Apa itu Stoikisme?

Apa itu Stoikisme?

HermanAnis.com – Teman-teman semua, dalam kesempatan ini, kita akan membahas salah satu topik dalam filsafat yakni stoikisme, dengan judul tulisan, Apa itu Stoikisme?

Apa itu Stoikisme? bagaimana prinsipnya? bagaimana menerapkannya? apa tantangannya? Itulah yg jadi fokus bahasan kita.

Terinspirasi dari buku “How to Be a Stoic” oleh Massimo Pigliucci, ada 12 nilai atau pengingat dalam Stoikisme yg dapat di praktekkan, yakni:

  1. Examine your perception
  2. Everything is temporary
  3. Prepare for the worst
  4. Stay virtuous no matter what
  5. Take some rest
  6. Put yourself in others’ shoes
  7. Speak concisely
  8. Surround yourself with like-minded people
  9. Be more thick-faced
  10. Don’t be arrogant
  11. Don’t be judgmental
  12. Reflect upon your day

Baca Juga: Ontologi Epistemologi dan Aksiologi dalam Filsafat Ilmu

Mari kita mulai penjelasannnya!

A. Apa itu Stoikisme?

Stoicism atau stoikisme adalah paham filosofi yang mengajarkan bagaimana kita bisa hidup dengan kebahagiaan yang penuh. Stoikisme merupakan cara berpikir filusuf.

Jika di telaah, paham Stoikisme sebagian besar adalah etika, fokus pada perilaku manusia, yang mana dalam tradisi filsafat ini disebut sebagai filsafat kebajikan atau kebaikan.

Stoikisme adalah sebuah aliran filosofi yang mengajarkan tentang bagaimana seseorang dapat mencapai ketenangan dan kebahagiaan melalui kontrol diri dan pemikiran rasional. Paham ini mengajarkan bahwa manusia tidak dapat mengontrol kejadian di luar dirinya, tetapi dapat mengendalikan reaksi dan tanggapannya terhadap kejadian tersebut.

Beberapa konsep stoikisme yang terkenal diantaranya:

  1. Logos: konsep bahwa alam semesta diatur oleh kekuatan yang lebih besar dan lebih tinggi, yang disebut sebagai Logos.
  2. Apatheia: konsep ketenangan emosional dan kebebasan dari hasrat dan emosi yang tidak sehat.
  3. Hukum universalitas: konsep bahwa semua makhluk hidup terikat oleh hukum yang sama, dan oleh karena itu, semua manusia seharusnya dihormati.

Contoh dari filosofi stoikisme dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan filsuf Stoik terkenal seperti Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius. Salah satu contoh karya yang terkenal adalah Meditations oleh Marcus Aurelius, di mana ia menjelaskan bagaimana dia mengatasi kesulitan dan stres dalam hidupnya dengan mengembangkan kontrol diri dan menemukan kedamaian dalam dirinya sendiri.

Baca Juga: Gaya hidup minimalis: Cara agar hidup lebih bahagia

1. Stoikisme quotes

Mungkin teman-teman pernah mendengar ungkapan atau kutipan yang terkenal berikut ini:

  1. “Janganlah meminta agar hidup menjadi lebih mudah, tetapi mintalah agar kamu menjadi lebih baik.” – Epiktetos
  2. “Hidup yang baik adalah hidup sesuai dengan alam.” – Zeno dari Citium
  3. “Kita tidak dapat mengendalikan apa yang terjadi pada kita, tetapi kita dapat mengendalikan cara kita meresponsnya.” – Epiktetos
  4. “Tugas kita bukanlah untuk menguasai dunia, tetapi untuk menguasai diri sendiri.” – Seneca
  5. “Hidupmu tergantung pada pikiranmu.” – Marcus Aurelius
  6. “Kebahagiaan sejati ditemukan dalam kesederhanaan dan kesadaran akan keberadaan kita di dunia.” – Seneca
  7. “Jika kamu tidak bisa mengubah situasi, ubahlah cara pandanganmu terhadap situasi tersebut.” – Epiktetos
  8. “Hidupkan setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhirmu.” – Seneca
  9. “Kesabaran adalah penjaga kebijaksanaan.” – Marcus Aurelius
  10. “Hidup hanya memiliki arti jika kita memberikan makna pada setiap momen yang kita jalani.” – Seneca.

Kutipan-kutipan ini merupakan ungkapan terkenal dalam Stoikisme. Ungkapan ini mencerminkan prinsip-prinsip stoikisme yang meliputi penerimaan terhadap apa yang tidak dapat kita kontrol, fokus pada hal-hal yang kita kontrol, hidup sesuai dengan alam, kesederhanaan, kesadaran diri, dan pencarian kebahagiaan melalui kebijaksanaan.

Paham Stoikisme di perkenalkan oleh seorang filusuf Athena bernama Zeno.

Apa itu Stoikisme?

2. Sejarah Stoikisme

Stoikisme adalah sebuah aliran filosofi yang berasal dari Yunani kuno pada abad ke-3 SM. Aliran filosofi ini didirikan oleh seorang filsuf bernama Zeno dari Citium. Nama “stoikisme” berasal dari tempat di mana Zeno mendirikan sekolah filsafatnya, yaitu stoa, sebuah teras atau galeri terbuka di pusat kota Athena.

Pemikiran awal stoikisme dipengaruhi oleh filsuf-filsuf sebelumnya seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles, serta filsuf Cynic seperti Antisthenes dan Diogenes. Zeno sendiri dianggap sebagai pelopor yang mengembangkan ajaran stoikisme sebagai sebuah filosofi yang sistematis dan terorganisir.

Stoikisme berkembang pesat di Athena dan di seluruh dunia Helenistik selama abad ke-3 SM. Filsuf-filsuf stoikisme lainnya seperti Cleanthes dan Chrysippus membantu mengembangkan ajaran ini dan membuatnya semakin populer.

Selama periode Romawi, stoikisme menjadi lebih terkenal lagi, terutama melalui karya-karya Epictetus dan Marcus Aurelius. Mereka mengajarkan tentang kepatuhan pada takdir dan pemikiran positif sebagai cara untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian batin.

Meskipun stoikisme telah mengalami perubahan dan evolusi selama berabad-abad, ajarannya tetap relevan dan masih dipelajari hingga saat ini. Seiring dengan perkembangan zaman, ajaran stoikisme telah menginspirasi banyak orang untuk menjalani hidup dengan penuh makna dan keseimbangan.

3. Filsuf berpaham Stoikisme

Filsuf stoikisme adalah sekelompok filsuf Yunani kuno yang mengembangkan dan mengajarkan filosofi stoikisme. Beberapa nama terkenal dalam tradisi filosofi stoikisme antara lain:

  1. Zeno dari Citium: Dia adalah pendiri stoikisme pada abad ke-3 SM. Ia mengajarkan bahwa kita harus hidup sesuai dengan alam dan keadaan di sekitar kita.
  2. Epictetus: Seorang filsuf Yunani Romawi yang hidup pada abad ke-1 Masehi. Ia mengajarkan bahwa kita harus menerima takdir dan menjalani hidup dengan tenang.
  3. Marcus Aurelius: Kaisar Romawi yang juga seorang filsuf stoikisme. Dia menulis “Meditations”, sebuah buku yang berisi pemikirannya tentang kehidupan dan filosofi stoikisme.
  4. Seneca: Seorang filsuf dan penulis Romawi yang hidup pada abad ke-1 Masehi. Dia mengajarkan tentang pentingnya hidup sederhana, pengendalian diri, dan belajar menerima takdir.

Filsuf-filsuf stoikisme lainnya juga termasuk Cleanthes, Chrysippus, dan Musonius Rufus. Pemikiran dan ajaran dari filsuf-filsuf ini masih relevan dan dipelajari sampai sekarang karena memberikan pandangan yang bermanfaat tentang cara hidup yang baik dan bahagia.

B. Prinsip-prinsip dalam paham Stoikisme

Berikut beberapa prinsip mendasar dari paham Stoikisme yang dapat kita terapkan dalam keseharian.

1. Prinsip Stoikisme yang pertama adalah, kita hidup itu untuk bahagia dan cara untuk bahagia adalah dengan melakukan kebaikan.

Prinsip pertama dalam paham Stoikisme yakni,

“Hidup ini untuk bahagia dan cara untuk bahagia adalah dengan melakukan kebajikan atau kebaikan”

Jika prinsip ini dipegang, maka apapun yang kita alami, yang menimpa kita, mari kita respon dan jalani dengan memegangi kebajikan”

Orang dengan paham Stoikisme ini, meskipun mengalami penderitaan, kesulitan, rasa sakit, dia tangguh, kuat, dan tidak pernah mengeluh. Inilah cara berpikir yg dibutuhkan sekarang ini. Mungkin ini juga yg menjadi alasan mengapa istilah Stoik menjadi populer lagi beberapa tahun belakangan ini.

Gaya berpikir kebahagiaan ala Stoik ini mirip dengan pemikiran Socrates dan kawan-kawannya, yakni virtue Ethics.

Kalau kita ingin bahagia, kita harus melakukan kebaikan. Kalau kita ingin tau, mana baik mana buruk, maka belajarlah, cari ilmunya. Jangan ngarang, jangan nyari enaknya saja, karena jika nyari enaknya saja, maka kita tidak akan ketemu kebaikan tersebut.

a. Orang yang tambah pintar, mesti tambah baik

Menurut socrates,

“Orang yang tambah pintar, mesti tambah baik”

Nah, bagaimana kalo ada orang pintar yang ndak baik, atau orang pintar yang jahat. Jika demikian, ada yg seperti itu, maka pada dasarnya Dia itu belum pintar. Dia tidak tahu efek merusak dari kejahatan yang dia lakukan.

Orang baik pasti bahagia, kalau orang tidak baik kelihatan bahagia, maka sebnarny kebahagiaannya itu palsu belaka. Tunggu saja, sebentar lagi Dia akan dapat efek yang menyakitkan dari ketidakbaikan itu.

b. Paham Stoik sering di tandingkan dengan yang aliran Hedonisme.

Orang hedoni ini hanya mencari senangnya saja. Peradaban manusia sejak zaman modern basisnyakan rasio dan akal saja atau materi saja, sementara gaya Stoikisme ini tidak sekedar materi. Ada banyak aspek lain yang dilibatkan demi kebahagiaan. Termasuk, kebajikan, keadilan, kemanusiaan dan lain sebagainya.

Peradaban modern itu lebih mengunggulkan kemajuan, kesuksesan materi, perkembangan teknologi, yang semuanya berbasis pada materi. Ini tidak salah, tapi kurang lengkap.

Orang Stoikisme dalam konotasi populer adalah mereka yang mentalnya tangguh. Meskipun dia mengalami kesakitan, penderitaan luar biasa, dia menyikapinya tetap dalam koridor kebaikan. Buruknya orang lain, seperti ketika Dia menghina, merendahkan, menyakiti kita, tidak serta merta membuat kita menjadi buruk juga, seperti dengan membalasnya dengan keburukan juga.

Paham Stoicisme memiliki pola, ada logosnya. Pola ini harus kita pahami, kita ikuti, misalnya, kalau kita jujur, kita akan di percaya, kalau kita rajin, kita akan sukses, kalau kita banyak belajar, kita akan menjadi ahli.

Pola inilah yang dalam Soikisme yang di sebut kebajikan. Kalau kita di masa mudanya seneng-seneng saja, jangan salahkan nanti, jika di masa tua akan ada banyak kesulitan.

Dalam bahasa agama, ini kita kenal dengan istilah Sunatullah. Asal kita sudah mengikuti pola ini, nanti efeknya apa saja enggak masalah.

2. Prinsip atau gaya Stoicisme yang kedua adalah, kemampuan mengontrol diri, mengontrol keinginan.

Prinsip untuk menjadi seorang Stoikisme, yakni adanya kemampuan mengontrol diri, mengontrol keinginan. Hidup kita ini sulit karena kita tidak bisa kontrol keinginan kita sendiri.

“Jangan menginginkan apa yang di luar kuasa kita, tapi inginkanlah yang memang seharusnya terjadi, maka hidup kita akan bahagia.

Misalnya,

“saya ingin pintar, tapi saya malas belajar”.

Kalo begitu, nanti kamu akan susah sendiri, untuk itu, belajarlah. Itulah gaya Stoicisme.

Mengontrol keinginan, bagaimana keinginan kita itu harmonis dengan logos kebajikan. Inginkanlah yang seharusnya terjadi, maka engkau akan bahagia.

Berpikir itu bukan cuman logis tapi logos juga. Logos itu polanya.

3. Gaya Stoicisme yang ketiga, yang di luar dirimu sebenarnya tidak bisa mempengaruhimu jika kamu tidak mengijinkannya

Contohnya, kita di buat marah oleh seseorang. Tindakan orang tersebut yg membuat kita marah adalah kuasanya dia, tapi polihan kita jadi marah atau tidak, itu dalam kuasa kita. Kita tidak bisa mengontrol orang, namun kita bisa mengontrol respon kita terhadap orang itu.

Ada quote,

Kalau kita tidak mengijinkan rasa sakit itu hadir, kita tidak akan merasa sakit.

Kita punya kuasa atas respon dari tindakan orang pada diri kita. Kita bisa mengatur, mengonkontrol respon kita. Hari ini, sering keburukan orang lain, buahnya adalah keburukan kita. Orang lain maki-maki kita secara tidak sopan, akhirnya kita terpengaruh maki-maki dia secara tidak sopan juga.

Keburukannya orang lain, akhirnya jadi keburukan kita juga. Padahal kita bisa, keburukan orang lain kita respon positif. Kita ndak bisa ngontrol orang, itu di luar kuasa kita, tapi kita bisa kontrol diri kita sendiri.

Kita bisa marah, bisa juga tidak, kita bisa tersinggung, bisa juga tidak. Kalau bahasa ilmiahnya kita tidak reaktif, tapi responsif.

Kalau reaktif itu, di pukul terus reflek kita harus mukul balik, itu reaktif. Responsif itu pelan-pelan kita pikir ini, apa yang harus saya lakukan? Respon yang tepat terhadap ini apa? itu responsif. Untuk respon, kita butuh berpikir dulu, tapi untuk reaktif atau mungkin kita otomatis, mengandalkan insting, kebiasaan.

Ada quotes,

“sebenarnya orang yang membuat kita marah Itu Tuan kita, kita telah memposisikannya seperti orang yang menguasai kita, dia kita beri hak untuk membuat kita marah. Kalau kita ndak memberi dia untuk membuat kita marah, sebenarnya kita gak akan marah”

Populernya Stoikisme, sampai bertahan sekian abad, karena paham ini nggak jelimet, gak mumet. Filsafat ini akan laku ketika orang berat hidupnya. Ketika ada masalah yang sulit di selesaikan dengan cara berfikir, yang akal saja atau materi saja. Ketika orang memang punya banyak kegelisahan, banyak stress, maka pemikiran-pemikiran yang menguatkan diri, menguatkan mental itu laku lagi relevan lagi.

4. Prinsip-prinsip penting dalam paham stoikisme

Stoikisme adalah sebuah aliran filsafat yang mengajarkan tentang bagaimana kita seharusnya hidup untuk mencapai kebahagiaan dan kebijaksanaan dalam hidup. Berikut adalah beberapa prinsip-prinsip penting dalam paham stoikisme:

  1. Hidup sesuai dengan alam: Kita harus belajar untuk hidup dengan harmoni dengan alam, bukan melawan atau mengabaikannya.
  2. Pikiran yang tenang: Stoikisme mengajarkan bahwa kita harus mempertahankan pikiran yang tenang dan terkontrol, bahkan dalam situasi yang sulit atau penuh tekanan. Kita harus belajar untuk tidak terlalu bereaksi secara emosional, tetapi tetap tenang dan terkontrol.
  3. Fokus pada hal-hal yang dapat di kendalikan: Stoikisme mengajarkan bahwa kita harus fokus pada hal-hal yang dapat di kendalikan, seperti pikiran, sikap, dan tindakan kita sendiri. Kita harus merelakan hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan, seperti keadaan alam, orang lain, dan peristiwa di luar kendali kita.
  4. Berpegang pada nilai-nilai moral: Stoikisme mengajarkan bahwa kita harus hidup sesuai dengan nilai-nilai moral yang penting bagi kita, seperti kejujuran, kebaikan, dan kebijaksanaan. Kita harus berusaha untuk melakukan hal yang benar dan mematuhi hukum dan norma-norma yang berlaku.
  5. Menerima takdir: Stoikisme mengajarkan bahwa kita harus berusaha untuk menerima takdir atau keadaan yang di hadapi dengan tenang. Kita harus belajar untuk tidak terlalu terpengaruh oleh emosi dan perasaan negatif, tetapi tetap berpikiran positif.
  6. Hidup sederhana: Stoikisme mengajarkan bahwa kita harus hidup sederhana dan tidak terlalu tergantung pada benda-benda materi. Kita harus memprioritaskan kebahagiaan dan kepuasan batin daripada harta atau status sosial.
  7. Pemikiran positif: Kita harus berusaha untuk mencari sisi positif dari setiap keadaan, bahkan ketika situasi terlihat sangat sulit atau tidak adil.

Prinsip-prinsip ini mencakup aspek-etika, logika, dan fisika dalam stoikisme, yang semuanya saling terkait dan saling mempengaruhi satu sama lain. Melalui prinsip-prinsip ini, seseorang dapat mencapai kebahagiaan dan kebijaksanaan dalam hidup mereka.

C. Bagaimana cara menerapkan stoikisme?

Berikut adalah beberapa cara menerapkan prinsip-prinsip stoikisme dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Fokus pada hal-hal yang dapat di kendalikan: Seperti pemikiran dan tindakan kita, dan hindari membuang energi pada hal-hal yang tidak dapat dikendalikan, seperti keadaan atau perilaku orang lain.
  2. Terima kenyataan: Terima bahwa keadaan dan kejadian di luar kendali kita, dan belajar menerima kenyataan dengan lapang dada.
  3. Lakukan refleksi: Lakukan refleksi diri dan evaluasi setiap hari. Pikirkan tentang tindakan dan keputusan kita, serta cara kita bereaksi terhadap situasi yang muncul.
  4. Cari kebahagiaan dalam diri sendiri: Cari kebahagiaan dalam diri sendiri dan bukan dari hal-hal di luar diri kita, seperti uang atau popularitas.
  5. Praktikkan pemikiran rasional: Praktikkan pemikiran rasional dan jangan biarkan emosi dan hasrat mempengaruhi keputusan kita.
  6. Hadapi ketakutan: Hadapi ketakutan kita dengan memperhatikan kemungkinan terburuk dan siap menghadapinya dengan tenang.
  7. Hargai waktu: Hargai waktu kita dan jangan buang-buang waktu dengan kegiatan yang tidak penting atau yang tidak produktif.
  8. Hargai orang lain: Hargai orang lain dengan memperlakukan mereka dengan sopan dan adil.
  9. Jangan terjebak dalam keserakahan atau ketamakan: Belajarlah hidup sederhana dan bersyukur dengan apa yang kita miliki.

Dalam praktiknya, menerapkan stoikisme dapat membantu seseorang menjadi lebih tenang, bahagia, dan produktif dalam hidupnya. Namun, penting juga untuk di ingat bahwa stoikisme bukanlah solusi ajaib untuk semua masalah dan tantangan dalam hidup, dan bahwa manusia tetap akan mengalami kesulitan dan emosi negatif dari waktu ke waktu.

1. Titik temu Stoikisme dengan Islam

Stoikisme dan Islam adalah dua tradisi berbeda dalam filosofi dan agama. Namun, ada beberapa persamaan antara kedua tradisi dalam beberapa aspek.

  1. Kontrol diri: Dalam Islam, sifat sabar (sabr) dan penahanan diri (tawakkal) sangat di tekankan dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Hidup sederhana: Dalam Islam, zakat (pembayaran amal) dan sedekah (pemberian sumbangan) sangat di tekankan untuk membantu mereka yang membutuhkan.
  3. Ketuhanan: Berpandangan bahwa keberadaan Tuhan atau kekuatan yang lebih tinggi yang mengatur alam semesta. Dalam Islam, Tuhan (Allah) adalah pencipta dan pengatur alam semesta serta memiliki kekuasaan mutlak.
  4. Refleksi diri: Dalam Islam, sholat lima waktu dan dzikir merupakan bentuk refleksi diri dan memohon ampun dari Tuhan.

Meskipun terdapat beberapa kesamaan, kedua tradisi tetap berbeda dalam banyak hal. Sebagai contoh, Islam mengajarkan tentang kepatuhan pada ajaran Tuhan, sementara stoikisme tidak terkait dengan kepercayaan religius tertentu. Namun, kedua tradisi dapat memberikan wawasan yang bermanfaat dalam mencapai kebahagiaan dan keseimbangan dalam hidup.

Sangat banyak gagasan-gagasan kefilsafatan itu nyambung dengan ajaran-ajaran islam. Hanya saja, mungkin selama ini kita ndak banyak peduli. Kita harus terus belajar dan tidak berhenti pada ilmunya saja, tapi ilmu demi amal shaleh. Yang dalam bahasa agama, orang yang sudah sampai makomnya, stabil jiwanya, tenang. Orang tahu mana kebajikan itu dari ilmu.

Kamu nggak akan sakit, kalau kamu nggak membiarkan dirimu disakiti. Kita yang mengontrol diri kita sepenuhnya, dari situ kita ketemu banyak hikmah. Kita ketemu banyak manfaat dari kondisi batin yang stabil.

Dimaki-maki orang tidak membuat dia terdistraksi jiwanya jadi keruk, di sakiti orang tidak membuat dia tersakiti, apapun kondisinya dia menerima. Karena dia paham sunatullah, apapun yang menimpaku saat ini pasti ada sebab akibatnya. pasti ada polanya, ada sunnnatullah. Kita itu sebenarnya orang baik-baik, tapi di jahati.

Jangan seperti Joker, yang salah dalam memilih keputusan, yang terkenal dengan anekdot “Orang Jahat adalah Orang Baik yang Tersakiti“.

2. Contoh penerapan stoikisme dalam keseharian

Berikut adalah beberapa contoh stoikisme dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Menerima Takdir: Seorang stoikus akan berusaha untuk menerima takdir atau keadaan yang dihadapinya dengan tenang, dan tidak terlalu terpengaruh oleh emosi dan perasaan negatif. Dia akan berusaha untuk memfokuskan perhatiannya pada hal-hal yang dapat di kendalikan, dan merelakan hal-hal yang tidak bisa di kendalikan.
  2. Hidup Sederhana: Seorang stoikus akan hidup sederhana dan tidak terlalu tergantung pada benda-benda materi. Dia akan memprioritaskan kebahagiaan dan kepuasan batin daripada harta atau status sosial.
  3. Pengendalian Diri: Seorang stoikus akan mengendalikan dirinya dengan baik dalam situasi-situasi sulit. Dia akan belajar untuk tidak terlalu bereaksi secara emosional terhadap hal-hal yang negatif, dan akan berusaha untuk tetap tenang dan terkontrol.
  4. Pemikiran Positif: Seorang stoikus akan mencoba untuk melihat segala hal dari sudut pandang positif. Dia akan berusaha untuk mencari sisi positif dari setiap keadaan, bahkan ketika situasi terlihat sangat sulit atau tidak adil.
  5. Hidup Sesuai Dengan Alami: Seorang stoikus akan berusaha untuk hidup sesuai dengan alam dan keadaan di sekitarnya. Dia akan belajar untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dan berkembang secara alami, tanpa mencoba untuk memaksakan kehendaknya sendiri pada lingkungannya.

Contoh-contoh di atas adalah beberapa cara bagaimana stoikisme dapat di terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari filosofi stoikisme adalah untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian batin melalui pengembangan kemampuan diri dan sikap mental yang positif.

3. Gaya hidup Stoikisme

Gaya hidup stoikisme didasarkan pada prinsip-prinsip filosofi stoikisme, yang mencakup etika, logika, dan fisika. Berikut adalah beberapa ciri khas dari gaya hidup stoikisme:

  1. Fokus pada Hal yang Dapat Dikendalikan: Seorang stoikus akan fokus pada hal-hal yang dapat di kendalikan, seperti pikiran, sikap, dan tindakan mereka sendiri. Mereka akan merelakan hal-hal yang tidak dapat mereka kendalikan, seperti keadaan alam, orang lain, dan peristiwa di luar kendali mereka.
  2. Pengendalian Diri: Seorang stoikus akan belajar untuk mengendalikan diri mereka sendiri dengan baik, terutama dalam menghadapi situasi yang sulit atau penuh tekanan. Mereka akan belajar untuk tidak terlalu bereaksi secara emosional, tetapi tetap tenang dan terkontrol.
  3. Hidup Sederhana: Seorang stoikus akan hidup sederhana dan tidak terlalu tergantung pada benda-benda materi. Mereka akan memprioritaskan kebahagiaan dan kepuasan batin daripada harta atau status sosial.
  4. Menerima Takdir: Seorang stoikus akan berusaha untuk menerima takdir atau keadaan yang di hadapinya dengan tenang. Mereka akan belajar untuk tidak terlalu terpengaruh oleh emosi dan perasaan negatif, tetapi tetap berpikiran positif.
  5. Pemikiran Positif: Seorang stoikus akan berusaha untuk melihat segala hal dari sudut pandang positif. Mereka akan berusaha untuk mencari sisi positif dari setiap keadaan, bahkan ketika situasi terlihat sangat sulit atau tidak adil.
  6. Berpegang Pada Nilai-Nilai Moral: Seorang stoikus akan hidup sesuai dengan nilai-nilai moral yang penting bagi mereka, seperti kejujuran, kebaikan, dan kebijaksanaan. Mereka akan berusaha untuk melakukan hal yang benar dan mematuhi hukum dan norma-norma yang berlaku.
  7. Menjalin Hubungan yang Sehat: Seorang stoikus akan berusaha untuk menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain. Mereka akan berusaha untuk memahami sudut pandang orang lain, mendengarkan dengan baik, dan memperlakukan orang lain dengan hormat dan kebaikan.

Gaya hidup stoikisme tidak hanya mencakup prinsip-prinsip filosofi stoikisme, tetapi juga praktik-praktik sehari-hari yang mendukung prinsip-prinsip ini.

Misalnya, praktik meditasi, refleksi diri, dan latihan untuk mengendalikan emosi. Dengan menerapkan gaya hidup stoikisme, seseorang dapat mencapai kedamaian batin dan kebahagiaan yang lebih besar.

D. Tantangan dalam penerapan paham stoikisme

Meskipun paham stoikisme memiliki banyak manfaat bagi kehidupan, tetapi ada juga beberapa tantangan dalam menerapkannya, di antaranya:

  1. Emosi yang sulit di kendalikan: Salah satu tantangan utama dalam menerapkan paham stoikisme adalah sulitnya mengendalikan emosi kita. Stoikisme mengajarkan kita untuk menjaga pikiran tenang dan terkendali dalam segala situasi, tetapi dalam keadaan yang sangat sulit atau penuh tekanan, mengendalikan emosi bisa sangat sulit di lakukan.
  2. Kegagalan dalam menerapkan prinsip-prinsip stoikisme: Menerapkan prinsip-prinsip stoikisme membutuhkan latihan dan ketekunan yang konsisten. Tantangan utama adalah dalam menerapkannya secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika menghadapi masalah dan tantangan yang sulit.
  3. Kesulitan dalam menerima takdir: Stoikisme mengajarkan bahwa kita harus menerima takdir dan keadaan yang di hadapi dengan tenang. Namun, seringkali sulit untuk menerima keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita, terutama ketika hal tersebut berkaitan dengan hal-hal yang penting dalam hidup kita.
  4. Keterbatasan dalam mengontrol lingkungan dan orang lain: Stoikisme mengajarkan bahwa kita harus fokus pada hal-hal yang dapat di kendalikan, seperti pikiran, sikap, dan tindakan kita sendiri. Namun, seringkali sulit untuk mengontrol lingkungan dan orang lain di sekitar kita, yang dapat mempengaruhi emosi dan perasaan kita.
  5. Tantangan dalam mempraktikkan hidup sederhana: Stoikisme mengajarkan bahwa kita harus hidup sederhana dan tidak terlalu tergantung pada benda-benda materi. Namun, di era modern ini, seringkali sulit untuk menghindari godaan konsumsi dan gaya hidup materialistik yang terus di perlihatkan di media sosial dan industri.

Menerapkan prinsip-prinsip stoikisme membutuhkan ketekunan dan kesabaran yang konsisten, tetapi dengan tekad yang kuat dan latihan yang teratur, seseorang dapat mencapai kebahagiaan dan kebijaksanaan dalam hidup mereka.

Sumber:

Demikian semoga bermanfaat.


Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca