Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran

Pengelolaan Kelas

HermanAnis.com – Teman-teman semua dalam kesempatan ini kita akan membahas satu topik dalam pembelajaran yakni Pengelolaan Kelas. Dalam tulisan ini, akan di uraikan definisi, tujuan, prinsip-prinsip, program, dan penerapan Pengelolaan Kelas yang baik. Mari kita mulai!

A.  Pengertian Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas merupakan segala usaha yang di arahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi peserta didik untuk belajar dengan baik sesuai kemampuan. Selain itu, pengelolaan kelas dapat juga di definisikan sebagai suatu usaha yang di lakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar-mengajar atau yang membantu dengan maksud agar di capai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan (Arikunto: 1996).

Pengelolaan kelas meliputi dua hal, yaitu pengelolaan yang menyangkut siswa, dan pengelolaan fisik (ruangan, perabot, alat pengajaran), atau dengan kata lain bahwa pengelolaan kelas khusus membicarakan pengaturan siswa di dalam sebuah kelas dalam hubungan belajar-mengajar. Olehnya itu, maka pengelolaan kelas dapat di artikan sama dengan penciptaan lingkungan belajar.

Pengelolaan Kelas
Sumber: ezyschooling

Menurut Modul Pengelolaan Kelas, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Institusi Pendidikan Tinggi (1982), yang dimaksud dengan pengelolaan kelas memiliki lima definisi, yaitu pengelolaan kelas:

  1. Sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku peserta didik
  2. Sebagai berdasarkan pandangan yang bersifat permisif
  3. Berdasarkan prinsip-prinsip pengubahan tingkah laku (behavioral modification)
  4. Sebagai proses penciptaan iklim sosio-emosional yang positif di dalam kelas.
  5. Sebagai sistem sosial dengan proses kelompok (group process) sebagai intinya.

Penjelasan tentang lebih lengkap dapat di baca pada artikel berikut: Pengertian Pengelolaan Kelas

B. Tujuan Pengelolaan Kelas

Menurut Arikunto, tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Trend baru dalam manajemen kelas lebih memfokuskan kepada kebutuhan peserta didik untuk mengembangkan hubungan dan kesempatan untuk menata diri.

Menekankan pada pembimbingan peserta didik untuk menjadi lebih mau berdisiplin diri dan tidak terlalu menekankan pada control eksternal atas diri peserta didik. Manajemen kelas yang efektif mempunyai beberapa tujuan, yaitu:

  1. membantu peserta didik menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar dan mengurangi waktu aktivitas yang tidak di orientasikan pada tujuan,
  2. mencegah peserta didik mengalami masalah akademik,
  3. mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin,
  4. menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar,
  5. menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan peserta didik belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual peserta didik dalam kelas dan,
  6. Membina dan membimbing peserta didik sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, dan sifat-sifat individualnya.

Sejalan dengan itu, menurut Sudirman pada hakikatnya terkandung dalam tujuan pendidikan. Di mana, tujuan pendidikan di antaranya adalah menyediaan fasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar peserta didik dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas.

Fasilitas yang di sediakan itu memungkinkan peserta didik belajar dan bekerja. Terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana di siplin, perkembangan intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi pada peserta didik.

C. Masalah dalam Pengelolaan Kelas

Masalah Pengelolaan Kelas dapat di kelompokkan menjadi dua katagori, yaitu masalah individual dan masalah kelompok. Tindakan yang di lakukan akan efektif apabila dapat mengidentifikasi dengan tepat hakekat masalah yang sedang di hadapi, sehingga pada gilirannya dapat memilih strategi penanggulangan yang tepat pula.

Menurut Rudolf Dreikurs dan Pearl Cassel, dan juga artikel yang di tulis melalui internet oleh Akhmad Sudrajat (2008), membedakan empat kelompok masalah menglola kelas individual yang di dasarkan asumsi bahwa semua tingkah laku individual merupakan upaya pencapaian tujuan pemenuhan kebutuhan untuk di terima kelompok dan kebutuhan untuk mencapai harga diri.

  • tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian orang lain (attention getting behaviour). Misalnya membadut di kelas, atau berbuat serba lamban sehingga perlu mendapat perhatian ekstra.
  • tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan (power seeking behaviour). Misalnya selalu mendebat atau kehilangan kendali emosional.
  • tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain (revenge seekig behaviour). Misalnya mengejek, mengolokolok dsb.
  • peragaan ketidakmampuan, yaitu dalam bentuk sama sekali menolak untuk mencoba melakukan apapun karena yakin bahwa hanya kegagalanlah yang menjadi bagiannya.

Lois V, Johnson, dan Mary A. Mengemukakan 6 katagori masalah kelompok dalam mengelola kelas.

  • Kelas kurang kohesif. Misalnya perbedaan jenis kelamin, suku, tingkat sosio-ekonomi dsb.
  • Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya.
  • Membesarkan hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok.
  • Kelompok mudah di alihkan perhatiannya dari tugas yang tengah di kerjakan.
  • Semangat kerja rendah. Misalnya protes karena rasa tidak adil dalam pemberian tugas.
  • Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Misalnya gangguan jadwal, penggantian sementara oleh pendidik lain

D. Prinsip-prinsip pengelolaan kelas

Untuk menguasai kelas, setiap pendidik perlu memahami prinsip-prinsip dalam mengelola kelas. Prinsip-prinsip pengelolaan kelas setidaknya ada 6 yakni,

  1. Kehangatan dan ketantusiasin
  2. Tantangan
  3. Bervariasi
  4. Keluwesan
  5. Penekanan pada hal-hal yang positif
  6. Penanaman di siplin diri

Baca Juga:
Proses Perencanaan Kegiatan Pembelajaran pada Kurikulum Merdeka

1. Kehangatan dan ketantusiasin

Kehangatan dan keantusiasan guru dapat memudahkan terciptanya iklim kelas yang menyenangkan yang merupakan salah satu syarat bagi kegiatan belajar mengajar yang optimal.

2. Tantangan

Penggunaan kata-kata, tindakan, atau bahan-bahan yang menentang akan meningkatnya gairah peserta didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku menyimpang.

3. Bervariasi

Penggunaan alat atau media, gaya dan interaksi belajar mengajar yang bervariasi merupakan kunci tercapainya pengelolaan kelas yang efektif yang menghin dari kejenuhan.

4. Keluwesan

Tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dan dapat mencegahkemungkinan munculnya ganguan peserta didik serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif.

5. Penekanan pada hal-hal yang positif

Pada sadarnya, di dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan hal-hal yang positif dan menghindari pemutusan perhatian peserta didik pada hal-hal yang negative.

6. Penanaman disiplin diri

Pengembangan d isiplin diri sendiri oleh peserta didik merupakan tujuan akhir dari pengelolaan kelas. Untuk itu guru harus  selalu mendorong peserta didik untuk melaksanakan di siplin diri, dan guru sendiri hendaknya menjadi contoh atau teladan tentang pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab.

Baca Juga:
Pembelajaran Inovatif Abad 21

E. Pendekatan dalam Penglolaan Kelas

Seorang guru mendalami kerangka acuan pendekatan-pendekatan kelas sebagai pekerja profesional, sebab di dalam penggunaan pendekatan tersebut  harus terlebih dahulu yakin bahwa pendekatan yang dipilih oleh guru merupakan alternatif yang baik untuk menangani kasus penglolaan kelas sesuai dengan masalahnya.

Jika alternatif yang dipilih oleh guru tidak memberikan hasil yang memadai, maka guru masih bisa melakukan analisa kembali terhadap pendekatan yang digunakan tersebut. Adapun pendekatan dalam penglolaan kelas ini antara lain:

  1. Behaviour Modification Approach dalam mengelola kelas
  2. Socio-Emotional Climate Approach dalam mengelola kelas
  3. Group Processess Approach dalam mengelola kelas
  4. Eclectic Approach dalam mengelola kelas
  5. Pendekatan Kekuasaan dalam pengelolaan kelas
  6. Pendakatan Mengubah Tingkah Laku dalam pengelolaan kelas
  7. Pendekatan Proses Kelompok dalam pengelolaan kelas
  8. Pendekatan Pluralistrik dalam pengelolaan kelas

Penjelasan tentang Pendekatan Pengelolaan Kelas menurut pakar atau ahli dapat Anda baca pada artikel berikut: Pendekatan Pengelolaan Kelas

F. Komponen-Komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas

Mengelola kelas merupakan keterampilan guru/dosen untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya ke kondisi yang optimal jika terjadi gangguan, baik dengan cara mendisiplinkan ataupun melakukan remedial.

Usaha yang di lakukan dalam menciptakan kondisi yang di harapkan apabila:

  • di ketahui secara tepat faktor-faktor mana sajakah yang dapat menunjang terciptanya kondisi yang menguntungkan dalam proses belajar-mengajar.
  • dikenal masalah apa sajakah yang diperkirakan dan biasanya timbul merusak iklim belajar-mengajar.
  • di kuasainya berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas dan di ketahui pula kapan dan untuk masalah mana suatu pendekatan di gunakan.

Penerapan pengelolaan di kelas bermanfaat bagi siswa, yaitu untuk mendorong peserta didik mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya; membantu peserta didik untuk mengerti tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan memahami bahwa teguran merupakan suatu peringatan bukan kemarahan; menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku yang sesuai dengan aktivitas kelas.

Sebagai indikator dari sebuah kelas yang tertib adalah apabila:

  1. Setiap anak terus bekerja, tidak macet, artinya tidak ada anak yang terhenti karena tidak tahu akan tugas yang harus dikerjakan atau tidak dapat melakukan tugas yang diberikan kepadanya.
  2. Setiap anak terus melakukan pekerjaan tanpa membuang waktu, artinya setiap anak akan bekerja secepatnya agar lekas selesai.

Keterampilan mengelola kelas dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

1. Keterampilan yang berkaitan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal.

  • Menunjukkan sikap tanggap
  • Membagi perhatian.
  • Memusatkan perhatian kelompok.
  • Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas.
  • Menegur.
  • Memberi penguatan.

2. Keterampilan yang berkaitan dengan respons pendidik terhadap gangguan (peserta didik)

  • Memodifikasi tingkah laku
  • Pengelolaan kelompok.
  • Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.

Penjelasan tentang Ketermpilan Pengelolaan Kelas menurut pakar atau ahli dapat Anda baca pada artikel berikut: Keterampilan Mengelola Kelas

G. Hal-hal yang perlu di hindari dalam Pengelolaan Kelas

Beberapa kesalahan dalam Pengelolaan Kelas yang perlu di hindari menurut Syaiful Bahri Djamerah:

  1. Campur tangan yang berlebihan (Teachers instruction)
  2. Kelenyapan (Fade away)
  3. Penyimpangan (Digression)
  4. Berhenti dan memulai kegiatan yang tidak tepat
  5. Kecepatan (Pacing)

1. Campur tangan yang berlebihan (Teachers instruction)

Apabila guru menyela kegiatan yang sedang berlangsung dengan berbagai hal seperti komentar, pertanyaan atau petunjuk yang mendadak, maka kegiatan tersebut akan tergangagu dan terputus. Sehingga member kesan kepada peserta didik bahwa guru hanya mementingkan dirinya tanpa memperhatikan kebutuhan peserta didik.

Perbuatan ini di tandai dengan komentar verbal pendidik yang berlebihan, yang “memaksa dirinya masuk” atau mencampuri secara tidak di kehendaki dalam kegiatan peserta didik.

2. Kelenyapan (Fade away)

Ini terjadi saat guru gagal melengkapi intruksi, penjelasan, petunjuk atau komentar, kemudian menghentikan pelajaran tanpa alasan yang jelas, kehilangan akal dalam menyampaikan pelajaran ini yang mengakibatkan peserta didik menerawang, melantur, sehingga keefektifan belajar peserta didik terganggu.

Perbuatan yang menunjukkan adanya kelenyapan dilihat pada tingkah laku pendidik yang gagal dalam melengkapi suatu instruksi, petunjuk, komentar, sehingga penyajiannya menjadi terhenti untuk beberapa saat, yang sifatnya menjadi mengganggu.

3. Penyimpangan (Digression)

Ini terjadi saat guru terlalu asyik menyampaikan pelajaran sehingga penjelasannya menyimpang dari pokok pelajarannya. Penyimpangan terjadi karena pendidik sedemikian asyik membicarakan suatu kegiatan yang keluar dari tujuan pembelajaran.

4. Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan

Ketidak tepatan memulai dan mengakhiri kegiatan bisa terjadi apabila guru tidak menghentikan kegiatan pertama, dan memulai kegiatan kedua, kemudian kembali pada kegiatan pertama lagi, sehingga mengganggu kelancaran kegiatan belajar peserta didik.

Kekeliruan ini timbul bilamana pendidik memulai aktivitas tanpa mengakhiri secara tuntas aktivitas sebelumnya. Dapat pula dia menghentikan kegiatan yang pertama dan memulai kegiatan yang berikutnya, kemudian kembali lagi kepada kegiatan pertama.

5. Kecepatan (Pacing) dan bertele-tele

Kecepatan disini di artikan sebagai tingkat kemajuan peserta didik dalam belajar. Guru perlu menghindari kesalahan berupa menahan kecepatan yang tidak perlu dan menahan penyajian pelajaran yang sedang berjalan. Seperti bertele-tele, pengulangan pelajaran yang tidak perlu.

Kesalahan ini terjadi karena selalu mengulang-ulang hal tertentu, memperpanjang keterangan, mengubah suatu teguran yang sederhana menjadi “ocehan” yang berkepanjangan.

6. Pengulangan penjelasan yang tidak perlu

Kekeliruan di tandai dengan kegiatan pendidik yang membagi petunjuk secara terpisah dalam setiap kelompok, yang sebenarnya petunjuk tersebut dapat di berikan secara klasikal.

Adapun cara menerapkan kedisiplinan dalam pengelolaan kelas yaitu:

  1. Datang ke sekolah tepat waktu.
  2. Rajin belajar.
  3. Menaati peraturan sekolah.
  4. Mengikuti upacara dengan tertib.
  5. Melaksananakan dan mengumpulkan tugas dengan baik dan tepat waktu.

H. Kesimpulan

Pengelolaan kelas Memerlukan suatu persiapan yang matang, dapat mengantisipasi gangguan yang kemungkinan biasanya muncul, dapat menganalisa dan memilih cara dan strategi/pendekatan tertentu, serta dapat mengembalikan tingkah laku sesuai yang diharapkan sehingga kegiatan belajar dapat dilaksanakan secara optimal dan efektif. Seorang guru/dosen disamping terampil dalam memberikan pengajaran tentu dituntut untuk terampil juga dalam pengelolaan kelas.

Di dalam pengelolaan kelas diharapkan merupakan seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosio-emosional yang positif, serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan produktif. Pengelolaan kelas tidak hanya dilakukan oleh pendidik sebagai pelaksana pengajaran, namun pihak sekolah pun ikut memperhatikan dan mendukung tercapainya kondisi belajar peserta didik yang optimal.

Sumber Rujukan:

  • Arikunto, Suharsimi. 1996. Pengelolaan Kelas dan Siswa, Sebuah Pendekatan Evaluatif. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
  • Asmadawati. 2014. Keterampilan Mengelola Kelas. Logaritma, 2, (6).
  • Dewi Dyah W, MM. Pengelolaan Kelas yang Efektif. https://journal.universitassuryadarma.ac.id/index.php/jmm/article/viewFile/544/510
  • Hasibuan, . J. J. & Moedjiono. 2000. Proses Belajar Mengajar. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.
  • Husni El Hilali. 2012. Pentingnya Penglolaan Kelas Dalam Pembelajaran. Edu-Bio, 3.
  • Rohani, Ahmad H. M. dan H. Abu Ahmadi. 1991. Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Pendidikan di Sekolah. Bumi Aksara. Jakarta.
  • Ummu Hany Almasitoh. 2012. Menciptakan Lingkungan Yang Positif Untuk Pembelajaran. Magistra, 79, p. 88.

Demikian semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: