Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasi

5 min read

Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasi

HermanAnis.com – Teman-teman semua, pada kesempatan ini kita akan bahas satu topik pendidikan yakni pendidikan karakter konsep dan implementasinya di Sekolah dan Masyarakat.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Pentingnya Pendidikan Karakter

Pentingnya Pendidikan Karakter (character education) atau menurut Lickona setidaknya ada tujuh. Tujuh alasan mengapa character education penting di berikan kepada peserta didik sejak dini, adalah;

  1. melalui pendidikan karakter sejak dini, kita dapat membekali dan dapat memastikan peserta didik memiliki kepribadian dan karakter yang baik dalam menjalani hidupnya di kemudian hari.
  2. banyak studi menunjukkan bahwa character education yang baik dapat membantu meningkatkan prestasi akademik peserta didik.
  3. anak usia dini sampai remaja memiliki kecendrungan untuk meniru dan rawan terpengaruh dengan hal-hal yang negatif, olehnya itu pembentukan karakter harus di berikan sejal dini baik melalui kurikulum pendidikan formal ataupun di masyarakat. Hal ini karena, peserta didik terkadang tidak dapat membentuk karakter yang kuat untuk dirinya di tempat lain.
  4. dengan pendidikan karakter yang baik peserta didik sebagai individu dapat menghargai dan menghormati orang lain serta dapat hidup di dalam masyarakat yang majemuk.
  5. melalui character education yang baik, akan berdampak pada upaya mengatasi akar masalah moral dan sosial kemasyarakatan seperti; ketidakjujuran, ketidaksopanan, kekerasan, etos kerja rendah,dan lain-lain.
  6. merupakan cara terbaik untuk membentuk perilaku individu sebelum masuk ke dunia kerja/usaha.
  7. untuk mengajarkan nilai-nilai budaya nusantara yang merupakan bagian dari kerja suatu peradaban.

Dari penjelasan tersebut kita menyadari bahwa pendidikan karakter sangat penting bagi setiap orang. Dengan begitu, maka para guru, dosen,dan orang tua, sudah seharusnya senantiasa menanamkan nilai-nilaikarakter yang baik kepada anak didiknya

Konsep Pendidikan Karakter

Pendidikan Karakter merupakan sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya.

Pada dasarnya tujuan utama character education adalah untuk membangun bangsa yang tangguh, di mana masyarakatnya berakhlak mulia, bermoral, bertoleransi, dan bergotong-royong. Untuk mencapai tujuan tersebut maka di dalam diri peserta didik harus ditanamkan nilai-nilai pembentuk karakter yang bersumber dari Agama, Pancasila, dan Budaya.

Berikut adalah nilai-nilai pembentuk karakter tersebut:

  1. Kejujuran
  2. Sikap toleransi
  3. Disiplin
  4. Kerja keras
  5. Kreatif
  6. Kemandirian
  7. Sikap demokratis
  8. Rasa ingin tahu
  9. Semangat kebangsaan
  10. Cinta tanah air
  11. Menghargai prestasi
  12. Sikap bersahabat
  13. Cinta damai
  14. Gemar membaca
  15. Perduli terhadap lingkungan
  16. Perduli sosial
  17. Rasa tanggungjawab
  18. Religius

Penjelasan ke-18 nilai karakter tersebut dapat anda baca pada artikel berikut: 18 Nilai Karakter Bangsa Indonesia beserta Contohnya

Oleh karena itu, Pendidikan karakter adalah usaha yang di lakukan untuk mendidik siswa dengan baik kemudian implementasikan di lingkungannya. Untuk lebih memahami apa arti character education, maka anda dapat merujuk pada pendapat beberapa ahli seperti dalam tulisan berikut ini: Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Para Ahli.

Tujuan Pendidikan Karakter

Kemudian, menurut Zubaedi, setidaknya ada 3 fungsi diadakannya pendidikan karakter, ketiganya yakni;

  1. Sebagai pembentukan dan pengembangan potensi
  2. Fungsi perbaikan dan penguatan
  3. Sebagai penyaring

Fungsi pembentukan dan pengembangan potensi

Pada fungsi ini Pendidikan karakter berfungsi untuk membentuk dan mengembangkan potensi peserta didik supaya berpikiran baik, berbaik hati, dab berperilaku sesuai falsafah hidup Pancasila.

Fungsi perbaikan dan penguatan

Fungsi perbaikan dan penguatan di maksudkan bahwa Pendidikan karakter berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan Pendidikan, masyarakat, dan pemerintah. Semuanya wajib ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera.

Fungsi penyaring

Fungsi penyaring di maksudkan bahwa Pendidikan karakter tersebut digunakan untuk memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.

Selain tiga tujuan di atas, dan dari berbagai pendapat ahli, maka dapat kita simpulkan tujuan dari character education setidaknya adalah untuk mengembangkan:

  1. mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai menusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa.
  2. mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya  bangsa yang religius.
  3. menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.
  4. mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan.
  5. mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, dan dengan rasa  kebanggsaan yang tinggi serta penuh kekuatan.

Dengan adanya tujuan pendidikan karakter ini, di harapkan peserta didik dapat mencapai sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah di tetapkan agar tercipta generasi yang baik.

Klik disini untuk mendapatkan buku-buku tentang Pendidikan Karakter

Prinsip Pendidikan Karakter 

Kemdikbud menetapkan setidaknya ada 7 prinsip character education yang menjadi prinsip utama dalam pelaksanaan penguatan Pendidikan karakter (PPK). ada sembilan yaitu sebagai berikut:

  1. Nilai-nilai moral universal
  2. Holistik Gerakkan
  3. Terintegrasi
  4. Partisipatif
  5. Kearifan lokal
  6. Kecakapan Abad XXI
  7. Adil dan inklusif  

Penjelasan ketujuh Prinsip Pendidikan Karakter tersebut sebagai berikut,

Nilai-nilai moral universal

Gerakan PPK berfokus pada penguatan nilai-nilai moral universal yang prisip-prinsipnya dapat di dukung segenap individu dari berbagai macam latar  belakang agama, keyakinan, kepercayaan, sosial, dan budaya.

Holistik 

Gerakkan PPK di laksanakan secara holistic, dalam arti pengembangan fisik (olah raga), intelektual (olah pikir), estetika (olah rasa), etika dan spiritual (olah hati), di lakukan utuh, menyeluruh dan serenak. Baik melalui proses pembelajaran intrakurikuler,kokurikuler dan ektrakurikuler berbasis pada pengembangan budaya sekolah maupun melalui kolaborasi dengan komunitas-komunitas di luar lingkungan Pendidikan.

Terintegrasi

Gerakan PPK sebagai poros pelaksanaan Pendidikan dasar dan menengah di kembangkan dan di laksanakan dengan memadukan, menghubungkan, dan mengutuhkan berbagai elemen Pendidikan, bukan merupakan program tempelan dan tambahan dalam proses pelaksanaan Pendidikan.

Partisipatif

Gerakan PPK di lakukan dengan mengikut sertakan dan melibatkan public seluars-luasnya sebagai pemangku kepentingan pendidikan sebagai pelaksana Gerakan PPK. Kepala sekolah pendidik, tenaga kependidikan, komite sekolah, dan pihak-pihak lain yang terkait dapat menyepakati prioritas nilai-nilai utama karakter dankekhasan sekolah yang di perjuangkan dalam Gerakan PPK, menyepakati bentuk dan strategi pelaksanaan Gerakan PPK, bahkan membiayai Gerakan PPK.

Kearifan lokal

Gerakan PPK bertumpu dan responsif pada kearifan lokal nusantara yang demikian beragam dan majemuk agar kontekstual dan membumi. Gerakan PPK harus bisa mengembangkan dan memperkuat kearifan lokal nusantara agar dapat berkembang dan berdaulat sehingga dapat memberi identitas dan jati diri peserta didik sebagai bangsa Indonesia.

Kecakapan Abad XXI

Gerakan PPK mengembangkan kecakapan-kecakapan yang di butuhkan oleh peserta didik untuk hidup di abad XXI, antara lain kecapan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kecakapn berkomunikasi (communication skill), termasuk penguasaan bahasa internasional, dan kerja sama dalam pembelajaran (collaborative learning).

Adil dan inklusif  

Gerakan PPK di kembangkan dan di laksanakan berdasarkan prinsip kedailan, non-diskriminasi, non-sektarian, menghargai kebhinekaan dan perbedaan (inklusif), dan menjunjung harkat dan martabat manusia.

Implementasi pendidikan karakter di Indonesia

Implementasi character education di Indonesia dapat dilihat secara makro dan mikro.

Penerapan character education di Indonesia secara makro dapat dilihat secara dapat kita bagi ke dalam tiga tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi hasil. 

Pada tahap pertama, perangkat karakter di rumuskan dengan berbagai sumber antara lain:

  • filosofis: Pancasila, UUD 1945, dan UU N0.20 Tahun 2003 beserta ketentuan perundang-undangan turunannya;
  • teoretis: teori tentang otak, psikologis, pendidikan, nilai dan moral, serta sosiokultural; 
  • empiris: berupa pengalaman dan praktikterbaik, antara lain tokoh-tokoh, satuan pendidikan formal dan nonformal unggulan, pesantren, kelompok kultural, dll.

Kemudian pada tahap yang kedua, pengembangan belajar di kembangkan dan proses pembelajaran yang bermuara pada pembentukan karakter dalam diri peserta didik.

Proses ini dilaksanakan melalui proses pemberdayaan dan pembudayaan sebagaimana di gariskansebagai salah satu prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional. Proses ini berlangsung dalam tiga pilar pendidikan yakni, satuan pendidikan formal dan nonformal, keluarga, dan masyarakat.

Di dalam setiap pilar tersebut, terdapat dua jenis pengalaman belajar yang terjadi lewat pendekatan intervensi dan habituasi. Pada pendekatan intervensi tujuan yang hendakdicapai ialah pembetulan karakter dengan kegiatan terstruktur.

Dalam proses ini peran pendidik sangatlah penting. Sedangkan pada pendekatan habituasi berarti mengusahakan terciptanya lingkungan yang memungkinkan peserta didik pada satuan pendidikannya, rumahnya, dan ingkungan masyarakatnya membiasakan diri berperilaku sesuai nilai sehingga terbentuk karakter yang telah di terima dan menjadi miliknya melalui proses intervensi. Pelaksanaan pendidikan karakter dalam konteks makro melibatkan seluruh sektor kehidupan.

Pada tahap ketiga, di lakukan refleksi atas seluruh program untuk perbaikan agarmenghasilkan pencapaian yang lebih baik. Proses ini semakin memperbaiki dan menghasilkan kualitas individu yang berkarakter dalam perilakunya. Berikut gambarnya:

Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasi

Implementasi Pendidikan karakter secara mikro

Pada bagian ini, pengembangan karakter di bagi dalam empat pilar, yakni kegiatan belajar-mengajar di kelas (KBM), kegiatan keseharian dalam bentuk pengembangan budaya satuan pendidikan formal dan nonformal, kegiatan kokurikuler dan/atau ekstrakurikuler, serta kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat.

Kegiatan KBM harus di laksanakan dengan pengintegrasian nilai-nilai pendidikan karakter ke dalam seluruh materi pembelajaran. Lingkungan satuan pendidikan harus di ciptakan untuk mendukung dan memungkinkan peserta didik membangun kegiatan keseharian yang mencerminkan karakter yang hendak di tuju.

Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler juga haruslah mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter. Hal yang sama berlaku dalam keluarga dan masyarakat. Berikut gambarannya:

Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasi

Penjelasan lebih lanjut dapat anda baca pada artikel ini: Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah.

Demikian, penjelasan tentang Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasi.
Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.