Cenning Rara: Doa (baca-baca) Masyarakat Bugis

Cenning Rara: Doa (baca-baca) Masyarakat Bugis

HermanAnis.com – Teman-teman tulisan kali ini akan membahas tentang cenning rara. Kata Cenning rara biasa di artikan oleh masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan sebagai “wajah manis”.

Catatan buat pembaca:
Pada setiap tulisan dalam www.hermananis.com, semua tulisan yang berawalan “di” sengaja dipisahkan dengan kata dasarnya satu spasi, hal ini sebagai penciri dari website ini.

Kata “cenning‟ memiliki arti manis di mana dalam pengertian masyarakat Bugis, yaitu wajah yang terlihat manis dan menarik. Doa yang di gunakan tentu memiliki makna yang terkait pada hubungan cinta dan kasih sayang.

Bacaan mantra Cenning rara di wariskan oleh leluhur Suku Bugis dan Suku Makassar. Meski begitu, kekuatan mantra Cenning rara bisa berbeda-beda pada setiap orang, baik pengguna maupun objek/sasaran mantranya.

Sebabnya, cara kerja mantra yang hendak masuk pada ranah psikis seseorang, jiwa mengenalinya sebagai getaran asing. Maka, yang di lakukan psikis seseorang pun sama dengan tubuh. Yakni menolak dan melawannya.

Jika psikis seseorang kuat, pengaruh mantra dapat di tolak untuk kemudian di gagalkan. Namun, jika psikis orang itu lemah, akan terjadi hal sebaliknya, ia akan menerima tujuan mantra Cenning rara.

Cenning Rara: Doa (baca-baca) Masyarakat Bugis

A. Sejarah munculnya Cenning Rara

Antropolinguistik merupakan ilmu yang menggabungkan antara unsur bahasa dan kebuayaan. Ilmu ini meneliti mengenai sejauh mana pengaruh budaya dalam ragam bahasa yang timbul.

Serta mengkaji antara dan kebudayaan mempunyai keterkaitan yang amat erat, keterkaitan tersebut menurut para ahli adalah: bahasa sebagai alat atau sarana kebudayaan, bahasa sebagai bagian kebudayaan, bahasa merupakan hasil kebudayaan, bahasa hanya mempunyai makna dalam latar kebudayaan yang menjadi wadahnya.

Cenning rara sebagai mantra warisan leluhur Sulawesi Selatan merupakan wujud ideal dari kebudayaan. Sifatnya abstrak, tidak dapat di raba dan di lihat dengan mata kepala.

Lokasinya tersimpan di ingatan atau dengan kata lain, dalam alam pikiran masyarakat tempat kebudayaan bersangkutan itu hidup. Cenning rara yang merupakan contoh dari hubungan budaya dengan bahasa, sebuah cara yang biasa di tempuh para gadis/laki-laki sejak lampau di tanah bugis untuk memikat hati seseorang yang disukai.

Mencari pasangan hidup memang bukan perkara mudah. Kata orang, susah-susah gampang. Beragam taktik di mainkanpun beragam cara di lakukan, untuk menemukan “dia” sang belahan jiwa. Satu di antaranya Cenning rara.

Cenning Rara: Doa (baca-baca) Masyarakat Bugis

Siapa yang ingin hidup melajang selamanya. Telat jodoh saja sudah membuat kegelisahan luar biasa, tidak saja pada yang bersangkutan tapi juga pada keluarga. Apalagi bagi sang perempuan, tidak seorang pun ingin dicap “lolobangko” atau perawan tua atau yang lebih menakutkan lagi menyandang predikat gadis seumur hidup.

Untuk itu, pembenahan diri dengan berusaha tampil paripurna kerap di lakukan. Bagi perempuan masa kini, spa dengan rangkaian perawatannya mungkin telah menjadi menu wajib. Sementara itu, bagi sebagian dara bugis, mereka telah mengantongi warisan leluhur yang di yakini dapat membuat penampilan lebih menarik dalam keseharian. Resep mujarab itu bernama “Cenning rara”.

Dalam sejarahnya, Cenning rara adalah prosesi untuk mengeluarkan aura dari dalam diri, sehingga telah menjadi sebuah kepercayaan bahwa dengan menggunakan Cenning rara akan mendatangkan jodoh lebih mudah.

Cenning rara sendiri berasal dari kata cenning yang berarti manis dan cendra atau cendrara yang berarti bulan atau matahari yang pada hakekatnya adalah cahaya. Apalagi bulan dalam konteks kebudayaan Bugis merupakan puncak keindahan alam dan di alam.

Maka, manis dari keduanya tak lain di maksudkan untuk membuat diri dan penampilan kian bercahaya seperti bulan atau matahari bagi anak perawan. Cenning rara ini biasa di lakukan dengan media minyak kelapa yang di tanak, telur yang di rebus, atau beras yang di jadikan bedak.

Dalam perjalanannya, Cenning rara pun terkoptasi oleh nilai-nilai religi yang berkembang di masyarakat. Kuatnya pengaruh islam, menuai perubahan dalam dalam pengadaan media dan mantranya.

B. Cenning Rara dan Budaya

Cenning Rara: Doa (baca-baca) Masyarakat Bugis

Hubungan Budaya dengan Bahasa Antropolingistik lebih menitik beratkan pada hubungan antara bahasa dan kebudayaan di dalam suatu masyarakat seperti peranan bahasa di dalam mempelajari bagaimana hubungan keluarga di ekspresikan dalam terminologi budaya.

Dalam ilmu ini di sebutkan bahwa antara bahasa dan kebudayaan mempunyai keterkaitan yang amat erat. Keterkaitan tersebut menurut para ahli adalah bahwa bahasa sebagai alat atau sarana kebudayaan, bahasa sebagai bagian kebudayaan, bahasa merupakan hasil kebudayaan, bahasa hanya mempunyai makna dalam latar kebudayaan yang menjadi wadahnya.

Bahasa juga di jadikan sebagai salah satu persyaratan budaya, yang dalam hal ini di artikan dalam dua hal yaitu:

  1. Bahwa bahasa merupakan persyaratan budaya secara di akronis karena kita mempelajari kebudayaan melalui bahasa.
  2. Bahasa merupakan persyaratan kebudayaan karena materi atau bahan pembentuk bahasa sama jenisnya dengan materi atau bahan pembentuk keseluruhan budaya yakni relasi logis, oposisi, korelasi dan sebagainya.

C. Definisi Cenning Rara

Cenning Rara: Doa (baca-baca) Masyarakat Bugis

Baca-baca atau dalam bahasa Bugis dan Makassar di sebut doang/paddoangngang. Istilah doang ini kerap merujuk kepada doa yang di gunakan untuk suatu tujuan tertentu yang biasanya di sertai dengan syarat dan gerakan-gerakan tertentu pula, dengan menggunakan bahasa Bugis atau bahasa Makassar, bahasa Arab, atau gabungan keduanya.

Pada kebudayaan Sulawesi selatan, warisan pappaseng dalam bentuk mantra atau doa-doa (baca-baca) di gunakan dengan tujuan berbeda-beda. Cenning rara, misalnya, yang dalam khasanah kebudayaan masyarakat Bugis dan Makassar di tempatkan sebagai mantra pemikat lawan jenis.

Kata Cenning rara biasa di artikan oleh masyarakat Sulawesi selatan sebagai “wajah manis”. Kata “cenning‟ memiliki arti manis di mana dalam pengertian masyarakat Bugis, yaitu wajah yang terlihat manis dan menarik.

Do‟a yang di gunakan tentu memiliki makna yang terkait pada hubungan cinta dan kasih sayang. Bacaan mantra Cenning rara di wariskan oleh leluhur orang Bugis dan Makassar.

Meski begitu, kekuatan mantra Cenning rara bisa berbeda-beda pada tiap orang, baik pengguna maupun objek/ sasaran mantranya.

Sebabnya, cara kerja mantra yang hendak masuk pada ranah psikis seseorang, jiwa mengenalinya sebagai getaran asing. Maka, yang di lakukan psikis seseorang pun sama dengan tubuh. Yakni menolak dan melawannya.

Jika psikis seseorang kuat, pengaruh mantra dapat di tolak untuk kemudian di gagalkan. Namun, jika psikis orang itu lemah, akan terjadi hal sebaliknya, ia akan menerima tujuan mantra Cenning rara.

Lebih jauh, mantra Cenning rara akan bekerja jika lima unsur material (jasmani) dan metafisik penggerak cinta yang di miliki manusia, tepat mengena unsur dominan dalam jiwa. Sebab setiap orang memiliki nilai dominan di antara unsur watak; unsur naluri, unsur rasio, unsur nafsu, dan unsur emosi.

Salah satu unsur yang sangat dominan itulah yang pada akhirnya akan menentukan berpengaruh. Cenning rara dalam secara harfiah bisa juga di artikan Cenning berarti Manis.

Rara berarti darah yang identik dengan anak gadis (anak dara). Jadi Cenning rara adalah pemikat yang ditujukan kepada gadis. Cenning rara memiliki teks bacaan (baca-baca/mantra) dan gerakan.

Jadi Cenning rara adalah sejenis ilmu pengasihan. Cenning rara di gunakan oleh pria, apabila ia sangat menyukai seorang gadis namun cintanya di tolak.

Apalagi jika di permalukan oleh sang gadis. Cenning rara di lakukan saat berpakaian dan berdandan. Mulai saat meminyaki rambut dengan minyak kelapa.

Pada saat di lakukan, maka teks mantranya di bacakan. Saat menggunakan bedak, teks mantra berbeda kembali di bacakan. Saat menggunakan baju dan celana pun demikian. Juga saat bercermin keluar rumah.

D. Prinsip Kerja Cenning Rara sebagai Mantra dan Doa

Mantra adalah ucapan atau lafal yang di anggap mengandung kekuatan ghaib, sering di gunakan oleh dukun untuk mengobati pasiennya yang sakit, atau membuat celaka orang lain.

Mantra itu asalnya dari ajaran Hindu tetapi mempunyai pengaruh terhadap umat Islam di Indonesia yang semula memang penganut Hindu, sebelum datangnya Islam. Pengaruhnya bukan hanya pada jaman dahulu saja, tetapi juga bisa di saksikan terus berlangsung sampai sekarang.

Mantra menurut KBBI, yaitu perkataan atau ucapan yang memiliki kekuatan gaib; susunan kata berunsur puisi (seperti rima, irama) yang di anggap mengandung kekuatan gaib, biasanya di ucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yg lain.

Adapun Cenning rara termasuk ke dalam jenis mantra pitanggang, yaitu mantra yang menyebabkan perempuan tidak suka kepada pria atau tidak menikah seumur hidup karena tidak ada laki-laki yg mencintainya.

Ada umat Islam yang memilih mantra sebagai do’a dengan tujuan khusus dan aneh, misalnya ingin bisa terbang atau menghilang (Ilmu Halimun). Terlebih mantra ilmu asihan (Pemikat Cinta/Pelet), ilmu yang di sebut daun cinta ini banyak peminatnya, terutama kalangan muda.

Mereka menganggap dengan dengan ilmu tersebut orang menjadi terpikat atau tergila-gila. Bagaimana mungkin sebuah teks mampu mempengaruhi jiwa seseorang?

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita mesti memahami tentang manusia terlebih dahulu. Bahwa manusia adalah makhluk material (jasmani) dan metafisik. Mungkin kita semua pernah mengalami sebuah kondisi.

Di mana kita baru bertemu dengan seseorang, namun rasanya sangat dekat. Bila berjauhan, selalu nyaman mengingatnya. Atau kondisi kedua, di mana kita telah lama kenal dengan seseorang, namun kita tidak merasa nyaman bila bertemu dengannya.

Kondisi pertama menunjukkan bahwa secara metafisik, kita dekat dengan orang tersebut. Sehingga meski baru pertama kenal rasanya sudah seperti lama kenalan. Atau meski berjauhan, selalu mengingatnya secara nyaman.

Kondisi kedua menunjukkan bahwa secara fisik kita dengan dengan orang tersebut, namun jauh secara metafisik. Sehingga meski bertemu dan berdekatan tempat duduk, rasanya tidak nyaman bahkan mungkin sampai pada titik memusuhinya.

Ilmu pengasihan, termasuk Cenning rara bekerja dengan cara “mendekatkan jiwa pengguna dengan targetnya” sehingga sang gadis yang tidak suka atau tidak tertarik pada sang perjaka menjadi suka dan tertarik sehingga membalas cintanya.

Kembali ke pertanyaan awal, lantas bagaimana dengan teks. Teks sesungguhnya adalah susunan/rangkaian huruf yang merepresentasi makna. Bila teks di rangkai membentuk kalimat yang berisi narasi tentang hajat.

Sehingga bila di baca dengan baik maka akan mempengaruhi jiwa sang pembaca yang pada gilirannya akan mempengaruhi jiwa yang target yang di maksud. Bacaan/mantra seiring dengan perbuatan (ada = teks) dan (gau =konteks).

Dengan demikian akan memaksimalkan penghayatan terhadap teks tersebut. Hal yang mempengaruhi Efek Cenning Rara Bisa jadi seseorang menggunakan Cenning rara dan berhasil, namun pada orang lain justru tidak berhasil. Padahal mantra sama.

E. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan Cenning rara

Berikut ini hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan efek Cenning rara (tentu pada variabel manusianya).

1. Keyakinan

Tujuan apapun yang hendak di capai pada kondisi tidak yakin mencapainya, akan mengurangi bahkan menggagalkan usaha. Keyakinan juga berarti mensugesti diri agar bisa mencapai tujuan.

2. Transfer

Saat sang guru mengajarkan ke muridnya (terutama Cenning rara) bukan hanya teks dan gerakan yang diajarkan. Akan tetapi di transfer “berkahnya” sebagai kunci untuk mengaktivasi Cenning rara tersebut.

Transfer bisa melalui tatapan mata, sentuhan tangan guru ke murid, atau gelombang suara tanpa murid sadari. Sehingga wajar misalnya si A mendapatkan Cenning rara dari neneknya (di transfer tanpa di sadari) dan ampuh untuk dirinya.

Namun saat temannya yaitu si B mendapati catatan teks mantra Cenning rara (tidak di transfer) kemudian membaca dan melakukan Cenning rara tapi tidak aktif atau tetap di tolak oleh pujaan hatinya.

3. Kondisi Sang Gadis

Berhubung ilmu pengasihan terutama Cenning rara bekerja di wilayah metafisik manusia, maka tentu variabel yang mempengaruhi adalah kondisi si gadis sebagai target ini.

Jika jiwanya lemah, maka akan mudah bagi Cenning rara untuk bekerja. Tapi jika jiwa sang gadis kuat. Bisa jadi karena tempaan hidupnya. Sehingga bisa jadi karena konsistensi ibadahnya. Bisa jadi karena doa orang-orang terdekatnya yang makbul dan seterusnya. Sehingga Cenning rara ini tidak mempan baginya.

4. Usaha

Gerakan yang di lakukan saat membaca teks mantra Cenning rara (meminyaki rambut, bercermin, memasang baju dan seterusnya) adalah usaha-usaha atau gerakan yang mensinergiskan dengan teks mantra tersebut.

Saat seorang jejaka memasang Cenning raranya tentu ia harus berusaha mendekat pada sang pujaan hatinya. Seperti halnya seseorang yang cuma mengirim sms kata kata cinta tapi tidak melakukan pertemuan langsung, tentu “mantra cinta” yang terkirim lewat sms akan tak berarti.

F. Cenning rara saat memakai bedak

Cenning rara awet muda berikut menggunakan bedak. Petikan mantra yang biasa di apaki atau di baca dengan menggunakan bedak. Bacaan ini di ajikan sesaat sebelum bedak tersebut di pakai atau di sapukan keseluruh permukaan wajah. Berikut kutipannya:

Bedda‟na Fatimah u Wabedda,
U paenre ri rupakku
Namatappa pada uleng tepu
Barakka La Ilaha Illallah

Artinya:

Bedaknya Fatimah yang kupakai
Kupakai di wajahku
dan bercahaya seperti bulan purnama
Semoga allah mengabulkan

G. Mantra cenning rara mandi

Selain menggunakan bedak, sering pula menggunakan media air saat akan mandi atau akan membasuh muka, tujuannya agar si gadis dapat terlihat cantik, berikut kutipannya:

Uwwae pole Mekkah
Jenne‟ pole suruga
Upatoppoang ri rupaku
Mattappa keteng seppuloeppa

Artinya:

Air dari Mekkah
Air wudhu dari surga
Kubasuh di mukaku
Secerah bulan purnama

H. Mantra Cenning rara untuk laki laki

Adapun mantra atau baca-baca yang di anggap ampuh oleh masyarakat Bugis dalam memikat pria yang di inginkan sebagai berikut:

oooo anging, laoko muollirengnga la….
(menyebut nama pra yang di inginkan)
narekko mupolei matinro paotorengngga’
narekko moto’ni patudangekka’ narekko
tudanni patettongekka’ narekko tettonni
pajokkangekka lao mai iyapa
namanyameng nyawana nerekko iya naita
kunfayakun barakka’ Lailaha Illalah.

artinya:

oh angin, pergilah engkau memanggilkan si ….(menyebut nama pria yang di inginkan)
jika engkau temui dia sedang tertidur,
bangunkanlah jika telah bangun,
dudukkanlah jika telah duduk,
berdirikanlah jika telah berdiri,
jalankanlah ia kemari barulah perasaannya akan nyaman jika dia melihatku kunfayakun,
semua ini berkat Lailaha Illalah.

I. Mantra yang Sering di gunakan oleh Pemuda Bugis

Cenning Rara: Doa (baca-baca) Masyarakat Bugis

Mantra agar gadis yang di sukai merasa senang dan simpati:

”Minya‟-minya‟na to joloku‟ amminya‟,
ku enre ku tudang ri matanna essoe,
matanna essoe matanna yanu lanu ku iyya”.

Artinya kurang lebih begini : ”

minyak wanginya leluhurku yang kupakai,
saya naik duduk di matahari,matahari,
matanya si anu & si anu sama saya”.

Syaratnya ialah, sebelum mantra di ucapkan, terlebih dahulu siapkan minyak rambut atau minyak wangi. Oleskan di telapak tangan, lalu ucapkan mantranya dengan keyakinan, kemudian tiupkan ke minyak tadi, lalu usapkan di rambut atau di kening.

1. Mantra Pattiro Ati (penerawang hati)

”Massuro, usuro, nalettuki suro. Issengengnga melona ( nama ) ku iyya.
Ku meloi pakkarawa riasekengnga, ku teai pakkarawa riyawangengnga”.

Artinya ” yang mengutus,yang di utus,yang di utuskan. Beri tahu rasa sukanya (nama) kepada saya. Kalau dia suka, dia memegang ke atas. Kalau dia tidak suka, dia memegang ke bawah”.

2. Mantra Cenning Rara untuk Laki laki

Cenning Rara: Doa (baca-baca) Masyarakat Bugis

Setelah tanda di dapatkan, barulah para pemuda berusaha mendapatkan gadisnya dengan mantra pengasihan khusus. Ada yang melalui pandangan mata, asap rokok, senyuman, sentuhan, mimpi, dan sebagainya.

3. Contoh mantra melalui pandangan mata

”i nani ri matammu” 3 x. atau ” duppa mata iru mata, iru maddupa ri mata” 3x.

4. Contoh mantra melalui sentuhan

”puakku seuwae, barumpunna tana gowa, pakkasilampana tana menre‟, iyyapa na” 3x.

5. Contoh mantra melaui senyuman

”miccu putena uwala” 3x.

6. Contoh mantra melalui mimpi

Mantra melalui mimpi dan ini yang paling keras

”purani usio tubummu upattama ri tubukku,
purani usio atimmu upatttama ri atikku” 3x.

J. Mantra Cenning Rara menurut Pandangan Islam

Cenning Rara: Doa (baca-baca) Masyarakat Bugis

Salafus Saleh yang merupakan ulama Islam mengemukakan bahwa Umat Islam tidak seharusnya menggunakan mantra sebagai doa, sebab mantra adalah bacaan yang di larang Islam, sementara pelakunya termasuk Syirik:

1. Agama Islam sudah sempurna

“Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Kucukupkan nikmatKu kepada kalian dan telah Kurhidhoi Islam sebagai agama bagi kalian.” (QS. Al-Maidah: 3).

Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah karunia Allah -Ta‟ala- yang paling besar terhadap umat ini, di saat Allah telah menyempurnakan agama bagi mereka, maka mereka pun tidak butuh lagi kepada agama yang lain dan tidak kepada nabi yang lain selain Nabi mereka Shollallahu Alaihi Wasallam.

Oleh karena itu, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi. Dia telah mengutus beliau kepada bangsa manusia dan jin. Jadi, tidak ada perkara yang halal, selain yang beliau halalkan dan tidak ada perkara yang haram selain yang dia haramkan, serta tidak ada ajaran agama selain yang dia syariatkan.

2. Ikutilah apa yang sudah di jelaskan Syari’ah

Nabi Muhammad SAW bersabda;

Artinya: “Tiada suatu perkara yang mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah di jelaskan kepada kalian”.

Jadi, segala perkara kebaikan yang bisa mengantarkan seseorang meraih surga telah di jelaskan dan di tuntunkan dalam syari‟at. Demikian pula sebaliknya, segala perkara yang jelek bila menjerumuskan seseorang ke dalam neraka, telah di jelaskan dalam syari‟at.

Seandainya jimat ini adalah perkara di syari‟atkan, tentunya kita akan mendapatkan tuntunannya dalam syari‟at dan pastilah Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam, para sahabat radhiyallahu anhum, dan imam-imam setelahnya adalah orang yang pertama kali mengejakannya.

Namun, jika kita tidak dapatkan hal tersebut di kerjakan oleh mereka, maka hal tersebut bukanlah perkara yang baik, bahkan termasuk kepada hal-hal yang di ada-adakan di dalam syari‟at yang telah sempurna ini, yang Allah – Subhanahu wa Ta‟ala- dan Rasul-Nya berlepas diri dari hal-hal tersebut.

3. Hadits Larangan Menggunakan Jimat, jampi, dan guna-guna

Dari Ibnu Mas‟ud r.a., Rasulullah SAW mangisyaratkan tentang jimat dan hukumnya,

Artinya: “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan guna-guna adalah syirik.”

Syaikh Muhammad Al-Wushobiy Al-Yamaniy berkata dalam mengomentari hadits ini, “Bisa di petik hukum dari hadits ini tentang haramnya menggantungkan jimat, baik pada manusia, hewan, kendaraan, rumah, toko, pohon, atau selainnya.

Apakah sesuatu yang di gantungkan itu berupa tulang, tanduk, sandal, rambut, benang-benang, batu-batu, besi, kuningan, atau yang lainnya, karena perkara tersebut, di dalamnya ada bentuk penyandaran sesuatu kepada selain Allah, (yang ia itu adalah kesyirikan )”.

Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam juga pernah bersabda,

Artinya: “Siapa yang menggantungkan jimat maka sungguh dia telah berbuat kesyirikan” .

K. Kesimpulan

Cenning rara adalah salah satu contoh baca-baca yang terkenal di kalangan masyarakat Bugis Makassar. Di mana baca-baca Cenning rara ini banyak di gunakan untuk mantra awet muda dan sering juga digunakan untuk memikat lawan jenis.

Biasanya ritual Cenning rara ini di bacakan melalui air untuk mandi atau bedak bagi gadis, dan melalui asap rokok bagi pemuda. Cenning rara terbagi atas dua bahasa, yaitu bahasa bugis dan bahasa makassar.

Sering di gunakan oleh orang tua dulu dari kalangan laki-laki untuk menaklukkan wanita pujaan hatinya. Namun baca-baca Cenning rara tidak hanya sekedar di baca dan di ucapkan, tetapi harus di lengkapi dengan syarat-syarat dan ritual-ritual.

Ilmu pengasihan, termasuk Cenning rara bekerja dengan cara “mendekatkan jiwa pengguna dengan targetnya” sehingga sang gadis yang tidak suka atau tidak tertarik pada sang perjaka menjadi suka dan tertarik sehingga membalas cintanya.

Sebenarnya Cenning rara melakukan rekayasa perasaan terhadap sang gadis sehingga ia berubah dari tidak suka/hambar atau benci menjadi suka atau jatuh cinta. Karena merekayasa perasaan orang lain, tentu ini kurang baik. Sebab sama saja memaksa orang lain.

Padahal sudah umum orang pahami bahwa dalam dunia percintaan, tak ada paksaan di dalamnya. Ada empat hal yang di yakini dapat memengaruhi efek Cenning rara antara lain; keyakinan sang pengguna, transfer, kondisi orang yang akan di bacai-bacai, serta usaha. Bisa jadi seseorang menggunakan Cenning rara dan berhasil, namun pada orang lain justru berhasil.

Padahal menggunakan mantra yang sama. Namun terlepas dari segala tujuannya, Cenning rara dapat di lihat pula menurut pandangan islam, yaitu Umat Islam tidak seharusnya menggunakan mantra sebagai doa, sebab mantra adalah bacaan yang di larang Islam, sementara pelakunya termasuk Syirik.

Tulisan ini merujuk pada artikel:

  • CENNING RARA: MANTRA DAN DOA MASYARAKAT BUGIS.
    Penulis: Hasnitasari, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Muslim Indonesia.

Sumber Rujukan

  • Hamid, S. (2011). Kumpulan Sarikata Peribahasa Pantun dan Puisi. Jakarta: Gama Press.
  • Koentjaraningrat. (2015). Pengatar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Mansyur, U. (2016a). Bahasa Indonesia dalam Belitan Media Sosial: Dari Cabe-Cabean Hingga Tafsir Al-Maidah 51. In Prosiding Seminar Nasional & Dialog Kebangsaan dalam Rangka Bulan Bahasa 2016 (pp. 145–155). Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. https://doi.org/10.31227/osf.io/7vpjh.
  • Mansyur, U. (2016b). Pemanfaatan Nilai kejujuran dalam Cerpen sebagai Bahan Ajar Berbasis Pendidikan Karakter. In Mengais Karakter dalam Sastra: HISKI Makassar (pp. 330–339). https://doi.org/10.17605/OSF.IO/Z4T3Y

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: