Bagaimana Cara Berdebat dengan Benar?

Cara Berdebat Dengan Benar

HermanAnis.com. Pada bagian ini kita akan mengkaji bagaimana teori debat dan tata cara berdebat dengan benar, hal ini mungkin bisa berguna bagi anda yang suka berdebat, sehingga dalam berdebat nantinya bisa lebih maksimal.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Sebelum kita bahas bagaimana cara berdebat dengan benar, ada baiknya kita bahas dulu mengapa manusia mengalami peristiwa debat/berbantahan/saling membantah?

Sadar atau tidak, sejak kecil kita sampai sebesar ini pastinya sering mengalami momen perdebatan, momen adu argumen.

Bagaimana Cara Berdebat Dengan Benar?

A. 7 Cara Berdebat dengan Benar

Dari berbagai literatur setidaknya ada 7 prinsip tentang bagaimana cara berdebat dengan benar khususnya dalam hal mengungkapkan pikiran kita, yakni:

  1. Kalau berbicara langsunglah kepada intinya saja, hindarilah bahasan yang kemana-mana. Jangan terlalu banyak kembangan. Hindari narasi tak jelas, oleh karena hanya akan mengaburkan kebenaran.
  2. Hindarilah pengulangan yang tidak perlu,
  3. Jangan mengecilkan atau memperbesarkan masalah secara tidak proporsional.
    Misalnya, menggunakan logika salah. Makan eskrim itu membuat orang kolesterolnya naik, kalau kolesteralnya naik dia bisa sakit jantung, kalau sakit jantung dia bisa mati, berarti makan eskrim itu membuat orang mati. Jadi tolong jangan makan eskrim karena bisa membuat mati. Ini membesar-besarkan masalah tidak proporsional.
  4. Rinci tema yang besar dalam bagian-bagian kecil,
  5. Fokus dengan satu hal di satu waktu,
  6. Petakan gagasannmu, dan
  7. Hindari istilah-istilah yang membingungkan.
    Biasanya penyakit kaum intelektual apalagi mahasiswa yang semangat-semangatnya belajar, membaca buku, itu sering tidak mampu menggunakan bahasa-bahasa yang mudah di mengerti. Mungkin terkadang kita dalam debat suka menggunakan istilah teknis yang tidak semua orang paham, sehingga orang akan menebak/nebak sendiri, mengira-ngira maksudnya dan ini rentan kebingungan, kesalahpahaman dan akhirnya kemudian kebenaran kita dapat di salah pahami. Olehnya itu, hal ini perlu di hindari.

1. Strategi dalam Berdebat yang Benar

Untuk menang dalam suatu debat, maka kita perlu mempersiapkan diri secara total, dengan strategi yang baik. Beberapa strategi dalam berdebat dengan benar di antaranya adalah,

  1. Lakukan riset dulu tentang tema yang akan kita bicarakan
  2. Jelaskan terlebih dahulu pandangan kita secara utuh dan jelas dengan argumentasi dan bukti yang memadai. Introduction, evidence, and a conclusion.
    Tegaskan di akhir penjelasan apa yang mau di tegaskan.
  3. Buatlah strategi dalam penyempaian: klasifikasi, urutan/prioritas, antisipasi kritik, dan lain sebagainya.
  4. Jangan mengulang-ngulang argumen yang sama
  5. Pahami pandangan lawan debat, jangan segan untuk bertanya/mengklasifikasi hal-hal yang masih membingungkan.
  6. Kalu ada jatuh waktu, gunakan waktu sepenunhnya, setidaknya sebagian besar waktu. Semakin panjang kita menguraikan, semakin kita tampak meyakinkan.
    Jangan hanya menguraikan konsep, namun berilah contoh atau ilustrasi.
Bagaimana Cara Berdebat Dengan Benar?

2. Apa yang perlu dibereskan pada diri sebelum berdebat?

Secara teori debat, sebelum berdebat pastikan kita ‘beres’ terhadap beberapa hal ini:

  1. Niat dan Tujuan.
    Ini harus dipahami. Tujuannya kebenaran atau dalam koridor kebaikan, membongkar kekeliruan, dan lainnya. Tujuannya harus jelas dan ditegaskan.
    Pertanyakan dulu niat dan tujuan debat yang akan dilakukan apa? jika niat dan tujuannya positif silahkan dilanjutkan.
  2. Pengetahuan.
    Jangan terjun berdebat tanpa pengetahuan, nanti ngawur, ngarang. Harus punya data, agar tidak asal ngomong.
  3. Intelegensi.
    Intelensi kita harus sudah terasah, tajam menganalisis, tajam membaca peristiwa, tajam mencari relasi, korelasi, tajam mengamati, mengkritisi yang keliru, tajam melihat reduksi data yang dipotong dan sebagainya. Pastikan kita siap secara intelensi.
  4. Emosi.
    Siap emosi, mentalnya siap. Kalo dikritiknya orang ndak down, kalo disebut pendapatnya salah dan memang terbukti salah, siap menerimanya. Jangan sampai orang ngomong berbeda dengan kita, batin kita langsung panas, itu berarti emosinya kita tak siap untuk berdebat.
    Kalo tidak siap, nanti dulu, jangan sekarang debatnya bereskan dulu emosinya. Jangan sampai debatnya selesai, masalahnya tidak selesai, malah menambah masalah baru.
  5. Teknik.
    Teknik mungkin retorikanya, mungkin strategi menyampaikan argumentasinya, mungkin cara menyakinkan orang terhadap kebenarannya, caranya menunjukkan kekurangan dan kekeliruan lawan debat dan sebagainya.
  6. Akhlak/adab.
    Kalo ini mungkin sesuatu yang inheren pada semua aktivitas kemanusian. Dalam semua aktivitas, jangan lupa akhlak dan adab, etika dan etiket, moralitas dan sopan santun.
    Kita berdebatkan antara manusia dengan manusia, alat yang menghubungkannya tidak selalu akal, tapi ada juga nurani, ada juga naluri, ada juga intuisi dan imajinasi sehingga jika kalo tidak di iringi dengan akhlak dan adab yang baik maka kemungkinan fokus kepada kebenaran tertunta.
    Misalnya niatnya sudah benar, pengetahuan sudah benar, intelegensinya tajam. emosinya stabil, tekniknya luar biasa, tapi akhlak dan adabnya rusak, mungkin isinya maki-maiki orang, mungkin isinya membuat orang sakit hati. Ini bisa merusak debat.

B. Teori tentang Debat

Bagaimana Cara Berdebat Dengan Benar?
sumber: lazada.com

1. Mengapa momen debat itu ada?

Mengapa momen debat itu ada? Berdasarkan teori debat, momen debat muncul setidaknya disebabkan oleh beberapa variabel berikut:

  1. Fitrah kebenaran.
    Setiap manusia itu punya kecendrungan pada kebenaran. Sehingga, jiwanya selalu mencari, mengejar dan mendekat pada kebenaran.
    Dalam proses pencarian tersebut, dia akan dihadapkan dengan situasi/peristiwa debat dalam rangka memperoleh suatu kebenaran.
  2. Sunnatullah keragaman.
    Fitrah kebenaran merupakan situasi sunnatullah. Ketika, kita mencari kebenaran, orang lain juga mencari kebenaran, kita ketemu yang menurut kita benar dan mereka juga ketemu dengan yang menurut mereka benar.
    Sehingga, ketika keduanya kita pertemukan ada kalanya keduanya ternyata berbeda. Itulah, dunia manusia, selalu di warnai dengan situasi ini.
  3. Ego.
    Manusia selalu ingin kebenarannyalah yang paling benar, lebih benar, pasti benar. Tidak cuma kita, orang lain juga seperti itu.
  4. Kepentingan.
    Aku butuh ini, itu, sehingga ini harus benar, itu jangan sampai benar, itulah kepentingan.
  5. Kebutuhan akan pilihan dan keputusan.
    Hidup ini membutuhkan keputusan-keputusan dan pilihan-pilihan. Sehingga dari banyak kebenaran, mana saja yang akan dipilih? Nah, ini akan meniscayakan terjadinya diskusi/perdebatan.

Jadi perdebatan lahir karena fitrah manusia yang selalu mencari kebenaran, kemudian dalam hidup sudah merupakan suatu sunnatullah adanya keragaman.

Selain itu, manusia dalam kehidupannya membutuhan keputusan-keputusan dan pilihan-pilihan terhadap mana yang lebih benar, mana yang paling benar, ditambah lagi Ego dan Kepentingan ikut bermain.

Maka untuk itulah kemudian ketika yang beragam ini bertemu, muncullah debat. Inilah yang menjadi dasar munculnya fenomena perdebatan dalam kehidupan.

Tidak mengertipun teori ini, kita sebenarnya sudah mengalami dalam keseharian. Untuk memahami lebih lanjut Bagaimana Cara Berdebat Dengan Benar, silahkan untuk melanjutkan membacanya!

2. Pendapat Ahli tentang Debat

Definisi tentang debat sangat penting sebagai dasar untuk memahami bagaimana cara berdebat dengan benar.

Dalam KBBI debat merupakan suatu pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing, seperti debat tentang calon presiden mendapat perhatian dari masyarakat.

Penyebab terjadinya debat adalah adanya perbedaan pendapat oleh pihak-pihak yang meyakini pendapatnya merupakan suatu kebenaran.

Debat terjadi secara alami di dalam kehidupan bermasyarakat. Isu yang umum dijadikan sebagai bahan debat adalah isu agama, negara, ekonomi, budaya, politik, dan hukum.

Pelaksanaan debat untuk menyatakan sesuatu yang diyakini sebagai kebenaran, dilakukan dengan penyampaian pendapat yang sistematis.

Debat resmi digunakan dalam ketatanegaraan yang menganut demokrasi dengan berlandaskan pada musyawarah.

Menurut Semi (1994:75), debat merupakan bentuk keterampilan berargumentasi dengan cara membandingkan maupun mengadu pendapat secara berhadapan.

Metode ini menekankan kepada kemampuan mempertahankan pendapat dengan logis atau masuk akal. Dalam metode ini yang ditampakkan adalah kepintaran dalam mencari alasan dan permainan kata sehingga lawan tidak berkutik.

Sementara Tarigan (2008: 92) menjelaskan metode debat adalah suatu pendapat untuk menentukan baik ataupun tidaknya gagasan tertentu yang didukung satu pihak yang mana dinamakan pendukung atau afirmatif, dan ditolak atau disangkal oleh pihak lawan yang mana dinamakan penyangkal atau negative.

Lebih lanjut, Iman (2017: 94) mengungkapkan bahwa metode debat merupakan cara penyajian gagasan atau ide diantara dua pihak yang saling berseberangan dimana masing-masing berusaha mempertahankan pendapat mereka.

Sementara Inoue, (2009:3) berpendapat bahwa debat merupakan sebuah komunikasi dimana peserta berdebat dan menentang tema yang diberikan.

dan, Jimenez dalam (Wang & Buck, 2018: 30) menjelaskan bahwa metode debat merupakan salah satu cara pembelajaran yang efektif untuk mengajarkan berpendapat karena melibatkan bantahan-bantahan diantara orang-orang yang berbeda, biasanya saling bertolak belakang atas topik yang dipertanyakan.

Terkait dengan beberapa pandangan atau teori debat dalam memahami bagaimana cara berdebat dengan benar, silahkan anda untuk simpulkan sendiri apa itu debat atau metode debat!

C. Pengelompokan Debat

Pengelompokan debat berdasarkan pelaksanaannya dapat di kelompokkan berupa debat secara individu/kelompok, debat formal dan debat informal.

  • Debat Individu/kelompok.

    Misalnya Pilkada, Pilpres, ada kelompok, ada tim yang menggodok, ada bagian yang tampil, dan seterusnya. Sering juga sendiri-sendiri, mungkin kita debat sama teman, individu-individu.
  • Kemudian Debat Formal.

    Debat ini biasanya lebih nyaman, karena diatur, ditata, digilir siapa yang bicara, siapa yang menjawab, jawabannya diterima apa tidak, kemudian bantahan selanjutnya, dan biasanya debat ini lebih tertib.
  • Debat Informal.

    Dalam pelaksanaannya, debat ini mengalir, tidak diatur, tidak dikontrol sehingga ini biasanya mudah tergelincir menjadi debat kusir.

Baca Juga: Debat Kusir, Sejarah, Hukum & Cara Terhindar Dari Debat Model Ini.

D. Pola Debat

Dalam teori debat, ada beberapa beberapa pola debat yang perlu anda hindari, yakni:

1) Berdebat untuk meruntuhkan kebenaran;
2) Mendebat hal yang sudah jelas kebenarannya.

Jika kebenarannya sudah jelas, maka tidak perlu diperdebatkan; dan Berdebat tanpa memiliki ilmu. Jangan debat tanpa punya bekal ilmunya. Yang merasa kurang ilmu, tidak punya ilmu, tidak usah ikut-ikut membantah/mendebat.

Kalau sudah benar, jangan diruntuhkan, tidak perlu diperdebatkan lagi, dan berdebatkan dengan ilmu.

Nasehat Iman Syafi’i tentang bagaimana cara berdebat dengan benar:

Termasuk menghinakan ilmu, yaitu berbantah-bantahan dengan setiap orang yang membantahmu, dan berdebat dengan setiap orang yang mendebatmu.

Aku tidak akan pernah berdialog dengan seseorang dengan tujuan aku lebih senang jika ia berpendapat salah.

Menurut Imam Syafi’i, tidak setiap ajakan debat harus kita ladeni, jikapun harus berdebat maka pastikan tujuan debat kita adalah menemukan yang paling benar, bukan mencari salahnya lawan debat.

E. Faktor-faktor yang menentukan Suksesnya Debat

Sebelum kita berdebat pastikan 6 hal ini terpenuhi, niat dan tujuannya beres, pengetahuan memadai, intelegensinya tajam. emosinya stabil terkontrol, tekniknya tepat biasa, akhlak dan adabnya terpenuhi.

Insya Allah, kalo bekal kita maksimal di 6 ini, maka kita akan memenangkan debat. Kebenaran yang akan menang, jangan lupa kemenangan debat kita adalah menangnya kebenaran, bukan jatuhnya lawan debat kita.

Kalau engkau belum yakin 100% dengan pengetahuannu, jangan berdebat.
Jika engkau belum yakin 100% dengan kemampuan komunikasimu, jangan berdebat.
Kalau engkau belum yakin 100% dengan kontrol emosimu, jangan berdebat.

Berdasarkan teori debat dan bagaimana cara berdebat dengan benar, ada beberapa unsur-unsur yang membuat debat kita akan sukses dan menang.

F. Unsur unsur yang perlu mendapatkan Perhatian sebelum Debat

Unsur unsur yang perlu mendapatkan perhatian sebelum kita berdebat di antaranya adalah.

  1. Pemahaman.
    Kemampuan memahami yang tinggi. Jadi baik memahami gagasan kita, maupun mamahami gagasan lawab debat. Kesalahan dalam memahami akan membuat kita jatuh. mampu memahami dengan baik.
    Kemampuan pemahaman berkaitan dengan kemampuan kita dalam menerima/ memahami/ menangkap informasi dengan baik.
  2. Kejelasan.
    Kejelasan ini hubungannya dengan dengan kemampuan kita menyampaikan informasi. Sehingga banyak diskusi jadi kacau karena ada yang merasa paling benar, tetapi cara menyampaikannnya tidak jelas, sehingga orang lain tidak mampu menangkap kebenaran yang disampaikan, akhirnya akan ada bantahan, kita di anggap salah, dan kita tetap tidak terima karena kita merasa benar.
    Padahal ternyata masalahnya terdapat pada ketidakmampuan kita menyampaikan kebenaran.
  3. Bukti atau argumen.
    Secara umum yang paling membuat orang yakin dan menerima kebenaran kita dalah argumen/alasannya. Semakin baik kita menunjukkan bukti kebenaran, kita semakin dekat kita dengan keberhasilan. Ajukan bukti yang otoritaristik.
  4. Emosi.
    Semakin kita keliahatan stabil, mampu menguasiai emosi, maka semakin kita akan bisa unggul dalam debat.
  5. Fallacy.
    Kesalahan berpikir, kesalahaan menganalisis. Sebagai alat untuk mengidentifikasi kesalahan berpikir lawan debat. Menunjukkan kesalahan lawan debat dalam hal berpikir atau analisis.
  6. Akhlak/adab.
    Dalam semua aktivitas, jangan lupa akhlak dan adab, etika dan etiket, moralitas dan sopan santun termasuk dalam debat.

G. Teori dan Prinsip Debat dalam Berargumentasi

Teori dan prinsip bagaimana cara berdebat dengan benar khususnya dalam membuat dan menyampaikan argumen yang meyakinkan, yang dapat membuat orang mengikuti kebenaran yang kita sampaikan yakni:

  • Carilah rujukan yang otoritaif. Maksudnya rujukan yang sesuai.
  • Carilah argumen/rujukan lain sebagai pendukung. Semakin banyak rujukan, akan semakin baik dalam mengajukan argumentasi.
  • Hindari memotong fakta/rujukan hanya untuk kepentingan memenangkan perdebatan. Kadang-kadang ada di antara kita, menggunakan rujukan buku yang di potong-potong sedemikian rupa sehingga lepas dari maksudnya, yang penting mendukung kepentingan kita, nah ini yang tidak boleh.
  • Jangan membuat-buat fakta. Banyak contoh orang yang berargumen dengan membuat-buat fakta karena di dukung karena punya kekuasaan, fasilitas, yang semula tidak benar jadi benar, karena faktanya di buat. Hal ini perlu di hindari.
  • Jangan mendebat kebenaran yang sudah jelas.
  • Kalau hanya opini akuilah, jangan menganggapnya fakta. Sebagai contoh, bahwa malam ini hujan itu fakta, tapi hujan di malam ini itu syahdu, romantis, menyenangkan, atau malam ini dingin membosankan, ini opini. Faktanya cuma hujan, menyenangkan atau membosankan itu opini. Kadang-kadang kita menganggap opini sebagai fakta.

Selanjutnya, debat itu mempertemukan manusia dengan manusia, olehnya itu perlakukan lawan debat sebagai manusia, yang punya pandangan berbeda dengan kita.

Beberapa prinsip penghormatan dalam bagaimana cara berdebat dengan benar:

  1. Jangan menyerang pribadi lawan debat, namun kritiklah gagasannya
  2. Hindari menyebut keburukan/kesalahan orang di luar konteks/tema yang sedang di bahas
  3. Hindarilah frasa/kalimat yang menertawakan atau merendahkan
  4. Dengarkan ungkapan/pandangan lawan debat dengan seksama
  5. Tersenyum menghargai, bukan senyum sinis

Baca juga: Adab Bertanya dalam Forum

H. Prinsip bagaimana Cara Berdebat dengan Benar dan Aman

Teori debat berikutnya adalah prinsip kemamanan dalam berargumen. Beberapa tips dalam menggunakan kata-kata agar lebih aman dalam bagaimana cara berdebat dengan benar:

  1. Lebih aman menggunakan kata ‘sebagian besar…‘ di bandingkan menggunakan kata ‘semua…
  2. Akan lebih aman menggunakan kata ‘beberapa…‘ di bandingkan menggunakan kata ‘beberapa…
  3. Lebih aman menggunakan kata ‘sering kali…‘ di bandingkan menggunakan kata ‘selalu…
  4. Akan lebih aman menggunakan kata ‘biasanya tidak…‘ di bandingkan menggunakan kata ‘tidak pernah…

Sebuah quote menarik,

you do not need to win every battle to win the war

Kamu tidak perlu menang pada setiap pertempuran untuk memenangkan perang. Kadang ada stategi di mana kita mengizinkan kalah pada bagian tertentu dengan tujuan untuk menang. Sehinga, dalam permainan catur kadang kita perlu mengorbankan beberapa pion untuk menang.

Begitu juga, dalam teori debat, kadang-kadang ada padangan kita yang tidak pas, kalo di ingatkan di terima saja, itu bukan berarti kita kalah, bahkan nanti jika di tarik sampai akhir, kemenangan debat bukan kalahnya lawan debat tetapi di temukannya kebenaran. Itulah hakekat debat yang baik.

I. Penyakit hati yang dapat muncul akibat Debat

Menurut Imam Ghazali ada 10 titik di mana kalo kita tidak hati-hati dari akhlak, kita akan lahir celah karena debat. Kalau tidak di jaga kita akan mendapatkan penyakit hati, di antaranya,

  1. Dengki. Kita merasa senang kalau lawan itu salah, keliru, kalah, jatuh, dan kita merasa susah jika lawan itu menang, benar, senang, sukses. Ini Dengki, ini hasut, hati-hati jangan sampai debat akan membuat kita jatuhnya kepada dengki.
  2. Takabur. Takabbur ini merasa lebih benar, penting, tinggi, pintar, merasa sombiong.
  3. Dendam.
  4. Ghibah. Mengungkap perbuatan, tindakan, watak, orang lain yang dia tidak berkenan.
  5. Merasa suci
  6. Tajassus. Mematai-mamatai lawan debat, mencari-cari kesalahan lawan debat yang tidak relevan.
  7. Nifaq. Yang di sampaikan tidak sama dengan yang di yakini, ini munafik. Tidak mau mengakui kebenaran lawan debat.
  8. Menolak kebenaran. Tidak mau mengakui kebenaran lawan debat
  9. Riya’. Memamerkan kebaikan, kebenaran kita. Ini batasnya tipis sekali dengan mengungkapkan kebenaran, oleh karena adanya di dalam hati kita.
  10. Menipu. Membuat berita-berita palsu , mengarang kebenaran, membantah yang harusnya benar di sebut sebagai kesalahan.

Dari hal tersebut, tampak debat dapat berdampak terhadap akhlak orang yang berdebat, olehnya itu, berdebatlah dengan baik. Selanjutnya, pahamilah bahwa debat bukan hanya penting untuk menemukan kebenaran tapi juga dapat merusak ahlak jika kita tidak berhati-hati.

J. Aspek Adab dan Sopan Santun

Untuk itu, aspek adab dan sopan santun tentang bagaimana cara berdebat dengan benar yang perlu di perhatikan yakni:

  1. Berbicaralah secara meyakinkan: 1) jelas dan mantap; 2) masukkan rasa; 3) tatapan mata; 4) intonasi dan kecepatan
  2. Berpakianlah yang sopan dan sesuai
  3. Selalu bersikap ramah dan santun. “Don’t win a debate and lose a friend
  4. Kalau perdebatan semakin berlarut tanpa hasil akhir, jangan memaksakan pandangan anda.

Cukup katakan: “Aku menghargai pandanganmu, meskipun aku tidak setuju dengan pandanganmu itu, semoga nantinya aku dapat meyakinkanmu di lain kesempatan”

Selain tentang Bagaimana Cara Berdebat Dengan Benar? dalam tulisan ini anda dapat membaca artikel tentang Bagaimana Ciri Ciri Pertanyaan yang Baik? atau tentang hierarki Ketidaksetujuan GrahamApa itu berpikir kritis? dan Indikator Keterampilan Berpikir Kritis dalam Sains, semua topik ini relevan bagi teman-teman yang ingin meningkatkan kualitasnya dalam mengajukan pertanyaan.

Terima kasih telah membaca artikel ini, semoga ada manfaat.

Catatan Kuliah Filsafat
Dr. FF

Telusuri Artikel Lain

Etika Menurut Socrates

Herman Anis
11 min read

17 Jenis Penyakit Hati

Herman Anis
6 min read

Hakikat Hidup Manusia

Herman Anis
7 min read

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: