Hipotesis Penelitian Bidang Pendidikan

Hipotesis Penelitian dalam Bidang Pendidikan

HermanAnis.comHipotesis Penelitian Pendidikan, merupakan bagian penting dalam suatu penelitian. Jika hipotesis yang di rumuskan keliru maka akan berdampak pada pengambilan keputusan. Keputusan yang di ambil dapat keliru. Untuk itu maka tulisan ini bermaksud untuk mengaji secara teoretik bagamana cara merumuskan hipoteisis yang benar.

Baca Juga: Jenis Jenis Penelitian

Dewasa ini penggunaan hipotesis memungkinkan kita dalam usaha mencari pengetahuan, untuk memakai ide-ide para ahli filsafat induktif yang menekankan pengamatan, dan logika para ahli filsafat deduktif yang menekankan penalaran.

Pemakaian hipotesis telah telah dapat menyatukan pengalaman dan penalaran sehingga menghasilkan suatu alat yang amat besar manfaatnya dalam mencari kebenaran.

Baca Juga: Bagaimana Langkah-langkah Pengembangan Instrumen Penelitian Pendidikan?

A. Hipotesis

Sesudah menemukan dan mengemukakan permasalahan serta memeriksa bahan pustaka yang berkaitan, peneliti siap untuk menyususn suatu hipotesis. Hipotesis yang di rumuskan secara tepat sebagai suatu pernyataan sementara yang diajukan untuk memecahkan suatu masalah, atau untuk menerangkan suatu gejala.

Dalam bentuk sederhana, hipotesis mengemukakan pernyataan tentang harapan peneliti mengenai hubungan antara variable-variabel di dalam suatu persoalan. Hipotesis tersebut kemudian di uji di dalam penelitian.

Oleh karena itu, hipotesis ini di ajukan hanya sebagai saran pemecahan bagi masalah tersebut. Dengan pengertian bahwa penyelidikan selanjutnya yang akan membenarkan atau menolaknya. Sebagai contoh, seseorang dapat memulai dengan pertanyaan, apa peran persepsi anak-anak tentang diri mereka sendiri dalam proses belajar membaca?

Kemudian dari hal ini dapat di rumuskan suatu hipotesis bahwa ada hubungan positif antara persepsi anak-anak terhadap diri mereka sendiri dan hasil belajar membaca di kelas satu. Atau seseorang mungkin mulai dengan pertanyaan seperti, apa pengaruh latihan prasekolah terhadap hasil belajar anak-anak kelas satu yang memgalami hambatan kultur sekolah itu?

Hipotesisnya mungkin berbunyi, anak-anak yang mengalami hambatan cultural dan telah menerima latihan pra sekolah, akan memperoleh angka lebih tinggi di kelas satu dari pada anak-anak yang mengalami hambatan cultural tetapi tidak menerima latihan pra sekolah.

Dari kedua contoh di atas dapat di lihat bahwa hipotesis adalah suatu pernyataan yang menghubungkan dua variable. Berdasarkan contoh pertama, variable tersebut adalah persepsi diri dan hasil belajar membaca, sedangkan dalam contoh kedua, variable tersebut adalah latihan prasekolah dan hasil belajar di kelas satu.

Dari uraian di atas tampak bahwa hipotesis sangatlah penting kedudukannya dalam suatu penelitian, untuk itu pada bagian berikut ini akan di bahas mengenai hal-hal yang berkaitan langsung dengan pengertian hipotesis, fungsi atau manfaat dari hipotesis, karakteristik hipotesis, jenis dan bentuk hipotesis, cara merumuskan hipotesis, dan secara ringkas mengenai prosedur pengujian hipotesis.

Hipotesis Penelitian Bidang Pendidikan

Baca Juga: Populasi dan Sampel Penelitian

B. Hipotesis Menurut Ahli

Istilah hipotesis berasal dari bahasa Yunani, yaitu hupo dan thesis. Kata hupo berarti lemah, kurang, atau di bawah, sedangkan thesis, berarti teori, proposisi, atau pernyataan yang di sajikan sebagai bukti. Sehingga hipotesis dapat di artikan sebagai suatu pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan perlu di buktikan atau dugaan yang isfatnya masih sementara.

Trealese (1960) memberikan definisi hipotesis sebagai suatu keterangan sementara dari suatu fakta yang dapat di amati.

Good dan Scates (1954) menyatakan bahwa hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang di rumuskan serta di terima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang di amati ataupun kondisi-kondisi yang di amati dan di gunakan sebagai petunjuk untuk langkah-langkah selanjutnya.

Kerlinger (1973) menyatakan hipotesis adalah pernyataan yang bersifat terkaan dari hubungan antara dua atau lebih variabel. Jadi hipotesis adalah hasil dari tinjauan pustaka atau proses rasional dari penelitian yang telah mempunyai kebenaran secara teoritik. Namun demikian kebenaran hipotesis masih harus di uji secara empirik.

Oleh karena itu, hipotesis juga di anggap sebagai jawaban sementara terhadap masalah yang telah di rumuskan dalam suatu penelitian dan masih perlu di uji kebenarannya dengan menggunakan data empirik. Apabila peneliti telah mendalami permasalahan penelitiannya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar, maka lalu membuat suatu teori sementara, yang kebenarannya masih perlu di uji.

Sehingga peneliti akan bekerja berdasarkan hipotesis yang di ajukan. Peneliti mengumpulkan data-data yang paling berguna untuk membuktikan hipotesis. Berdasarkan data yang terkumpul, peneliti akan menguji apakah hipotesis yang di rumuskan dapat naik status menjadi teori, atau sebaliknya tumbang sebagai hipotesis, apabila ternyata tidak terbukti.

Hipotesis merupakan, yakni dugaan yang mungkin benar, atau mungkin juga salah. Dia akan di tolak jika salah atau palsu, dan akan di terima jika faktor-faktor membenarkannya. Penolakan dan penerimaan hipotesis, dengan begitu sangat tergantung kepada hasil-hasil penyelidikan terhadap faktor-faktor yang di kumpulkan.

Baca juga: Perbedaan Metode Kualitatif dan Kuantitatif

C. Pengertian Hipotesis

Pengertian Hipotesis adalah hasil proses teoretik atau proses rasional yang berbentuk pernyataan tentang karakteristik populasi. Hipotesis juga merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian yang ada pada perumusan masalah penelitian.

Di katakan sementara, karena jawaban yang di berikan baru di dasarkan teori yang relevan, belum di dasarkan atas fakta-fakta empiris yang di peroleh dari pengumpulan data. Sebagai hasil proses teori yang belum berdasarkan atas fakta, maka hipotesis masih perlu di uji kebenarannya dengan data empiris.

Hipotesis dapat juga di pandang sebagai konklusi yang sifatnya sangat sementara. Sebagai konklusi sudah tentu hipotesis tidak di buat dengan semena-mena, melainkan atas dasar pengetahuan-pengetahuan tertentu.

Pengetahuan ini sebagian dapat di ambil dari hasil-hasil serta problematika-problematika yang timbul dari penyelidikan-penyelidikan yang mendahului, dari renungan-renungan atas dasar pertimbangan yang masuk akal, ataupun dari hasil-hasil penyelidikan yang di lakukan sendiri.

Jadi dalam taraf ini mahasiswa cukup membuat konklusi dari persoalan-persoalan yang di ajukan dan merumuskannya dalam bentuk statemen (pernyataan). Setelah masalah penelitian berhasil di rumuskan dengan baik maka langkah berikutnya adalah mengajukan hipotesis yang di dasarkan dari kajian mendalam teori-teori yang relevan dengan variabel-variabel penelitian.

Agar sebuah kerangka teoretis meyakinkan maka argumentasi yang di susun dalam teori-teori yang di pergunakan dalam membangun kerangka berpikir harus merupakan pilihan dari sejumlah teori yang d ikuasai secara lengkap dengan mencakup perkembangan terbaru.

Hipotesis Penelitian dalam Bidang Pendidikan

Di samping itu, kerangka teori juga dapat di lakukan melalui pengkajian hasil-hasil penelitian yang relevan yang telah di lakukan peneliti lainnya. Hasil penelitian orang lain yang relevan di jadikan titik tolak penelitian kita dalam mencoba melakukan pengulangan, revisi, modidikasi, dan sebagainya.

Baca Juga: Jenis-jenis Penelitian Kuantitatif

D. Fungsi Hipotesis

Manfaat atau fungsi hipotesis yang di susun dalam suatu rencana penelitian, setidaknya ada empat yaitu:

  1. Hipotesis Penelitian memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
  2. Hipotesis Penelitian memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat di uji dalam penelitian
  3. Hipotesis memberikan arah kepada penelitian
  4. Hipotesis Penelitian memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan.

1. Memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.

Untuk dapat sampai pada pengetahuan yang dapat di percaya mengenai masalah pendidikan, peneliti harus melangkah lebih jauh dari pada sekedar mengumpukan fakta yang berserakan, untuk mencari generalisasi dan antar hubungan yang ada di antara fakta-fakta tersebut.

Antar hubungan dan generalisasi ini akan memberikan gambaran pola, yang penting untuk memahami persoalan. Pola semacam ini tidaklah menjadi jelas selama pengumpulan data di lakukan tanpa arah. Hipotesis yang telah terencana dengan baik akan memberikan arah dan mengemukakan penjelasan.

Karena hipotesis tersebut dapat di uji dan di validasi (pengujian kesahiannya) melalui penyelidikan ilmiah, maka hipotesis dapat mebantu kita untuk memperluas pengetahuan.  

2. Memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat di uji dalam penelitian

Pertanyaan tidak dapat di uji secara langsung. Penelitian memang di mulai dengan suatu pertanyaan, akan tetapi hanya hubungan antara variabel yang akan dapat duji.

Misalnya, peneliti tidak akan menguji pertanyaan apakah komentar guru terhadap pekerjaan murid menyebabkan peningkatan hasil belajar murid secara nyata“?

akan tetapi peneliti menguji hipotesis yang tersirat dalam pertanyaan tersebut “komentar guru terhadap hasil pekerjaan murid, menyebabkan meningkatnya hasil belajar murid secara nyata“ atau yang lebih spesifik lagi,

“skor hasil belajar siswa yang menerima komentar guru atas pekerjaan mereka sebelumnya akan lebih tinggi dari pada skor siswa yang tidak menerima komentar guru atas pekerjaan mereka sebelumnya“.

Selanjutnya peneliti, dapat melanjutkan penelitiannya dengan meneliti hubngan antara kedua vatiabel tersebut, yaitu komentar guru dan prestasi siswa.  

3. Memberikan arah kepada penelitian

Hipotesis merupakan tujuan khusus. Dengan demikian hipotesis juga menentukan sifat-sifat data yang di perlukan untuk menguji pernyataan tersebut.

Secara sangat sederhana, hipotesis menunjukkan kepada para peneliti apa yang harus di lakukan. Fakta yang harus di pilih dan di amati adalah fakta yang adahubungann nya dengan pertanyaan tertentu.

Hipotesislah yang mentukan relevansi fakta-fakta itu. Hypotesis ini dapat memberikan dasar dalam pemilihan sampel serta prosedur penelitian yang harus di pakai.

Hipotesis jufga dapat menunjukkan analisis satatistik yang di perlukan dan hubungannya yang harus menunjukkan analisis statistik yang di perlukan agar ruang lingkup studi tersebut tetap terbatas, dengan mencegahnya menjadi terlalu sarat.

Sebagi contoh, lihatlah kembali hipotesis tentang, latihan pra sekolah bagi anak-anak kelas satu yang mengalami hambatan kultural.

Hipotesis ini menunjukkan metode penelitian yang di perlukan serta sampel yang harus di gunakan. Hipotesis inipun bahkan menuntun peneliti kepada tes statistik yang mungkin di perlukan untuk menganalisis data.

Dari pernyataan hipotesis itu, jelas bahwa peneliti harus melakukan eksperimen yang membandingkan hasil belajar di kelas satu dari sampel siswa yang mengalami hambatan kultural dan telah mengalami program pra sekolah dengan sekelompok anak serupa yang tidak mengalami progaram pra sekolah.

Setiap perbedaan hasil belajar rata-rat kedua kelompok tersebut dapat di analaisis denga tes atai teknik analis variansi, agar dapat di ketahui signifikansinya menurut statistik.  

4. Memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan.

Akan sangat memudahkan peneliti jika mengambil setiap hipotesis secara terpisah dan menyatakan kesimpulan yang relevan dengan hipotesis tersebut.

Artinya, peneliti dapat menyusun bagian laporan tertulis ini di seputar jawaban-jawaban terhadap hipotesis semula, sehingga membuat penyajian ini lebih berarti dan mudah di baca.  

Penetapan hipotesis dalam sebuah penelitian memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
  2. Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
  3. Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
  4. Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta.

Oleh karena itu kualitas manfaat dari hipotesis tersebut akan sangat tergantung pada:

  1. Pengamatan yang tajam dari si peneliti terhadap fakta-fakta yang ada.
  2. Imajinasi dan pemikiran kreatif dari si peneliti.
  3. Kerangka analisa yang di gunakan oleh si peneliti.

E. Jenis Hipotesis Penelitian Pendidikan

Ada dua jenis hipotesis yang di gunakan dalam penelitian antara lain :  

1. Hipotesis kerja atau alternatif, di singkat Ha

Hipotesis alternatif di posisikan sebagai bentuk batasan ilmu pengetahuan setelah di peroleh dari hasil kajian teoritis. Mereka dapat di gunakan untuk menempatkan bentuk pernyataan lain selain hipotesis nol (nihil).

Hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok. Rumusan hipotesis kerja

  1. Jika… Maka…
  2. Ada perbedaan antara… Dan… Dalam…
  3. Ada pengaruh… Terhadap…  

2. Hipotesis nol (null hypotheses) di singkat Ho

Hypotesis ini menyatakan tidak ada perbedaan antara dua variabel, atau tidak adanya pengaruh variabel X terhadap variabel Y.

Rumusannya:

a) Tidak ada perbedaan antara… Dengan… Dalam…
b) Tidak ada pengaruh… terhadap…

Bentuk-bentuk hipotesis penelitian sangat terkait dengan rumusan masalah penelitian. Bila di lihat dari tingkat eksplanasinya, maka bentuk rumusan masalah penelitian ada tiga yaitu: rumusan masalah deskriptif (Variabel mandiri), Komparatif (perbandingan), dan asosiasif (hubungan).

F. Bentuk Hipotesis Penelitian Pendidikan

Oleh karena itu, maka bentuk hipotesis penelitian juga ada tiga yaitu hipotesis deskriptif, komparatif, dan asosiaif/hubungan.

1. Hipotesis Penelitian deskriptif

Hipotesis deskriptif, adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah deskriptif, hipotesis komparatif merupakan jawaban sementara terhadap masalah komparatif, dan hipotesis asosiasif adalah jawaban sementara terhadap masalah asosiasif.  

Hypotesis deskritif merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif, yaitu yang berkenaan dengan variable mandiri.

Contoh:

  • Rumusan Masalah Deskriptif Berapa lama daya tahan berdiri karyawan took lulusan SMK?
  • Hipotesis Deskriptif Daya tahan berdiri karyawan toko lulusan SMK sama dengan 6 jam/hari (H0).
    Ini merupakan hipotesis nol, karena daya tahan berdiri karyawan lulusan SMK yang ada pada sample di harapkan tidak berbeda secara signifikan dengan daya tahan yang ada pada populasi, (angka 6 jam/hari merupakan angka hasil pengamatan sementara).
    Hypotesis alternatifnya adalah daya tahan karyawan took lulusan SMK tidak sama dengan 600 jam, tidak sama dengan dapat berarti lebih besar ataupun lebih kecil.  
  • Hipotesis Statistik

2. Hipotesis komparatif  

Hypotesis komparatif merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah komparatif. Pada rumusan ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya yang berbeda, atau keadaan itu terjadi pada waktu yang berbeda.

Contoh:

  • Rumusan masalah Komparatif
  • Bagaimana prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X bila di bandingkan dengan Perguruan Tinggi Y?
  • Hipotesis Komparatif

Berdasarkan rumusan masalah komparatif tersebut dapat di kemukakan tiga model hipotesis nol dan alternative sebagi berikut:  

a. Hipotesis Nol (H0)

  • Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X dengan Perguruan Tinggi Y, atau terdapat persamaan prestasi belajar antara mahasiswa Perguruan Tinggi X dan Y
  • Prestasi mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih besar atau sama dengan Perguruan Tinggi Y (lebih besar atau sama artinya paling sedikit)
  • Prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih kecil atau sama dengan Perguruan Tinggi Y (lebih kecil atau sama dengan artinya paling banyak (besar))  

b. Hipotesis Alternatif (Ha)

  • Prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih besar (atau lebih kecil) dari Perguruan Tinggi Y
  • Hasil belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih kecil dari pada Perguruan Tinggi Y
  • Prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih besar dari pada Perguruan Tinggi Y  

3. Hipotesis Asosiasif

Hipotesis Asosiasif adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiasif, yaitu yang menyatakan hubungan antara dua variable atau lebih.

Contoh:

a. Rumusan masalah Asosiasif

Adakah hubungan yang positif dan signifikan antara kepemimpinan kepemimpinan kepala sekolah dengan iklim kerja sekolah?

b. Hipotesis Penelitian Asosiasif

Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan iklim kerja sekolah.

G. Cara Merumuskan Hipotesis Penelitian

Dalam merumuskan suatu hipotesis, penting untuk di ketahui alasan hipotesis tersebut harus di buat, ada dua alasannya yaitu:

  1. Hipotesis yang mempunyai dasar yang kuat menunjukkan bahwa peneliti telah mempunyai cukup pengetahuan untuk melakukan penelitian di bidang tersebut
  2. Hipotesis memberikan arah pada pengumpulan dan penafsiran data, hipotesis dapat menunjukkan kepada prosedur apa yang harus di ikuti dan jenis data apa yang harus di kumpulkan.

Dengan demikian dapat d icegah terbuang sia-sianya waktu dan jerih payah peneliti. Perlu di tekankan bahwa hal ini berlaku bagi semua jenis studi penelitian, tidak hanya yang bersifat eksperimen saja.

Berdasarkan kajian teoretis dan hasil-hasil penelitian yang relevan, maka tahap berikutnya peneliti menyusun kerangka berpikir yang mengarahkan perumusan hipotesis. Dengan demikian produk akhir dari proses pengkajian kerangka teoretis adalah perumusan hipotesis.

Secara ringkas, langkah penyusunan kerangka teoretis dan pengajuan hipotesis dapat di bagi ke dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

  1. Pengkajian mengenai teori-teori ilmiah yang akan di pergunakan dalam analisis.
  2. Pembahasan mengenai penelitian-penelitian lain yang relevan.
  3. Penyusunan kerangka berpikir dengan mempergunakan premispremis sebagaimana yang terkandung dalam teori dan hasil penelitian tersebut dengan menyatakan secara tersurat pernyataan, postulat, asumsi, dan prinsip yang di pergunakan.
  4. Perumusan hipotesis. Dalam merumuskan suatu hipotesis sering muncul pertanyaan, dari mana peneliti mendapatkan hipotesis?.

Seperti yang telah di kemukan pada uraian sebelumnya, penyelidikan dapat berasal dari masalah-masalah praktis, dari situasi tingkah laku yang di amati dan yang memerlukan penjelasan, dari penelitian sebelumnya, atau yang lebih bermanfaat lagi, dari teori pendidikan.

Hipotesis Penelitian Bidang Pendidikan

Dengan demikian berdasarkan cara memperolehnya di bagi atas dua yaitu hipotesis yang di peroleh secara induktif dari pengamatan tingkah laku dan hipotesis yang d iperoleh secara deduktif dari hasil-hasil penelitian sebelumnya.  

1. Hipotesis Penelitian Induktif

Dalam prosedur induktif, peneliti merumuskan hipotesis sebagai suatu generalisasi dari hubungan-hubungan yang di amati.

Maksudnya adalah peneliti malakukan pengamatan terhadap tingkah laku, memperhatikan kecenderungan-kecenderungan atau kemungkinan adanya hubungan-hubungan, dan kemudian merumuskan penjelasan sementara tentang tingkah laku yang di amatinya.

Sudah barang tentu proses penalaran ini hendaknya di sertai dengan pengkajian hasil penelitian lain mengenai masalah tersebut. Prosedur induktif merupakan sumber hipotesis yang sangat berguna bagi guru-guru kelas.

Para guru dapat mengamati tingkah laku peserta didik setiap hari dan mencoba menghubungkannya dengan tingkah laku guru itu sendiri, dengan tingkah laku peserta didik lain, dengan metode mengajar yang di pakai, dengan perubahan-perubahan di lingkunagan sekolah, dan sebagainya.

Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan mereka tentang tingkah laku di sekolah, guru tersebut secara induktif dapat merumuskan suatu generalisasi yang mencoba menjelaskan hubungan dari fakta-fakta yang di temukan atau yang di amati.

Namun validitas penjelasan ini harus di tetapkan, sehingga dapat menjadi hipotesis bagi penyelidikan ilmiah. Mungkin seorang guru mengamati adanya kegelisahan di kalangan peserta didik yang disebabkan oleh tes-tes di dalam kelas. Hal ini berakibat tidak baik terhadap hasil tes para peserta didik.

Di samping itu ia juga melihat bahwa jika siswa diberikan kesempatan untuk menuliskan komentar mereka terhadap soal-soal obyektif, maka tes mereka tampak lebih baik. Guru tersebut beranggapan bahwa kebebasan memberikan komentar ini, entah bagaimana pasti telah membantu meredakan ketegangan mereka. Sebagai akibatnya hasil tes mereka akan lebih baik.

Pengamatan ini mendorong timbulnya hipotesis peserta didik yang di beri kesempatan menuliskan komentar mereka tentang soal obyektif pada lembar jawaban mereka, akan mencapai skor lebih tinggi daripada peserta didik yang tidak di berikan kesempatan menuliskan komentar mereka.

Guru tersebut kemudian dapat merencanakan suatu eksperimen untuk menguji validitas hipotesis ini.

Perhatikan bahwa hipotesis tersebut mengungkapkan keyakinan akan hubungan antara dua variabel yaitu menuliskan komentar tentang soal-soal tes dan hasil tes.

Perhatikan bahwa variabel ketegangan yang merupakan bagian dari rantai induktif menuju ke hipotesis tidak lagi menjadi bagian dari hipotesis akhir.

Hubungan antara ketegangan dan komentar, serta ketegangan dan hasil tes dapat menjdi bahan hipotesis yang harus di selidiki berikutnya. Acapkali orang akan mendapati gagasan tadi meliputi serangkaian hubungan yang tidak dapat di amati secara langsung.

Oleh karena itu orang lalu merumuskan kembali pertanyaan pertanyaan itu agar bertitik pusat pada hubungan-hubungan yang dapt di amati secara langsung.

Berikut ini beberapa contoh sederhana tentang hipotesis ilain yang mungkin berasal dari pengamatan seoarang guru, komentar guru terhadap pekerjaan siswa menjurus pada semakin membaiknya pekerjaan-pekerjaan tersebut berikutnya. Pengunaan metode diskusi mengakibatkan hasil belajar kelompok lebih tinggi dalam ilmu ekonomi konsumen jika di bandingkan dengan metode ceramah.

Penggunaan nasehat otoriter, dan bukan konsultasi tak terarah oleh pembimbing akan meningkatkan pengungkapan diri oleh si terbimbing. Anak-anak akan mencapai skor lebih tinggi dari pada ujian akhir hasil belajar membaca di kelas satu jika mereka di ajar dengan kelompok kecil dari pada dalam kelompok besar.

Dalam proses induktif peneliti melakukan pengamatan, memikirkan persoalan, membaca bahan pustaka untuk mencari petunjuk, melakukan pengamatn tambahan, dan kemudian merumuskan hipotesis yang mencoba menjelaskan tingkah laku yang sedang di amati.

Hipotesis tersebut kemudian di uji dalam kondisi yang terkendali untuk menyelidiki secara ilmiah asumsi guru tentang hubungan antara variabel-variabel tersebut. Penyelidikan terhadap hipotesis induktif yang berasal dari persoalan sehari-hari, sering dapat membantu untuk menunjukkan pemecahan persoalan-persoalan seperti itu.

Akan tetapi, karena hipotesis itu berasal dari masalah-masalah lokal yang bersifat khusus, maka dari hasil hipotesis semacam ini sering menjurus pada serangkaian hasil yang mempunyai daya penjelas yang terbatas, kendatipun ada gunanya.

2. Hipotesis Deduktif

Berbeda dengan hipotesis yang di rumuskan sebagai generalisasi dari hubungan yang diamati, ada hipotesis yang di tarik secara deduktif dari teori.

Hipotesis ini mempunyai kelebihan dapat mengarah kepada sistem pengetahuan yang lebih umum, karena kerangka untuk menempatkannya secara berarti kedalam bangunan pengetahuan telah ada dalam teori itu sendiri.

Ilmu tidak dapat berkembang secara efisien kalau setiap studi tetap merupakan upaya yang terpisah-pisah, ilmu menjadi kumulatif dengan membangun di atas kumpulan fakta dan teori yang ada.

Hipotesis yang berasal dari suatu teori di kenal dengan hipotesis deduktif. Seperti telah di bicarakan sebelumnya dalam bentuk yang sederhana, teori menyatakan hubungan-hubungan yang di percaya ada dalam kumpulan fakta-fakta yang komprehensif.

Kebanyakan teori bukan merupakan spekulasi belaka, melainkan di bangun di atas fakta-fakta yang sudah di ketahui serta memberikan kerangka untuk meramalkan apa yang masih belum di ketahui. Kemudian melalui penalaran deduktif dari suatu teori, di rumuskanlah hipotesis-hipotesis.

Dalam tahap pembentukan hipotesis, apakah deduksi-deduksi ini benar atau tidak. Data empiris mengenai hipotesis tersebut harus di peroleh. Apabila data tersebut mendukung hipotesis, maka hasil penelitian tersebut kemudian dapat di masukkan kedalam teori.

Proses ini berfungsi sebagai teknik untuk menguji kemampuan suatu teori. Peneliti dapat memulai penyelidikan dengan memilih salah satu teori yang terdapat di bidang yang menarik minatnya. Setelah teori di pilih, peneliti lalu menarik hipotesis dari teori tersebut.

Pendekatan yang paling banyak di gunakan ialah menggunkan cara berpikir deduktif untuk dapat sampai pada akibat logis dari teori yang bersangkutan. Deduksi ini kemudian di jadikan hipotesis dalam suatu penelitian.

Sebagai contoh, salah satu postulat dalam teori Mc. Clelland tentang motivasi adalah bahwa intensitas motif prestasi adalah fungsi pendidikan yang secara proporsional terhadap kebebasan dan swasembada.

Dari postulat ini peneliti dapat sebagai konsekuensi logisnya yaitu dengan mengemukakan hipotesis anak-anak yang orang tuanya membatasi kebebasan mereka akan memperoleh skor yang lebih rendah pada tugas-tugas di mana jumlah pekerjaan yang di lakukan merupakan fungsi dari motivasi mereka, bila di bandingkan dengan anak-anak yang orang tuanya tidak membatasi kebebasan mereka.

Piaget menyatakan bahwa, dalam perkembangan mental mereka, anak-anak melalui berbagai tahapan. Salah satu di antaranya adalah tahapan operasi kongkrit, yang di mulai pada umur 7 atau 8 tahun dan di tandai oleh peraliahan dari yang semual tergantung kepada persepsi menjadi mampu menggunakan operasi logis.

Dengan menggunakan teori ini sebagai titik awal, peneliti dapat mengemukakan hipotesis yaitu proporsi anak usia 9 tahun yang akan dapat menjawab teopat pertanyaan yang bersifat kesimpulan transitif.

Ali lebih tinggi daripada udin, udin lebih tinggi daripada hasan, siapakah yang lebih tinggi?. Akan lebih besar dari pada proporsi anak usia 6 tahun yang dapat menjawab ertanyaan tersebut dengan tepat.

Dalam penyelidikan yang dirancang untuk menguji deduksi dari suatu teori, sangat penting di periksa apakah ada kesenjangan logis yang menyela diantara teori dan hipotesis. Peneliti harus bertanya apakah hipotesis tersebut secara logis berasal dari teori?.

Jika hipotesis tersebut tidak berasal dari teori maka peneliti tidak dapat mencapai kesimpulan yang valid tentang kelayakan teori tersebut.

Jika hipotesis tersebut di dukung oleh data, tetapi tidak secara teliti di simpulkan dari teori, maka peneliti tidak dapat mengatakan bahwa hasil penyelidikan ini memberikan kredibilitas pada teori tersebut. Sebaliknya, jika hipotesis tersebut tidak di dukung oleh data, teori yang menjadi asal hipotesis tersebut tidak selalu berarti kurang dapat di percaya.

Memang benar bahwa hipotesis yang dapat di simpulkan dari teori-teori terkenal telah banyak yang sudah di uji. Namun, banyak deduksi semacam itu yang tetap harus di lakukan dan di uji. Juga deduksi yang sudah di teliti sebelumnya dapat di pakai untuk menghasilkan hipotesis-hipotesis dalam keadaan yang lebih beragam sehingga dapat memperluas penerapan teori.

Apabila ketiga hal tersebut dapat di buktikan, maka hipotesis yang di rumuskan mempunyai kedudukan yang kuat dalam penelitian. G.E.R Brurrough mengatakan bahwa penelitian berhipotesis penting di lakukan bagi :

  1. Penelitian menghitung banyaknya sesuatu
  2. Research atau penelitian tentang perbedaan
  3. Penelitian hubungan.

H. Sumber-sumber untuk Menggali Rumusan Hipotesis

Hipotesis penelitian dapat di rumuskan melalui jalur:

  1. Membaca dan menelaah ulang (review) teori dan konsep-konsep yang membahas variabel-variabel penelitian dan hubungannya dengan proses berfikir deduktif.
  2. Membaca dan mereview temuan-temuan penelitian terdahulu yang relevan dengan permasalahan penelitian lewat berfikir induktif.  

Untuk itu, peneliti harus:

  1. Mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin di pecahkan dengan jalan banyak membaca literatur-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang di laksanakan.
  2. Mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang di selidiki.
  3. Memiliki kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya yang sesuai dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan.
  4. Menerima keputusan seperti apa adanya seandainya hipotesisnya tidak terbukti (pada akhir penelitian).
  5. Mengganti hipotesis seandainya melihat tanda-tanda tanda bahwa data yang terkumpul tidak mendukung terbuktinya hipotesis (pada saat penelitian berlangsung).

Good dan Scates memberikan beberapa sumber untuk menggali hipotesis:

  1. Ilmu pengetahuan dan pengertian yang mendalam tentang ilmu
  2. Wawasan serta pengertian yang mendalam tentang suatu wawasan
  3. Imajinasi dan angan-angan
  4. Materi bacaan dan literatur
  5. Pengetahuan kebiasaan atau kegiatan dalam daerah yang sedang di selidiki.
  6. Data yang tersedia
  7. Kesamaan.  

Sebagai kesimpulan, maka beberapa petunjuk dalam merumuskan hipotesis dapat di berikan sebagai berikut :

  1. Hipotesis harus di rumuskan secara jelas dan padat serta spesifik.
  2. Hypotesis sebaiknya di nyatakan dalam kalimat deklaraif dan berbentuk pernyataan.
  3. Hipotesis sebaiknya menyatakan hubungan antara dua atau lebih variabel yang dapat di ukur.
  4. Hendaknya dapat di uji
  5. Hipotesis sebaiknya mempunyai kerangka teori.  

Untuk mengetahui kedudukan hipotesis antara lain:

  1. Perlu di uji apakah ada data yang menunjuk hubungan variabel penyebab dan variabel akibat.
  2. Adakah data yang menunjukkan bahwa akibat yang ada, memang di timbulkan oleh penyebab itu.
  3. Adanya data yang menunjukkan bahwa tidak ada penyebab lain yang bisa menimbulkan akibat tersebut.

I. Karakteristik Hipotesis Penelitian

Sesudah hipotesis untuk semntara di rumuskan maka, sebelum pengujian yang sebenarnya di lakukan, potensi hipotessi itu sebagai alat penelitian harus di nilai terlebih dahulu. Hipotesis harus memenuhi kriteria penerimaan tertentu.

Harga terakhir suatu hipotesis tidak dapat di nilai sebelum di lakukan pengujian empiris, namun ada beberapa kriteria tertentu yang dapat memberikan ciri hipotesis yang baik. Peneliti hendaknya menggunakan kriteria-keriteria tersebut untuk menilai kelayakan hipotesis yang di ajukan.

  1. Hipotesis Penelitian harus mempunyai daya penjelas
  2. Hipotesis harus menyatakan hubungan yang di harapkan ada di antara variabel-variabel
  3. Hipotesis Penelitian harus dapat diuji
  4. Hipotesis hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada
  5. Hipotesis hendaknya dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin

1. Hipotesis Penelitian harus mempunyai daya penjelas

Suatau hipotesis harus merupakan penjelasan yang mungkin mengenai apa yang seharusnya di terangkan. Ini adalah ktriteria yang sudah jelas dan penting.

Sebagai contoh, misalkan anda mencoba menstater mesin mobil anda, ternyata mesin tidak mau hidup. Hipotesis yang menyatakan bahwa mesin tidak mau hidup karena anda membiarkan air di kamar mandi mengalir keselokan, bukan merupakan penjelasan tepat.

Hypotesis yang mengatakan bahwa akinya mati adalah penjelasan yang tepat dan perlu di uji.

2. Hipotesis harus menyatakan hubungan yang di harapkan ada di antara variabel-variabel

Suatu hipotesis harus menerka atau menduga hubungan antara dua atau lebih variabel. Dalam contoh kita di atas, tidak ada gunanya kita menyatakan bahwa “mesin mobil tersebut tidak akan hidup dan mesin mobil itu mempiunyai jaring-jaring kabel”.

Karena sama sekali tidak ada hubungan antara variabel-variabel yang di sebutkan itu. Sehingga tidak ada hubungan yang akan di ajukan untuk di uji.

Hipotesis yang baik akan berbunyi “mesin mobil tidak mau hidup karena ada ketidak bersan pada jaringan kabelnya”.

Kelihatannya kriteria ini sangat jelas tetapi lihat pernyataan berikut ini apabila anak-anak berbeda satu sama lain dalm konsep diri, mereka akan berbeda satu sama lain pula dalam hasil belajar ilmu pengetahuan sosial.

Pernyataan ini tampaknya seperti suatu hipotesis, sampai anda sadar bahwa tidak ada pernyataan apapun tentang hubungan yang di harapkan.

Hubungan yang di harapkan dapat di tuliskan dalam bentuk pernyataan konsep diri yang tinggi mungkin merupakan penyebab hasil belajar yang lebih tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan sosial.

Hipotesis itu kemudian di rumuskan akan terdapat hubungan positif atara konsep diri dan hasil belajar ilmu pengetahuan sosial.

Jika yang di ramalkan adalah yang sebaliknya yakni konsep diri yang lebih tinggi menjurus pada hasil belajar ilmu pengetahuan sosial yang lebih rendah, maka hipotesis itu akan berbunyi akan terdapat hubungan negatif antara konsep diri dan hasil belajar ilmu pengetahuan sosial. Kedua pernyataan itu masing-masing akan memenuhi kriteria yang kedua ini.

3. Hipotesis Penelitian harus dapat diuji

Di katakan bahwa sifat terpenting dari hiotesis yang baik adalah kemampuannya untuk di uji. Suatu hipotesis yang dapat di uji berarti daat di tahkikan (verifiable) artinya, deduksi, kesimpulan, dan prakiraan dapat di tarik dari hipotesis tersebut sedemikian rupa, sehingga dapat di lakukan pengamatan empiris yang akan mendukung atau tidak mendukung hipotesis tersebut.

Kalau hipotesis ini benar, maka beberapa akibat tertentu yang dapat di ramalkan harus tampak nyata. Hipotesis yang dapat di uji memungkinkan peneliti menetapkan, berdasarkan pengamatan, apakah akibat yang tersirat secara deduktif itu benar-benar terjadi atau tidak.

Kalau tidak demikian tidak mungkin kita akan dapat mengukuhkan atau tidak mengkuhakan hipotesis tersebut. Dalam contoh kita, hipotesisnya “kerusakan mesin mobil itu adalah hukuman dosa-dosa saya“ rupanya tidak dapat di uji di dunia ini.

Banyak hipotesis tau proposisi (pernyataan) yang pada dasarnya tidak dapat di uji. Misalnya hipotesis pendidikan taman kanak-kanak meningkatkan penyesuaian diri anak sekolah dasar secara menyeluruh“ akan sangat sulit di uji karaena sangat sulit merumuskan dan mengukur penyesuaian diri secara menyeluruh ini.

Contoh yang lain hipotesis yang berbunyi “penggunaan karya Ditto dalam mata pelajaran seni, mematikan kreatifitas seni anak“, dalam hal ini kesulitan itu dapat berupa perumusan dan pengukuran kreativitas seni, di samping petnetapan kriteria untuk mentukan apakah telah terjadi proses pematian kreativitas atau tidak.

Agar dapat di uji hipotesis harus menghubungkan variabel-variabel yang dapat di ukur. Apabila tidak terdapat alat atau cara untuk mengukur variabel-variabel itu, maka kita tidak mungkin dapat mengumpulkan data yang di perlukan untuk menguji validitas hipotesis tersebut.

Ini tidak melebih-lebihkan, jika peneliti dapat merumuskan secara spesifik indikator tiap-tiap variabel dan kemudian mengukur variabel-variabel ini, maka hipotesis itu tidak dapat di uji.

Indikator variabel tersebut di sebut batasan operasional. Seperti telah di terangkan sebelumnya batasan operasional adalah batasan yang menetapkan suatu variabel dengan menyatakan opresi atau prosedur yang di perlukan untuk mengukur variabel tersebut.

Agar hipotesis ini memenuhi kriteria dapat di terima, maka variabel-variabel dalam hipotesis ini harus di defenisikan secara operasional.

Sebagai contoh hipotesis yang berbunyi “ada hubungan positif antara rasa harga diri anak dan hasil belajar membacanya di kelas satu”.

Rasa harga diri mungkin di rumuskan sebgai skor yang di peroleh pada skal harga diri (menurut Coppersmith), sedangkan hasil belajar membaca di rumuskan sebagai skor yang di peroleh pada tes membaca dari california atau penilaian hasil belajar membaca yang di lakukan oleh guru-guru kelas satu.

Pertimbangan pertama dalam perumusan hipotesis adalah memastikan vabhwa variabel-variabel dalam hipotesis tersebut telah di beri batasan secara operasional.

Hindarilah pemakaian pengertian yang akan sulit atau tidak mungkin di ukur secara memadai. Pengertian-pengertian seperti kreativitas, otoriterisme, demokrasi, dan sebagainya telah mempunyai arti yang macam-macam, sehingga kesepakatan mengnai batasan-batasanoperasioanl konsep semacam itu akan sulit di capai, atau bahkan tidak mungkin salma sekali.

Ingatlah bahwa variabel harus di rumuskan berdasarkan tingkah laku yang dapat di identifikasi dan di amati. Perlu di hindari adanya pernyataan nilaidalam hipotesis.

Pernyataan seperti suatu program penyulahan di sekolah dasar sangat di perlukan tidak dapat di selidiki dalam studi penelitian. Akan tetapi hipotesis murid-murid SD yang telah menerima penyuluhan akan mengungkapkan secara lisan rasa puas yang lebih besar terhadap sekolah mereka dari pada mereka yang tidak menerima penyuluhan, ini merupakan hipotesis yang dapat di uji.

Kita dapat mengukur kepuasan secara lisan, tetapi apakah haltersebut di perlukan atau tidak, hal tersebut merupakan pertimbangan nilai.

4. Hipotesis hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada

Hipotesis yang di kemukakan hendaknya tidak bertentangan dengan hipotesis, teori, dan hukum-hukum yang sebelumnya sudah mapan. Hypotesis “mobil saya tidak mau hidup karena air akinya berubah menjadi emas“, pernytaan ini memenuhi tiga kriteria yang pertama, tetapi bertentangan dengan apa yang di ketahui orang tentang sifat-sifat benda, sehingga orang tidak akan menyelidiki hipotesis tersebut.

Hipotesis “mobil itu tidak mau hidup karena air akinya telah meluap sampai ketingkat rendah” sesuai atau konsisten dengan pengetahuan sebelumnya, dan karena itu perlu di selidiki.

Mungkin tidak akan ada gunanya membuat hipotesis tentang tiadak adanya hubungan antara konsep diri anak-anak remaja dan kecepatan pertumbuhan badan mereka, karena bukti-bukti yang mendukung hubungan semacam itu sudah terlalu banyak.

Dalam sejarah ilmu pengetahuan di ketahui bahwa orang-orang seperti Einstein, Newton, Darwin, Copernicus, dan lain-lainnya telah mengmabngkan hipotesis yang benar-benar revolusioner dan bertentangan dengan pengetahuan yang telah di terima orag pada masa itu.

Tetapi, harus di ingat bahwa karya para pelopor itu bukan merupakan penolakan sama sekali terhadap pengethuan sebelumnya, karena penemuan mereka merupakan penataan kembali pengetahuan terdahulu menjadi teori yang lebih memuaskan.

Dalam banyak hal, terutama bagi peneliti pemula, di anjurkan agar hipotesis yang akan di buat dan di sesuaikan dengan pengetahuan yang sudah mapan di bidang itu. Sekali lagi, hal ini menunjukkan pentingnya pemeriksaan kepustakaan yang mendalam, sehingga hipotesis-hipotesis itu akan dapat di rumuskan berdasarkan penelitian-penelitian di bidang tersebut yang telah di laporkan sebelumnya.

5. Hipotesis hendaknya dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin

Menyatakan hipotesis secara sederhana bukan saja memudahkan pengujian hipotesis tersebut, melainkan juga dapat menjadi dasar bagi enyusunan laporan yang jelas dan mudah di mengerti pada akhir penyelidikan. Seringkali kita perlu memecah hipotesis yang sangat umum menjadi beberapa hipotesis khusus, agar menjadi jelas dan dapat di uji.

Juga di sarankan agar bahasa atau istilah yang di pakai dalam hipotesis tersebut sederhana, sehingga dapat di terima untuk menyampaikan maksud yang di kehendaki. Banyak rumusan hipotesis yang di tolak sesudah di uji secara empiris. Hipotesis tersebut adalah ramalan yang tidak di dukung oleh data.

Dalam sejarah enelitian ilmiah, hipotesis yang tidak berhasil di dukung oleh data jauh lebih banyak dari pada hipotesis yang di dukung oleh data. Para peneliti yang telah berpengalaman sadar bahwa hipotesis yang di tolak itu merupakan bagian dari pengalaman ilmiah yang telah di perkirakan dan juga berguna.

Hipotesis yang di tolak itu dapat menyebabkan di tinjaunya kembali teori itu dan sering dapat meberikan keterangan yang lebih dekat danlebih besar mengenai keadaan yang sebenarnya. Hypotesis yang tidak di dukung oleh data apapun mungkin ada gunanya, karena hipotesis tersebut menunjukkan perlunya di pertimbangkan aspek-aspek lain dari suatu masalah.

Dengan demikian dapat membawa peneliti selangkah lebih dekat kepada penjelasan yang dapat di terima. Dalam merumuskan hipotesis yang pertama harus di perhatikan adalah menghindari kekaburan atau ketidakjelasan.

Meskipun suatu hipotesis telah mendapat dukungan data, tidak berarti bahwa hipotesis tersebut terbukti benar, kecuali dalam hal induksi sempurna. Hipotesis hanya dapat di nyatakan di dukung atau tidak di dukung oleh data.

Hipotesis pada dasarnya bersifat mungkin, bukti-bukti empiris yang di peroleh dapat membuat peneliti berkesimpulan bahwa penjelasan tersebut mungkin benar, atau bahwa ia pantas menerima hipotesis tersebut, tetapi tidak pernah membuktikan hipotesis.

J. Pengujian Hipotesis Penelitian Pendidikan

Sesudah hipotesis di rumuskan, hipotesis tersebut kemudian du ji secara empiris dan tes logika. Untuk menguji suatu hipotesis, peneliti harus:  

  1. Menarik kesimpulan tentang konsekuensi-konsekuensi yang akan dapat di amati apabila hipotesis tersebut benar.  
  2. Memilih metode-metode penelitian yang mungkin pengamatan, eksperimental, atau prosedur lain yang di perlukan untuk menunjukkan apakah akibat-akibat tersebut terjadi atau tidak.  
  3. Menerapkan metode ini serta mengumpulkan data yang dapat di analisis untuk menunjukkan apakah hipotesis tersebut di dukung oleh data atau tidak.  

Prosedur pengujian hipotesis statistik adalah langkah-langkah yang di gunakan dalam menyelesaikan pengujian hipotesis tersebut. Langkah-langkah pengujiannnya adalah:  

1. Menentukan Formulasi Hipotesis

Formulasi atau perumusan hipotesis statistik dapat di bedakan atas dua jenis yaitu Hipotesis Nol (nihil) yang di singkat Ho, dan Hipotesis Alternatif (tandingan) yang di singkat Ha.  

2. Menentukan Taraf Nyata (Significant Level)

Taraf nyata adalah besarnya batas toleransi dalam menerima kesalahan hasil hipotesis terhadap nilai parameter popolasinya.

Taraf nyata di simbol dengan alfa, Semakin tinggi taraf nyata maka semakin tinggi tinggi pula penolakan hipotesis nol atau hipotesis yang di uji, padahal hipotesis nol benar.

Besarnya nilai taraf nyata tergantung pada keberanian pembuat keputusan yang dalam hal ini berapa besarnya kesalahan yang akan di tolerir.

Nilai yang di pakai sebagai taraf nyata di gunakan untuk menentukan nilai distribusi yang di gunakan pada pengujian, misalnya distribusi normal, distribusi t, dan distribusi chi kuadrat. Nilai ini telah di sediakan dalam table yang di sebut nilai kritis.  

3. Menentukan criteria pengujian

Kriteria pengujian adalah bentuk pembuatan keputusan dalam menerima atau menolak hipotesis nol, dengan cara membandingkan table distribusinya dengan nilai uji statistiknya, sesuai dengan bentuk pengujiannya.

4. Menentukan nilai Uji Statistik

Uji statistik merupakan rumus-rumus yang berhubungan dengan distribusi tertentu dalam pengujian hipotesis. Uji statistik merupakan perhitungan untuk menduga parameter data sampel yang di ambil secara random dari sebuah populasi.

5. Membuat kesimpulan

Pembuatan kesimpulan merupakan penetapan keputusan dalam hal penerimaan atau penolakan hipotesis nol (Ho), sesuai dengan kriteria pengujiannnya.

Daftar Rujukan

  1. Arikunto, Suharsimi. 1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktika. Jakarta: Rineka Cipta
  2. Furchan, Arief.1982. Pengantar Dalam Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional
  3. Hasan, Iqbal. 2001. Pokok-pokok materi Statistik 2 (Statistik Infrensif) Edisi ke-2. Jakarta: Bumi Aksara
  4. Margono. 1996. Metodologi Penelitian Pendidikan. Semarang: Rineka Cipta
  5. Sugiono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R &D. Bandung: Alfabeta
  6. Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Prakteknya. Jakarta: Bumi Aksara
  7. Formulation of Research Hypothesis with student samples.

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca