Langkah Langkah Berpikir Kritis

3 min read

Langkah Langkah Berpikir Kritis

HermanAnis.com – Teman-teman semua pada kesempatan ini kita masih membahas tentang Berpikir Kritis, dimana fokus pembahasan kita akan mengkaji tentang Langkah Langkah Berpikir Kritis.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

8 Langkah Berpikir Kritis

Teman-teman semua, bagi yang ingin mengembangkan keterampilan berpikir kritisnya, maka anda bisa menggunakan 8 langkah atau cara berpikir kritis berikut ini,

  1. assumption,
  2. experience,
  3. knowledge,
  4. comprehension,
  5. application,
  6. analysis,
  7. synthesis dan
  8. evaluation.

Langkah dan tahapnya di berikan dalam gambar alur di bawah ini. Setiap langkah atau cara dalam skema tersebut memiliki aktivitas atau proses tersendiri, dimana setiap bagan merupakan Titik Kritis dalam critical thinking.

Ketika kita berpikir, 8 langkah atau proses inilah yang terjadi, dan di setiap titik-titik, proses-proses itu, sekaligus juga titik-titik kritis kita dalam berpikir. Penjelasan setiap tahapan berpikir kritis sebagai berikut:

Asumsi (assumtion)

Langkah Berpikir Kritis yang pertama adalah Asumsi (assumtion). Berpikir itu di awali dari asumsi-asumsi. Asumsi itukan, apa yang sudah ada di kepala kita, tentang objek yang sedang kita pahami. Ini pasti ada, kalau tidak punya asumsi-asumsi, jangan-jangan kita tidak bisa berpikir.

Asumsi itu semacam pemahaman awal, kesan awal kita tentang apa yang akan kita pahami, dalam hidup ini kita berawal dari asumsi-asumsi. Bahkan sejak fase asumsi, kita sudah bisa menerapkan kaidah-kaidah kritis.

Misalnya ada yang mengasumsikan orang Indonesia itu bangsa yang malas-malas, tidak mau serius berjuang. Inikan asumsi, ini jadi kacamata waktu memahami orang Indonesia.

Sejak asumsi, sudah bisa kita kritisi, apa cocok asumsi itu. Pantas saja kesimpulannya begitu, lah, asumsinya dari awal sudah negatif tentang Indonesia.

Ketika ingin memahami atau mengkritisi gagasan seseorang, kita boleh mundur sampai ke level asumsi. Siapa sih orang ini. apa yang ada di kepalanya itu biasanya menentukan isi pikirannya.

Oh pantas, dia menyimpulkan begitu, dia dari aliran ini, yah kalau dari aliran ini memang pandangannya cenderung begini. Ini asumsi-asumsi yang bisa kita bongkar untuk melacak kebenaran yang ada di balik sebuah pernyataan.

Langkah Berpikir Kritis 2 – Pengalaman (experience)

Kemudian bisa juga kita masuk kerana experience, pergumulan manusia dengan fakta-fakta. Pengalaman ini juga sering mengungkap kebenaran. Orang ini kok keras sekali ngomongnya, yah itu mungkin selain dari asumsi, bisa kita baca pengalaman-pengalamannya, sejarah-sejarah, historisitas hidupnya.

Oh dulu dia pernah di kecewakan, oh dulu pernah dia ambisi tapi gagal. Kritical poinnya masuk di ranah experience. Mengkritisi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan, oh, pantas dia begitu, dia pernah debat terus kalah, sekarang agak dendam kelihatannya, itu sisi experience.

Ini kadang-kadang jadi kunci untuk kita memahami sebuah pernyataan dan pemahaman. Baru setelah itu kita masuk ke-ranah pengetahuan.

Pengetahuan (Knowledge)

Langkah Berpikir Kritis yang ketiga adalah Pengetahuan (Knowledge). Pengetahuan itu bisa valid, bisa tidak valid, bisa salah, bisa bener, dan seterusnya. Untuk mengetahui dimensi-dimensi pengetahuan anda bisa baca di link berikut : Dimensi Pengetahuan

Langkah Berpikir Kritis ke 4 – Pemahaman (comprehension) dalam konteks berpikir kritis

Manusia itu kan tidak sekedar mengetahui, tapi juga memahami. Memahami itu makna versi orang yang memahami. Tembok ini putih, tapi menurut saya sudah kusam kelihatannya. Ndak pernah di bersihkan, menurut saya kusam, tidak pernah di bersihkan, itu komprehensi namanya.

Ada kalanya orang itu pengetahuannya benar, tapi dia salah paham atau dia tidak paham. Ini hubungannya dengan comprehension. Critical point bisa masuk, nanti titik kritis lagi bisa masuk juga ke ranah application.

Penerapan (application)

Langkah Berpikir Kritis yang kelima adalah aplikasi atau penerapan. Nah, selalu ada jarak antara pemahaman dan penerapan. Karena ini kalau sudah penerapan itu biasanya berhubungan dengan dunia nyata. Tapi pemahaman kebelakang, pemahaman, pengetahuan, asumsi, itukan hubungannya banyak di pikiran.

Ketika pikiran ini mau di terjemahkan dalam kehidupan nyata, mestinya banyak juga kesulitan-kesulitannya, banyak juga penyesuaian-penyesuaian harus di lakukan. Ini juga bisa jadi titik-titik kritis.

Misalnya: pemahamannya, umat Islam itu harusnya, kalau shalat menutup aurat, kalau laki-laki dari dengkul sampai pusar misalnya, dari lutut sampai pusar. Ini comprehension, begitu di aplikasi yah menyesuaikan situasi masing-masing, ada yang pakai sarung, ada yang pakai celana, ada yang pakai jubah, dan lain sebagainya. Itu kan ranah aplikasi.

Ini sebenarnya ingin menerjemahkan pemahaman dalam kenyataan. Bhinneka Tunggal Ika, kita ini berbeda-beda tapi tetap satu. Ini menerjemahkannya dalam kenyataan, terus seperti apa? itunya nanti juga bisa macem-macem. Bisa debat lagi, bisa diskusi lagi.

Begitu masuk ranah aplikasi, biasanya harus ada penyesuaian-penyesuaian. Kalau sudah ada penyesuaian, kritik bisa masuk. Apa ini masih relevan, apa penyesuaian yang di lakukan sesuai, apa tidak menghilangkan nilainya, dan sebagainya. Kemudian ada lagi kerja akal yang lain, kerja pikiran yang lain yaitu analisis.

Bagaimana berpikir kritis dalam islam baik menurut hadis dan Al-Quran anda dapat membacanya pada artikel Hadits tentang Berpikir Kritis.

Langkah Langkah Berpikir Kritis

Langkah Berpikir Kritis ke 6 – Analisis (analysis)

Analisis ini yah, membaca, menguraikan, memetakan, mengklasifikasi, dan lain sebagainya. Kita menganalisis situasinya begini sehingga kalau kita ingin menyelesaikan ini harusnya melalui ini unsur-unsurnya ada 4 harus kita selesaikan satu-persatu.

Kok di bilang bahwa kalau orang kota itu egois, tidak mau kerjasama, kalau orang desa itu rukun, mudah di ajak kerjasama, apa masih relevan pandangan ini, yah itu kritik pada analisis.

Sintesis (synthesis)

Langkah Berpikir Kritis yang ketujuh adalah analisis (analysis). Poses kritis itu di level sintesis adalah membuat penyatuan atau penyimpulan. Nah bagian ini juga bisa menjadi titik yang di kritisi. Apakah dasar penyimpulannnya rasional, di dukung oleh data, dan sebagainya.

Langkah Berpikir Kritis ke 8 – Evaluasi (evaluation)

Langkah Berpikir Kritis yang kedelapan adalah Evaluasi (evaluation). Evaluasi itu menilai kembali yang tadi sudah di ungkapkan, yang sudah di bahas, sudah di simpulkan, apa sudah seharusnya begitu, apa sudah cocok seperti itu, masih ada kurangnya tidak, kurangnya di bagian mana dan seterusnya. Ini namanya evaluasi-evaluasi.

Jadi teman-teman yang ingin mengembangkan perilaku kritis bisa masuk di level-level proses berpikir ini. Bisa masuk di asumsi, bisa masuk di experience, bisa masuk di knowledge, bisa masuk di comprehension, application, analisis, sintesis, maupun evaluation.

Silakan bertanya tentang hal-hal yang ada di titik-titik kritis, titik-titik proses itu. Di situlah nanti kita ditantang untuk mengkritisi atau berpikir kritis.

Baca Juga: Identifikasi Permasalahan Pembelajaran

Demikian semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *