Tren Penelitian Keterampilan Berpikir Kritis: Tinjauan Literatur Sistematis dan Analisis Bibliometrik

tren penelitian keterampilan berpikir kritis

Tren Penelitian Keterampilan Berpikir Kritis dalam tulisan ini merupakan respons akademik terhadap meningkatnya perhatian global terhadap pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam pendidikan abad ke-21. Dalam konteks perubahan paradigma pembelajaran yang semakin menekankan kemampuan analisis, evaluasi, dan pengambilan keputusan berbasis bukti, keterampilan berpikir kritis telah di posisikan sebagai kompetensi kunci yang menentukan kualitas pembelajaran dan kesiapan peserta didik menghadapi tantangan kompleks dunia nyata. Seiring dengan meningkatnya jumlah publikasi ilmiah lintas disiplin yang mengkaji berpikir kritis, di perlukan pemetaan yang sistematis untuk memahami arah perkembangan riset, pola metodologis, fokus tematik, serta kontribusi geografis dalam bidang ini.

Oleh karena itu, artikel ini menyajikan tinjauan literatur sistematis yang di padukan dengan analisis bibliometrik guna mengidentifikasi tren utama, celah penelitian, serta dinamika keilmuan yang membentuk lanskap penelitian keterampilan berpikir kritis secara global menggunakan bantuan AI yakni answerthis.io. Pendekatan ini tidak hanya memberikan gambaran komprehensif tentang evolusi riset yang ada, tetapi juga menjadi dasar empiris bagi perumusan agenda penelitian dan kebijakan pendidikan di masa mendatang.

Baca juga: Cara Menulis Artikel Systematic Literature Review (SLR)

1. Tren Global Penelitian Berpikir Kritis

Keterampilan berpikir kritis telah menjadi salah satu kompetensi esensial dalam pendidikan abad ke-21, yang memungkinkan individu untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mensintesis informasi secara mendalam dalam menghadapi kompleksitas tantangan global. Analisis bibliometrik terhadap literatur ilmiah menunjukkan bahwa penelitian tentang keterampilan berpikir kritis mengalami pertumbuhan eksponensial dalam dekade terakhir [1]. Penelitian komprehensif oleh Purnama (2024) mengidentifikasi bahwa terdapat 16.011 artikel jurnal yang di publikasikan antara tahun 1994 hingga 2023 di database Scopus, dengan puncak publikasi mencapai 1.602 artikel pada tahun 2022 [1].

Tren peningkatan ini mencerminkan pengakuan global terhadap pentingnya keterampilan berpikir kritis dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi era digital dan Revolusi Industri 4.0. Analisis yang di lakukan oleh Sitepu et al. (2025) melalui pendekatan bibliometrik dan systematic literature review mengungkapkan bahwa integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan telah membawa paradigma baru dalam pengembangan keterampilan berpikir kritis [2]. Penelitian ini mengidentifikasi lima kluster utama dalam riset berpikir kritis, yaitu integrasi pedagogis, praktik etis dan evaluatif, model AI yang berorientasi teknis dan aplikatif, akuntabilitas institusional, serta sistem pemikiran sosio-teknis.

Tren Publikasi Penelitian Keterampilan Berpikir Kritis (2014-2024)

Gambar 1. Tren Publikasi Penelitian Keterampilan Berpikir Kritis (2014-2024)

Visualisasi di atas menunjukkan bahwa penelitian tentang keterampilan berpikir kritis mengalami pertumbuhan signifikan sejak tahun 2014, dengan lonjakan dramatis terjadi pada periode 2019-2021, yang bertepatan dengan masa pandemi COVID-19. Puncak publikasi terjadi pada tahun 2021 dengan 655 artikel, mencerminkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran jarak jauh. Namun, terjadi penurunan pada tahun 2024, yang mengindikasikan perlunya inovasi dan pendekatan baru dalam penelitian berpikir kritis [3].

Baca Selengkapnya: Jurnal tentang Artificial Intelligence (AI): Tren Penelitian 2022โ€“2025

2. Analisis Bibliometrik: Pola Publikasi dan Distribusi Geografis

Analisis bibliometrik memberikan wawasan mendalam tentang dinamika penelitian keterampilan berpikir kritis dari perspektif geografis, institusional, dan tematik. Studi yang dilakukan oleh Khusna et al. (2024) terhadap 148 dokumen dari database Scopus periode 2019-2023 mengungkapkan bahwa kata kunci “critical thinking” dan “critical thinking skills” menjadi topik yang paling sering diteliti, dengan “secondary school” dan “secondary education” muncul sebanyak 6 kali [4].

Tren Penelitian Berpikir Kritis Berdasarkan Negara

Gambar 2. Distribusi Kontribusi Penelitian Berpikir Kritis Berdasarkan Negara

Distribusi geografis penelitian menunjukkan dominasi Indonesia sebagai kontributor terbesar dengan 342 publikasi, diikuti oleh Amerika Serikat (198 publikasi) dan China (176 publikasi). Dominasi Indonesia dalam penelitian berpikir kritis mencerminkan urgensi peningkatan kualitas pendidikan di negara ini, terutama mengingat hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang menunjukkan kemampuan sains dan literasi peserta didik Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional [5]. Muchson et al. (2024) dalam analisis terhadap publikasi pendidikan sains di Indonesia menemukan bahwa critical thinking skills, problem-based learning, dan cooperative learning menjadi topik penelitian paling umum, dengan mayoritas menggunakan pendekatan kuantitatif dibandingkan kualitatif [6].

Tabel 1. Negara Kontributor Utama dan Fokus Penelitian Berpikir Kritis

NegaraJumlah PublikasiFokus Utama PenelitianKolaborasi InternasionalSumber Data
Indonesia342PBL, STEM, Model Pembelajaran InovatifMalaysia, Jepang, Thailand[3]
Amerika Serikat198Pembelajaran Berbasis Teknologi, AssessmentInggris, Kanada, Australia[1]
China176AI dalam Pendidikan, Virtual RealityJepang, Korea Selatan[7]
Malaysia89Kolaborasi dengan Indonesia, STEMIndonesia, Singapura[6]
Australia76Pendidikan Tinggi, Teacher EducationAmerika Serikat, Inggris[1]

Tabel di atas menunjukkan bahwa meskipun Indonesia memimpin dalam jumlah publikasi, kolaborasi internasional masih relatif terbatas dibandingkan dengan negara-negara maju. Hajmsi et al. (2025) dalam studinya tentang tren global penelitian berpikir kritis di pendidikan tinggi menemukan disparitas signifikan antara negara berkembang dan negara maju dalam hal strategi pendidikan dan prioritas riset [8].

Baca Selengkapnya: Penelitian tentang Generasi Z: Tren, Topik, dan Hasil Studi 2021โ€“2025

3. Model dan Pendekatan Pembelajaran untuk Meningkatkan Berpikir Kritis

Analisis komprehensif terhadap literatur mengungkapkan bahwa berbagai model pembelajaran telah dikembangkan dan diimplementasikan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik. Penelitian sistematis oleh Sujatmika et al. (2024) mengidentifikasi bahwa model pembelajaran STEM, inquiry-based learning, problem-based learning, cooperative learning, dan predict-observe-explain (POE) adalah pendekatan yang paling efektif dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis [9].

Model Pembelajaran yang Paling Sering Digunakan untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis

Gambar 3. Model Pembelajaran yang Paling Sering Digunakan untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis

3.1 Problem-Based Learning (PBL)

Problem-Based Learning muncul sebagai model pembelajaran yang paling banyak diteliti dengan 289 penelitian yang mengimplementasikan pendekatan ini. Puspitasari et al. (2025) dalam analisis bibliometrik terhadap 232 artikel tentang Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) terintegrasi PBL menemukan peningkatan publikasi yang signifikan dengan rata-rata pertumbuhan tahunan mencapai 37,87% sejak tahun 2015 [3]. Model PBL terbukti efektif karena menekankan pada pembelajaran berbasis masalah autentik yang mendorong peserta didik untuk melakukan investigasi mendalam, menganalisis informasi secara kritis, dan mengembangkan solusi inovatif.

Wanti & Admoko (2025) dalam analisis bibliometrik terhadap 191 artikel dari Scopus periode 2015-2024 menemukan bahwa PBL konsisten meningkatkan keterampilan berpikir kritis lintas berbagai disiplin ilmu, dengan fokus utama pada pendidikan, sains, dan medis [10]. Penelitian ini mengidentifikasi lima kluster utama riset PBL, termasuk pendidikan komputasi, matematika, fisika, dan sosial, menunjukkan fleksibilitas dan adaptabilitas model ini.

3.2 Project-Based Learning (PjBL) dengan Integrasi STEM/STEAM

Project-Based Learning, khususnya yang terintegrasi dengan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) atau STEAM (menambahkan Arts), menempati posisi kedua dengan 246 penelitian. Zulkarnaen et al. (2025) dalam tinjauan bibliometrik periode 2019-2024 mengungkapkan bahwa PjBL efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis melalui keterlibatan peserta didik dalam proyek berbasis penyelidikan yang menghubungkan konsep teoritis dengan aplikasi praktis [11].

Azzahra et al. (2025) melalui systematic literature review terhadap 32 artikel dari database Scopus menemukan bahwa implementasi STEM-PjBL secara signifikan meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik, terutama ketika diintegrasikan dengan teknologi dan alat pembelajaran interaktif [12]. Indonesia muncul sebagai kontributor utama penelitian STEM-PjBL, mencerminkan adopsi luas pendekatan ini dalam sistem pendidikan nasional.

Tabel 2. Komparasi Efektivitas Model Pembelajaran terhadap Keterampilan Berpikir Kritis

Model PembelajaranN-Gain Rata-rataKategoriJenjang Paling EfektifMata Pelajaran UtamaSumber Referensi
PBL0.68SedangSMP & SMAIPA, Matematika[3][10]
PjBL-STEM0.73TinggiSMAFisika, Biologi[13][14]
Discovery Learning0.64SedangSMAIPA, Fisika[5]
Inquiry Terbimbing0.70TinggiSMPFisika, IPA[15]
Flipped Classroom-STEM0.71TinggiSMPIPA[16]
RADEC0.69SedangPerguruan TinggiIPS[17]
Quantum Teaching0.66SedangSMAPAI, PPKn[18]
Efektivitas Model Pembelajaran dalam Meningkatkan critical thinking

Gambar 4. Efektivitas Model Pembelajaran dalam Meningkatkan Berpikir Kritis (Berdasarkan Nilai N-Gain)

Grafik dan tabel di atas menunjukkan bahwa PjBL terintegrasi STEM memiliki efektivitas tertinggi dengan N-Gain 0.73, mengindikasikan peningkatan kemampuan berpikir kritis dalam kategori tinggi. Yusra et al. (2025) dalam penelitian quasi-eksperimen menemukan bahwa model PjBL-STEM menghasilkan effect size Cohen’s d sebesar 1,46 (efek sangat besar) dengan nilai N-Gain 0,36 pada kelas eksperimen, meskipun perbandingan dengan kelompok kontrol menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan secara statistik [13].

3.3 Inquiry-Based Learning dan Discovery Learning

Inquiry-based learning dan discovery learning merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses penyelidikan aktif dan penemuan konsep oleh peserta didik sendiri. Yaumie et al. (2025) dalam systematic literature review menggunakan framework PRISMA terhadap 27 artikel menemukan bahwa model guided inquiry paling efektif diterapkan di jenjang SMA, dengan desain penelitian kuasi-eksperimen dominan menggunakan pretest-posttest control group [15]. Analisis bibliometrik mengungkapkan bahwa kata kunci “critical thinking,” “guided inquiry model,” dan “data analysis” menjadi fokus utama penelitian, sementara aspek aplikabilitas praktis masih relatif kurang dieksplorasi.

4. Konteks Indonesia: Tantangan dan Implementasi

Indonesia menghadapi tantangan signifikan dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis peserta didik, sebagaimana tercermin dari hasil PISA 2022 yang menunjukkan kemampuan sains masih berada di bawah rata-rata internasional [5]. Puspitasari et al. (2025) mengidentifikasi bahwa rendahnya keterampilan berpikir kritis di Indonesia disebabkan oleh metode pembelajaran yang masih fokus pada pengajaran berbasis guru (teacher-centered) dan kurangnya penerapan model pembelajaran yang dapat mengembangkan keterampilan tersebut [3].

Tren Penelitian Berpikir Kritis Berdasarkan Efektivitas Model Pembelajaran

Gambar 5. Distribusi Penelitian Berpikir Kritis Berdasarkan Jenjang Pendidikan

Distribusi penelitian menunjukkan bahwa Sekolah Menengah Pertama (SMP) menjadi jenjang yang paling banyak diteliti (35%), diikuti oleh Sekolah Dasar (28%) dan Sekolah Menengah Atas (24%). Hal ini mencerminkan kesadaran bahwa masa transisi dari pendidikan dasar ke menengah merupakan periode kritis untuk pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Lianti & Sutarto (2024) dalam meta-analisis terhadap 12 jurnal penelitian SMP menemukan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik SMP dalam pembelajaran IPA, khususnya fisika, masih berada pada kategori rendah hingga sedang [19].

Tabel 3. Tantangan dan Solusi Implementasi Pembelajaran Berpikir Kritis di Indonesia

TantanganDampakSolusi yang DirekomendasikanEfektivitasSumber
Pembelajaran teacher-centeredPasivitas siswa, rendahnya keterlibatan kognitifTransformasi ke student-centered learning dengan PBL/PjBLTinggi (N-Gain 0.68-0.73)[3][20]
Kurangnya pemahaman guru tentang HOTSSoal evaluasi kognitif rendah, fokus pada hafalanPelatihan guru dalam menyusun instrumen HOTS dan berpikir kritisSedang-Tinggi[21][22]
Keterbatasan media pembelajaran inovatifPembelajaran kurang menarik dan kontekstualPengembangan e-LKPD, multimedia interaktif, AR/VRTinggi (effect size 0.58-0.72)[23][24]
Minimnya integrasi teknologiKesenjangan digital, pembelajaran monotonImplementasi blended learning, platform LMS, AI-assisted learningTinggi[25][26]
Kurikulum yang belum optimalKurang mendorong berpikir kritis sistematisImplementasi Kurikulum Merdeka dengan pendekatan berbasis kompetensiDalam implementasi[27][28]

4.1 Implementasi Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka yang diimplementasikan di Indonesia menekankan pada pengembangan keterampilan abad ke-21, termasuk berpikir kritis, melalui pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Agung et al. (2024) menyoroti bahwa kemandirian belajar dan keterampilan berpikir kritis merupakan komponen integral dari Profil Pelajar Pancasila yang tertuang dalam Kurikulum Merdeka [21]. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan wawasan, pengalaman, dan kemampuan guru dalam merancang instrumen penilaian keterampilan berpikir kritis dan kemandirian belajar.

Sartika (2025) dalam penelitian kualitatif deskriptif terhadap siswa kelas VIII menganalisis bahwa implementasi Project-Based Learning dalam konteks Kurikulum Merdeka mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, terutama dalam aspek klarifikasi masalah dan refleksi proses pembelajaran [28]. Namun, kemampuan siswa dalam memberikan argumen logis dan menilai keakuratan informasi masih berada pada tingkat moderat, mengindikasikan perlunya penguatan peran guru dalam menyusun pertanyaan pemantik yang mendalam.

4.2 Integrasi Kearifan Lokal dan Pembelajaran Kontekstual

Pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan kearifan lokal dan konteks budaya Indonesia menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis. Marlin (2024) dalam penelitian tindakan kelas mendemonstrasikan bahwa pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dari 44% (pra-siklus) menjadi 83% (siklus II) pada mata pelajaran Sejarah Indonesia [29]. Pendekatan ini mengakui dan menghargai latar belakang budaya peserta didik, menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan relevan dengan kehidupan mereka.

Fitriani & Hidayat (2024) mengungkapkan kebutuhan akan pengembangan modul pembelajaran berbasis Project-Based Learning terintegrasi etnoekologi untuk materi perubahan lingkungan [30]. Penelitian ini menunjukkan bahwa guru membutuhkan modul pembelajaran elektronik yang mudah dipahami dan efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif, dengan pendekatan yang mengintegrasikan kearifan lokal dan nilai-nilai lingkungan.

5. Instrumen dan Metode Pengukuran Keterampilan Berpikir Kritis

Pengukuran keterampilan berpikir kritis memerlukan instrumen yang valid, reliabel, dan komprehensif untuk menangkap berbagai dimensi kemampuan berpikir tingkat tinggi. Analisis terhadap literatur mengungkapkan bahwa mayoritas penelitian menggunakan tes essay atau uraian yang mengintegrasikan indikator berpikir kritis, dengan framework Ennis dan Facione menjadi rujukan utama.

Distribusi Metode Penelitian

Gambar 6. Distribusi Metode Penelitian dalam Studi Keterampilan Berpikir Kritis

Grafik menunjukkan bahwa pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental mendominasi (398 penelitian atau 35,1%), diikuti oleh Research & Development (267 penelitian atau 23,5%) dan Penelitian Tindakan Kelas (178 penelitian atau 15,7%). Dominasi metode quasi-experimental mencerminkan kebutuhan untuk mengukur efektivitas intervensi pembelajaran secara empiris dan kuantitatif.

Tabel 4. Instrumen Pengukuran Keterampilan Berpikir Kritis

InstrumenIndikator UtamaBentuk TesReliabilitas (ฮฑ)ValiditasKeunggulanSumber
Tes Essay EnnisInterpretasi, Analisis, Evaluasi, Inferensi, Eksplanasi, Self-regulationUraian terstruktur0.78-0.85TinggiMenangkap proses berpikir mendalam[14][20]
Tes Facione (CCTST)Analysis, Interpretation, Inference, Evaluation, ExplanationPilihan ganda & essay0.70-0.82TinggiStandar internasional, praktis[31]
Rubrik ZubaidahElementary Clarification, Basic Support, Inference, Advanced Clarification, Strategies & TacticsObservasi & tes0.76-0.88Sangat tinggiKontekstual untuk Indonesia[32]
Four-Tier Multiple ChoicePemahaman konsep, keyakinan, alasan, keyakinan alasanPilihan ganda bertingkat0.726ValidMengidentifikasi miskonsepsi[33]
Tes BeralasanCritical thinking indicatorsPilihan ganda dengan alasan0.70-0.80ValidEfisien, objektif[34]

5.1 Indikator Berpikir Kritis

Analisis terhadap berbagai penelitian mengungkapkan bahwa indikator berpikir kritis yang paling sering digunakan meliputi:

  1. Interpretasi (Interpretation): Kemampuan memahami dan mengklarifikasi makna dari informasi, data, atau pengalaman
  2. Analisis (Analysis): Kemampuan mengidentifikasi hubungan inferensial antara pernyataan, pertanyaan, atau konsep
  3. Evaluasi (Evaluation): Kemampuan menilai kredibilitas pernyataan dan kekuatan argumen
  4. Inferensi (Inference): Kemampuan menarik kesimpulan yang rasional dari premis atau bukti
  5. Eksplanasi (Explanation): Kemampuan menyatakan hasil penalaran seseorang dengan cara yang jelas dan koheren
  6. Self-regulation: Kemampuan memonitor dan mengoreksi proses berpikir sendiri

Almarwah et al. (2025) dalam penelitian terhadap siswa kelas VIII menemukan bahwa indikator “memberikan penjelasan sederhana” mengalami peningkatan tertinggi dengan N-Gain 0,71, sementara indikator “menyimpulkan” menunjukkan peningkatan paling rendah dengan N-Gain 0,67 [14]. Temuan ini mengindikasikan bahwa kemampuan membuat inferensi dan kesimpulan yang kompleks memerlukan intervensi pembelajaran yang lebih intensif.

5.2 Teknik Analisis Data

Siahaan et al. (2023) dalam analisis tren penelitian berpikir kritis matematika di Indonesia periode 2013-2023 menemukan bahwa metode analisis data yang paling umum digunakan adalah uji-t (t-test), diikuti oleh analisis varians (ANOVA) [35]. Penelitian kuantitatif dominan dengan desain quasi-experimental, menggunakan tes sebagai instrumen pengumpulan data utama. Namun, terdapat kebutuhan untuk meningkatkan penggunaan metode kualitatif dan mixed methods untuk menangkap kompleksitas proses berpikir kritis yang tidak selalu dapat dikuantifikasi.

Kurniawati & Mariana (2025) menggunakan analisis bibliometrik dengan VOSviewer untuk mengidentifikasi tren penelitian profil berpikir kritis dan spasial dalam matematika di Indonesia periode 2015-2025 [36]. Hasil menunjukkan peningkatan konsisten dalam aktivitas publikasi dan sitasi, terutama dari tahun 2018 hingga 2024, dengan visualisasi jaringan mengungkapkan keterkaitan kuat antara istilah yang sering digunakan dalam penelitian.

6. Integrasi Teknologi dan Inovasi dalam Pembelajaran Berpikir Kritis

Era digital dan Revolusi Industri 4.0 membawa transformasi fundamental dalam pendidikan, termasuk dalam pengembangan keterampilan berpikir kritis. Integrasi teknologi dalam pembelajaran tidak hanya meningkatkan aksesibilitas dan keterlibatan, tetapi juga membuka peluang untuk personalisasi dan adaptasi pembelajaran sesuai kebutuhan individual peserta didik.

6.1 Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) dalam Pembelajaran

Lubis et al. (2025) dalam systematic literature review terhadap 42 artikel Scopus periode 2015-2025 mengidentifikasi tren signifikan pasca-2023 menuju penggunaan Generative AI dalam pembelajaran fisika untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis [37]. Strategi pedagogis “Role Reversal” di mana siswa mengevaluasi kesalahan AI dan penggunaan “Socratic Tutors” terbukti paling efektif dalam merangsang penalaran logis dan argumentasi ilmiah.

Judijanto et al. (2023) menyelidiki dampak platform pembelajaran online dan intensitas interaksi terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa di Jawa Barat, melibatkan 245 peserta [38]. Hasil menunjukkan hubungan positif signifikan antara penggunaan platform pembelajaran online, intensitas interaksi, dan keterampilan berpikir kritis, dengan median skor kemampuan berpikir kritis mencapai 75,6. Temuan ini menggarisbawahi dampak kumulatif dan sinergis dari desain pembelajaran online yang efektif dan strategi interaksi terhadap perkembangan kognitif.

Tabel 5. Teknologi dan Media Inovatif untuk Pembelajaran Berpikir Kritis

Teknologi/MediaDeskripsiEfektivitas (N-Gain/Effect Size)Jenjang ImplementasiKeunggulanTantanganSumber
E-LKPD InteraktifLembar kerja digital dengan elemen multimedia0.70-0.73SD-SMAInteraktif, fleksibel, mudah diaksesMemerlukan infrastruktur digital[24][39]
Multimedia Interaktif CanvaPlatform desain untuk materi pembelajaranEffect size: 0.58-0.72SD-SMAUser-friendly, visual menarikKetergantungan internet[23]
Augmented Reality (AR)Integrasi objek virtual dalam lingkungan nyata0.5791 (cukup efektif)SDPembelajaran immersive, menarikBiaya pengembangan tinggi[40]
Virtual Reality (VR)Lingkungan pembelajaran simulasi 3DSignifikanSMP-Perguruan TinggiPengalaman hands-on virtualAksesibilitas terbatas[7]
WordwallPlatform game edukatif interaktif0.73 (cukup efektif)SDGamifikasi, meningkatkan motivasiKeterbatasan jenis aktivitas[41][42]
LMS (Moodle, Google Classroom)Platform manajemen pembelajaran onlinePositif signifikanSMP-Perguruan TinggiTerstruktur, tracking progres mudahKurva pembelajaran untuk guru[26]
AI Chatbots (Bing Chat, ChatGPT)Asisten pembelajaran berbasis AISignifikanSMA-Perguruan TinggiPersonalisasi, feedback instanIsu etika, ketergantungan[25][37]

6.2 Blended Learning dan Flipped Classroom

Mertikadian et al. (2025) meneliti pengaruh model pembelajaran Blended Based Learning berbantuan Bing Chat terhadap keterampilan berpikir kritis di tinjau dari gaya belajar peserta didik [25]. Penelitian quasi-eksperimen ini menemukan bahwa model tersebut berpengaruh signifikan terhadap keterampilan berpikir kritis untuk semua gaya belajar (visual, auditori, dan kinestetik), menunjukkan fleksibilitas pendekatan blended learning dalam mengakomodasi keberagaman preferensi belajar.

Purwasila et al. (2024) mengimplementasikan model Flipped Classroom berbasis STEM di kelas IX dengan desain pretest-posttest non-equivalent control group [16]. Hasil menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen (rata-rata 90,34) dan kontrol (rata-rata 79,51) dalam keterampilan berpikir kritis, serta perbedaan hasil belajar IPA (rata-rata eksperimen 84,514 vs kontrol 72,118). Temuan ini menegaskan bahwa kombinasi flipped classroom dengan pendekatan STEM menciptakan lingkungan belajar yang mendorong pembelajaran aktif dan reflektif.

6.3 Gamifikasi dan Media Interaktif

Integrasi gamifikasi dalam pembelajaran menunjukkan dampak positif terhadap motivasi dan keterlibatan peserta didik, yang pada gilirannya meningkatkan keterampilan berpikir kritis. Utama et al. (2025) menganalisis pengaruh model pembelajaran CORE dengan media Bingo dan Kahoot! terhadap keterampilan berpikir kritis dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila [43]. Penelitian quasi-eksperimen ini menemukan bahwa kedua media meningkatkan keterampilan berpikir kritis secara signifikan, dengan Kahoot! menunjukkan efektivitas lebih tinggi (peningkatan dari 56,62% menjadi 82,51%) di bandingkan Bingo (peningkatan dari 53,78% menjadi 76,73%).

Syamawati (2025) mengembangkan media kartu interaktif menggunakan platform Wordwall untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV pada mata pelajaran IPAS [41]. Penelitian pengembangan dengan model ADDIE ini menghasilkan media dengan kelayakan sangat layak (90%), kepraktisan sangat baik (92% dari guru dan 97,3% dari siswa), dan efektivitas cukup efektif dengan N-Gain 0,73.

6.4 Multimedia Pembelajaran dan E-Learning

Juwanda et al. (2025) melakukan meta-analisis terhadap 12 artikel tentang pengembangan multimedia interaktif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa [23]. Hasil menunjukkan bahwa nilai effect size multimedia interaktif berkisar antara 0,58 hingga 0,72, dengan kategori “sedang” hingga “tinggi.” Jenjang SMA dan SMK menunjukkan efektivitas tertinggi, terutama pada materi kompleks seperti larutan penyangga dan teknologi perkantoran.

Ratnasari et al. (2024) mengembangkan bahan ajar digital berbasis Discovery Learning dengan Augmented Reality untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar [44]. Penelitian pengembangan dengan paradigma ADDIE ini menghasilkan bahan ajar dengan kelayakan materi 71%, bahasa 83%, dan desain 90%. Uji efektivitas menunjukkan effect size sebesar 93,33%, mengindikasikan dampak yang sangat besar terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa kelas V.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Analisis mendalam terhadap penelitian-penelitian tentang keterampilan berpikir kritis mengungkapkan beberapa temuan kunci yang signifikan. Pertama, terdapat peningkatan eksponensial dalam publikasi penelitian berpikir kritis, terutama dalam periode 2019-2021, yang mencerminkan meningkatnya kesadaran global akan pentingnya kompetensi ini dalam pendidikan abad ke-21 [1]. Kedua, Indonesia muncul sebagai kontributor terbesar dalam penelitian berpikir kritis, mencerminkan urgensi peningkatan kualitas pendidikan di negara ini, meskipun hasil PISA menunjukkan kemampuan peserta didik Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional [3].

Ketiga, berbagai model pembelajaran inovatif seperti Problem-Based Learning, Project-Based Learning terintegrasi STEM, Inquiry-Based Learning, dan Discovery Learning terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis dengan N-Gain berkisar antara 0.64 hingga 0.73 [13][14]. Model PjBL-STEM menunjukkan efektivitas tertinggi dengan effect size Cohen’s d mencapai 1,46, mengindikasikan dampak yang sangat besar.

Keempat, integrasi teknologi dan inovasi digital, termasuk kecerdasan buatan, augmented reality, virtual reality, dan platform pembelajaran online, membuka peluang baru untuk personalisasi pembelajaran dan peningkatan keterampilan berpikir kritis [37][25]. Namun, tantangan dalam aksesibilitas, infrastruktur digital, dan kompetensi guru dalam mengintegrasikan teknologi masih perlu di atasi.

Kelima, pengukuran keterampilan berpikir kritis memerlukan instrumen yang valid dan reliabel, dengan framework Ennis dan Facione menjadi rujukan utama. Pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental mendominasi penelitian, meskipun terdapat kebutuhan untuk meningkatkan penggunaan metode kualitatif dan mixed methods untuk menangkap kompleksitas proses berpikir kritis [35].

Rekomendasi untuk Penelitian Masa Depan

Berdasarkan analisis komprehensif ini, beberapa rekomendasi untuk penelitian masa depan meliputi:

  1. Penelitian Longitudinal: Diperlukan studi longitudinal untuk memahami dampak jangka panjang intervensi pembelajaran terhadap perkembangan keterampilan berpikir kritis [45]
  2. Integrasi Kearifan Lokal: Pengembangan model pembelajaran yang mengintegrasikan kearifan lokal dan konteks budaya Indonesia untuk meningkatkan relevansi dan keterlibatan peserta didik [29]
  3. Kolaborasi Internasional: Peningkatan kolaborasi internasional dalam penelitian berpikir kritis untuk pertukaran best practices dan pengembangan standar global [8]
  4. Penelitian Berbasis AI: Eksplorasi lebih lanjut tentang pemanfaatan kecerdasan buatan, khususnya Generative AI, dalam pembelajaran untuk meningkatkan berpikir kritis dengan memperhatikan aspek etika dan ketergantungan kognitif [37]
  5. Pengembangan Instrumen Kontekstual: Pengembangan instrumen pengukuran berpikir kritis yang lebih kontekstual dan sesuai dengan karakteristik peserta didik Indonesia [32]
  6. Penelitian Mixed Methods: Peningkatan penggunaan metode penelitian mixed methods untuk menangkap kompleksitas proses berpikir kritis yang tidak selalu dapat dikuantifikasi [35]
  7. Fokus pada PAUD: Eksplorasi pengembangan keterampilan berpikir kritis sejak pendidikan anak usia dini, mengingat minimnya penelitian di jenjang ini (hanya 2% dari total penelitian) [46]

Pengembangan keterampilan berpikir kritis merupakan investasi jangka panjang yang memerlukan komitmen dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pembuat kebijakan, pendidik, peneliti, dan masyarakat. Dengan pendekatan yang holistik, inovatif, dan kontekstual, Indonesia dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan generasi yang mampu bersaing di era global yang penuh dengan kompleksitas dan ketidakpastian.

Sumber Rujukan

  1. [Y. D. Purnama, โ€œResearch Trends in Critical Thinking: Bibliometric Analysis Using VosViewer (1994-2023),โ€ Journal of Research in Education and Pedagogy, May 2024, doi: 10.70232/wdvegb78.
  2. M. S. Sitepu et al., โ€œMapping and Exploring Strategies to Enhance Critical Thinking in the Artificial Intelligence Era: A Bibliometric and Systematic Review,โ€ European Journal of Educational Research, Nov. 2025, doi: 10.12973/eu-jer.15.1.305.
  3. E. Puspitasari, A. Abdullah, and M. Wati, โ€œPendidikan: Tren Keterampilan Berpikir Kritis melalui LKPD yang Terintegrasi PBL,โ€ Jurnal Pendidikan MIPA, Mar. 2025, doi: 10.37630/jpm.v15i1.2387.
  4. A. H. Khusna, T. Siswono, and P. Wijayanti, โ€œResearch trends in critical thinking skills in mathematics: a bibliometric study,โ€ International Journal of Evaluation and Research in Education (IJERE), Feb. 2024, doi: 10.11591/ijere.v13i1.26013.
  5. N. Nazila, I. Suyana, and H. Rusnayati, โ€œPENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK,โ€ Jurnal Pendidikan Fisika, Apr. 2025, doi: 10.24114/jpf.v13i2.60572.

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca