Pengertian Supervisi Pendidikan

Pengetian Supervisi Pendidikan

HermanAnis.com – Teman-teman semua, dalam kesempatan ini kita akan membahas satu topik terkait dengan supervisi yakni Pengertian Supervisi Pendidikan, di dalamnya akan di berikan beberapa definisi dari ahli pendidikan.

Baca Juga: Apa Saja Permasalahan Pelaksanaan Supervisi Pendidikan di Sekolah?

A. Pengertian Supervisi Pendidikan

Supervisi secara etimologis berasal dari bahasa inggris “to supervise” atau mengawasi. Menurut Merriam Webster’s Colligate Dictionary di sebutkan bahwa supervisi merupakan “A critical watching and directing”.

Beberapa sumber lainnya menyatakan bahwa supervisi berasal dari dua kata, yaitu “superior” dan “vision”. Hasil analisis menunjukkan bahwa kepala sekolah di gambarkan sebagai seorang “expert” dan “superior”. Sedangkan, guru di gambarkan sebagai orang yang memerlukan kepala sekolah.

Supervisi ialah suatu aktifitas pembinaan yang di rencanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan secara efektif (Purwanto, 2000).

Manullang (2005) menyatakan bahwa supervisi merupakan proses untuk menerapkan pekerjaan apa yang sudah di laksanakan, menilainya dan bila perlu mengkoreksi dengan maksud supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana semula.

Supervisi merupakan usaha memberi pelayanan agar guru menjadi lebih profesional dalam menjalankan tugas melayani peserta didik1. Sehingga, supervisi dapat di artikan sebagai segala bantuan dari para pemimpin sekolah, yang tertuju kepada perkembangan kepemimpinan guru-guru dan personel sekolah lainnya di dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan.

la berupa dorongan, bimbingan, dan kesempatan bagi pertumbuhan keahlian dan kecakapan guru-guru. Contohnya seperti bimbingan dalam usaha dan pelaksanaan pembaharuan dalam pendidikan dan pengajaran, pemilihan alat pelajaran dan metode mengajar yang lebih baik, cara penilaian yang sistematis terhadap fase seluruh proses pengajaran, dan sebagainya.

Dengan kata lain, supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang di rencanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Supervisi ini merupakan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan teknis edukatif di sekolah, bukan sekedar pengawasan fisik terhadap fisik material.

Atau, supervisi merupakan pengawasan terhadap kegiatan akademik yang berupa proses belajar mengajar, pengawasan terhadap guru dalam mengajar, pengawasan terhadap situasi yang menyebabkannya2. Aktivitas di lakukan dengan mengidentifikasi kelemahan-kelemahan pembelajaran untuk di perbaiki, apa yang menjadi penyebabnya dan mengapa guru tidak berhasil melaksanakan tugasnya baik3.

Baca juga: Supervisi Manajerial dan Permasalahannya

B. Fungsi Pengawasan

Fungsi pengawasan atau supervisi dalam pendidikan bukan hanya sekadar kontrol melihat apakah segala kegiatan telah di laksanakan sesuai dengan rencana atau program yang telah di gariskan, tetapi lebih dari itu.

Supervisi dalam pendidikan mengandung pengertian yang luas. Kegiatan supervisi mencakup penentuan kondisi-kondisi atau syarat-syarat personel maupun material yang di perlukan untuk terciptanya situasi belajar-rnengajar yang efektif, dan usaha memenuhi syarat-syarat itu.

Seperti di katakan oleh Nealey dan Evans dalam bukunya, “Hand­ book for Effective Supervision of Instruction“, seperti berikut:

… the term ‘supervision’ is used to describe those activities which are primarily and directly concerned with studying and improving the conditions which surround the learning and growth of pupils and teachers

Dalam dunia pendidikan di Indonesia, perkataan supervisi belum begitu populer. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga sekarang orang lebih mengenal kala “inspeksi” daripada supervisi.

Pengertian “inspeksi” sebagai warisan pendidikan Belanda dulu, cenderung kepada pengawasan yang bersifat otokratis, yang berarti “mencari kesalahan-kesalahan guru dan kemudian menghukumnya”. Sedangkan supervisi mengandung pengertian yang lebih demokratis.

Dalam pelaksanaannya, supervisi bukan hanya mengawasi apakah para guru/pegawai menjalankan tugas dengan baik sesuai instruksi atau ketentuan yang telah di gariskan. Tetapi, juga berusaha bersama guru-guru, bagaimana cara-cara memperbaiki proses belajar-mengajar.

Jadi dalam kegiatan supervisi, guru tidak di anggap sebagai pelaksana pasif. Akan tetapi, di perlakukan sebagai partner bekerja yang memiliki ide, pendapat, dan pengalaman yang perlu di dengar dan di hargai serta di ikutsertakan di dalam usaha perbaikan pendidikan.

Pengertian Supervisi Pendidikan

Sesuai dengan apa yang di katakan oleh Burton dalam bukunya, “Supervision a Social Process“, sebagai berikut:

Supervision is an expert technical service primarily aimed at studying and improving cooperatively allfactors which affect child growth and development“.

Sesuai dengan rumusan Burton tersebut, maka:

  1. Supervisi yang baik mengarahkan perhatiannya kepada dasar-dasar pendidikan dan cara-cara belajar serta perkembangannya dalam pencapaian tujuan umum pendidikan.
  2. Tujuan supervisi adalah perbaikan dan perkembangan proses belajar- mengajar secara total; ini berarti bahwa tujuan supervisi tidak hanya untuk memperbaiki mutu mengajar guru, tetapi juga membina pertumbuhan profesi guru.
    Dalam arti luas terrnasuk di dalamnya pengadaan fasilitas yang menunjang kelancaran proses belajar-mengajar, peningkatan mutu pengetahuan dan keterampilan guru-guru. Selain itu, pemberian bimbingan dan pembinaan dalam hal implementasi kurikulum, pemilihan dan penggunaan metode mengajar, alat-alat pelajaran, prosedur dan teknik evaluasi pengajaran, dan sebagainya.
  3. Fokusnya pada setting jor learning, bukan pada seseorang atau sekelompok orang. Semua orang, seperti guru-guru, kepala sekolah, dan pegawai sekolah lainnya, adalah teman sekerja (coworkers) yang sama-sama bertujuan mengembangkan situasi yang memungkinkan terciptanya kegiatan belajar-mengajar yang baik.

Supervisi pendidikan menurut Ametembun adalah pembinaan kearah perbaikan situasi pendidikan atau peningkatan mutu pendidikan.

Sedangkan, menurut Sahertian4 supervisi telah berkembang dari yang bersifat tradisional menjadi supervisi yang bersifat ilmiah, yakni:

  1. Sistematis, artinya di laksanakan secara teratur, berencana dan secara kontinu.
  2. Objektif, artinya ada data yang di dapat berdasarkan observasi nyata, bukan berdasarkan tafsiran pribadi.
  3. Menggunakan alat pencatat yang dapat memberikan informasi sebagai umpan balik untuk mengadakan umpan balik untuk mengadakan penilaian terhadap proses pembelajaran di kelas.

Dari beberapa pengertian di atas, supervisi secara sederhana bahwa supervisi merupakan upaya kepala sekolah dalam pembinaan guru untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran di sekolah5.

Di tinjau dari objek yang di supervisi, ada tiga macam supervisi pendidikan yaitu :

1. Supervisi Akademik dalam Supervisi Pendidikan

Dalam Supervisi Pendidikan, Supervisi Akademik menitik beratkan pengamatan supervisor pada masalah-masalah akademik. Diantaranya adalah hal-hal yang langsung berada dalam lingkungan kegiatan pembelajaran pada waktu siswa sedang dalam proses pembelajaran.

2. Supervisi Administrasi

Bagian kedua adalah Supervisi Administrasi, supervisi ini menitik beratkan pengamatan supervisor pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dengan pelancar terlaksanannya pembelajaran.

Pengertian Supervisi Pendidikan

3. Supervisi Lembaga

Supervisi Lembaga menitik beratkan pengamatan supervisor pada aspek-aspek yang berada di sekolah. Jika supervisi akademik di maksudkan untuk meningkatkan pembelajaran, maka supervisi lembaga di maksudkan untuk meningkatkan nama baik sekolah atau kinerja sekolah.

Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut peran kepala sekolah sebagai supervisor sangatlah penting. Oleh karena, supervisi adalah kegiatan pengawas kepala sekolah untuk memperbaiki kondisi baik fisik maupun non fisik untuk mencapai proses pembelajaran yang lebih baik6.

Dari uraian di atas dapat di pahami bahwa supevisi bukanlah suatu perintah, akan tetapi merupakan bimbingan, pembinaan dan arahan kepada guru.

Daftar Rujukan

  • 1Donni Juni Priansa, Manajemen Supervisi & Kepemimpinan Kepala Sekolah, (Bandung: Alfabeta ), h. 84
  • 2 Ngalim Purwanto, Administrasi Dan Supervisi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), h.76
  • 3 Dadang suhardan, supervisi profesional, (Bandung: Alfabeta, 2010) h. 39
  • 4N.A. Ametembun, Supervisi Pendidikan Disusun Secara Berprogam (Bandung: Suri, 2007), h. 3
  • 5Piet sahertian, Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 16
  • 6Dadang suhardan, supervisi profesional, (Bandung: Alfabeta, 2010), h. 47

Rujukan utama tulisan diperoleh dari: http://repository.radenintan.ac.id/75/7

Demikian
Semoga bermanfaat


Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca