Teori Belajar Sosial – Albert Bandura

Teori Belajar Sosial - Albert bandura

HermanAnis.com – Teman-teman semua, pada kesempatan ini kita masih membahas tentang Teori Belajar menurut para Ahli yakni Teori Belajar Sosial oleh Albert Bandura. Teori Belajar Sosial memandang sebagian besar perilaku manusia di pelajari secara observatif lewat modeling. Dengan melihat bagaimana orang lain berperilaku, maka akan muncul konsep baru yang di percaya menjadi cara bertindak yang tepat.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Bandura lahir di Canada, memperoleh gelar Ph. D dari University of Iowa dan kemudian mengajar di Stanford Uni. Sebagai seorang behaviorist, Bandura menekankan teorinya pada proses belajar tentang respon lingkungan. Oleh karenya teorinya disebut teori belajar sosial, atau modeling.

A. Teori Belajar Sosial menurut Albert Bandura

Prinsipnya adalah perilaku merupakan hasil interaksi resiprokal antara pengaruh tingkah laku, koginitif dan lingkungan. Singkatnya, Bandura menekankan pada proses modeling sebagai sebuah proses belajar.

Bandura membuka perspektif baru dalam aliran behavioristik dengan menekankan pada aspek observasi dan proses internal individu. Bagi mereka yang beraliran kognitif, pandangan Bandura ini di rasakan lebih lengkap di bandingkan pandangan ahli behavioristik lainnya. Sehingga teorinya ini juga di dukung oleh percobaan eksperimental yang dapat dipertanggungjawabkan.

Teori belajar sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional (behavioristik). Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip-prinsip teori-teori belajar perilaku, tetapi memberi lebih banyak penekanan pada efek-efek dari isyarat-isyarat pada perilaku, dan pada proses-proses mental internal.

Salah satu asumsi paling awal mendasari teori Teori belajar Bandura adalah manusia cukup fleksibel dan sanggup mempelajari bagaimana kecakapan bersikap maupun berperilaku.

Fokus pembelajaran adalah pengalaman-penglaman tak terduga (vicarious experiences). Meskipun manusia dapat dan sudah banyak belajar dari pengalaman langsung, namun lebih banyak yang mereka pelajari dari aktivitas mengamati perilaku orang lain (Feist, 2009).

1. Sudut Pandang Belajar Sosial Albert Bandura

Asumsi awal memberi isi sudut pandang teoritis Bandura dalam teori pembelajaran sosial, Salkind, (2004) yaitu:

  1. Observational learning atau modeling. Pembelajaran pada hakikatnya berlangsung melalui proses peniruan (imitation) atau pemodelan (modeling).
  2. Dalam imitation atau modeling individu di pahami sebagai pihak yang memainkan peran aktif dalam menentukan perilaku mana yang hendak ia tiru dan juga frekuensi serta intensitas peniruan yang hendak ia jalankan.
  3. Imitation atau modeling adalah jenis pembelajaran perilaku tertentu yang di lakukan tanpa harus melalui pengalaman langsung.
  4. Dalam Imitation atau modeling terjadi penguatan tidak langsung pada perilaku tertentu yang sama efektifnya dengan penguatan langsung untuk memfasilitasi dan menghasilkan peniruan. Individu dalam penguatan tidak langsung perlu menyumbangkan komponen kognitif tertentu (seperti kemampuan mengingat dan mengulang) pada pelaksanaan proses peniruan.
  5. Mediasi internal sangat penting dalam pembelajaran, karena saat terjadi adanya masukan indrawi yang menjadi dasar pembelajaran dan perilaku di hasilkan, terdapat operasi internal yang mempengaruhi hasil akhirnya.

Bandura yakin bahwa tindakan mengamati memberikan ruang bagi manusia untuk belajar tanpa berbuat apapun. Manusia belajar dengan mengamati perilaku orang lain. Vicarious learning adalah pembelajaran dengan mengobservasi orang lain.

Fakta ini menantang ide behavioris bahwa faktor-faktor kognitif tidak di butuhkan dalam penjelasan tentang pembelajaran. Bila orang dapat belajar dengan mengamati, maka mereka pasti memfokuskan perhatiannya, mengkonstruksikan gambaran, mengingat, menganalisis, dan membuat keputusan-keputusan yang mempengaruhi pelajaran.

Bandura percaya penguatan bukan esensi pembelajaran. Meski penguatan memfasilitasi pembelajaran, namun bukan syarat utama. Pembelajaran manusia yang utama adalah mengamati model-model, dan pengamatan inilah yang ters menerus di perkuat.

Fungsi penguatan dalam proses modeling, yaitu sebagai fungsi informasi dan fungsi motivasi. Penguat memiliki kualitas informatif maksudnya, tindakan penguatan dan proses penguatan itu sendiri bisa memberitahukan pada manusia perilaku mana yang paling adaptif.

2. Pembelajaran Modeling dalam Teori Belajar Bandura

Manusia bertindak dengan tujuan tertentu. Dalam pengertian tertentu, manusia belajar melalui pengalaman mengenai apa yang di harapkan untuk terjadi, dan demikian mereka bisa menjadi semakin baik dalam memperkirakan perilaku apa yang akan memaksimalkan peluang untuk berhasil.

Dengan demikian pengetahuan atau kesadaran manusia mengenai konsekuensi perilaku tertentu bisa membantu mengoptimalkan efektivitas suatu program pembelajaran.

Selanjutnya, penguat dalam teori pembelajaran sosial di pahami sebagai hal yang memiliki kualitas motivasi. Maksudnya, manusia belajar melakukan antisipasi terhadap penguat yang akan muncul dalam situasi tertentu, dan perilaku antisipasi awal ini menjadi langkah awal dalam banyak tahapan perkembangan.

Orang tidak memiliki kemampuan untuk melihat masa depan, tetapi mereka bisa mengantisipasi konsekuensi-konsekuensi apa yang akan muncul dari perilaku tertentu berdasarkan apa yang mereka pelajari dari pengalaman baik dan buruk yang telah di alami orang lain (dan yang terpenting, tanpa langsung menjalani sendiri pengalaman itu).

Kajian asumsi penting lain yang perlu di bahas dalam teori belajar Bandura adalah determinisme timbal balik (reciprocal determinism).

Menurut pandangan ini, pada tingkatan yang paling sederhana masukan indrawi (sensory input) tidak serta merta menghasilkan perilaku yang terlepas dari pengaruh sumbangan manusia secara sadar. Sistem ini menyatakan bahwa tindakan manusia adalah hasil dari interaksi tiga variabel, lingkungan, perilaku dan kepribadian.

Teori Belajar Albert Bandura

Inti reciprocal determinism adalah manusia memproses informasi dari model dan mengembangkan serangkaian gambaran simbolis perilaku melalui pembelajaran yang bersifat coba-coba kemudian di sesuaikan dengan manusia.

Ketiga faktor yang resiprok ini tidak perlu sama kuat atau memiliki kontribusi setara. Potensi relatif ketiganya beragam, tergantung pribadi dan situasinya. Pada waktu tertentu perilaku mungkin lebih kuat pengaruhnya.

3. Intisari pembelajaran modeling dalam Teori Belajar Bandura

Inti dari pembelajaran modeling adalah;

  1. Mencakup penambahan dan pencarian perilaku yang di amati, untuk kemudian melakukan
    generalisasi dari satu pengamatan ke pengamatan lain.
  2. Modeling melibatkan proses-proses kognitif, jadi tidak hanya meniru. Tetapi menyesuaikan diri dengan tindakan orang lain dengan representasi informasi secara simbolis dan
    menyimpannya untuk di gunakan di masa depan.
  3. Karakteristik modeling sangat penting. Manusia lebih menyukai model yang statusnya lebih tinggi daripada sebaliknya, pribadi yang berkompeten daripada yang tidak kompeten dan pribadi
    yang kuat daripada yang lemah. Artinya konsekuensi dari perilaku yang di modelkan
    dapat memberikan efek bagi pengamatnya.
  4. Manusia bertindak berdasarkan kesadaran tertentu mengenai apa yang bisa di tiru dan apa yang tidak bisa. Tentunya manusia mengantisipasi hasil tertentu dari modeling yang secara potensial
    bermanfaat.

Namun, di lain waktu lingkungan mungkin memberikan pengaruh paling besar. Meskipun perilaku dan lingkungan terkadang bisa menjadi bisa menjadi kontributor terkuat suatu kinerja namun, kognisilah (kepribadian) kontributor yang paling kuat.

Kognisi mempengaruhi perilaku, perilaku mempengaruhi kognisi. Lingkungan mempengaruhi perilaku, perilaku mempengaruhi lingkungan. Kognisi mempengaruhi lingkungan. Lingkungan mempengaruhi kognisi. Pola reciprocal determinism ini menggunakan umpan balik, sampai akhirnya menemukan perilaku yang tepat sesuai dengan apa yang di kehendaki.

Dengan demikian pembelajaran bukanlah merupakan proses sederhana di mana individu menerima suatu model dan kemudian meniru perilakunya, tetapi merupakan langkah yang jauh lebih kompleks di mana individu mendekati perilaku model melalui internalisasi atas gambaran yang di tampilkan oleh si model, kemudian di ikuti dengan upaya menyesuaikan gambaran itu.

Bandura akhirnya memperluas konsep ini dengan nilai diri (self-value) dan keyakinan diri (self-efficacy).

4. Self-efficacy

Self-efficacy adalah faktor person (kognitif) yang memainkan peran penting dalam teori pembelajaran Bandura., dengan keyakinan bahwa seseorang biasa menguasai situasi dan menghasilkan perilaku yang positif.

Keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk mengorganisir dan menggerakkan sumber-sumber tindakan yang di butuhkan untuk mengelola situasi- situasi yang akan datang. Individu mengamati model bila ia percaya bahwa dirinya mampu mempelajari atau melakukan perilaku yang di modelkan.

Pengamatan terhadap model yang mirip mempengaruhi Self-efficacy (Kalau mereka bisa, saya juga bisa). Tinggi-rendahnya Self-efficacy berkombinasi dengan lingkungan yang responsif dan tidak responsif untuk menghasilkan empat variabel yang paling bisa di prediksi berikut ini:

  1. Bila Self-efficacy tinggi dan lingkungan responsif, hasil yang paling bisa di perkirakan ialah kesuksesan.
  2. Jika Self-efficacy rendah dan lingkungan responsif, manusia dapat menjadi depresi saat mereka mengamati orang lain berhasil menyelesaikan tugas-tugas yang menurut mereka sulit.
  3. Bila Self- efficacy tinggi bertemu dengan situasi lingkungan yang tidak responsif, manusia akan berusaha keras mengubah lingkungannya.
    Mereka mungkin akan menggunakan protes, aktivisme sosial, bahkan kekerasan untuk mendorong perubahan.
    Namun, jika semua upaya gagal, Bandura berhipotesis bahwa manusia mungkin akan menyerah, mencari laternatif lain, atau mencari lingkungan lain yang lebih responsif. Akhirnya,
  4. Bila Self-efficacy rendah berkombinasi dengan lingkungan yang tidak responsif, manusia akan merasakan apati, mudah menyerah dan merasa tidak berdaya (Bandura, 1997; 115-116).

Self-efficacy dalam modeling akan mengacu pada tindakan-tindakan manusia, yang antara lain adalah manusia:

  1. akan menerus merubah rencana ketika sadar konsekuensi dari setiap tindakan.
  2. memiliki kemampuan memprediksi. Mengantisipasi hasil tindakan dan memilih perilaku mana yang dapat menghasilkan keluaran yang di inginkan serta menghindari yang tidak di inginkan
  3. sanggup memberikan reaksi diri dalam proses motivasi dan pengaturan terhadap setiap tindakan, dan,
  4. dapat melakukan refleksi diri. Menguji dirinya sendiri. Mengevaluasi sendiri motivasi, nilai, makna, dan tujuan hidupnya, bahkan sanggup memikirkan ketepatan pemikirannya sendiri.

Self-efficacy melakukan tindakan-tindakan yang akan menghasilkan efek yang di inginkan.

B. Proses dalam Pembelajaran Modeling

Proses-proses yang mengatur pembelajaran dengan modeling, yaitu:

1. Perhatian

Apakah faktor-faktor yang mengatur perhatian ini? Pertama, mengamati model yang padanya kita sering mengasosiasikan diri. Kedua, model-model yang aktraktif lebih banyak diamati. Individu harus mampu memberi perhatian pada model, kejadian dan unsur-unsurnya.

Jika individu tidak bisa memberikan perhatian yang tepat pada suatu model, maka tidak mungkin terjadi peniruan. Faktor-faktor penguatan, kapasitas indrawi dan kompleksitas kejadian yang menjadi model merupakan faktor penting dalam proses perhatian ini.

2. Representasi

Agar pengamatan dapat membawa respons yang baru, maka pola-pola tersebut harus di representasikan secara simbolis di dalam memori. Proses menyimpan ciri-ciri terpenting dari suatu kejadian sehingga bisa di panggil kembali dan di gunakan ketika di perlukan. Ciri-ciri yang tersimpan dapat dalam bentuk pengkodean yang membantu kita mengujicobakan perilaku secara simbolis.

3. Produksi perilaku

Setelah memberi perhatian kepada sebuah model dan mempertahankan apa yang sudah di amati, kita akan menghasilkan perilaku. Individu mampu secara fisik melaksanakan perilaku tersebut. Beberapa pertanyaan tentang perilaku yang di jadikan model, (1) Bagaimana saya melakukan hal tersebut. (2) Sudah benarkah tindakan saya ini?

3. Motivasi dan Reinforcement

Pembelajaran dengan mengamati paling efektif ketika subjek yang belajar termotivasikan untuk melakukan perilaku yang di modelkan. Meskipun pengamatan terhadap orang lain dapatm mengajarkan kita bagaimana melakukan sesuatu, tapi mungkin kita tidak memiliki keinginan untuk melakukan tindakan yang di butuhkan.

Reinforcement dapat memainkan beberapa peran dalam modeling. Bila mengantisipasi bahwa kita akan di perkuat untuk meniru tindakan-tindakan seorang model, kita mungkin akan lebih termotivasi untuk memperhatikan, mengingat dan mereproduksi perilaku itu.

Bandura mengidentifikasi tiga bentuk reinforcement yang dapat mendorong modeling.

  1. Pengamat mungkin mereproduksi perilaku model dan menerima reinforcement langsung.
  2. Akan tetapi reinforcement tidak langsung bisa berupa vicarious reinforcement. Pengamat mungkin hanya melihat perilaku orang lain di perkuat dan produksi perilakunya meningkat. Dan bentuk
  3. Self-reinforcement atau mengontrol reinforcement sendiri. Bentuk reinforcement ini penting bagi guru maupun siswa.

Untuk menerapkan proses modeling kebanyakan pengamatan di motivasi oleh harapan bahwa modeling yang tepat terhadap orang yang di tiru akan menghasilkan penguatan, juga penting di perhatikan bahwa orang juga belajar dengan melihat orang lain di kuatkan atau di hukum karena terlibat dalam perilaku tertentu.

Ada lima kemungkinan hasil dari modeling, (Bandura, 1986) yaitu:

  1. Mengarahkan perhatian. Dengan modeling orang lain, kita bukan hanya belajar tentang berbagai tindakan, tetapi juga melihat berbagai objek terlibat dalam tindakan-tindakan tersebut.
  2. Menyempurnakan perilaku yang sudah di pelajari. Modeling menunjukkan perilaku mana yang sudah kita pelajari di gunakan.
  3. Memperkuat atau memperlemah hambatan. Modeling perilaku dapat di perkuat atau di perlemah tergantung konsekuensi yang dialami.
  4. Mengajarkan perilaku baru. Jika dalam modeling berperilaku cara baru (melakukan hal-hal baru), maka terjadi efek pemodelan.
  5. Membangkitkan Emosi. Melalui modeling, orang dapat mengembangkan reaksi emosional terhadap situasi yang pernah di alami secara pribadi.

C. Kritik terhadap Teori Belajar Sosial Bandura

Teori Belajar sosial Albert Bandura adalah pembelajaran dengan mengamati dan bertindak. Inti mengamati adalah pemodelan, yang mencakup pengamatan terhadap aktivitas-aktivitas yang benar, mengkodekan secara tepat kejadian-kejadian ini untuk di presentasikan di dalam memori, melakukan performa aktual perilaku, dan menjadi cukup termotivasi.

Pembelajaran dengan bertindak mengizinkan seseorang untuk mencapai pola-pola baru perilaku kompleks lewat pengalaman langsung dengan memikirkan dan mengevaluasi konsekuensi- konsekuensi perilaku tersebut.

Kritik terutama datang dari kelompok aliran behavioristik keras, yang memandang Bandura lebih tepat untuk di masukan dalam kelompok aliran kognitif dan tidak di akui sebagai bagian dari behavioristik. Penyebab utamanya karena pandangan Bandura yang kental aspek mentalnya.

Teori Belajar Albert Bandura

D. Kesimpulan

Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang di pelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling).

Teori belajar ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu di lakukan.

  • Penerapan belajar sosial Albert Bandura dalam proses belajar mengajar memberi ruang bagi suatu proses belajar yang bergerak terus-menerus.
    Konteks pembelajaran Pertama, mementingkan pengaruh lingkungan, mementingkan bagian-bagian, mementingkan peranan reaksi,mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon.
    Kedua, mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya, mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan, hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
  • Proses belajar mengajar di sekolah adalah kereaktifan diri yang menghubungkan pikiran dan tindakan.
    Faktor kecakapan, keyakinan, dan nilai memproses penekanan pada penciptaan pemahaman yang menuntut aktivitas yang kreatif dan produktif dalam konteks yang nyata. Kepribadian peserta didik berkembang melalui proses pengamatan, di mana peserta didik belajar melalui observasi atau pengamatan terhadap perilaku orang lain terutama pemimpin atau orang yang dianggap mempunyai nilai lebih dari orang lainnya.
  • Pembelajaran dalam bentuk Vicarious conditioning berlangsung sebagai suatu proses yang bergerak terus menerus dari suatu tahap ke tahapan rekonstruksi sebagaimana problem baru mendorong inteligensi untuk memformulasikan usulan-usulan baru untuk bertindak.

E. Sumber Rujukan

  1. Ahmadi Abu. Psikologi Belajar. (Jakarta: Rineka Cipta, 2004),
  2. Anita Woolfolk, Educational Psychology Active Learning Edition. (Boston: Allyn and Bacon, 2009).
  3. Herly Janet Lesilolo, 2018. Penerapan Teori Belajar Sosial Albert Bandura Dalam Proses Belajar Mengajar di Sekolah. KENOSIS, Vol. 4 No. 2. Desember.
  4. Jess Feist, Gregory J. Feist. Theories of Pesonality. Edisi keenam. (New York: McGraw Hill Companies, Inc, 2009). hlm.409.
  5. Neil J. Salkind. An Introduction to theories of human development. (London: Sage Publications, 2004). hlm.211-213.
  6. Albert Bandura, Social Foudation of Thought and Action. (Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1986). hlm. 87
  7. Albert Bandura. Social Learning Theory. (Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1997). hlm. 24

Terima kasih telah mebaca artikel ini,
semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: