Problem Based Learning: Definisi, Karakteristik, Sintaks, Kelebihan dan Kelemahannya

Sintaks Problem Based Learning

HermanAnis.com – Problem Based Learning adalah salah satu pendekatan atau model pembelajaran yang disarankan untuk digunakan dalam pembelajaran di Perguruan Tinggi (PT) maupun di jenjang Sekolah Menengah. Problem Based Learning (PBL) atau biasa juga diterjemahkan sebagai pembelajaran berbasis masalah.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Nah, dalam tulisan ini kita akan membahas lebih jauh tentang pengertian atau definisi, karakteristik, bagaimana penilaian dalam PBL. Kemudian pada bagian akhir, akan di uraikan kelebihan dan kelemaham model PBL.

Pentingnya Problem Based Learning dalam pembelajaran

Salah satu kemampuan peserta didik yang masih di anggap lemah adalah kemampuan dalam menggunakan kemampuan berpikirnya untuk menyelesaikan masalah.

Oleh karena, ini terjadi bukan karena peserta didik kurang memiliki informasi yang di butuhkan untuk menyelesaikan masalah, namun ini diduga di sebabkan oleh akvitas pembelajaran yang lebih banyak berisi informasi yang bersifat hafalan saja.

Akibatnya, pengetahuan dan informasi yang di miliki sulit untuk di hubungkan dengan situasi yang mereka hadapi.

Kita sudah sering mendengar keluhan, betapa beratnya mereka mengikuti pembelajaran di sekolah, apalagi dalam masa pandemi sekarang ini. Heuh…

Dengan kondisi yang sangat terbatas, seperti sekarang ini, mereka tetap di tuntut untuk mengetahui segala hal yang di tuntut oleh kurikulum.

Olehnya itu, pendidikan harus membekali mereka dengan kemampuan-kemampuan yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan yang mereka hadapi. Kemampuan tersebut adalah kemampuan memecahkan masalah.

Sehingga, kemampuan ini dapat di kembangkan melalui pembelajaran di mana masalah di hadirkan di kelas dan peserta didik di minta untuk menyelesaikannya dengan segala pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki.

Karena, pembelajaran bukan lagi sebagai “transfer of knowledge”, tetapi mengembangkan potensi peserta didik secara sadar melalui kemampuan yang lebih dinamis dan aplikatif.

Berdasarkan hal tersebut, guru perlu merancang pembelajaran yang mampu membangkitkan potensi peserta didik dalam menggunakan kemampuan berpikirnya untuk menyelesaikan masalah.

Salah satu pendekatan pembelajaran tersebut adalah apa yang di sebut “Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)” atau “Problem Based Learning (PBL)”.

Baca Juga: Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Sehingga, pendekatan pembelajaran ini di pusatkan kepada masalah-masalah yang di sajikan oleh guru dan peserta didik menyelesaikan masalah tersebut dengan seluruh pengetahuan dan keterampilan mereka dari berbagai sumber yang dapat di peroleh.

Selanjutnya, untuk memfokuskan bahasan, maka bahasan akan dibagi menjadi topik-topik yakni :

  1. Pengertian Problem Based Learning ;
  2. Karakteristik Model Problem Based Learning (PBL);
  3. Sintaks PBL ;
  4. Penilaian dalam Problem Based Learning (PBL); dan
  5. Kelebihan dan kekurangan Problem Based Learning.

Baca Juga: Pembelajaran Inovatif Abad 21

Pengertian atau Definisi Problem Based Learning (PBL)

Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat menolong peserta didik untuk meningkatkan keterampilan yang di butuhkan pada era globalisasi saat ini.

Lebih lanjut, PBL di kembangkan untuk pertama kali oleh Prof. Howard Barrows sekitar tahun 1970-an dalam pembelajaran ilmu medis di McMaster University Canada.

Problem Based Learning sebagai sebuah pendekatan pembelajaran di terapkan dengan alasan bahwa PBL sangat efektif untuk sekolah kedokteran dimana peserta didik di hadapkan pada permasalahan kemudian di tuntut untuk memecahkannya.

PBL lebih tepat di laksanakan di bandingkan dengan pendekatan pembelajaran tradisional.

Hal ini dapat di mengerti bahwa para dokter yang nanti bertugas pada kenyataannya selalu di hadapkan pada masalah pasiennya sehingga harus mampu menyelesaikannya.

Walaupun pertama di kembangkan dalam pembelajaran di sekolah kedokteran tetapi pada perkembangan selanjutnya di terapkan dalan pembelajaran secara umum.

Barrow (1980, Barret, 2005) mendefinisikan Problem Based Learning sebagai,

“The learning that results from the process of working towards the understanding of a resolution of a problem. The problem is encountered first in the learning process.”

Sementara Cunningham et.al.(2000, Chasman er.al., 2003) mendefiniskan PBL sebagai:

…Problem-based learning (PBL) has been defined as a teaching strategy that “simultaneously develops problem-solving strategies, disciplinary knowledge, and skills by placing students in the active role as problem-solvers confronted with a structured problem which mirrors real-world problems”.

Model pembelajaran ini menyajikan suatu masalah yang nyata bagi peserta didik sebagai awal pembelajaran kemudian di selesaikan melalui penyelidikan dan di terapkan dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah.

Beberapa definisi lain tentang Problem Based Learning (PBL) :

  1. Menurut Duch, Problem Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah ini di gunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud.
  2. Menurut Arends, Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana peserta didik di hadapkan pada masalah autentik (nyata) sehingga di harapkan mereka dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan keterampilan tingkat tinggi dan inkuiri, memandirikan peserta didik, dan meningkatkan kepercayaan dirinya.
  3. dan, Glazer, mengemukakan Problem Based Learning merupakan suatu strategi pengajaran di mana peserta didik secara aktif di hadapkan pada masalah kompleks dalam situasi yang nyata.

Landasan teori PBL adalah kolaborativisme, suatu pandangan yang berpendapat bahwa peserta didik akan menyusun pengetahuan dengan cara membangun penalaran dari semua pengetahuan yang sudah di milikinya dan dari semua yang di peroleh sebagai hasil kegiatan berinteraksi dengan sesama individu.

Sehingga, hal tersebut juga menyiratkan bahwa proses pembelajaran berpindah dati transfer informasi ke proses konstruksi pengetahuan yang sifatnya social dan individual.

Menurut paham konstruktivisme, manusia hanya dapat memahami melalui segala sesuatu yang di konstruksinya sendiri.

Problem Based Learning memiliki gagasan bahwa pembelajaran dapat di capai jika kegiatan pendidikan di pusatkan pada tugas-tugas atau permasalahan yang otentik, relevan, dan di presentasikan dalam suatu konteks.

Cara tersebut bertujuan agar peserta didik memilki pengalaman sebagaimana nantinya mereka hadapi di kehidupan profesionalnya.

Pengalaman tersebut sangat penting karena pembelajaran yang efektif di mulai dari pengalaman konkrit. Pertanyaan, pengalaman, formulasi, serta penyususan konsep tentang pemasalahan yang mereka ciptakan sendiri merupkan dasar untuk pembelajaran.

Dari informasi tersebut dapat di simpulkan bahwa Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang menghadapkan peserta didik pada masalah dunia nyata (real world) untuk memulai pembelajaran dan merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada peserta didik .

Problem Based Learning adalah pengembangan kurikulum dan proses pembelajaran.

Dalam kurikulumnya, di rancang masalah-masalah yang menuntut peserta didik mendapatkan pengetahuan yang penting, membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki strategi belajar sendiri serta kecakapan berpartisipasi dalam tim.

Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau tantangan yang di butuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Model Problem Based Learning bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai suatu yang harus di pelajari peserta didik .

Dengan model Problem Based Learning di harapkan peserta didik mendapatkan lebih banyak kecakapan daripada pengetahuan yang di hafal.

Mulai dari kecakapan memecahkan masalah, kecakapan berpikir kritis, kecakapan bekerja dalam kelompok, kecakapan interpersonal dan komunikasi, serta kecakapan pencarian dan pengolahan informasi.

Savery, Duffy, dan Thomas (1995) mengemukakan dua hal yang harus di jadikan pedoman dalam menyajikan permasalahan.

  • Pertama, permasalahan harus sesuai dengan konsep dan prinsip yang akan di pelajari.
  • Kedua, permasalahan yang di sajikan adalah permasalahan riil, artinya masalah itu nyata ada dalam kehidupan sehari-hari peserta didik

Sehingga dapat di simpulkan, bahwa dalam Problem Based Learning pembelajarannya lebih mengutamakan proses belajar, di mana tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu peserta didik, mencapai keterampilan mengarahkan diri.

olehnya itu, Guru dalam model ini berperan sebagai penyaji masalah, penanya, mengadakan dialog, membantu menemukan masalah, dan pemberi fasilitas pembelajaran.

Selain itu, guru memberikan dukungan yang dapat meningkatkan pertumbuhan inkuiri dan intelektual peserta didik. Model ini hanya dapat terjadi jika guru dapat menciptakan lingkungan kelas yang terbuka dan membimbing pertukaran gagasan.

Karakteristik Problem Based Learning (PBL)

Barrow, Min Liu, menjelaskan karakteristik dari Problem Based Learning, yaitu :

  1. Learning is student-centered
  2. Authentic problems form the organizing focus for learning
  3. New information is acquired through self-directed learning
  4. Learning occurs in small groups.
  5. Teachers act as facilitators.

Ciri yang paling utama dari model pembelajaran Problem Based Learning yaitu di munculkannya masalah pada awal pembelajarannya.

Menurut Arends berbagai pengembangan pengajaran berdasarkan masalah telah memberikan model pengajaran itu memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Pengajuan pertanyaan atau masalah.
    • Autentik,
    • Jelas,
    • Mudah di pahami,
    • Luas dan sesuai tujuan pembelajaran, dan
    • Bermanfaat.
  2. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin ilmu.
  3. Penyelidikan autentik (nyata). .
  4. Menghasilkan produk dan memamerkannya.
  5. Kolaboratif.

Adapun beberapa karakteristik proses Problem based learning menurut Tan di antaranya :

  1. Masalah di gunakan sebagai awal pembelajaran.
  2. Biasanya, masalah yang di gunakan merupakan masalah dunia nyata yang di sajikan secara mengambang.
  3. Masalah biasanya menuntut perspektif majemuk. Solusinya menuntut peserta didik menggunakan dan mendapatkan konsep dari beberapa ilmu yang sebelumnya telah di ajarkan atau lintas ilmu ke bidang lainnya.
  4. Masalah membuat peserta didik tertantang untuk mendapatkan pembelajaran di ranah pembelajaran yang baru.
  5. Sangat mengutamakan belajar mandiri (self directed learning).
  6. Memanfaatkan sumber pengetahuan yang bervariasi, tidak dari satu sumber saja.
  7. Pembelajarannya kolaboratif, komunikatif, dan kooperatif. Peserta didik bekerja dalam kelompok, berinteraksi

Penjelasan selengkapnya tentang karakteristik Karakteristik Problem Based Learning (PBL) dapat anda baca pada artikel berikut:

Karakteristik PBL

Penilaian dalam Problem Based Learning (PBL)

Penilaian dalam Problem Based Learning tentunya tidak hanya kepada hasilnya saja tetapi terhadap proses pembelajaran yang di lakukan oleh siswa. National Research Council (NRC), memberikan tiga prinsip berkaitan penilaian dalam PBL, yaitu yang berkaitan dengan konten, proses pembelajaran, dan kesamaan. Lebih jelasnya sebagai berikut.

Baca Juga: Langkah Langkah Model Pembelajaran Inkuiri

  • Konten: penilaian harus merefleksikan apa yang sangat penting untuk di pelajari dan di kuasai oleh siswa
  • Proses pembelajaran: penilaian harus sesuai dan di arahkan pada proses pembelajaran
  • Kesamaan: penilaian harus menggambarkan kesamaan kesempatan siswa untuk belajar


Oleh karena itu, menurut Waters and McCracken penilaian yang di lakukan harus dapat :

  • Menyajikan situasi secara otentik
  • Menyajikan data secara berulang-ulang
  • Memberikan peluang pada siswa untuk dapat mengevaluasi dan merefleksi pemahaman dan kemampuannya sendiri
  • Menyajikan laporan perkembangan kegiatan siswa.

Dari uraian tersebut dapat di simpulkan bahwa penilaian dalam PBL tidak hanya kepada hasil akhir tetapi juga yang tidak kalah pentingnya adalah penilaian proses.

Sehingga, penilaian ini bisa di dasarkan pada jenis penilaian otentik (autentic assessment) di mana penilaian di fokuskan terhap proses belajar.

Oleh karena itu, peran guru dalam proses PBL tidak pasif tetapi harus aktif dalam memantau kegiatan peserta didik serta mengontrol agar proses pembelajaran berjalan dengan baik.

Sementar itu, untuk mengetahui sejauhmana hasil belajar yang telah di peroleh siswa, guru pun perlu untuk mengadakan tes secara individual. Jadi penialaian di lakukan secara kelompok juga individual.

Sintaks Problem Based Learning

Barret (2005) menjelaskan Sintaks Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) adalah sebagai berikut:

  1. Tahap pertama, adalah proses orientasi peserta didik pada masalah. Peserta didik di beri permasalahan oleh guru (atau permasalahan di ungkap dari pengalaman peserta didik). Pada tahap ini guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang di perlukan, memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah, dan mengajukan masalah.
  2. Tahap kedua, mengorganisasi peserta didik. Pada tahap ini guru membagi peserta didik kedalam kelompok, membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah.
  3. Tahap ketiga, membimbing penyelidikan individu maupun kelompok. Pada tahap ini guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang di butuhkan, melaksanakan eksperimen dan penyelidikan untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
  4. Tahap keempat, mengembangkan dan menyajikan hasil. Pada tahap ini guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan laporan, dokumentasi, atau model, dan membantu mereka berbagi tugas dengan sesama temannya.
  5. Tahap kelima, menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah. Pada tahap ini guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses dan hasil penyelidikan yang mereka lakukan.

Dalam bentuk bagan, Sintaks PBL di berikan dalam gambar di bawah ini.

 Sintaks Problem Based Learning (PBL)
Gambar : Sintaks Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)

Kelebihan dan Kelemahan PBL

a. Kelebihan

Sebagai suatu model pembelajaran, PBL memiliki beberapa kelebihan, di antaranya :

  1. Menantang kemampuan peserta didik memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi peserta didik.
  2. Meningkatakan motivasi dan aktivitas pembelajaran peserta didik.
  3. Membantu peserta didik dalam mentransfer pengetahuan peserta didik untuk memahami masalah dunia nyata.
  4. Membantu peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
    Di samping itu, PBL dapat mendorong peserta didikuntuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
  5. Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
  6. Memberikan kesemnpatan bagipeserta didikuntuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
  7. Mengembangkan minat peserta didikuntuk secaraterus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
  8. Memudahkan peserta didik dalam menguasai konsep-konsep yang dipelajari guna memecahkan masalah dunia.

b. Kelemahan PBL

Selain kebihan, Problem based learning juga memiliki kelemahan, di antaranya:

  1. Manakala peserta didik tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang di pelajari sulit untuk di pecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencobanya.
  2. Untuk sebagian peserta didik beranggapan bahwa tanpa pemahaman mengenai materi yang di perlukan untuk menyelesaikan masalah mengapa mereka harus berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang di pelajari, maka mereka akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
  3. PBL tidak dapat di terapkan untuk setiap materi pelajaran, ada bagian guru berperan aktif dalam menyajikan materi. PBL lebih cocok untuk pembelajaran yang menuntut kemampuan tertentu yang kaitannya dengan pemecahan masalah.
  4. Dalam suatu kelas yang memiki tingkat keragaman siswa yang tinggi akan terjadi kesulitan dalam pembagian tugas
  5. Problem Based Learning kurang cocok untuk di terapkan di sekolah dasar karena masalah kemampuan bekerja dalam kelompok. PBL sangat cocok untuk mahasiswa perguruan tinggi atau paling tidak sekolah menengah.
  6. PBL biasanya membutuhkan waktu yang tidak sedikit sehingga di khawatirkan tidak dapat menjangkau seluruh konten yang di harapkan walapun PBL berfokus pada masalah bukan konten materi.
  7. Membutuhkan kemampuan guru yang mampu mendorong kerja siswa dalam kelompok secara efektif, artinya guru harus memilki kemampuan memotivasi siswa dengan baik.
  8. Adakalanya sumber yang di butuhkan tidak tersedia dengan lengkap.

Baca Juga: Sintaks Discovery Learning

Selain itu ada beberapa pendapat yang menjelaskan bahwa beberapa Kelebihan dalam penerapan metode Pembelajaran Problem Based Learning antara lain:

  1. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memecahkan masalah-masalah menurut cara-cara atau gaya belajar individu masing-masing. Dengan cara mengetahui gaya belajar masing-masing individu, kita diharapkan dapat membantu menyesuaikan dengan pendekatan yang kitapakai dalam pembelajaran.
  2. Pengembangan keterampilan berpikir kritis (critical thinking skills).
  3. Peserta didik di l atih untuk mengembangkan cara-cara menemukan (discovery), bertanya(questioning), mengungkapkan (articulating), menjelaskan atau mendeskripsikan (describing)mempertimbangkan atau membuat pertimbangan (considering), dan membuat keputusan (decisionmaking).
Dengan demikian, peserta didik menerapkan suatu proses kerja melalui suatu situasi bermasalah yang mengandung masalah. Selanjutnya adalah Kelemahan dalam penerapan metode Pembelajaran Problem Based Learning antara lain:
  1. Pembelajaran model Problem Based Learning memnbutuhksn waktu yang lama.
  2. Perlu di tunjang oleh buku yang dapat di jadikan pemahaman dalam kegiatan belajar terutama membuat soal.

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa dari beberapa kelebihan dan kelemahan model pembelajaran problem based learning ini di peroleh beberapa nilai pokok yang harus di kembangkan oleh guru dalam menghidupkan suasana pembelajaran.

Olehnya itu, guru tidak hanya berperan sebagai subjek utama dalam pembelajaran tapi di sisi lain guru harus melibatkan peserta didik agar kemampuan berfikir kritis peserta didik dapat berkembang walaupun masih saja dapat di nilai tidak semua materi pelajaran dapat di sajikan dalam bentuk permasalahan untuk memperoleh penyelesaian tapi setidaknya dengan bekerja sama dapat menumbuh kembnagkan minat dan bakat peserta didik secara tidak langsung.

Daftar Rujukan

  • Duch, B. J., Groh, S. E, & Allen, D. E. (Eds.). (2001). The power of problem-based learning. Sterling, VA: Stylus.
  • Grasha, A. F. (1996). Teaching with style: A practical guide to enhancing learning by understanding teaching and learning styles. Pittsburgh: Alliance Publishers.
  • Barret, Terry (2005). Understanding Problem Based Learning. [online].Tersedia pada: https://trepo.tuni.fi/bitstream/handle/10024/65679/understanding_problem_based_learning_2006.pdf?sequence=1 [09 – 08 -2021]
  • Waters, R and McCracken, M. Assessment and Evaluation In Problem Based Learning. Georgia Intitute of Technoloy : Georgia. Tersedia pada: https://ieeexplore.ieee.org/document/635894/ [08 – 08 -2021]
  • Miao, Yongwu et.al. (-).PBL-protocols: Guiding and Controlling Problem Based Learning Processes in Virtual Learning Environment. GMD : Darmstad. Tersedia pada:https://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.444.2063&rep=rep1&type=pdf [01-08-2021]
  • Liu, Min. (2005). Motivating Students Through Problem-based Learning. University of Texas : Austin. Tersedia pada: https://authorzilla.com/xjJVD/motivating-students-through-problem-based-learning-sullivan [02-08-2021]
  • Dindin Abdul Muiz Lidinillah. PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING)

Baca Juga:

Terima kasih telah membaca artikel ini,
Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: