Faktor Penghambat Berpikir Kritis

3 min read

Faktor Penghambat Berpikir Kritis

HermanAnis.com. Bahasan berikut ini akan membahas faktor penghambat berpikir kritis, berikut penjelasannya. Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Sebagaimana diketahui bahwa berpikir kritis merupakan salah satu kemampuan atau keterampilan abad 21, kemampuan ini lebih familiar sebagai salah satu dari akronim dalam 4Cs.

Haris Azhar sebagai contoh tokoh dengan Pemikiran yang dianggap Kritis - Faktor Penghambat Berpikir Kritis
Haris Azhar, S.H., M.A.

Selain itu, kemampuan/keterampilan berpikir kritis termasuk ke dalam keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS).Dalam website ini terdapat beberapa tulisan terkait yaitu indikator keterampilan berpikir kritis dan hadist tentang berpikir kritis.

Faktor Penghambat Berpikir Kritis

Setiap orang telah dibekali potensi berpikir sebagai dasar dalam mengambil suatu tindakan atau keputusan. Namun sering kita mendengar, atau barangkali pernah mengalami sendiri bahwa keputusan atau tindakan yang diambil dinilai bukan keputusan yang tepat oleh orang lain

Faktor Penghambat Berpikir Kritis
Rocky Gerung

Kita dapat saja setuju dengan pendapat orang lain, atau dapat juga tidak setuju, namun kesetujuan dan ketidaksetujuan kita mestinya didasarkan atas pertimbangan yang rasional. Dalam proses-proses berpikir inilah yang memerlukan kemampuan berpikir kritis.

Fadly Zon merupakan salah satu anggota DPR RI yang terkenal dengan pemikiran kritisnya
Faktor Penghambat Berpikir Kritis
Fadly Zon
Sumber: Biografiku.com

Tentulah proses berpikir ini berpotensi untuk melibatkan berpikir yang kritis. Yang jadi permasalahan biasanya adalah terkadang seseorang itu memiliki potensi untuk berpikir secara kritis, karena dia sangat menguasai tentang itu, namun dalam pengambilan keputusannya, kok tidak sesuai dengan yang seharusnya.

Zainal Arifin Mochtar salah seorang akademisi yang sering melontarkan pikiran kritis terhadap pemerintah
Peneliti PUKAT UGM, Dr. Zainal Arifin Mochtar, S.H., LL.M

Nah, bagaimana hal ini bisa terjadi?

Pastilah ada ‘pertimbangan’ yang dia pikirkan sehingga mengambil keputusan itu. Pertimbangan ini dapat positif, dapat juga negatif, sangat bergantung pada kepentingannya. Sebagai manusia, memang selalu ada godaan untuk menjadi tidak kritis yang membayangi hidup kita.

Dari berbagai sumber, setidaknya ada 5 Faktor Penghambat Berpikir Kritis, kelima faktor tersebut adalah,

  1. Egocentrism
  2. Sociocentrisme
  3. Unwarranted Assumption
  4. Wishful Thinking
  5. Relativism

Baca Juga: Ciri Pemikir Kritis

Egocentrism

Penghalang pertama dalam berpikir kritis itu adalah egosentrism. Egosentrisme itu keakuan, pokoknya kebenaran itu aku, yang aku anggap bener pasti itu benar, yang aku anggap salah pasti itu salah.

Ini namanya egosentrism atau self-centered. Merasa dia sendiri yang paling benar. Orang yang egosentris biasanya susah untuk berpikir kritis. Egosentrisme adalah kecenderungan melihat dan memahami realitas sebagai yang berpusat pada diri sendiri.

Mereka yang memiliki kecenderungan ini adalah orang-orang yang menempatkan pandangan-pandangan dan nilai-nilai mereka sendiri sebagai yang lebih unggul dibandingkan dengan orang lain.

Egosentrisme dapat menampakkan diri dalam dua cara, yakni self-interest thinking dan self-serving bias. Keduanya dapat di uraikan lebih lanjut.

Self-interest thinking adalah kecenderungan untuk menerima dan mempertahankan keyakinan yang cocok atau harmonis dengan kepentingan-diri sendiri. Dapat di katakan bahwa setiap kita memiliki kecenderungan ini. Misalnya, para mahasiswa akan menerima kebijakan kampus yang menguntungkan mereka.

Dokter akan mendukung kebijakan pemerintah atau undang-undang yang tidak membahayakan profesi mereka. Para karyawan akan langsung menerima kebijakan pimpinan yang menaikkan uang makan harian mereka, dan sebagainya.

Sociocentrisme

Penghalang kedua adalah sosiosentrism, ini merupakan lanjutan egosentrisme. Jika tadi menganggap dirinya sendiri sebagai pusatnya kebenaran, kalau sosiosentrism ini menganggap kelompoknya, lembaganya, organisasinya sendiri sebagai yang lebih superior, sebagai yang lebih benar.

Sosiosentrism berlawanan dengan prinsip berpikir yang kritis dan menjadi penghalang untuk berpikir secara kritis.

Faktor Penghambat Berpikir Kritis 3 – Unwarranted Assumption

Yang ketiga adalah mengasumsikan sesuatu tapi tanpa dasar. Pokoknya Indonesia hari ini adalah negara yang mau hancur terus. Kita membaca Indonesia dengan perspektif mau hancur ini sebagai asumsinya.

Tapi ketika di tanya orang, dasarnya apa kok Indonesia ini di anggap Mau hancur, pokoknya rasanya begitu saja, dia pasti mau hancur.

Yah, namanya asumsi yang tidak di uji, tidak ada argumennya, tidak ada buktinya, ini juga menghalangi berpikir kritis. Jika asumsinya sudah tidak teruji kebenarannya, maka hasil pikirannya kemungkinan juga tidak bisa di pertanggungjawabkan. Tidak ada dasarnya asumsinya.

Wishful Thinking

Faktor Penghambat Berpikir Kritis yang keempat adalah wishful thinking, atau biasa di sebut angan-angan. Bukan hasil pemikiran yang serius, angan-angan tentang sesuatu.

Hanya karena aku ingin ini yang benar, maka inilah pasti yang benar itu. Pokoknya ini harus benar, pokoknya ini yang benar padahal itu tidak ada dasarnya. Hanya karena aku percaya bahwa ini yang benar, terus kita ingin inilah yang pasti benar itu namanya wishful thinking.

Terkadang di terjemahkan sebagai angan-angan, khayalan, ini juga menghalangi cara berpikir kritis.

Faktor Penghambat Berpikir Kritis 5 – Relativism

Faktor Penghambat Berpikir Kritis yang kelima adalah relativism. Realtivism itu pandangan serba relatif. Bahwa kita ini tidak sempurna, kadang-kadang yang kita anggap benar itu ternyata tidak benar.

Hal itu manusiawi, tapi kita tidak bisa mengambil sistem poin relativism total. Relativism itu misalnya menganggap Allah itu hanya opini. Allah itu hanya opini, akhirnya kita tidak bisa mengambil keputusan, tak bisa memutuskan dengan dasar apa kita bertindak.

Padahal kita hidup ini butuh kepastian. Kepastian kebenaran tertentu. Dulu orang yakin bahwa bumi itu datar, kemudian belakangan terbukti dan di yakini itu tidak valid. Mungkin, itu memang opini, tapi zaman itu dengan keyakinan itulah orang berkreasi, orang berpikir, dan menghasilkan banyak teori.

Olehnya itu, maka meskipun sandarannya tidak valid, tapi minimal sudah punya sandaran untuk berpikir dan bertindak. Orang yang termasuk dalam pemahaman relativism ini, cenderung untuk tidak berpikir apa-apa, tidak memutuskan apa-apa, dan tidak punya pijakan apapun untuk hidup.

Semuanya di pandang tidak ada yang pasti, kalau ada apa-apa, itu hanya pendapat saja, semuanya di pandang relatif. Pemahaman ini tentu sangat berbahaya, khususnya bagi peserta didik kita.

Kendala yang menyebabkan mengapa kita tidak bersikap kritis

Mengapa ada kecendrungan sikap tidak kritis dalam hidup manusia? Ada banyak kendala yang menyebabkan mengapa kita tidak bersikap kritis. Kendala-kendala itu dapat berupa:

  1. kurangnya informasi yang memadai;
  2. kemampuan membaca yang buruk;
  3. bias;
  4. prasangka;
  5. tahayul;
  6. egosentrisme (pemikiran yang memusat ke diri sendiri);
  7. sosiosentrisme (pemikiran yang memusat ke kelompok);
  8. tekanan kelompok;
  9. konformisme;
  10. provinsialisme;
  11. pikiran sempit;
  12. pikiran tertutup;
  13. tidak percaya pada nalar;
  14. berpikiran relativistic;
  15. sterotip;
  16. asumsi-asumsi yang tak terbukti;
  17. pengkambing hitaman (scapegoating);
  18. rasionalisasi;
  19. penyangkalan;
  20. wishful thinking;
  21. berpikir jangka pendek;
  22. persepsi selektif;
  23. daya ingat selektif;
  24. emosi yang menggebu-gebu;
  25. penipuan-diri (self-deception);
  26. menyelamatkan muka (face-saving); dan
  27. takut akan perubahan.

Mari kita mengevaluasi beberapa di antaranya (terutama egosentrisme, sosiosentrisme, unwarranted assumption and stereotypes, berpikir relativistik, dan wishful thinking) untuk mendalami dan memahami hambatan-hambatan berpikir kritis.

Demikian faktor-faktor yang dapat menjadi penghambat dalam berpikir kritis. Semoga ada manfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *