Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

1 min read

Filosofi Pendidikan dari Ki Hajar Dewantara

HermanAnis.com– Teman-teman semua, pada kesempatan kali ini kita akan mengulas tentang Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Kapan hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas? Hari Pendidikan Nasional jatuh pada tanggal 2 Mei. Penetapan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tidak lepas dari sosok panutan Ki Hadjar Dewantara.

Baca Juga: Bagaimana Profil Pelajar Pancasila?

Pada setiap Pidato Menteri Pendidikan Nasional dari masa kemasa, teks pidatonya selalu menjadikan Filosofi Pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara sebagai dasar filosofis.

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap tahunnya pada tanggal 2 Mei, untuk mengenang, memperingati, dan menghormati jasa Ki Hadjar Dewantara yang lahir 2 Mei 1889 di Pakualaman, Yogyakarta. Beliau merupakan pelopor dalam bidang pendidikan, terutama kaum pribumi pada masa penjajahan.

Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

Ki Hajar Dewantara merupakan Menteri Pengajaran pertama Kabinet Presiden Soekarno, yang kemudian menjadi Kementerian Pendidikan dan Pengajaran dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Baca Juga: Apa Visi Misi dan Tujuan Kemendikbud 2020 – 2024?

Filosofi Pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara

Ki Hajar Dewantara juga merupakan Pahlawan Nasional ke-2 yang ditetapkan Presiden pada tanggal 28 November 1959 berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959.

Melalui Keppres tersebut, Ki Hadjar Dewantara juga ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Karena jasa-jasanya, Ki Hadjar Dewantara mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Dia dianggap telah mempelopori sistem pendidikan nasional berbasis kepribadian dan kebudayaan nasional.

Selain itu, mengutip dari Kompas.com, Ki Hajar Dewantara juga pernah bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, diantaranya Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Dia merupakan seorang penulis yang handal.

Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam, dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat anti penjajahan pada saat itu.

Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

Melalui Ki Hajar Dewantara kita mengenal istilah “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani“. Istilah ini memiliki makna filosofis dimana,

Ing ngarso sung tulodo, berarti yang di depan memberi teladan yang baik;

Ing madyo mangun karso, berarti yang di tengah menciptakan ide dan prakarsa;

Tut wuri handayani berarti yang di belakang memberikan dorongan

Kutipan ini digunakan sebagai landasan Filosofi Pendidikan Nasional. Tidak heran Ki Hadjar Dewantara juga ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional melalui Kepres.

Bahkan salah satu penggalannya yaitu, Tut Wuri Handayani, kemudian dijadikan sebagai penggalan tulisan yang melekat pada logo Kementerian Pendidikan Nasional, yang kadang juga berubah nama menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kementerian yang mengurusi masalah pendidikan.

Ki Hadjar Dewantara sebenarnya bernama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Melansir laman Kemdikbud, Ki Hajar Dewantara melahirkan sistem pendidikan nasional bagi kaum pribumi dengan nama Taman Siswa.

Perguruan Taman Siswa berdiri pada tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta. Taman Siswa ini mengajarkan kepada pribumi tentang pendidikan untuk semua yang merupakan realisasi gagasan dia bersama-sama dengan temannya di Yogyakarta.

Sekarang Taman Siswa mempunyai 129 sekolah cabang di berbagai kota di seluruh Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.