Pemikiran Leonardo da Vinci

Pemikiran Leonardo da Vinci

HermanAnis.com – Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang nasehat berdasarkan pemikiran Leonardo da Vinci. Beberapa ungkapan atau pemikiran Pemikiran Leonardo da Vinci diantaranya adalah, He who possesses most must be most afraid of loss.

Pernyataan ini merupakan pelajaran luar biasa dari Leonardo Da Vinci. Dia yang punya paling banyak biasanya punya rasa takut kehilangan paling besar. Kalau ini sederhana sebenarnya. Kalau yang kamu miliki banyak, maka takut kehilanganmu pasti lebih besar.

Baca Juga: Tujuh Nasihat Jalaludin Rumi

4 Pemikiran Leonardo da Vinci

Mari kita mulai, ungkapan pertamanya,

He who possesses most must be most afraid of loss

Ini nasehat buat kita, hidup kita jangan tergantung pada kepemilikan. Kalau hidupmu tergantung pada kepemilikan maka hidupmu akan di warnai oleh rasa takut kehilangan.

Jadi, kita akan sering menghubungkan diri kita dengan sesuatu di luar diri kita, dengan kata-kata memiliki atau kata-kata punya. “Aku sekarang punya pacar loh”, itu alamat kamu akan berhadapan dengan ketakutan kehilangan pacar.

Yang gak punya pacar enggak punya ketakutan kehilangan pacar. Salahnya di mana? salahnya di relasi yang kamu sambungkan dengan pacarmu tadi. Salahmu sendiri pakai kata-kata punya, make kata-kata memiliki.

Padahal sudah bolak-balik di bilangin, “pacaran itu ndak mesti memiliki”. Kamu masih memiliki terus. Kalau memiliki, kamu akan berhadapan dengan monster yang namanya Kehilangan.

Ini tergantung strategimu, gimana caranya kalimatnya, biar tidak punya atau tidak memiliki. Aku sekarang ada pacarnya. Oke pokoknya jangan di anggap memiliki lah, emangnya pacarmu itu milikmu? kan tidak.

Kalian sedang saling membantu berdua, bertukar fungsi, bertukar manfaat, tapi jangan posesif. Harta juga begitu, “Aku sekarang punya laptop, ini laptop milik saya.

Ya sudah, kamu akan berhadapan saat-saat kamu akan kehilangan laptopmu, sehingga kalau laptopmu rusak, kamu sedihnya luar biasa. Karena ini kemarin milikmu.

Agama menasihati kita, mewanti-wanti kita, “Jangan tergantung apapun selain kepada Allah, karena pasti kamu akan takut dan akhirnya kecewa. Karena semua yang selain Allah, pasti akan meninggalkanmu, jenisnya apapun”

Jadi kalau ingin hidup tenang, kurangi keterikatan dengan apapun. Harta, keluarga, anak istri dan lain-lain. Ini bukan berarti enggak boleh dekat, yang larang dekat siapa? Jangan terikat. Terikat itu nama lainnya tergantung.

Biasanya ini mengujinya dengan kalimat, kalau tidak. “Kalau tidak kamu aku ndak, Kalau tidak ada kamu hidupnya gelap, kalau tidak laptop ini aku nggak bisa kerja. Kalau ndak ngerokok pikiranku mumet. Itu ciri-ciri ketergantungan, begitu ada kata-kata “kalau tidak”, berarti kamu tergantung.

Baca Juga: Daftar Penerima Hadiah Nobel dalam Bidang Fisika

1. He who possesses most must be most afraid of loss

Ada possesif di situ, dan punya potensi kamu kecewa, dan kehilangan kecewa kehilangan, rasa takut, kumpul semua di situ. Di nasehati oleh Leonardo Da Vinci,

He who possesses most must be most afraid of loss

Yang paling gelisah dengan kehilangan, kalau harta yah orang kaya. Orang yang lebih kaya, dia lebih takut kehilangan. Sementara yang gak punya apa-apa, takutnya lebih sedikit. Sesederhana itu, makanya jangan mudah tergantung.

He who thinks little errs much

Selama ini kan kamu merasa bahwa “kalau banyak mikir banyak salahnya. Tidak, justru kalau kamu jarang mikir kamu akan sering salah. Kenapa? kamu ndak terlatih berpikir, jadi justru ndak apa-apa.

Kamu berfikir keliru, nanti di perbaiki. Berpikir salah, nanti di luruskan, di benarkan. Berfikirlah terus, enggak masalah. Lama-lama kamu bisa terlatih berpikir kritis, berpikir benar, berpikir lurus.

Kalau kamu jarang berpikir, akal, otaknya jarang di gunakan, maka akan mudah tersesat dalam berpikir. Jadi jangan takut berpikir.

Banyak mikir banyak kelirunya, iyah, tapi setelah kliru akan ada perbaikan. Tetapi kalau kamu ndak pernah mikir kamu ndak tahu salahmu di mana. Begitu saatnya kamu mikir kamu akan salah.

Jadi siapa yang berpikirnya sedikit, justru punya potensi salahnya besar. Tidak usah takut berpikir, berpikir saja. Berpikir itu fasilitas yang di berikan oleh Allah yang luar biasa.

Berpikir itu punya ciri kebebasan yang hakiki. Tidak ada orang yang bisa di halangi saat dia berpikir. Kalau fisikmu, bisa di halangi, bisa di penjara, bisa di cegah, tapi kalau pikiran tidak.

Kamu ingin apapun, kamu punya maksud apapun, kamu menggambarkan, menjelaskan apapun, kalau itu adegannya dalam pikiran tak masalah. Disitu ada kebebasan, maka berpikirlah.

Kemudian gandengannya mikir itu ngomong. Dia, siapapun yang sudah tahu dengan pasti, biasanya tidak ada lagi kesempatan untuk teriak-teriak. Orang yang masih ribut dengan kebenarannya, biasanya dia masih belum terlalu yakin dengan kebenarannya.

Pemikiran Leonardo da Vinci

2. He who truly knows has no occasion to Shout

Orang yang masih sibuk, ingin menunjukkan salahnya orang lain, biasanya itu di lakukan dalam rangka menegaskan benarnya dirinya. Kalau dia masih butuh ingin menegaskan benarnya dirinya, sebenarnya Dia belum terlalu yakin dengan kebenarannya sendiri.

He who truly knows has no occasion to Shout

Kalau kamu sudah tahu kebenaran, biasanya kamu tenang, ndak ribut. “Pokoknya aku tahu sendiri kok, kamu mau ngomong apa terserah kamu, aku sudah ngerti yang sejati”

Tetapi kalau kamu masih ribut, masih pingin tahu salahnya orang lain di mana, karena yang bener itu aku. Itu artinya kamu masih butuh pembenaran dari kebenaran-mu yang terletak dalam salahnya orang lain.

Ini kita harus hati-hati dengan kebenaran yang kita miliki, karena kadang-kadang kita itukan sibuk nyari kesalahan orang lain. Itu sebenarnya ciri bahwa kita belum terlalu yakin dengan kebenaran kita sendiri.

Kalau kita sudah yakin, mantep dengan kebenaran kita, biasanya kita tidak butuh lagi penjelasan bahwa orang lain lebih buruk, lebih salah dari kita, bahwa orang lain yang keliru dan kita satu-satunya yang bener.

Jika sudah yakin ya sudah. Kamu yakin bener bahwa, pilihanmu paling cocok, atau kamu yakin bahwa di kampung ini yang paling ganteng kamu, misalnya.

Itu kamukan sudah tenang, tapi kalau kamu masih nyari, “loh itu kan lebih jelek, itu kan lebih jelek”, hal itu menunjukkan kamu nggak terlalu yakin dengan kegantenganmu. Kamu masih butuh untuk di jejerkan dengan orang yang lebih jelek untuk menegaskan bahwa kamulah yang paling ganteng.

Ini boleh kamu jadikan rumus, bawah yang masih ribut untuk mencari siapa yang salah, kemungkinan dia masih belum terlalu yakin dengan kebenarannya sendiri.

Baca Juga: Kata kata Bijak Lao Tzu

3. He who does not go beyond his master is a poor pupil

Kalau dalam tradisi filsafat Islam, ilmu kalam, ada istilah tenangnya jiwa, jadi di antara parameternya kebenaran itu tenangnya jiwa. Kalau kamu sudah sampai pada terminal kebenaran, jiwamu tenang, sudah tahu aslinya. Tapi kalau belum, masih mencari-cari justifikasi pembenaran, biasanya masih belum tahu.

He who does not go beyond his master is a poor pupil

Jadi siapa yang masih belum bisa melampaui gurunya, Dia adalah murid yang jelek. Ini Leonardo Da Vinci loh yah, hal ini berarti misimu yang sebenarnya adalah kamu harus lebih pinter, lebih cerdas, lebih luar biasa dibandingkan guru-gurumu.

Kalau hanya sama, itu pun tetap di anggap kamu murid yang jelek. Kenapa bisa begitu? yah gurumu itu anak zamannya. Dia sampai dalam keilmuannya sebatas wawasan, dinamika kehidupannya.

Sementara hidup itu dinamis, maka wawasanmu harusnya nambahi wawasan gurumu, sehingga kamu seharusnya lebih luas dari gurumu.

Hal itu menunjukkan gurumu sukses. Kalau hanya sama, berarti kamu hanya meng copy paste gagasan-gagasannya gurumu. Kamu harus lebih, lebih itu melampaui. Cumakan kamu selalu bilang “apa mungkin pak saya bisa melampaui Guruku” kalau kamu sudah bilang begitu ya ndak mungkin sudah, kamu mimpi aja nggak berani, ya ndak mungkin.

Kalau kamu ndak bisa melampaui gurumu, kenapa kok di sebut murid yang jelek, berarti kamu hanya mengulang, menghafalkan yang di sampaikan oleh gurumu. Ndak bisa mengembangkan.

Guru yang sukses adalah guru yang ilmunya mampu menginspirasi murid-muridnya. Menginspirasi itu bukan cuma mengulang kata-katanya, tapi melahirkan gagasan-gagasan baru yang di picu oleh wawasan keilmuan yang di sampaikan oleh gurunya.

Makanya murid yang baik itu yang melampaui gurunya. Itulah,

He who does not go beyond his master is a poor pupil

kalau,

He who does not value life does deserve it

Orang yang tidak menghargai kehidupan, ndak layak untuk hidup.

He who truly knows has no occasion to Shout

4. He who wishes to be rich in a day will be hanged in a year

Kemudian,

He who wishes to be rich in a day will be hanged in a year

Ini penjelasannya, kalian sudah ngerti siapa yang ingin kaya mendadak, dalam sehari dia pingin langsung kaya, maka tunggulah setahun lagi dia akan di gantung.

Tidak ada jalan instan untuk sukses. Jangan mudah tertipu oleh iklan-iklan promosi. Orang paling jenius di dunia, Leonardo da Vinci ngomongnya semacam itu. Tidak ada yang instan, langsung sukses, langsung Jaya, dari mana jalannya langsung, ujung-ujungnya ketipu, ndak ada.

Kalau ada yang menjanjikan setahun, sehari, kamu bisa kaya, maka tahun depan orang ini meski sudah digantung katanya Leonardo da Vinci. Jadi janganlah ketipu, yang itu semua ada prosesnya. Untuk jadi seorang Leonardo Da Vinci, juga ada proses panjang ada banyak rasa sakit yang harus di alami.

Baca Juga: Pantun dan Sajak Fisika

Demikian Pemikiran Leonardo da Vinci, semoga bermanfaat.


Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca