di lihat dari perkembangan intelektualnya saja jelas berbeda.

Menurut Piaget, Karakteristik Peserta Didik berdasarkan usia dapat dilihat dari proses perkembangan intelektual anak usia Taman Kanak-Kanak pada taraf pra operasional konkrit sedangkan peserta didik Sekolah Dasar berada pada tahap operasional konkrit, dan peserta didik Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas serta Sekolah Menengah Kejuruan pada tahap operasional formal.

Berdasarkan teori perkembangan kognitif Piaget tersebut, selanjutnya dapat di ketahui tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual. sebagai berikut:

  1. Bahwa perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya setiap manusia akan mengalami urutan tersebut dan dengan urutan yang sama;
  2. Bahwa tahap-tahap perkembangan di definisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokkan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual, dan
  3. Bahwa gerak melalui melalui tahap-tahap tersebut di lengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).

Fase perkembangan kognitif Piaget

Untuk selanjutnya fase-fase perkembangan intelektual peserta didik menurut pendapat Piaget dapat di cermati pada Tabel di bawah ini:

NoUsia/umur (Tahun)Fase PerkembanganPerubahan Perilaku
10 – 2Tahap Sensori motorKemampuan berfikir peserta didik baru melalui gerakan atau perbuatan. Perkembangan panca indera sangat berpengaruh dalam diri mereka.
Keinginan terbesarnya adalah keinginan untuk menyentuh/memegang, karena di dorong oleh keinginan untuk mengetahui reaksi dari perbuatannya.
Pada usia ini mereka belum mengerti akan motivasi dan senjata terbesarnya adalah “menangis”.
Memberi pengetahuan pada mereka usia ini tidak dapat hanya sekedar dengan menggunakan gambar sebagai alat peraga, melainkan harus dengan sesuatu yang bergerak.
22 – 7Tahap Pra-operasionalKemampuan skema kognitif masih terbatas, suka meniru perilaku orang lain, terutama meniru perilaku orang tua dan guru yang pernah ia lihat ketika orang itu merespon terhadap perilaku orang, keadaan dan kejadian, yang di hadapi pada masa lampau.
Mulai mampu menggunakan kata-kata yang benar dan mampu pula mengekspresikan kalimat pendek secara efektif
37 – 11Tahap Operasional KonkritPeserta didik sudah mulai memahami aspek-aspek kumulatif materi, misalnya volume dan jumlah; mempunyai kemampuan memahami cara mengkombinasikan beberapa golongan benda yang tingkatannya bervariasi.
Sudah mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa konkrit.
411 – 14Tahap operasional FormalTelah memiliki kemampuan mengkoordinasikan dua ragam kemampuan kognitif secara serentak maupun berurutan.
Misalnya kapasitas merumuskan hipotesis dan menggunakan prinsip-prinsip abstrak.
Dengan kapasitas merumuskan hipotesis peserta didik mampu berfikir memecahkan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan.
Sedang dengan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak, peserta didik akan mampu mempelajari materi pelajaran yang abstrak, seperti agama, matematika, dan lainnya

Karakteristik Peserta Didik berdasarkan Kultural

Setiap manusia selalu menjadi anggota masyarakat dan tentunya menjadi pendukung kebudayaan tertentu. Begitu juga peserta didik kita sebagai anggota suatu masyarakat memiliki budaya tertentu dan sudah barang tentu menjadi pendukung budaya tersebut.

Budaya yang ada di masyarakat kita sangatlah beragam, seperti kesenian, kepercayaan, norma, kebiasaan, dan adat istiadat. Hal ini sangat di mungkinkan karena Indonesia merupakan Negara kepulauan yang masing-masing memiliki budaya, bahasa, dan etnis masing-masing.

Peserta didik yang kita hadapi mungkin berasal dari berbagai daerah yang tentunya memiliki budaya yang berbeda-beda sehingga kelas yang kita hadapi kelas yang multikultural.

Pendidikan multikultural sebagaimana di ungkapkan Muhaemin el Ma’hady didefinisikan sebagai pendidikan tentang keberagaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan (global).

Pendidikan multikultural menurut Choirul Mahfud memiliki ciri-ciri:

  1. Tujuannya membentuk “manusia budaya” dan menciptakan manusia berbudaya (berperadaban).
  2. Materinya mangajarkan nilai-nilai luhur kemanusiaan, nilai-nilai bangsa, dan nilai-nilai kelompok etnis (kultural).
  3. Metodenya demokratis, yang menghargai aspek-aspek perbedaan dan keberagaman budaya bangsa dan kelompok etnis (multikulturalisme).
  4. Evaluasinya di tentukan pada penilaian terhadap tingkah laku anak didik yang meliputi aspek persepsi, apresiasi, dan tindakan terhadap budaya lainnya.

Atas dasar definisi dan ciri-ciri pendidikan multicultural tersebut di atas, seorang pendidik dalam melakukan proses pembelajaran harus mampu memperhatikan Karakteristik Peserta Didik berdasarkan keberagaman budaya yang ada di sekolahnya/kelasnya.

Contoh Penerapan Prinsip Kultural dalam Pembelajaran

Misalnya Pak Herman seorang pendidik di salah satu SMA, olehnya itu ketika menjelaskan materi pelajaran dan memberikan contoh-contoh perlu mempertimbangkan keberagaman budaya tersebut, sehingga apa yang di sampaikan dapat di terima oleh semua peserta didik, atau tidak hanya berlaku untuk budaya tertentu saja.

Karakteristik Peserta Didik berdasarkan kultural

Karakteristik siswa berdasarkan Status Sosial

Manusia di ciptakan Tuhan dengan di beri rizki seperti berupa pekerjaan, kesehatan, kekayaan, kedudukan, dan penghasilan yang berbeda-beda.

Kondisi seperti ini juga melatar belakangi peserta didik yang ada pada suatu kelas atau sekolah kita. Peserta didik pada suatu kelas biasanya berasal dari berbagai status sosial-ekonomi masyarakat.

Karakteristik Peserta Didik dapat di lihat dari latar belakang pekerjaan orang tua, di kelas kita terdapat peserta didik yang orang tuanya wirausahawan, pegawai negeri, pedagang, petani, dan buruh.

Dilihat dari sisi jabatan orang tua, ada peserta didik yang orang tuanya menjadi pejabat seperti presiden, menteri, gubernur, bupati, camat, kepala desa, kepala kantor atau kepala perusahaan.

Di samping itu ada peserta didik yang berasal dari keluarga ekonomi mampu, ada yang berasal dari keluarga yang cukup mampu, dan ada juga peserta didik yang berasal dari keluarga yang kurang mampu.

Peserta didik dengan bervariasi status ekonomi dan sosialnya menyatu untuk saling berinteraksi dan saling melakukan proses pembelajaran.

Perbedaan ini hendaknya tidak menjadi penghambat dalam melakukan proses pembelajaran. Namun tidak di pungkiri kadang di jumpai status sosial ekonomi ini menjadi penghambat dalam belajar secara kelompok.

Oleh karena itu pendidik dituntut untuk mampu mengakomodasi hal-hal seperti ini. Misal dalam proses pembelajaran pendidik jangan sampai membeda-bedakan atau diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada peserta didiknya.

Dan juga dalam memberikan tugas-tugas juga yang sekiranya mampu di selesaikan oleh semua peserta didik dengan latar belakang ekonomi sosial yang sangat beragam.

Karakteristik Peserta Didik berdasarkan aspek sosial

Karakteristik siswa berdasarkan Minat

Minat dapat di artikan suatu rasa lebih suka, rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas. Hurlock, E. menyatakan bahwa minat merupakan suatu sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan yang di pilihnya.

Apabila seseorang melihat sesuatu yang memberikan manfaat, maka dirinya akan memperoleh kepuasan dan akan berminat pada hal tersebut. Lebih lanjut Sardiman, menjelaskan bahwa minat sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri.

Oleh karena itu apa yang di lihat seseorang sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang dilihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingan orang tersebut. Atas dasar hal tersebut sebenarnya minat seseorang khususnya minat belajar peserta didik memegang peran yang sangat penting.

Oleh karena itu hendaknya terus ditumbuh kembangkan agar selalu tinggi. Namun sebagaimana kita ketahui bahwa minat belajar peserta didik tidaklah sama, ada peserta didik yang memiliki minat belajarnya tinggi, ada yang sedang, dan bahkan rendah. Untuk melihat peserta didik memiliki minat belajarnya tinggi atau tidak sebenarnya dapat di lihat dari indikator minat itu sendiri.

Indikator Karakteristik Peserta Didik berdasarkan Minat

Indikator Karakteristik Peserta Didik berdasarkan minat meliputi:

  1. perasaan senang,
  2. ketertarikan peserta didik,
  3. perhatian dalam belajar,
  4. keterlibatan siswa,
  5. manfaat dan fungsi mata pelajaran.

Perasaan senang

Perasaan senang, seseorang peserta didik yang memiliki perasaan senang ata suka terhadap mata pelajaran tertentu, misal mata pelajaran matematika, maka siswa tersebut akan terus belajar ilmu yang berkaiatan dengan matematika, tanpa ada perasaan terpaksa dalam belajar matematika tersebut.

Ketertarikan peserta didik

Ketertarikan peserta didik, ini berkaitan dengan daya gerak yang mendorong peserta didik untuk cenderung mersa tertarik pada orang, benda, kegiatan, dapat berupa pengalaman yang di rangsang oleh kegiatan itu sendiri,

Perhatian dalam belajar

Perhatian dalam belajar, perhatian atau konsentrasi dapat di artikan terpusatnya mental seseorang terhadap suatu objek. Peserta didik yang memiliki minat terhadap objek tertentu, maka peserta didik tersebut dengan sendirinya peserta didik tersebut akan memperhatikan objek tersebut.

Misal peserta didik memiliki minat pada seni musik maka peserta didik tersebut akan memperhatikan ketika terdengar bunyi musik, bahkan mendatangi konser-konser musik,

Keterlibatan belajar

Keterlibatan belajar, keterlibatan atau partisipasi peserta didik dalam belajar sangat penting, karena apabila peserta didik terlibat aktif dalam belajar maka hasilnya tentunya akan baik. Olehnya itu, keterlibatan belajar akan muncul manakala tertarik pada objek yang dipelajari yang kemudian merasa senang dan tertarik untuk melakukan kegiatan dari objek tersebut.

Manfaat dan fungsi mata pelajaran,

Manfaat dan fungsi mata pelajaran, jika manfaat dari apa yang dipelajari peserta didik dapat diketahui dan dipahami secara jelas, maka akan menumbuhkan motivasi peserta didik. Fungsi dari mata pelajaran tertentu sebenarnya tidak hanya untuk sekarang tapi bisa manfaat untuk masa mendatang, atau manfaat bukan hanya saat di sekolah tetapi bisa manfaat ketika sudah bekerja atau dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas, Karakteristik Peserta Didik berdasarkan minat belajar merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran, dan perlu untuk selalu ditingkatkan. Berbagai upaya perlu di lakukan pendidik untuk menumbuhkan minat belajar peserta didiknya di antaranya pendidik menyampaikan tujuan/manfaat mempelajari suatu tema/mata pelajaran, menggunakan media pembelajaran, dan menggunakan model pembelajaran inovatif.

Contoh penerapannya dalam pembelajaran

Seorang pendidik dari salah satu sekolah A, hari itu sudah di sepakti membahas tema H, Pada saat melakukan proses pembelajaran, di awal pembelajaran, terlebih dahulu mengemukakan tema yang akan di pelajarinya. Kemudian, menyampaikan tujuan pembelajaran yang di harapkan dimiliki, dan manfaat yang peserta didik setelah mempelajari tema H.

Untuk melihat kemampuan awal peserta didiknya, guru perlu memberikan pre tes terlebih dahulu. Setelah tahap-tahap tersebut di lakukan, maka selanjutnya Guru melakukan tahap inti yaitu membahas tema H melalui media permainan ular tangga yang menjadi kesukaannya tentang materi H yang telah di siapkan (Belajar melalui media permainan Ular Tangga).

Suasana kelas tampak antusias, aktif, dan menyenangkan. Setelah materi di pahami dan waktunya cukup maka Pak Herman mengakhiri pelajaran dengan kegiatan penutup.

Berdasarkan ilustrasi apa yang di lakukan Pak Herman tersebut peserta didik tumbuh minatnya untuk belajar. Dengan di milikinya minat belajar yang tinggi oleh peserta didik maka hasilnya tentunya akan baik.

Sumber Tulisan : Modul PPG dalam Jabatan Tahun 2019.

Baca Juga: Teori-teori Belajar

Demikian, semoga bermanfaat.
Salam Sehat.
Di tulis di My Coffee Makassar.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: