Perbedaan Rabun Jauh dan Rabun Dekat

Perbedaan Rabun Jauh dan Rabun Dekat

HermanAnis.com – Teman-teman semua, dalam tulisan kali ini kita akan membahas tentang satu topik dalam alat optik mata yakni perbedaan rabun jauh dan rabun dekat. Mata adalah salah satu panca indra yang sangat penting bagi manusia. Tentu saja tanpa mata, manusia tidak dapat melihat. Namun seringkali fungsi mata sebagai indra penglihat terganggu karena beberapa faktor seperti rabun jauh atau rabun dekat yang di sebabkan oleh berbagai faktro seperti; faktor keturunan, kebiasaan yang salah, atau mungkin faktor usia.

Rabun mata sendiri adalah kelainan refraksi cahaya dalam mata yang menyebabkan penglihatan menjadi kurang jelas (rabun) yang disebabkan oleh titik cahaya yang tidak tepat di retina (cahaya tidak terfokus di retina). Kelainan refraksi merupakan suatu keadaan dimana bayangan tegas tidak di bentuk pada retina (makula retina atau bintik kuning) melainkan di bagian depan atau belakang bintik kuning dan tidak terletak pada satu titik yang tajam. Pada kelainan refraksi terjadi ketidakseimbangan sistem optik/penglihatan pada mata sehingga menghasilkan bayangan yang kabur.

Pada penglihatan normal, kornea dan lensa mata membelokkan sinar pada titik fokus yang tepat pada sentral retina. Bola mata manusia mempunyai panjang kira-kira 2 cm, dan untuk memfokuskan sinar ke bintik kuning di perlukan kekuatan 50 Dioptri. Kornea mempunyai kekuatan 40 dioptri dan lensa mata berkekuatan 10 dioptri.

  • Apabila kekuatan untuk membiaskan tidak sama dengan 50 Dioptri maka sinar akan di fokuskan di depan retina seperti pada miopi dan di koreksi dengan kacamata (-) atau di belakang retina seperti pada hipermetropia, yang membutuhkan kacamata (+).
  • Apabila pembiasan tidak di fokuskan pada satu titik seperti pada astigmatisma maka di berikan kacamata silinder untuk mengoreksinya.

Kelainan refraksi di kenal dalam bentuk miopi, hipermetropi dan astigmatism. Dalam tulisan ini kita hanya akan membahas tentang Perbedaan Rabun Jauh (Miopi) dan Rabun Dekat (Hipermetropi).

Baca Juga: Prinsip Kerja Kamera

A. Perbedaan rabun jauh dan rabun dekat pada cacat mata

Gangguan penglihatan adalah masalah umum yang dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang. Dua gangguan penglihatan yang sering terjadi adalah rabun jauh (miopi) dan rabun dekat (hipermetropi). Kedua gangguan ini berbeda dalam berbagai aspek, termasuk penyebab, gejala, dan penanganannya.

1. Rabun Jauh (Miopi)

Miopi atau rabun jauh adalah kondisi dimana seseorang memiliki kesulitan untuk melihat objek yang berjarak jauh. Hal ini di sebabkan karena cahaya yang memasuki mata terfokus di depan retina sehingga membuat objek yang jauh terlihat kabur.

Pada mata normal, mata akan memfokuskan gambar pada retina (jaringan yang peka terhadap cahaya) di bagian belakang lensa mata. Pada penderita miopi, lensa mata akan memfokuskan gambar di depan retina. Orang-orang yang mengalami miopi memiliki penglihatan jarak dekat yang baik, namun untuk melihat objek yang jauh akan menjadi kabur.

Rabun jauh atau miopi merupakan cacat mata yang terjadi karena lensa mata tidak dapat menipis sebagaimana mestinya. Akibatnya, berkas cahaya dari objek di jauh tak berhingga terfokus dan membentuk bayangan di depan retina (jadi benda tidak terlihat jelas). Jadi titik jauh mata tidak berada di jauh tak berhingga, tetapi pada jarak tertentu dari mata. Dengan demikian, penderita miopi tidak dapat melihat objek yang sangat jauh (tak berhingga).

Gambar 1.1. Mata Rabun Jauh (Miopi), bayangan jatuh di depan retina
Gambar 1.1. Mata Rabun Jauh (Miopi), bayangan jatuh di depan retina
Gambar 1.2. Mata Rabun jauh (Miopi), ditolong dengan lensa cekung (-), bayangan tepat di retina
Gambar 1.2. Mata Rabun jauh (Miopi), di bantu dengan lensa cekung (-), bayangan tepat di retina

Penderita miopi dapat di bantu dengan kaca mata berlensa negatif (cekung), yang bersifat menyebarkan berkas cahaya. Lensa ini berfungsi membentuk bayangan maya di titik jauh mata dari benda yang berada di jauh tak berhingga. Dengan demikian, benda yang berada di jauh tak berhingga akan membentuk bayangan tepat di retina, sehingga terlihat jelas.

Baca Juga: Contoh Soal Lup

2. Rabun Dekat (Hipermetropi)

Hipermetropi atau rabun dekat merupakan cacat mata dengan lensa terlalu pipih atau bola mata terlalu pendek. Rabun dekat terjadi ketika cahaya yang masuk ke dalam mata tidak dipantulkan tepat pada retina. Cahaya tersebut malah dipantulkan ke belakang retina, sehingga menghasilkan suatu penglihatan kabur pada jarak pandang dekat. Objek yang dekat akan terlihat kabur karena bayangan jatuh di depan retina, sedangkan objek yang jauh akan terlihat jelas karena bayangan jatuh di retina.

Hipermetropia atau far-sightendess adalah kelainan refraksi dimana, ketika berkas sinar sejajar masuk ke lensa mata dalam keadaan istirahat atau tanpa akomodasi, maka cahaya akan dibiaskan membentuk bayangan di belakang retina. Kekuatan optik mata terlalu rendah biasanya karena bola mata yang pedek sehingga menyebabkan sinar cahaya pararel di konvergensikan pada titik di belakang retina.

Penderita hipermetropi tidak dapat melihat secara jelas objek yang letaknya dekat dengan mata (hanya dapat melihat objek yang letaknya jauh dari mata). Hipermetopi merupakan cacat mata yang terjadi karena lensa mata tidak dapat mencembung atau tidak dapat berakomodasi sebagaimana mestinya. Akibatnya, berkas cahaya dari objek di jauh tak berhingga terfokus dan membentuk bayangan di belakang retina (jadi benda tidak terlihat jelas).

Mata rabun dekat, bayangan di belakang retina
Gambar 2.1. Mata rabun dekat (hipermetropi), bayangan di belakang retina
Mata (hipermetropi), di bantu dengan lensa cembung (+), bayangan tepat di retina
Gambar 2.2. Mata rabun dekat (hipermetropi), di bantu dengan lensa cembung (+), bayangan tepat di retina

Letak titik dekat mata hipermotropi lebih jauh di bandingkan letak titik dekat mata normal. Untuk menolong penderita hipermetropi di perlukan kacamata berlensa cembung (+), yang bersifat mengumpulkan berkas cahaya. Lensa ini berfungsi membentuk bayangan maya di titik dekat mata dari objek yang berada pada jarak baca normal.

B. Penyebab Rabun Jauh dan Rabun Dekat

1. Faktor penyebab (etiologi) terjadinya miopi

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan myopia meliputi faktor genetik, lingkungan, dan perilaku seperti membaca terlalu banyak dalam pencahayaan yang buruk.

Miopi atau rabun jauh merupakan pembiasan berkas sinar yang masuk ke dalam mata di suatu titik fokus di depan retina pada keadaan tanpa akomodasi. Beberapa etiologi atau penyebab dari miopi yaitu:

  1. kekuatan optik mata yang tinggi biasanya karena bola mata (diameter antero posterior) yang panjang, di sebut miopia aksial,
  2. radius kurvatura kornea dan lensa lebih besar, di sebut miopia kurvatura,
  3. perubahan posisi lensa ke depan yang sering terjadi pada pascaoperasi glaukoma, dan
  4. perubahan indeks bias refraksi biasanya pada penderita diabetes atau katarak.

Berbagai faktor dapat mempengaruhi progresivitas miopi pada usia sekolah. Faktor genetik dan kebiasaan atau perilaku membaca dekat disertai penerangan yang kurang menjadi faktor utama terjadinya miopi. Kurangnya outdoor activity juga mempengaruhi pertumbuhan miopi.

Vitamin D yang di dapat ketika melakukan aktivitas luar ruangan memiliki peran dalam pembentukan kolagen dimana merupakan komponen utama sklera. Intensitas cahaya yang tinggi juga dapat mempengaruhi tingkat keparahan miopi karena mempengaruhi bekerjanya pupil dan lensa mata.

2. Faktor penyebab (etiologi) terjadinya rabun dekat (hipermetropi)

Hipermetropia sering terjadi pada usia dewasa. Cacat mata ini umumnya berbanding lurus dengan pertambahan usia. Terdapat beberapa hal yang menyebabkan terjadinya hipermetropia, yaitu:

  1. Sumbu aksial bola mata lebih pendek dari normal (hipermetropi axial), yang menyebabkan banyangan jatuh di depan retina. Perbedaan panjang bola mata sebesar 1 mm menyebabkan perbedaan 3 dioptri, biasanya tidak lebih dari 2 mm apabila lebih dari itu maka terdapat keadaan patologis lain. Sumbu utama bola mata yang terlalu pendek biasanya terjadi karena mikropthalmia, retinitis sentralis, atau ablasio retina (lapisan retina lepas lari ke depan titik fokus cahaya tidak tepat dibiaskan) ini salah satu penyebab hipermetropi.
  2. Daya pembiasan bola mata yang terlalu lemah. Penyebab hipermetropi yang kedua adalah terjadi gangguan-gangguan refraksi pada kornea, aqueus humor, lensa dan vitreus humor. Gangguan yang dapat menyebabkan hipermetropi adalah perubahan pada komposisi kornea dan lensa sehingga kekuatan refraksi menurun dan perubahan pada komposisi aqueus humor dan vitreus humor. Misal pada penderita Diabetes Militus terjadi hipermetropi jika kadar gula darah di bawah normal. Ini menjadi salah satu penyebab hipermetropi.
  3. Kelengkungan kornea dan lensa tidak kuat. penyebab hipermetropi yang ketiga adalah kelengkungan kornea dan lensa tidak kuat. Kelengkungan kornea ataupun lensa berkurang sehingga bayangan di fokuskan di belakang retina. Ini menjadi salah satu penyebab hipermetropi. Perubahan posisi lensa penyebab hipermetropi yang berikutnya adalah perubahan posisi lensa. Dalam hal ini, posisi lensa menjadi lebih posterior.
  4. Radius kurvatura kornea dan lensa lebih kecil dari normal (hipermetropia kurvatura).
  5. Perubahan posisi lensa yang lebih ke belakang. Sering terjadi pada trauma atau afakia pasca operasi katarak.
  6. Perubahan indeks bias refraksi, sering pada usia tua di mana terjadi perubahan konsistensi dan kekeruhan korteks dan nukleus lensa yang menyebabkan indeks bias bertambah.

C. Gejala dan Diagnosis

1. Gejala rabun jauh (miopi)

Gejala klinis yang muncul pada penderita miopi di antaranya adalah;

  • Kesulitan melihat objek yang jauh, pandangan buram saat melihat objek jauh, kondisi seperti ini pada anak-anak kadang terabaikan,
  • Sering mengedipkan mata atau memicingkan mata untuk melihat dengan lebih jelas.
  • Mata cepat Lelah
  • Suka mendekatkan objek dengan mata
  • Menggosok mata terus menerus
  • Tidak menyadari benda yang jauh
  • Sulit melihat saat sedang berkendara
  • Mata berair
  • Kepala sakit

2. Gejala Rabun Dekat (hipermetropi)

Gejala–gejala klinis yang sering di timbulkan berupa sakit kepala daerah frontal, penglihatan tidak nyaman dan perasaan mata lelah yang muncul setelah bekerja lama, sensitivitas meningkat terhadap cahaya dan spasme akomodasi. Gejala klinis yang muncul pada penderita rabun dekat di antaranya adalah;

  • Kesulitan membaca atau melihat objek dekat dengan jelas.
  • Mata lelah saat membaca atau melakukan pekerjaan dekat.
  • Terkadang, mata dapat menjadi berair atau mengalami ketegangan.
  • Nyeri di sekitar mata
  • Mata terasa panas
  • Objek dekat buram
  • Sakit kepala
  • Sulit membaca

D. Perbedaan Utama antara Rabun Jauh dan Rabun Dekat

  1. Fokus Cahaya: Perbedaan utama antara keduanya adalah di mana fokus cahaya terjadi. Pada rabun jauh, fokus cahaya terjadi di depan retina, sedangkan pada rabun dekat, fokus cahaya terjadi di belakang retina.
  2. Jarak Pandang: Miopi memengaruhi kemampuan seseorang untuk melihat objek yang berjarak jauh, sedangkan hipermetropi memengaruhi kemampuan untuk melihat objek yang berjarak dekat.
  3. Gejala: Gejala yang muncul pada keduanya juga berbeda. Miopi sering di sertai dengan kesulitan melihat objek yang jauh, sementara hipermetropi menyebabkan kesulitan dalam membaca atau melihat objek dekat dengan jelas.

E. Penanganan dan Referensi

Kedua gangguan penglihatan ini dapat di atasi dengan kacamata atau lensa kontak yang sesuai. Untuk penanganan yang lebih lanjut dan informasi lebih mendalam, sebaiknya berkonsultasi dengan seorang profesional kesehatan mata.

Artikel ini hanya memberikan gambaran umum tentang perbedaan antara rabun jauh dan rabun dekat, dan referensi lebih lanjut dapat di temukan di:

  1. American Optometric Association (AOA): AOA menyediakan informasi mendalam tentang berbagai gangguan penglihatan, termasuk miopi dan hipermetropi. (www.aoa.org)
  2. National Eye Institute (NEI): NEI merupakan sumber terpercaya untuk penelitian dan informasi tentang mata dan gangguan penglihatan. (www.nei.nih.gov)

File pdf artikel ini dapat Anda download pada link di bawah ini!

Perbedaan Miopi dan Hipermetropi


Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close

Eksplorasi konten lain dari Herman Anis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca